Anda di halaman 1dari 20

KONFLIK PERMASALAHAN IZIN USAHA

PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU DALAM


TANAMAN (IUPHHK-HT) PADA
PT. PANCARAN WANANUSA
KABUPATEN LAMANDAU
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

LAPORAN KKL

Diajukan sebagai salah satu syarat


Dalam menempuh mata kuliah KKL

GOBAR HASUDUNGAN RICKO


EAA 113 118

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
FAKULTAS HUKUM
2016

i
HALAMAN PERSETUJUAN

KONFLIK PERMASALAHAN IZIN USAHA PEMANFAATAN


HASIL HUTAN KAYU DALAM HUTAN TANAMAN
(IUPHHK-HT) PADA PT. PANCARAN WANANUSA
KABUPATEN LAMANDAU
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

OLEH

GOBAR HASUDUNGAN RICKO


EAA 113 118

Disetujui pada tanggal/tahun :

Kepala Dinas Kehutanan provinsi Dosen Pembimbing KKL

Ir,SIPET HERMANTO DR.DRS.MARSEL SELAMAT,SH,MH


NIP. 19600303 198901 1 004 NIP.19540908 198503 1 003

Laboratorium Ilmu Hukum


Ketua,

JOANITA JALIANERI, S.H, M.H


NIP. 19810121 200112 2001

Mengetahui,
Dekan,

JOHN TERSON, S.H, M.Hum


NIP. 19740707 200501 1 002

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan atas kehadiran Tuhan Yang Maha Esa
karena berkat kemurahan dan karuniaaNya sehingga Penulis dapat menyelesaikan
Laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini dengan Judul Konflik Permasalahan
Izin Usaha Pemanfataan Hasil Hutan Kayu Dalam Hutan Tanaman (IUPHHK-
HT) Pada PT. Pancaran Wananusa Kabupaten Lamandau Provinsi Kalimantan
Tengah.
Selama penyelesaian Laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini, Penulis
banyak memperoleh tantangan dan hambatan akan tetapi berkat bantuan dari
berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
Penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terimakasih yang tulus kepada :
1. Bapak John Terson SH., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Palangka Raya dan selaku Dosen Pembimbing Akademik;
2. Ibu Joanita Jalianery SH., MH selaku Ketua Laboratorium Fakultas Hukum
Universitas Palangka Raya;
3. Bapak DR.DRS.Marsel Selamat SH., MH selaku Dosen Pembimbing Kuliah
Kerja Lapangan (KKL) yang telah membimbing Penulis dalam penyusunan
laporan ini;
4. Bapak Ir. Sipet Hermanto, selaku Kepala Dinas Kehutanan Provinsi
Kalimantan Tengah.
5. Bapak Ir.Sri Suwanto, MS, selaku Kepala Bidang Perlindungan Dan
Pengamanan Hutan Dan Hasil Hutandinas Kehutanan Provinsi Kalimantan
Tengah.
6. Ibu MERTI ILONA, SP.,MP selaku Seksi Pengamanan Hutan Dinas
Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah .
7. Bapak;BANJARMAS, S.Hut, Selaku Seksi Perlindungan Hutan Dinas
Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah .
8. Seluruh Bapak serta Ibu Pegawai yang telah banyak memberikan ilmu
pengetahuan kepada Penulis selama menempuh Kuliah Kerja Lapangan di
Dinas Kehutanan Provisi Kalimantan Tengah

iii
9. Orang tua Penulis yang tercinta beserta keluarga besar, yang selalu
memberikan dukungan moril maupun materil sehingga Penulis dapat
menyelesaikan Kuliah Kerja Lapangan ini
10. Rekan-rekan mahasiswa-mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Palangka
Raya yang bersama-sama Penulis selama menempuh Kuliah Kerja Lapangan
di Dinas Kehutanan Provisi Kalimantan Tengah, yang tidak dapat disebutkan
satu persatu, yang telah memberikan dukungan serta masukan-masukan yang
berguna. Atas segala bantuan dan dukungan dari semua pihak tersebut.
Seperti kata pepatah bahwa “Tiada Gading Yang Tak Retak”, penyusun
menyadari sepenuhnya di dalam laporan ini masih banyak terdapat kekurangan
baik dalam penulisan ataupun keterbatasan pengetahuan penuyusun. Oleh karena
itu penyusun memohon maaf sekaligus mengharapkan masukan berupa saran dan
kritik yang membangun dari pembaca, sehingga laporan Tugas Akhir ini nantinya
dapat bermanfaat bagi kita semua

