Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

NEGARA DAN KONSTITUSI

MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN (MPK)

Penyusun :

Kelompok 6

R.A. Bayu Putra Tanelvi 04091401006

Anna Karenina Permatasari Boer 04091401015

Rininta Fatma Sazamita 04091401024

Revan Satrio 04091401034

Kesavan Chandrasekar 04091401078

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UMUM

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

PALEMBANG

2012
KATA PENGANTAR

Kami bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Kami membuat
makalah ini dalam rangka membahas mengenai Negara dan Konstitusi di Indonesia.
Makalah ini kami buat dengan menggunakan studi pustaka yang berhubungan
dengan negara dan konstitusi serta amandemen Undang-undang Dasar 1945 yang
pernah terjadi.
Selama proses pembuatan makalah ini, kami sangat berterima kasih atas
bantuan dari orang-orang di sekitar kami. Kami berterima kasih kepada ibu Dra. Sani
Safitri, M.Si selaku dosen mata kuliah Pendidikan Kewarnegaraan. Kami juga
berterima kasih kepada teman-teman membantu memberi ide kepada kami.
Kami juga berterima kasih kepada orang-orang hebat yang telah menulis data
ataupun artikel, di mana tulisan Anda sekalian kami jadikan referensi bagi karya
makalah kami ini. Makalah ini kami buat secara sistematis agar pembaca dapat
mengetahui sekilas tentang negara dan konstitusi.
Kami berharap agar pembaca dapat memperoleh informasi yang berguna bagi
kehidupan berbangsa dan bernegara. Kami sangat berharap agar pembaca
memperoleh banyak manfaat dari makalah ini. Kritik dan saran yang membangun
akan kami terima dengan senang hati.
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Reformasi menuntut dilakukannya amandemen atau mengubah UUD 1945
karena yang menjadi causa prima penyebab tragedi nasional mulai dari gagalnya
suksesi kepemimpinan yang berlanjut kepada krisis sosial-politik, bobroknya
managemen negara yang mereproduksi KKN, hancurnya nilai-nilai rasa keadilan
rakyat dan tidak adanya kepastian hukum akibat telah dikooptasi kekuasaan adalah
UUD Republik Indonesia 1945. Itu terjadi karena fundamen ketatanegaraan yang
dibangun dalam UUD 1945 bukanlah bangunan yang demokratis yang secara jelas
dan tegas diatur dalam pasal-pasal dan juga terlalu menyerahkan sepenuhnya
jalannya proses pemerintahan kepada penyelenggara negara. Akibatnya dalam
penerapannya kemudian bergantung pada penafsiran siapa yang berkuasalah yang
lebih banyak untuk legitimasi dan kepentingan kekuasaannya. Dari dua kali
kepemimpinan nasional rezim orde lama (1959 – 1966) dan orde baru (1966 – 1998)
telah membuktikan hal itu, sehingga siapapun yang berkuasa dengan masih
menggunakan UUD yang all size itu akan berperilaku sama dengan penguasa
sebelumnya.
Keberadaan UUD 1945 yang selama ini disakralkan, dan tidak boleh diubah
kini telah mengalami beberapa perubahan. Tuntutan perubahan terhadap UUD 1945
itu pada hakekatnya merupakan tuntutan bagi adanya penataan ulang terhadap
kehidupan berbangsa dan bernegara. Atau dengan kata lain sebagai upaya memulai
“kontrak sosial” baru antara warga negara dengan negara menuju apa yang dicita-
citakan bersama yang dituangkan dalam sebuah peraturan dasar (konstitusi).
Perubahan konstitusi ini menginginkan pula adanya perubahan sistem dan kondisi
negara yang otoritarian menuju kearah sistem yang demokratis dengan relasi
lembaga negara yang seimbang. Dengan demikian perubahan konstititusi menjadi
suatu agenda yang tidak bisa diabaikan. Hal ini menjadi suatu keharusan dan amat
menentukan bagi jalannya demokratisasi suatu bangsa.
Realitas yang berkembang kemudian memang telah menunjukkan adanya
komitmen bersama dalam setiap elemen masyarakat untuk mengamandemen UUD
1945. Bagaimana cara mewujudkan komitmen itu dan siapa yang berwenang
melakukannya serta dalam situasi seperti apa perubahan itu terjadi, menjadikan suatu
bagian yang menarik dan terpenting dari proses perubahan konstitusi itu. Karena dari
sini akan dapat terlihat apakah hasil dicapai telah merepresentasikan kehendak warga
masyarakat, dan apakah telah menentukan bagi pembentukan wajah Indonesia
kedepan. Wajah Indonesia yang demokratis dan pluralistis, sesuai dengan nilai
keadilan sosial, kesejahteraan rakyat dan kemanusiaan.
Dengan melihat kembali dari hasil-hasil perubahan itu, kita akan dapat dinilai
apakah rumusan-rumusan perubahan yang dihasilkan memang dapat dikatakan lebih
baik dan sempurna. Dalam artian, sampai sejauh mana rumusan perubahan itu telah
mencerminkan kehendak bersama. Perubahan yang menjadi kerangka dasar dan
sangat berarti bagi perubahan-perubahan selanjutnya. Sebab dapat dikatakan
konstitusi menjadi monumen sukses atas keberhasilan sebuah perubahan.

