Anda di halaman 1dari 25

DINAMIKA PERAN HMI DALAM MODERNISASI

BERAGAMA MENGHADAPI PERKEMBANGAN


ZAMAN

Kode Jurnal : L
Diajukan Sebagai Syarat Mengikuti
Latihan Kader II HMI Cabang Palangka Raya
Tahun 2020

Disusun oleh:
AKMAL
KURNIAWAN

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI)


CABANG MAKASSAR
1441 H / 2020 M
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi allah, tuhan yang maha esa yang senantiasa
memberikan Rahmat, Taufiq dan Hidayah-nya kepada kita sekalian
sehingga kita dapat menjalankan aktivitas sehari-hari. Shalawat serta salam
selalu terhatur kepada Nabi dan Rasul kita, Rasul yang menjadi panutan
semua ummat, yakni Nabi besar Muhammad SAW serta keluarga dan
sahabat beliau yang telah membawa kita dari jurang yang penuh kesesataan
menuju sebuah kehidupan yang penuh kebahagiaan dan kedamaian

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa


masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala
saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah LK
II ini. Akhir kata saya berharap semoga jurnal LK II ini tentang
“Dinamika Peran HmI dalam modernisasi beragama menghadapi
perkembangan zaman ”.Semoga dapat memberikan manfaat maupun
inpirasi terhadap pembaca.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Makassar, 01 Februari 2018

Penulis
ABSTRAK

Modernisasi merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam kehidupan,


baik individual maupun kemasyarakatan. Tidak kurang filosof eksistensialis
menyebut era ini sebagai “kehancuran”, kendatipun membuka berbagai
kemungkinan baru. T.S. Elliot menyebutnya sebagai era kecemasan, bahkan bagi
para seniman era ini disebut sebagai keterasingan baru dan pemenjaraan yang
paling menakutkan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Dinamika Peran
HmI dalam modernisasi beragama menghadapi perkembangan zaman .
Penelitian ini dilakukan dengan cara tinjauan pustaka. Adapun sumber
yang digunakan adalah buku-buku yang menjadi referensi peneliti dalam
penelitian ini.
Hasil penelitian menunjukan perbincangan tentang modernisasi telah menyita
konsentrasi para sarjana baik Muslim maupun non-Muslim dibuktikan dengan
telah lahirnya beragam karya dan pemikiran dibidang ini menunjukkan
modernisasi telah mendapat tempat yang cukup proporsional dalam kajian global,
bahkan ditambah lagi dengan intensnya upaya-upaya pembaruan tersebut
dilakukan secara serentak dan kompak baik dunia Islam sendiri maupun di luar
dunianya merupakan suatu arus deras yang tidak dapat dihentikan demi
menciptakan perbaikan dalam segala bidang kemanusiaanya.
Semakin hari kian terasa bahwa kehidupan manusia makin menjurus kearah
pengejaran segala sesuatu yang bermakna fisik-material, di mana dalam kajian
sosiologi kecenderungan semacam ini disebut sebagai proses “reifikasi”, yaitu
ketika manusia saling mengejar apa saja yang bernilai “material”. Bagi mereka
kehidupan ini dimaknai hanya sekedar untuk mengisi “perut” dan memenuhi
segala macam kesenangan yang nyaris mengabaikan segala aspek yang berdimensi
spiritual.
Kata kunci: Modernisasi, agama, peran kader HmI,zaman
ABSTRACT

Modernization is a very influential factor in life, both individually and socially. No less
existentialist philosophers call this era "ruin", despite opening new possibilities. T.S.
Elliot called it an era of anxiety, even for artists of this era referred to as the new
alienation and the most frightening imprisonment.

This research was conducted by literature review. The sources used are the books that
the researchers reference in this study.
The results of the study show that discussions about modernization have seized the
concentration of Muslim and non-Muslim scholars as evidenced by the birth of a variety
of works and thoughts in this field indicate that modernization has gained a fairly
proportional place in global studies, even coupled with the intense efforts at the renewal
simultaneously and compactly both the Islamic world itself and outside the world is a
heavy current that cannot be stopped in order to create improvements in all fields of
humanity.

Increasingly it feels that human life is increasingly leading to the pursuit of anything that
has physical-material significance, where in sociological studies such tendencies are
referred to as a process of "reification", that is, when humans pursue each other what is
of value "material". For them this life is meant only to fill the "stomach" and fulfill all
kinds of pleasures that almost ignore all aspects of the spiritual dimension.

