Anda di halaman 1dari 30

RANGKUMAN EKSEKUTIF REKOMENDASI

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS)


PEMINDAHAN IBU KOTA NEGARA (IKN)

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN


1
11 Februari 2020 1
Latar Belakang KLHS IKN
Kalimantan kaya dan memiliki potensi
sumber daya yang luar biasa, namun
demikian, pulau ini MEMILIKI BANYAK
HAMBATAN DAN LIMITASI EKOLOGIS
(ecological constraints) sehingga
pembangunannya harus direncanakan
secara baik dan hati-hati.

Kalimantan memiliki potensi daya dukung


lingkungan cukup besar, namun cenderung
terus turun, sehingga fokus untuk
mempertahankan keberlanjutan
pembangunannya adalah pada
pemeliharaan dan peningkatan kemampuan
2 ekologis dan mengendalikan pola konsumsi
Penentuan Calon Wilayah IKN di Kalimantan Timur
• Lokasi Strategis, secara geografis berada di tengah wilayah
Indonesia.
• Lokasi aman dan bebas terhadap Risiko Bencana gempa bumi,
gunung berapi dan tsunami
• Aksesibilitas lokasi tinggi, dekat dengan dua kota besar’
• Dilintasi jalan tol dan jalan trans Kalimantan
• Didukung oleh dua Bandara;
• Dilayani oleh dua pelabuhan
• Berada di jalur ALKI II di sekitar selat Makassar;
• Ketersediaan lahan luas;
• Ketersediaan air permukaan dilayani oleh 3 waduk eksisiting dan 2
waduk yang masih dalam tahap rencana serta 4 sungai (S.Wain,
S.Samboja, S. Sanga-sanga, S.Sanggai dan 4 DAS Samboja, Sangai,
Mahakam, Dondang);
• Kemampuan lahan untuk konstruksi bangunan sedang dan
sebagian besar lokasi aman dari banjir
• Dari sisipertahanan, dapat didukung oleh Tri Matra Terpadu
(Darat, Laut, dan Udara)
• Struktur kependudukan sangat heterogen, potensi konflik rendah,
dan terbuka terhadap pendatang
Sumber:
3 Bappenas,2019
Keseluruhan Proses KLHS IKN Dilakukan Dalam 3 (Tiga) Tahapam Besar

POLICY & PLAN


PEMETAAN
IDENTIFIKASI VISION FORMULATION
BERBAGAI DIMENSI
BENCHMARKING (Penyusunan
SITUASI EKSISTING
(Memulai dari cita-cita) kebijakan &
rencana)

• Visi dan cita-cita Presiden yang • Potret eksisting dan riwayat • Kebijakan dan rencana-rencana
disampaikan pada April 2019, Pidato sejarah karakteristik bio-geo- utama (Masterplan, Rencana
Presiden 18 Agustus 2019, dan fisik lokasi Tata Ruang, Rencana
Pengumuman Lokasi IKN 26 Agustus Infrastruktur)
• Potret eksisting dan riwayat
2019
sejarah kondisi sosial-ekonomi- • Kebijakan pendukung (enabler)
• Konsep awal Pemerintah yang dijadikan budaya dan politik
• Langkah-langkah pencegahan
landasan (Rancangan teknokratik
• Informasi yang dianggap perlu, dampak dan resiko lingkungan
RPJMN 2020-2024)
termasuk proyeksi-proyeksi ke (environmental risk and impact
• Pertimbangan-pertimbangan visioner depan prevention framework)
atau strategis yang disampaikan banyak
kalangan
KONSEP DASAR FAKTOR KOREKSI ARAHAN KEBIJAKAN

4
Rekomendasi KLHS IKN memuat :
10 Prinsip Smart 5 Peta Jalan
& Forest City A C pemulihan dan
perbaikan
lingkungan

4 Usulan
kebijakan untuk B D
4 Kebutuhan
dukungan Feasibility Study
keberlanjutan Lanjutan
(Sustainability
5 Enabler Policy)
Penerapan 10 Prinsip
A
Smart & Forest City
6
01 Harus berbasis pengelolaan
Daerah Aliran Sungai (DAS)
Sebagian besar dari 38 DAS di dalam dan sekitar wilayah IKN area
tangkapannya kecil-kecil dan rasio debit maksimum dan minimum
besar pasang serta lansekap berbukit-bukit dengan curah hujan tinggi
menyebabkan harus dilakukan pengelolaan hulu-hilir

KARS
T

• Wilayah resapan dan pengatur tata air dijaga tutupannya.


