Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN TB PARU

Disusun oleh:

Frisca Bayu Melati


NIM: 62019040024

JURUSAN PROFESI NERS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS
2019
A. PENGERTIAN
Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksius yang menyerang paru-paru yang
secara khas ditandai oleh pembentukan granuloma dan menimbulkan nekrosis jaringan.
Penyakit ini bersifat menahun dan dapat menular dari penderita kepada orang lain
(Santa, dkk., 2009).
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB
(Myobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat
juga mengenai organ tubuh lainnya. (Depkes RI, 2011).
TBC (Tuberkulosis) yang juga dikenal dengan TB adalah penyakit paru-paru
akibat kuman Mycobacterium tuberculosis. TBC akan menimbulkan gejala berupa batuk
yang berlangsung lama (lebih dari 3 minggu), biasanya berdahak, dan terkadang
mengeluarkan darah (Tjin Willy, 2019).

B. ETIOLOGI
Penyebab tuberkulosis adalah Myobacterium tuberculosae, sejenis kuman
berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/Um dan tebal 0,3-0,6/Um. Penyakit ini
ditularkan dari percikan ludah yang keluar penderita TBC, ketika berbicara, batuk, atau
bersin. Penyakit ini lebih rentan terkena pada seseorang yang kekebalan tubuhnya
rendah, misalnya penderita HIV.

C. MANIFESTASI KLINIS
1. Sistemik
a. Malaise
b. Anoreksia
c. Berat badan menurun
d. Keringat malam
e. Akut : Demam tinggi seperti flu. Menggiggil.
f. Kronis : Demam akut. Sesak nafas. Sianosis.
2. Respiratorik
a. Batuk lebih dari 2 minggu
b. Dahak mukoid/mukopurulen
c. Nyeri dada
d. Batuk darah
e. Nyeri pleuritik
f. Sesak nafas
g. Gejala meningeal: Nyeri kepala. Kaku kuduk.
D. PATHOFISIOLOGI
Tempat masuk kuman M.tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran
pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberkulosis terjadi melalui
udara, yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil tuberkel
yang berasal dari orang yang terinfeksi. Saluran pencernaan merupakan tempat masuk
utama jenis bovin, yang penyebarannya melalui susu yang terkontaminasi.
Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara
sel. Sel efektornya adalah makrofag, sedangkan limfosit (biasanya sel T) adalah sel
imunoresponsifnya. Tipe imunitas seperti ini biasanya lokal, melibatkan makrofag yang
diaktifkan di tempat infeksi oleh limfosit dan limfokinnya. Respon ini disebut sebagai
reaksi hipersensitivitas (lambat) Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran
yang relatif padat dan seperti keju, lesi nekrosis ini disebut nekrosis kaseosa. Daerah
yang mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi di sekitarnya yang terdiri dari
sel epiteloid dan fibroblast, menimbulkan respon berbeda. Jaringan granulasi menjadi
lebih fibrosa membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul
yang mengelilingi tuberkel. Lesi primer paru-paru dinamakan fokus Gohn dan gabungan
terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks Gohn.
Respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana
bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkular yang
dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk ke dalam percabangan trakeobronkhial.
Proses ini dapat akan terulang kembali ke bagian lain dari paru-paru, atau basil dapat
terbawa sampai ke laring, telinga tengah atau usus. Kavitas yang kecil dapat menutup
sekalipun tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan parut bila peradangan mereda
lumen bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dekat
perbatasan rongga bronkus. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat
mengalir melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh dengan bahan perkejuan
dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak terlepas keadaan ini dapat menimbulkan
gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi
tempat peradangan aktif. Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh
darah. Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah
dalam jumlah kecil dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lain. Jenis penyebaran
ini dikenal sebagai penyebaran limfohematogen, yang biasanya sembuh sendiri.
Penyebaran hematogen merupakan suatu fenomena akut yang biasanya menyebabkan
tuberkulosis milier. Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga
banyak organisme masuk kedalam sistem vaskular dan tersebar ke organ-organ tubuh.
E. PATHOFLOW

