Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN FRAKTUR MAXILLA

A. Konsep Teori tentang Penyakit


1. Review Anatomi Fisiologi
Maxilla adalah tulang besar pada wajah yang membentuk rahang atas
manusia. Maxilla terletak pada bagian kanan dan kiri rahang atas yang
ditandai dengan adanya tulang berbentuk tidak beraturan yang dapat
bergabung bersma di tengah tengkorak, dibawah hidung, dan didaerah yag
dikenal sebagai jahitan intermaksilaris. Maxilla memiliki beberapa fungsi
utama, yaitu :
a. Merekatkan gigi bagian atas pada tempatnya
b. Membuat tengkorak mudah digerakkan
c. Meningkatkan volume dan kedalaman suara manusia
Selain fungsi tersebut, maxilla adalah bagian dari viscerocranium
dimana, tulang ini mengandung tulang dan otot sehingga manusia dapat
mengunyah,tersenyum, berbicara, dan bernapas serta terdapat syaraf
penting yang dapat melindungi mata, otak, dan organ lain selama cedera
wajah.
Secara konseptual kerangka wajah terdiri daro empat pasang dinding
(buttress) vertikal dan horizontal. Buttress merupakan daerah tulang yang
lebih tebal yang menyongkong unit fungsional wajah yaitu otot, matam
oklusi dental, dan airway. Vertikal buttress terdiri dari sepasang maxilla
lateral (dinding orbital lateral), maxillari medial (dinding orbital medial),
pterygomaxillary buttress, dan posterior vertical buttress. Horizontal
buttresses juga terdiri dari sepasang maksilari transversal atas (lantai
orbital), maksilari transversal bawah (palatum), mandibular transversal
atas dan mandibuular transversal bawah.
Gambar 1. Anatomi Maxilla
2. Definisi
Fraktur adalah hilangnya atau putusnya kontinuitas jaringan keras
tubuh. Fraktur maxilla terjadi ketika maxilla menjadi retak atau patah.
Fraktur maxilla terjadi karena seseorag mengalami cedera pada wajah
akibat dari jatuh, kecelakaan mobil, tertusuk, atau berlari ke suatu objek.
Fraktur maxilla dan fraktur lainnya yang terjadi di depan wajah juga
dikenal sebagai fraktur wajah tengah.

3. Etiologi
Fraktur maksilofasial dapat diakibatkan karena tindak kejahatan atau
penganiayaan, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olahraga dan industri,
atau diakibatkan oleh hal yang bersifat patologis yang dapat menyebabkan
rapuhnya bagian tulang (Fonseca, 2005).

4. Klasifikasi
Fraktur maxillaris dibedakan Le Fort dengan tiga kategori, antara lain:
a. Le Fort I : Fraktur terjadi pada garis di atas bibir atas, memisahkan gigi
dari rahang atas, dan melibatkan bagian bawah dari saluran hidung.
b. Le Fort II : Fraktur yang berbentuk segitiga yang melibatkan gigi di
pangkal dan jembatan hidung di titik atas, serta rongga mata dan tulang
hidung.
c. Le Fort III : Fraktur yang terjadi di seluruh jembatan hidung, melalui
rongga mata dan keluar ke arah sisi wajah. Fraktur le Fort III adalah
fraktur maxilla yang paling parah sering diakibatkan trauma besar pada
wajah

Gambar 2. Klasifikasi Le Fort

5. Patofisiologi
Gaya yang menyebabkan cidera dapat dibedakan jadi 2, yaitu high
impact atau low impact. Keduanya dibedakan apakah lebih besar atau
lebih kecil dari 50 kali gaya gravitasi. Setiap region pada wajah
membutuhkan gaya tertentu hingga menyebabkan kerusakan pada jaringan
lunak, gigi dan tulang maksila, zygoma, nasoorbital-ethmoid (NOE)
komplek, dan struktur-struktur supra orbital

