Anda di halaman 1dari 7

1.

Tunjukan perbedaan antara classical conditioning dengan operant conditioning beserta


ilustrasi kasusnya
2. Teori belajar kognitif memfokuskan pembelajaran pada terjadinya insight
3. Berkaitan dengan hal tersebut strategi apakah yang disarankan agar belajar lebih efektif

Jawab
1. perbedaan antara classical conditioning dengan operant conditioning

Classical Conditioning Operant Conditioning


 Hanya berhubungan bengan perilaku  Penguatan diberikan sesudah respon dibuat
tak sadar secara sadar, dan kemudian memperkuatnya
 Penguatan mengukuhkan respon  Penguatan dengan cepat dapat berbaur
bersyarat tetapi bersifat netral: dengan menggunakan jadwal penguatan
penguatan bekerja baik disukai untuk mengubah taraf respond an taraf
ataupun tidak disukai organism penghapusan
 Respon diperoleh dari penguat yang
 Sebuah penguatan dapat digunakan untuk
telah diberikan sebelum respon itu
memperkuat beberapa respon dengan
sendiri muncul
menggunakan teknik pembentukan perilaku
 Tanpa atau sedikit penguat
 Sama seperti classical conditioning
memungkinkan respon yang
berlawanan akan terhapusjadwal tidak
 Sama dengan classical conditioning
dapat digunakan untuk mengubah
taraf respond an taraf penghapusan
 Sebuah penguatan hanya dapat
merangsang satu tipe respon

 Dapat menunjukkan penyamarataan


diskriminasi, penghapusan dan
pemulihan spontan
 Mengendalikan mata rantai atau
penyatuan rangsangan dan respon
 Berhubungan dengan perilaku sadar
dan juga tak sadar
 Penguatan mengukuhkan respon
bersyarat dan bersifat positif ataupun
negative

Selain diatas Perbedaan antara Classical Conditioning dengan Operant Conditioning antara lain
sebbagai berikut:

 Dalam Classical Conditioning respon dikontrol oleh pihak luar, pihak inilah yang
menentukan kapan dan apa yang akan diberikan sebagai stimulus. Sebaliknya operant
conditioning mengatakan bahwa pihak luar yang harus menanti adanya respon yang
diharapkan benar. Jika respon semacam ini terlihat maka dapat diberikan penguatan.
Disini dibicarakan tentang tingkah laku operan atau operan behavior.
 Classical Conditioning pada umumnya memusatkan tingkah laku terjadi apabila ada
stimuli khusus. Sedangkan dalam Operant Conditioning tingkah laku hanya menerangkan
untuk sebagian kecil dari semua kegiatan. Operant Conditioning memusatkan tingkah
laku dengan konsekuen, yaitu konsekuen yang menyenangkan dan tidak menyenangkan
dalam mengubah tingkah laku. Jadi konsekuen yang menyenangkan akan mengubah
tingkah laku. Sedangkan konsekuen yang tidak menyenangkan akan memperlemah
tingkah laku..
 Classical Conditioning mengatakan bahwa stimulus yang tidak terkontrol mempunyai
hubungan dengan penguatan. Stimulus itu sendirilah yang menyebabkan adanya
pengulangan tingkah laku dan berfungsi sebagai reinforcement. Di dalam Operant
Conditioning responlah yang merupakan sumber reinforcement. Adanya respon
menyebabkan seseorang memperoleh penguatan. Dan hal ini menyebabkan respon
tersebut cenderung untuk diulang - ulang.
Contoh kasus

Seoerang anak selalu mendapatkan nilai jelek dalam ulangan matimatika. melihat anak
yang selalu mendapatkan nilai yang jelek dalam ulangan matimatika, ayahnya membuat
janji kepada anaknyajika anak tersebut mendapatkan nilai yang bagus dalam ulangan
matimatika selanjutnya maka ia akan mendapatkan tas baru. Ketika akan menghadapi
ulangan matimatikaanaknya belajar dengan tekun dan pada sat ulangan dibagikan anak
tersebut berhasilmendapatkan nilai yang bagus sehingga anak tersebut mendapatkan tas
baru dari ayahnya.

2. Teori belajar kognitif adalah salah satu teori belajar yang sangat berpengaruh dalam dunia
pendidikan dalam mendidik dan mengajar. Teori ini berbeda dan menentang teori
behavioristik yang memandang belajar sebagai kegiatan makanistik antara stimulus dan
respon. Aliran kognitif memandang belajar lebih dari sekedar melibatkan stimulus dan
respon, tetapi juga melibatkan kegiatan mental di dalam individu yang sedang belajar.
Menurut aliran teori belajar kognitif, belajar adalah proses mental yang aktif untuk
mencapai, mengingat dan menggunakan pengetahuan yang dimiliki oleh individu. Sehingga
perilaku yang tampak pada manusiatidak dapat diukur dan diamati tanpa melibatkan proses
mental seperti motivasi, kesengajaan, keyakinan dan lain sebagainya. Aliran kognitivisme
lebih mengutamakan aspek berpikir (thinking) dan mental yang berkaitan dengannya,
misalnya ingatan (memory).