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan fisik
a. Tanda-tanda adanya infiltrasi luas atau konsolidasi, terdapat fremitus mengeras,
perkusi redup, suara napas bronkial dengan atau tanpa ronchi
b. Tanda-tanda penarikan paru, diafragma, mediastinum atau pleura dada
asimetris, pergerakan napas yang tertinggal, pergeseran dari batas-batas
diafragma, jantung, suara nafas melemah dengan atau tanpa ronchi
c. Tanda-tanda kavitas yang berhubungan dengan bronkus, suara amforik
d. Sekret disaluran nafas: ronchi basah/kering
e. Lokasi kelainan: walaupun lesi tuberkulosis mempunyai predileksi di puncak
paru, namun kelainan dapat terjadi pada semua bagian paru
2. Pemeriksaan laboratorik
a. Anemia terutama bila penyakit berjalan menahun
b. Leukositosis ringan dengan predominasi limfosit
c. Laju endap darah (LED) meningkat terutama pada fase akut dan umumnya nilai-
nilai tersebut kembali normal pada tahap penyembuhan
d. Kelainan pada darah tepi adalah tidak khas dan tidak sensitif
3. Pemeriksaan radiologi
a. Bayangan lesi pad radiologi yang terletak dilapangan atas paru
b. Bayangan yang berawan (patchy) atau bercak (noduler)
c. Adanya kavitas, tunggal atau ganda
d. Kelainan yang bilateral, terutama bila terdapat dilapangan atas paru
e. Bayangan yang menetap atau relatif menetap setelah beberapa minggu
f. Bayangan milier
4. Pemeriksaan bakteriologik sputum
Ditemukan kuman Mikrobakterium Tuberkulosis dari dahak.
5. Uji tuberkulin
Hasil positif pada orang dewasa kurang bernilai.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Penatalaksanaan farmakologi
a. Kategori I:
Obat 2HRZE / 4H3R3
1) Untuk kasus baru
2) BTA (-)
3) Hasil rongsen (+) / Extra Pulmoner
b. Kategori II
Obat 2 HRZES / 1 HRZE / 5 H3R3E3
1) Kasus kambuh BTA (+)
2) Kasus gagal pengobatan
c. Kategori III
Obat 2HRZ / 4H3R3
1) Kasus BTA (-)
2) Rongsen (+)  klinis
3) Kasus extra pulmoner ringan
2. Penatalaksanaan nonfarmakologi
a. Modifikasi diet: banyak makan makanan yang bergizi (diet TKTP)
b. Mengurangi aktivitas berlebihan
c. Hindari merokok dan minum alkohol
d. Jika terjadi sesak duduk semifowler dan latihan batuk efektif