Tujuan Penulisan
 Untuk mengetahui pengertian dari negara.
 Untuk mengetahui hubungan antara negara dan konstitusi.
 Untuk mengetahui keberadaan Pancasila dan konstitusi di Indonesia.

Manfaat Penulisan
 Menambah pengetahuan kita tentang pengertian suatu negara.
 Menambah wawasan kita tentang pengertian konstitusi.
 Kita menjadi tahu bagaimana hubungan antara negara dan konstitusi.
 Kita tahu keberadaan Pancasila dan konstitusi di negara kita.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Negara dan Konstitusi


1. Pengertian Negara
Negara adalah suatu organisasi dari sekelompok atau beberapa kelompok
manusia yang bersama-sama mendiami atau wilayah tertentu dan mengakui
adanya satu pemerintahan yang mengurus tata tertib serta kelamatan sekelompok
atau beberapa kelompok manusia tersebut (Supriatnoko, 2008).
Negara adalah suatu bentuk pergaulan hidup tertentu yang harus memenuhi
tiga syarat pokok, rakyat tertentu, daerah tertentu, dan pemerintahan yang
berdaulat (M. Nasrun, 1978).
Negara adalah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada
dibawah suatu pemerintahan yang sama (Djokosutono, 1982).
Tiga pokok pengertian yang terkandung didalamnya, yaitu: pertama, Negara
adalah organisasi kelompok manusia, kedua, organisasi kelompok manusia itu
mendiami wilayah tertentu, dan ketiga, kelompok manusia itu mengakui adanya
pemerintahan yang berdaulat untuk mengurus tata tertib dan keselamatannya.
Berdasarkan ketiga pokok pengertian tersebut, maka Negara pada hakikat
memiliki unsur-unsur berikut :
1. Wilayah, yaitu daerah yang menjadi kekuasaan negara serta menjadi
tempat tinggal bagi rakyatnya yang meliputi darat, laut, dan udara.
2. Rakyat, yaitu penduduk yang bertempat tinggal di wilayah suatu negara,
tunduk pada kekuasaan negar, dan mendukung negara yang bersangkutan.
3. Pemerintah, yaitu suatu organisasi yang bertindak atas nama negara dan
menyelenggarakan kekuasaan negara. Pemerintah berwenang untuk
merumuskan dan melaksanakan keputusan-keputusan yang mengikat
seluruh penduduk di dalam wilayahnya.
4. Kedaulatan, yaitu kekuasaan untuk membuat undang-undang dan
melaksanakannya dengan cara yang tersedia. Negara memiliki kekuasaan
untuk memaksa penduduknya menaati undang-undang dan peraturannya
baik kedalam maupun kedaulatan keluar. Untuk itu negara menuntut
loyalitas mutlak dari warga negaranyanya

Berdasarkan uraian diatas maka unsur Negara dapat dikelompokkan menjadi :


1. Konstitutif, yang berarti bahwa di dalam negara tersebut terdapat wilayah,
rakyat, dan pemerintahan yang berdaulat.
2. Deklaratif, yang ditandai oleh adanya tujuan Negara, undang-undang dasar,
dan pengakuan dari Negara lain atau masuk dalam perhimpunan bangsa-
bangsa.