Keywords: Modernization, religion, the role of HmI cadres, era


A. PENDAHULUAN cukup mengancam kelangsungan
1. Latar Belakang hidupnya, ketika sekularisasi
Berbicara tentang agama
besar-besaran telah menggusur
memerlukan suatu sikap ekstra
ikatan yang bersifat “sakral, suci
hati-hati. Sebab, sekalipun
dan transenden”, sehingga afinitas
agama merupakan persoalan
keagamaan makin pudar dan
sosial,tetapi penghayatannya
luntur, bahkan kadar
amat bersifat individual.Apa
keberagamaan dapat menghilang
yang dipahami dan apalagi
sama sekali dalam pergaulan
dihayati sebagai agama oleh
hidup manusia era modern, inilah
seseorang amat banyak
salah satu ciri dan dampak dari era
bergantung pada keseluruhan
yang disebut “ Zaman Teknik2
latar belakang dan
1
Nurcholis Majid, Islam
kepribadiannya.Hal itu membuat Kemodernan dan Keindonesiaan, Penerbit
Mizan, 1987, hlm. 93
senantiasa terhadap perbedaan 2
Nurcholis Majid, Islam
tekanan penghayatan dari satu Kemodernan dan Keindonesiaan, Penerbit
Mizan, 1987, hlm. 96
orang ke orang lain dan
membuat agama menjadi bagian
yang amat mendalam dan
kepribadian atau privacy
seseorang1 .
Di dalam kehidupan
yang modern , biasanya
dihubungkan dengan konotasi
modernitas yang mengalami atau
malah menderita ekses.Ekses tu
adalah akibat dominasi ilmu dan
teknologi yang menurut Ashadi
Siregar,hanya mampu
melahirkan teknorat-teknorat
tanpa perasaan suatu pernyataan
yang bersifat karikatural.
Agama hampir dapat dipastikan
akan mengalami dampak yang
1
Berdasarkan latar belakang tersebut maka
penulis bermaksud membahasnya dalam
C. PEMBAHASAN
bentuk makalah yang diberi judul A. Peran Agama Dalam
Modernisasi
“Dinamika Peran HmI dalam
Kemoderenan selalu identik
modernisasi beragama menghadapi
dengan kehidupan keserbadaan.
perkembangan zaman ”.
Sedangkan modernisasi
merupakan salah satu ciri dari
2. Rumusan Masalah
peradaban maju. Modernisasi
1. Apa Peran Agama Dalam
selalu diartikan sebagai suatu
Modernisasi?
proses yang melaluinya manusia
2. Bagaimana Pluralitas
Keberagaman dan menjadi mampu menguasai alam
Kebersamaan?
dengan memanfaatkan teknologi
3. Bagaimana peran HMI dalam
modern. Masih banyak lagi
memeta peradaban saat ini?
pengertian modernisasi, namun
3. Tujuan Pembahasan intinya menurut Lerner,
1. Untuk mengetahui Peran modernisai itu mencangkup : 1)
Agama Dalam Modernisasi. pertumbuhan ekonomi secara
2. Untuk mengetahui Pluralitas mandiri dan berkelanjutan, 2)
Keberagaman dan partisipasi politik, 3) penyebaran
Kebersamaan. norma-norma, 4) tingginya
3. Untuk mengetahui peran tingkat mobilitas social dan
kader HMI dalam memeta geografis, 5) Transformasi
peradaban saat ini kepribadian.modernitas tersebut
menurut Hardgrave gejalanya
B. Metode Penelitian
apat dilihat dalam tiga dimensi:
Penelitian ini dilakukan dengan
teknologis, organisasional dan
cara tinjauan pustaka. Adapun
sikap. Aspek teknologinya bisa
sumber yang digunakan adalah
dilacak pada dominasi
buku-buku yang menjadi
industrialisasi sehingga
referensi peneliti dalam
masyarakat dapat dibedakan
penelitian ini .
menjadi praindustri dan industri.
Sedangkan dimensi
organisasional mengejawantah
2
dalam tingkat diferensiasi dan tersebut sangat tergantung pada
spesialisasi serta menjelma tingkat kemajuan yang dialami
menjadi masyarakat sederhana oleh masyarakat pendukungnya.
dan masyarakat kompleks. Di Karena itu agama yang
pihak lain pihak segi sikap mempunyai tingkat kecanggihan
dalam kemeoderenan abstraksi yang rendah biasanya
mencangkup rasionalitas dan sangat mudah terpengaruh oleh
sekularisasi dan pertentangan perubahan yang dialami
cara pandang ilmiah lawan pemeluknya.Salah satu penyebab
magis religius. Dari pandangan utama merosotnya peran agama
terakhir diatas jelas betapa dalam peradaban industri modern
marginal kedudukan agama adalah karena agama dianggap
dalam madyarakat industri tidak memiliki kontribusi
modern. Ada dua corak agama langsung bagi upaya mengejar
yang memiliki cara yang kehidupan fisik-material. Bahkan
berbeda dalam merespon seperti ditandaskan Mahden
tuntutan perkembangan Ilmuan social Amerika, yang
masyarakat, yaitu agama-agama menilai agama sebagai faktor
wahyu yang relative bisa negatif dalam proses
bertahan menghadapi arus modernisasi. Agama bagi mereka
gelombang modernisasi seperti adalah suatu penghambat dalam
Islam, Yahudi dan Kristen juga meraih modernisasi. Jadi agama
agama-agama wahyu lain, yang adalah penghambat kemajuan.
begitu rentan terhadap amukan Anggapan ini telah berakar sejak
modernisasi sehingga tidak abad ke-19 seperti dapat dilacak
mampu bertahan.Semua agama pada pemikiran Comte, Spenser,
mempunyai klaim yang sama, Marx dan lain-lain. Agama yang
untuk dapat berlaku dalam mengutamakan kepercayaan akan
semua situasi, dalam segala yang Maha Ghaib, kebersamaan
satuan social dan dalam dan berorientasi kepada hidup
rentangan waktu yang tidak sesudah mati sangat sulit untuk
terbatas. Setiap agama memiliki bisa diterima oleh pemikiran
empat isi pokok, yaitu: doktrin, positivistik dan sekularistik,
organisasi, ritual dan pemimpin. sehingga agama terdepak dari
Kecanggihan unsur-unsur 3 sisi
segala aspek kehidupan.Pada
lain, krisis peradaban modern, bahkan sangat hedonistik, hal
meminjam istilah J.A Camilleri, tersebut nampaknya juga
juga menimbulkan keberantakan merupakan suatu gejala sosial
yang gejalanya dapat dilihat pemimpin agama dewasa ini,
dalam ketidak seimbangan dimana sebagian diantara mereka
psiko-sosial, structural, memahami agama secara
sistematis dan ekologis. Dari dangkal, hingga akhirnya
dampak yang telah dikemukakan “membodohkan umat”.
diatas, terlihat jelas peran agama Agama di lain pihak, dipandang
menjadi sangat marginal, karena tidak mampu melerai konflik-
agama dianggap tidak dapat konflik maupun dis-organisasi
memberi kontribusi apapun sosial bahkan dituding sebagai
dalam menghadapi tuntutan bermasa bodoh “cuek” terhadap
hidup yang begitu keras dan malapetaka kemanusiaan
penuh persaingan. Gejala universal.
kemerosotan agama tampak Namun sebaliknya harus
dalam melemahnya doktrin- dipahami pula bahwa satu sisi,
doktrin yang ada, organisasi agamalah yang diharapkan bisa
agama tidak mampu mengikuti memainkan peranan positif
irama dan ritme perubahan aktifnya dalam mengerem
social, ritual agama makin perilaku serakah, brutal, dan
sedikit peminatnya, dan mengancam kelangsungan hidup
pemimpin agama juga serta mengabaikan sama sekali
menampakkan diri seperti spiritualitas dan
kurang semangat karena tidak transendentalisme untuk
berdaya berpacu dengan arus diarahkan kepada kehidupan
tuntutan hidup budaya yang bertatanan ketuhanan,
materialistic-individualistik, kemanusiaan dan transcendental3.

