Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH MODAL DASAR DAN AKTOR PENGGERAK

EKONOMI KREATIF

DOSEN PENGAMPU :

PUTRI KEMALA DEWI LUBIS, M.SI.,AK

DISUSUN OLEH: KELOMPOK VIII

SURYANDI (7172141006)

DINA SEPTI ANGGRAINI (7171141005)

EVI NOVIANA PARDEDE (7171141007)

SHEILLA CHAIRUNNISA (7171141021)

PRODI PENDIDIKAN EKONOMI

JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN, 2019
KATA PENGANTAR
Rasa syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah
yang karena bimbinganyalah Maka penulis bisa menyelesaikan Makalah yang berjudul
“modal dasar dan aktor penggerak ekonomi kreatif”. Makalah ini di buat dari berbagai
observasi dalam jangka waktu tertentu sehingga menghasilkan Makalah yang bisa di
pertanggung jawabkan hasilnya. Kami mengucapkan terimakasih kepada pihak terkait yang
telah membantu kami dalam dalam menghadapi berbagai tantantangan dalam penyususnan
Makalah ini
Kami menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan mendasar pada Makalah ini
oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan ktitik dan saran yang
membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini .Terimakasih, dan semoga Makalah ini
bisa memberikan sumbangan positif bagi kita semua.
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Perdagangan bebas dan krisis ekonomi global mengharuskan setiap negara, termasuk
Indonesia berupaya keras untuk dapat bersaing baik di pasar dalam negeri maupun luar
negeri.Kondisi tersebut dapat dipecahkan dengan mendorong suatu bentuk perekonomian
yang lebih berdaya saing, sumber daya yang terbarukan dan berkesinambungan berbasis
kreatifitas, dimana ide atau gagasan dapat memberikan kesejahteraan secara ekonomi dan
sosial bagi masyarakat.Pengembangan ekonomi dan ekonomi kreatif di Indonesia diperlukan
agar siap memanfaatkan dan merebut peluang pasar yang semakin kompetitif.
Pengembangan ekonomi kreatif merupakan pilihan tepat untuk menjaga ketahanan
ekonomi dalam kondisi krisis global.Ekonomi Kreatif perlu dikembangkan karena ekonomi
kreatif berpotensi besar dalam memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan, menciptakan
iklim bisnis yang positif membangun citra dan identitas bangsa, berbasis pada sumberdaya
yang terbarukan menciptakan inovasi dan kreativitas yang merupakan keunggulan kompetitif
suatu bangsa; dan memberikan dampak sosial yang positif.
Pada tanggal 22 Desember 2008 pemerintah juga telah mencanangkan tahun 2009
sebagai Tahun Indonesia Kreatif (TIK). Tujuan dari program ini adalah terbukanya wawasan
seluruh pemangku kepentingan akan kontribusi ekonomi kreatif terhadap ekonomi Indonesia
dan terciptanya citra bangsa yang positif. Presiden Republik Indonesia juga telah
memerintahkan kepada 28 instansi pemerintah pusat dan daerah untuk mendukung kebijakan
Pengembangan Ekonomi Kreatif tahun 2009-2015 melalui Instruksi Presiden Nomor 6 tahun
2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 MODAL DASAR EKONOMI KREATIF

