Anda di halaman 1dari 4

c  

Mengenal Ketel Uap

Boiler atau ketel uap merupakan salah satu penentu kualitas minyak kelapa sawit. Ia hampir
menjadi sentra dalam berbagai tingkatan proses ekstraksi buah kelapa sawit (tandan buah segar)
menjadi CPO dan produk turunannya.

Boiler merupakan peralatan utama pada industri pengolahan minyak sawit dan turunannya.
Pabrik-pabrik kelapa sawit memakai boiler untuk merebus tandan buah segar (TBS) yang baru
saja dipanen. Dalam proses perebusan, TBS dipanaskan dengan uap yang dihasilkan dari boiler
pada temperatur 135 derajat celsius. Tujuan dari perebusan ini adalah memudahkan pemipilan
brondolan dari tandannya, menghentikan perkembangan asam lemak bebas (free fatty acid), dan
akan menyebabkan TBS melunak sehingga proses ekstraksi minyak menjadi lebih gampang.

Sedangkan di industri hilir, boiler digunakan untuk memanaskan tangki minyak, sementara uap
panas yang dihasilkan dimanfaatkan pada proses pre-treatment dan vakum deodorizer. Di pabrik-
pabrik fatty acid dan fatty alcohol, menggunakan steam boiler sebagai peralatan utama untuk
memisahkan trigliserida dengan gliserol pada splitting tower.

Boiler atau lebih dikenal sebagai ketel uap pada dasarnya adalah sebuah bejana yang
dipergunakan sebagai tempat untuk memproduksi uap (steam). Uap dari pemanasan air dalam
boiler dilakukan pada temperatur tertentu untuk kemudian digunakan untuk berbagai keperluan.
Berdasarkan jenisnya, ada beberapa boiler yakni, fire tuber boiler, atmospheric fluidized bed
combustion boiler, water tube boiler, paket boiler, fluidizedbed combustion boiler, stoker fired
boiler, boiler pemanas limbah, dan pemanas fluida termis.

Selama ini, masyarakat industri kelapa sawit, hulu sampai hilir, sudah sangat mengakrabi boiler
ini. Hanya saja dari waktu ke waktu yang mengalami perkembangan adalah jenis bahan bakar
yang digunakan untuk memanaskan boiler ini.
Yang lebih diketahui adalah boiler berbahan bakar minyak. Lalu, setelah harga minyak dunia
meroket hingga hampir tak terjangkau, pelaku industri mulai beralih ke gas. Namun, rupanya
suplai gas seringkali tidak kontinyu hingga kemudian batubara lah yang menjadi pilihan.

Dari sisi konsep, tidak terdapat perbedaan mencolok antara boiler berbahan bakar minyak, gas,
maupun batubara. Boiler terdiri atas sistem air umpan, sistem steam, dan sistem bahan bakar.
Pada Coal Fired Boiler yang berbahan bakar batubara, terdiri atas furnace atau tungku api yang
dilengkapi dengan kipas tiup dan kipas hisap, pipa air, pipa api, serta sistem pembuangan.

Batubara yang akan dibakar dimasukkan melalui hopper ke chain grate stoker, semacam
conveyor, kemudian masuk ke furnace (tungku pembakar) dengan kecepatan tertentu. Emisi
panas yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk mengkonversi air umpan di dalam pipa
menjadi uap. Uap inilah yang dipakai untuk memanaskan TBS di pabrik kelapa sawit (PKS)
ataupun proses ekstraksi minyak sawit.
Batubara yang sudah habis terbakar akan dikeluarkan melalui sistem pembuangan abu yang
berada di bawah tungku. Ada dua macam limbah pembakaran batubara yang terbentuk, yang
mengendap (bottom ash) dan yang ringan (fly ash). Limbah yang mengendap akan turun ke
saluran pembuangan sedangkan yang ringan akan dihisap dikeluarkanmelewati lapisan siklon.
Karbondioksida dan gas sisa lainnya akan dikeluarkan melalui pipa yang dinamakan chimney.

Evaluasi Kinerja Boiler


Parameter kinerja boiler, seperti efisiensi dan rasio penguapan, akan mengalami penurunan
terhadap waktu. Penurunan kinerja ini disebabkan oleh buruknya pembakaran, kotornya
permukaan penukar panas, dan buruknya pengoperasian serta pemeliharaan. Bahkan, untuk
boiler yang baru sekalipun, alasan seperti buruknya kualitas bahan bakar dan kualitas air dapat
mengakibatkan penurunan kinerja ketel uap.

Performa boiler dapat dilihat dari bagaimana neraca panas dan efisiensinya. Neraca panas
menggambarkan keseimbangan energi total yang masuk boiler dan yang meninggalkan boiler
dalam bentuk energi yang berbeda. Neraca dapat dilihat dari tingkat kehilangan energi yang
terjadi dalam satu kali proses boiler.