Negara Kesatuan Republik Indonesia didirikan berdasarkan UUD 1945 yang


mengatur tentang kewajiban negara terhadap warganya, hak dan kewajiban warga
negara terhadap negaranya dalam suatu sistem kenegaraan. Kewajiban negara
terhadap warganya pada dasarnya adalah memberikan kesejahteraan hidup dan
keamanan lahir batin sesuai dengan sistem demokrasi yang dianutnya.
Implikasi perkembangan teori kenegaraan dalam proses terjadinya Negara
Kesatuan Republik Indonesia dapat kita lihat pada hal berikut ini :
Pertama. Ternyadinya Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan suatu
proses yang tidak sekedar dimulai dari proklamasi. Perjuangan kemerdekaan
mempunyai peran khusus dalam pembentukan ide-ide dasar.
Kedua. Proklamasi baru mengantar bangsa Indonesia sampai ke pintu gerbang
kemerdekaan. Adanya proklamasi tidak berarti bahwa kita telah selesai bernegara.
Ketiga. Keadaan bernegara yang kita cita-citakan belum tercapai hanya dengan
adanya pemerintahan, wilayah, dan bangsa, melainkan harus kita isi kemerdekaan
untuk menuju keadaan yang nerdeka, berdaulat, bersatu, adil dan makmur.
Keempat. Ternyadinya negara adalah kehendak seluruh bangsa, bukan sekedar
keinginan golongan yang kaya dan yang pandai atau golongan ekonomi yang
lemah yang menentang ekonomi yang kuat seperti dalam teori kelas.
Kelima. Religius yang tampak pada terjadinya negara menunjukkan kepercayaan
bangsa Indonesia Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2. Fungsi Negara
 Menjaga ketertiban untuk mencapai tujuan bersama dan mencegah berbagai
bentrokan dalam masyarakat, Negara bertinda sebagai stabilisator.
 Mengusahakan kesejateraan dan kemakmuran rakyat
 Mengusahakan pertahanan untuk menangkal kemungkinan serangan dari luar
 Menegakkan keadilan yang dilaksanankan oleh badan-badan peradilan.

3. Tujuan Negara
Tujuan negara berhubungan erat dengan organisasi negara yang bersangkutan.
Tujuan masing-masing negara sangat dipengaruhi oleh tata nilai sosial budaya,
kondisi geografis, sejarah pembentukan negara tersebut, serta pengaruh politik
dari pengusasa negara yang bersangkutan. Secara singkat tujuan negara adalah
menciptakan kesejahteraan, ketertiban dan ketentraman semua rakyat. Bagi
bangsa Indonesia tujuan itu dituangkan dalam Pembukaan Undang-undang Dasar
1945 alinea ke-empat, meliputi :
a. Membentuk suatu pemerintahan yang melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia
b. Memajukan kesejahteraan umum
c. Mencerdaskan kehidupan bangsa
d. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