Perkembangan ekonomi kreatif agar bergantung pada berbagai faktor dan komponen
seperti faktor modal, komponen inti, komponen pendukung, aktor penggerak dan faktor
pendorong.
Berdasarkan hasil survei dan penelitian pada usaha kecil dan koperasi dikabupaten
dan kota bandung (1991), serta survei dan penelitian usaha kecil dan menengah unggulan di
kabupaten dan kota bandung (1999), diperoleh suatu kesimpulan yang hampir sama bahwa
perusahaan-perusahaan kecil dan menengah pada umumnya kekurangan modal, yang sangat
diperlukan untuk pengembangan usaha. Modal yang dimaksudkan oleh para pengusaha
adalah mdal finansial dan material guna memperluas dan meningkatkan usahanya, kebutuhan
modal finansial terutama untuk membeli bahan baku, peralatan dan operasional perusahaan.
Kekurangan modal material dan kekurangan modal intelektual dapat menyebabkan
perusahaan kecil dan menengah ketergantungan pada berbagai aspek, seperti bahan baku,
bahan penolong, teknologi, desain, dan pemasaran. Semua aspek yang dibutuhkan oleh usaha
kecil dan menengah tersebut dimiliki oleh penguusaha besar. Modal yang diperlukan untuk
membeli bahan baku dan teknologi biasanya dimiliki oleh pengusaha besar yang memiliki
akses modal, menguasai pasar, dan memiliki teknologi. Pemilik modal menguasai informasi
pasar sehingga pengusaha kecil dan menengah ketergantungan kepada pemilik modal yang
menguasai pasar.
Seperti dikemukakan howkins (2001), “modal kreativitas” bukan merupakan modal
material tetapi merupakan modal intelektual, modal budaya, modal sosial, dan modal
struktural. Modal kreatif (creative capital) adalah modal intelektual berupa kekayaan
intelektual, seperti desain produk, merek dagang, hak cipta, paten dan royalti.
Oleh sebab itu agar kreativitas menghasilkan dan memberi dampak positif output an
outcome (keluaran dan hasil), menurut home atfairs bureau (2005:41); UNDP-UNCTAD
(2008: 10) diperlukan empat modal, sebagai berikut.
1. Modal insani (human capital),
2. Modal sosial (social capital),
3. Modal budaya (cultural capital)
4. Modal struktur kelembagaan (struktural institusional capital)
Keempat jenis modal tersebut merupakan faktor yang sangat menentukan
pertumbuhan kreativitas dan dipandang sebagai modal ekonomi kreatif. Manifestasi dari
kreativitas adalah output dan out comes yang terbentuk dari interelasi antar modal insani,
modal budaya, modal sosial, dan kelembagaan.

2.2 MODAL INSANI (HUMAN CAPITAL)


Salah satu modal insani adalah ekonomi kreatif yang terpenting adalah modal
intelektual yaitu berupa kecakapan pengetahuan, keterampilan, dan motivasi untuk
menghasilkan kekayaan intelektual, seperti paten, merek dagang, royalti dan desain. Menurut
david pada (2009: 77), “kekayaan intelektual merupakan modal pokok industri kreatif yang
menciptakan aktivitas-aktivitas, keterampilan dan bakat individual, yang berpotensi untuk
menciptakan lapangan kerja dan kekayaan secara turun temurun melalui kekayaan
intelektual, kekayaan intelektual merupakan aset yang tak terlihat dan merupakan tiang
menyangga perusahaan “oleh sebab itu, menurut david parrish (2009), bisnis kreatif adalah
seni untuk mengubah pengakuan menjadi penghasilan, dan ilmu tentang bagaimana
mengubah kekayaan intelektual menjadi sumber pendapatan.
Untuk meningkatkan modal insani diperlukan investasi dalam bidang pendidikan dan
pelatihan, serta memperbanyak penelitian ilmiah dan pengembangan.dengan pendidikan dan
pelatihan akan meningkatkan pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan (sebagai modal
intelektual) yang sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas nilai tambah, dan daya
saing (david parris, 2009: 84).
Modal intelektual merupakan perkalian antara kompetisi dengan komitmen. Artinya,
seseorang yang memiliki kompetensi saja tidak cukup, bila tidak dibarengi dengan
komitmennya. seseorang yang memiliki koompetensi, tetapi kurang komitmen makan ia
memiliki modal intelektual yang rendah. Sementara itu, kompetensi itu sendiri merupakan
perkalian antara kapabilitas (kemampuan) dengan tanggung jawab dan kewenangan
(autority). Memiliki kemampuan saja tidak cukup apabila tidak didukung oleh tanggung
jawab dalam menggunakan kemampuannya. Selanjutnya kapabilitas merupakan perkalian
antara keterampilan dan pengetahuan. Seseorang yang cakap saja tidak cukup, tetapi harus
cakap dan cukup ilmu pengetahuan.
Pengetahuan diperlukan untuk membentuk pola pikir yang memunculkan ide-ide,
gagasan, khayalan dan inspirasi. Sementara itu keterampilan (skill) dan kecakapan diperlukan
untuk mengimplementasikan ide-ide, inspirasi-inspirasi, gagasan-gagasan dan khayalan-
khayalan guna menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengetahuan pintar saja tidak
cukup harus dilengkapi dengan kecakapan.
Ada lima macam keterampilan (skill) dan kecakapan yang membentuk ekonomi
kreatif, yaitu:
1. Keterampilan konseptual (conceptual skill), yaitu kemampuan untuk membangun
dan mengembangkan konsep, seperti membuat perencanaan usaha dan
perencanaan produk, membuat desain produk, menciptakan keunikan dan
keistimewaan, serta merancang kegunaan baru, dan merancang kemudahan baru.
2. Keterampilan mengorganisir (organizational skill) yaitu kemampuan untuk
mengorganisasikan sumber daya dalam bentuk perusahaan-perusahaan,
kemampuan untuk memimpin dan mengelola perusahaan. Bukan hanya menjadi
pekerja suatu perusahaan, tetapi menjadi bos yang mengendalikan, mengatur, dan
menggerakkan.
3. Keterampilan manajerial (managerial skill), yaitu kemampuan untuk mengelola
sumber daya manusia, finansial, material dan informasi seefektif dan seefisien
mungkin.
4. Keterampilan kewirausahaan (enterpreneurial skill), yaitu kemampuan untuk
berkreasi dan berinovasi untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
5. Keterampilan personal dalam berelasi (personal relationship) dan berkomunikasi,
yaitu kemampuan untuk berkomunikasi, berempati, bersimpati, bergaul, bermitra,
berkolaborasi, bernegosiasi, dan membangun jejaring baik ditingkat lokal maupun
internasional.