• Area kars harus dilindungi.
• Pemanfaatan ruang yang berfungsi sebagai wilayah
penyangga, tangkapan air dan pemelihara sungai-sungai
pasang surut harus menerapkan prinsip-prinsip ekoriparian.
• Melakukan rehabilitasi, revegetasi, dan pengkayaan lansekap
hijau untuk perbaikan fungsi DAS, mencegah longsor dan
banjir setempat.
7
02 Memiliki jaringan ruang
hijau yang terstruktur
Untuk meningkatkan daya dukung, dibutuhkan jaringan
ruang perlindungan dan wilayah yang butuh perlakuan
hati-hati yang terhubung dengan koridor-koridor yang
ramah lingkungan.
Jaringan Ruang Hijau Utama (Primary Green Space)
yang memiliki fungsi perlindungan :
• Kawasan Hutan Konservasi (Tahura)
• Kawasan Hutan Lindung
• Daerah jelajah dan habitat utama satwa kunci

Jaringan Ruang Hijau Sekunder (Secondary Green


Space) yang memiliki fungsi penyangga dan estetika :
• Area ekoriparian dan pesisir
• Area wisata alam
• Kebun raya dan kebun bibit/persemaian
• Area bernilai konservasi tinggi dan kantong karbon
• Area pengkayaan/revitalisasi ekosistem hutan hujan
tropis

Jaringan Ruang Terbuka berbasis air (Blue Space) yang


berfungsi menjaga tata air dan mencegah longsor dan
banjir : sungai, danau, embung, waduk, teluk, dan
infrastruktur tampungan air lainnya

8
03 Memanfaatkan sekitar 50%
wilayah untuk dikembangkan,
namun dengan kepadatan dan
proporsi lahan terbangun
rendah
Ruang pengembangan kota dengan kriteria
• Penataan permukiman eksisting berbasis
perencanaan peri-urban berkelanjutan (transisi desa
kota)
• Proporsi lahan terbangun rata-rata maksimal 50%
dengan pemberian ruang pekarangan terbuka hijau
disetiap persil

Ruang pengembangan terbatas yang berbaur dengan


ruang jelajah satwa, kondisi hutan produktif, memiliki
areal NKT dengan kriteria :
• Proporsi lahan terbangun tidak lebih dari 30%
• Dilengkapi infrastruktur yang ramah satwa
• Dilengkapi lansekap yang mengurangi risiko konflik
satwa dan manusia

Ruang pengembangan dengan kriteria :


• Dilakukan pemulihan kualitas lingkungan
• Penataan permukiman eksisting berbasis
perencanaan transisi desa kota
9
04 Konsumsi air harus sangat efisien

Pengelolaan terpadu hulu hilir Memastikan siklus pemanfaatan air efektif


Pengendalian pemanfaatan hutan dan ruang, Siklus ambil-simpan-hemat-daur dan pengembangan
keterpaduan infrastruktur air, dan pengembangan sumber alternatif harus menjadi tujuan jangka panjang
ekoriparian di wilayah penyangga dan sempadan