4. Tujuh kunci pokok sistem pemerintahan Negara Republik Indonesia


a. Indonesia adalah Negara berdasarkan atas hukum
b. Pemerintahan berdasaran system konstitusional
c. Kekuaaan Negara yang tertinggi di tangan rakyat
d. Presiden ialah penyelenggara pemerintahan Negara tertinggi disamping
MPR dan DPR
e. Presiden tidak bertanggung jawab kepada MPR dan DPR
f. Menteri Negara ialah pembantu presiden dan tidak bertanggung jawab
kepada DPR
g. Kekuasaan kepala Negara tidak tak berbatas
5. Kelembagaan Negara Republik Indonesia
a. Majelis Permusyarawatan Rakyat (MPR)
MPR adalah lembaga Negara dalam sistem ketatanegaraan Republik
Indonesia yang terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD. Adapun tugas
dan wewenang MPR antara lain :
1. Mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar
2. Melantik Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan hasil Pemilihan
Umum
3. Memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa
jabatannya menurut Undang-Undang Dasar
4. Memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden
dalam hal terjadi kekosongan Wakil Presiden
5. Memilih Presiden dan Wakil Presiden dari dua pasangan calon Presiden
dan Wakil Presiden yang diusulkan oleh Partai Politik atau gabungan
Partai Politik yang meraih suara terbanyak pertama dan kedua dalam
Pemilihan Umum sebelumnya sampai berakhir masa jabatannya, jika
Presiden dan Wakil Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak
dapat melaksanakan kewajibannya dalam masa jabatan secara bersamaan.
b. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
Merupakan lembaga Negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia
sebagai lembaga perwakilan rakyat, dan memegang kekuasaan membentuk
Undang-Undang. DPR memiliki fungsi Legislasi, Anggaran, dan
Pengawasan. DPR terdiri atas anggota Partai Politik peserta pemilihan umum
yang dipilih langsung oleh rakyat.
 Legislasi
Fungsi legislasi dilaksanakan sebagai perwujudan DPR selaku pemegang
kekuasaan membentuk undang-undang.
 Anggaran
Fungsi anggaran dilaksanakan untuk membahas dan memberikan
persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap rancangan
undang-undang tentang APBN yang diajukan oleh Presiden.
 Pengawasan
Fungsi pengawasan dilaksanakan melalui pengawasan atas pelaksanaan
undang-undang dan APBN.

c. Dewan Perwakilan Daerah (DPD)


Dewan Perwakilan Daerah (DPD) adalah lembaga Negara dalam sistem
ketatanegaraan Republik Indonesia yang merupakan wakil-wakil daerah
provinsi dan dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum. DPD
memiliki fungsi :
 Mengajuan usul, ikut dalam pembahasan dan memberikan pertimbangan
yang berkaitan dengan bidang legislasi tertentu
 Mengawasi atas pelaksanaan Undang-Undang tertentu.

d. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)


Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) adalah lembaga Negara dalam sistem
ketatanegaraan Republik Indonesia yang mempunyai wewenang untuk
memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara. Badan
bersifat bebas dan mandiri, tidak dipengaruhi atau mempengaruhi kekuasaan
pemerintah. Tugas BPK antara lain :
1. Memeriksa laporan dan tanggung jawab keuangan Negara
2. Memeriksa semua pelaksanaan APBN

e. Mahkamah Agung (MA)


Mahkamah Agung (MA) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem
ketatanegaraan Indonesia yang merupakan pemegang kekuasaan kehakiman
bersama-sama dengan Mahkamah Konstitusi dan bebas dari pengaruh
cabang-cabang kekuasaan lainnya. Mahkamah Agung membawahi badan
peradilan dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama,
lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara

f. Mahkamah Konstitusi (MK)


Mahkamah Konstitusi (MK) adalah salah satu kekuasaan kehakiman yang
diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Kewajiban dan wewenang MK
adalah mengadili pada tingkat pertama dan terakhir dengan keputusan yang
bersifat final untuk :
a. Menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar 1945
b. Memutus sengketa kewenangan Lembaga Negara yang kewenangannya
diberikan oleh UUD 1945
c. Memutus pembubaran Partai Politik
d. Memutus perselisihan tentang hasil Pemilihan Umum.

g. Komisi Yudisial (KY)


