Anda di halaman 1dari 40

RANCANGAN AKTUALISASI

NILAI NILAI DASAR PROFESI PNS

PENGGUNAAN METODE DEMONSTRASI GUNA MENGOPTIMALKAN


TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR PADA IBU HAMIL DIWILAYAH
KERJA UPT PUSKESMAS RAWAT INAP SUKADAMAI

DISUSUN OLEH :

DESI OKTAVIANA., A.Md.Keb


19921013 201902 2 010
UPT PUSKESMAS RAWAT INAP SUKADAMAI

PESERTA PELATIHAN DASAR


CALON APARATUR SIPIL NEGARA GOLONGAN II
ANGKATAN VI

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA


PROVINSI LAMPUNG
TAHUN 2019
LEMBAR PENGESAHAN
RANCANGAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PNS

JUDUL : PENGGUNAAN METODE DEMONSTRASI GUNA


MENGOPTIMALKAN TEKNIK MENYUSUI YANG
BENAR PADA IBU HAMIL DIWILAYAH KERJA UPT
PUSKESMAS RAWAT INAP SUKADAMAI
NAMA : DESI OKTAVIANA., A.Md.Keb
NIP : 19921013 201902 2 010
UNIT KERJA : UPT PUSKESMAS RAWAT INAP SUKADAMAI

Telah diuji berdasarkan hasil seminar rancangan aktualisasi CPNS Provinsi


Lampung pada hari Selasa, Tanggal 23 Juli 2019 di Badan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Lampung

Penguji

Alan Haris., S.Psi., MM


NIP.19750305 199703 1 001
LEMBAR PERSETUJUAN
RANCANGAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PROFESI ASN

JUDUL : PENGGUNAAN METODE DEMONSTRASI GUNA


MENGOPTIMALKAN TEKNIK MENYUSUI YANG
BENAR PADA IBU HAMIL DIWILAYAH KERJA UPT
PUSKESMAS RAWAT INAP SUKADAMAI
NAMA : DESI OKTAVIANA., A.Md.Keb
NIP : 19921013 201902 2 010
UNIT KERJA : UPT PUSKESMAS RAWAT INAP SUKADAMAI

Telah disetujuii berdasarkan hasil seminar rancangan aktualisasi CPNS


Provinsi Lampung pada hari Selasa, Tanggal 23 Juli 2019 di Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Lampung

DISETUJUI OLEH,

PEMBIMBING MENTOR

Dewi Indira, S.Si., MT Mujiatin,A.Md.Keb


NIP. 19720205 199803 2 006 NIP. 19740606 200604 2 015
KATA PENGANTAR

Puji syukur yang tak terhingga penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha
Esa yang telah memberikan kekuatan dan kesanggupan, sehingga penulis
dapat menyelesaikan Laporan Aktualisasi Nilai Dasar ASN. Sebagai pelayan
publik yang didasarkan kepada nilai ANEKA. Oleh sebab itu, peserta
membuat rancangan aktualisasi dengan judul “PENGGUNAAN METODE
DEMONSTRASI GUNA MENGOPTIMALKAN TEKNIK MENYUSUI YANG
BENAR PADA IBU HAMIL DIWILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS RAWAT
INAP SUKADAMAI”
Dalam penulisan laporan ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih
kepada:
1. Bapak Hi.Kherlani, SE.,MM selaku Kepala BPSDM Provinsi Lampung
beserta jajarannya yang telah memberikan kesempatan bagi peserta
untuk dapat mengikuti pelatihan dasar.
2. Bapak Catur Suprianto, S.Kep., selaku Kepala UPT Puskesmas
Sukadamai Kecamatan Natar yang telah memberikan izin dan
mendukung peserta mengikuti latsar.
3. Ibu Mujiatin,A.Md.Keb., selaku mentor yang telah memberikan
dukungan dalam pembuatan rancangan aktualisasi.
4. Ibu Dewi Indira,S.Si,MT, selaku coach penulis yang telah
memberikan bimbingan dalam penyusunan rancangan aktualisasi.
5. Bapak dan Ibu Widyaiswara BKPSDM Lampung Selatan, yang telah
banyak membantu baik secara langsung maupun tidak langsung
demi kelancaran penulisan laporan rancangan aktualisasi ini.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan rancangan aktualisasi ini
masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangannya, oleh karena itu
kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis harapkan.
Hajimena, 23 Juli 2019
Penulis

Desi Oktaviana,A.Md.Keb
19921013 201902 2 010
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ....................................................................... i
LEMBAR PERSETUJUAN........................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................ iii
KATA PENGANTAR .................................................................... iv
DAFTAR ISI ................................................................................. v
DAFTAR GAMBAR ...................................................................... vi
DAFTAR TABEL .......................................................................... vii

BAB I PENDAHULUAN
A.Deskripsi Organisasi ...................................................... 4
1. Latar Belakang ..........................................................
2. Profil Organisasi ....................................................... 4
3. Tugas Pokok dan Fungsi .......................................... 7

B. Alasan Penetapan Core Issue ...................................... 8


1. Deskripsi Issue .........................................................
2. Analisis Issue ............................................................ 4

C. Konsep Pokok Mata Pelatihan ..................................... 9


1. Penetapan Inisiatif dan Pemecahan Core Issue .......
2. Konsep Dasar ANEKA .............................................. 4
3. Penerapan dalam Kegiatan ......................................