10
05. Beban pemenuhan konsumsi penduduk rendah
(low ecological footprint – low carbon footprint)
Elemen penentu agar carbon footprint Elemen penentu agar ecological footprint
rendah di perkotaan Kalimantan Timur rendah di perkotaan Kalimantan Timur
• Proyeksi jumlah/proporsi turis/komuter yang pergi- • Konsumsi daging dan produk turunan hewan (telur
datang menggunakan pesawat terbang dan produk susu) per kapita
• Proyeksi jumlah/proporsi pendatang (tidak • Konsumsi ikan dan pangan laut per kapita
bertempat tinggal di IKN) yang pergi-datang • Konsumsi beras per kapita
menggunakan kendaraan bermotor • Konsumsi energi per kapita
• Proporsi penduduk bergerak lebih dari radius 5 • Jumlah anggota keluarga per rumah
kilometer setiap hari • Luas rumah rata-rata per kepala keluarga
• Proporsi sampah kemasan dalam produksi
sampah rumah tangga sehari-hari • Jarak rata-rata sumber penyediaan daging dan
• Jumlah sampah plastik dan kertas dalam produksi produk turunan hewan
sampah kota sehari-hari • Jarak rata-rata sumber penyediaan ikan dan pangan
laut
• Jenis transportasi publik utama yang akan • Jarak rata-rata sumber penyediaan beras
disediakan • Jarak rata-rata sumber penyediaan material
• Jenis dan kapasitas pembangkit listrik utama yang bangunan kayu dan bamboo
direncanakan menyuplai energi utama kota • Jarak rata-rata sumber penyediaan material besi/baja,
• Proporsi bangunan yang akan dilengkapi sarana semen dan bata
11 pembangkit listrik terbarukan mandiri
06 Punya kualitas udara yang baik dan suhu udara rata-rata sejuk
Terutama mewaspadai debu dari kegiatan
pertambangan, konstruksi, penggunaan bahan bakar
fosil, kebakaran lahan, maupun emisi partikel dari
PM2.5 kegiatan industri
Terutama mewaspadai debu rendah
kegiatan konstruksi (PM10), emisi
gas SOx dan NOx dari ISPU Bebas
Asap Terutama mewaspadai sebaran
transportasi, industri dan baik
(Haze) asap yang terbentuk bila terjadi
pembangkit listrik serta pelepasan
kebakaran lahan
gas-gas rumah kaca lainnya
KUALITAS
UDARA
BAIK
Terutama mewaspadai pelepasan
Dioxin dan PCB akibat pembakaran Bebas
POPs Terutama mewaspadai pelepasan
sampah dan limbah, serta efek Timbal
rendah timbal dari pembakaran sampah
penyemprotan pestisida/herbisida (Pb)
dan limbah, maupun penggunaan
Suhu bahan bakar yang masih
ambien
mengandung timbal (misalnya
28o/25o
Tutupan lahan harus dijaga untuk menjamin Celsius avtur untuk jenis pesawat-pesawat
terjaganya iklim mikro, sejuknya suhu ambien, dan tertentu)
kecilnya perbedaan suhu maksimum dan minimum
rata-rata
12
07 Punya kualitas air permukaan yang baik
Banyak masyarakat
mengharapkan sungai atau air Direpresentasikan dalam informasi
permukaan terlihat bersih, jernih Indeks Kualitas Air yang mencakup :
dan bening, serta suhunya sejuk. • Indeks pencemaran
Sungai yang bersih dan jernih • Status mutu
selalu meningkatkan daya tarik • Informasi situasi periodik saat
suatu wilayah Karakteristik beberapa parameter tidak dapat
Fisik memenuhi target kualitas air
Baik

Terutama mewaspadai air


permukaan yang diduga
terpengaruh kontaminasi pestisida Terutama mewaspadai air
dan pupuk (misalnya akibat Karakteristik Karakteristik permukaan yang diduga
terpengaruh kontaminasi limbah
kegiatan perkebunan dan hutan Kimia Biologi domestik
tanaman); atau terkontaminasi
kegiatan pertambangan (misalnya Baik Baik
air asam tambang) dan industri
(misalnya air buangan limbah)

13
08 Melindungi habitat satwa
Wilayah Habitat dan daerah jelajah satwa liar kunci harus
dijaga, dimana salah satunya adalah dengan ditetapkan
sebagai ruang hijau primer.
Pengelolaan wilayah habitat satwa dikelola dengan model:
• :Avoid cluster: area/ cluster yang perlu dihindarkan dari
pembangunan fisik;
• Minimize Cluster: Area/cluster ini dapat dilakukan
pembangunan fisik dengan meminlmalkan dampak
Daerah jelajah
orangutan
(mitigasi) terhadap satwa liar;
populasi sekitar
150 individu • Restore Cluster merupakan area/ cluster yang perlu
Daerah jelajah pesut,
dipulihkan sebagai habitat satwa liar
lumba2, dugong, penyu
hijau

Daerah jelajah bekantan dg populasi sekitar 100 – 1000 individu

Batas Administrasi Kabupaten


Batas Administrasi Kecamatan
Kawasan Inti IKN Daerah jelajah orang utan
Kawasan Perluasan IKN Daerah jelajah bekatan

Contoh kanopi tanaman diatas jalan Contoh pemberian rambu penanda


Hutan Lindung Hutan Produksi Terbatas raya sebagai sarana menyeberang di sekitar wilayah jelajah yang
Hutan
14 Konservasi Hutan Produksi Konversi
Hutan Produksi
orangutan berdekatan dengan ruang kegiatan
Areal Penggunaan Lain
masyarakat
09 Punya kualitas tutupan lahan yang baik, dan terevitalisasinya
lansekap “Hutan Hujan Tropis”
Tanaman pakan satwa
Tanaman penghalau

