Anda di halaman 1dari 12

Lab/SMF Dermatologi dan Venereologi Refleksi Kasus

Fakultas Kedokteran
Universitas Mulawarman

HERPES ZOSTER

Oleh:
Hanifah Deka Insani
NIM. 1710015071

Pembimbing:
dr. Daulat Sinambela, Sp.KK

LABORATORIUM/SMF DERMATOLOGI DAN VENEREOLOGI


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
RSUD ABDUL WAHAB SJAHRANIE
SAMARINDA
2019
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Herpes zoster atau shingles merupakan manifestasi klinis karena reaktivasi
varicella zoster virus (VZV). VZV merupakan virus yang tergolong dalam Herpesvirus
family. Selama terjadi infeksi varisela, VZV meninggalkan lesi di kulit dan permukaan
mukosa menuju ujung saraf sensorik. Kemudian menuju ganglion dorsalis. Dalam
ganglion, virus memasuki masa laten dan tidak mengadakan multiplikasi lagi. Reaktivasi
terjadi jika sistem imun tubuh menurun.1
Herpes zoster terjadi secara sporadis sepanjang tahun tanpa mengenal musim.
Insiden terjadinya herpes zoster meningkat sesuai dengan pertambahan umur dan biasanya
jarang mengenai anak-anak.1 Insiden herpes zoster 2-3 kasus per 1000 orang/tahun. Insiden
dan keparahannya meningkat dengan bertambahnya usia. Lebih dari setengah jumlah
keseluruhan kasus dilaporkan terjadi pada usia lebih dari 60 tahun dan komplikasi terjadi
hampir 50% di usia tua.1,2 Faktor resiko utama adalah usia tua. Selain itu faktor resiko
penyakit meningkat dengan adanya keganasan, transplantasi sum-sum tulang, penggunaan
obat kemoterapi, dan penggunaan kortikosteroid. Tidak terdapat predileksi gender. 1,2
Herpes zoster dapat dimulai dengan timbulnya gejala prodromal berupa sensasi
abnormal atau nyeri otot lokal, pegal, parestesia sesuai dermatom, gatal, rasa terbakar
ringan-berat. Dapat dijumpai gejala konstitusi misalnya nyeri kepala, malaise, dan demam.
Setelah awitan gejala prodromal, timbul erupsi kulit. Karakteristik penyakit ini ditandai
dengan adanya ruam vesikular unilateral yang berkelompok dengan nyeri yang radikular
sekitar dermatom yang terkena. Sebagian besar kasus herpes zoster, erupsi kulitnya
menyembuh secara spontan tanpa gejala sisa.1
Prinsip dasar pengobatan herpes zoster adalah menghilangkan nyeri secepat
mungkin dengan cara membatasi replikasi virus, sehingga mengurangi kerusakan syaraf
lebih lanjut.1 Tatalaksana pada herpes zoster diberikan antivirus. Tiga antivirus oral yang
disetujui Food Drug Administration (FDA) untuk terapi herpes zoster adalah asiklovir,
valsiklovir, dan famsiklovir. Pasien dapat diberikan analgetik untuk mengatasi keluhan
nyeri. Pasien dengan nyeri ringan dapat diberikan NSAID atau analgetik non opioid dan
opioid untuk nyeri hebat.1 Selama fase akut dapat diberikan kompres dingin, losition
kalamin, atau baking soda untuk meringankan keluhan lokal dan mempercepat pengeringan
lesi.2 Pada pasien dengan kemungkinan neuralgia pasca herpes zoster dapat diberikan
Antidepresan dan antikonvulsan.1 Berdasarkan latar belakang tersebut, penyusun tertarik
untuk membahas tentang herpes zoster dalam refleksi kasus ini.
1.2 Tujuan
Mengetahui tentang perbandingan antara teori kepustakaan dengan kasus pada
pasien dengan herpes zoster di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
BAB 2
LAPORAN KASUS

Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan pada hari Senin 4 November 2019
pukul 14.00 WITA di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Abdul Wahab Sjahranie
Samarinda.