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 27


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Struktur organisasi UPT Puskesmas Rawat


Inap Penengahan .................................................... 7
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel1.1 Struktur Organisasi ....................................................... 15
Tabel 1.2 Analisis Identifikasi Isu Menggunakan
Teknik APKL ................................................................ 8
Tabel 1.3 Analisis Identifikasi Isu Menggunakan
Teknik USG ................................................................. 8
Tabel 2.1 Matrix Kegiatan ............................................................ 15
Tabel 2.2 Jadwal Kegiatan .......................................................... 25
BAB I
PENDAHULUAN

A. Deskripsi Organisasi
1. Latar Belakang
Sebagai sebuah profesi, Aparatur Sipil Negara yang
selanjutnya disingkat ASN memiliki 7 ciri, sebagaimana diatur dalam
pasal 3 Undang-undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara (ASN). Beberapa ciri utama sesuai ketentuan tersebut adalah
memiliki nilai dasar. Dalam konteks Pelatihan Dasar, Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi atau
disingkat ANEKA. Selain nilai dasar, tentu kompetensi bidang,
integritas dan komitmen dalam melaksanakan tugas, kode etik dan
perilaku merupakan ciri lainnya, yang tidak bisa dilepaskan antar satu
dengan lainnya. Asumsinya, bila ciri dan prinsip tersebut dimiliki,
maka diyakini ASN akan profesional dalam melaksanakan tugas dan
fungsinya baik sebagai pelayan publik, pelaksana kebijakan publik
dan perekat pemersatu bangsa. Tuntutan profesionalisme ini, untuk
menjawab daya saing, pathologi birokrasi dan peningkatan mutu
pelayanan publik. Tentu, tugas dan fungsi tersebut harus terkait
dengan agenda II Latsar, yaitu peran dan fungsi PNS dalam NKRI
baik dalam perspektif WoG, Pelayanan Publik dan Manajemen ASN
khususnya pengembangan kompetensi Bidang.
Tidaklah dapat dipungkiri bahwa saat ini tugas tenaga
kesehatan khususnya bidan adalah menurunkan angka kematian ibu
(aki) dan Angka Kemtian Bayi (AKB). Perempuan meninggal di dunia
800 jiwa setiap harinya akibat penyebab yang dapat dicegah yang
berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Kematian maternal dan
bayi tersebut terjadi terutama di negara berkembang sebesar 99 %
(WHO,2012:http:www.who.int). Angka kematian ibu (AKI) dan angka
kematian bayi (AKB) merupakan indikator penting dalam
menentukan derajat kesehatan masayarakat (Kementrian kesehatan
RI,2013).
AKB di Indonesia menurut SDKI 2003 sebesar 35/1000
kelahiran, tahun 2007 sebesar 34/1000 kelahiran hidup dan pada
tahun 2012 32/1000 kelahiran hidup. Angka ini masih dibawah terget
Renstra Kemenkes yang ingin dicapai yaitu 24/1000 kelahiran hidup
di tahun 2014 dan target MDGs sebesar 23 /1.000 kelahiran hidup di
tahun 2015 (kementrian kesehatan RI,2013).
Aktualisasi dilakukan di UPT Puskesmas Sukadamai
Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan, menjadi bagian kecil
namun tidak terpisahkan dari semangat dan tujuan di atas. Di wilayah
kerja Puskesmas ini, salah satu penyebab kematian bayi adalah
adanya kasus aspirasi ASI. Hal ini dapat disebabkan cara menyusui
yang salah, ASI ibu terlalu banyak dan adanya gangguan sejak lahir
pada bayi. Bidan sebagai tenaga kesehatan memiliki peran dalam
pemberian penyuluhan tentang Perawatan bayi baru lahir khusunya
dalam menyusui yang benar. Sehingga peningkatan penyuluhan
tentang cara menyusui sangat diperlukan guna menghindari
terjadinya kasus kemtian bayi terulang kembali.
Atas dasar ini maka tema dari rancangan aktualisasi terkait
habituasi Latsar CPNS Golongan II berkaitan dengan pengembangan
penyuluhan dengan demonstrasi teknik menyusui yang benar pada
ibu hamil untuk mengoptimalisasikan penyuluhan perawatan bayi
baru lahir di UPT Puskesmas Rawat Inap Sukadamai Kec. Natar.