Rehabilitasi Pembuatan
koridor satwa
kawasan
lindung/ Pengayaan jenis
konservasi dipterokarpa dan non
dipterokarpa asli
Kalimantan pada Kebun Raya
RTH dan jalur hijau Upaya pemuliaan benih
dan kebun dan pengembangan
Reklamasi dan bibit
Pengkondisian kapasitas suksesi sumber daya genetik
revegetasi pasca
alami yang kondusif
tambang

Kayu ulin dan berbagai tanaman yang kritis


Kayu meranti dan berbagai jenis dipterocarpaceae
Rotan dan bambu
Tanaman obat
15 Tanaman hias
Accessible
Multi-platform periodic spatial
real time public monitoring :
LINGKARAN HIJAU
monitoring : menandakan dapat • Tutupan hutan/
• Kualitas udara diakses perangkat lahan/vegetasi
• Pergerakan satwa komunikasi setiap orang • Kualitas air sungai/
• Debit air sungai/ sumber air baku
kanal/waduk

Multi-platform real time


personal decision
support system :
• Early warning system kebakaran
lahan, banjir dan potensi
longsor, gempa dan tsunami
Rehabilitation • Alert system satwa melintas Environmental
support system • Alert system udara memburuk
compliance
: dan • Alert system penghematan air
• Monitoring support system
• Algoritma drop off sampah/
tracking kemajuan • Monitoring: pemegang izin
drop box bank sampah
rehabilitasi dan yang terkait lingkungan
pemulihan • Sistem penegakan hukum
lingkungan • Tracking tindak lanjut
LINGKARAN BIRU
menandakan sistem kendali
10. Penerapan Elemen Smart City terpusat yang digunakan oleh
16 pemerintah
untuk Pengelolaan Lingkunga
4 Kebijakan Pendukung
B (Enabler) Yang Harus
17
Ada
01 Pengendalian ekspansi fisik wilayah satelit
Dengan dominasi ruang kawasan hutan yang memiliki jasa lingkungan tinggi, pusat-pusat pertumbuhan disekeliling IKN
harus dikendalikan ekspansi fisik pertumbuhannya agar tidak mentrigger deforestasi, alih fungsi lahan ke kegiatan yang
mendorong kerusakan dan berpotensi memarjinalkan masyarakat yang bergantung pada keberlanjutan hutan.

KEK
Maloy

KEK
Maloy KPH dengan
potensi HHBK
tinggi
Potensi offset

Keterangan • Penguatan ekonomi hutan • Memaksimalkan APL (non


Jaringan kota-kota satelit penopang IKN dan
KEK Maloy kemasyarakatan berbasis kawasan hutan) dengan
Hutan Konservasi
Hutan Lindung
HHBK dan Jasa Lingkungan nilai konservasi tinggi
Hutan Produksi • Revitalisasi hutan produksi sebagai penyimpan karbon
Kawasan Konservasi
Hutan Produksi Konversi dan kawasan konservasi
• Pengembangan ekonomi
berbasis keanekaragaman
hayati dengan nilai tambah
18 tinggi bagi masyarakat
02 Penyempurnaan RTRW Pulau dan Provinsi
Selain RTRW yang nanti akan khusus mengatur IKN, RTRW Pulau Kalimantan dan RTRW Provinsi perlu disempurnakan
untuk menopang upaya menjaga kelangsungan paru-paru dunia dan mengendalikan ekspansi fisik yang berpotensi
menyebabkan deforestasi

ZONA APL BAGIAN UTARA :


Pengendalian pemanfaatan ruang
dilakukan dengan mempraktekan
kompensasi/imbal jasa lingkungan
antar daerah untuk jasa pengatur
air, jasa penyimpanan karbon dan
penyediaan sumber daya genetik