Komisi Yudisial (KY) adalah lembaga negara yang bersifat mandiri dan
dalam pelaksanaan wewenangnya bebas dari campur tangan atau pengaruh
kekuasaan lainnya. KY memiliki wewenang untuk :
1. Mengusulkan pengangkatan Hakim Agung kepada DPR
2. Menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat serta menjaga perilaku
Hakim.
Tugas Komisi Yudisial
 Mengusulkan Pengangkatan Hakim Agung, dengan tugas utama:
1. Melakukan pendaftaran calon Hakim Agung;
2. Melakukan seleksi terhadap calon Hakim Agung;
3. Menetapkan calon Hakim Agung; dan
4. Mengajukan calon Hakim Agung ke DPR.
 Menjaga dan Menegakkan Kehormatan, Keluhuran Martabat Serta
Perilaku Hakim, dengan tugas utama:
1. Menerima laporan pengaduan masyarakat tentang perilaku hakim,
2. Melakukan pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran perilaku
hakim, dan
3. Membuat laporan hasil pemeriksaan berupa rekomendasi yang
disampaikan kepada Mahkamah Agung dan tindasannya
disampaikan kepada Presiden dan DPR.
h. Presiden dan Wakil Presiden
Presiden berfungsi sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Sebagai
kepala negara ia merupakan simbol resmi negara Indonesia di dunia, dan
sebagai kepala pemerintahan ia memegang kekuasaan eksekutif, untuk
melaksanakan tugas-tugas pemerintahan sehari-hari dibantu Menteri-Menteri
dalam Kabinet. Wakil Presiden secara umum memiliki tugas untuk
membantu Presiden dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, secara
khusus wakil Presiden memiliki tugas :
1. Memperhatikan secara khusus, menampung masalah-masalah dan
mengusahakan pemecahan masalah-masalah menyangkut tugas
kesejahteraan rakyat
2. Melakukan pengawasan operasional pembangunan dengan bantuan
kementrian atau departemen

6. Pengertian Konstitusi
Konstitusi bagi suatu negara adalah keseluruhan sistem aturan yang
menetapkan dan mengatur tata kehidupan kenegaraan melalui sistem
pemerintahan negara dan tata hubungan secara timbal balik antara pemerintahan
negara dan orang-seorang yang berada di bawah pemerintahannya
(Supriatnoko:2008).
Dalam kehidupan sehari-hari biasanya kita menerjemahkan kata Constitution
(Inggris) dengan Undang-Undang Dasar. Dalam pemakaian istilah Undang-
Undang Dasar biasanya kita langsung membayangkan suatu naskah tertulis,
karena semua Undang-Undang Dasar adalah suatu naskah tertulis padahal istilah
Constitution lebih luas mencakup keseluruhan peraturan baik yang tertulis
maupun tidak tertulis, yang mengatur secara mengikat cara suatu pemerintahan
diselenggarakan dalaam suatu masyarakat.
Konstitusi suatu negara memuat baik peraturan tertulis maupun peraturan
tidak tertulis. Konstitusi yang tertulis disebut Undang-Undang Dasar dan
konstitusi yang tidak tertulis disebut konvensi. Undang-Undang dasar suatu
negara adalah aturan-aturan pokok negara yang bersifat dasar dan belum
memiliki sanksi pemaksa atau sanksi pidana bagi penyelenggaranya. Konvensi
adalah aturan-aturan pokok negara yang timbul dan terpelihara dalam praktek
penyelenggaraan negara meskipun tidak tertulis.
Pada hakikatnya konstitusi itu mengandung pokok-pokok sebagai berikut :
1. Adanya jaminan terhadap hak asasi manusia dan warganya
2. Ditetapkan susunan ketatanegaran suatu negara yang bersifat fundamental
3. Adanya pembagian dan pembatasan tugas ketatanegaraan yang juga bersifat
fundamental

