Anda di halaman 1dari 19

TUGAS MAKALAH BAHASA INDONESIA

“MENJAGA ADAT ISTIADAT SUKU BADUY SEBAGAI SALAH


SATU WARISAN LELUHUR MASYARAKAT SUNDA”

DISUSUN OLEH :

LUFTI ADE PRIMANDANI (13010112130075)


SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA


UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

makalah yang ditugaskan oleh Bapak Suyanto yang berjudul “Menjaga Adat

Istiadat Suku Baduy sebagai Salah Satu Warisan Leluhur Masyarakat Sunda” ini.

Makalah ini berisikan tentang kebudayaan suku Baduy, perbedaan antara

Baduy Dalam dan Baduy luar, adat pernikahan dalam suku Baduy, dan seluk-

beluk tradisi serta kebiasaan masyarakat Baduy.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh

karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu

penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, penulis sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang

telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir

sehingga terselesaikannya makalah ini.

Semarang, Oktober 2012

Penulis

i
Abstrak

Adat istiadat atau tradisi adalah sesuatu yang telah dilakukan sejak lama
dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari
suatu wilayah, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling
mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke
generasi, baik tertulis maupun lisan. Informasi yang diteruskan secara turun-
menurun dimaksudkan agar tradisi tersebut tidak akan punah.
Di Indonesia terdapat berbagai macam adat istiadat yang berbeda-beda,
ada adat Jawa, adat Sunda, adat Batak, dan lain sebagainya. Keanekaragaman adat
istiadat ini menambah keindahan kebudayaan bangsa Indonesia.
Salah satu adat istiadat yang menarik perhatian untuk ditelusuri adalah
adat Sunda, lebih tepatnya adat istiadat suku Baduy. Suku Baduy adalah
sekumpulan masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Kenakes, Kecamatan
Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Mereka masih sangat menjunjung tinggi
adat istiadat yang diturunkan oleh leluhur mereka. Masyarakat suku Baduy hidup
secara sederhana dan belum terkontaminasi dengan kebudayaan luar. Mereka
enggan menerima pengaruh atau mengikuti perkembangan zaman yang semakin
banyak menggunakan alat-alat canggih. Itu merupakan prinsip yang masih
dipegang teguh oleh masyarakat Baduy sampai sekarang.
Adat istiadat suku Baduy wajib dijaga karena merupakan aset kebudayaan
bangsa yang masih asli.

Kata Kunci : suku Baduy, adat istiadat, menjaga tradisi, warisan leluhur, Sunda.

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................... i

ABSTRAK...................................................................................................... ii

DAFTAR ISI................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 1

1. LATAR BELAKANG.............................................................. 1

2. RUMUSAN MASALAH......................................................... 2

3. TUJUAN.................................................................................. 2

4. METODE PENELITIAN.......................................................... 2

5. TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI.............. 3

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 4

1. KEHIDUPAN KHAS SUKU BADUY.................................... 4

2. PERBEDAAN BADUY LUAR DAN BADUY DALAM....... 9

3. ADAT PERNIKAHAN SUKU BADUY................................. 12

BAB III PENUTUP........................................................................................ 14

1. RINGKASAN........................................................................... 14

2. SARAN..................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 15
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari

13.487 pulau, karenanya Indonesia juga disebut sebagai “Nusantara”. Indonesia

terbentang dari Sabang sampai Meurauke yang terdiri dari berbagai adat, tradisi,

budaya, dan bahasa daerah yang berdeda-beda. Perbedaan yang beraneka ragam

membuat Indonesia berdiri sebagai negara multikultural. Namun, segala

perbedaan yang beraneka ragam tersebut tidak menjadikan masyarakat Indonesia

tercerai berai. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi

sikap pluralisme.