3
. Rusli Karim, Agama,
Modernisasi dan Sekulerisasi, Cet. I
(Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya,
1994),Hlm.6
4 Nurcholish Madjid,Islam Agama
Peradaban.Membangun Makna dan
Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah;
Jakrta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1995,
hlm. 188
4
Makna Hidup bagi Manusia kesadaran akan makna hidup yang
Modern lebih mendalam. Definisi “sukses”
Pembicaraan tentang manusia dalam perbendaharaan kata
modern dan masalah makna manusia modern hampir-hampir
hidup telah banyak dilakukan identik hanya dengan keberhasilan
orang, dalam berbagai mewujudkan angan-angan dalam
kesempatan. Tetapi karena bidang kehidupan material.
persoalannya begitu besar dan Ukuran “sukses” dan tidak sukses
pentingnya, maka ia tidak akan kebanyakan terbatas hanya kepada
pernah habis dibicarakan. Bahkan seberapa jauh orang bersangkutan
boleh dikata bahwa seluruh menampilkan dirinya secara
sejarah umat manusia adalah lahiriah, dalam kehidupan
wujud dari rentetan usahanya material.
menemukan hakikat diri dan Di zaman modernisasi dan
makna hidup. Sebab dalam globalisasi sekarang ini, manusia
adanya rasa dan kesadaran akan di Barat sudah berhasil
makna hidup itulah kebahagian mengembangkan kemampuan
dapat terwujud, baik secara nalarnya (kecerdesan
pribadi maupun sosial. intelektualnya) untuk mencapai
Manusia modern menghadapi kemajuan yang begitu pesat dari
persoalan makna hidup karena waktu kewaktu di berbagai bidang
beberapa hal. Di antaranya ialah kehidupan termasuk dalam bidang
tekanan yang amat berlebihan sains dan teknologi yang
kepada segi material kehidupan. kemajuannya tidak dapat
Kemajuan dan kecanggihan dibendung lagi akan tetapi
dalam “cara” (baca: teknik) kemajuan tersebut jauh dari spirit
mewujudkan keinginan agama sehingga yang lahir adalah
memenuhi hidup material yang sains dan teknologi sekuler.
merupakan ciri utama zaman Manusia saling berpacu meraih
modern ternyata harus ditebus kesuksesan dalam bidang
manusia dengan ongkos yang material, soial, politik, ekonomi,
amat mahal, yaitu hilangnya pangkat, jabatan, kedudukan,