2. Profil Organisasi
UPT Puskesmas Rawat Inap Sukadamai berdiri sejak tahun
1992, sebelumnya adalah Puskesmas Pembantu dari Puskesmas
Natar sejak tahun 1972. Wilayah kerja UPT Puskesmas Rawat Inap
Sukadamai terletak di Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan
dengan luas wilayah 113,9 km2, terdiri dari 7 desa binaan, yaitu
Sukadamai, Bandarejo, Pancasila, Purwosari, Rulung Raya dan
Rulung Sari, Rulung Mulya. Dengan batas-batas wilayah sebagai
berikut :
 Sebelah Utara : Kec. Trimurjo Lam-Teng dan Kec Metro. Kibang
Lampung Timur
 Sebelah Selatan :Desa Rejomulyo Kec. Jati Agung Lam-Sel
 Sebelah Barat :Desa Mandah Kec. Natar Kab. Lampung Selatan
 Sebelah Timur :Desa Marga Jaya Kec. Metro Kibang Lam-Tim.

Gambar 1. Peta Wilayah Kerja
UPT Puskesmas Rawat Inapa Sukadamai Kec.Natar

a. Visi, Misi dan Tujuan Organisasi (Puskesmas)


1) Visi:
Puskesmas Rawat Inap Sukadamai Memberikan Pelayanan
Kesehatan Optimal Menuju Masyarakat Sehat dan Mandiri.
2) Misi
a) Meningkatkan mutu pelayanan dan manajemen puskesmas
b) Meningkatkan pencegahan penyakit menular dan penyakit
tidak menular
c) Peningkatan pern serta masyarakat dalam perilaku hidup
bersih dan sehat.
3) Motto
Kepuasan Pelanggan Adalah Kebanggaan Kami
4) Tujuan
Tujuan puskesmas adalah mewujudkan masyarakat yang:
a) Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan,
dan kemampuan hidup sehat
b) Mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu
c) Hidup dalam lingkungan sehat, dan
d) Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat.
5) Nilai-Nilai Organisasi (Puskesmas)
Tata Nilai Puskesmas Sukadamai adalah RCTI : “ Ramah, Cepat,
Terampil, Inovatif” Pilihan Kami. Dengan rincian:
a) Ramah saat pelayanan kepada masyarakat
b) Cepat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat
c) Terampil dalam melaksanakan tugas secara profesional
d) Inovatif, Inovasi pelayanan yang semakin baik.
b. Struktur Organisasi Puskesmas
c. Tugas Pokok dan Fungsi
Sebagai Bidan Trampil di UPT Puskesmas Rawat Inap
Sukadamai Memiliki tugas sebagai berikut:
1) Menyusun rencana kegiatan Pelayanan KIA / KB berdasarkan
data Program Puskesmas dan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku sebagai pedoman kerja.
2) Melaksanakan kegiatan Pelayanan KIA / KB meliputi ANC,
PNC, perawatan Neonatus, pelayanan KB, penyuluhan KIA /
KB dan koordinasi lintas program terkait sesuai dengan
prosedur dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
3) Mengevaluasi hasil kegiatan Pelayanan KIA / KB secara
keseluruhan.
4) Memberikan Pertiolongan Persalinan , Nifas dan perawatan
bayi baru lahir.
5) Membuat catatan dan laporan kegiatan dibidang tugasnya
sebagai bahan informasi dan pertanggungjawaban kepada
atasan.
6) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan.

B. Alasan Penetapan Core Issue


1. Deskripsi Issue
Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai Bidan Trampil
di UPT Puskesmas Sukadamai Kecamatan Natar penulis
menemukan isu-isu diantara lain:
a. Kunjungan neonatus lengkap belum mencapai target
Kunjungan ini dapat dilakukan dalam maupun diluar
gedung puskesmas, termasuk bidan di desa, polindes
dan kunjungan kerumah. Jumlah kunjungan neonatus
belum bisa mencapai target bisa dikarenakan adanya
persalinan yang berada diluar wilayah kerja. Kemauan ibu
untuk memeriksakan bayi baru lahirnya sesuai jadwal juga
rendah sehingga bidan harus melakukan kunjungan ulang.
b. Minat pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat Masih
Kurang
Tes IVA (inspeksi visual asam asetat) adalah pemeriksaan
leher rahim yang juga bisa digunakan sebagai pendeteksi
pertama. Jika dibandingkan dengan pap smear, tes IVA
cenderung lebih murah karena pemeriksaan dan hasil
diolah langsung, tanpa harus menunggu hasil laboratorium
Namun kurang pahamnya wanita tentang pentingnya
pemeriksaan ini membuat para wanita takut dan malu untuk
melakukan pemeriksaan IVA.
c. Penyuluhan tentang cara menyusui yang benar belum
efektif
Cara menyusui yang benar adalah cara memberikan ASI
kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi
dengan benar (Suradi dan Hesti, 2004). Teknik menyusui
yang kurang tepat dapat menyebabkan Puting susu
menjadi lecet, ASI tidak keluar secara optimal sehingga
mempengaruhi produksi ASI, Bayi enggan menyusu dan
Bayi menjadi kembung bahkan bayi bisa tersedak dengan
posisi menyusui yang salah. Pada tahun 2019 terjadi
kematian bayi diwilayah kerja puskesmas sukadamai
dikarenakan tersedak ASI. Sehingga perlu adanya
penyuluhan yang efektif pada ibu hamil untuk persiapan
menyusui saat bayinya lahir.
d. Kunjungan ibu hamil yang mendapatkan pelayanan
lengkap belum efektif
Pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC)
merupakan asuhan yang diberikan saat hamil sampai
sebelum melahirkan. ANC penting untuk menjamin agar
proses alamiah tetap berjalan normal dan mendeteksi ibu
hamil yang tidak normal sehingga komplikasi yang mungkin
terjadi selama kehamilan dapat terdeteksi secara dini serta
ditangani secara memadai. Adanya ibu hamil yang tidak
mendapatkan pelayanan ssuai standar dapat terjadi karena
ada ibu hamil yang berpindah tempat tinggal sehingga tidak
dapat dipastikan pemeriksaannya hingga kunjungan
lengkap.