Sikap pluralisme masyarakat Indonesia juga ditujukan kepada suku Baduy,

yaitu suku yang masih sangat tradisional dan tidak menerima pengaruh apapun

dari luar. Perkembangan zaman yang semakin maju dengan segala macam

teknologi canggih yang menyertainya, ternyata tidak mampu mengusik eksistensi

suku Baduy untuk tetap memegang teguh adat istiadat yang telah diwariskan oleh

para leluhurnya hingga sampai sekarang ini. Sungguh hal yang sangat luar biasa

apabila kita berbicara tentang prinsip dan pedoman yang diterapkan oleh

masyarakat suku Baduy, yang lebih memilih untuk tetap terisolasi dari dunia luar

dan berpegang teguh dengan pola hidup yang sederhana dan tradisional. Betapa

tidak, Banten adalah sebuah kota modern, dan letaknya tidak jauh dari jantung
ibukota negara Indonesia, Jakarta, yang identik dengan kemewahan dan segala

kecanggihannya.

Dengan segala keaslian dan keunikan tersebut, sudah tentu banyak orang

atau wisatawan yang ingin berkunjung kesana. Orang Baduy terbuka kepada siapa

pun yang datang berkunjung, asalkan mereka menaati peraturan yang ada. Namun,

semakin banyak orang yang datang kesana, ditakutkan akan merusak alam yang

telah dijaga oleh suku Baduy selama bertahun-tahun.

1.2 Rumusan Masalah

1) Bagaimana kehidupan khas masyarakat suku Baduy?

2) Bagaimana membedakan suku Baduy Dalam dan Baduy Luar?

3) Bagaimana proses pernikahan dalam adat suku Baduy?

1.3 Tujuan

1) Menjelaskan kehidupan khas masyarakat suku Baduy.

2) Menjelaskan perbedaan suku Baduy Dalam dan Baduy luar.

3) Menjelaskan proses pernikahan dalam adat Baduy.

1.4 Metode Penelitian

Dikarenakan waktu yang terbatas, penulis menggunakan metode kajian

pustaka dalam menyusun makalah ini.


1.5 Tinjauan Pustaka dan Landasan Teori

Dalam menyusun sebuah makalah diperlukan dasar/pondasi agar makalah

yang disusun jelas maksud dan tujuannya. Buku-buku, karya ilmiah, artikel, serta

sumber internet tentang suku Baduy merupakan dasar yang digunakan penulis

dalam penyusunan makalah ini.

Teori yang melandasinya yaitu dari berbagai sumber yang menyatakan

bahwa suku Baduy merupakan masyarakat yang masih tetap mempertahankan

dengan kuat nilai-nilai budaya warisan leluhurnya dan tidak terpengaruh oleh

kebudayaan luar.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kehidupan khas masyarakat Baduy

A. Sistem Organisasi Sosial Suku Baduy

Masyarakat Baduy mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu

sistem nasional, yang mengikuti aturan Negara Kesatuan Republik

Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya

masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan

sedemikian rupa sehingga tidak terjadi perbenturan. Secara nasional

penduduk Baduy dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai Jaro

pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk

pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu Pu’un.

Pelaksana sehari-hari pemerintahan adat kapuunan (kepuunan)

dilaksanakan oleh Jaro, yang dibagi ke dalam empat jabatan, yaitu jaro

tangtu, jaro dangka, jaro tanggungan, dan jaro pamarentah. Jaro tangtu

bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan

berbagai macam urusan lainnya. Jaro tangtu adalah satu-satunya warga

suku Baduy yang memiliki kewenangan bertemu Pu’un*. Jaro dangka

*Yollanda Octavitri, “Resepsi Masyarakat Kabupaten Lebak Provinsi


Banten Terhadap Upacara Seba Suku Baduy”, (Tesis S1 Program Jurusan Sastra
Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Undip, Semarang, 2012), hal.66.
bertugas menjaga, mengurus, dan memelihara tanah titipan leluhur yang

ada di dalam dan di luar Kanekes. Jaro dangka berjumlah 9 orang, yang

apabila ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut sebagai jaro

duabelas. Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro

tanggungan. Adapun jaro pamarentah secara adat bertugas sebagai

penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah

nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa, carik, dan kokolot

lembur atau tetua kampong.