5
kekuasaan dan seterusnya, namun agama (Tuhan) terutama Islam itu,
tatkala mereka sudah berada secara pragmatis merupakan
dipuncak kesuksesan tersebut kebutuhan untuk menenangkan
lalu jiwa mereka mengalami jiwa, terlepas apakah objek
goncangan-goncangan mereka kualitas iman itu benar atau salah.
bingung untuk apa semua ini. Secara psikologis, ini
Kenapa bisa terjadi demikian, menunjukkan bahwa Islam selalu
karena jiwa mereka dalam mengajarkan dan menyadarkan
kekosongan dari nilai-nilai akan nasib keterasingan manusia
spiritual, disebabkan tidak punya dari Tuhannya. Manusia
oreintasi yang jelas dalam bagaimanapun juga tidak akan
menapaki kehidupan di alam dapat melepaskan diri dari agama,
dunia ini. Sayyid Hussein Nasr karena manusia selalu punya
Menilai bahwa keterasingan ketergantungan kepada kekuatan
(alienasi) yang di alami oleh yang lebih tinggi diluar dirinya
orang-orang Barat karena (Tuhan) atau apapun bentuknya
peradaban moderen yang mereka dan agama diturunkan oleh Allah
bangun bermula dari penolakan untuk memenuhi kebutuhan dasar
(negation) terhadap hakikat manusia sebagai makhluk rasional
ruhaniyah secara gradual dalam dan spiritul.
kehidupan manusia. Akibatnya Pandangan dunia sekuler, yang
manusia lupa terhadap eksistensi hanya mementingkan kehidupan
dirinya sebagai ‘abid (hamba) di duniawi, telah secara signifikan
hadapan Tuhan karena telah menyingkirkan manusia
terputus dari akar-akar moderendari segala asfek
spiritualitas.Hal ini merupakan spiritual. Akibatnya mereka hidup
fenomena betapa manusia secara terisolir dari dunia-dunia
moderen memiliki spiritualitas lain yang bersifat nonfisik, yang
yang akut. Pada gilirannya, diyakini adanya oleh para Sufi.
mereka cenderung tidak mampu Mereka menolak segala dunia
menjawab berbagai persoalan nonfisik seperti dunia imajinal
hidupnya, dan kemudian atau spiritual sehingga terputus
terperangkap dalam kehampaan hubungan dengan segala realitas-
dan ketidak bermaknaan hidup. realitas yang lebih tinggi daripada
Keimanan atau kepercayaan pada 6 Sains
sekedar entitas-entitas fisik.
moderen menyingkirkan pandang Islam ialah karena ilmu
pengetahuan tentang kosmologi pengetahuan dan teknologi
dari wacananya. Padahal moderen tersebut hanya absah
kosmologi adalah “ilmu sakral” secara metodologi, tetapi miskin
yang menjelaskan kaitan dunia dari segi moral dan etika.
materi dengan wahyu dan doktrin Pandangan masyarakat moderen
metafisis. Manusia sebenarnya yang bertumpu pada prestasi sains
menurut fitrahnya tidak dapat dan teknologi, telah
melepaskan diri dari kehidupan meminggrikan dimensi
spiritual karena memang diri transendental Ilahiyah. Akibatnya,
manusia terdiri dari dua unsur kehidupan masyarakat moderen
yaitu jasmani dan ruhani, menjadi kehilangan salah satu
manusia disamping makhluk fisik aspeknya yang paling
juga makhluk non fisik. Dalam fundamental, yaitu asfek spiritual.
diri manusia tuntutan kebutuhan Agama Islam datang membawa
jasmani dan rahani harus pesan universal dengan ajaran
dipenuhi secara bersamaan dan yang komprehensif menawarkan
seimbang, kebutuhan jasmani solusi dalam berbagai
dapat terpenuhi dengan hal-hal permasalahan kehidupan umat
yang bersifat materi sedangkan manusia diantaranya berupaya
kebutuhan ruhani harus dipenuhi untuk mempertemukan kehidupan
dengan yang bersifat spiritual materialsitis Yahudi dan
seperti ibadah, dzikir, etika dan kehidupan spiritual Nasrani,
amal shaleh lainnya. Apabila menjadi kehidupan yang harmonis
kedua hal tersbeut tidak dapat antara keduanya.4
dipnuhi secara adil maka Pandangan Islam Tentang
kehidupan manusia itu dapat Modernisasi
dipastikan akan mengalami Islam seringkali didefinisikan
kekeringan dan kehampaan sebagai agama Allah yang
bahkan tidak menutup diperintahkan kepada Nabi
kemungkinan bisa mengalami Muhammad untuk mengajarkan
setres. pokok-pokok dan pertaruarannya
Salah satu kritik yang ditujukan serta menugaskannya untuk
kepada ilmu pengetahuan dan menyampaikan agama tersebut
teknologi moderen dari sudut kepada seluruh 7
manusia dan
mengajak mereka untuk jagad raya adalah satu
memeluknya.Dari dfinisi ini wujud eksistensi
Islam merupakan nama bagi ketundukan dan
sebuah agama yang dibawa oleh kepaasrahan (berislam)
Muhammad SAW. kepada Tuhan,baik yang
Menelusuri makna Islam dalam terjadi secara dengan
Al-Qur’an,kita akan menemukan sendirinya (keterpaksaan)
bahwa Islam bukanlah semata- ataupun karena sukarela
mata nama sebuah agama yang dan pilihan sadar”
dibawa oleh Muhammad SAW Dalam menyikapi modernisasi,
seperti yang telah disebuat di menurut DR. Yusuf al-Qaradhawi
atas,melainkan Islam merupakan dalam bukunya al-Muslimin wal
ajaran Tuhan yang ‘Aulamah kaum muslimin terbagi
universal,disampaikan kepada dalam tiga kelompok. Pertama,
seluruh mahluk dengan yang menerima ide barat secara
perantaraan para Nabi dan mutlak; kedua, yang menolak
Rasul,sesuai dengan tempat dan sama sekali ide barat; dan ketiga,
masa tertentu,Islam sebagai yang menerima secara selektif.
ajaran yang universal tersebut Kelompok ketiga, oleh ulama
diterjmahkan sebagai sikap internasional yang juga murid dari
pasrah dan tunduk sepenuhnya Imam Hasan al-Banna, pendiri al-
kepada Allah. Ikhwan al-Muslimun Mesir itu
Berkenaan dengan ini Nurcholis disebut dengan “kelompok
Madjid sering menyatakan moderat.”
bahwa: Penulis sepakat dengan kelompok
“Islam itu universal. ketiga yang moderat. Karena
Pertama-tama karena kalau ditelusuri lebih jauh,
Islam sebagai sikap ternyata tidak ada peradaban
pasrah dan tunduk kepada manapun yang berdiri sendiri.
Allah, Sang Maha Selalu ada asimilasi dan akulturasi
Pencipta,adalah pola antar bangsa. Barat modern juga
wujud (mode of existence) sebenarnya maju karena pengaruh
seluruh alam kemajuan Islam. Begitu juga
semesta.Dalam bahasa Islam dalam konteks kekinian,
yang lebih tegas,seluruh 8
