Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah

Gagal ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih dari 3
bulan, berdasarkan kelainan patologis atau petanda kerusakan ginjal seperti
proteinuria. Diagnosis penyakit ginjal kronik ditegakkan jika nilai laju filtrasi
glomerulus kurang dari 60 ml/menit/1,73m² (Sandra P.S et all 2011, Deidra C.C.
2017, Pierre Delanaye et all 2017).
Gagal Ginjal kronis berkontribusi pada beban penyakit dunia dengan angka
kematian sebesar 850.000 setiap tahun. Penyakit tersebut merupakan penyebab ke-
12 kematian dan ke-17 penyebab kecacatan di Dunia (Badariah et all 2017, R.M.
Suryadi Tjekyan 2014) .
Hasil studi GGK sangat bervariasi di berbagai negara. Pervalensi kejadian GGK
di Amerika Utara sekitar 6 % dan 18,7% di Jepang. Pervalensi kejadian GGK yang
dilaporkan pada orang dewasa di atas 20 tahun di Iran yaitu 11,6 – 18,9 %.
Berdasarkan klasifikasi stadium GGK 11,6 % pada stadium 1-4 yang terus
meningkat tiap tahunnya sekitar 26 juta orang dan 7,5 % dari total populasi pada
stadium 3 atau 4 (Parsa Yousefichaijan et all 2016).
Di Amerika Diabetes merupakan penyebab utama GGK, hipertensi dan
glomerulonefritis. Laporan kasus pada negara berkembang diabetes dan hipertensi
merupakan penyebab utama dengan prevalensi 30% dan 21 % (Pierre Delanaye et
all 2017, Kamyar Kz 2011, William G 2011).
Angka kematian akibat gagal ginjal kronis terus meningkat di banyak negara
termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. Prevalensi

1
gagal ginjal kronik berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,2% dengan
prevalensi tertinggi di Sulawesi Tengah sebesar 0,5%, diikuti Aceh, Gorontalo, dan
Sulawesi Utara masing-masing 0,4%. Sementara Propinsi Sulawesi Selatan
memiliki angka prevalensi sebesar 0,3%3. Kunjungan pasien akibat gagal ginjal
kronis di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, sebanyak 858 kunjungan pada tahun
2012, 638 kunjungan pada tahun 2013, dan meningkat sebanyak 1181 kunjungan
pada tahun 2014 (Gabriellyn Sura pongsibidang 2015, Vika Maris Nuraro et all
2013) .
Pusat Data & Informasi Per-himpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia
mencatat bahwa jumlah pasien gagal ginjal kronik diperkirakan sekitar 50 orang
per satu juta penduduk, 60% nya adalah usia dewasa dan usia lanjut (Gabriellyn
Sura pongsibidang 2015, Vika Maris Nuraro et all 2013) . Angka Kejadian gagal
ginjal kronik di RSUD Zainoel Abidin pada tahun 2014 yaitu164 kasus dengan 24
pasien baru, 2015 yaitu 166 kasus
dengan 25 kasus baru dan 2016 yaitu 136 dengan 5 kasus baru.
Melihat angka kejadian yang cenderung cukup tinggi maka perlunya perlunya
perhatian lebih terhadap penderita GGK di RSUD Zainoel Abidin. Dengan harapan
dengan mengetahui faktor pencetus GGK, dapat dilakukan pencegahan terhadap
GGK dengan menghindari faktor resiko maupun pengendalian faktor resiko.

2
B. Rumusan Masalah

Angka kejadian dan kematian yang cenderung tinggi di RSUD Zainoel Abidin.
Sehingga dengan diketehuinya faktor resiko, maka pencegahan dan pengontrolan
dapat segela dilakukan lebih awal dan diharapkan dapat mengurangi angka
kejadian dan kematian penyakit ini.

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penilitian ini adalah
“Faktor-Faktor yang ada hubungan dengan outcome gagal ginjal kronik pada
penderita yang dirawat di ICU di RSUD Zainoel Abidin tahun 2019

C. Pertanyaan penilitian
1. Apakah usia berhubungan dengan kejadian gagal ginjal kronik?
2. Apakah Jenis kelamin berhubungan dengan gagal ginjal kronik?
3. Apakah hipertensi berhubungan dengan gagal ginjal kronik?
4. Apakah diabetes melitus berhubungan dengan gagal ginjal kronik?

D. Hipotesis

1. Usia berhubungan dengan kejadian gagal ginjal kronik


2. Jenis kelamin berhubungan dengan kejadian gagal ginjal kronik
3. Hipertensi berhubungan dengan kejadian gagal ginjal kronik
4. diabetes melitus berhubungan dengan kejadian gagal ginjal kronik

E. Tujuan Penilitian

1. Tujuan umum
Untuk mengatahui Faktor-faktor yang ada hubungan dengan outcome gagal
ginjal kronik pada penderita yang dirawat di ICU RSUD ZAINOEL ABIDIN tahun
2019.

2. Tujuan Khusus