2.3 MODAL SOSIAL (SOCIAL CAPITAL)


Modal sosial adalah modal kepercayaan dan kejujuran serta etika dalam menjalankan
usaha. Modal sosial (social capital), merupakan modal yang paling mendasar untuk setiap
individu, organisasi, perusahaan bahkan suatu bangsa. Individu, organisasi dan bangsa yang
maju dan dipercaya adalah individu, organisasi, dan bangsa yang jujur, beretika, dan
berbudaya. Kepercayaan, kejujuran dan etika dalam berusaha merupakan merupakan faktor
kunci sukses. Ketidak jujuran, kurang komitmen, korupsi dan kolusi menyebabkan ketidak
percayaan terhadap masyarakat,bangsa dan negara, serta menyebabkan terhambatnya
kreativitas ekonomi. Untuk membentuk modal sosial diperlukan sistem pendidikan yang
mengintegrasikan nilai-nilai kejujuran, etika, dan norma-norma kedalam kurikulum, program,
serta materi pembelajaran.
2.4 MODAL BUDAYA (CULTURAL CAPITAL)
Modal budaya dimiliki setiap bangsa bahkan perusahaan secara turun-temurun. Modal
ini terdiri dari nilai-nilai, orientasi, kebiasaan, adat istiadat dan bentuk lain dari budaya.
Modal budaya juga bisa berupa kesenian, pertunjukan, film, drama, lukisan, dan bisa dalam
bentuk hasil karya atau dalam bentuk cagar budaya. Modal budaya adalah modal yang sudah
dimiliki oleh industri terutama industri kecil dan industri lokal yang tersebar diseluruh
pelosok tanah air keanekaragaman-kebhinekaan, seperti etnis, suku, adat, nilai-nilai, warisan
budaya, dan bahasa yang tersebar tersebar diberbagai daerah merupakan modal dasar
ekonomi kreatif. Semua modal budaya dan kebhinekaan ini masih perlu dikelola (manager)
secara kreatif sehingga dapat menciptakan kekayaan baru, seperti kesempatan kerja,
pendapatan, dan kesejahteraan masyarakatnya. Supaya bernilai ekonomi tinggi, modal modal
dasar budaya dan kebinekaan perlu dikolaborasikan, dikombinasikan dipelihara, dan
dikembangkan.

