Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN KRITIS

DENGAN SEPSIS DI RUANGAN OBSERVASI EMERGENCY (ROE)

RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

Disusun Oleh :
SEPITA YAMADELLA SAPUTRI
17029

AKADEMI KEPERAWATAN
GIRI SATRIA HUSADA WONOGIRI
2020
A. KONSEP MEDIS
1. DEFINISI
Sepsis adalah suatu keadaan ketika mikroorganisme menginvasi
tubuh dan menyebabkan respon inflamasi sitemik. Respon yang
ditimbulkan sering menyebabkan penurunan perfusi organ dan disfungsi
organ. Jika disertai dengan hipotensi maka dinamakan Syok sepsis. ( Linda
D.U,2006) Syok septic adalah suatu bentuk syok yang menyebar dan
vasogenik yang dicirikan oleh adanya penurunan daya tahan vaskuler
sistemik serta adanya penyebaran yang tidak normal dari volume vaskuler
(brunner & suddarth, vol 3 edisi 8 2002)
Syok septic adalah infasi aliran darah oleh beberapa organisme
mempunyai potensi untuk menyebabkan reaksi pejamu umum toksin ini.
hasilnya adalah keadaan ketidakadekuatan perfusi jaringan yang
mengancam kehidupan (brunner & suddarth, vol 3 edisi 8 2002). Menurut
M.A Handerson (1992) Syok septic adalah syok akibat infeksi
berat,dimana sejumlah besar toksin memasuki peredaran darah. E. colli
merupakan kumanyang sering menyebabkan syok ini.Syok septik adalah
syok yang disebabkan oleh infeksi yang menyebar luasyang merupakan
bentuk paling umum syok distributif. Pada kasus trauma, syok septic dapat
terjadi bila pasien datang terlambat beberapa jam ke rumah sakit. Syok
septic terutama terjadi pada pasien-pasien dengan luka tembus abdomen
dan kontaminasi rongga peritonium dengan isi usus.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa syok septic adalah infasi aliran
darah oleh beberapa organisme mempunyai potensi untuk menyebabkan
reaksi pejamu umumtoksin. Hasilnya adalah keadaan ketidak adekuatan
perfusi jaringan yang mengancam kehidupan.

2. MANIFESTASI KLINIS
Syok sepsis terjadi dalam dua fase yang berbeda :
a. Fase pertama disebut sebagai fase hangat (Hiperdinamik)
1) Hipotensi

1
2) Takikardi
3) Takipnea
4) Alkalosis respiratorik
5) Curah jantung (CJ) tinggi dengan TVS (Tahanan Vaskuler
Sistemik) rendah.
6) Kulit dingin, pucat
7) Hipertermia=hipotermia
8) Perubahan status mental
9) Poliuria
10) SDP meningkat
11) Hiperglikemia
b. Fase lanjut disebut fase dingin (hipodinamik)
1) Hipotensi
2) Takikardia
3) Takipnea
4) Asidosis metabolic
5) CJ rendah dengan TVS tinggi
6) Kulit hangat, kemerahan
7) Hipotermia
8) Status mental memburuk
9) Disfungsi organ dan selular (spt, ARDS, KIT, oliguria)
10) SDP menurun, dan hipoglisemia

3. ETIOLOGI
Mikroorganisme dari syok septic adalah bakteri gram-negatif.
Namun demikian, agen infeksius lain seperti bakteri gram positif dan virus
juga dapat menyebabkan syok septic. (brunner & suddarth, vol 3 edisi 8
2002).
a. Infeksi bakteri aerobik dan anaerobic
1) Gram negatif seperti : echericia coli, kebsiella sp, pseudomonas sp,
bacteroides sp, dan proteus sp.

2
2) Gram positif seperti : Stafilokokus, Streptokokus dan
pneumokokus.
b. Infeksi viral, fungal,dan riketsia
c. Kerusakan jaringan , yang dapat menyababkan kegagalan penggunaan
oksigen sehingga menyebabkan MOSF.
d. Pertolongan persalinan yang tidak heginis pada partus lama.