7. Sifat Konstitusi
Konstitusi bersifat formal yaitu bahwa prosedur pembuatan konstitusi yang
dilakukan harus secara istimewa karena isinya penting, menyangkut nasib
negara dan rakyat seluruhnya.
Bersifat material, bahwa isi konstitusi menyangkut hal-hal yang bersifat
dasar atau pokok bagi rakyat dan negara.
Bersifat fleksibel, konstitusi itu mudah mengikuti perkembangan jaman,
memuat hal-hal yang pokok, dan untuk mengubahnya tidak memerlukan
prosedur yang istimewa, cukup dilakukan oleh badan pembuat Undang-Undang
biasa.
Bersifat kaku (rigid), jika konstitusi itu tidak mudah mengikuti
perkembangan jaman, meuat hal-hal yang pokok dan pembuat konstitusi
menetapkan prosedur perubahan yang tidak mudah.
Perlu diketahui bahwa yang menentukan perlu atau tidaknya suatu konstitusi
diubah adalah kekuatan politik yang berkuasa pada suatu orde. Betapa kakunya
suatu konstitusi akan tetapi bila kekuatan politik yang berkuasa pada orde itu
menghendaki perubahan, maka konstitusi akan diubah. Sebaliknya, walaupun
konstitusi fleksibel tetapi jika kekuatan politik yang berkuasa tidak menghendaki
adanya perubahan, konstitusi tetap tidak akan berubah.
Fungsi pokok konstitusi atau Undang-Undang Dasar adalah membatasi
kekuasaan pemerintah sedemikian rupa sehingga penyelenggaraan kekuasaan
tidak bersifat sewenang-wenang. Dengan demikian diharapkan hak-hak warga
negara akan terlindungi. Dengan memperhatikan sifat dan fungsi konstitusi atau
Undang-Undang Dasar, setiap Undang-Undang Dasar memuat ketentuan-
ketentuan sebagai berikut :
a. Organisasi Negara, misalnya pembagian kekuasaan antar badan legislatif,
eksekutif, dan yudikatif.
b. Hak Asasi Manusia
c. Prosedur mengubah Undang-Undang Dasar
d. Ada kalanya memuat larangan untuk mengubah sifat tertentu dari
Undang-Undang Dasar
Meskipun Undang-Undang Dasar bukanlah merupakan salah satu syarat
untuk berdirinya suatu negara serta penyelenggaraan negara yang baik, dalam
perkembangan zaman modern dewasa ini Undang-Undang Dasar mutlak
diperlukan. Sebab dengan adanya Undang-Undang Dasar baik penguasa negara
maupun penguasanya dapat mengetahui aturan atau ketentuan yang pokok atau
mendasar mengenai ketatanegaraannya. Undang-Undang Dasar sebagai hokum
tertinggi harus ditaati baik oleh rakyat maupun oleh alat-alat perlengkapan
negara. Untuk menjamin agar ketentuan Undang-Undang Dasar benar-benar
diselenggarakan menurut jiwa dan kata-kata sesuai dengan naskah, maka setiap
negara membentuk lembaga / badan yang berwenang terhadap Undang-Undang
Dasar atau konstitusi. Di Indonesia lembaga yang berwenang adalah Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang terdiri dari anggota Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR) dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

B. Konstitusi pada Negara Republik Indonesia


Konsepsi konstitusi negara RI bersumber pada Undang – Undang Dasar
1945, dalam arti luas knstitusi Indonesia didasarkan pada Pancasila yang
tercantum pada Pembukaan UUD 1945, batang tubuh serta penjelasannya. Lebih
lanjut kemudian dijabarkan dalam berbagai prosuk peraturan perundangan yang
berlaku.
Undang – undang Dasar Negara republik Indonesia Tahun 1945 sebagai
sebuah konstitusi negara kita yang ditetapkan oleh para pendiri negara pada
tanggal 18 Agustus 1945 menunjukan bahwa negara Indonesia mengaut
konstitusionalisme, konsep negara hukum dan pinsip demokrasi. Sebagai hukum
dasar, Undang – undang Dasar 1945 bukan hanya merupakan dokumen hukum,
cita- cita, dan falsafah yang merupakan nilai – nilai luhur bangsa dan menjadi
landasan dalam menyelenggarakan negara.
Mekanisme demokrasi Pancasila tercantum dalam penjelasan UUD 1945 dan
dijabarkan lebih lanjut daalm sistem pemerintahan negara sebagai berikut :
1. Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum
2. Indonesia menggunakan sistem konstitusional
3. Kekuasaan negara yang tertiggi ada di tangan MPR
4. Presiden adalah penyelenggaraan pemerintahan negara dibawah Majelis
5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR
6. Menteri negara adalah pembantu presiden dan tidak bertanggung jawab
kepada DPR
7. Kekuasaan kepala negara tidak tak terbatas