2.6 MODAL KELEMBAGAAN DAN STRUKTURAL

Modal kelembagaan dan struktural merupakan modal yang diperlukan oleh industri
kreatif yang berasal dari pemerintah dalam bentuk kebijakan yang dapat mengakomodasi dan
melindungi industri kreatif. Oleh karena itu,diperlukan departemen khusus yang membina
industri kreatif di bawah kementerian yang membina perindustrian atau perdagangan,yang
mendorong,mengadvokasi,mematenkan dan mempromosikan produk budaya nya.
Modal struktural atau kadang dikenal dengan modal infrastruktur oleh Howkins
(2001:210) didefinisikan sebagai alat yang perlu dan dipandang sebagai modal sumberdaya
manusia bagi organisasi. Modal infrastruktur ini meliputi :
1. Kebijakan rekrutmen oraganisasi
2. Pelatihan dan remunerasi
3. Sistem informasi manajemen dan sistem manajemen ilmu pengetahuan
4. Arahan kerja tim
5. Sikap dalam pekerjaan
6. Menajemen hak kekayaan intelektual
7. Nama
8. Perlindungan merk dagang
9. Lisensi
10. Hak paten dan
11. Perlindungan hak cipta

Untuk menciptakan modal infrastruktur diperlukan modal institusional (kelembagaan)


yang dapat melindungi,membina,mengarahkan dan mengakomodasi serta menciptakan iklim
ekonomi kreatif. Kelembagaan ini merupakan domain pemerintah yang harus proaktif
menciptakan program dan iklim usaha kreatif melalui kebijakan yang kondusif.

2.7 KOMPONEN INTI DAN PENDUKUNG EKONOMI KREATIF

Komponen inti dan pendukung merupakan mesin pendorong perkembangan(engine of


growth) kegiatan ekonomi kreatif. Komponen inti ini adalah komponen utama pelaku
ekonomi kreatif yang meliputi individu,kelompok dan perusahaan yang menghasilkan
produk. Sementara itu, komponen pendukung adalah komponen yang mendukung terciptanya
iklim ekonomi kreatif, seperti lingkungan geografis masyarakat,lingkungan industri dan
organisasi budaya.
Salah satu model komponen inti adalah pendukung yang terkenal dalam ekonomi
kreatif adalah model New England’s Creative Economy. Menurut Mt.Auburn yang
dikutipoleh departemen perdagangan (2008)terdapat tiga komponen inti dan tiga komponen
pendukung dalam ekonomi kreatif yang terdapat disuatu daerah yang meliputi:
1. The creative cluster (kelompok kreatif) yaitu perusahaan,kelompok dan
individu yang secara langsung maupun tidak langsung menghasilkan
produk cultural.
2. The crative workforce (tenaga kerja kreatif)yaitu orang-orang pemikirdan
pelaksan yang dilatih secara khusus dalam keterampilan budaya dan artisik
yang mendorong kepemimpinan industri yang tidak hanya terbatas pada
budaya dan seni.
3. The creative community (komunitas kreatif) yaitu tempat konsentrasi area
geografis dari pekerjaan kreatif,bisnis kratif,dan organisasi budaya. (Mt.
Auburn:5)
2.Peopl
1.Bussinesses
e
and
3.Places
organizations

Gambar 3.4 komponen inti dan pendukung ekonomi kreatif


Sumber: Richard Barringer,dkk. The creative economy in maine:
Measurdement and analysis. Universityof Southern Maine,2004,hlm.11.
Setiap domain dari kegiatan ekonomi saling berhubungan dimana creative cluster
merujuk pada pengertian industri,baik komersial maupun nonkomersial. Crative woekforce
merujuk pada pekerjaan, dan creative community merujuk pada wilayah dimana creative
cluster berada.