2.1 Anamnesisvv
2.1.1 Identitas Pasien
Nama : Tn. LJ
Usia : 67 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Jalan Biawan 18 Sidodadi, Samarinda
Suku : Buton

2.1.2 Keluhan Utama


Keropeng berarir yang disertai rasa nyeri di daerah wajah, di bawah mata kanan
sejak 4 hari yang lalu.
2.1.3 Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan awalnya berbentuk gelembung-gelembung berair di atas kulit yang
kemerahan di bagian wajah, di bawah mata yang semakin lama semakin banyak tapi hanya
di bagian kanan saja. Gelembung lalu menjadi keropeng. Keluhan ini tidak menyebar ke
bagian tubuh yang lain. Keluhan disertai nyeri di wajah yang menjalar ke kepala dan leher,
nyeri dirasakan terus menerus seperti rasa di tusuk. Selain itu pasien juga mengeluhkan rasa
tidak enak di badan dan lemas. Keluhan ini tanpa disertai demam dan gatal. Riwayat kontak
dengan orang yang memiliki keluhan yang sama tidak ada.

2.1.4 Riwayat Penyakit Dahulu


- Pasien memiliki riwayat penyakit varicella saat kecil
- Pasien tidak memiliki riwayat asma, keluhan hidung berair saat terpajan
sesuatu, gatal-gatal setelah tersentuh sesuatu atau memakan sesuatu.

2.1.5 Riwayat Penyakit Keluarga


- Keluarga tidak memiliki riwayat asma, keluhan hidung berair saat terpajan
sesuatu, gatal-gatal setelah tersentuh sesuatu atau memakan sesuatu.

2.1.6 Riwayat Penggunaan Obat


Pasien tidak ada menggunakan obat apapun untuk mengatasi keluhannya.
2.2 Pemeriksaan Fisik
 Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
 Kesadaran : Composmentis
 Tanda-tanda vital :
-Frekuensi nadi : 89x/menit -Frekuensi napas : 23x/menit
-Suhu : 36,4 ◦C/ aksiler - Tekanan darah : 140/80 mmHg
 Status Gizi :
-Berat badan : 56 kg -Panjang badan : 163 cm
 Status Generalisata :
 Kepala/leher : Tampak eritema dan edema pada wajah, di bawah mata sisi
kanan
 Toraks : dalam batas normal
 Abdomen : dalam batas normal
 Pembesaran kelenjar getah bening : tidak ada
 Status Dermatologi
 M : Wajah, di bawah mata kanan (Regio Facial, infra orbita dextra) dan tidak
melewati garis tengah tubuh
 Efloresensi : Makula eritema. Erosi dan krusta berwarna kuning hingga
kecoklatan, herpetiformis, dengan distribusi unilateral dan dermatomal.
 Status Venereologi : Tidak dilakukan pemeriksaan

Gambar 2.1 Makula eritema. Erosi dan krusta di wajah, di bawah


mata, sisi kanan (Wajah tampak depan)

Gambar 2.2 Wajah sisi kiri


2.3 Diagnosis Banding
1. Herpes Zoster
2. Dermatitis Venenata
3. Impetigo Krustosa

2.4 Diagnosis Kerja


Herpes Zoster
2.5 Usulan Pemeriksaan Penunjang
Tzanck Test

2.6 Penatalaksanaan
2.6.1 Non-Medikamentosa
1) Memberi edukasi pada pasien dan keluarga bahwa kondisi yang dialami pasien
merupakan penyakit yang dapat menular sehingga setelah memegang pasien, keluarga
perlu mencuci tangan. Serta hindari pemakaian barang bersama. Hal ini ditujukan
untuk mengurangi transmisi virus kepada orang lain.
2) Memberi edukasi kepada pasien dan keluarga bahwa penyakit ini disebabkan oleh
virus, sehingga penyakit ini dapat sembuh sendiri.
3) Memberi edukasi kepada pasien dan keluarga untuk tidak menggaruk atau melakukan
tindakan invasif pada gelembung yang timbul untuk menghindari infeksi sekunder.
4) Memberi edukasi kepada pasien dan keluarga untuk menjaga higienitas kulit pasien.
5) Istirahat yang cukup.
6) Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga untuk meminum obat secara teratur
dan mengenai komplikasi yang mungkin terjadi.

2.6.2 Medikamentosa
o Antiviral : Asiklovir 5x800 mg per oral selama 7 hari
o Analgesik : Asam Mefenamat 3x500 mg
o Kompres dengan Nacl 0,9%