Palangka Raya, November 2016


Penulis,

GOBAR HASUDUNGAN RICKO


EAA 113 118

iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii
KATA PENGANTAR .................................................................................... vi
DAFTAR ISI ................................................................................................... xii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1


A. Latar Belakang KKL............................................................ 1
B. Perumusan Masalah ............................................................. 2
C. Ruang Lingkup KKL ........................................................... 2
D. Tujuan .................................................................................. 3

BAB II Gambaran Umum........................................................................ 5


A. Gambaran Umum Kantor Dinas Kehutanan Provinsi
Kalimantan Tengah .............................................................. 5
1. Sejarah Umum Kantor ................................................... 6
2. Struktur Organisasi ........................................................ 6
3. Bidang-bidang Kerja ...................................................... 6

B. Pelaksanaan Magang ........................................................... 7


1. Jenis dan Bentuk Kegiatan KKL ................................... 6
2. Prosedur Kerja ............................................................... 6
3. Kendala Yang Dihadapi dan Upaya untuk
Memecahkannya ............................................................ 6

BAB III PEMBAHASAN .......................................................................... 44


A. GambaranUmum Wilayah Penelitian ................................. 44
1. Lokasi dan Kesampaian Daerah ............................. 44
2. Keadaan Iklim dan Curah Hujan ............................ 45

3. Flora dan Fauna ...................................................... 48


4. Sosial dan Kependudukan ...................................... 48
5. Struktur Organisasi Perusahaan .............................. 49
B. Kondisi Geologi Regional .................................................. 50
C. Kondisi Geologi Daerah Penelitian .................................... 55
D. AlatdanBahan ..................................................................... 57
E. Tata LaksanaPenelitian ....................................................... 58
1. LangkaKerja ........................................................... 58
2. Metode .................................................................... 59
3. BaganAlirPenelitian ............................................... 61
4. WaktuPenelitian ..................................................... 62

BAB IV PENUTUP ........................................................................................ 64


A. Kesimpulan .......................................................................... 64
B. Saran .................................................................................... 64

v
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang KKL
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) merupakan mata kuliah yang sifatnya
wajib yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa fakultas hukum dengan
memuat substansi kegiatan yang sifatnya praktik kerja di instansi/ lembaga,
yang bertujuan untuk memberikan pengalaman kerja dalam bidang tertentu
berkaitan dengan rencana keahlian mahasiswa. Dengan memadukan ketiga
aspek pembelajaran, yakni : kognitif, afektif, dan psikomotorik, eksistensi
Kuliah Kerja Lapangan diharapkan dapat melengkapi pengetahuan teoritis
yang telah diperoleh mahasiswa dibangku perkuliahan. Sehingga, para
mahasiswa tidak hanya memahami hukum pada tataran teori belaka, melainkan
juga memahami hukum dari sudut pandang yang lebih luas, yakni dari
implementasi hukum pada tataran praktis
Oleh karena itu untuk memperoleh pengalaman dan perbandingan
antara teori dan praktiknya, maka mahasiswa diharuskan menjalani Kuliah
Kerja Lapangan di instansi/pemerintah maupun non pemerintahan sebagai
salah satu syarat yang harus dipenuhi sebelum menyelesaikan studi di Fakultas
Hukum Universitas Palangka Raya. Adapun penulis dalam hal ini memilih
tempat pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan di Instansi Dinas Kehutanan
Provinsi Kalimantan Tengah sebagai tempat untuk memperoleh pengalaman
rencana keahlian penulis.

B. Perumusan Masalah (Isu Hukum)


Adapun rumusan masalah dalam laporan kuliah kerja lapangan adalah
sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu
Dalam Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) ?
2. Mengapa terjadinya konflik permasalahan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan Kayu Dalam Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) oleh PT. Pancaran
Wananusa ?