2.8 AKTOR PENGGERAK EKONOMI KREATIF

Cepat atau lambatnya perkembangan ekonomi kreatif sangat bergantung pada peran
aktor. Aktor utama penggerak ekonomi kreative terdiri atas :
1. Cendekiawan (intellectuals)
2. Bisnis (bussiness)
3. Pemerintah (government)

Ketika aktor tersebut disebut sistem triple hekix. Teori ini awalnya dipopulerkan oleh
Henry Etzkowits dan Loet Leydesdorff (2002:29) dalam bukunya The Dinamics of
Innovation: From National Systems and “mode 2” to a triple helix of university-industry-
government relations dan dikutip juga oleh dapartemen perdagangan (2008:57) bahwa triple
helix sebagai metode pembangunan kebijakan berbasis inovasi. Teori ini mengungkapkan
tentang pentingnya penciptaan sinergi tiga kutub,yaitu akademisi,bisnis dan pemerintah.
Di Indonesia dikenal dengan konsep ABG (akademisi, bisnis,dan government) atau
IBG (Intellectuals,business and goverment)dengan tujuanpembagunan ekonomi
berkelanjutan berbasis pengetahuan. Sinergi dari ketiga kutub ini diharapkan terjadi sirkulasi
pengetahuan yang berujung pada inovasi,yaitu inovasi yang memiliki potensi ekonomi atau
knowledge capital (model pengetahuan).
Sirkulasi Individu

Sirkulasi Informasi Cendekiawan

Sirkulasi Output sebagai inti

Ruang /

Space

Pemerintah Bisnis sebagai

sebagai inti inti

Interaksi triple helix akan menciptakan ruang (space), sebagai berikut.


1. Ruang ilmu pengetahuan
Di ruang ini,individu dalam berbagai disiplin ilmu berpartisipasi dalam pertukaran
informasi,ide-ide,dan gagasan-gagasan,wacana-wacana dan konsepsi-konsepsi baru.
2. Ruang konsensus
Di sini mulai terbentuk komitmen yang mengarah pada inisiatif
3. Ruang inovasi
Di sini inovasi terciptanya menjadi modal pengetahuan berupa munculnya,realisasi
bisnis, realisasi produk baru dan partisipasi dari kelembagaan

2.9 PERAN AKTOR EKONOMI KREATIF


Berdasarkan Fokus utama pengembangan ekonomi kreatif, Kementerian Perdagangan (2010-
2014) telah memetakan masing-masing aktor pemegang peran utama sebagai berikut:
1. Peran utama intelektual terdiri atas:

a. penyebar (disseminator) ilmu pengetahuan dan teknologi,

b. pelaksana (implementor) ilmu pengetahuan dan teknologi,

c. pencipta nilai yang konstruktif di masyarakat bagi pengembangan industri kreatif


2. Peran utama pebisnis, terdiri atas:

a. pencipta (pasar, barang, dan jasa kreatif, dan lapangan pekerjaan),

b. pembentuk komunitas dan entrepreneur kreatif

3. peran utama pemerintah, terdiri atas:

a. katalisator dan advokasi

b. regulator

c. konsumen investor dan entrepreneur

d. jangkauan publik (public outreach)

4. hasil dari kolaborasi antar aktor tersebut diharapkan akan terjadi:

a. strategi nasional, regional, dan sektoral

b. penciptaan jejaring atau komunitas

c. Kebijakan/regulasi/program/kegiatan

d. kurikulum kreatif

e. produk dan jasa kreatif

f. lapangan pekerjaan creative

g. entrepreneur kreatif

h. teknologi kreatif

2.10 PEMEGANG KEPENTINGAN EKONOMI KREATIF


Seperti telah dirancang oleh Departemen Perdagangan Republik Indonesia, secara
konseptual peran aktor triple helix dalam ekonomi kreatif di Indonesia, terdapat tiga
pemegang kepentingan yaitu: pemerintah perusahaan dan masyarakat.
Tugas masing-masing pemegang kepentingan ekonomi kreatif dapat diuraikan sebagai
berikut:
1. Pemerintah
Dalam ekonomi kreatif pemerintah berkepentingan untuk mengarahkan perusahaan agar
mengutamakan kesejahteraan bersama, bukan sistem kapitalis yang individualis. selain itu,
melalui ekonomi kreatif, pemerintah juga berkepentingan untuk memberdayakan
masyarakat agar semakin kreatif dan produktif, serta melestarikan warisan budaya dan
lingkungan. sebagai pemegang kepentingan, pemerintah berfungsi melakukan regulasi,
layanan, dan koordinasi. Hindari kebijakan yang bertentangan dengan pengembangan
ekonomi kreatif. Dinas Perindustrian berfungsi membina industri-industri kreatif melalui
pelatihan intelektual untuk meningkatkan nilai tambah. perguruan tinggi berperan aktif
untuk membina industri kreatif berlandaskan hasil hasil risetnya.
2. Perusahaan