4. PATOFISIOLOGI
Infeksi sistemik yang terjadi biasanya karena kuman gram negatif yang
menyebabkan kolaps kardiovaskuler. Endotoksin basil gram negatif ini
menyebabkan vasodilatasi kapiler dan terbukanya hubungan pintas
arteriovena perifer. Selain itu, terjadi peningkatan permeabilitas kapiler.
Meningkatan kapasitas vaskuler karena vasodilatasi perifer menyebabkan
terjadinya hipovolemia relatif, sedangkan peningkatan peningkatan
permeabilitas kapiler menyebabkan kehilangan cairan intravaskuler ke
intertisial yang terlihat sebagai udem. Pada syok septik hipoksia, sel yang
terjadi tidak disebabkan oleh penurunan perfusi jaringan melainkan karena
ketidakmampuan sel untuk menggunakan oksigen karena toksin kuman.
gejaala syok septik yang mengalami hipovolemia sukar dibedakan dengan
syok hipovolemia (takikardia, vasokonstriksi perifer, produksi urin < 0.5
cc/kg/jam, tekanan darah sistolik turun dan menyempitnya tekanan nadi).
Pasien-pasien sepsis dengan volume intravaskuler normal atau hampir
normal, mempunyai gejala takikaridia, kulit hangat, tekanan sistolik
hampir normal, dan tekanan nadi yang melebar.

3
5. PATHWAY

4
6. KOMPLIKASI
a. Meningitis
b. Hipoglikemi
c. Aasidosis
d. Gagal ginjal
e. Disfungsi miokard
f. Perdarahan intra cranial
g. Icterus
h. Gagal hati
i. Disfungsi system saraf pusat
j. Kematian
k. Sindrom distress pernapasan dewasa (ARDS)

7. PENATALAKSANAAN
a. Medis
Pengobatan terbaru syok septic mencakup mengidentifikasi dan
mengeliminasi penyebab infeksi. Pengumpulan specimen urin, darah,
sputum dan drainase luka dilakukan dengan teknik aseptic. Antibioktik
spectrum luas diberikan sebelum menerima laporan sensitifitas dan
kultur untuk meningkatkan ketahanan hidup pasien (Roach 1998)
Preparat sefalosporin ditambah amino glikosida diresepkan pada
awalnya. Kombinasi ini akan memberikan cangkupan antibiotic
sebagaian organism gram negative dan beberapa gram positif. Saat
laporan sensitifitas dan kultur tiba, antibiotik diganti dengan antibiotic
yang secra lebih spesifik ditargetkan pada organisme penginfeksi dan
kurang toksin untuk pasien. Setiap rute infeksi yang potensial harus di
singkirkan seperti : jalur intravena dan kateter urin. Setiap abses harus
dialirkan dan area nekrotik dilakukan debridemen. Dukungan nutrisi
sangat diperlukan dalam semua klasifikasi syok. Oleh karena itu
suplemen nutrisi menjadi penting dalam penatalaksanaan syok septic.
Suplemen tinggi protein harus diberikan 4 hari dari awitan syok.

5
Pemberian makan entral lebih dipilih daripada parenteral kecuali
terjadi penurunan perfusi kesaluran gastrointestinal.
b. Keperawatan
1) Perawat harus sangat mengingat resiko sepsis dan tingginya
mortalitas yang berkaitan dengan syok septic.
2) Semua prosedur invasive harus dilakukan dengan teknik
aseptic yang tepat,
3) Selain itu jalur intravena, insisi bedah, luka trauma, kateter urin
dan luka dekubitus dipantau terhadap tanda1tanda infeksi.
4) Perawat berkolaborasi dengan anggota tim perawat lain.
5) Perawat memantau pasien dengan ketat terhadap reaksi
menggigil yang lebih lanjut
6) Perawat memberikan cairan intravena dan obat-obatan yang
diresepkan termasuk antibiotic untuk memulihkan volume
vaskular.

8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pengobatan terbaru syok sepsis mencakup mengidentifikasi dan
mengeliminasi penyebab infeksi yaitu dengan cara pemeriksaan-
pemeriksaan yang antara lain :
a. Kultur (luka, sputum, urin, darah) yaitu untuk mengidentifikasi
organism penyebab sepsis. Sensitifitas menentukan pilihan obat
yang paling efektif.
b. SDP : Ht mungkin meningkat pada status hipovolemik karena
hemokonsentrasi. Leukopenia (penurunan SDp : terjadi
sebalumnya, diikuti oleh pengulangan leukositosis (1500-3000)
dengan peningkatan pita (berpindah kekiri) yang
mengindikasikan produksi SDP tak matur dalam jumlah besar.
c. Elektrolit serum : Berbagai ketidakseimbangan mungkin terjadi
dan menyebabkan asidosis, perpindahan cairan dan perubahan
fungsi ginjal.