perlu saling mengambil manfaat.
Tapi, tetap dalam kaidah sebagai perisai ideologis masing-
kebersamaan sesama umat masing pemeluknya untuk
manusia, secara selektif. menolak dan menyingkirkan
Ide seperti ini tampaknya belum “kebenaran” yang ada dalam
banyak diaplikasi oleh umat aliran agama-agama atau budaya
Islam. Kita bisa lihat dalam lain.Eksklusivitas “teologis” yang
realitas. Budaya barat yang dikemas dalam wadah ideologis
negatif pun diambil juga. Kenapa semacam itu,menurut
bukan budaya membaca, atau Arkoun,telah menimbulkan sistem
yang bernuansa kreatif-inovatif? budaya yang saling
Tampaknya, ummat Islam juga menyingkirkan.
masih ada yang mengalami Dalam ekstremitas pemahaman
rasainferiority complex. Adalah dan ekslusivitas sikap semacam
karena belum memiliki itu,ketertutupan dogma-dogma
keyakinan terhadap budaya Islam agama merupakan suatu
secara hakiki. keyakinan yang dianggap
Modernisme haruslah dimaknai final,eksklusif dan bersifat
dengan saling bersahabat antar mekanik. Karena itu, tidak jarang
sesama anak manusia. Kelak pula dari visi dan sikap yang
ketika ummat manusia bersatu semacam itu memunculkan
maka tak ada lagi barat dan berbagai ketegangan bahkan sikap
timur. Semua satu, menuju yang permusuhan atar pemluk
Maha Satu. Entah kapan hal itu agamanya. Hanya agama dan
akan terjadi.5 dunianya sendiri seolah-olah yang
1
paling benar,sedangkan “the
B. Pluralitas Keberagaman dan Others” dianggap sebagai pihak
Kebersamaan yang salah.”kafir”,Harus
Wacana agama yang sejatinya dimusuhi, perlu dipertobatkan dan
bertujuan sangat mulia, bukannya seterusnya. Dalam sikap dan visi
dijadikan sebagai proyek atas klaim kebenaran semacam
pembebasan dan pencerahan itu,maka genderang “Berperang
demi Tuhan“ seolah-olah menjadi
5
Drs. Azhari Akmal Tarigan,M.Ag, hal yang dibenarkan,bahkan
Islam Mazhab HMI:Tafsir Tema Besar Nilai sebagai kewajiban kekakuan dan
Dasar Perjuangan (NDP); Jakarta: Kultura,
2007, hlm. 6-8 ketertutupan 9
dogmatisme
semacam itulah yang menurut secara semantik mengandung
Arkoun telah menimbulkan arti pembuatan hal baru dalam
ekslusivitas sistem dan agama an sich.Secara
kehidupan yang saling kebahasaan sebetulnya kata-kata
mengasingkan satu sama lain “bidah” dan tashrīf-nya itu
diantara para pemeluk agama mempunyai arti kreativitas atau
monoteis. Sikap ini akhirnya juga daya cipta. Maka Tuhan pun
berimbas pada wujud disebutkan dalam al-Qur’an
ketegangan, kekerasan, sikap sebagai al-Badī‘, Mahakreatif
permusuhan,bahkan peperangan atau Maha Berdayacipta (lihat Q
diantara pemeluk agama-agam 2:59 dan 6:101). Dan jika Nabi
baik di masa lalu dan saw. bersabda agar kita berbudi
kemungkinan ketegangan serta dengan mencontoh budi Tuhan
konflik horisontal dimasa depan (hadis termasyhur: “Takhallaqū
antara Timur (Islam) dan Barat bi akhlāq-i ’l-Lāh), maka
yang notabene didominasi kreativitas atau daya cipta adalah
kristen.6 hal yang sangat terpuji. Namun,
sudah dikatakan, tentu saja
Inovasi Pemikiran: Tantangan
yang terpuji itu bukanlah
dan Harapan
Pengertian “inovasi” yang kreativitas atau daya cipta
digunakan dalam bahasan ini dalam hal agama itu sendiri,
harus dipahami sebagai seperti, misalnya, kreativitas dan
pembaruan, yang kata-kata daya cipta dalam masalah ibadat
padanannya dalam bahasa Arab murni (‘ibādah mahdlah). Maka
ialah “tajdīd,” bukan sama sekali tidak dapat
“bidah,”“ibdā‘” atau “ibtidā‘”. dibenarkan, misalnya, menambah
Sebab meskipun kata- jumlah rakaat dalam shalat atau
kata(bidah,ibdā‘atau ibtidā‘) ini memandang dan memasukkan
juga mengandung makna sesuatu yang sebenarnya hanya
kebaruan, pembaruan ataupun budaya belaka menjadi bagian
pembuatan hal baru (dalam dari agama murni. Dalam hal ini
bahasa Inggris acapkali berlaku peringatan dalam Kitab
diterjemahkan sebagai Suci, “Ketahuilah, hanya bagi
“innovation”), namun Allah agama yang murni,” (Q 39:3)
konotasinya negatif, karena dan firman penegasan, “Mereka
10
tidaklah diperintah melainkan untuk sumber-sumber agama, yaitu
beribadat kepada Allah, dengan Kitab Suci dan Sunnah Nabi,
memurnikan agama bagi-Nya saja, dan bahwa suatu bentuk ibadat
dengan semangat mencari memang dibolehkan,
kebenaran...,” (Q 98:5). Agama dianjurkan, atau malah
adalah milik Allah semata. diwajibkan. Maka masalah
Hanya Dia-lah yang berwenang, ibadat murni itu harus
yang kemudian disampaikan ditempuh dengan seketat dan
kepada kita melalui Rasul-Nya sebersih mungkin, dilakukan
sebagai pemilik ajaran (shāhib al- hanya menurut Kitab dan
syarī‘ah). Maka “kreativitas” Sunnah (sejauh-jauh pengertian
atau “daya cipta” dalam hal kita melalui usaha sungguh-
keagamaan murni (artinya, sungguh untuk memahaminya,
bukan dalam hal budaya yaitu, ijtihad), tidak boleh
keagamaan) adalah sama dengan ditambah atau dikurangi.7
tindakan mengambil wewenang Dalam perkembangan lebih jauh,
Allah dan Rasul-Nya. Suatu
modernisasi ini selalu disamakan
perbuatan yang sesungguhnya
tidak mungkin, sehingga yang dengan Rasionalisasi, yang
memaksa melaku- kannya juga, memberikan kekuasaan kepada
menurut sabda Nabi saw., adalah
akal dalam mengatur dan
sesat.
Sejalan dengan itu, dalam ilmu menentukan jalan hidup yang
pokok-pokok pemahaman akan ditempuh, inilah yang
agama (ushūl al-fiqh) ada kaedah
membawa manusia kepada
yang berbunyi: “al-ashl fī al-‘ibādah
al-tahrīm illā idzā mā dalla al-dalīl kekafiran dan kemusyrikan.
‘alā khilāfihī (Pada dasarnya ibadat Bencana besar yang menimpa
adalah terlarang, kecuali jika
umat Islam dewasa ini adalah
ada petunjuk sebaliknya)”. Ini
artinya, kita dilarang membuat terperosok dalam kemusyrikan
dan menciptakan cara ibadat yang mungkin tidak disadari
sendiri. Kita harus hanya
akibat keawaman seseorang. Kita
melihat dan mempelajari,
apakah ada bukti dalam terkadang melihat bahwa
11
musyrik itu hanya orang yang rasionalisasi Cak Nur tidaklah

