Anda di halaman 1dari 6

BOOKREADING

DERMATOFITOSIS

Disusun Oleh :

B. Zanuar Ichsan

G0005068

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2010
INFEKSI JAMUR

Infeksi Jamur Superfisial : Dermatofitosis, Onikomikosis, Tinea Nigra, Piedra


DERMATOFITOSIS
Dermatofita memiliki kemampuan membentuk perlekatan pada keratin dan kemudian
menjadikannya sumber nutrisi, sehingga mereka dapat berkolonisasi pada jaringan berkeratin,
meliputi stratum korneum epidermis, rambut, kuku, dan jaringan tanduk binatang. Infeksi
superfisial yang disebabkan oleh dermatofita disebut dermatofitosis, sedangkan
‘dermatomikosis’ merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur apapun.
Epidemiologi
Jamur superfisial dibagi berdasarkan habitat dan pola infeksinya, yaitu : geofilik,
zoofilik, dan antropofilik. Organisme geofilik (earth-loving) berasal dari tanah dan hanya
menginfeksi manusia secara sporadis, biasanya melalui kontak langsung dengan tanah.
Infeksi jenis ini biasanya menyebar melalui spora, yang dapat hidup bertahun-tahun di
selimut atau peralatan rumah tangga. Infeksi yang diakibatkan organisme tersebut biasanya
bersifat meradang. Strain Microsporum gypseum (patogen geofilik tersering) yang dikultur
dari manusia, lebih virulen daripada yang berasal dari tanah.
Spesies zoofilik (animal-loving) biasanya ditemukan pada binatang, namun juga
ditularkan ke manusia. Binatang domestik dan binatang peliharaan biasanya merupakan
sumber infeksi di daerah pedesaan (ex. M. Canis pada anjing, kucing). Penularan dapat
terjadi melalui kontak langsung atau tak langsung melalui bulu binatang terinfeksi yang
tertinggal di pakaian, bangunan atau makanan yang terkontaminasi. Sisi tubuh yang biasanya
terpapar oleh infeksi jenis ini antara lain scalp, jenggot, muka, dan lengan. Meskipun infeksi
zoofilik pada manusia itu bersifat supuratif, namun infeksinya pada binatang bisa
asimtomatis. Hal ini menunjukkan adanya adaptasi jamur terhadap host binatang.
Dermatofitosis yang meradang paling banyak diakibatkan oleh infeksi dermatofita zoofilik.
Spesies antropofilik (man-loving) telah beradaptasi terhadap manusia sebagai host-
nya. Tidak seperti kedua jenis spesies lainnya, infeksi antropofilik sering bersifat epidemik di
alam. Transmisinya dari orang ke orang bisa melalui kontak langsung maupun lewat benda-
benda. Infeksinya bisa asimtomatis sampai yang khas inflamatori tergantung dari variabilitas
virulensi serta kerentanan host. Pembentukan kerion, supurasi, atau manifestasi peradangan
tinea lainnya membantu diagnosis awal. Sebaliknya, penyakit non inflamatori menimbulkan
keadaan ‘carrier’ tersembunyi yang menyebabkan penundaan diagnosis dan penyebaran
infeksi.
Variabilitas host juga mempengaruhi presentasi. Individu immunocompromised lebih
rawan terhadap dermatofitosis berat/ refraktori, dan kemajuan dalam bidang pengobatan
kemoterapi dan transplant menjurus pada peningkatan infeksi oportunistik dermatofitosis
non patogen. Menariknya, derajat berat dermatofitosis yang meningkat pada penyakit HIV
dan bukan prevalensinya. Usia, jenis kelamin dan ras merupakan faktor epidemiologis
tambahan yang penting karena infeksi dermatofita 5 kali lebih banyak pada laki-laki daripada
perempuan. Namun Tricophyton tonsurans (penyebab tinea capitis) lebih banyak pada wanita
daripada pria dewasa, dan paling sering pada anak-anak afrika amerika. Saat ini belum ada
bukti yang mendukung adanya hubungan kerentanan dermatofitosis terhadap grup ABO dan
pasien diabetik. Bagaimanapun juga diabetes bisa mempengaruhi timbulnya infeksi.
Pola perpindahan manusia bisa mempengaruhi distribusi endemik yang cepat, seperti
pada kasus T. Tonsurans. Dalam waktu ¼ abad, T. Tonsurans mendominasi sebagai
penyebab tinea capitis menggantikan M. Audouinii di Amerika Serikat, karena adanya
resistensi T. Tonsurans terhadap griseofulvin, serta berkaitan dengan adanya imigrasi
populasi Meksiko dan Karibbia.
Kebiasaan lokal juga dapat mempengaruhi tingkat dermatofitosis. Contohnya,
penggunaan alas kaki tertutup di negara industri yang menyebabkan tinea pedis dan
onikomikosis sering muncul.
Prosedur Diagnostik
Diagnosis klinis dermatofitosis dapat dipastikan dengan pemeriksaan mikroskopis
atau kultur. Pemeriksaan mikroskopis dapat memberikan bukti infeksi jamur dalam hitungan
menit, namun hal ini sering tidak diperbolehkan untuk spesiasi atau identifikasi profil
susceptibilitas dari agen infeksius. Evaluasi mikroskopis juga dapat menghasilkan negatif
palsu. Kultur jamur sebaiknya dilaksanakan saat curiga terdapat dermatofitosis secara klinis.
Pemeriksaan Mikroskopis
Rambut. Pemeriksaan lesi yang melibatkan scalp/jenggot dengan menggunakan lampu
wood’s dapat menimbulkan fluoresensi pteridin patogen tertentu. Jika demikian, rambut yang
berfluoresensi sebaiknya diseleksi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Penting juga untuk
digarisbawahi bahwa meskipun M. Canis dan M. Audouinii berfluoresen pada pemeriksaan
lampu wood’s, organisme endotrix seperti T. Tonsurans tidak menghasilkan fluoresen. T.
Tonsurans yang sekarang merupakan penyebab tinea kapitis terbanyak di Amerika Serikat,
membatasi penggunaan lampu wood’s. Rmbut harus dicabut, bukan dipotong, letakkan pada
object glass, tetesi dengan 10-20% KOH (potassium hidroksida), tutup dengan deckglass dan
sedikit hangat. Mikroskopi berkekuatan rendah akan menunjukkan 2 kemungkinan infeksi
1. ektotrik---artrokonidia besar/kecil membentuk selubung di sekitar batang rambut
2. endotrik---artrokonidia di dalam selubung rambut