USULAN PENGUATAN
RTRW PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

1. Penguatan Status KSP Kawasan Teluk


Balikpapan sebagai Kawasan Strategis dari
sudut kepentingan Daya Dukung
Lingkungan Hidup, melalui Penetapan
ZONA APL BAGIAN Status Kawasan Lindung
SELATAN : 2. Menerapkan ketentuan pengembangan
Ecoriparian dalam Pemanfaatan Ruang RTR PULAU KALIMANTAN
Pengendalian pemanfaatan
sepanjang sempadan sungai dan danau 1. Proteksi Ruang Adat
ruang ditekankan pada
pemulihan ekosistem dan 3. Menerapkan Instrumen pengendalian 2. Penataan Kembali Hutan
pencegahan pencemaran perlindungan Lingkungan Hidup pada Produksi
dan kerusakan lingkungan wilayah yang memiliki jasa lingkungan 3. Pengendalian Pertumbuhan
hidup hidup tinggi terutama di bagian hulu sungai Kota-kota Satelit terutama di
19 kawasan hulu sungai Mahakam
Mahakam
03 Penguatan ekspresi identitas masyarakat lokal dan
penataan ruang transisi peri-urban/desa kota
Petani/pekebun/peladang
Sekuriti atas air, lahan dan pasar

Perikanan
Sekuriti atas badan air dan sungai,
pasar, dan kohesi sosial Pengrajin

Pedagang/perajin Petani
Industri tahu
Buruh
Sekuriti atas daya saing, tempat tinggal, & Batu Bata
Bangunan
biaya hidup
Budidaya
Ikan Air
Buruh Pedagang Tawar

Sekuriti atas kesempatan kerja, tempat Nelayan


tinggal, biaya hidup

Sejarah identitas masa lalu dan peninggalan


budaya yang ada merupakan modal yang harus
diberi ruang, bentuk fisik dan waktu untuk
diekspresikan

20
Penataan ruang pusat-pusat kecamatan, pembenahan permukiman
04 Kebijakan afirmatif dan dengan pekarangan, perbaikan ruang bersama/komunitas, dan
penciptaan obyek perekonomian seperti ekowisata kecamatan harus
pengembangan kecamatan dan diprioritaskan.

desa eksisting
Kebijakan dan tindakan afirmatif terhadap masyarakat
setempat adalah kunci percepatan penyiapan lokasi,
integrasi sosial, akselerasi manfaat pertumbuhan IKN, dan
peningkatan kualitas lingkungan hidup

Jaminan ruang
Pemberdayaan
hidup dan akses
• Pendidikan ekonomi
• Akses lahan
• Pelatihan
• Akses sumber air
• Akses • Akses sumberdaya
sumberdaya, alam
modal dan pasar • Lapangan kerja

Institusionalisasi
• Penguatan
organisasi
berbasis profesi,
komunitas dan
budaya
21
5 Peta Jalan Pemulihan
C dan Peningkatan
22
Kualitas Lingkungan
01 Roadmap pemulihan pasca tambang
TAHAP 1 : 2020 – 2021
TAHAP 3 : 2025 – 2029
• Pembinaan dan pengawasan pada
32 IUP untuk memastikan prinsip- • Pembinaan dan pengawasan
prinsip Good Mining Practice penerapan prinsip Good Mining
dilaksanakan Practice
• Evaluasi dan revitalisasi di + 38.000 • Penerapan penaatan pada IUP yang
Ha tambang dan pemulihan di + tidak melaksanakan GMP
1400 Ha lubang bekas tambang
• Demo dan piloting best practice
kerjasama pemerintah dan swasta
untuk reklamasi, revegetasi dan TAHAP 4 : 2030
pemanfaatan ruangnya di beberapa
lokasi terpilih • Pembinaan dan pengawasan
• Sosialisasi dan edukasi masyarakat penerapan prinsip Good Mining
• Pengamanan lokasi rawan Practice
kecelakaan/penutupan akses • Penerapan penaatan pada IUP yang
tidak melaksanakan GMP
• Evaluasi kualitas lingkungan pasca
TAHAP 2 : 2021 – 2024 tambang
• Phase out/exit kegiatan tambang dan
• Pembinaan dan pengawasan pada pengamanan
ARAHAN PRIORITAS PEMULIHAN
32 IUP terus dilaksanakan, termasuk • Penyelesaian reklamasi
1. Konsentrasi lokasi pemulihan : Kab. Kutai Kartanegara
revitalisasi dan pemulihan pasca • Penyelesaian proses pemulihan
2. Luas areal pemulihan prioritas pemerintah : + 1400 ha eks
tambang, dan dilanjutkan bekas air asam tambang
lubang tambang
perluasannya ke seluruh Kaltim • Pemanfaatan lahan eks tambang
3. Target keseluruhan revitalisasi dan pemulihan : 32 IUP
• Penerapan penaatan dan untuk sarana umum
dengan luas + 38.000 ha
pengamanan lokasi rawan
4. Moratorium perizinan pertambangan di dalam wilayah IKN
kecelakaan atau bekas lubang yang
belum
23 tertutup
02 Roadmap peningkatan kualitas air permukaan
Pemulihan kualitas air Pemulihan kualitas air Pemulihan kualitas air
sungai/kali di wilayah eks sungai dan teluk yang lubang bekas tambang yang
hutan tanaman terpapar limbah perkotaan diduga masih tercemar