menyembah tuhan dengan cara mendewakan akal semata dan

ritual agama di luar Islam, memberikan kekuasaan kepada akal

percaya kepada roh halus yang dalam mengatur dan menentukan

dapat memberikan pertolongan segala sesuatu dalam dunia ini.

kepadanya, dan orang yang Akan tetapi perubahan (baca:

menyimpan ilmu sesat. Tidak modernisasi) yang diinginkan Cak

itu saja, orang yang menerima Nur disini ialah perubahan dari

ajaran Karl Max, Lenin, sistim atau pola berfikir yang

Darwin, dan pemikir-pemikir cendrung bersifat tradisional kepada

Barat lainnya, sebenarnya sudah pola berfikir yang lebih modern

menjadi musyrik, apalagi seiring dengan perkembangan ilmu

dengan jelas-jelas membela dan pengetahuan dan teknologi dengan

memperjuangkannya tetap Islam sebagai backgroundnya.

Cak Nur pun memiliki Nuansa baru yang diberikan

pandangan yang hampir sama oleh Cak Nur terhadap modernisasi

dengan apa yang telah nampak jelas pada pemberian

dikemukakan di atas, bahwa makna terhadap modernisasi yang

modernisasi disamakan dengan semakna dengan rosionalisasi

rasionalisasi yang tujuannya untuk sehingga menghasilkan sebuah

mensejajarkan Islam dengan pemahaman-pemahaman baru,

perkembangan dunia modern. Akan diantaranya: sekularisasi,

tetapi yang membedakannya dari pluralisme, intellectual freedom dan

pandangan Cak Nur adalah dari idea of progress. Pembaruan

segi pemberian porsi atau kekuatan (modernisasi) harus dimulai dengan

pada akal, atau dengan kata lain dua tindakan yang saling12 erat
hubungannya, yaitu melepaskan mitologi wayang, ada banyak

diri dari nilai-nilai tradisional, dan Tuhan, banyak dewa. Dewa-dewa

mencari nilai- nilai yang ini juga mengatur urusan manusia,

berorientasi ke masa depan.8 sehingga sering menimbulkan

bentrokan. Tapi meskipun manusia


Cita-Cita Renaisans dan
memiliki keberanian untuk melawan
Munculnya Sekularisme
dewa-dewa, para dewalah yang tetap
Dengan Melihat sejarah
memegang dominasi sehingga
kebudayaan Barat, kita mungkin
manusia terus berada dibawah
dapat melihat betapa pemikiran
pengawasan dewa-dewa. Pada
Barat berkembang dari satu ekstem
dasarnya pandangan dunia Yunani-
ke ekstrem lainnya. Pada zaman
Romawi adalah pagan (Tak
Yunani-Romawi, alam pikiran
Bertuhan).
Barat pada dasarnya adalah alam
Cita-cita Renaisans adalah
pikiran mitologis. Berakar pada
mengembalikan lagi kedaulatan
mitologi Yunani, waktu itu Dunia
manusia, yang selama berabad-abad
Barat benar-benar masuk di dalam
telah terampas.Renaisans telah
paham dewa-dewa itu
melahirkan revolusi paham
membelenggu manusia. Menurut
keagamaan bahwa pada dasarnya
paham tersebut manusia adalah
manusia itu merdeka juga sekaligus
saingan dewa-dewa. Kadang-
melahirkan revolusi pemikiran yang
kadang dewa-dewa dianggap iri
pada akhirnya menimbulkan
hati kepada manusia sehingga
revolusi ilmu pengetahuan Tapi
manusia selalu terancam dendam.
revolusi ilmu pengetahuan itu
Singkatnya, Tuhan itu dianggap
ternyata juga menimbulkan
seperti manusia. Dalam mitodologi
masalah-masalah baru. Semangat
13
Barat-Yunani, seperti halnya dalam
untuk membebaskan diri dari Teknologi Bandung (ITB), Universitas
Padjadjaran (UNPAD), Universitas
Tuhan ternyata menyebabkan
Sumatera Utara (USU), Universitas
agnotisisme terhadap agama dan
Ailangga (UNAIR), Universitas
pada gilirannya menimbulkan Diponegoro (UNDIP), Universitas
Hasanuddin (UNHAS), Universitas
sekularisme. Sementara itu revolusi
Brawijaya (UNBRAW) dan lain-lain.
ilmu pengetahuan dalam semangat
Banyak faktor yang melatarbelakangi
non agama dan bahkan anti-agama, mahasiswa dari berbagai perguruan
tinggi tersebut sangat berminat masuk
menghasilkan paham bahwa ilmu
HMI. Mungkin saat itu HMI
pengetahuan secara inheren bersifat
mempunyai daya tarik tersendiri, bisa
bebas nilai9. juga karena HMI mampu memberikan
kebutuhan student need dan student
C. Peran HMI Memeta Peradaban
interest ,bisa juga pada saat itu waktu
Prospek HMI ke Depan
kuliahyang itempuh sangat longgar
Ketika didirikan,anggota HMI hanya
sehingga berorganisasi tidak
terdiri dari lima belas mahsiswa,
menganggu kuliah dan demikian juga
belum ada komisariat,belum ada
sebaliknya.
cabang. Namun pertumbuhan
Menurut sebagian pengamat,
organisasi yang didirikan Lafran Pane
memasuki tahun 1980-an, HMI
dan teman-temannya berkembang
mengalami penurunan, baik secara
pesat, reoutasinya menanjak dan
organisatoris, aktivistas, dan
namanya tersohor. Anggota HMI
pemikiran. Ada kecenderungan HMI
terus berkembang.Hampir di seluruh
bergerak menuju organisasi masif.
perguruan tinggi,baik negeri maupun
Prof.Dr.H.Ahmad Syafii Maarif
swasta, terdapat organisasi HMI.
melihat kemunduran yang terjadi sejak
Di awal geliatnya aktivis HMI terdiri
tahun 1980-an adalah karena konflik
dari para mahasiswa dari perguruan
internal yang cenderung lama
tinggi seperti Universitas Gadjah
penyelesaiaannya. Bagi mantan ketua
Mada (UGM),Universitas Islam
umum PP Muhammadiyah yang juga
Indonesia (UII), Institut Keguruan
alumni HMI ini, kemelut HMI pada
dan Ilmu Pendidikan (IKIP),Institut
tahun 1985 cukup menguras energi
Agama Islam Negeri (IAIN),
keua belah pihak yang berbeda
Universitas Indonesia (UI),Institut
pandangan. Akhirnya, menurut14Syafii
Maarif, kekuatan moral dan Dalam konteks ideologis,HMI jelas
intelektual HMI tidak mungkin mewakili kalangan Islam terutam
dikembangkan secar optimal. Islam modernis di Indonesia, maka
Sedangkan menurut Fachry Ali, adalah suatu hal yang wajar terjadi
kemunduran HMI adalah akibat ketika pada jaman pemerintahan
organisasi ini tidak mampun demokrasi terpimpin dibawah
menjembatani kebutuhan sosiologis Soekarno,HMI mendapat berbagai
masyarakat sebagaimana dilakukan di tuduhan sebagai kekuatan kontra
awal-awal berdirinya. Sementara ini revolusi. Tersirat di dalam berbagai
Prof.Dr.H. Azyumardi Azra,M.A, upaya pembubaran HMI oleh kaum
M.Phil memandang kemunduran komunis adalah ketika menemukan
HMI akibat dalam hal beragama lebih semacam musuh ideologis yang sama
banyak mengedepankan akal bukan yakni Islam.
qolbu sebagaimana kebutuhan anak Perkembangan pemikiran keislaman
muda pada umumnya, sehingga HMI, baru mendapatkan ruang publik
dipandang tidak pas untuk tempat yang luas untuk kembali
berhimpun. mengembangkan wacana keislaman
Namun demikian,redupnya HMI secara kontekstual adalah ketika Orde
adalah bagian dari dinamika, yaitu Baru muncul pasca revolusi yang
hidup terkadang pasang naik dan gagal pada tahun 1945. HMI seakan
terkadang pasang surut.Yang jelas mendapatkan momentum untuk
hingga saat ini,HMI masih hidup mengekspresikan pemikiran-
(eksis) meskipun dengan sisa-sisa pemikiran Islam yang terpendam
tenaga. Keberadaan ini tetap harus sebelumnya. Di saat inilah, Kemal
disyukuri,sekaligus menjadi Hasan menyebut peranan HMI awal
tantangan bagi paraa kader untuk Orde Baru sebagi respon ideologis
membangun HMI menjadi lebih terhadap masalah modernisasi.
bertenaga dan lebih berdaya guna Pemerintah menghadapi tugas berat
dalam rangka menjalankan misinya10. melakukan perbaikan ekonomi dan
2