6
d. Trombosit : penurunan kadar dapat terjadi karena agegrasi
trombosit
e. PT/PTT : mungkin memanjang mengindikasikan koagulopati
yang diasosiasikan dengan hati/sirkulasi toksin/status syok.
f. Laktat serum : meningkat dalam asidosis metabolik, disfungsi
hati, syok
g. Glukosa Serum : hiperglikenmio yang terjadi menunjukkan
glikoneogenesis dan glikonolisis di dalam hati sebagai respon
dari puasa/perubahan seluler dalam metabolism
h. BUN/kreatinin : peningkatan kadar diasosiasikan dengan
dehidrasi, ketidakseimbangan atau kegagalan ginjal, dan
disfungsi atau kegagalan hati.
i. GDA/ alkalosis respiratosi dan hipoksemia dapat terjadi
sebelumnya. Dalam tahap lanjut hipoksemia, asidosis
respiratorik dan asidosis metabolik terjadi karena kegagalan
mekanisme kompensasi
j. EKG : dapat menunjukkan segmen ST dan gelombang T dan
distritmia menyerupai infark miokard.
Gambaran Hasil Laboratorium
a. WBC > 12.ooo/mm3 atau <4.000/mm3 atau 10% bentuk
immature
b. Hiperglikemia >120 mh/dl
c. peningkatan plasma c-reaktif protein
d. Peningkatan plasma procalcitonin.
e. Serum laktat > 1 mmol/l
f. Creatinin > 0,5 mg/dl
g. INR > 1,5
h. APTT > 60
i. Trombosit < 100.000/mm3
j. Total bilirubin > 4mg/dl
k. Biakan darah, urine, sputum hasil positif.

7
B. KONSEP KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Pengkajian Primer
Pengkajian dilakukan secara cepat dan sistemik, antara lain :
1) Airway :
a. yakinkan kepatenan jalan napas
b. berikan alat bantu napas jika perlu (guedel atau
nasopharyngeal)
c. jika terjdi penurunan fungsi pernapasan segera kontak ahli
anestesi dan bada, segera mungkin ke ICUL.
b. Breathing : Ekspos dada, evaluasi pernafasan
a) KAD : Pernafasan kussmaul, kaji pernafasan
b) HONK : Tidak ada pernafasan kussmaul (cepat dan dalam)
c) Oksigenasi : kanula, tube, mask
c. Circulation
a) Tanda gejala schok
b) Resusitasi : kristaloid, koloid, akses vena.
c) Kaji denyut jantung
d) Monitoring tekanan darah
d. Disability
a) A : Allert : sadar penuh, respon bagus
b) V : Voice Respon : kesadaran menurun, berespon terhadap
suara
c) P : pain respons : kesadaran menurun, tidak berespon
terhadap suara, berespon terhadap rangsangan nyeri
d) U : Unresponsive : kesadaran menurun . tidak berespon
terhadap suara, tidak berespon terhadap nyer
e) Exposure
Jika sumber infeksi tidak diketahui, cari adanya cidera, luka dan
tempat suntikan dan tempat sumber infeksi lainnya.

8
b. Pengkajian Sekunder
Pemeriksaan sekunder dilakukan setelah memberikan pertolongan
atau penenganan pada pemeriksaan primer. Pemeriksaan sekunder
meliputi :
1) AMPLE : alergi, medication, past illness, last meal, event
2) Pemeriksaan seluruh tubuh : Head to toe
3) Pemeriksaan penunjang : lebih detail, evaluasi ulang
Pemeriksaan diagnostic
a) tes toleransi glukosa (TTG) memanjang (lebih besar dari
200mg/dl). Biasanya, tes ini dianjurkan untuk pasien yang
menunjukkan kadar glukosa meningkat dibawah kondisi
stress.
b) gula darah puasa normal atau diatas normal.
c) Essei hemoglobin glikolisat diatas rentang normal
d) Urinalisis positif terhadap glukosa dan keton.
e) Kolesterol dan kadar trigliserida serum dapat meningkat
menandakan ketidakadekuatan kontrol glikemik dan
peningkatan propensitas pada terjadinya aterosklerosis.
2. Anamnese
a. Keluhan Utama
b. Riwayat kesehatan sekarang
c. Riwayat kesehatan dahulu.
d. Riwayat kesehatan keluarga
e. Riwayat psikososial.