C. AMANDEMEN ATAU PERUBAHAN KONSTITUSI


Pada awal era reformasai, berkembang dimasyarakat banyaknya tuntutan
yang didesakkan ole berbagai berbagai komponen bangsa termasuk mahasiswa
dan pemuda. Tuntutan itu antara lain sebagai berikut :
1. Amandemen UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945
2. Penhapusan doktrin dwifungsi ABRI
3. Penegakkan supremasi hukum, penghormatan hak asasi manusia, serta
pemberantasan KKN
4. Desentralisasi dan hubungan yang adil antar pusat dan daerah
5. Mewujudkan kebebasan pers
6. Mewujudkan kehidupan demokrasi

Tuntutan perubahan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang di


gulirkan beberapa kalangan masyarakt dan kekuatan sosial politik didasarkan
pada pandangan bahwa UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 belum
memuat landasan bagi kehidupan yang demokratis, pemberdayaan rakyat dan
penghormatan HAM. Selain itu di dalamnya terdapat pasal – pasal yang
menimbulkan multi tafsir dan membuka peluang bagi penyelenggaraan negara
yang otoriter, sentralistik, tertutup dan KKN yang memungkinkan pemerosotan
kehidupan nasisonal di berbgai kehidupa nasional.
Dalam pekrmbangan selanjutnya, tuntutan perubahan UUD Republik
Indonesia tahun 1945 menjadi kebutuhan bersama bangsa indonesia. Kemudian
tuntutan itu diwujudkan secara komprehensif, bertahap dan sistematis dalam
empat kali perubahan pada empat kali sidang MPR sejak tahun 1999 sampai
dengan tahun 2002. Perubahan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945
telah sesuai pasal 3 dan pasal 37 yang emnyatak MPR berwenang mengubah dan
menetapkan UUD dan untuk mengubah UUD sekurang – kurangnya 2/3 dari
jumlah anggota MPR harus hadir. Putusan diambi dalam persetujuan sekuran-
kurangnya 2/3 anggota yang hadir.
Perubahan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang dilakukan
MPR merupakan upaya penyempurnaan aturan dasar guna lebih memantapkan
usah pencapaian cita – cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 yang
tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Perubahan dilakukan secara bertahap
dan sistematis dalam empat kali perubahan yang merupakan satu rangkaian dan
satu sistem kesatuan. Perubahan pertama dilakukan pada siang umum MPR
tahun 1999, perubaha kedua pada sidang tahunan mpr tahun 2000, perubahan
ketiga pada sidang tahunan MPR tahun 2001, adn perubahan keempat pada
sidang tahunan MPR tahun 2002.
Tujuan perubahan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 adalah
untuk :
1. Menyempurnakan aturan dasar mengenai tatan negara dalam mencapai
tujuan nasional yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan
memperkokoh NKRI berdasarkan Pancasila
2. Menyempurnakan atauran dasar mengenai jamian dan pelaksanaan
kedaulatan rakyat serta memperluas partisipasi rakyat agar sesuai dengan
perkembngan paham demokrasi
3. Menyempurnakn aturan dasar mengenai jaminan dan perlindungan hak asasi
manusia dan peradaban umat manusia yang sekaligus syarat bagi suatu
negara hukum dicita – citakn oleh UUD 1945
4. Menyempurnakan aturan dasar mengenai penyelenggaraan negara secara
demoratis dan modern antara lain melalui pembagian kekuasaan yang lebih
tegas, sistem saling mengawasi dan saling megimbagi yang lebih ketat dan
transparan, pembentukan lembaga –lembaga negara yang baru untuk
mengakomodasi perkembangan kebutuhan bangsa dan tantangan zaman
5. Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan konstitusional dan
kewajiban negara mewujudkan kesajhteraan sosial, mencerdaskan
kehidupan bangsa, menegakkan etika moral dan solidaritas dalam
kehidupan bermasyarakt berbangsa dan bernegara sesuai dengan harkat dan
martabat kemanuisaan dalam perjuangan mewujudkan negara sejahtera
6. Melengkapi aturandasr yang sangat penting dalam penyelenggaran negara
bagi eksistensi negara dan perjuangan negara mewujudkan demokrasi
seperti pengaturan wilayah negara dan pemilihan umum
7. Menyempurnakan aturan dasar mengenai kehidupan bernegara dan
berbangsa sesuai dengan perkembangan aspirasi, kebutuhan serta
kepentingan bangsa dan negara Indonesia dewasa in sekaligus
mengakomodasi kecendrungan untuk kurun waktu yang akan datang