publik, ditengah krisis ekonomi dan


6
Baedhowi,M.Ag, Humanisme Islam:Kajian
terhadap Pemikiran Filosofilis Muhammad 171
9
Arkoun; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008, Kuntowijoyo, Islam sebagai
hlm. 205-206 Ilmu:Epistemiologi,Metodologi dan etika,
7
Nurcholish Madjid , Islam Agama Yogyakarta,Tiara Wacana Cet-2, 2006, hlm.
Kemanusiaan; Yogyakarta: Yayasan Wakaf 113-114
Paramadina, 1995, hlm. 65-66
8
Nurcholis Majid, Islam Kemodernan dan 15
Keindonesiaan, Penerbit Mizan, 1987, hlm.
kecenderungan besar inflasi tinggi SWT). Mereka itu manusia-manusia
warisan Orde Lama berupa strategi beriman berilmu dan beramal soleh
global untuk membangun dunia baru. secara totalitas (insan kamil).
Orde Baru memulai dengan HMI seringkali melibatkan diri dalam
pembangunan dan stabilitas politik peran tidak populis, karena
mutlak perlu diberi prioritas utama keterlibatannya hanya makelar politik
oleh negara menurut Kemal bahwa bagi kepentingan kekuasaan. Prinsip
pemerintah baru itu mengajukan HMI yang tak lagi mendorong ide-ide
konsep modernisasi dalam kehidupan konseptual bagi kepentingan umat dan
masyarakat dan negara. Ketika bangsa, namun HMI justru terjebak
semua golongan politik, termasuk dalam bingkai politik kekuasaan.
HMI sepakat bahwa modernisasi Sehingga dari ini HMI menuai kritik
sebagai obat mujarab bagi terpinggirkan dari elan gerakannya.
penyelesaian berbagai masalah yang Bahkan HMI disinyalir terpuruk dari
dihadapi Indonesia, Maka muncul moment arus globalisasi dan
berbagai perbedaan pandangan modernisasi. Tradisi intelektualisme
mengenai masalah modernisasi yang menjadi ranah perjuangan HMI
tersebut11. yang dibangun dari Nilai Dasar
Tantangan HMI di Masa Depan Perjuangan (NDP) praktis kehilangan
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pengaruhnya.
dalam harus kembali dalam berbagai Refleksi sejarah HMI bahwa, kita
khittah perjuangannya, seperti juga dapat menilai penyebab
tujuan, NDP (Nilai-Nilai Dasar perpecahan kalangan HMI.
Perjuangan) HMI dan sikap Bagaimanapun harus diingat bahwa
independen HMI yang ditegaskan HMI lebih merupakan organisasi
dalam pasal 6 Anggaran Dasar HMI, politik daripada organisasi yang
sertra memengang teguh Konstitusi berorientasi keagamaan. Bahkan
HMI, agar HMI dapat pernah diungkapkan oleh Nurcholish
bertransformasi sebagai man of Madjid, kalau HMI seakan berada
future (insan pelopor), man of diujung tanduk. Sebab kedekatan
Innovator (duta-duta pembaharu), HMI dengan kekuasaan serta
idea of progress (insan ketidakmampuan untuk menemukan
berkepribadian imbang dan padu, formula visi dan operasional yang
kritis, dinamis, adil dan jujur tidak tegas, telah menjadikan organisasi ini
takabur dan bertakwa kepada Allah kiat redup bahkan keropos 16ditelan
zaman.
Gerakan intelektual bagi HMI secara
internal juga sangat dibutuhkan
untuk kembali mempersentuhkan ide
dan gagasan intelektual HMI dengan
masyarakat ilmiah akademik (dunia
kampus). Dengan demikian HMI
akan mampu membangun basis
akademik sekaligus intelektualisme
ditengah ranah dialektis pemikiran
mahasiswa dan ditengah kehidupan
berbangsa dan bernegara. Tentu saja
sesuai dengan tuntutan zaman, dan
mengaktifkan setiap LPP
sebagaimana tujuan dan fungsi
didirikannya, agar LPP dapat
bersaing, baik di ranah organisasi
lain, nasional dan tentunya bangsa
asing yang kini hamper keseluruhan
menghemoni Indonesia dari setiap
dimensi, serta memasukkan materi
LPP dan materi seuai konteks zaman
dari LKI, LK2, LK3.12
3
4