H. PENGKAJIAN
1. Identitas klien
Nama, umur, kuman TBC menyerang semua umur, jenis kelamin, tempat
tinggal (alamat), pekerjaan, pendidikan dan status ekonomi menengah kebawah dan
satitasi kesehatan yang kurang ditunjang dengan padatnya penduduk dan pernah
punya riwayat kontak dengan penderita TB patu yang lain.
2. Riwayat penyakit sekarang
Meliputi keluhan atau gangguan yang sehubungan dengan penyakit yang di
rasakan saat ini. Dengan adanya sesak napas, batuk, nyeri dada, keringat malam,
nafsu makan menurun dan suhu badan meningkat mendorong penderita untuk
mencari pengonbatan.
3. Riwayat penyakit dahulu
Keadaan atau penyakit – penyakit yang pernah diderita oleh penderita yang
mungkin sehubungan dengan tuberkulosis paru antara lain ISPA efusi pleura serta
tuberkulosis paru yang kembali aktif.
4. Riwayat penyakit keluarga
Mencari diantara anggota keluarga pada tuberkulosis paru yang menderita
penyakit tersebut sehingga sehingga diteruskan penularannya.
5. Riwayat psikososial
Pada penderita yang status ekonominya menengah ke bawah dan sanitasi
kesehatan yang kurang ditunjang dengan padatnya penduduk dan pernah punya
riwayat kontak dengan penderita tuberkulosis paru yang lain.
6. Pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Pada klien dengan TB paru biasanya tinggal didaerah yang berdesak –
desakan, kurang cahaya matahari, kurang ventilasi udara dan tinggal dirumah
yang sumpek.
b. Pola nutrisi dan metabolik
Pada klien dengan TB paru biasanya mengeluh anoreksia, nafsu makan
menurun.
c. Pola eliminasi
Klien TB paru tidak mengalami perubahan atau kesulitan dalam miksi
maupun defekasi.
d. Pola aktivitas dan latihan
Dengan adanya batuk, sesak napas dan nyeri dada akan menganggu
aktivitas.
e. Pola tidur dan istirahat
Dengan adanya sesak napas dan nyeri dada pada penderita TB paru
mengakibatkan terganggunya kenyamanan tidur dan istirahat.
f. Pola hubungan dan peran
Klien dengan TB paru akan mengalami perasaan asolasi karena penyakit
menular.
g. Pola sensori dan kognitif
Daya panca indera (penciuman, perabaan, rasa, penglihatan, dan
pendengaran) tidak ada gangguan.
h. Pola persepsi dan konsep diri
Karena nyeri dan sesak napas biasanya akan meningkatkan emosi dan rasa
kawatir klien tentang penyakitnya.
i. Pola reproduksi dan seksual
Pada penderita TB paru pada pola reproduksi dan seksual akan berubah
karena kelemahan dan nyeri dada.
j. Pola penanggulangan stress
Dengan adanya proses pengobatan yang lama maka akan mengakibatkan
stress pada penderita yang bisa mengkibatkan penolakan terhadap pengobatan.
k. Pola tata nilai dan kepercayaan
Karena sesak napas, nyeri dada dan batuk menyebabkan terganggunya
aktifitas ibadah klien.
7. Pemeriksaan fisik
a. Sistem integumen
Pada kulit terjadi sianosis, dingin dan lembab, tugor kulit menurun.
b. Sistem pernapasan
Pada sistem pernapasan pada saat pemeriksaan fisik dijumpai:
1) Inspeksi : adanya tanda – tanda penarikan paru, diafragma,
pergerakan napas yang tertinggal, suara napas melemah
2) Palpasi : Fremitus suara meningkat
3) Perkusi : Suara ketok redup
4) Auskultasi : Suara napas brokial dengan atau tanpa ronki basah, kasar
dan yang nyaring
c. Sistem pengindraan
Pada klien TB paru untuk pengindraan tidak ada kelainan.
d. Sistem kordiovaskuler
Adanya takipnea, takikardia, sianosis, bunyi P2 s yang mengeras.
e. Sistem gastrointestinal
Adanya nafsu makan menurun, anoreksia, berat badan turun.
f. Sistem musculoskeletal
Adanya keterbatasan aktivitas akibat kelemahan, kurang tidur dan keadaan
sehari – hari yang kurang meyenangkan.
g. Sistem neurologis
Kesadaran penderita yaitu komposments dengan GCS: E4 M5 V6
h. Sistem genetalia
Biasanya klien tidak mengalami kelainan pada genitalia