6
3. Bagaimana cara mengatasi konflik Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan
Kayu Dalam Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) yang dialami oleh PT.
Pancaran Wananusa ?

C. Ruang Lingkup KKL


Program Kuliah Kerja Lapangan adalah kuliah wajib bagi mahasiswa-
mahasiswi strata satu (S1) Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum
Universitas Palangka Raya. Mata kuliah ini ditempuh pada semester akhir
dengan persyaratan telah lulus 110 SKS dan merupakan bagian intergral dari
keseluruhan kurikulum yang berlaku dan memiliki peranan penting dalam
pembentukan sikap mental lulusan dengan orientasi dibidang masing-masing.
Program Kuliah Kerja Lapangan ini juga membutuhkan atau melibatkan pihak
lain, dalam hal ini instansi atau lembaga-lembaga baik instansi/lembaga
pemerintahan maupun non pemerintahan. Mata kuliah ini dilaksanakan pada
awal semester genap, dengan peran dan fungsi mata kuliah ini sangat penting.
Oleh karena itu untuk mendukung hal tersebut diatas, Penulis mencoba untuk
aktif terlibat lansung dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan di Instansi
Kejaksaan Negeri Palangka Raya sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi
sebelum menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Palangka Raya.

D. Tujuan KKL
1. Tujuan Yang Bersifat Umum
Program Kuliah Kerja Lapangan bertujuan untuk memberikan
seperangkat kemampuan pengalaman kerja kepada mahasiswa berkenan
dengan aktivitas nyata pada dunia kerja. Hal ini akan memberikan
gambaran sesungguhnya tentang dunia kerja yang di dalamnya terjadi
akomodasi berbagai konsep dan teori dengan persoalan-persoalan praktis
yang dihadapi serta upaya pemecahannya. Program Kuliah Kerja
Lapangan ini akan menjembatani dua aktivitas belajar yakni antara belajar
teori dikelas dengan kondisi nyata yang ada dilapangan sesungguhnya
2. Tujuan Yang Bersifat Khusus
Adapun tujuan yang bersifat khusus adalah :

7
 Menunjang kemampuan kognitif dan afektif mahasiswa, sehingga
nantinya mampu menjadi competitive students, yang tidak hanya
memahami keilmuan dari sudut teoritis saja, namun juga dari sudut
praktik.
 Meningkatkan pengetahuan, wawasan dan kemampuan psikomotorik
mahasiswa fakutas hukum dalam mengaplikasikan pengetahuan
kognitif yang telah diperoleh mereka dibangku perkulihan.
 Memperkenalkan dan mempersiapkan sejak dini kemampuan
mahasiswa akan realitas dunia kerja khususnya di instansi hukum,
sehingga nantinya setelah lulus mampu bersaing dengan lulusan dari
universitas lainnya

8
BAB II
GAMBARAN UMUM
A. Gambaran Umum Instansi Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan
Tengah
1. Sejarah Umum Instansi
Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah dibentuk berdasarkan
Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 8 Tahun 2000
tentang Pembentukan Instansi Dinas-dinas Provinsi Kalimantan Tengah.
Susunan organisasi dan tata kerja Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan
Tengah didasarkan pada Keputusan Gubernur Kalimantan Tengah Nomor
66 Tahun 2001 tanggal 25 April 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah dan diperbaharui dengan
Keputusan Gubernur Kalimantan Tengah Nomor 6 Tahun 2008 tanggal 18
April 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi
Kalimantan Tengah, dimana Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan
Tengah mempunyai tugas melaksanakan desentralisasi dan tugas
dekonsentrasi di bidang kehutanan. Sedangkan untuk melaksanakan tugas
tersebut, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah mempunyai
fungsi:
a. Perumusan kebijakan teknis di bidang kehutanan sesuai dengan
kebijaksanaan yang ditetapkan Gubernur berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
b. Menyelenggarakan pengelolaan kawasan hutan;
c. Penyelenggaraan pemanfaatan hutan;
d. Penyelenggaraan pembinaan hutan;
e. Penyelenggaraan pengamanan dan penanggulangan bencana hutan;
f. penyelenggaraan pelestarian dan perlindungan hutan;
g. Penyelenggaraan izin usaha hutan;
h. Penyelenggaraan ketatausahaan dinas.
Untuk menunjang pelaksanaan tugas-tugas Dinas Kehutanan
Provinsi Kalimantan Tengah telah dibuat :
a. Uraian Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI), Rencana Kerja dan
Pembagian Waktu Kerja (Time Schedule)