2.7 Prognosis
 Qua ad Vitam : Bonam
 Qua ad Sanationam : Bonam
 Qua ad Kosmeticam : Bonam
BAB 3
PEMBAHASAN

Telah dilaporkan kasus seorang laki-laki berusia 67 tahun datang ke poliklinik kulit
dan kelamin RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda pada tanggal 4 November 2019
datang dengan keluhan utama keropeng berair yang disertai rasa nyeri di daerah wajah, di
bawah mata kanan sejak 4 hari yang lalu.
Pada kasus ini, diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Dari hasil anamnesis didapatkan keluhan keropeng berair yang disertai rasa nyeri di daerah
wajah, di bawah mata kanan sejak 4 hari yang lalu. Keluhan awalnya berbentuk gelembung-
gelembung berisi cairan di atas kulit yang kemerahan di bagian wajah, di bawah mata yang
semakin lama semakin banyak tapi hanya di bagian kanan saja. Gelembung lalu menjadi
keropeng. Keluhan ini tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain. Keluhan disertai nyeri di
wajah yang menjalar ke kepala dan leher, nyeri dirasakan terus menerus seperti rasa di
tusuk. Selain itu pasien juga mengeluhkan rasa tidak enak di badan dan lemas. Keluhan ini
tanpa disertai demam dan gatal. Pasien juga memiliki riwayat varisela saat kecil. Hal ini
sesuai dengan teori dimana usia tua merupakan salah satu faktor resiko utama herpes zoster.
Faktor resiko lainnya adalah pasien dengan immunocompromised (HIV, transplantasi sum-
sum tulang belakang, leukemia, limfoma, pasien yang sedang menjalani kemoterapi, dan
penggunaan kortikosteroid). Herpes zoster sendiri merupakan reaktivasi dari VZV setelah
infeksi primer. Transmisi dapat terjadi melalui kontak kulit secara langsung atau melalui
saluran nafas.1,2
Penyebab penyakit ini adalah VZV merupakan virus yang tergolong dalam
Herpesvirus family. 1,2,3 Gejala prodromal herpes zoster berupa nyeri dan parestesia pada
dermatom yang terkena yang dapat dikeluhkan beberapa hari sebelum erupsi muncul, dan
bervariasi dapat berupa rasa gatal, kesemutan, rasa terbakar dari ringan sampai berat, pedih
dan rasa sakit seperti ditusuk-tusuk pada kulit. Keluhan dapat muncul terus menerus atau
hilang timbul dan disertai rasa tidak nyaman ketika tersentuh dan hiperestesia pada kulit
sesuai dermatom yang terkena. Nyeri prodromal jarang ditemukan pada orang dengan
imunokompeten dan berusia kurang dari 30 tahun, namun sering ditemukan pada pasien
herpes zoster yang berusia lebih dari 60 tahun. Dapat juga dijumpai gejala konstitusi
misalnya nyeri kepala, malaise, dan demam. Gejala prodromal dapat berlangsung beberapa
hari (1-10 hari, rata-rata 2 hari). 1,2,3
Pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap pasien didapatkan rash di daerah wajah,
bawah mata kanan dan tidak melewati garis tengah tubuh dengan efloresensi makula
eritema serta krusta berwarna kuning hingga kecoklatan serta di dapatkan erosi, lesi
berkerumun (herpetiformis), dan memiliki distribusi unilateral dan dermatomal. Kondisi
yang dialami pasien telah sesuai menurut kepustakaan. Hal yang paling membedakan
herpes zoster adalah lokalisasi dan distribusi rash, yang hampir selalu unilateral dan
terbatas pada kulit yang di inervasi dari 1 ganglion sensori. Kelainan diawali dengan lesi
makulopapular eritematosa. Kemudiaan dalam 12-24 jam menjadi vesikel berkelompok
dengan dasar kulit eritematosa dan edema. Vesikel berisi cairan jernih, kemudian menjadi
keruh, dapat menjadi pustul dan krusta dalam 7-10 hari. Krusta biasanya bertahan hingga
2-3 minggu. Pada orang normal lesi baru dapat terus muncul dalam 1-4 hari. Rash paling
berat dan bertahan lama pada pasien usia tua dan lebih ringan serta memiliki durasi yang
lebih sebentar pada anak-anak. 1,2,3
Pemeriksaan penunjang tidak dilakukan pada pasien ini. Pemeriksaan penunjang
dapat membantu pada beberapa kasus dengan gejala tidak khas. Pada pasien ini telah
didapatkan tanda-tanda yang khas, sehingga tidak diperlukan adanya pemeriksan
penunjang. Adapun pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan
deteksi antigen atau asam nukleat VZV dengan metode PCR, Tzanc test pada fase erupsi
vesikel.1,2,3
Pada pasien ini dipilih diagnosis banding dermatitis venenata dan impetigo
krustosa. Pemilihan diagnosis banding ini didasarkan pada anamnesis dan pemeriksaan
fisik yang menyerupai herpes zoster. Dermatitis venenata dapat disingkirkan dengan
anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dermatitis venenata merupakan dermatitis kontak iritan
tipe akut lambat akibat toxin serangga biasanya disebabkan oleh gigitan, liur, atau bulu
serangga yang terbang pada malam hari. Penyebab paling sering adalah Paederus littoralis
