Anda di halaman 1dari 7

DIVISI OPERASIONAL BANTUAN MEDIS (OBM) TAHUN 2014-2015

Koordinator divisi : Rizcky Naldy Eka Putra


Anggota : Nurul Aulia Abdullah
Vandhy P. Andilolo
Riris Sutrisno
Muzamil Putra Ramadhan

PROGRAM KERJA DIVISI OBM


1. TIM SIAGA HARIAN
Realisasi Kerja Terlaksana
Tujuan Melakukan penanganan awal Pra Rumah Sakit
Indikator Pelaksanaan jadwal timsiagaharian:
a. >80% dari jumlah anggota yang bertugas (3)
keberhasilan
b. 50 – 79 % dari jumlah anggota yang bertugas (2)
c. < 50 % dari jumlah anggota yang bertugas (1)
Gambaran realisasi Tim siaga harian bertugas setiap minggunya dari hari senin – jumat
kerja jam 07.30 – 17.30 WITA yang terdiri dari 5-6 orang dan terdapat
seorang ketua setiap harinya serta mengisi absen sebelum dan selesai
bertugas. Ketika datang pasien TSH langsung menangani dan
menuliskan kasusnya pada rekam medis. Jumlah harian anggota yang
bertugas……… % terhitung dari tanggal ……… sampai dengan
tanggal ……….

Kendala 1. Sekret yang sering lambat terbuka


2. Anggota yang bertugas sering lambat datang dan pulang sebelum
jam jaga selesai
3. Anggota yang bertugas sering lupa untuk absen kehadiran atau
melaporkan kehadirannya disekret
4. Informasi yang biasa lambat disampaikan keanggota yang bertugas
5. Anggota yang tidak selalu ada disekret bila tidak ada jadwal
akademik
6. Kesadaran anggota yang masih sangat kurang atas tanggung
jawabnya sebagai tim siaga harian
7. Anggota yang tidak melapor ke penanggung jawab TSH dari OBM
jika ada halangan untuk bertugas atau menukar jadwal jaga
diminggu yang sama
8. Anggota yang bertugas lupa untuk mengisi rekam medik jika ada
kasus
Rekomendasi 1. Untuk membuka sekret kunci diberikan kepada ketua yang jaga
dihari selanjutnya sehingga tim siaga harian dapat berjalan dengan
baik.
2. Ambulans yang dapat dimobilisasi kapan saja saat jam jaga
dengan bekerja sama dengan pihak dekanat
3. Bisa merealisasikan diskusi pembahasan kasus tiap cawunya untuk
rekam medik yang didapatkan selama menjadi tim siaga harian dan
tim medis kesehatan