9
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah mengacu
pada Keputusan Gubernur Kalimantan Tengah Nomor 6 Tahun 2008
tanggal 18 april 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas
Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah telah menguraikan tugas
pokok dan fungsi (TUPOKSI) Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan
Tengah melalui Peraturan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi
Kalimantan Tengah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Uraian Tugas
Kepala Dinas, Sekretaris, Kepala Bidang, Kepala Sub Bagian dan
Kepala Seksi pada Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah.
b. Pedoman dan Tata Hubungan Kerja dan Prosedur Kerja
Pada tahun 2008 telah dibuat Pedoman Tata Hubungan Kerja dan
Prosedur Kerja lingkup Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah
sebagai pedoman pelaksanaan tugas terkait dalam ruang lingkup Dinas
Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah.

2. Struktur Organisasi

Berikut struktur organisasi di Instansi Dinas Kehutanan Provinsi


Kalimantan Tengah :

10
11
3. Bidang-Bidang Kerja
Susunan Organisasi dan Uraian Tugas Fungsi Dinas Kehutanan
Provinsi Kalimantan Tengah terdiri dari :

1. Kepala Dinas
Kepala Dinas Kehutanan mempunyai ikhtisar jabatan dan uraian tugas
memimpin, menyusun, membina, merumuskan, mengkoordinasikan,
mengarahkan, mengendalikan, menyelenggarakan, menetapkan
program kerja, tata kerja dan mengembangkan semua kegiatan
kehutanan, mengawasi dan melaporkan penyelenggaraan di bidang
kehutanan serta bertanggung jawab atas terlaksananya tugas pokok dan
fungsi Dinas Kehutanan.
2. Sekretaris
Sekretaris mempunyai ikhtisar jabatan dan uraian tugas
mengkoordinasikan penyusunan program, anggaran dan
pemaduserasian penyelenggaraan kedinasan secara menyeluruh dan
tugas pelayanan administratif lainnya yang meliputi tugas-tugas di
bidang perlengkapan, keuangan, kepegawaian, ketatausahaan,
protokol, humas dan rumah tangga, organisasi dan tata laksana,
analisis jabatan serta dokumentasi peraturan perundang-undangan pada
Dinas Kehutanan.
Sekretaris membawahkan :
a. Kepala Sub Bagian Penyusunan Program
b. Kepala Sub Bagian Keuangan
3. Kepala Sub Bagian Umum, Perlengkapan dan Kepegawaian Bidang-
bidang, terdiri dari :
a. Kepala Bidang Perencanaan Hutan
Kepala Bidang Perencanaan Hutan mempunyai ikhtisar jabatan dan
uraian tugas melaksanakan kegiatan koordinasi dan
penyelenggaraan urusan perencanaan dan pembangunan
kehutanan, penatagunaan hutan dan pengusahaan hutan.