sehingga dermatitis ini sering disebut dermatitis paederus. Paling sering terjadi pada daerah
yang panas serta beriklim tropis. Gambaran klinis dan gejalanya baru muncul 8 sampai 24
jam atau lebih setelah kontak. Keluhan dirasakan pedih, keesokan harinya, sebagai gejala
awal terlihat eritema kemudian terjadi vesikel atau bahkan nekrosis.5 Respon yang berbeda
terlihat pada kulit tergantung pada konsentrasi durasi paparan, dan karakteristik individu.
Ruam umumnya muncul berbentuk linear. Dalam kasus ringan, eritema ringan dapat
berlangsung selama beberapa hari. Kasus yang berat, selain menunjukkan lesi yang lebih
luas, dapat menunjukkan gejala tambahan, seperti demam, neuralgia, artralgia, dan muntah.
Lesi paling sering ditemukan pada bagian tubuh yang tidak tertutup seperti wajah, leher,
bahu, lengan dan area ekstremitas bawah. Dapat pula terjadi kondisi kissing lesion yaitu
sepasang lesi kulit yang sama yang terjadi akibat lesi kulit pertama menempel pada kulit
normal lainnya.5,6,7 Impetigo krustosa disebabkan oleh Streptococcus B Hemolyticus. Pada
impetigo krustosa tidak disertai gejala umum, hanya terdapat pada anak. Tempat predileksi
di wajah, yakni disekitar lubang hidung dan mulut karena dianggap sumber infeksi dari
daerah tersebut. Kelainan kulit berupa eritema dan vesikel yang cepat memecah sehingga
jika penderita datang berobat yang terlihat ialah krusta tebal berwarna kuning seperti madu.
Jika dilepaskan tampak erosi dibawahnya. Sering krusta menyebar ke eprifer dan sembuh
dibagian tengah.8
Penatalaksaan herpes zoster meliputi nonmedikamentosa dan medikamentosa.
Tatalaksana non-medikamentosa meliputi edukasi, dengan pemberian informasi kepada
pasien dan keluarganya tentang herpes zoster. Kondisi yang dialami pasien merupakan
penyakit yang dapat menular sehingga setelah memegang pasien, keluarga perlu mencuci
tangan. Serta hindari pemakaian barang bersama. Hal ini ditujukan untuk mengurangi
transmisi virus kepada orang lain. Pnyakit ini disebabkan oleh virus, sehingga penyakit ini
dapat sembuh sendiri. Pasien dan keluarga diharapkan untuk tidak menggaruk atau
melakukan tindakan invasif pada gelembung yang timbul untuk menghindari infeksi
sekunder serta selalu menjaga higienitas kulit pasien. Pasien harapkan dapat istirahat yang
cukup. Menyampaikan kepada pasien dan keluarga untuk meminum obat secara teratur dan
mengenai komplikasi yang mungkin terjadi.
Prinsip dasar pengobatan adalah menghilangkan nyeri secepat mungkin dengan cara
membatasi replikasi virus, sehingga mengurangi kerusakan syaraf lebih lanjut. Pada pasien
ini di berikan Asiklovir 5x800 mg per oral selama 7 hari, asam mefenamat 3x500 mg, dan
kompres dengan Nacl 0,9%. Hal ini sudah sesuai dengan teori bahwa pengobatan pada
herpes zoster diberikan obat antivirus. Tiga antivirus oral yang disetujui Food Drug
Administration (FDA) untuk terapi herpes zoster adalah asiklovir, valsiklovir, dan
famsiklovir. Pasien dapat diberikan analgetik untuk mengatasi keluhan nyeri. Pasien
dengan nyeri ringan dapat diberikan NSAID (Ibuprofen, diklofenak, piroxicam) atau
analgetik non opioid (parasetamol, tramadol, asam mefenamat). Kadang-kadang
dibutuhkan opioid (kodein, morfin) untuk pasien dengan nyeri hebat. 1 Selama fase akut
dapat diberikan kompres dingin, losition kalamin, atau baking soda untuk meringankan
keluhan lokal dan mempercepat pengeringan lesi.2 Pada pasien dengan kemungkinan
neuralgia pasca herpes zoster dapat diberikan Antidepresan dan antikonvulsan.3
Kortikosteroid diberikan apabila terjadi sindrom Ramsay-Hunt yang ditandai dengan erupsi
kulit timbul diliang telinga luar atau membran timpani, parese nervus fasialis, gangguan
pengecapan 2/3 bagian depan lidah, tinitus, vertigo, dan gangguan pendengaran.1,3
Herpes zoster dapat menimbulkan komplikasi dan ini penting untuk disampaikan
kepada pasien. Komplikasi herpes zoster yang paling utama dan sering terjadi adalah adalah
neuralgia pasca herpetik (NPH), yaitu nyeri yang menetap pada dermatom yang terkena
setelah erupsi herpes zoster menghilang. Komplikasi lainnya adalah bacterial
superinfection, skar, sensory loss, kelainan pada mata jika terjadi herpes zoster oftalmikus,
paralisis motorik. 1,2
Prognosis herpes zoster adalah baik. Secara klinis, kondisi pasien tidak terdapat
risiko yang dapat mengancam jiwa sehingga prognosis quo ad vitam adalah bonam. Herpes
zoster merupakan penyakit yang menular namun apabila lesi semua menghilang maka
jarang residif sehingga quo ad sanationam adalah bonam. Lesi yang timbul akan membaik
seiring penyembuhan penyakit sehingga quo ad kosmeticam adalah bonam.
BAB 4
PENUTUP