2. Analisis Isu
Penentuan isu prioritas dengan alat analisis APKL
menggunakan skala rinkert (1-5) dengan berpedoman pada 4
kriteria isu yakni Aktual, Problematik, Kekhalayakan, Layak
(APKL). Aktual adalah benar- benar terjadi dan sedang hangat
dibicarakan dalam masyarakat. Problematik adalah Isu yang
memiliki dimensi masalah yang kompleks, sehingga perlu
dicarikan segera solusinya. Kekhalayakan adalah isu yang
menyangkut hajat hidup orang banyak. Layak adalah isu yang
masuk akal dan realistis serta relevan untuk dimunculkan
inisiatif pemecahan masalah.

Tabel 1. Analisis kriteria isu dengan alat analisis APKL


No. Isu A P K L Total Rank
1. Kunjungan neonatus 4 1 4 3 12 II
lengkap belum
mencapai target
2. Minat pemeriksaan 2 3 2 1 8 III
Inspeksi Visual Asam
Asetat Masih Kurang
3. Penyuluhan tentang 5 4 3 4 16 I
cara menyusui yang
benar belum efektif
4. Kunjungan ibu hamil 1 2 1 2 6 IV
yang mendapatkan
pelayanan lengkap
belum efektif
Berdasarkan hasil analisis isu menggunakan APKL diatas, dari
empat isu yang di identifikas “Penyuluhan tentang cara menyusui yang
benar belum efektif”. Isu ini ditetapkan karena berdasarkan analisis
menggunakan Alat analisis APKL.
Selain itu, dalam menentukan Isu juga memiliki teknik penilaian
kualitas isu, beberapa teknik yang digunakan adalah Urgency yaitu
Seberapa mendesak suatu isu harus dibahas, dianalisis dan
ditindaklanjuti, Seriousness yaitu Seberapa serius suatu isu harus
dibahas dikaitkan dengan akibat yang ditimbulkan serta Growth yaitu
Seberapa besar kemungkinan memburuknya isu tersebut jika tidak
ditangani sebagaiamana mestinya. Dari kriteria dan teknik yang sudah
disampaikan, dapat diambil beberapa Isu yang masuk dalam kriteria
dan teknik yang sudah ditetapkan sebagai berikut;

Tabel 2. Analisis Identifikasi Isu Menggunakan Teknik USG


No ISU U S G Total Ranking
1 Kunjungan neonatus lengkap belum 4 2 2 8 III
mencapai target
2 Minat pemeriksaan Inspeksi Visual Asam 3 3 3 9 II
Asetat Masih Kurang
3 Penyuluhan tentang cara menyusui yang 5 4 4 13 I
benar belum efektif
4 Kunjungan ibu hamil yang mendapatkan 2 1 1 4 VI
pelayanan lengkap belum efektif
Keterangan Keterangan Keterangan
Urgency : Seriousness: Growth:
5 : Sangat Mendesak 5 : Sangat Berpengaruh 5:Sangat Berdampak
4 : Mendesak 4 : Berpengaruh 4 : Berdampak
3 : Cukup Mendesak 3 : CukupBerpengaruh 3 : CukupBerdampak
2 : Tidak Mendesak 2 : Tidak Berpengaruh 2 : Tidak Berdampak
1 : Sangat Tidak 1 : Sangat Tidak 1 : Sangat Tidak
Mendesak berpengaruh Berdampak

Berdasarkan identifikasi isu di atas, maka isu yang ditetapkan


adalah: “Penyuluhan tentang cara menyusui yang benar belum efektif”.
Isu ini ditetapkan karena berdasarkan analisis menggunakan teknik
USG.