12
b. Kepala Bidang Perencanaan Hutan membawahkan :
 Kepala Seksi Inventarisasi, Data dan Pemetaan Hutan;
 Kepala Seksi Pembangunan Kehutanan
 Kepala Seksi Rencana Pengusahaan Hutan
c. Kepala Bidang Produksi Hasil Hutan
4. Kepala Bidang Produksi Hasil Hutan mempunyai ikhtisar jabatan dan
uraian tugas melaksanakan koordinasi, pembinaan, pengendalian dan
pelaporan proses produksi pengusahaan huta, tata usaha kayu dan
kewajiban financial, tenaga teknis pengusahaan hutan serta sarana dan
prasarana pengusahaan hutan, pengolahan produksi hasil hutan kayu
dan hasil hutan bukan kayu serta pelayanan perizinan sarana
pengusahaan hutan. Kepala Bidang Produksi Hasil Hutan
membawahkan :
a. Kepala Seksi Sarana Pengusahaan Hutan
b. Kepala Seksi Produksi dan Iuran Hasil Hutan
c. Kepala Seksi Pengolahan Hasil Hutan dan Hasil Hutan Bukan
Kayu
d. Kepala Bidang Perlindungan dan Pengamanan Hutan dan Hasil
Hutan
5. Kepala Bidang Perlindungan dan Pengamanan Hutan dan Hasil Hutan
mempunyai ikhtisar jabatan dan uraian tugas melaksanakan koordinasi,
pembinaan, pengendalian dan pelaporan perlindungan hutan,
pengamanan hutan, pengawasan peredaran hasil hutan, kebakaran
hutan, lahan dan pekarangan serta penindakan. Kepala Bidang
Perlindungan dan Pengamanan Hutan dan Hasil Hutan membawahkan:
a. Kepala Seksi Perlindungan Hutan
b. Kepala Seksi Pengamanan Hutan
c. Kepala Seksi Pengawasan Pengusahaan Hutan dan Peredaran
Hutan
d. Kepala Bidang Rehabilitasi Hutan dan Perhutanan Sosial
Kepala Bidang Rehabilitasi Hutan dan Perhutanan Sosial
mempunyai ikhtisar jabatan dan uraian tugas melaksanakan

13
koordinasi, pembinaan, pengendalian dan pelaporan kegiatan
reboisasi, rehabilitasi, penyuluhan dan perhutanan social serta
pembinaan hutan tanaman.
e. Kepala Bidang Rehabilitasi Hutan dan Perhutanan Sosial
membawahkan :
 Kepala Seksi Reboisasi dan Penghijauan
 Kepala Seksi Pembinaan Hutan Tanaman
 Kepala Seksi Penyuluhan dan Perhutanan Sosial
 Kelompok Jabatan Fungsional

B. Pelaksanaan Magang
1. Jenis dan Bentuk Kegiatan KKL
Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan diwajibkan untuk:
 Mempelajari tata tertib yang berlaku di dinas kehutanan provinsi
kalimantan tengah, dan menerimanya sebagaibagian dari pola dan
sikap kerjanya.
 Melakukan observasi dan berupaya memahami deskripsi kerja dan
iklim kerja dinas kehutanan provinsi kalimantan tengah.
 Melaksanakan tugas kegiatan praktek Kuliah Kerja Lapangan secara
nyata sebagaiman layaknya pegawai sesungguhnya denngan tetap
memperhatikan prosedur, dan batasan–batasan yanng telah ditetapkan
oleh Dinas provisi kalimantan tengah.
 Membuat laporan hasil paktek kuliah Kerja Lapangan.

2. Prosedur Kerja
Selama menjalani kegiatan Kuliah Kerja Lapangan masiswa
diwajibkan dan ditugaskan untuk:
 Hadir tepat waktu selayaknya pegawai, dengan tetap memperhatikan
prosedur dan batasan-batasan yang telah di tetapkan.
 Mengisi daftar hadir pada saat masuk kerja atau saat memulai kegiatan
praktek Kuliah Kerja Lapangan.

14
 Berperan aktif dalam berbagai kegiatan di dinas provisi kehutanan
kalimantan tengah dimana mahasiswa melaksanakan Kuliah Kerja
Lapangan

3. Kendala Yang Dihadapi


Adapun kendala yang dihadapi selama Kuliah Kerja Lapangan
sering terjadi antara lain adanya jadwal mata kuliah yang harus dipenuhi
sehingga penulis tidak dapat mengikuti Jam kerja di Dinas Kehutanan
Provinsi Kalimantan Tengah pada waktu tertentu. Hal ini menyebabkan
terganggunya proses kegiatan Kuliah Kerja Lapangan yang menjadi
tanggung jawab penulis di bagian bidang perlindungan dan pengamanan
hasil hutan Dinas Provinsi Kehutanan Kalimantan Tengah.

BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian IUPHHK-HTI
IUPHHK merupakan singkatan dari Izin Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan Kayu dalam Hutan Tanaman Industri. Definisi Hutan Tanaman Industri
(HTI) adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh
kelompok industri untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi
dengan menerapkan sistem silvikultur dalam rangka memenuhi kebutuhan
bahan baku industri. Kegiatan yang dizinkan meliputi penyiapan lahan,
pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pengolahan dan
pemasaran. Areal HTI diusahakan di areal hutan produksi yang tidak produktif
dan tidak dibebani hak/izin lainnya.
Jangka waktu IUPHHK-HTI diberikan dalam jangka waktu 60 tahun
dan dapat diperpanjang sekali selama 35 tahun. Dan setelahnya tidak ada lagi

15
perpanjangan izin. Evaluasi dilakukan oleh Menteri Kehutanan setiap 5 tahun
sekali.

B. Konflik Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Dalam Hutan


Tanaman (IUPHHK-HT)
PT. Pancaran Wananusa merupakan perusahaan yang bergerak di bidang
pemanfaatan hasil hutan kayu dan tanaman. PT. Pancaran Wananusa
diberikan izin Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri Pola Transmigrasi
Nomor : 216/Kpts-V/1992 Tanggal 21 Februari 1992,yang masuk dalam
wilayah administrasi kabupaten Lamandau.
PT.Pancaran Wananusa berdasarkan data dari Dinas Kehutanan dan
Perkebunan Kabupaten Lamandau tidak melakukan kegiatan sejak
diterbitkannya Surat Kepala Kantor wilayah Departemen Kehutanan dan
Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah Nomor : 141.1/Kpts/KW-4/2001
tanggal 10 maret 2001 tentang Pengesahan RKT Pembangunan Hutan
Tanaman Industri Transmigrasi. Namun PT. Pancaran Wananusa tidak
melakukan kegiatan di lapangan dalam waktu yang cukup lama, maka Bupati
Lamandau pada Tahun 2009 bersurat kepada Gubernur Kalimantan Tengah
melalui Pencabutan Izin lokasi atas nama dengan tujuan akan diarahkan lokasi
tersebut sebagai areal pencadangan untuk kegiatan pertanian, perkebunan dan
kawasan pertambangan.
Pada areal PT. Pancaran Wananusa juga terdapat Unit Pelaksana Teknis
(UPT) Tapin Bini yang dibangun tahun 2004 dengan luas areal 1.200 ha
dengan status fungsi kawasan Hutan Produksi Kawasan (HPK). Lebih lajut
areal HPK ini ditindaklanjuti oleh surat Bupati Lamandau Nomor
Ek.500/199/VIII/2014 tanggal 19 Agustus 2014 perihal perubahan peruntukan
kawasan HPK dan IUPHHK PT. Pancaran Wananusa yang ditujukan
kementerian Kehutanan.
Bupati Lamandau telah bersurat ke Kementerian Lingkungan Hidup dan
Lingkungan dengan Nomor surat : Ek.500/28/II/2015 tanggal 20 Februari
2015 perihal Mohon pencabutan IUPHHK-HTI Trans PT. Pancaran
Wananusa. Disisi lain PT. Pancaran Wananusa masih ingin melakukan

16
kegiatan di depan,dengan pegangan dan langkah-langkah legalitas
perizinan,sbb :
a. Surat Keputusan (SK) Menhut RI Nomor 216/Kpts-V/1992 seluas 5.500
Ha dalam jangka waktu 43 Tahun;
b. Surat Menhut RI Nomor : S.621/Menhut-VI/BUHT/2011 tanggal 6
Oktober 2011 hal Permintaan persyaratan penyelesaian HPHTI sementara.
c. Surat Dirjen BUK Nomor S.209/BUHT-1/2014 tanggal 13 mei 2014 hal
permintaan data penutupan lahan berdasarkan citra ladsat terbaru pada
calon areal IUPHHK-HTI PT. Pancaran wananusa di Kab. Lamandau
Kalteng.
d. Surat Dirjen Planologi No. UN.19/WP3H-3/2014 tanggal 11 februari 2014
hal penyiapan peta kerja areal IUPHHK-HTI.PT. Pancaran Wananusa.