4.1 Ringkasan
Telah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, diagnosis, dan penatalaksanaan pada
pasien dengan identitas Tn. LJ dengan usia 67 tahun yang datang dibawa keluarganya ke
Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda dengan keluhan
utama keropeng berarir yang disertai rasa nyeri di daerah wajah, di bawah mata kanan sejak
4 hari yang lalu. Keluhan awalnya berbentuk gelembung-gelembung berisi cairan,
gelembung lalu menjadi keropeng. Keluhan ini tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain.
Keluhan disertai nyeri di wajah yang menjalar ke kepala dan leher, nyeri dirasakan terus
menerus seperti rasa di tusuk. Selain itu pasien juga mengeluhkan rasa tidak enak di badan
dan lemas. Pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap pasien didapatkan rash di daerah
wajah, bawah mata kanan dan tidak melewati garis tengah tubuh dengan efloresensi makula
eritema, erosi, serta krusta berwarna kuning hingga kecoklatan, lesi berkerumun
(herpetiformis), dan memiliki distribusi unilateral serta dermatomal. Setelah melakukan
anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosis herpes zoster. Pasien lalu diberikan
asiklovir 5x800 mg per oral selama 7 hari, asam mefenamat 3x500 mg, dan kompres
dengan Nacl 0,9%, selain itu pasien dan keluarga juga mendapat edukasi mengenai herpes
zoster.

4.2 Saran
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Sehingga
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembimbing/konsulen
dan rekan sejawat sekalian.
Daftar Pustaka