6. Manifestasi Klinis
Rahang yang patah biasanya menyebabkan rasa sakit dan
pembengkakan rahang, dan kebanyakan orang sering merasa bahwa gigi
mereka sakit biasa. Seringkali, mulut tidak dapat dibuka lebar, atau
bergeser ke satu sisi saat membuka atau menutup. Fraktur maxilla sering
menyebabkan pembengkakan dan deformitas wajah. Pembengkakan jarang
menjadi cukup berat untuk menyebabkan seeorang mengalami gangguan
pada saluran pernapasan. Gejala fraktur maxilla yang dapat terjadi :
a. Mimisan;
b. Memar di sekitar mata dan hidung;
c. Bengkak pada pipi;
d. Bentuk di sekitar hidung tidak beraturan;
e. Mengalami kesulitan dalam penglihatan;
f. Memiliki penglihatan ganda;
g. Terjadi mati rasa di daerah rahang atas;
h. Mengalami kesulitan mengunyah, berbicara atau makan;
i. Saat mengunyah, berbicara, atau makan akan terasa sakit di bibir
j. Terdapat gigi yang patah

7. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
Pada pasien fraktur maxillaris yang terjadi perdarahan jarang sekali
menimbulkan masalah yang serius, tetapi karena diperlukan untuk
pembedahan maka penting untuk dilakukan pemeriksaan golongan
darah untuk keperluan transfusi darah.
a) Hemoglobin / haemoglobin (Hb) nilai normal dewasa pria 13.5-
18.0 gram/dL, nilai normal dewasa wanita 12-16 gram/dL,
wanita hamil 10-15 gram/dL, dikatakan Hb rendah apabila
nilainya <10 gram/dL biasanya dikaitkan dengan pendarahan
berat dengan ambang bahaya apabila Hb <5 gram/dL.
b) Hematokrit (Ht) nilai normalnya 40-47%
c) Leukosit: hitung leukosit (leukocyte count) dan hitung jenis
(differential count) nilai normalnya 4300-10300 sel/mm3.
d) Hitung trombosit/ platelet count nilai normal dewasa 142.000-
424.000 sel/mm3 dengan nilai ambang bahaya <30.000
sel/mm3.
e) Laju endap darah (LED)/erythrocyte sedimentation rate (ESR)
nilai normal dewasa <15 mm/jam pertama sedangkan wanita
<20mm/jam pertama.
f) Eritrosit nilai normal dewasa 4.0-5.5 juta sel/mm3.
2. Pemeriksaan radiologi
Pada pasien fraktur maxilla dan tulang wajah perlu untuk dilakukan
foto radiografis untuk menguatkan diagnosa medis yang diangkat. Foto
radiografis juga digunakan untuk mengetahui letak fraktur yang terjadi
pada pasien. Pemeriksaan radioogi yang dapat dilakukan diantaranya
adalah rongen, CT Scan, MRI dan sebagainya.

8. Penatalaksanaan
a. Perawatan elektif
Hasil yang diharapkan dengan perawatan elektif adalah klien akan
mendapatkan penyembuhan tulang yang cepat, normalnya kembali okular,
sistem mastikasi, dan fungsi nasal, pemulihan fungsi bicara, dan
kembalinya estetika wajah dan gigi. Selama fase perawatan dan
penyembuhan, penting untuk meminimalisir efek lanjutan pada stats
nutrisi pasien dan mendapatkan hasil perawatan dengan minimalnya
kemungkinan pasien merasa tidak nyaman.
Tujuan dari terapi fraktur adalah mengembalikan anatomi dan fungsi
dari tulang dan jaringan lunak dalam waktu yang singkat dengan resiko
yang paling kecil. Terapi fraktur harus dilakukan sedini mungkun untuk
mendapatkan hasil yang maksimal. Syarat untuk mendapatkan hasil yang
optimal :
a) Reposisi fragmen ke posisi yang benar secara anatomis
b) Kontak yang baik antara kedua fragmen selama masa penyembuhan
c) Imobilisasi dapat menggunakan miniplat ataupun sekrup
d) Fiksasi dengan tujuan agar fragmen yang telah direposisi dan
mendapat retensi tidak bergerak selama masa awal penyembuhan,
fiksasi ini dapat menggunakan metode fiksasi maksilomandibular.
e) Mobilisasi dini sehabis fraktur penting unutk mencegah ankilosis
pada sendi rahang pada kasus fraktur kondilus.
b. Perawatan fraktur maxilla
Sebelum dilakukan debredement, diberikan antibiotik profilaks
dengan golongan sefalosforin yang dilakukan di ruangan emergency. Pada
fraktur terbuka, diberikan tambahan berupa golongan aminoglikosida,
seperti tobramicin atau gentamicin.
Peralatan proteksi diri yang dibutuhkan saat operasi adalah google,
boot dan sarung tangan tambahan. Sebelum dilakukan operasi, dilakukan
pencucian pada daerah fraktur dengan povine iodine, lalu drapping area
operasi. Debridement dilakukan pertama kali pada daerah kulit yang
fraktur. Kemudian dilakukan rawat perdarahan di vena dengan melakuan
koagulasi. Membuka fascia untuk menilai otot dan tendon. Viabilitas otot
dilakukan untuk mendapatkan dengan 4C, “Color, Contractility,
Circulation and Consistency. Lakukan pengangkatan kontaminasi canal
medullary dengan saw atau rongeur. Curettage canal medulary dihindarkan
dengan alasan mencegah infeksi ke arah proksimal. Irigasi dilakukan
dengan normal saline. Penggunaan normal saline adalah 6-10 liter untuk
fraktur terbuka. Tulang dipertahankan dengan reposisi. Penutupan luka
dilakukan jika memungkinkan. Pada fraktur terbuka yang tidak bisa
dilakukan penutupan luka, dilakukan rawat luka terbuka, hingga luka
dapat ditutup sempurna. Perawatan fraktur dapat dibedakan menjadi
perawatan fraktur secara tertutup (closed) atau terbuka (open). Perawatan
fraktur dengan menggunakan intermaxillary fixation (IMF) disebut juga
reduksi tertutup karena tidak adanya pembukaan dan manipulasi terhadap
area fraktur secara langsung. Teknik IMF yang biasanya paling banyak
digunakan ialah penggunaan arch bar.
1. Closed Reduction
Pada prinsipnya, terapi fraktur konservatif dapat menggunakan metode:
a) Yang dicekatkan ke gigi pasien sebagai pegangan (ligature dental,
splint dental, arch bar);
b) Splin protesa, digunakan pada rahang yang tidak bergigi, dapat
dicekatkan dengan sekrup osteosintesis ke tulang atau dengan
circumferential wiring
c) Yang bertumpu ke struktur tulang ekstra oral (head chin splint dan
gips pada fraktur hidung)

2. Open Reduction
Perawatan fraktur dengan reduksi terbuka ialah perawatan pembukaan dan
reduksi terhadap area fraktur secara langsung dengan tindakan
pembedahan. Terapi fraktur dengan metode open reduction diindikasikan
pada :
a) Fraktur multiple dan comminuted
b) Fraktur terbuka
c) Fraktur pada rahang yang atrofi
d) Fraktur yang terinfeksi
e) Fraktur pada pasien yang tidak dapat dilakukan terapi konservatif
seperti pada pasien epilepsy, ketergantungan alcohol,
keterbelakangan mental.
Terapi fraktur sebaiknya dilakukan secepat mungkin, penundaan
perawatan akan berakibat pada kalsifikasi tulang pada posisi yang salah
dan juga meningkatkan resiko infeksi. Meskipun secara umum fraktur oran
dan maksilofasial sebaiknya dirawat secara terbuka, namun tidak
semuanya membutuhkan. Pada fraktur tanpa displacement umumnya tidak
perlu intervensi bedah. Material yang digunakan untuk fiksasi pada terapi
fraktur dengan open reduction antara lain kawat, pelat dan sekrup,
miniplat, mikroplat.
B. Pathway
Trauma langsung trauma tidak langsung kondisi patologi

Fraktur
Diskontinuitas tulang Pergeseran fragmen tulang Nyeri
Nyeri Akut
Akut
Peruh jaringan sekitar kerusakan fragmen tulang
Pergeseran frag tulang tek ssm tlg > tinggi dr kapiler Susah tidur
Deformitas reaksi stress klien
GangguanGangguan
Gangguan fungsi melepaskan katekolamin
Pola Tidur
pola tidur
memobilisasi asam lemak
Gangguan
mobilitas fisik bergabung dengan trombosit
emboli
Kelemahan Menyumbat pembuluh darah

Nutri Kurang
dari Gangguan perfusi
kebutuhan jaringan

Laserasi kulit Intergritas


kulit

C. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Identitas pasien lengkap meliputi nama umur tanggal lahir agama
Gangguan
alamat nomer register, tanggal masuk rumah sakit Pola Tidur
b. Keluhan utama: adanya rasa nyeri dan keterbatasan gerak atau
kehiangan fungsi pada bagian tulang yang mengalami fraktur
c. Riwayat penyakit sekarang: mengkaji kronologi terkait penyakit yang
dialami serta upaya pengobatan yang sudah dilakukan sebelum masuk
rumah sakit bersangkutan.
d. Riwayat penyakit dahulu: mengkaji adanya penyakit dahulu seperti
riwayat hipertensi, riwayat DM dsb.
e. Riwayat penyakit keluarga: mengkaji adanya keluarga yang memiliki
penyakit yang sama seperti pasien atau adanya riwayat penyakit
menurun seperti DM.
f. Pola kebiasaan
1) Pola nutrisi: pasien dengan fraktur maxilla umumnya intake
nutrisinya akan terganggu dan biasanya diberikan diet cair.
2) Pola eliminasi: pasien biasanya tidak mengalami masalah pada
pola eliminasi
3) Pola istirahat: pada pola isirahat dapat muncul gangguan tidur yang
diakibatkan oleh nyeri yang dirasakan pasien
4) Pola aktivitas: pasien akan mengalami keterbatasan gerak atau
kehilangan fungsi pada daerah fraktur.
5) Personal hygiene: pasien masih mampu melakukan personal
hygiene namun harus dibantu.
6) Riwayat psikologis: pasien biasanya akan mengalami rasa takut,
cemas ketika akan dilakukan pembedahan atau operasi
7) Riwayat sosial: umumnya hubungan sosial pasien tidak terganggu.
g. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan nyeri pada daerah fraktur, terjadi
peningkatan temperature, kesadaran composmentis, dapat ditemukan
hipertensi, takikardi, pembekakan pada daerah fraktur, gangguan
penglihatan juga dapat ditemukan pada pasien dengan fraktur maxilla..
h. Pengkajian nyeri didapatkan
P: akibat trauma langsung, tidak langsung, atau patologis
Q: nyeri seperti tertusuk-tusuk
R: daerah wajah
S: nyeri sedang sampai berat
T: terus menerus dan semakin nyeri saat digerakkan
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan cedera fisik
b. Gangguan pola tidur berhubungan dengan persaan tidaknyaman
c. Resiko infeksi berhubungan dengan port de entry akibat pembedahan.
d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan post operasi drainase
e. Ansietas berhubungan dengan perubahanstatus kesehatan
f. Resiko syok berhubungan dengan perdarahan
3. Intervensi
No. Masalah NOC NIC
Keperawatan
1. (00132) Nyeri akut Kontrol nyeri (1605): Manajemen nyeri
1. Mengenali nyeri yang (1400):
terjadi 1. Kaji nyeri pasien
2. Menggambarkan 2. Observasi TTV
faktor penyebab pasien
3. Melaporkan nyeri 3. Gunakan strategi
yang terkontrol komunikasi
Tingkat nyeri (2102): terapeutik
1. TTV dalam rentang 4. Kolaborasi
normal pemberian
2. Ekspresi wajah analgesic
menunjukkan nyeri Terapi relaksasi
ringan (6040):
3. Nafsu makan kembali 1. Ciptakan
normal lingkungan aman
4. Pasien dapat dan nyaman untuk
beristirahat dengan pasien
baik 2. Minta pasien rileks
dan merasakan
sensasi yang
terjadi
3. Berikan informasi
tentang terapi
relaksasi
4. Ajarkan terapi
relaksasi seperti
nafas dalam atau
guided imagery
dengan mata
tertutup
2 Resiko Infeksi Kontrol resiko proses Kontrol infeksi (6540)
(00004) infeksi (1924) : 1. Manajemen
1. Mengidentifikasi lingkungan yang
faktor resiko infeksi baik dengan cara
(192426) rutin dibersihkan
2. Mengetahui 2. Ajarkan cuci
konsekuensi terkait tangan yang baik
infeksi (192402) dan benar pada
3. Mengidentifikasi tanda perasat dan juga
dan gejala infeksi keluarga.
(192405) 3. Gunakan sabun
4. Memonitor faktor selama proses
lingkungan yang pelaksanaaan cuci
berhubungan dengan tangan
resiko infeksi 4. Jaga lingkungan
(192409) agar tetap bersih
dan rapi
5. Anjurkan pasien
untuk istirahat yang
cukup
6. Kolaborasi dengan
tenaga kesehatan
yang lain dalam
pemberian
antibiotik
3 Kerusakan integritas Setelah dilakukan asuhan Wound care
jaringan keperawatan selama 3 x 24 1. Jaga kulit sekitar
berhubungan dengan jam kerusakan integritas luka tetap bersih
post operasi drainase kulit teratasi dengan dan kering
kriteria hasil : 2. Lakukan perawatan
Wound healing luka secara steril
- Menunjukkan terjadi 3. Observasi keadaan
proses penyembuhan luka meliputi
luka lokasi, kedalaman,
- Perfusi jaringan sekitar ukuran,
luka normal karakteristik, warna
cairan, nekrotik,
epitelisasi,
granulasi dan tanda-
tanda infeksi lokal
4. Berikan posisi yang
mengurang tekanan
pada area luka
5. Gunakan dressing
sesuai indikasi

D. Discharge Planning
Discharge planning untuk pasien fraktur sebagai berikut:
1. Meningkatkan masukan cairan
2. Dianjurkan untuk diet lunak terlebih dahulu
3. Dianjurkan untuk istirahat yang adekuat
4. Kontrol sesuai jadwal
5. Mimun obat sesuai dengan yang diresepkan dan segera periksa jika ada
keluhan
6. Menjaga masukan nutrisi yang seimbang TKTP
7. Hindari trauma ulang.
DAFTAR PUSTAKA

Ajike S.O., Adebayo E.T., Amanyiewe E.U., 2005, An epidemiologic survey of


maxillofacial fractures and concomitant injuries in kaduna, nigeria, Nigerian
J of Surgical research: 251-55.
Arosarena Oneida A, MD, et al. Maxillofacial Injuries and Violence Against
Women. Arch Facial Plast Surgery. 2009; 11(1):48-25.
Bulechek, G. M., H. K. Butcher, J. M. Dochteman, C. M. Wagner. 2015. Nursing
Interventions Classification (NIC). Edisi 6. Jakarta: EGC.
Bulechek, G. M., H. K. Butcher, J. M. Dochteman, C. M. Wagner. 2015. Nursing
Outcomes Classification (NOC). Edisi 6. Jakarta: EGC.
Kasiati dan Rosmalawati, N. W. D. Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan:
Kebutuhan Dasar Manusia I. Jakarta: Pusdik SDM Kesehatan.
http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/moduk-bahan-ajar-tenaga-
kesehatan/.
Moorhead et. al. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). Oxford: Elsevier
Nanda Internasional. 2018. Diagnosis Keperawatan 2018-2020. Jakarta: EGC
Perry & Potter. 2006. Buku ajar fundal mental keperawatan konsep, proses dan
praktik. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Price, S. A. 2005. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta:
EGC
Risnanto dan Insani, U. 2014. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah: Sistem
Muskuloskaletal. Yogyakarta: Deepublish