Dalam ekonomi kreatif perusahaan berkepentingan untuk keberlanjutan investasi melalui


Keterlibatan Masyarakat, pendekatan kemitraan, pola adaptasi terhadap masyarakat local,
serta mengembangkan kepemilikan dan kemandirian masyarakat. perusahaan sebagai
wirausaha yang melakukan investasi untuk menghasilkan laba dan masyarakat sebagai
pangsa pasar. Perusahaan-perusahaan harus bermitra dengan masyarakat untuk melakukan
tolak ukur (benchmarking). proses kemitraan harus menghasilkan konsep adaptasi dan
pengembangan-perbandingan bagi masyarakat baik dalam cara berusaha maupun cara
berproduksi.
3. Masyarakat

Dalam ekonomi kreatif, masyarakat berkepentingan untuk berpartisipasi, pemberdayaan,


dan kepemilikan usaha. partisipasi masyarakat dalam industri kreatif sangat penting.
masyarakat harus bisa bermitra, mengadaptasi, mengembangkan usahanya sendiri, dengan
cara mengubah pola pikir mereka, bahwa apa yang dilakukannya harus ada nilai tambah
dan berkualitas. perusahaan-perusahaan besar harus menjadi mitra usaha, dan tidak
menjadikan perusahaan kecil dan masyarakat ketergantungan, baik terhadap akses modal,
teknologi, desain produk, maupun pemasaran Hasil produk, yang akibatnya dapat
mematikan kreativitas masyarakat.

2.11 PENDORONG (DRIVERS) PERLUASAN EKONOMI KREATIF


Selain peran actor, dalam ekonomi kreatif perlu adanya faktor pendorong yang dapat
memperluas ekonomi kreatif. menurut UNDP dan UNCTAD dalam creative economy report
(2008:22-23), ada tiga faktor pendorong ekonomi kreatif yang meliputi:
1. Teknologi (technology)
2. Permintaan (demand)
3. Turis (tourism)

Teknologi diperlukan untuk menciptakan pembaharuan, percepatan, dan perluasan.


industri kreatif harus segera beradaptasi dengan perubahan dan kemajuan teknologi. dengan
menggunakan teknologi maka produk-produk baru dapat tercipta dengan segera. hasil
pembaruan yang tercipta diperlukan untuk merespon permintaan.
Permintaan yang semakin tinggi dapat mendorong ekonomi kreatif. semakin tinggi
permintaan terhadap produk produk ekonomi kreatif semakin tinggi rangsangan untuk
berkreasi dan berinovasi dengan adanya permintaan yang semakin meningkat para kreator
semakin bersemangat untuk berimajinasi dan berinovasi. dengan demikian, kreativitas dapat
mendorong permintaan dan permintaan dapat mendorong kreativitas.
Selain faktor teknologi dan faktor permintaan, perluasan ekonomi kreatif sangat
ditentukan oleh faktor turis. semakin banyak turisme maka semakin tinggi permintaan
terhadap produk ekonomi kreatif dan semakin tinggi permintaan terhadap produk produk
ekonomi kreatif maka semakin cepat perluasan ekonomi kreatif,semakin cepat periluasan
ekonomi kreatif maka semakin tinggi turis yang dating. turisme dalam kepariwisataan dapat
dijadikan ajang promosi produk-produk ekonomi kreatif sehingga mendorong perkembangan
ekonomi kreatif itu sendiri.