Walaupun teori kognitif menentang pandangan teori belajar behavioristik, tetapi dia tidak
dapat menafikkan pandangan kaum behavioristik tentang Reinforcement yang juga terdapat
di dalam teori kognitif. Tetapi, teori kognitif memandangnya berbeda dengan teori
behavioristik. Teori behavioristik memandang Reinforcement sebagai bagian yang penting
untuk menguatkan atau menjaga perilaku, sedangkan teori kognitif memandangnya sebagai
sebuah sumber feedback untuk mengetahui kemungkinan apa yang terjadi jika sebuah
perilaku diulang kembali.
IMPLEMENTASI TEORI BELAJAR KOGNITIF

Dalam proses belajar mengajar diperlukan cara yang tepat untuk mendapatkan hasil belajar
yang maksimal. Berikut adalah aplikasi teori belajar kognitif menurut teori gestalt dalam
proses pembelajaran:

- Pengalaman tilikan (insight); Tilikan bisa disebut juga pemahaman mengamati. Dalam
proses belajar, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu mengenal
keterkaitan unsur-unsur suatu objek atau peristiwa.
- Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); dalam hal ini unsur-unsur yang
bermakna akan sangat menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Hal
ini akan sangat bermanfaat dan membantu peserta dalam menangani suatu masalah.
Jadi, hal-hal yang dipelajari para peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas
dan logis dengan proses kehidupannya.
- Perilaku bertujuan (pusposive behavior);suatu perilaku akan terarah pada tujuan. Proses
pembelajaran akan berjalan efektif jika para peserta didik mengerti tujuan yang ingin
dicapainya. Jadi, hendaknya para guru membantu para peserta didik untuk memahami
arah dan tujuannya.
- Prinsip ruang hidup (life space); perilaku individu memiliki hubungan dengan tempat
dan lingkungan dia berada. Jadi, materi yang diajarkan harusnya berhubungan dengan
situasi dan kondisi lingkungan kehidupan individu.
- Transfer dalam belajar; yaitu proses pemindahan pola tingkah laku dalam situasi
pembelajaran tertentu ke situasi lain. Transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan
pengertian objek dari satu konfigurasi ke konfigurasi lain dalam tata susunan yang
tepat. Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-
prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian
digunakan dalam memecahkan masalah pada situasi lain.
Contoh kasus
Pemberian contoh pada siswa akan membantu siswa dalam mengamati dan memahami
suatu masalah. Sehingga dia mampu menyelesaikannya.

3. Strategi yang cocok berdasarkan teori kognitif, yaitu


a. Demonstrasi merupakan metode yang sangat efektif, sebab membantu siswa
untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang
benar. Metode demonstrasi merupakan metode penyajian pelajaran dengan
memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi
atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan. Sebagai metode
penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru.
Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekadar memerhatikan,
akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam
strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung
keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri. ( Direktorat Tenaga
Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga
Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional 2008 )
b. Strategi yang digunakan yaitu reasoning dan problem solving. Reasoning
merupakan bagian berpikir yang berada di atas level memanggil (retensi), yang
meliputi: basic thinking, critical thinking, dan creative thinking. Termasuk basic
thinking adalah kemampuan memahami konsep. Kemampuan-kemapuan critical
thinking adalah menguji, menghubungkan, dan mengevaluasi aspek-aspek yang
fokus pada masalah, mengumpulkan dan mengorganisasi informasi, memvalidasi
dan menganalisis informasi, mengingat dan mengasosiasikan informasi yang
dipelajari sebelumnya, menentukan jawaban yang rasional, melukiskan
kesimpulan yang valid, dan melakukan analisis dan refleksi. Kemampuan-
kemampuan creative thinking adalah menghasilkan produk orisinil, efektif, dan
kompleks, inventif, pensintesis, pembangkit, dan penerap ide. Problem adalah
suatu situasi yang tak jelas jalan pemecahannya yang mengkonfrontasikan
individu atau kelompok untuk menemukan jawaban dan problem solving adalah
upaya individu atau kelompok untuk menemukan jawaban berdasarkan
pengetahuan, pemahaman, keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya dalam
rangka memenuhi tuntutan situasi yang tak lumrah tersebut (Jadi aktivitas
problem solving diawali dengan konfrontasi dan berakhir apabila sebuah jawaban
telah diperoleh sesuai dengan kondisi masalah. Kemampuan pemecahan masalah
dapat diwujudkan melalui kemampuan reasoning. ( Santyasa, I Wayan.2007
Model-Model Pembelajaran Inovatif )
c. Menggunakan metode inkuiri. Menurut ( Muchlisin Riadi,2013. METODE
INKUIRI ) metode inkuiri adalah suatu cara menyampaikan pelajaran yang
meletakkan dan mengembangkan cara berfikir ilmiah dimana siswa
mengasimilasi suatu konsep atau prinsip, misalnya mengamati, menggolongkan,
membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan dan
sebagainya.
Langkah-langkah dalam proses inkuiri
Langkah-langkah dalam proses inkuiri adalah yaitu :

 Menyadarkan peserta didik bahwa mereka memiliki keingintahuan terhadap


sesuatu.

 Perumusan masalah yang harus dipecahkan peserta didik.

 Menetapkan jawaban sementara atau hipotesis.

 Mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab


permasalahan atau hipotesis.

 Menarik kesipulan jawaban atau generalisasi.

 Mengaplikasikan kesimpulan atau generalisasi dari situasi baru.

d. Berdasarkan uraian diatas sejatinya banyak strategi pembelajarng yang untuk


meningkatkan kognitif. Beberapa strategi yang baik untuk meningkatkan
kognitif yaitu metode inkuir, metode problem solving dan demonstrasi. Ketiga
strategy ini dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses belajar
mengajar. Sebab dari ketiga strategi ini siswa dapat melakukan penyelidikan,
hipotesis dan hal lain mengundang pembelajaran yang efektif guna
mengembangkan kemampuan kognitif.