1. Pusponegoro, EHD. 2018. Herpes zoster dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi
7. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, hal. 121-124
2. Wolf K, Goldsmith LA, Freedberg IM, Kazt SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ.
2008. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. Edisi 7. New York: Mc Graw-
Hill. 1885-1936.
3. PERDOSKI. 2017. Panduan Praktik Klinik. Jakarta: PP PERDOSKI.
4. Aisyah, S. Handoko, RP. 2018. Varisela dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi
7. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Hal 128-131
5. Sularsito, SA., Soebaryo, RW. 2018. Dermatitis Kontak dalam Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin edisi 7. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Hal 159
6. Novianto A, Agusni I. (Blister Beetle Dermatitis). :3.
7. Pierce,J.W., Rittman, B., & Raybould, J.E. 2018. Case report: Paederus Dermatitis in
the Returning traveler. American Journal of Tropical Medicine and Hygiene, 98 (5),
1523-1525
8. Djuanda, A. 2018. Pioderma dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi 7. Jakarta:
Balai Penerbit FK UI. Hal 72-73
Habis minum obat dari urologi, obat selama 30 hari (harnal), udah 22 obatnya di minum, timbul
bintil. 3 hari yg lalu muncul gelembung2 berisi cairan (bintil2), terus pecah. Gatal. Di tempat lain
ga ada. tapi nyeri.
Matanya ada bergelembung gak? Matanya ada keluar air-air.
Ga ada demam. Ada meriang? (-). Kulit di mukanya ada nyeri? Ada
Di badan ada gak? Ga ada. Ayo liat betul2 ini khas sekali
Ada di oles2 sesuatu? Ga ada, ada nya di kasi buat mata obat tetes.
Krn memang bukan matanya yg utama, kulitnya
Itu kan khas tuh, itu ada krusta krustanya
Tanya bapaknya apa yg dikeluhkannnya, gatal kah sakit kah?
Gak gatal, sakit di leher sampe di kepala.
Ini herpes zoster. Ini kan khas sekali hanya sisi wajah kanan saja yang kena dan komplikasi pada
herpes zooster di wajah, itu biasa dia cephalgia.
Ini kan bapaknya khas ini, nyerinya di situ menjalar ke leher, ke kepala, itu sermatom nya.
Nanti pak ini nanti bisa muncul di bagian leher gelembung2 lenting kaya kemaren. Tapi gausah
takut nanti di kompres dulu yang banyak keropengnya yang ber air itu. Nanti ada kain kasa ada air
kaya infus.
Gapapa ini kan penyebabnya virus, nanti 2 hari ini di kompres, kain kasanya di bahasi pake air
infus, lalu agak di peras jangan sampe kering, lembab2 lipat dua tempel di bagian yang berair. Yang
hidung yang berair yang lepuh2, tempel aja tekan biarkan 15 menit, setelah 15 menit di buang, jarak
4 jam kemudian di ulang lagi tiap 4 jam. Tapi di tempel hanya 15 mnit. Kecuali tidur malam ga
usah di kompres. Lakuakn selam 2 ha ri ini . ini kan hari senin, jadi kompres sampe hari rabu. Hari
ketiga nanti mulai hari kamis pagi kompres d stop di ganti jadi salep 2x sehari, pagi sore pagi sore
tiap habis mandi oles salep . nanti ada obat yang di minum 5x sehari minumnya tiap 4 jam sekali
minum 2 tablet langsung di telan. Yang perlu di ingat adalah cara kompres itu jangan sampe salah.
Karna kalau salah hancur nanti kulitnya. Kering. Tujuan kita mengompres itu untuk supaya kulitnya
bersih merahnya berkurang sehingga obat salep nya bisa di serap dengan baik di kulitnya, kalau
merah2 gini di pakein salep ga ada gunanya ga masuk obanya krn banyak kotoran di kulitnya.
Bukan ini virus, jadi ini adalah kelanjutan penyakit cacar air yg pernah di derita saat dulu. Nah
semua org yg pernah kena cacar air, itu virusnya gak hilang, sembunyi dia di sistem syaraf, nanti
suatu saat saat kita sudah tua saat daya tahan tubuh kita sedang turun ataun saat kita lagi sakit.
virusnya bisa keluar lagi dari syaraf muncul di kulit. Hanya bedanya kalau dia muncul setelah
dewasa dia hanya muncul di sebagian tubuh di sebelah badan saja. Yg perlu di ingat juga nanti
kalau kulitny sudah sembuh, itu bisa saja rasa nyerinya menetap, ada org yg smape hitungan
bulan, bahnkan ada yg tahunan tetap merasa, panas2 kaya kena cabe dis entuh aja sakit, itu normal
memnag begitulah perjalnan penyakitnya. Jadi selama masih merasa skait, bapak boleh kontrol
kesini ambil obat nyeri.
Konsul mata. Ini pasti nyeri saya kais obat nyeri juga, minum 3x sehari setelah makan.
Mau op prostat, sebenernya ga kenapa2,
Dia memang cepat munculnya.
Dosis obatnya jgn di kurangi ya jadi tiap minum 2 tablet, di minum tiap 4 jam, di minum
seminggu.
Ga ada pantangan, mandi pake sabun bayi batangan, muka juga harus di sabuni pake sabun bayi
batangan, tdk boleh gk kena air, harus kena air, harus di sabuni krn kalau ga di sabuni nanti
infeksi nanti bernanah nanti lebih susah lahi kita
Dengan meningkatnya waktu setelah infeksi virus varicella, ada penurunan tingkat
kekebalan sel T terhadap virus varisella zoster. Orang dengan riwayat keluarga menderita herpes
zoster akan lebih besar terkena herpes zoster daripada orang yang tidak ada riwayat keluarga herpes
zoster. Varisela yang terjadi saat dalam masa kandungan atau awal masa kanak-kanak, dimana
ketika sistem kekebalan selular tidak sepenuhnya matang, berhubungan dengan herpes zoster di
masa kanak-kanak.2 Risiko terjadinya herpes zoster sama untuk perempuan dan laki-laki.5