A. Konsep Pokok Mata Pelatihan


1. Penetapan Inisiatif dan Pemecahan Core Issue
Isu yang dipilih adalah : “Penyuluhan tentang cara menyusui yang
benar belum efektif” Pemilihan isu ini didasarkan pada Analisis Isu
yang dilakukan penulis di lapangan dan atas koordinasi dengan pihak
puskesmas. Isu tersebut memiliki tingkatan USG yang sangat tinggi
karena isu ini sangat mendesak untuk di selesaikan karena dengan
peningkatan pengetahuan ibu hamil tentang menyusui yang benar
akan menghindari resiko kejadian tersedak pada bayi saat menyusu.
a. Analisa AKPL
1) Aktual
Kematian bayi merupakan kejadian yang perlu diperhatikan
penyebabnya agar kejadian tersebut dapat ditangani dan
dilakukan pencegahan agar tidak terulang lagi. Teknik
menyusui yang benar sangat diperlukan untuk pencegah.
Penyuluhan teknik menyusui yang benar dapat memberikan
bekal bagi ibu hamil untuk menyusui bayinya setelah bayinya
lahir.
2) Kekhalayakan : Kekhalayakan ini adalah aspek yang
berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Apakah isu
yang diangkat ini berdampak bagi orang banyak ataukah
tidak. Isu ini perlu diangkat karena dengan banyaknya ibu
hamil yang mengetahui cara menyusui yang benar akan dapat
mencegah terjadinya cara menyusui yang salah. Para ibu juga
dapat menyebarkan teknik tersebut kepada ibu hamil lainnya.
3) Problematik : Isu tersebut memenuhi syarat problematik
karena jika tidak dilakukan penyuluhan secara efektif maka
kasus tersbut akan terulang kembali.
4) Kelayakan : Kelayakan adalah aspek yang berbicara
mengenai seberapa pantas isu kontemporer tersebut dibahas.
Isu Kontemporer yang diangkat mengenai penyuluhan cara
pemberian ASI belum efektif ini jelas layak untuk dibahas dan
dicarikan solusi karena dampaknya bisa beresiko terhadap
bayi dan meningkatkan angka kemtian bayi

b. Analisis USG
Dalam analisis USG, isu terpilih adalah “Penyuluhan tentang cara
menyusui yang benar belum efektif”. dengan total nilai 13.

1) Urgency:
Urgency adalah aspek yang berbicara tentang seberapa
mendesak isu tersebut harus diselesaikan. Nilai yang diberikan
kepada isu penyuluhan tentang cara menyusui yang benar
belum efektif kategori sangat mendesak. Hal ini dikarenakan
isu ini haus segera ditangani, karena efek yang ditimbulakan
dalam penyluhan kurang efektif ini dapat beresiko pada bayi
baru lahir setelah ibu hamil tersebut melahirkan

b. Seriousness
Isu mengenai penyuluhan tentang cara menyusui yang benar
belum efektif dianggap sangatlah serius. Belum pahamnya
para calon ibu untuk menyusui yang benar dapat
mengakibatkan kesalahan dalam pola asuh yang
mengakibatkan cara pemberian ASI yang salah yang dapat
membahayakan kelangsungan hidup bayi tersebut

c. Growth
Growth adalah aspek yang mempertimbangkan tentang
seberapa besar kemungkinan memburuknya isu tersebut jika
tidak ditangani sebagaimana mestinya. Tentu saja isu
mengenai penyuluhan tentang cara menyusui yang benar
belum efektif harus segera di tangani. Penyamapaian
informasi yang kurang baik pada ibu hamil akan berdampak
pada cara perawatan bayinya ketika lahir nanti.

2. Konsep Nilai Dasar ASN


Sesuai latar belakang pada bab pendahuluan bahwa ASN
harus mampu mengimplementasikan nilai-nilai dasar profesi PNS
berikut penjelasan dari nilai-nilai tersebut :

a. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja
secara bertangggung jawab. Akuntabilitas diperlukan seorang
PNS dalam mengambil keputusan, sehingga terhindar dari konflik
kepentingan. Hal lain yang harus diperhatikan adalah PNS
diharapkan melayani masyarakat dengan konsisten dan adil.

b. Nasionalisme
Nasionalisme adalah tidak membeda bedakan ras suku dan
agama. Nasionalisme senantiasa menjunjung tinggi martabatnya
serta mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan
diri sendiri, seseorang dan golongan. Seorang PNS wajib
menjaga persatuan dan kesatuan agar keutuhan bangsa dapat
terjaga.
c. Etika Publik
Dalam melaksanakan etika publik, seorang pemimpin/pelayan
publik juga harus mengetahui aturan-aturan yang mengatur
tingkah laku mereka atau disebut dengan kode etik. Kode etik ini
adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu
kelompok khusus,sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal
prinsip dalam bentuk-bentuk ketentuan tertulis. Adapun kode etik
profesi dimaksudkan untuk mengatur tingkah laku/etika suatu
kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan
tertulis yang diharapkan dapat dipegang teguh oleh sekelompok
professional tertentu.

d. Komitmen Mutu
Penyelenggaraan pemerintahan yang bagus dan bersih (good and
clean governance) sudah menjadi kepastian di era reformasi saat
ini. Banyak upaya sudah dilakukan untuk mewujudkannya akan
tetapi implementasinya belum sesuai dengan harapan. Untuk
mengatasi masalah-masalah pelayanan publik yang sering
dihadapi oleh masyarakat, maka seorang ASN harus memiliki
pemikiran kritis tentang konsep efektivitas, efisiensi, inovasi dan
mutu.