Penyebab kehilangan energi ini ada yang tidak bisa dihindari dan ada yang bisa dihindari.
Penyebab yang bisa dihindari misalnya, kehilangan pada gas cerobong, karena bahan bakar yang
tidak habis terbakar, kehilangan dari blowdown, kehilangan pada kondensat, dan kehilangan
akibat konveksi dan radiasi.

Seluruh potensi kehilangan tersebut bisa diminimalkan dengan pemeliharaan peralatan secara
seksama, teliti, dan rutin. Selain itu, untuk mencegah kehilangan energi pada kondensat bisa
dilakukan dengan memaksimalkan pemanfaatan sebanyak mungkin kondensat.

Efisiensi Boiler Batubara


Salah satu unsur yang memengaruhi efisiensi boiler batubara adalah kualitas batubara terutama
kandungan air batubara. Apalagi, seringkali ditemui tumpukan batubara yang digelar begitu saja
hingga terkena hujan dan angin. Tambahan kelembaban dari iklim luar akan menurunkan nilai
panas batubara dan meningkatkan energi pembakaran batubara pada boiler. Karena itu, sebisa
mungkin penyimpanan stok batubara mengunakan atap penaung agar terhindar dari pengaruh
iklim.

Banyak cara dicari peneliti dan periset industri untuk meningkatkan efisiensi boiler berbahan
bakar batubara. Sebagian peneliti memilih memperbaiki sifat fisik perangkat boiler seperti
menggunakan pelapis siklon. Namun, peneliti lainnya berpendapat bahwa efisiensi ketel uap
batubara bisa dilakukan melalui campur tangan bahan kimia seperti penambahan batu kapur.
Caranya, batubara digerus bersama batu kapur di pulverizer untuk kemudian dibakar melalui
sistem Clean Combustion System (CCS). Hasilnya, gas panas yang bersih, panas, dan kaya
bahan bakar untuk dialirkan ke boiler.
Pada dasarnya, penggunaan batubara pada boiler memang harus menerapkan pembakaran
batubara yang bersih. Tuntutan ini, selain akan meningkatkan daya bakar batubara juga agar
sesuai dengan prinsip-prinsip ramah lingkungan.

Membersihkan batubara artinya membuang mineral atau senyawa lain yang terkandung agar
pembakaran batubara mendekati sempurna hingga efisiensinya tinggi.

Berbagai macam cara bisa ditempuh sebagai upaya membersihkan batubara. Untuk membuang
sulfur yang berupa bintik kecil kekuningan dilakukan dengan memecah bongkahan batubara
menjadi lebih kecil lalu mencucinya. Jika belum bersih juga, industri biasanya melakukan
dnegan merendam batubara dalam tangki pencucian sampai menghasilkan endapan sulfur yang
berikatan dengan pyritic di dasar tangki sedangkan batubaranya mengambang. Namun, untuk
sulfur yang berikatan dengan unsur organik, proses pembuangan tidak akan berhasil dilakukan.
Sebab, bentuk sulfur ini membutuhkan proses lanjutan yang memburuhkan teknologi tinggi dan
biaya yang besar.

Sedangkan untuk mengurangi kadar nitrogen dalam batubara, industri biasanya menggunakan
senyawa kimia yang berfungsi sebagai katalis yang mengurai bagian NOx menjadi gas yang
tidak berpolusi.

Menangkal Dampak Batubara


Sudah menjadi konsekuensi setiap penerapan teknologi selalu membawa dampak buruk sebagai
ikutan. Tak terkecuali penggunaan batubara. Selain dampak lingkungan berupa polutan, yang
tidak kalah penting adalah pengaruh buruk pada pekerja yang sehari-hari berurusan dengan
batubara sebagai sebuah sistem. Para operator mesin merupakan pihak yang sangat rentan
terhadap gangguan fisik dan kesehatannya.

Pada umumnya, batubara yang digunakan sebagai bahan bakar, untuk berbagai industri,
berbentuk serbuk. Serbuk ini tentu akan berpotensi terhisap dan masuk ke paru-paru melalui
pernapasan.

Karena itu, sistem pertukaran udara di lokasi haruslah mendapat perhatian serius agar tersedia
cukup oksigen untuk para operator mesin. Berbagai penyakit dapat timbul akibat masuknya debu
batubara ke paru. Silikat yang biasanya terkandung dalam batubara bisa menyebabkan penyakit
antrakosis yang berlanjut ke pneumonia yang membahayakan.

Untuk meminimalkan pengaruh buruk batubara, maka setiap operator diwajibkan memakai
pelindung maksimal di hidung, mata, dan sebaiknya juga seluruh tubuh.