Kulit dan kuku. Sampel kulit sebaiknya dimabil dengan mengeruk menggunakan tepi
tumpul scalpel ke arah luar dari tepi aktif lesi. Spesimen kuku harus meliputi potongan
seluruh ketebalan area kuku yang distrofik, sebisa mungkin dari proksimal sampai tepi distal.
Dalam preparat KOH 10-20%, dermatofita menunjukkan gambaran hifa yang bersekat
dan bercabang tanpa adanya konstriksi; namun kultur tetap diperlukan untuk identifikasi.
Dengan kultur, semua spesies dermatofita nampak identik.
PROSEDUR KULTUR
Spesiasi jamur superfisial didasarkan pada karakteristik makros, mikros dan
metabolik organisme tersebut. Saboraud’s dextrose agar (SDA) merupakan media isolasi
yang biasa digunakan dan memberikan dasar deskripsi yang paling morfologis. Namun
saproba kontaminan (oragnisme yang makannya dari material mati dan membusuk) tumbuh
cepat pada medium ini, menutupi patogen aslinya. Sehingga dibutuhkan adanya tambahan
sikloheksimid (0,5 g/L) dan kloramfenikol (0,05 g/L) agar mediumnya lebih selektif. Versi
komersial dari mediu agar ini telah tersedia sekarang. Medium tes dermatofita mengandung
phenol red sebagai indikator pH; tetap kuning kecoklatan dengan pertumbuhan sebagian
besar saprofit dan berubah merah jika aktivitas proteolitik dermaofita menaikkan pH hingga 8
atau lebih. Nondermatofita mengubah medium menjadi kuning karena produk asam yang
dihasilkannya. Identifikasi jamur yang diisolasi difasilitasi dengan penggunaan potato
dextrose agar yang merangsang pembentukan konidia dan pigmen. Spesiasi trichophyton
sering dibedakan dengan kebutuhan nutrisi mereka.
Kultur diinkubasi pada suhu kamar (26ºC [78,8ºF]) selama lebih dari 4 hari sebelum
diputuskan tidak adanya pertumbuhan. Dengan lebih dari 40 dermatofita yang sudah dikenal,
identifikasi yang benar membutuhkan sumber referensi yang sesuai.
ket. hifa bercabang dan bersepta
Patogenesis
Dermatofita hanya dapat hidup di stratum korneum manusia yang menyediakan
sumber nutrisi untuk jamur tersebut dan untuk miselia yang sedang tumbuh. Infeksi
dermatofita meliputi 3 langkah : perlekatan ke keratinosit, penetrasi melalui dan diantara sel,
perkembangan respon host.
Perlekatan. Jamur superfisial harus menghadapi beberapa hambatan agar artrokonidia
(elemen infeksiusnya) dapat melekat ke jaringan keratin. Mereka harus tahan terhadap
pengaruh sinar ultraviolet, berkompetisis dengan flora normal kulit, variasi suhu dan
kelembaban, dan sfingosisn yang diproduksi oleh keratinosit. Asam lemak yang dihasilkan
oleh glandula sebasea bersifat fungistatik, khususnya yang memiliki panjang rantainya 7, 9,
11, dan 13. Adanya asam lemak ini mungkin berperan dalam penurunan tinea kapitis yang
signifikan pada post-pubertas.
Penetrasi. Setelah melekat, spora harus menyerbuk dan berpenetrasi ke stratum korneum
dengan kecepatan yang lebih tinggi dari deskuamasi. Penetrasi selesai terlaksana dengan