Kondisi saat ini telah terjadi okupasi masyrakat berupa penguasaan atas
tanah dengan diterbitkannya Surat Keterangan Tanah (SKT) oleh Lurah Tapin
Bini. Bahkan asset PT. Pancaran Wananusa berupa pohon kayu akasia yang
telah ditanam ditebang oleh saudara Agung Prianto (Direktur CV. Dwidarma
Putri) dan Saudara Oying dan pemilik alat berat. Modus yang dilakukan
adalah dengan dkeluarkannya Surat Keterangan Tanah (SKT) oleh Lurah
Tapin Bini (Sdr. Egen) pada areal konflik kepada:
a. Sdr. Sakeus,dengan SKT Nomor : 590/186/VI/2014 tanggal 09 Juni 2014
seluas 69.767 m2 (tanpa ditandatangani Camat setempat);
b. Sdr. Ricky SKT,dengan Nomor :590/187VI/2011 tanggal 17 September
2011 seluas 118.125 m2 (tanpa ditandatangani Camat setempat);
c. Sdr. Mampu,dengan SKT Nomor : 590/188/VI/2011 tanggal 17 September
2011 seluas 135.000 m2 (tanpa ditandatangani Camat setempat).
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lamandau telah
memberikan izin penebangan kayu tanaman akasia kepada Sdr. Agung Prianto
dan Sdr. Oyong seluas 5 (lima) Ha atau 400 m3 kayu akasia, lebih lanjut
terhadap kayu akasia yang telah ditebang ini,Camat mengintruksikan untuk
tidak diperjual belikan samai dengan ada keputusan kepemilikan kayu
tersebut.

17
C. Penyelesaian Konflik Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Dalam
Hutan Tanaman (IUPHHK-HTI)
Berdasarkan dari kronologis Konflik Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan Kayu Dalam Hutan Tanaman Industri (IUPHHK –HTI) penyelesaian
masalahnya adalah dengan melakukan mediasi. Mediasi adalah upaya
penyelesaian konflik dengan melibatkan pihak ketiga yang netral, yang tidak
memiliki kewenangan mengambil keputusan yang membantu pihak-pihak
yang bersengketa mencapai penyelesaian (solusi) yang diterima oleh kedua
belah pihak. Mediasi disebut emergent mediation apabila mediatornya
merupakan anggota dari sistem sosial pihak-pihak yang bertikai, memiliki
hubungan lama dengan pihak-pihak yang bertikai, berkepentingan dengan
hasil perundingan, atau ingin memberikan kesan yang baik misalnya sebagai
teman yang solider.
Tahapan-tahapan dalam mediasi :
1. Mendefinisikan permasalahan:
 Memulai proses mediasi
 Memulai proses mediasi
 Mengungkap kepentingan tersembunyi
 Merumuskan masalah dan menyusun agenda
2. Memecahkan permasalahan:
 Mengembangkan pilihan-pilihan (options)
 Menganalisis pilihan-pilihan
 Proses tawar menawar akhir
 Mencapai kesepakatan

18
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dalam laporan ini adalah :

1. IUPHHK-HTI merupakan singkatan dari Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil


Hutan Kayu Dalam Hutan Tanaman Industri, jangka waktu IUPHHK-HTI
diberikan dalam jangka waktu 60 tahun dan dapat diperpanjang sekali
selama 35 tahun. Dan setelahnya tidak ada lagi perpanjangan izin.
2. Konflik IUPHHK-HTI terjadi pada PT. Pancaran Wananusa karena tidak
melakukan aktifitas kegiatan pada area yang diberikan izin, sehingga
Bupati Lamandau ingin mencabut IUPHHK-HTI namun Dinas Kehutanan
Kabupaten Lamandau memberikan izin kepada saudara Oyong dan
saudara agung untuk menebang kayu akasia.

19
3. Penyelesaian konflik IUPHHKT-HTI dilakukan dengan cara mediasi.

B. Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaiakan adalah harus ada kordinasi yang baik
antar Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah dengan Dinas Kehutanan
Kabupaten agar memiliki data yang cocok pada saat pemberian IUPHHK-HTI agar
tidak terjadi perbedaan data dan permasalahan izin.

20