PROGRAM KERJA DIVISI OBM


2. TIM KESEHATAN
Realisasi Kerja Terlaksana
Tujuan Memenuhi permintaan bantuan medis dari pihak eksterna maupun
interna kampus.
Indikator Pelaksanaan jadwal timkesehatan:
a. > 80% dari jumlah anggota yang bertugas (3)
keberhasilan
b. 50 – 79 % dari jumlah anggota yang bertugas (2)
c. < 50 % dari jumlah anggota yang bertugas (1)
Gambaran realisasi TBM Axis mendapatkan surat yang diterima oleh divisi infokom
kerja maupun sekretaris yang kemudian akan dikoordinasikan dengan OBM
untuk pembentukan tim dan OBM koordinasikan dengan
kesekretariatan untuk persiapan alat dan bahan medis. Setelah tim
medis terbentuk selanjutnya akan dilaksanakan pemaparan RO
mengenai gambaran dilapangan nanti serta pelepasan tim medis.
Jumlah anggota yang bertugas menjadi tim medis kesehatan adalah
…….. dari 23 permohonan tim medis yang diterima untuk
bekerjasama terhitung dari tanggal …….. sampai dengan tanggal
…….
Tim kesehatan yang telah diikuti :
1. Tim medis cross country Banacea Poso, 4-8 Juni 2014
2. Tim medis Baksos PDUI, 18 juni 2014
3. Tim medis kesehatan FKIP, 4 juli 2014
4. Tim medis pemeriksaan ksehatan maba, 18 juni – 25 juli 2014
5. Tim medis pemeriksaan tekanan darah anjungan, 22 juni 2014
6. Tim medis konser NOAH, 20 agustus 2014
7. Tim medis Color Run Palu, 10 agustus 2014
8. Tim medis posko kesehatan mudik lebaran idul fitri, 26 juli 2014
dan 2-3 agustus 2014
9. Tim medis jambore dan konser iwanfals, 14-16 agustus 2014
10. Tim medis diesnatalis universitas tadulako, 17, 18 dan 23 agustus
2014
11. Tim medis ORMIK fakultas dan universitas tadulako, 25 – 28
agustus 2014
12. Tim medis pemeriksaan tekanan darah anjungan, 31 agustus 2014
13. Tim medis expo muslimah auditorium, 10 – 12 september 2014
14. Tim medis festival teluk palu, 27 – 29 september 2014
15. Tim medis sirkumsisi massal unismuh, 26 oktober 2014
16. Tim medis Lomba Lintas Alam Bolapapu Kulawi Mapala
Santigi, 10-16 oktober 2014
17. Tim medis lomba total orienteering Mapala Lalimpala, 1-2
November 2014
18. Tim medis Baksos Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat,
9 November 2014
19. Tim medis temu panjat tebing nasional III Mapala Galara, 21-23
November 2014
20. Tim medis lomba basket BEM Hukum, 24 – 30 November 2014
21. Tim medis Porseni Universitas Tadulako, 28 november – 6
desember 2014
22. Tim medis pemeriksaan KKN, 12 – 23 desember 2014
23. Tim medis konser Tulus dan Raisha, 29 desember 2014
Kendala 1. Lambatnya surat permintaan tim medis yang masuk kesekretaris
sehingga berpengaruh terhadap Rencana Operasional
2. Tidak adanya bukti tertulis kerjasama antara TBM Axis dengan
pihak pemohon sehingga persiapan untuk tim dan obat-obatan
tidak siap ;100%
Rekomendasi 1. Lebih meningkatkan sosialisasi untuk kesemua instansi-instansi
mengenai syarat-syarat permohonan tim medis khususnya
masuknya surat kesekretaris dan standar operasional prosedur
sehingga rencana operasional dapat berjalan dengan baik seperti
pembuatan brosur pengenalan dan prosedur permohonan tim medis
kesehatan
2. Pembuatan bukti kerjasama secara tertulis

PROGRAM KERJA DIVISI OBM


3. TIM REAKSI CEPAT
Realisasi Kerja Terlaksana
Tujuan Perwujudan dari pengabdian kepada masyarakat, serta membantu
dalam penanggulangan bencana dan menangani kegawatdaruratan
medis yang memerlukan tindakan cepat
Indikator Indikator reaksi cepat didasarkan pada Ketepatan waktu reaksi cepat
a. Tim beraksi 1-2 hari saat terjadi bencana
keberhasilan
Skor (3)
b. Tim beraksi 3-4 hari saat terjadi bencana
Skor (2)
c. Tim beraksi 5-6 hari saat terjadi bencana
Skor (1)
Gambaran realisasi Divisi OBM mendapatkan informasi mengenai bencana yang sedang
kerja terjadi baik dari pihak BASARNAS / BNPB, Divisi Infokom dan
anggota TBM Axis yang kemudian akan mengkonfirmasi Tim Reaksi
Cepat yang sudah dibentuk sebelumnya dan koordinasi dengan Divisi
Kesekretariatan untuk persiapan obat-obatan dan peralatan medis
untuk persiapan penurunan tim. TRC dilepas menuju lokasi bencana
yang telah dikonfirmasi sebelumnya untuk mengumpulkan informasi
mengenai bencana yang terjadi dan melaporkan hasil yang didapatkan
kepada OBM untuk mengkonfirmasi apakah dibutuhkan tim medis
tambahan atau keperluan untuk korban bencana dan selanjutnya
menyampaikan informasi bencana kepada Divisi Infokom untuk
penyebaran dimedia sosial.