3. Diagnosa
a. Kekurangan volume cairan b.d kegagalan mekanisme regulasi
b. intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen
c. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi

9
4. Intervensi
No Diagnosa Tujuan Intervensi
1. Kekurangan Setelah dilakukan tindakan Fluid management
volume cairan keperawatan selama ... x24 -perthankan catatan intake dan output
jam .
Batasan cairan
pasien akan :
karakteristik : - Mempertahankan urine -monitor status hidrasi
-perubahan status output sesuai usia , BB -monitor vital sign
mental - Vital sign batas nrmal -monitor masukan makanan/cairan
-penurunan TD - Tidak ada tanda dehidrasi -monitor status nutrisi
-penurunan HR Elastisitas turgr kulit baik, -dorong keluarga untuk membantu pasien
-perubahan turgor mukosa lembab. makan
kulit -kolaborasi denagn dokter
Faktor yang Hypovolemia management
berhubungan ; -monitor statius cairan termasuk intake
-kehilangan output
volume aktif -pelihara IV line
-kegagalan -monitor tingkat HB dan Hematokrit
mekanisme -monitor vital sign
regulasi
-monitor adanya tanda gejala gagal ginjal
2 intoleransi aktivitas Setelah dilakukan tindakan Activity terapy
berhubungan keperawatan selama ... x24 - kaji hal-hal yang mampu dilakukan
ketidakseimbangan jam . klien.
antara suplai dan pasien akan : - bantu klien memenuhi kebutuhan
kebutuhan - berpartisipasi dalam aktivitasnya sesuai dengan tingkat
oksigen aktivitas fisik tanpa disertai keterbatasan klien
peningkatan - beri penjelasan tentang hal1hal yang
tekanan darah nadi dan dapat membantu dan meningkatkan
respirasi
- mampu melakukan kekuatan fisik klien.
aktivitas - Libatkan keluarga dalam pemenuhan
Sehari-hari secara mandiri ADL klien
- ttv dalam rentang normal - Jelaskan pada keluarga dan klien
- Status sirkulasi baik tentang pentingnya bedrest ditempat
-Dapat mentoleransi tidur..
aktivitas dan tidak ada

10
kelelahan.
3 Hipertermi Setelah dilakukan tindakan Fever treatment :
berhubungan keperawatan selama ... x24 -observasi tanda1tanda vital tiap 3 jam
dengan proses jam . -beri kompres hangat pada bagian lipatan
infeksi pasien akan : tubuh ( paha dan aksila)
- Suhu tubuh dalam rentang - monitor intake dan output
normal - monitor karna dan suhu kulit
- tidak ada perubahan karna - berikan obat anti piretik
kulit temperature Regulation
dan tidak ada pusing - beri banyak minum 8 gelas)
- nadi dan respirasi dalam normal sedikit tapi sering
rentang normal - ganti pakaian klien dengan bahan tipis
menyerap kringat

11
DAFTAR PUSTAKA

Guyton, Arthur C. 1997. Buku Ajar Fisiologi kedoteran. Jakarta: EGC.


Judith M. Bilkinson. & Nancy R. Ahern,(2012), Diagnosa keperawatan nanda
NIC NOC, Jakarta, EGC
Nurarif, Amin Huda & Kusuma, Hardhi, (2013), Aplikasi Asuhan Keperawatan
NANDA NIC NOC, Jakarta, Medi Action Publishing.
Hudak, Carolyn M. 1996. keperawatan kritis. Jakarta : EGC.
Price, Sylvia A. 1995. Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit. Jakarta
: EGC.
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku ajar keperawatan medikal bedah. Jakarta : EGC
Setyohadi ,bambang dkk.(2006), buku ajar penyakit dalam .Jakarta . fakultas
kedokteran UI.
Prof Dr. H.Rab.tabirin .(1998), Agenda Gawat Draurat ,Bandung. PT Alumni.

12

Anda mungkin juga menyukai