D. Hubungan Negara Dengan Konstitusi


Berhubungan sangat erat, konstitusi lahir merupakan usaha untuk
melaksanakan dasar negara. Dasar negara memuat norma-norma ideal, yang
penjabarannya dirumuskan dalam pasal-pasal oleh UUD (Konstitusi) Merupakan
satu kesatuan utuh, dimana dalam Pembukaan UUD 45 tercantum dasar negara
Pancasila, melaksanakan konstitusi pada dasarnya juga melaksanakan dasar
negara.

E. Pancasila Dan Konstitusi Di Indonesia


Dalam pidatonya, Soekarno menyebutkan dasar negara sebagai Philosofische
grondslag sebagai fondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya yang
diatasnya akan didirikan bangunan negara Indonesia. Soekarno juga
menyebutnya dengan istilah Weltanschauung atau pandangan hidup. Pancasila
adalah lima dasar atau lima asas.
Jika masalah dasar negara disebutkan oleh Soekarno sebagai Philosofische
grondslag ataupun Weltanschauung, maka hasil dari persidangan-persidangan
tersebut, yaitu Piagam Jakarta yang selanjutnya menjadi dan disebut dengan
Pembukaan UUD 1945, yang merupakan Philosofische grondslag dan
Weltanschauung bangsa Indonesia. Seluruh nilai-nilai dan prinsip-prinsip dalam
Pembukaan UUD 1945 adalah dasar negara Indonesia, termasuk di dalamnya
Pancasila.
BAB III

PENUTUP

Berdasarkan uraian pada pembahasan, dapat disimpulkan beberapa hal


sebagai berikut:
1. Negara merupakan suatu organisasi di antara sekelompok atau beberapa
kelompok manusia yang secara bersama-sama mendiami suatu wilayah
(territorial) tertentu dengan mengakui adanaya suatu pemerintahan yang
mengurus tata tertib dan keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok
manusia yang ada di wilayahnya.
2. Konstitusi diartikan sebagai peraturan yang mengatur suatu negara, baik yang
tertulis maupun tidak tertulis. Konstitusi memuat aturan-aturan pokok
(fundamental) yang menopang berdirinya suatu negara.
3. Antara negara dan konstitusi mempunyai hubungan yang sangat erat. Karena
melaksanakan konstitusi pada dasarnya juga melaksanakan dasar negara.
4. Pancasila merupakan filosofische grondslag dan common platforms atau
kalimatun sawa. Pancasila sebagai alat yang digunakan untuk mengesahkan
suatu kekuasaan dan mengakibatkan Pancasila cenderung menjadi idiologi
tertutup, sehingga pancasila bukan sebagai konstitusi melainkan UUD 1945
yang menjadi konstitusi di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Bahari, Romzie, dkk. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan. Universitas Sriwijaya.


Palembang
Catatan terhadap hasil rumusan amandemen pertama dan kedua UUD 1944,
KRHN,maret, 2001
Nasution, Mirza. Negara Dan Konstitusi. 2004 (diakses lewat internet)
http://www.prince-mienu.blogspot.com
http://www.wikipedia.com