Tim Reaksi Cepat yang diturunkan :


1. Banjir maesa dan jembatan 3 Palu, Sulawesi Tengah
2. Kebakaran rumah di Jalan imam bonjol Palu, Sulawesi tengah
3. Kebakaran gudang dan rumah makan depan wirabuana Palu,
Sulawesi Tengah
4. Kebakaran kompleks kos di wani Kabupaten Sigi, Sulawesi
Tengah
5. Kebakaran rumah di Jalan Setiabudi Palu, Sulawesi Tengah

Tim Reaksi Cepat yang tidak diturunkan :


1. Banjir Kecamatan Tulo, Kabupaten Donggala, Sulawesi
Tengah
2. Banjir Bandang Luwuk, Sulawesi tengah
3. Banjir Pantai Barat.
4. Meletusnya Gunung Merapi Lakon Sulawesi Utara
5. Gempa Bumi Maluku Utara
6. Kebakaran Panti Asuhan Birobuli Utara, Palu Selatan,
Sulawesi Tengah
Kendala 1. Lambatnya informasi yang diterima oleh TBM Axis sehingga
menghambat penurunan Tim Reaksi Cepat
2. Tidak adanya informasi yang diterima dari instansi – instansi
BASARNAS dan BPBD walaupun sudah menjalin kerjasama
3. Kendaraan operasional yang tidak dapat dimobilisasi kapan saja
4. Kesiapan anggota untuk diturunkan yang masih minim
Rekomendasi 1. Melanjutkan follow up kerjasama dengan pihak BASARNAS dan
BPBD minimal setiap bulan sehingga informasi bencana bisa lebih
cepat sampai ke TBM Axis
2. Menjadi tugas semua anggota TBM Axis untuk memberikan
informasi terkait adanya bencana yang terjadi
3. Pemilahan tas – tas emergensi untuk penurunan Tim Reaksi Cepat

PROGRAM KERJA DIVISI OBM


4. BAKTI SOSIAL
Realisasi Kerja Terlaksana
Tujuan Mengaplikasikan keterampilan dan skill dari anggota,perwujudan dari
pengabdian kepada masyarakat, serta menjalin kebersamaan antar
anggota
Indikator Dikatakan berhasil jika:
a. > 80 % dari jumlah anggota axis yang mengikuti skor (3)
keberhasilan
b. 50 – 79 % dari jumlah anggota axis yang mengikuti skor (2)
c. < 50 % dari jumlah anggota axis yang mengikuti skor(1)
Gambaran realisasi Bakti sosial yang dilaksanakan 2 kali dalam satu periode, yang
kerja pertama dikecamatan baluase, kabupaten sigi, Sulawesi tengah dan
kecamatan ampana, kabupaten tojo unauna, Sulawesi barat
Kendala 1. Dana proposal baksos yang lambat keluar dari rektorat dan
dekanat serta kurangnya perusahaan – perusahaan yang
mendukung untuk berlangsungnya baksos TBM
2. Kurangnya dokter yang ingin menjadi penanggung jawab ketika
memilih lokasi baksos dengan jarak yang jauh
3. Penentuan tanggal yang susah karena padatnya jadwal organisasi
lain dan jadwal akademik yang selalu berubah-ubah karena
persiapan baksos yang memerlukan waktu yang cukup
Rekomendasi 1. Menambahkan jenis kegiatan baksos selain sirkumsisi,
pemeriksaan penunjang dan penyuluhan kesehatan untuk
membuat kegiatan Bakti Sosial Akbar
2. Bakti sosial dilaksanakan saat musim libur sekolah anak sekolah
dasar agar minat pasien baksos meningkat
3. Proposal bakti sosial dibuat dan dimasukkan ke instansi
pemerintah tempat pelaksanaan bakti sosial sebelum waktu
penyusunan APBD (anggaran pemerintah belanja daerah)
setempat