adanya sekresi proteinase, lipase dan enzim mucinolitik yang juga menyediakan nutrisi untuk
jamur. Trauma dan maserasi membantu penetrasi jamur dan merupakan faktor penting dalam
patologi tinea pedis. Fungal mannans di dinding sel dermatofita juga dapat menurunkan
tingkat proliferasi keratinosit. Pertahanan baru muncul saat memasuki lapisan epidermis yang
lebih dalam, meliputi kompetisi terhadap besi dengan unsaturated transferin dan inhibisi
pertumbuhan jamur oleh progesteron.
Perkembangan Respon Host. Derajat inflamasi dipengaruhi oleh status imun pasien dan
organisme yang terlibat. Deteksi imun dan kemotaksis sel-sel peradangan dapat terjadi
melalui beberapa mekanisme. Beberapa jamur menghasilkan faktor kemotaktik dengan berat
molekul rendah seperti yang dihasilkan oleh bakteri. Yang lainnya mengaktivasi komplemen
via jalur alternatif, menciptakan faktor kemotaktik yang berasal dari komplemen.
Pembentukan antibodi nampaknya tidak protektif dalam infeksi dermatofita ini karena
pasien dengan infeksi yang tersebar luas dapat memiliki titer antibodi yang meningkat.
Sebagai kemungkinan lain, reaksi hipersensitif tipe IV memainkan peran penting dalam
memerangi dermatofitosis. Penggerak imunitas seluler ini diperoleh dengan sekresi interferon
gamma dari limfosit T helper 1. Pada pasien yang belum pernah terpapar dermatofita
sebelumnya, infeksi primer menimbulkan peradangan minimal, dan trichophytin skin test
hasilnya negatif. Infeksi tersebut menimbulkan eritem ringan berskuama (hasil dari
peningkatan turnover keratinosite). Dihipotesiskan bahwa antigen dermatofita diproses oleh
sel langerhans epidermal dan dipresentasikan kelimfosit T yang ada di limfonodi lokal.
Limfosit T mengalami proliferasi klonal dan bermigrasi ke sisi yang terinfeksi untuk
menyerang jamur. Pada saat tersebut, lesi mendadak meradang, barrier epidermal menjadi
permeabel terhadap transferin dan sel-sel yang bermigrasi. Dengan segera jamur dibersihkan
dan lesi sembuh dengan spontan. Trichophytin skin test pada saat tersebut akan positif dan
pembersihan infeksi yang kedua akan terjadi lebih cepat.
Reaksi dermatifitid yang terjadi pada 4-5% pasien, merupakan reaksi kulit alergik,
eksematous dan meradang. Tidak seperti pada lesi primer, pemeriksaan KOH dan kultur pada
reaksi dermatofitid ini negatif. Reaksi ini akan membentuk papul folikuler, eritema nodusum,
id vesikuler pada tangan kaki, erysipelas-like, erythema annulare centrifugum, ataupun
urtikaria. Meskipun mekanisme yang tepat belum diketahui, reaksi ini berhubungan dengan
reaksi hipersensitif tipe IV terhadap trichophytin test dan mungkin melibatkan antigen jamur
yang diabsorbsi secara sistemik.
GENETIK
Dalam suatu rumah yang terkena T. Concentricum dan T. Rubrum, saudara lebih
mungkin terinfeksi daripada pasangan suami-istri, bahan dengan paparan yang sama terhadap
jamur. Faktor spesifik yang membantu infeksi tersebut belum diketahui.

Anda mungkin juga menyukai