e. Anti Korupsi
Berdasarkan etimologinya, kata korupsi berasal dari Bahasa latin
yaitu Corruptio yang berarti kerusakan, kebobrokan dan
kebusukan. Sejalan dengan arti kata asalnya, korupsi sering
dikatakan sebagai kejahatan luar biasa, salah satu alasannya
adalah karena dampaknya yang luar biasa menyebabkan
kerusakan, baik dalam ruang lingkup pribadi, keluarga,
masyarakat dan kehidupan yang luas.
f. Manajemen ASN dalam Peran dan Kedudukan ASN
Untuk mewujudkan birokrasi yang profesional dalam menghadapi
tantangan-tantangan perlu dibangun Aparatur Sipil Negara yang
memiliki integritas, profesional, netral dan bebas dari intervensi
politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme,
kemampuan menyelenggarakan pelayanan publik bagi
masyarakat, kemampuan menjalankan peran sebagai unsur
perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila
dan UUD Tahun 1945. Untuk menjalankan kedudukannya
berdasarkan Pasal 10 Undang-Undang No. 5 tahun 2014, Pegawai
ASN berfungsi sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik,
perekat dan pemersatu bangsa. Tugas Pegawai ASN menurut
Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 Pasal 11 mengatakan bahwa
tugas dari ASN adalah melaksanakan kebijakan publik yang dibuat
oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan, memberikan pelayanan publik
yang profesional dan berkualitas, dan mempererat persatuan dan
kesatuan bangsa. Peran ASN terdapat dalam pasal 12 Undang-
Undang No. 5 Tahun 2014, yaitu sebagai perencana, pelaksana
dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan
pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan
pelayanan publik yang profesional, bebas dari intervensi politik,
serta bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Dari
pernyataan diatas jelaslah bahwa ASN dibentuk untuk profesional
dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Asas penyelenggaraan kebijakan dan manajemen ASN, yaitu:
1) Asas kepastian hukum;
2) Profesionalitas;
3) Proporsionalitas;
4) Keterpaduan;
5) Delegasi;
6) Netralitas;
7) Akuntabilitas;
8) Efektif dan efisien;
9) Keterbukaan;
10) Non diskriminatif;
11) Persatuan dan kesatuan;
12) Keadilan dan kesetaraan; dan
13) Kesejahteraan.

g. Pelayanan Publik dalam Peran dan Kedudukan ASN


Pelayanan Publik di seluruh daerah provinsi serta kabupaten/kota
di Indonesia dan telah memperoleh landasan konstitusional, yaitu
diatur dalam Pasal 18A UUD NRI Tahun 1945. Ketentuan Pasal
18A tersebut selanjutnya di implementasikan melalui UU
Pelayanan Publik. Dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009
tentang Pelayanan Publik, Pasal 1 Angka 1 dirumuskan:
“Pelayanan Publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam
rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan
penduduk atas barang, jasa dan/atau pelayanan administrasi yang
disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik”
Dengan demikian tugas utama dari setiap instansi pemerintahan
adalah memberikan pelayanan atau menyelenggarakan
pelayanan publik (public service) dan kesejahteraan bagi
rakyatnya (public welfare) berdasarkan peraturan perundang-
undangan.
Pemerintah dalam menjalankan fungsinya sebagai pelayan dalam
penyelenggaraan pelayanan publik diperlukan sebuah kebijakan
yang mengatur tentang pelayanan publik. Undang-Undang Nomor
25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik dimaksudkan untuk
memberikan kepastian hukum bagi pihak penyelenggara
pelayanan publik maupun masyarakat. paratur penyelenggara
harus merasa memiliki kewajiban hukum untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat, sedangkan masyarakat merasa
apa yang harus dilakukan oleh aparatur Negara tersebut
merupakan hak dari masyarakat.
Dalam mengatur penyelenggaraan pelayanan publik, maka
diterapkan suatu pola penyelenggaraan pelayanan publik agar
pelaksanaanya dapat berjalan sistematis, akuntabel dan
transparansi. Pola penyelenggaraan pelayanan publik terdiri dari:
1) Fungsional, yaitu pola pelayanan publik yang diberikan oleh
penyelenggara pelayanan, sesuai dengan tugas, fungsi,
dan kewenangannya.
2) Terpusat, yaitu pola pelayanan publik diberikan secara
tunggal oleh penyelenggara pelayanan berdasarkan
pelimpahan wewenang dari penyelenggara pelayanan
terkait lainnya yang bersangkutan.
3) Terpadu
a) Terpadu satu atap, yaitu pola pelayanan terpadu satu
atap diselenggarakan dalam satu tempat yang meliputi
berbagai jenis pelayanan yang tidak mempunyai
keterkaitan proses dan dilayani melalui beberapa pintu.
Terhadap jenis pelayanan yang sudah dekat dengan
masyarakat tidak perlu untuk disatu-atapkan.
b) Terpadu satu pintu, yaitu pola pelayanan terpadu satu
pintu diselenggarakan pada satu tempat yang meliputi
berbagai jenis pelayanan yang memiliki keterkaitan
proses dan dilayani melalui satu pintu.
Terdapat 3 unsur penting dalam pelayanan publik,
yaitu unsur pertama, adalah organisasi penyelenggara
pelayanan publik, unsur kedua, adalah penerima layanan
(pelanggan) yaitu orang, masyarakat atau organisasi yang
berkepentingan, dan unsur ketiga, adalah kepuasan yang
diberikan dan atau diterima oleh penerima layanan /
pelanggan.