TAHAP 1 : 2020 – 2021 TAHAP 1 : 2020 – 2021 TAHAP 1 : 2020 – 2021


PENERAPAN EKORIPARIAN PENERAPAN EKORIPARIAN PENGOLAHAN

• Penghentian penggunaan pupuk skala • Pembangunan jaringan dan sistem • Pelaksanaan langkah-langkah
besar infrastruktur pengelolaan air limbah pengolahan air asam tambang secara
• Perbaikan sempadan dan fisik sungai • Perbaikan sempadan dan fisik sungai fisik-kimia sesuai ketentuan
• Perbaikan vegetasi hulu dan maupun teluk • Penyiapan vegetasi pendukung
sempadan dan penerapan • Perbaikan vegetasi sempadan dan pengembangan sistem bioremediasi
bioremediation secara alami penerapan bioremediation

TAHAP 2 : 2022 dan selanjutnya TAHAP 2 : 2022 dan selanjutnya TAHAP 2 : 2022 dan selanjutnya
PENERAPAN EKORIPARIAN PENERAPAN EKORIPARIAN OPTIMALISASI BIOREMEDIASI

• Pemulihan lansekap alami sepanjang • Penataan ruang dan pengembangan • Penataan ruang dan pengembangan
sungai lansekap alami sepanjang sempadan lansekap untuk mengoptimalkan
• Pengendalian pencemaran • Pengendalian pencemaran bioremediasi dan ”pagar pengaman”
alami
24
03 Roadmap pemulihan ekosistem hutan hujan tropis
Pemulihan wilayah Pengkayaan dan restorasi Pengkayaan bertahap
konservasi Bukit Suharto bertahap lansekap hutan koridor hijau dan jaringan
tanaman ruang terbuka hijau publik

TAHAP 1 : 2020 – 2024 TAHAP 1 : 2020 – 2024 TAHAP 1 : 2020 – 2024


PENGAMANAN PROSES SUKSESI REHABILITASI LAHAN KRITIS DAN PERBAIKAN DAN PENGKAYAAN
ALAMI PENGKAYAAN VEGETASI LANSEKAP HIJAU
BERTAHAP
• Perbaikan rencana zonasi • Pengembangan jaringan kebun bibit
• Memprioritaskan sekitar +30.000 ha • Melaksanakan rehabilitasi terpadu dan dan persemaian Pemerintah,
areal untuk direhabilitasi, diperbaiki pengkayaan vegetasi di eks hutan Masyarakat dan Swasta (terutama
sistem suksesi alaminya, dan tanaman pada sekitar + 5.000 ha areal pengelola hutan tanaman)
ditingkatkan kualitasnya prioritas • Pengembangan Kebun Raya dan
jaringan mini arboretum
TAHAP 2 : 2025 dan selanjutnya TAHAP 2 : 2025 dan selanjutnya • Pengaturan lansekap taman dan
RESTORASI EKOSISTEM RESTORASI EKOSISTEM sempadan

• Revegetasi lahan rusak/gundul • Pengaturan lansekap dan


• Pengaturan lansekap untuk mencegah pengembangan keragaman vegetasi TAHAP 2 : 2025 dan selanjutnya
penyebaran spesies invasif dan untuk mencegah penyebaran spesies PENGEMBANGAN EKOWISATA
meningkatkan kemampuan suksesi invasif dan meningkatkan kemampuan DAN RUANG TERBUKA HIJAU
alaminya suksesi alaminya BERKUALITAS
25
04 Roadmap perbaikan kualitas habitat satwa liar
Penanganan habitat yang Penanganan habitat yang Penanganan habitat yang
“high risk” “medium risk” “low risk”
Habitat dan ruang jelajah yang Habitat dan ruang jelajah yang
masuk dalam kelompok ini adalah masuk dalam kelompok ini adalah Habitat dan ruang jelajah yang
wilayah yang saat ini bertampal wilayah yang saat ini masuk dalam kelompok ini adalah
dengan permukiman/ruang budidaya, bertampal/tumpang tindih/ wilayah yang relatif tidak terpapar
berada dekat dengan pilihan zona bersinggungan dengan permukiman/ permukiman dan ruang budidaya
pengembangan, dan direncanakan ruang budidaya masyarakat eksisting masyarakat, dan sudah memiliki
akan dilalui infrastruktur transportasi atau saat ini belum memiliki status status perlindungan
maupun ekonomi perlindungan