2.12 KREATIVITAS DALAM KINERJA BISNIS


Untuk melihat seberapa jauh kreativitas dalam kinerja bisnis, bisa diamati dari beberapa
indicator, seperti volume usaha, skala usaha, cakupan usaha, daya saing, pangsa pasar, jumlah
pelanggan, banyaknya saluran distribusi, jumlah karyawan, rasio modal, jumlah relasi- Mitra
usaha, banyaknya pesanan atau order, permintaan, dan tingginya profitabilitas. kinerja bisnis
sangat bergantung pada tingkat produktivitas bisnis itu sendiri. produktivitas bisnis adalah
kemampuan bisnis untuk menghasilkan barang dan jasa yang memuaskan
pelanggan(custumer satisfaction) yang dicirikan oleh selalu mengingat (retention) dan terus
loyal berlangganan (loyalty). kepuasan pelanggan itu sendiri terjadi apabila:
1. memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan/konsumen
2. sesuai standar dan
3. bernilai atau memiliki manfaat

Dengan demikian, produk yang memuaskan konsumen merupakan produk barang atau
jasa yang memiliki nilai tambah yang sesuai dengan keinginan konsumen. untuk itu
diperlukan kreativitas berpikir berupa gagasan, ide, dan keterampilan untuk meningkatkan
nilai tambah yang memberikan manfaat dan sesuai dengan keinginan konsumen.
Kinerja bisnis ditentukan ditentukan oleh berbagai faktor baik internal maupun
eksternal. dalam ekonomi kreatif kinerja bisnis ditentukan oleh produktivitas, iklim kreatif,
inovasi, riset dan pengembangan dari kelas kreatif. produktivitas memiliki arti luas dan dapat
didefinisikan sebagai penggunaan ilmu pengetahuan, pikiran, keterampilan, dan teknologi
untuk menghasilkan sesuatu baik dalam bentuk gagasan, ide ide, khayalan-khayalan untuk
meningkatkan nilai tambah produk barang dan jasa. Jadi, nilai tambah meningkat apabila ada
kreativitas dalam menghasilkan ide, gagasan, imajinasi, dan khayalan sebagai hasil dari
produktivitas berpikir kreativitas. sementara itu, iklim kreatif adalah kondisi yang diciptakan
untuk menciptakan kinerja bisnis. iklim bisnis menyangkut kebijakan, perlindungan, advokasi
,dan kemauan politik dari pemerintah.
Untuk meningkatkan produktivitas bisnis, kelas kreatif berperan melakukan riset dan
pengembangan, berinovasi, dan mengembangkan desain-desain baru. kelas kreatif juga
menumbuhkan iklim kreatif yang dorong bisnis berkinerja tinggi. pentingnya kreativitas
dalam kerja bisnis, Tether (2005) yang dikutip oleh Departemen perdagangan (2008:58)
mengemukakan hubungan antara kreativitas dan desain ke dalam kinerja bisnis terdapat 5
domain dalam kinerja bisnis yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut:
1. Kreativitas selain diperlukan untuk pengembangan desain dan kegiatan penelitian dan
pengembangan (research dan development), kreativitas juga penting untuk
pembentukan iklim kreatif. dalam pengembangan desain diperlukan kreativitas dari
para kreator yang mampu menciptakan ide-ide, gagasan-gagasan, imajinasi imajinasi
untuk merancang desain. demikian juga dalam riset pengembangan diperlukan
kreativitas dari para aktor untuk terus melakukan riset riset dan pengembangan untuk
meningkatkan produktivitas dan kinerja bisnis.
2. Inovasi, bergantung pada Berapa banyak desain dikembangkan dan riset riset
dilakukan oleh kelas kreatif.
3. Produktivitas bisnis, sangat bergantung pada seberapa banyak inovasi dilakukan dan
jasa yang dikembangkan. semakin tinggi tingkat inovasi yang dilakukan maka
semakin tinggi produktivitas perusahaan yang berarti semakin tinggi pula kinerja
bisnis.
4. Kinerja bisnis, sangat bergantung pada banyak faktor, seperti iklim kreatif,
produktivitas, dan ragam desain yang dikembangkan secara terus-menerus. Untuk
menciptakan kinerja bisnis yang tinggi diperlukan tingkat produktivitas yang tinggi
dan iklim bisnis yang kondusif, serta pengembangan desain yang terus-menerus oleh
kelompok kelas kreatif.
5. Iklim bisnis, ini yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dalam
menciptakan kinerja bisnis. Semakin kondusif iklim bisnis maka semakin tinggi
kinerja bisnis.
DAFTAR PUSTAKA

Suryana (2013) ekonomi kreatif. Jakarta, salemba 4