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret kental atau
sekret darah
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membran alveoler-
kapiler
3. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia
4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pemasangan WSD
J. INTERVENSI KEPERAWATAN
No. Diagnosa NOC NIC
1. Bersihan jalan nafas Status pernafasan: Manajemen jalan nafas
tidak efektif (00032) kepatenan jalan nafas (3140)
Domain 4: (0410) - Kaji frekuensi,
Aktivitas/istirahat - Bunyi nafas normal kedalaman pernapasan
Kelas 4: Respon atau bersih dan ekpansi dada
kardiovaskular/pulmo - TTV dalam batas - Auskultasi bunyi napas
nal normal dan catat adanya bunyi
- Saturasi oksigen tambahan
dalam batas normal - Observasi pola batuk dan
- Batuk berkurang karakter sekret
- Mampu - Tinggikan kepala atau
mengidentifikasi dan posisikan semi fowler
mencegah faktor ataupun fowler
penyebab - Ajarkan pasien nafas
- Dapat dalam dan latihan batuk
mendemonstrasikan efektif
batuk efektif - Berikan oksigenasi atau
kolaborasi dengan tim
medis lain untuk
pemberian bronkodilator
- Berikan informasi
mengenai cara
mencegah
2. Gangguan pertukaran Status pernafasan: Peningkatan (manajemen)
gas (00085) pertukaran gas (0402) batuk (3250)
Domain 3: Eliminasi - TTV dalam rentang - Monitor respirasi, status
dan pertukaran normal oksigen, serta vital sign
Kelas 4: Fungsi - Mampu memelihara - Posisikan pasien untuk
respirasi kebersihan paru-paru memaksimalkan ventilasi
dan bebas dari tanda- - Berikan oksigenasi jika
tanda distress diperlukan
pernafasan - Batuk efektif
- Mampu batuk efektif - Kolaborasi untuk
pemberian bronkodilator
3. Resiko Status nutrisi: Asupan Manajemen nutrisi (1100)
ketidakseimbangan makanan & cairan (1008) - Monitor jumlah nutrisi
nutrisi kurang dari - Adanya peningkatan dan kandungan kalori
kebutuhan tubuh berat badan sesuai - Catat nurisi pasien, catat
(00182) dengan tujuan turgor kulit, berat badan
Domain 2: Nutrisi - Berat badan ideal dan derajat kekurangan
Kelas 1: Makan sesuai dengan tinggi berat badan, integritas
badan mukosa oral,
- Mampu kemampuan /
mengidentifikasi ketidakmampuan
kebutuhan nutrisi menelan, adanya tonus
- Tidak ada tanda tanda usus, riwayat mual /
malnutrisi muntah atau diare
- Tidak terjadi - Kaji adanya alergi
penurunan berat makanan
badan yang berarti - Anjurkan pasien untuk
meningkatkan intake
- Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
- Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan pasien
4 Resiko infeksi Kontrol resiko (1902) Perlindungan infeksi (6550)
(00004) - Tidak terjadi - Monitor tanda gejala
Domain 11: inflamasi pada infeksi
Keamanan/perlindung daerah yang - Monitor luka di sekitar
an terpasang WSD WSD
Kelas 1: Infeksi - TTV dalam rentang - Cuci tangan 6 langkah 5
normal momen
- Pertahankan teknik
aseptik
- Tingkatkan intake nutrisi
- Batasi pengunjung
- Kolaborasi untuk
pemberian antibiotik
K. REFERENSI
Amin Z, Bahar A (2014). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-6 Jilid I. Jakarta:Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia
Butcher, Howard., dkk. 2018. Nursing Interventions Classification (NIC): Edisi Ketujuh,
Bahasa Indonesia. Yogyakarta: mocomedia. Diterjemahkan oleh Intansari
Nurjanah.
Depkes RI (2015). Tuberkulosis: Temukan Obati Sampai Sembuh. Jakarta :
Departemen Kesehatan RI.
Herdman, T. Heather., dkk. 2018. NANDA-I Diagnosis Keperawatan: Definisi dan
Klasifikasi 2018-2020. Jakarta: EGC. Diterjemahkan oleh Budi Anna Keliat, dkk.
Kemenkes RI (2013). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tatalaksana
Tuberkulosis. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.
Moorehead, Sue., dkk. 2018. Nursing Outcome Classification (NOC): Edisi Keenam,
Bahasa Indonesia. Yogyakarta: mocomedia. Diterjemahkan oleh Intansari
Nurjanah.