10
Solichin, HMI Candradimuka Mahasiswa, Sinergi
Persadatama Foundation Cet-1, 2010, hlm. 67-71
11
Sidratahta Mukhtar, HMI dan
Kekuasaan:Kaderisasi HMI dalan Mengisi Struktur
Kekuasaan,Jakarta, Prestasi Pustaka Publisher,
2006, hlm. 51-52
12
Tanja, HMI, Sejarah dan Kedudukanya di Tengah
Gerakan-gerakan Muslim Pembaharu di Indonesia
Jakarta, sh, 1978, hlm 42-43 17
“kebenaran” yang ada dalam
D. PENUTUPAN
aliran agama-agama atau
1. Kesimpulan
A. Kemoderenan selalu identik budaya lain.Eksklusivitas
dengan kehidupan keserbadaan. “teologis” yang dikemas
Sedangkan modernisasi dalam wadah ideologis
merupakan salah satu ciri dari semacam itu,menurut
peradaban maju. Modernisasi Arkoun,telah menimbulkan
selalu diartikan sebagai suatu sistem budaya yang saling
proses yang melaluinya manusia menyingkirkan.
menjadi mampu menguasai alam C. Himpunan Mahasiswa Islam
dengan memanfaatkan teknologi (HmI) yang lahir di era
modern. Masih banyak lagi modern ini, dengan latar
pengertian modernisasi, namun belakang pemikiran yang telah
intinya menurut Lerner, dibahas diatas, membenarkan
modernisai itu mencangkup : 1) argumen yang mengatakan
pertumbuhan ekonomi secara bahwa HmI adalah salah satu
mandiri dan berkelanjutan, 2) mata rantai dari gerakan
partisipasi politik, 3) penyebaran pembaruan di Indonesia.
norma-norma, 4) tingginya Pemikiran pembaruan
tingkat mobilitas social dan HmI bertujuan membawa
geografis, 5) Transformasi bangsa Indonesia kepada
kepribadian.modernitas tersebut kehidupan baru yang lebih
menurut Hardgrave gejalanya baik dari kehidupan
apat dilihat dalam tiga dimensi: sebelumnya.
teknologis, organisasional dan Dengan demikian harkat
sikap. martabatnya dapat terangkat
B. Wacana agama yang sejatinya sejajar denga bangsa-bangsa
bertujuan sangat mulia, bukannya yang lain. Kehidupan yang
dijadikan sebagai proyek dimaksud adalah kehidupan
pembebasan dan pencerahan yang seimbang dan terpadu
sebagai perisai ideologis masing- antara pemenuhan kebutuhan
masing pemeluknya untuk dunia dan akhirat, akal dan
menolak dan menyingkirkan kalbu, iman dan ilmu dalam
18
mencapai kebahagian hidup
didunia dan akhirat.

2. Saran
a. Walaupun kita sebagai
individu yang mengikuti
perkembangan zaman tetapi
sebagai seorang muslim yang
baik kita harus tetap
menjadikan agama sebagai
landasan hidup dan tidak
menjadikan ego kita sebagai
penuntun hidup, karena ego
kita seringkali bertolak
belakang dengan norma
norma yang berlaku.
b. Diharapkan para pembaca
dapat meningkatkat
pemikiran pembaruan HmI
yang bertujuan membawa
bangsa Indonesia kepada
kehidupan baru yang lebih
baik dari kehidupan
sebelumnya.

19
DAFTAR PUSTAKA

A. Buku-buku
Nurcholis Majid. 1987. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan.
Jakarta: Mizan.
Rusli Karim. 1994. Agama, Modernisasi dan Sekulerisasi.
Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, Cet. I .
Nurcholish Madjid. 1995. Islam Agama Peradaban.Membangun Makna dan
Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah. Jakarta. Yayasan Wakaf
Paramadina
Drs. Azhari Akmal Tarigan,M.Ag. 2007. Islam Mazhab HMI:Tafsir Tema
Besar Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Jakarta: Kultura.
Baedhowi,M.Ag. 2008. Humanisme Islam:Kajian terhadap Pemikiran
Filosofilis Muhammad Arkoun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nurcholish Madjid. 1995. Islam Agama Kemanusiaan. Yogyakarta: Yayasan
Wakaf Paramadina.
Kuntowijoyo. 2006. Islam sebagai Ilmu:Epistemiologi,Metodologi dan etika.
Yogyakarta: Tiara Wacana Cet-2.
Solichin. 2010. HMI Candradimuka Mahasiswa. Sinergi Persadatama
Foundation Cet-1.
Sidratahta Mukhtar. 2006. HMI dan Kekuasaan:Kaderisasi HMI dalan
Mengisi Struktur Kekuasaan. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher
Tanja. 1978. HMI, Sejarah dan Kedudukanya di Tengah Gerakan-gerakan
Muslim Pembaharu di Indonesia. Jakarta: sh
CURICULLUM VITAE
Nama : Akmal Kurniawan
Tempat / Tanggal Lahir : Watansoppeng / 23 Juli 1998
Asal Cabang : HMI Cabang Makassar
Inst/Fak / Dept. / Stambuk : Universitas Muslim Indonesia / Kesehatan
Masyarakat / Kesehatan Masyarakat / 2016
Alamat : Jl. Sukamaju Raya No.51, Makassar
No HP : 085340399524
Alamat email : kurniawanakmal3@gmail.com
Jenjang Pendidikan
1. SD Negeri 07 Salotungo
2. SMP Negeri 01 Watansoppeng
3. SMA Negeri 04 Watansoppeng
Jenjang Training Di HMI
1. LK I HMI Komisariat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim
Indonesia Cabang Makassar tahun 2016
Pengalaman Organisasi
Di HMI
1. Dept. Adminstrasi dan Kesekretariatan HMI Komisariat FKM-UMI Periode
2019-2020.

Di Luar HMI
1. Anggota Bidang Data dan Informasi Ikatan Mahasiswa Pelajar Soppeng UMI
Periode 2017-2018.
2. Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat Ikatan Mahasiswa Pelajar Soppeng
UMI Periode 2018-2019.
3. Ketua Bidang Kerohanian Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat
FKM UMI Periode 2018-2019
4. Sekretaris Umum Senat Mahasiswa FKM UMI Periode 2019-2020

Motto hidup :
“ Yakinkan dengan Iman,Usahakan dengan Ilmu,Sampaikan dengan Amal”

Anda mungkin juga menyukai