Masyarakat Baduy sejak dahulu memang selalu berpegang teguh

kepada seluruh ketentuan maupun aturan-aturan yang telah ditetapkan

oleh Pu’un mereka. Kepatuhan kepada ketentuan-ketentuan tersebut

menjadi pegangan mutlak untuk menjalani kehidupan bersama. Selain

itu, didorong oleh keyakinan yang kuat, hampir keseluruhan masyarakat

Baduy Luar maupun Baduy Dalam tidak pernah ada yang menentang

atau menolak aturan yang diterapkan sang Pu’un.

Walaupun demikian ada sedikit warga yang kadang tidak menaati

peraturan atau cecok dengan warga Baduy lain. Dr. Nasikun mengatakan

bahwa konflik pada hakikatnya merupakan suatu gejala sosial yang

melekat di dalam kehidupan setiap masyarakat*. Hukuman di dalam

*Nasikun, Sistem Sosial Indonesia (Jakarta, 1984), hal.5.


masyarakat Baduy sendiri disesuaikan dengan kategori pelanggaran,

yang terdiri atas pelanggaran berat dan pelanggaran ringan. Hukuman

ringan biasanya dalam bentuk pemanggilan si pelanggar oleh Pu’un

untuk diberikan peringatan. Yang termasuk ke dalam jenis pelanggaran

ringan antara lain cekcok atau beradu mulut antara dua atau lebih warga

Baduy. Sedangkan hukuman berat diperuntukkan bagi mereka yang

melakukan pelanggaran berat. Pelaku pelanggaran yang mendapatkan

hukuman ini dipanggil oleh Jaro setempat dan diberi peringatan.

Menariknya, yang namanya hukuman berat disini adalah jika ada

seseorang warga yang sampai mengeluarkan darah setetes pun sudah

dianggap berat. Selain itu berzinah dan berpakaian ala orang kota juga

termasuk pelanggaran berat. Banyak larangan yang diatur dalam hukum

adat Baduy, di antaranya tidak boleh bersekolah, dilarang memelihara

ternak berkaki empat, tidak dibenarkan bepergian dengan naik

kendaraan, dilarang memanfaatkan alat eletronik, dilarang memiliki alat

rumah tangga mewah dan beristri lebih dari satu.

B. Sistem Religi

Suku Baduy yang merupakan suku tradisional di Provinsi Banten

hampir mayoritasnya mengakui kepercayaan sunda wiwitan. Yang mana

kepercayaan ini meyakini akan adanya Allah sebagai “Guriang Mangtua”

atau disebut pencipta alam semesta dan melaksanakan kehidupan sesuai

ajaran Nabi Adam sebagai leluhur yang mewarisi kepercayaan turunan


ini. Kepercayaan sunda wiwitan berorientasi pada bagaimana menjalani

kehidupan yang mengandung ibadah dalam berperilaku, pola kehidupan

sehari-hari, langkah dan ucapan, dengan melalui hidup yang

mengagungkan kesederhanaan (tidak bermewah-mewahan).

C. Bahasa

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek

Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka

lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak

mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Baduy Dalam

tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat, kepercayaan/agama,

dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.

D. Mata Pencaharian

Mata pencarian masyarakat Baduy yang paling utama adalah

bercocok tanam padi huma dan berkebun serta membuat kerajinan koja

atau tas dari kulit kayu, mengolah gula aren, tenun dan sebagian kecil

telah mengenal berdagang. Selain itu mereka juga mendapatkan

penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan

di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan. Kehidupan

orang Baduy berpenghasilan dari pertanian, dimulai pada bulan keempat

kalender Baduy yang dimulai dengan kegiatan nyacar yakni

membersihkan semua belukar untuk menyiapkan ladang.


E. Teknologi

Peralatan dan teknologi kehidupan orang Baduy berpusat pada daur

pertanian yang diolah dengan menggunakan peralatan yang masih sangat

sederhana. Dalam adapt Baduy terutama Baduy Dalam, masyarakat tidak

boleh menggunakan peralatan yang sudah modern. Mereka

mengandalkan peralatan yang masih sangat primitive seperti bedog,

kampak, cangkul, dan lain-lain.