h. WoG (Whole of Government) dalam Peran dan Kedudukan


ASN
Definisi Whole of Government (WoG) menurut United States
Institute of Peace (USIP) adalah sebuah pendekatan yang
mengintegrasikan upaya kolaboratif dari instansi pemerintah untuk
menjadi kesatuan menuju tujuan bersama, juga dikenal dengan
kolaborasi, kerjasama antar instansi, actor pelayanan dalam
menyelesaikan suatu masalah pelayanan. Dengan kata lain, WoG
menekankan pelayanan yang berintegrasi sehingga prinsip
kolaborasi, kebersamaan, kesatuan dalam melayani permintaan
masyarakat dapat selesai dengan waktu yang singkat. WoG
menekankan adanya penyatuan keseluruhan (whole) elemen
pemerintahan, sementara konsep-konsep tadi lebih banyak
menekankan pada pencapaian tujuan proses integrasi institusi,
proses kebijakan dan lainnya sehingga penyatuan yang terjadi
hanya berlaku pad sektor-sektor tertentu saja yang dipandang
relevan.

3. Penerapan Dalam Kegiatan


Kegiatan yang dilakukan untuk memecahkan core issue:
a. Menentukan ibu hamil yang akan menjadi peserta dalam
demonstrasi teknik menyusui yang benar
b. Membuat alat dan bahan penunjang
c. Memberikan penyuluhan tentang teknik menysui yang benar
d. Melakukan demonstrasi teknik menyusui yang benar
TABEL RANCANGAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR ASN

Unit kerja : UPT Puskesmas Rawat Inap Sukadamai Kec. Natar


Identifikasi Isu :
1. Kunjungan neonatus lengkap belum mencapai target
2. Minat pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat Masih Kurang
3. Penyuluhan tentang cara menyusui yang benar belum efektif
4. Pelayanan ibu hamil yang mendapatkan pemeriksaan sesuai standar belum efektif

Isu yang diangkat : Penyuluhan tentang cara menyusui yang benar belum efektif
Gagasan Pemecahan Isu : Demonstrasi Teknik menyusui yang benar pada Ibu Hami guna Mengoptimalkan Penyuluhan
Cara Menyusui yang benar diwilayah kerja UPT Puskesmas Rawat Inap Sukadamai
No Nama Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan Kontribusi Penguatan
Subtansi Mata Terhadap Visi Misi Nilai
Pelatihan Organisasi Organisasi
1 Menentukan ibu 1. Berkoordinasi dengan 1. Data ibu Akuntabilitas Kegiatan Sejalan Terwujudnya
hamil yang akan KA UPT, bidan desa hamil Akuntablitas dalam dengan Misi UPT Nilai Ramah,
menjadi peserta dan kader untuk berkoodinasi Puskesmas Rawat Cepat,
dalam demonstrasi menentukan ibu hamil dengan Ka.UPT , Inap Sukadamai ke
teknik menyusui yang akan dijadikan bidan desa dan 1 yaitu
yang benar peserta kader dengan Meningkatkan mutu
transparansi dan pelayanan dan
tanggung jawab manajemen
puskesmas
Nasionalisme
Melakukan
koordinasi dengan
berlandaskan
musyawarah untuk
mufakat (sila ke-4).
Etika Publik
Dalam melakukan
koordinasi dengan
ramah dan
menggunakan
menghargai
komunikasi dan
kerjasama.

Komitmen Mutu
koordinasi
dilakukan dengan
efektif dan efisien
agar terwujudnya
kegiatan yang
optimal.
Anti Korupsi
Melakukan
koordinasi dengan
cara sederhana
namun tetap
bertanggung jawab.

Manajemen ASN:
Koordinasi dilakukan
dengan profesional
sesuai kompetensi
dan tetap
berdasarkan nilai
dasar.

WoG :
Koordinasi
membuktikan bahwa
dalam pelaksanaan
ini saya
membutuhkan peran
dari Ka.UPT, bidan
desa dan kader

Pelayanan Publik:
Koordinasi
aktualisasi dilakukan
dengan responsif
mendengarkan
masukan dari
Ka.UPT, Bidan Desa
dan Kader dalam
menentukan teknis
pelaksanaan.

2 Membuat alat dan 1. Membuat daftar 1. Lembar daftar Akuntabilitas Kegiatan Sejalan Terwujudnya
bahan penunjang hadir hadir Penyiapan alat dan dengan Misi UPT Nilai Cepat,
2. Membuat daftar 2. Lembar bahan penunjang Puskesmas Rawat Trampil,
penerima leaflet penerimaan sebagai bentuk Inap Sukadamai ke Inovatif
3. Membuat Satuan leaflet pelaksanaan 1 yaitu
acara penyuluhan 3. Lembar SAP kegiatan dengan Meningkatkan mutu
4. Membuat leaflet 4. Alat penuh tanggung pelayanan dan
5. Mengumpulkan dan demonstrasi : jawab manajemen
membuat alat boneka bayi puskesmas
demonstrasi dan model Nasionalisme
6. Membuat Lembar payudara Membuat media
evaluasi 5. leaflet kegiatan dengan
6. Lembar menghargai karya
evaluasi orang lain dan tidak
bertindak plagiat

Etika Publik
Menggunakan
bahasa yang soan
dan santun dalam
pembuatan materi
Komitmen Mutu
Membuat media
kegiatan dngan
inovasi agar lebih
menarik peserta

Anti Korupsi
Membuat media
kegitan secara
mandiri dan
sederhana tidak
meminta dana
kepada puskesmas.

3 Memberikan 1. Pengisian daftar hadir 1. Data daftar Akuntabilitas Misi Ke 2 UPT Terwujudnya
penyuluhan 2. Pengisian lembar hadir Pelaksanaan Meningkatkan Nilai Ramah,
tentang teknik penerimaan leaflet 2. Data penerima kegiatan penyuluhan Pencegahan Cepat,
menysui yang 3. Memberikan materi leaflet dengan penyakit menular
benar tentang cara menyusui 3. Dokumentasi mengutamakan dan tidak menular
yang benar kegiatan kepentingan publik
dan integritas kerja

Nasionalisme
Pelaksanaan
kegiatan penyuluha
kepada peserta
dengan tidak
membedakan
adanya perbedaan
suku, agama, adat
dan ras

Etika publik
Pelaksanaan
kegiatan
menggunakan
bahasa yang ramah
dan memperhatikan
sopan dan santun.

Komitmen mutu
Memberikan
pelayanan
menggunakan
media demonstrasi
yang telah dibuat
agar peserta
semangat dalam
mengikuti kegiatan

Anti Korupsi
Disiplin waktu
dalam pelaksanaaan
kegiatan sesuai SAP

4 Melakukan 1. Melakukan 1. Dokumentasi Akuntabilitas Sejalan dengan visi Terwujudnya


demonstrasi teknik demonstrasi pelaksanaan Pelaksanaan Puskesmas Rawat Nilai Ramah,
menyusui yang 2. Mengajak peserta demonstrasi kegiatan dengan Inap Sukadamai Cepat,Trampil,
benar untuk mempraktikan 2. Data hasil tanggung jawab dan yaitu Memberikan Inovatif
yang sudah diberikan evaluasi konsisten dalam Pelayanan
untuk evaluasi 3. Laporan Hasil memberikan Kesehatan Optimal
3. Membuat Laporan Kegiatan pelayanan yang Menuju Masyarakat
Kegiatan dari hasil optimal Sehat dan Mandiri.
Evaluasi
Nasionalisme
Tidak membeda-
bedakan peserta
dalam kegiatan

Etika publik
Pelaksanaan
kegiatan dengan
menggunakan kata
yang sopan dan
komunikasi yang
baik dengan peserta

Komitmen mutu
Memberikan
pelayanan yang
efektif dan efisien
sesuai SAP bagi
peningkatan mutu
pelayanan kepada
masyarakat.

Anti Korupsi
kegiatan
dilaksanakan sesuai
dengan waktu yang
telah ditetapkan dan
tidak menerima suap
dalam melakukan
evaluasi peserta
NO Rancangan Aktualisasi Juli Agustus Septe
mber

IV V I II III IV V I

1. Menentukan ibu hamil yang akan menjadi peserta


dalam demonstrasi teknik menyusui yang benar

2. Membuat alat dan bahan penunjang

3. Memberikan penyuluhan tentang teknik menysui


yang benar

4. Melakukan demonstrasi teknik menyusui yang


benar
DAFTAR PUSTAKA
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Aktualisasi Nilai-nilai Dasar Profesi Pegawai
Negeri Sipil. Modul Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan
Calon Pegawai Negeri Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Akuntabilitas. Modul Penyelenggaraan


Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Prajabatan
Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Nasionalisme. Modul Penyelenggaraan


Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Prajabatan
Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Etika Publik. Modul Penyelenggaraan Perdana


Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Prajabatan Golongan III.
Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Komitmen Mutu. Modul Penyelenggaraan


Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Prajabatan
Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Anti Korupsi. Modul Penyelenggaraan


Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Prajabatan
Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Anda mungkin juga menyukai