Anda di halaman 1dari 12

Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No.

2, September 2018

Penelitian
PENGARUH PELATIHAN DAN PENERAPAN METODE 5S
OLEH KEPALA RUANGAN TERHADAP PERENCANAAN
LOGISTIK DI RUMAH SAKIT SWASTA KOTA MEDAN
1.
Paskah Rina Situmorang; 2. Edy Syahputra Ritonga

1,2.
Dosen Prodi S-I Keperawatan, STIKes Imelda, Jalan Bilal Nomor 52 Medan

E-mail: paskahsitumorang85@gmail.com

ABSTRAK

Sikap kerja 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke) merupakan suatu sikap yang harus dimiliki
seorang pekerja dalam sebuah organisasi. Dimana sikap kerja ini berawal dari kebulatan tekat yang
dimiliki oleh anggota dalam suatu organisasi untuk mencapai suatu tujuan dalam hal pemilahan alat-alat
di Rumah Sakit. Dengan proses pemilahan, penataan, pembersihan, pemantapan dan pembiasaan
terhadap alat-alat kesehatan serta komitmen yang kuat dari seluruh perawat sangat dibutuhkan dalam
melaksanakan pekerjaan sehingga asuhan keperawatan dapat dilaksanakan dengan baik. Salah satu
komponen penting dalam mendukung upaya penyembuhan adalah peralatan kesehatan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pelatihan dan penerapan metode 5S oleh kepala ruangan
terhadap perencanaan logistik di Rumah Sakit Swasta Kota Medan. Jenis penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif dengan metode quasi experimental study dengan desain one group pre test-post test. Populasi
dalam penelitian ini adalah kepala ruangan rawat inap yang ada di rumah sakit swasta kota medan
berjumlah 25 orang. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling. Hasil penelitian didapatkan
bahwa ada pengaruh pelatihan dan penerapan metode 5S terhadap perencanaan logistik dimana Uji Mc
Nemar pada fungsi perencanaan, penyimpanan, pemeliharaan dan pengendalian sebesar 0,002. Setelah
intervensi penerapan metode 5S perencanaan logistik kepala ruangan yang meliputi fungsi perencanaan,
penyimpanan, pemeliharaan, dan pengendalian mengalami peningkatan yaitu dalam kategori baik
sebanyak 25 orang (100 %). Hasil observasi yang dilakukan peneliti kepada seluruh kepala ruangan di
ruang rawat inap rata-rata sudah melaksanakan penerapan metode 5S yaitu pemilihan kebutuhan alat
sesuai dengan pedoman penerapan metode 5S. Saran kepada seluruh kepala ruangan dan perawat yang
ada di rumah sakit khususnya diruangan untuk terus melakukan perencanaan logistik dengan baik dan
melaksanakan tugas pokok masing-masing sehingga fungsi perencanaan berjalan optimal sesuai
prosedur dan pengadaan alat dilakukan secara efektif dan efisien sehingga dapat meningkatkan mutu
asuhan keperawatan.

Kata kunci: Metode 5S, Perencanaan Logistik, Kepala Ruangan

PENDAHULUAN memerlukan suatu sarana dan prasarana


yang lengkap untuk mencapai suatu tujuan.
Rumah sakit merupakan suatu Sarana dan prasarana tersebut harus dikelola
organisasi yang bergerak dalam pemberian oleh suatu organisasi, sehingga proses
pelayanan kesehata yang berfokus bukan perencanaan sampai pendistribusian alat
pada masalah pelayanan medik tetapi dapat dikelola dengan baik dan benar. Oleh
menyangkut pada masalah pelayanan non karena itu rumah sakit harus memiliki suatu
medik, karena rumah sakit merupakan suatu unit yaitu bidang logistik, yang bertujuan
organisasi yang padat akan modal, padat memenuhi kebutuhan akan alat-alat/barang-
karya dan padat akan masalah. Demi untuk barang dalam mendukung pemberian
menunjang pelayanan yang bermutu bagi pelayanan kepada pasien di rumah sakit
pasien di rumah sakit, maka rumah sakit (Tristyana, 2012). Untuk mendukung
469
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No. 2, September 2018

pemberian pelayanan yang bermutu dan Manajer berfungsi mengelolabidang logistik


berkualitas, Rumah sakit dalam hal dimana fungsinya mengidentifikasi,
pengelolaan alat-alat/barang-barang harus merencanakan pengadaan, pendistribusian
dilakukan secara efektif dan efisien, alat hingga mengembangkan sistem
sehingga alat-alat medik dan non medik saat pengelolaan logistik secara efektif dan
diperlukan dapat diperoleh dengan cepat efisien. Pengadaan alat yang tepat dapat
dengan jumlah yang cukup dan mutu yang memperlancar kegiatan pelayanan pasien
baik (Ria, 2012). sehingga dapat memberikan dampak yang
Komponen penting dalam mendukung baik dan bermutu . Manajer logistik harus
proses penyembuhan pasien adalah peralatan mampu mengantisipasi kejadian darurat,
kesehatan. Syang mana dijelaskan dalam membuat skala prioritas serta melakukan
Undang-undang Republik Indonesia Nomor perubahan yang dibutuhkan untuk
44 Tahun 2009 bahwa setiap rumah sakit pencapaian tujuan umum rumah sakit.
harus menjamin ketersediaan alat-alat Manajer logistik memiliki kemampuan
kesehatan, maka ketersediaan peralatan di untuk mencegah atau meminimalkan
rumah sakit sangat mempengaruhi mutu pemborosan, kerusakan, kadaluarsa,
pelayanan kesehatan yang diberikan kepada kehilangan alat yang dapat memberikan
pasien untuk meningkatkan kepuasan pasien. dampak kepada pengeluaran ataupun biaya
Oleh karena itu, peralatan di rumah sakit operasional rumah sakit. Bahan atau alat
haruslah lengkap serta kondisi maupun yang disediakan rumah sakit
fungsinya harus dalam keadaan baik dikelompokkan menjadi persediaan farmasi
sehingga mendukung dalam pemberian (antara lain: obat, bahan kimia, gas medik,
pelayanan kesehatan (Massie, 2010). peralatan kesehatan), persediaan makanan,
Bidang logistik di suatu rumah sakit persediaan logistik umum dan teknik
merupakan unit penunjang yang sangat (Massie, 2010).
penting karena bidang logistik memberikan Mengingat pentingnya pelaksanaan
pelayanan dalam memenuhi kebutuhan akan manajemen logistik yang baik di sebuah
alat-alat/barang-barang yang dibutuhkan rumah sakit dalam menunjang pelayanan
oleh setiap ruang perawatan dirumah sakit, kesehatan bagi masyarakat, mendorong
untuk itu bidang logistik harus selalu peneliti untuk melakukan evaluasi
menyediakan alat-alat/barang–barang yang mengenai perencanaan logistik alat
dibutuhkan oleh user atau pasien (Tristyana, kesehatan di rumah sakit. Yulianingsih
2012). Sebagai seorang manajer (2011) mengatakan bahwa ketidak
keperawatan kepala ruangan bertugas tersedianya alat kesehatan di ruangan
melaksanakan fungsi perencanaan yaitu tergantung pada sistem pengelolaan yang
merencanakan jumlah dan jenis peralatan dipengaruhi oleh unsur-unsur manajemen
yang dibutuhkan. Kepala ruangan juga yang meliputi kebijakan pelayanan,
bertugas mengelola dan melaksanakan organisasi, SDM, sarana/prasarana, metode,
penyusunan permintaan rutin ruangan akan sistem informasi, serta aspek manajemen
kebutuhan alat dan bahan untu mendukung logistik yang meliputi proses perencanaan,
proses penyembuhan pasien, mengatur dan pengadaan, penerimaan, penyimpanan,
mengkoordinasikan pemeliharaan peralatan pendistribusian serta pengendalian.
agar selalu dalam keadaan bersih dan siap Penelitian yang dilakukan Kalterina
pakai, serta bertanggung jawab dalam (2011) mengatakan bahwa perencanaan alat
pelaksanaan inventarisasi peralatan yang ada kesehatan di Rumah Sakit Ciawi Bogor
di ruangan, dan sebagai pengawas dan diruang perawatan tidak akurat yang
pengendalian peralatan secara efektif dan disebabkan adanya hambatan yang terjadi
efisien (Depkes RI,1994). pada SDM, organisasi, kebijakan, prosedur,
Keberhasilan pengelolaan logistik di laporan pemakaian obat dan alat kesehatan,
rumah sakit tergantung pada kompetensi penentuan perencanaan jumlah obat dan alat
yang dimiliki oleh manajer logistik yang kesehatan. Penelitian Fannya (2011) tentang
termasuk didalamnya adalah kepala ruangan. evaluasi pelaksanaan manajemen logistik

470
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No. 2, September 2018

alat kesehatan di Puskesmas Biaro rumah sakit harus semakin diperhatikan


Kabupaten Agam menyatakan bahwa (Subagya, 1990). Oleh sebab itu, rumah
pelaksanaan manejemen logistik alat sakit memerlukan metode 5S untuk dapat
kesehatan belum memiliki petugas khusus menghilangkan ketidak efektifan dan
dalam mengelola alat kesehatan, pengelola efisienan, mencegah kesalahan dan membuat
alat kesehatan dilaksanakan oleh petugas sesuatu pekerjaan menjadi semakin lebih
laboratorium dan belum adanya baik (Efranto, 2012).
penganggaran kebutuhan alat kesehatan, Hasi penelitian di atas menunjukkan
barang-barang masih banyak yang rusak bahwa permasalahan dalam manajemen
menumpuk di gudang dan pemberian kode logistik khususnya alat kesehatan
pada barang belum terlaksana secara merupakan masalah yang begitu kompleks
keseluruhan, pemeliharaan mengenai alat- dan saling terkait antara fungsi-fungsinya.
alat belum berjalan dengan baik dan Perencanaan dan pengelolaan manajemen
penghapusan akan alat-alat yang rusak logistik yang baik sangat dibutuhkan untuk
belum terlaksana. menjamin terselengaranya pelayanan asuhan
Penelitian Angkasawati (2008) keperawatan yang bermutu. Dengan
menyebutkan bahwa permasalahan demikian penerapan metode 5S merupakan
manajemen logistik khususnya obat dan alat suatu dasar dalam memberikan suatu
kesehatan merupakan masalah yang begitu tekanan kepada lingkungan kerja yang
kompleks dan saling berkaitan antara terorganisir dengan baik. Tanpa adanya
fungsi-fungsinya. Perencanan dan gerakan 5S tidak satupun program dan
pengelolaan yang baik sangat diperlukan inovasi ditemukan untuk memperoleh
untuk menjamin terselenggaranya pelayanan kondisi lingkungan kerja yang lebih baik
kesehatan yang bermutu bagi masyarakat. (Osada, 2002).
Penelitian Tristyana (2012), tentang analisis Sebutan 5S berasal dari istilah jepang
manajemen logistik dan pengenalan yaitu Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan
penerapan pengendalian perencanaan Ven Shitsuke. 5S merupakan suatu semboyan
system di gudang obat di Rumah Sakit Gatot dikarenakan hal ini sulit diingat oleh orang
Subroto mengatakan bahwa proses non-jepang, maka di Indonesia diartikan
perencanaan logistik belum dilakukan sebagai hal pemilahan, penataan,
dengan kebutuhan, proses penyimpanan pembersihan, pemantapan dan pembiasaan
logistik kesehatan belum sesuai dengan (Osada, 2002). Konsep 5S merupakan cara
standart. Perencanaan belum terkoordinir penting untuk memberikan tekanan pada
dengan baik yang mengakibatkan pengaturan tempat kerja yang baik, yang
penyimpanan barang menumpuk tidak melibatkan semua pihak di lingkungan
tersusun dengan rapi dan sistem tempat kerja. Istilah 5S muncul di
penghapusan belum ada. perusahaan di Jepang dan sukses dalam
Pembinaan dan pengelolaan peralatan menerapkan konsep 5S ini. Lima S bukan
tidak mudah, bahkan sebaliknya akan saja sangat diperlukan dalam melibatkan
semakin kompleks. Oleh karena itu, hal ini setiap orang tetapi juga merupakan suatu
membutuhkan perhatian dan penertiban aktivitas untuk meraih kesukses (Osada,
yang sangat serius. Hal ini disebabkan 2002).
karena kecenderungan timbulnya gejala Sikap kerja 5S merupakan prinsip
merugikan seperti penggunaan barang yang kebulatan tekat dalam hal pemilahan alat-
kurang efektif dan efisient, sering alat/barang di tempat kerja, mengadakan
menimbulkan pemborosan, kurangnya penataan, pembersihan, pemeliharaan
kesadaran akan arti dan nilai dari barang kondisi kerja yang baik serta memelihara
khususnya peralatan, administrasi yang tidak kebiasaan dari pegawai dimana sangat
tepat dalam hal kegiatan pengadaan barang, dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan
penyimpanan, penghapusan dan dengan baik (Osada, 2002). Sikap kerja 5S
pengawasan. Oleh karena itu peranan di lingkungan kerja bisa tidak memberikan
pengelolaan peralatan dan perlengkapan di hasil yang dramatis, tetapi pasti memberikan

471
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No. 2, September 2018

hasil yang baik bila dilakukan dengan benar. post test design yaitu suatu rancangan yang
Hasilnya dalam bekerja menjadi lebih dilakukan pada satu kelompok subyek yang
mudah, berkurangnya pemborosan waktu, diberikan perlakuan (intervensi) untuk
kebanggaan pegawai atas pekerjaannya, dan melihat efek sebelum dan sesudah perlakuan
produktivitas yang lebih tinggi dan mutu (Fraenkel & Wallen, 2009).
yang baik (Efranto, 2012). Penelitian ini bertujuan untuk
Metode 5S ini tidak sulit untuk mengetahui pengaruh pelatihan dan
dipahami oleh setiap pegawai. Tetapi sulit penerapan metode 5S oleh kepala ruangan
untuk di laksanakan dengan baik dan benar terhadap perencanaan logistik sebelum dan
dimana metode ini memerlukan kegigihan, sesudah pemberian metode 5S di Rumah
kebulatan tekat, usaha yang terus menerus Sakit Swasta Kota Medan. Pengambilan data
dari karyawan dan kesanggupan dalam dilakukan mulai bulan Januari 2018, yaitu
melihat apa yang penting serta memerlukan dengan melakukan penelusuran kepustakaan
perhatian secara mendetail dari pegawai. dan penyusunan proposal, penelitian dan
Sikap kerja 5S akan memberikan hasil analisis data. Populasi dalam penelitian ini
dengan praktek kerja yang lebih mudah adalah kepala ruangan di ruang rawat inap
dengan berkurangnya pemborosan waktu yang ada di Rumah Sakit Swasta Kota
saat mencari dan mengambil alat- alat Medan yang berjumlah 25 orang. Teknik
(Osada, 2002). pengambilan sampel dalam penelitian ini
Berdasarkan observasi yang dilakukan adalah total sampling. Penelitian ini
peneliti di rumah sakit swasta kota medan dilakukan setelah mendapat persetujuan
khususnya di ruang rawat inap diperoleh dari kemenristek Dikti, selanjutnya peneliti
informasi penataan dan penyimpanan berkas mengirim surat permohonan
dan peralatan tidak baik sehingga hal penelitian untuk mendapatkan izin
tersebut memberi dampak yang sangat melakukan penelitian di Rumah Sakit
berpengaruh dalam proses kegiatan perawat Swasta Kota Medan. Proses mengurus
sehari–hari, alat-alat disimpan dan digabung administrasi ini berlangsung di bulan Januari
dalam satu lemari tanpa ada keterangan dan proses penelitian dilakukan di bulan
mengenai alat tersebut. Hasil wawancara Januari 2018.
dengan kepala ruangan mengatakan hampir
semua perawat kurang baik dalam Analisa Data
penyimpanan dokumen dan alat–alat medis Analisa Univariat
yang ada di ruang rawat inap yang Statistik univariat digunakan untuk
menyebabkan terkadang alat rusak saat di menyajikan distribusi frekuensi data–data
pakai kembali kepada pasien lain, alat tidak demografi perawat meliputi umur, jenis
langsung dibersihkan, proses pengadaan alat kelamin, pendidikan, lama kerja, distribusi
sangat lama, penempatan alat yang tidak frekuensi pada perencanaan logistik pada
sesuai menyebab saat alat akan dipakai saat pre dan postest.
kepada pasien membutuhkan waktu yang
cukup lama dalam pengambilan alat. Oleh Analisa Bivariat
karena itu, peneliti ingin meneliti tentang Statistik bivariat merupakan metode
’’Pengaruh Pelatihan dan Penerapan Metode analisis data untuk menganalisis antara dua
5S Kepala Ruangan terhadap Perencanaan variabel. Untuk mengetahui apakah ada
Logistik di Rumah Sakit Swasta Kota pengaruh penerapan metode 5S oleh kepala
Medan Tahun 2018‘’ ruangan terhadap perencanaan logistik pre
dan post pemberian intervensi maka uji yang
METODE digunakan dalam penelitian ini adalah uji
statistik Mc Nemar untuk melihat pengaruh
Penelitian ini merupakan penelitian penerapan metode 5S oleh kepala ruangan
kuantitatif dengan menggunakan rancangan terhadap perencanaan logistik. Hasil analisa
penelitian metode Quasi-Experimental Study diperoleh jika nilai p-value <0,05 maka Ho
dengan desain penelitian one group pre-test– ditolak, ini berarti ada pengaruh penerapan
472
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No. 2, September 2018

metode 5S oleh kepala ruangan terhadap kepala ruangan dengan masa kerja 11-15
perencanaan logistik. tahun sebanyak 5 orang (20 %).

HASIL 2. Perencanaan Logistik Kepala


Ruangan Sebelum Penerapan
1. Karakteristik Kepala Ruangan Di Metode 5S (N=25)
Rumah Sakit Swasta Kota Medan Tabel 2. Fungsi Perencanaan Sebelum
Tabel 1. Deskripsi Subjek Penelitian Penerapan Metode 5S
Berdasarkan Karakteristik Demografi No Fungsi Frekuensi Persentase
Kepala Ruangan di Rumah Sakit Swasta Perencanaa (F) (%)
n
Kota Medan Tahun 2018 (N=25)
1 Dilakukan 11 44
No Karakteristi Frekuen Persentase
2 Tidak 14 56
k Responden si (n) (%)
dilakukan
1 Usia 25 100
24 – 28 10 40 Tabel 2 di atas menunjukkan kepala
29 – 33 7 28 rungan yang melakukan perencanaan
34 – 38 6 24 logistik terkait fungsi perencanaan sebanyak
39 – 43 2 8 11 kepala ruangan (44 %), dan yang tidak
2 Jenis melakukan perencanaan logistik sebanyak
kelamin 14 kepala ruangan (56 %).
Perempua 19 76
n Tabel 3. Fungsi Penyimpanan Sebelum
Laki-Laki 6 24 Penerapan Metode 5S
3 Pendidika Fungsi Frekuensi Persentase
n No
Penyimpanan (F) (%)
D3 11 44 1 Dilakukan 14 56
Keperawat Tidak
an 2 11 44
dilakukan
S1 14 56 25 100
Keperawat Tabel 3 di atas menunjukkan kepala
an
rungan yang melakukan perencanaan
4 Lama
logistik terkait fungsi penyimpanan
Kerja
1–5 12 48
sebanyak 14 kepala ruangan (56 %), dan
kepala ruangan yang tidak melakukan fungsi
6 – 10 8 32
penyimpanan dengan baik sebanyak 11
11 – 15 5 20
kepala ruangan (44 %).
Berdasarkan tabel 1 karakteristik
demografi kepala ruangan berdasarkan usia Tabel 4. Fungsi Pemeliharaan Sebelum
mayoritas berusia 24-28 tahun sebanyak 10 Penerapan Metode 5S
orang (40 %), dan minoritas kepala ruangan No Fungsi Frekuensi Persenta
berusia 39-43 tahun sebanyak 2 orang (8 %). Pemeliharaan (F) se
Berdasarkan jenis kelamin mayoritas kepala (%)
ruangan berjenis kelamin perempuan 1 Dilakukan 18 72
sebanyak 19 orang (76 %), dan minoritas Tidak
2 Tidak dilakukan 7 28
kepala ruangan berjenis kelamin laki-laki 25 100
sebanyak 6 orang (24 %). Berdasarkan Tabel 4 di atas menunjukkan kepala
Pendidikan mayoritas kepala ruangan ruangan yang melakukan perencanaan
berpendidikan S-1 sebanyak 14 orang (56 logistik kepala rungan terkait fungsi
%), dan minoritas kepala ruangan perencanaan baik sebanyak 18 kepala
berpendidikan D-3 sebanyak 11 orang (44 ruangan (72 %), dan yang tidak melakukan
%). Berdasarkan Lama kerja mayoritas fungsi pemeliharaan sebanyak 7 kepala
kepala ruangan dengan masa kerja 1-5 tahun ruangan (28 %).
sebanyak 12 orang (48 %), dan minoritas
473
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No. 2, September 2018

Tabel 5. Fungsi Pengendalian Sebelum (%)


Penerapan Metode 5S
No Fungsi Frekuensi Persenta 1 Dilakukan 25 100
Pengendalian (F) se 2 Tidak 0 0
(%) dilakukan
1 Dilakukan 15 60 25 100
2 Tidak 10 40 Tabel 8 di atas menunjukkan
dilakukan perencanaan logistik kepala rungan setelah
25 100 penerapan metode 5S terkait fungsi
Tabel 5 di atas menunjukkan kepala perencanaan baik sebanyak 25 kepala
ruangan yang melakukan perencanaan ruangan (100 %).
logistik terkait fungsi pengendalian
sebanyak 15 kepala ruangan (60 %), dan Tabel 9. Fungsi Pengendalian Setelah
kepala ruangan yang tidak melakukan Penerapan Metode 5S
pengendalian alat diruangan sebanyak 10 No Fungsi Frekuensi Persentase
Pengendalian (F) (%)
kepala ruangan (40 %).
1 Dilakukan 25 100
2 Tidak dilakukan 0 0
3. Perencanaan Logistik Kepala 25 100
Ruangan Setelah Penerapan Metode Tabel 9 di atas menunjukkan kepala
5S (N=25)
ruangan yang melakukan perencanaan
Tabel 6. Fungsi Perencanaan Setelah
logistik terkait fungsi pengendalian alat di
Penerapan Metode 5S
rungan setelah penerapan metode 5S
No Fungsi Frekuen Persentase
sebanyak 25 kepala ruangan (100 %).
Perencanaan si (%)
(F)
1 Dilakukan 25 100 4. Perbedaan Perencanaan Logistik
2 Tidak 0 0 Kepala Ruangan Sebelum dan
dilakukan Sesudah Intervensi Penerapan Metode
25 100 5S (N=25)
Tabel 6 di atas menunjukkan kepala Tabel 10. Uji Mc Nemar Test Perbedaan
ruangan yang melakukan perencanaan Perencanaan Logistik Sebelum dan Sesudah
logistik di rungan setelah penerapan metode Intervensi Penerapan Metode 5S (N: 25)
5S terkait fungsi perencanaan sebanyak 25 N Nila Peren Penyi Pemeli Peng
kepala ruangan (100 %). o i canaa mpana haraa enda
n n n lian
Tabel 7. Fungsi Penyimpanan Setelah Pre/P Pre/Po Pre/Po Pre/
ost st st Post
Penerapan Metode 5S 1 Exa 0,002 0,002 0,002 0,002
No Fungsi Frekuensi Persenta ct
Penyimpanan (F) se Sig.
(%) (2-
1 Dilakukan 25 100 taile
2 Tidak 0 0 d)
dilakukan
Dari Tabel 10 di atas diketahui hasil
25 100
fungsi perencanaan, penyimpanan,
Tabel 7 di atas menunjukkan kepala
pemeliharaan dan pengendalian sesudah
ruangan yang melakukan perencanaan
intervensi penerapan metode 5S didapat
logistik terkait fungsi penyimpanan setelah
bahwa nilai p-value < 0,05. Hal ini
penerapan metode 5S sebanyak 25 kepala
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
ruangan (100 %).
rerata skor yang bermakna antara nilai
pretest dan posttest pada perencanaan
Tabel 8. Fungsi Pemeliharaan Setelah
logistik oleh kepala ruangan dimana terdapat
Penerapan Metode 5S
peningkatan perencanaan logistik oleh
No Fungsi Frekuensi Persenta
Pemeliharaan (F) se kepala ruangan setelah intervensi penerapan
474
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No. 2, September 2018

metode 5S pada (posttest) dengan ada di rumah sakit khususnya di ruangan


menggunakan pengukuran terhadap perawatan. Serta SDM yang terlibat
perencanaan logistik lebih tinggi dibanding mengetahui tugas masing-masing. Hal
sebelum penerapan metode 5S (pretest). tersebut didukung dari hasil observasi yang
Artinya hipotesa (Ho) diterima yaitu ada dilakukan tidak adanya dokumen tentang
pengaruh penerapan metode 5S terhadap perencanaan alat dan prosedur tetap dalam
perencanaan logistik. menentukan perencanaan kebutuhan alat
kesehatan di ruangan. Dalam hal ini,
PEMBAHASAN perencanaan harus dikerjakan dalam kurun
waktu tertentu (Febriawati, 2013).
Bab ini menguraikan tentang interpretas Penelitian yang dilakukan oleh Rumbay
i dan pembahasan hasil penelitian yang (2002) tentang analisis perencanaan alat
mengacu pada teori dan hasil penelitian kesehatan dimana proses perencanaan alat
sebelumnya. Penjelasan hasil penelitian kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten
meliputi perencanaan logistik pada Minahasa belum sesuai dengan pedoman
responden sebelum intervensi dan setelah teknis pengolahan alat kesehatan yang
intervensi, perbedaan perencanaan logistik ditentukan oleh Menteri kesehatan sehingga
kepala ruangan sebelum intervensi dan proses perencanaan alat kesehatan di rumah
setelah intervensi. sakit perlu dioptimalkan.
Proses penyimpanan alat kesehatan
Perencanaan Logistik Kepala Ruangan adalah suatu kegiatan dan usaha yang harus
Sebelum Intervensi dilakukan oleh seluruh perawat yang ada di
Kelompok penelitian terdiri dari satu rumah sakit, pengaturan akan barang
kelompok intervensi. Hasil perencanaan persediaan/stok di dalam ruangan harus
logistik kepala ruangan yang meliputi fungsi dilakukan dengan baik. Kegagalan dalam
perencanaan penentuan kebutuhan sebelum hal penyimpanan alat memberikan dampak
intervensi penerapan metode 5S yang yang buruk yakni pemborosan karena
melakukan perencanaan logistik sebanyak penyediaan kebutuhan yang sangat kurang
11 orang (44 %), dan yang tidak melakukan atau tidak tersedia (Subagya, 1994). Hasil
perencanaan logistik sebanyak 14 orang (56 penelitian perencanaan logistik kepala
%). Hal ini dapat mempengaruhi kualitas ruangan terkait fungsi penyimpanan alat
pelayanan yang diberikan rumah sakit. diketahui kepala ruangan yang melakukan
Dimana rumah sakit seharusnya memberika fungsi penyimpanan alat yang baik di
n pelayanan yang maksimal dengan ruangan sebanyak 14 orang (56 %), dan
ketersediaan alat kesehatan yang lengkap kepala ruangan yang tidak melakukan fungsi
dan sesuai dengan fungsinya. penyimpanan alat dengan baik sebanyak 11
Perencanaan merupakan proses dalam orang (44 %). Dari hasil observasi yang
merumuskan sasaran serta menentukan dilakukan peneliti di ruangan kepala
langkah-langkah untuk mencapai suatu ruangan belum melakukan proses penataan
tujuan yang telah ditetapkan. Hasil alat dalam hal penyimpanan sesuai dengan
kuesioner kepala ruangan mengenai proses tempat yang telah di tentukan hal ini
perencanaan kebutuhan alat kesehatan di dikarenakan kepala ruangan belum memiliki
Rumah Sakit Umum Swasta Kota Medan panduan mengenai penataan alat di ruangan
diketahui masih terdapat kelemahan pada dan beban kerja perawat yang tinggi
sistem perencanaan yang ada dimana kepala sehingga alat kesehatan digabung di dalam
ruangan yang tidak melakukan perencanaan satu tempat.
kebutuhan alat sebanyak 14 orang (56 %), Penelitian serupa yang dilakukan
sehingga rumah sakit perlu melakukan Tristyana (2012) tentang analisis manajemen
pembaharuan sistem perencanaan alat logistik dan pengenalan pengendalian
kesehatan dan pembenahan dengan perencanaan ven sistem di RSPAD Gatot
membuat suatu standart baku yaitu (SOP) Soebroto mengatakan sistem penyimpanan
mengenai perencanaan alat kesehatan yang obat dan alat belum sesuai dengan

475
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No. 2, September 2018

persyaratan. Penyimpanan obat dan alat pengelolaan alat kesehatan/perlengkapan


masih diruangan tampak masih acak dan yang meliputi usaha dalam memonitor dan
tidak sesuai dengan jenis alat yang mengamankan proses pengelolaan logistik
dibutuhkan di ruangan. Ketidak teraturan (Subagya, 1994). Pengendalian merupakan
proses penyimpanan merupakan salah satu sistem pengawasan dari hasil laporan,
yang disebabkan oleh kemampuan dari penlilaian, pemantauan dan pemeriksaan
petugas pengelola yaitu perawat. Menurut terhadap langkah-langkah manjemen logistik
Febriawati (2013) mengatakan penyimpanan yang sedang dan telah berlangsung. Hasil
merupakan kegiatan pengaturan persediaan penelitian perencanaan logistik kepala
sesuai dengan persyaratan yang telah ruangan terkait fungsi pengendalian alat
ditetapkan dengan sistem informasi yang diketahui kepala ruangan yang melakukan
selalu menjamin ketersediaan barang sesuai fungsi pengendalian alat yang baik di
dengan kebutuhan di rungan. ruangan sebanyak 15 orang (60 %), dan
Pemeliharaan alat adalah usaha atau kepala ruangan yang tidak melakukan fungsi
proses kegiatan dalam mempertahankan pengendalian alat dengan baik sebanyak 10
kondisi dan manfaat dari suatu alat. Alat orang (40 %). Hasil observasi yang
kesehatan yang baik dapat meningkatan dilakukan peneliti diketahui bahwa kepala
mutu dari kegunaan peralatan dimana pada ruangan tidak memeriksa stok alat-alat
dasarnya merupakan kegiatan menambah kesehatan yang ada di ruangan sehingga
umur peralatan, peningkatan efisiensi dari pada saat alat dibutuhkan oleh pasien alat
suatu alat (Subagya, 1994). Hasil penelitian terlebih dahulu dipesan ke apotik. Menurut
perencanaan logistik kepala ruangan terkait Aditama (2002) pengendalian bertujuan
fungsi pemeliharaan alat diketahui kepala menciptakan keseimbangan antara
ruangan yang melakukan fungsi persediaan dan permintaan. Karena itu
pemeliharaan alat yang baik di ruangan jumlah pasien yang opname dan stok alat
sebanyak 18 orang (72 %), dan kepala yang dipakai harus selalu seimbang dengan
ruangan yang tidak melakukan fungsi permintaan yang didasarkan atas satu
pemeliharaan alat dengan baik sebanyak 7 kesatuan waktu tertentu, misalnya tiga hari
orang (28 %). Hasil observasi yang atau satu minggu atau kurang dari satu
dilakukan peneliti diketahui kepala ruangan bulan. Pengadaan barang adalah titik awal
belum melakukan pembersihan alat dengan dari pengendalian persediaan alat kesehatan.
baik dimana diruangan masih terdapat alat Jika awal suda tidak tepat maka
kesehatan yang kotor dan rusak saat akan pengendalian sulit untuk dilakukan.
digunakan ke pada pasien, dan ketika alat Hasil penelitian yang dilakukan
selesai dipakai ke pasien perawat tidak (Tristyana, 2012) tentang analisis
segera membersihkan alat dan manajemen logistik dan pengenalan
mengembalikan alat kesehatan sesuai penerapan pengendalian ven system di
dengan tempatnya dan alat masih tampak RSPAD Gatot Soebroto mengatakan
digabung dalam atu lemari. pengendalian manajemen logistik sudah
Penelitian terkait yang dilakukan mendekati optimal yaitu sistem
Angkasawati (2007) tentang kajian penegendalian dilakukan dengan jumlah
pemanfaatan dan pemelihraan sarana dan stok opname. Subagya (1994) yang
alat kesehatan di Rumah Sakit dan tercantum dalam teori manajemen logistik
Puskesmas mengatakan perencanaan menekankan bahwa perencanaan
kebutuhan alat tidak dilakukan dengan merupakan hasil rangkuman dan keterkaitan
perhitungan yang baik sehingga biaya antara tugas pokok, aturan, gagasan,
pengelolaannya tidak terkoordinir pengetahuan, pengalaman dan keadaan
menyebabkan perhitungan alat yang tidak lingkungan yang merupakan cara terencana
efisien sehingga proses pemeliharaannya dalam memuat keinginan dan pedoman
tidak dilakukan secara optimal. tindakan untuk mengembangkan perubahan-
Pengendalian alat yang ada diruangan perubahan kearah yang lebih baik.
merupakan fungsi utama dari proses

476
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No. 2, September 2018

Perencanaan Logistik Kepala Ruangan laporan pemeliharaan fungsi alat kesehatan


Sesudah Intervensi 5S dan membuat kartu sok alat kesehatan serta
Setelah intervensi penerapan metode selalu mengecek kelengkapan alat setiap
5S yang diberikan oleh peneliti, perencanaan pergantian sif.
logistik oleh kepala ruangan di rumah sakit Pemberian informasi mengenai
swasta kota medan menunjukkan penerapan metode 5S ini sangat penting
peningkatan dimana sebanyak 25 orang dalam memfasilitasi perubahan individu.
kepala ruangan (100 %) melakukan Pengetahuan merupakan domain yang
perencanaan logistik dengan baik. Kepala sangat penting untuk membentuk suatu
ruangan mengatakan sudah memiliki tindakan dari seseorang. Pengetahuan sangat
pedoman dan prosedur tetap tentang diperlukan dalam mendukung pemenuhan
perencanaan alat kesehatan di ruangan. rasa percaya diri serta sikap dan perilaku
Perencanaan logistik merupakan suatu individu, sehingga dapat dikatakan
ide pemikiran, penelitian, perhitungan dan pengetahuan merupakan fakta yang sangat
perumusan tindakan-tindakan yang akan mendukung dari tindakan seseorang
dilakukan di masa yang akan datang, baik (Notoatmodjo, 2007).
berkaitan dengan kegiatan-kegiatan Hasil penelitian menunjukkan kepala
operasional dalam pengadaan logistik, ruangan sudah memiliki perencanaan
maupun pengguna logistik. Perencanaan logistik yang baik yang terdiri dari fungsi
logistik dapat diartikan sebagai proses perencanaan, penyimpanan, pemeliharaan
perumusan kebutuhan-kebutuhan logistik dan pengendalian alat kesehatan yang ada di
yang akan digunakan pada masa yang akan ruangan. Hasil kuesioner kepala ruangan
datang untuk mendukung tercapainya tujuan mengatakan pemberian penerapan metode
organisasi/perusahaan secara efektif dan 5S sangat bermanfaat dalam perencanaan
efisien. logistik yang ada di ruangan untuk
Setelah intervensi 5S dilakukan oleh meningkatkan mutu dari pelayanan kepada
kepala ruangan proses penyimpanan alat pasien. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian
oleh kepala ruangan diketahui kepala Aditama (2001) menjelaskan bahwa
ruangan yang melakukan fungsi perencanaan pengadaan barang logistik
penyimpanan alat kesehatan dengan baik harus dilakukan dengan baik sehingga alat
sebanyak 25 orang (100 %) dikarenakan tersedia saat akan di butukan, tetapi tidak
kepala ruangan sudah melakukan tertumpuk terlalu banyak di ruangan. Proses
pengelompokan alat sesuai nama alat, jenis perencanaan yang dilakukan dalam
dan kegunaan alat tersebut. Penyimpan alat memenuhi kebutuhan material alat
dilakukan sesuai keterangan akan alat serta kesehatan merupakan kegiatan yang
lebel dari masing-masing alat. memerlukan rencana jangka pendek dan
Pemeliharaan alat oleh kepala ruangan jangka panjang untuk mencapai tujuan yang
dengan melakukan fungsi pemeiharaan alat telah ditentukan sehingga perencanaan
kesehatan dengan baik sebanyak 25 orang kebutuhan dapat dilakukan secara efektif
(100 %) dikarenakan kepala ruangan sudah dan efisien.
melakukan prosedur pemeliharaan alat serta Informasi yang diperoleh dari kepala
meghimbau kepada seluru perawat ketika ruangan mengatakan mereka telah paham
alat selesai dipakai alat dibersihkan kembali mengenai perencanaan alat kesehatan mulai
sebelum disimpan ketempatnya sehingga dari perencanaan penentuan kebutuhan,
ketika alat kesehatan akan dipakai kembali penyimpanan, pemeliharaan dan
kepada pasien alat sudah dalam keadaan pengendalian alat melaui penerapan metode
baik. 5S yang dilakukan. Dimana kepala ruangan
Pengendalian alat kesehatan oleh kepala mengatakan telah memiliki pedoman tentang
ruangan diketahui yang melakukan fungsi cara menentukan kebutuhan alat,
pengendalian alat kesehatan dengan baik penyimpanan, pemeliharaan dan
sebanyak 25 orang (100 %) dimana kepala pengendalian alat sehingga perencanaan
ruangan telah membuat dokumen mengenai

477
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No. 2, September 2018

logistik alat kesehatan diruangan dapat memiliki perencanaan logistik baik


dilakukan dengan baik. sementara sebelum penerapan metode 5S
Sebelum dilakukannya penerapan masih ada kepala ruangan yang memiliki
metode 5S, masih ada kepala ruangan yang perencanaan logistik kurang baik. Dari hasil
memiliki perencanaan logistik kurang baik observasi terlihat bahwa responden yang
dimana perencanaan logistik meliputi fungsi antusias berupaya dalam memahami
perencanaan, fungsi penyimpanan, fungsi informasi dan demonstrasi penerapan
pemeliharaan dan fungsi pengendalian. metode 5S serta mencoba melakukan
Selama penelitian penerapan metode 5S perubahan yaitu responden dengan usia 24-
dilakukan kepala ruangan memiliki respon 28 tahun dimana kemampuan kognitif
yang positif saat diberikan penerapan perceptual dan numerik seseorang
metode 5S. mereka termotivasi dalam mengalami penurunan pada usia setengah
melakukan perencanaan, penyimpanan, umur, sedangkan kemampuan kognitif
pemeliharaan dan pengendalian alat yang penalaran induktif, orientasi spasial,
ada diruangan. Kepala ruangan mengatakan kosakata, dan memori verbal mengalami
metode 5S ini mempermuda dalam peningkatan. Kemampuan dalam memecahk
pengambilan dan penyimpanan alat an masalah dan pemikiran integratif juga
kesehatan dikerenakan alat tersusun rapi cenderung meningkat seiring dengan
sesuai dengan jenis dan nama alat di setiap bertambahnya usia karena semakin
tepat penyimpanan. Dan waktu pengambilan meningkatnya usia maka akan terjadi
alat lebih efektif saat akan di gunakan pada peningkatan cristalized intelligence.
pasien. Cristalized intelligence didapat dari
Berdasarkan teori yang ada dalam pengalaman masa lalu. Hal ini sesuai dengan
manajemen logistik Subagya (1994) konsep Bandura (1997) bahwa efikasi diri
menjelaskan bahwa suatu kegiatan dari merupakan keyakinan individu mengenai
tahap persiapan, pelaksanaan sampai dengan kemampuan dirinya dalam melakukan suatu
pencapaian tujuan dan sasaran diperlukan tugas atau tindakan yang diperlukan untuk
kerja sama yang terus menerus antara mencapai tujuan. Hal ini mengacu pada
pimpinan, perencana, pelaksana dari keyakinan akan kemampuan individu untuk
masing-masing kegiatan. Hasil perencanaan menggerakkan motivasi, kemampuan
logistik kepala ruangan mengalami kognitif, dan tindakan yang diperluhkan
peningkatan. Sebelum penerapan metode 5S untuk memenuhi suatu situasi. Kepala
masih ada responden yang memiliki ruangan mengatakan bahwa dengan
perencanaan logistik kurang baik penerapan metode 5S mereka lebih mudah
Dikarenakan belum adanya prosedur tetap dalam pengambilan dan penyimpanan alat.
dalam menentukan perencanaan kebutuhan Harapan kepala ruangan kepada seluruh
alat kesehatan. perawat di ruangan mau melaksanakan
penerapan metode 5S untuk
Perbedaan Perencanaan Logistik Kepala mempertahankan kondisi ruangan yang
Ruangan Sebelum dan Sesudah aman dan rapi sehingga dapat meningkat
Intervensi kan mutu akan pelayanan kepada pasien. Hal
Hasil penelitian perencanaan logistik ini sesuai dengan pendapat Osada (2002)
sebelum dan sesudah intervensi didapatkan yang mengatakan bahwa sikap kerja 5S
dengan mengunakan Uji Mc Nemer, dan merupakan suatu kebulatan tekat dari setiap
didapatkan nilai p-value < 0,05, sehingga staf untuk mengadakan pemilahan di tempat
dapat disimpulkan Ho ditolak dan Ha kerja, mengadakan penataan, pembersihan,
diterima. Artinya terdapat pengaruh pemeliharaan kondisi yang mantap dan
penerapan metode 5S terhadap perencanaan memelihara kebiasaan yang diperlukan
logistik. Intervensi penerapan metode 5S untuk melaksanakan pekerjaan dengan bailk.
oleh kepala ruangan mengalami peningkatan
tentang perencanaan logistik alat kesehatan.
Hasil posttest semua kepala ruangan

478
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No. 2, September 2018

KESIMPULAN perencanaan logistik alat kesehatan di


rumah sakit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
ada perbedaan hasil perencanaan logistik DAFTAR PUSTAKA
kepala ruangan sebelum dan sesudah
intervensi penerapan metode 5S. Sebelum Arraniry, B. (2012). Analisis perencanaan
penerapan metode 5S masih ada kepala logistik non medik di Sub Bagian
ruangan yang belum melakukan Rumah Tangga di Rumah Sakit
perencanaan, penyimpanan, pemeliharaan Umum Pusat Fatmawati. Tesis. FKM
serta pengendalian dengan baik dikarenakan UI, Depok Tidak dipublikasikan
belum adanya pedoman yang baku dari Anggaeni, D, M, & Suryono. (2013).
rumah sakit mengenai perencanaan, Metodologi penelitian kualitatif dan
penyimpanan, pemeliharaan serta kuantitatif dalam bidang kesehatan.
pengendalian alat kesehatan di ruangan. Yogyakarta : Nuhamedika
Setelah intervensi penerapan metode 5S Antoni,J, Brady, M & Laureani, A (2012).
kepala ruangan telah memiliki pedoman Applications of Lean Six Sigma in an
mengenai perencanaan logistik yang yang Irish hospital.Journal Leadership in
meliputi fungsi perencanaan, penyimpanan, Health Services. Vol 26 No. 4
pemeliharaan serta pengendalian dimana diperoleh April 2016.
sebelum penerapan metode 5S masih ada Barraza, S. & F Manuel, (2012), An
kepala ruangan yang belum melakukan exploratory study of 5S : a multiple
fungsi perencanaan, penyimpanan, case study of multinational
pemeliharaan serta pengendalian dengan organization in Mexico. Asian
baik tetapi setelah penerapan metode 5S Journal on Quality. Vol.13 No.1.
fungsi perencanaan, penyimpanan, diperoleh Desember 2015
pemeliharaan serta pengendalian alat oleh Febriawati, H. (2013). Manajemen logistic
kepala ruangan dilakukan dengan baik. farmasi rumah sakit. Yogyakarta :
Gosyen Publishing
SARAN Fannya, P. (2010). Evaluasi pelaksanaan
manajemen logistik alat kesehatan.
1. Bagi Rumah Sakit Padang. Tesis. FKM UI, Tidak
Perlu adanya pelatihan mengenai dipublikasikan
pengadaan barang serta cara Fraenkel, R. J. & Wallen, E. N. (2009). How
penyimpanan alat-alat kesehatan to design and evaluate research in
dengan baik. