Anda di halaman 1dari 12

Omnibus Law dan Agenda Masyarakat Sipil

Gita Putri Damayana, SH, LLM


Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK)

Disampaikan dalam FGD Omnibus Law LBH Jakarta


27 Januari 2020
Hanya untuk kepentingan diskusi tidak untuk disebarluaskan
ALUR PRESENTASI

a. Mengenal proses penyusunan RUU


b. Problem kuantitas dan kualitas
c. Pendekatan Omnibus Law dalam
menjawab tantangan reformasi regulasi
Alur Pengusulan dan Pembahasan RUU

Penyusunan Prolegnas di
DPR, DPD dan
Presiden mengajukan RUU
Pemerintah. Untuk DPR
ke DPR dengan
dilakukan oleh Badan DPR kemudian
melampirkan Surat
Legislasi DPR dan mengesahkan Prolegnas
Presiden yang memuat
Pemerintah oleh yang sudah disusun
penunjukan Menteriyang
Menhukham (atau bersama tersebut dalam
bertugas mewakili
kementerian yang Rapat Paripurna DPR
Presiden untuk
bertanggung-jawab (Pasal 22 ayat 1 UU membahas RUU dengan
bidang peraturan 12/2011) DPR.
perundang-undangan
(Pasal 50 ayat 1 7 2)
(Pasal 20 dan 21 UU No
15/2019)
Data PSHK menunjukkan
bahwa dari 2014 hingga
November 2019 telah
terbit 10.180 regulasi,
berupa 131 Undang-
Undang (UU), 526
Peraturan Pemerintah
(PP), 839 Peraturan
Presiden (perpres) dan
8.684 Peraturan Menteri
(permen)
SIMULASI PERTANYAAN KUNCI

a) Temukan dan tanyakan apa isu atau


permasalahan, yang (i) berulang kali muncul
dan (ii) menimbulkan dampak negatif (iii)
yang semakin meluas?
b) Apakah cara penyelesaian/solusinya harus
berwujud peraturan? Jika ya, apakah
peraturannya pada tingkat/level UU?
c) Apakah sudah ada UU untuk menyelesaikan
isu atau permasalahan tersebut?
Sebagian Temuan Dari Program Legislasi
Nasional 2020
a. Ditemukan materi muatan yang seharusnya cukup diatur lewat peraturan
perundang-undangan di bawah UU justru dipaksakan diatur dengan UU

b. RUU Pembinaan Haluan Ideologi Pancasila, RUU Kefarmasian, RUU Pendidikan


Kedokteran, RUU Profesi Psikologi, serta RUU Perlindungan Tokoh Agama dan
Simbol Agama adalah sebagian contoh RUU yang materinya sudah diatur di UU
lain seperti KUHP dan UU Pendidikan Tinggi. Contoh lain adalah RUU
Ketahanan Keluarga dan RUU Kesejahteraan Ibu dan Anak yang materinya bisa
masuk ke UU Kesehatan

c. Seandainya diatur dengan peraturan perundang-undangan di bawah UU, lebih


cepat dapat dioperasionalkan dan anggaran yang dibutuhkan relatif kecil
Sebagian Contoh Materi Peraturan Pelaksana Yang
“Dipaksakan” Menjadi UU

Sebagai contoh 3 (tiga) UU yang sebenarnya merupakan materi muatan Peraturan Pemerintah (PP) tetapi
oleh DPR dan Presiden “dipaksakan” menjadi UU yaitu UU 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, UU
16/2012 tentang Industri Pertahanan, dan UU 13/2011 tentang Penanganan Fakir Miskin
a) Pasal 24 ayat (4) UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan ketentuan mengenai
penyelenggaraan pendidikan tinggi diatur lebih lanjut dengan PP
b) Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2) UU 5/1984 tentang Perindustrian menyebutkan mengenai Industri
Pertahanan merupakan materi muatan PP
c) Pasal 23 UU 11/2009 tentang Kesejahteraan Sosial mengatur ketentuan lebih lanjut mengenai
penanggulangan kemiskinan diatur dengan PP
Sebagian Contoh Materi Peraturan Pelaksana Yang
“Dipaksakan” Menjadi UU

Sebagai contoh 3 (tiga) UU yang sebenarnya merupakan materi muatan Peraturan Pemerintah (PP) tetapi
oleh DPR dan Presiden “dipaksakan” menjadi UU yaitu UU 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, UU
16/2012 tentang Industri Pertahanan, dan UU 13/2011 tentang Penanganan Fakir Miskin
a) Pasal 24 ayat (4) UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan ketentuan mengenai
penyelenggaraan pendidikan tinggi diatur lebih lanjut dengan PP
b) Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2) UU 5/1984 tentang Perindustrian menyebutkan mengenai Industri
Pertahanan merupakan materi muatan PP
c) Pasal 23 UU 11/2009 tentang Kesejahteraan Sosial mengatur ketentuan lebih lanjut mengenai
penanggulangan kemiskinan diatur dengan PP
Omnibus vs Kodifikasi
Beban Peraturan Pelaksana
Catatan untuk Agenda Omnibus Law Pemerintah
a. Tidak seimbangnya posisi para pemangku kepentingan dalam penyusunan
Omnibus Law.
b. DPR yang tidak menjalankan fungsi legislatif dan pengawasannya dengan
seolah-olah mengikuti saja kehendak Pemerintah soal Omnibus Law.
c. Adanya kesimpangsiuran informasi mengenai draf RUU antar kementerian dan
lembaga.
SEHINGGA....
Perlu ada tuntutan untuk rencana kebijakan berbasis bukti yang bisa
dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan akademik bahwa untuk
permasalahan ketenagakerjaan kita solusinya adalah undang-undang
(bac
TERIMA KASIH
Gita Putri Damayana
Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia (PSHK)

HP/WA: 0811131274
Email: gita.putri@pshk.or.id