TAHAP 1 : 2020 – 2021 TAHAP 1 : 2020 – 2021 TAHAP 1 : 2020 – 2021


PENERAPAN INFRASTRUKTUR PENGENDALIAN PEMBANGUNAN PENGAMANAN RUANG JELAJAH
PENGAMAN RUANG JELAJAH DAN DAN RESIKO KONFLIK DENGAN
KETERSEDIAAN PANGAN KEGIATAN MANUSIA

TAHAP 2 : 2022 dan selanjutnya


PENGENDALIAN PEMBANGUNAN
DAN RESIKO KONFLIK DENGAN TAHAP 2 : 2022 dan selanjutnya TAHAP 2 : 2022 dan selanjutnya
KEGIATAN MANUSIA PENGENDALIAN RESIKO PENGENDALIAN RESIKO

26
05 Roadmap pengembangan masyarakat eksisting di wilayah IKN dan satelit

Masyarakat sekitar habitat Masyarakat berbasis Masyarakat desa tua dan


dan kawasan NKT pertanian ladang dan kebun wilayah tradisional
Kelompok masyarakat yang saat ini Kelompok masyarakat ini adalah nilai
bermukim di sekitar habitat dan Kelompok masyarakat ini sangat
unggulan IKN sebagai penentu
wilayah dengan nilai konservasi potensial untuk dikembangkan
identitas lokal kota yang
tinggi umumnya berkebun/berladang, menjadi tulang punggung sektor
memperkaya ekspresi sosial budaya
menangkap ikan dan berdagang. ekonomi dan industri hasil hutan,
masyarakatnya, termasuk
Kesempatan peningkatan ekonomi maupun pengembangan sistem
mengembangkan sektor wisata dan
terbuka melalui pemanfaatan jasa suplai pangan lokal
edukasi
lingkungan
TAHAP 1 : 2020 – 2024
TAHAP 1 : 2020 – 2024 PENGEMBANGAN KEGIATAN TAHAP 1 : 2020 – 2024
PENGEMBANGAN PERTANIAN PRODUKTIF YANG PENGEMBANGAN KEGIATAN
AGROFORESTRY MODERN PERTANIAN PRODUKTIF DAN
JARINGAN WISATA BUDAYA
TAHAP 2 : 2025 dan selanjutnya TAHAP 2 : 2025 dan selanjutnya
PENGEMBANGAN PENGEMBANGAN TAHAP 2 : 2025 dan selanjutnya
AGROFORESTRY DAN AGROFORESTRY ATAU INDUSTRI PENGEMBANGAN PUSAT-PUSAT
PENGELOLAAN JASA KECIL BERBASIS HASIL HUTAN EKONOMI KECAMATAN BERBASIS
LINGKUNGAN DAN JASA LINGKUNGAN IDENTITAS BUDAYA

27
4 Kebutuhan
D Feasibility Study
28
Lanjutan
Penekanan Feasibility Study lanjutan adalah pada :

4th
• Kelayakan lokasi
3rd inti/pusat
pemerintahan
• Sumber daya (karena ada opsi-
2nd hayati dan opsi lain yang
ekosistemnya sama baiknya)
• Sistem tata air • Habitat dan pola •
1st tapak hidup satwa
Penyesuaian
desain kota
• Ekosistem teluk, • Kelayakan dengan kondisi
• Sistem sosial pesisir, dan laut metoda tapak
budaya setempat • Ekosistem karst konservasi ex-situ • Kelayakan
• Pola dan tren dan hutan alam metoda pemulihan
pertumbuhan disekitar tapak kualitas
perkotaan lingkungan

29
Terima kasih
Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)


Gedung Manggala Wanabakti
Jalan Jenderal Gatot Subroto Jakarta 10270

30