F. Pakaian

Malcolm Bernard mengatakan pakaian atau fashion digunakan

untuk menunjukkan atau mendefinisikan peran sosial yang dimiliki

seseorang*. Perbedaan antara Baduy Dalam dan Baduy Luar dapat dilihat

dari cara busananya berdasarkan status sosial, tingkat umur maupun

fungsinya. Perbedaan busana didasarkan pada jenis kelamin dan tingkat

kepatuhan pada adat saja, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Untuk

Baduy Dalam, para pria memakai baju lengan panjang yang disebut

jamang sangsang, serba putih polos itu dapat mengandung makna suci

bersih karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di

badan. Bahan dasarnya harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun.

Bagi suku Baduy Luar, busana yang mereka pakai adalah baju kampret

*Malcolm Bernard, Fashion for Communication, atau Fashion sebagai


Komunikasi, terj. Idi Subandy Ibrahim (Yogyakarta, 1996) hal. 89.
berwarna hitam. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak

batik. Desain bajunya terbelah dua sampai ke bawah, seperti baju yang

biasa dipakai khalayak ramai. Sedangkan potongan bajunya mengunakan

kantong, kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang kapas

murni.

2.2 Perbedaan suku Baduy Dalam dan Baduy Luar

Sistem pelapisan sosial yang terdapat pada setiap masyarakat di

dunia ini timbul karena di dalam masyarakat itu terdapat perbedaan status

atau tingkat sosial yang dimiliki oleh setiap individu*. Pada suku Baduy

dikenal dua pelapisan sosial, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar.

A. Baduy Dalam

Kanekes Tangtu ( Baduy Dalam ) adalah bagian dari keseluruhan

orang Kanekes. Tidak seperti Kanekes Luar, warga Kanekes Dalam

masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka.

Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Kanekes Dalam antara lain:

1. Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana

transportasi

2. Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki

3. Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah

sang Pu'un atau ketua adat)


4. Larangan menggunakan alat elektronik (samasekali tak

tersentuh teknologi)

5. Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang

ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan

menggunakan pakaian modern.

B. Baduy Luar

Kanekes Panamping (Baduy Luar), yang tinggal di berbagai

kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti

Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya.

Masyarakat Kanekes Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat

kepala berwarna hitam. Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah

keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang

menyebabkan dikeluarkannya warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar:

1. Mereka telah melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam

2. Berkeinginan untuk keluar dari Kanekes Dalam

3. Menikah dengan anggota Kanekes Luar

*Ayatrohaedi,et.al., Tata Krama di Beberapa Daerah di Indonesia (Jakarta,


1989), hal.137.
Ciri-ciri masyarakat orang Kanekes Luar:

1. Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik,

meskipun penggunaannya tetap merupakan larangan untuk

setiap warga Kanekes, termasuk warga Kanekes Luar. Mereka

menggunakan peralatan tersebut dengan cara sembunyi-

sembunyi agar tidak ketahuan pengawas dari Kanekes Dalam.

Dalam hal ini konsep HAM tidak tercetus sebagai suatu konsep

mandiri dengan definisi yang jelas, karena masing-masing

anggota kelompok berpandangan, bersikap, dan berperilaku

sesuai dengan kedudukan dan posisinya dalam struktur adat

yang sudah mapan*.

2. Proses pembangunan rumah penduduk Kanekes Luar telah

menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll,

yang sebelumnya dilarang oleh adat Kanekes Dalam.

*A. Gonggong, Andre A. Hardjana, A. Agus Nugroho, Sejarah Pemikiran


Hak-Hak Asasi Manusia di Indonesia (Jakarta, 1995), hal.14.
3. Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua

(untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci.

Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan

celana jeans.

4. Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur,

bantal, piring & gelas kaca & plastik.

5. Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam.

2.3 Pernikahan adat Baduy

Di dalam proses pernikahan yang dilakukan oleh masyarakat

Baduy hampir serupa dengan masyarakat lainnya. Namun, pasangan

yang akan menikah selalu dijodohkan dan tidak ada yang namanya

pacaran. Orang tua laki-laki akan bersilaturahmi kepada orang tua

perempuan dan memperkenalkan kedua anak mereka masing-masing.

Setelah mendapatkan kesepakatan, kemudian dilanjutkan

dengan proses 3 kali pelamaran. Tahap pertama, orang tua laki-laki harus

melapor ke Jaro (Kepala Kampung) dengan membawa daun sirih, buah

pinang dan gambir secukupnya. Thomas Wiyasa Bratawidjaja dalam

bukunya mengatakan bahwa perkawinan dalam suku Baduy tidak perlu


melapor ke pihak berwajib, hal ini sudah berlaku sejak zaman

pemerintahan Belanda*. Tahap kedua, selain membawa sirih, pinang, dan

gambir, pelamaran kali ini dilengkapi dengan cincin yang terbuat dari

baja putih sebagai mas kawinnya. Tahap ketiga, mempersiapkan alat-alat

kebutuhan rumah tangga, baju serta seserahan pernikahan untuk pihak

perempuan.

Pelaksanaan akad nikah dan resepsi dilakukan di Balai Adat

yang dipimpin langsung oleh Pu’un untuk mensahkan pernikahan

tersebut. Uniknya, dalam ketentuan adat, Orang Baduy tidak mengenal

poligami dan perceraian. Mereka hanya diperbolehkan untuk menikah

kembali jika salah satu dari mereka telah meninggal. Jika setiap manusia

melaksanakan hal tersebut.

*Thomas W. Bratawidjaja, Upacara Perkawinan Adat Sunda (Jakarta,

1994), hal.138.
BAB III

PENUTUP

Ringkasan

Masyarakat Baduy dibedakan menjadi dua, yaitu Baduy Dalam dan

Baduy Luar. Masyarakat Baduy Dalam terkenal dengan pakaiannya yang

berwarna putih, sedangkan Baduy Luar berwarna hitam. Orang Baduy Luar

awalnya merupakan anggota dari masyarakat Baduy Dalam. Namun karena

mereka kurang menaati peraturan dari Pu’un dan sudah hidup sedikit lebih

modern maka mereka berpindah ke Baduy Luar.

Walaupun demikian, sebagian besar masyarakat suku Baduy sangat patuh

terhadap kebudayaan suku mereka yang telah ditetapkan oleh Pu’un. Kepatuhan

dan ketaatan itu dijalani secara enjoy tanpa penolakkan apa pun. Mereka amat

rukun, damai, dan sangat sejahtera untuk ukuran kecukupan kebutuhan hidup

sehari-hari.

Dalam adat suku Baduy, seseorang menikah dengan cara dijodohkan

tanpa ada istilah pacaran. Selain itu, masyarakat suku Baduy juga tidak mengenal

perceraian.

Saran

Suku Baduy sebagai suku yang masih sangat terjaga keaslian adat istiadat

leluhurnya, sudah seharusnya kita beri apresiasi yang luar biasa dengan cara

saling menghormati dan memahami perbedaan yang ada, serta ikut berpartisipasi

menjaga kebudayaan yang unik ini.


DAFTAR PUSTAKA

Ayatrohaedi, et.al. 1989. Tatakrama di Beberapa Daerah di Indonesia. Jakarta:


Dep Dik Bud.

Bratawidjaja, Thomas W.1994.Upacara Perkawinan Adat Sunda.Jakarta: Pustaka


Sinar Harapan.

Gonggong A., Andre A. Hardjana, dan A. Agus Nugroho. 1995. Sejarah


Pemikiran Hak-Hak Asasi Manusia di Indonesia. Jakarta: Dep Dik
Bud.

Malcolm, Barnard. 1996. Fashion for Communication atau Fashion sebagai


Komunikasi, terj. Idi Subandy Ibrahim. Yogyakarta: Jalasutra.

Nasikun.1984.Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: CV. Rajawali.

Octavitri, Yollanda.2012. ”Resepsi Masyarakt Kabupaten Lebak Provinsi Banten


terhadap UpacaraSeba Suku Baduy,” Tesis S1 Program Studi Sastra
Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Undip, Semarang.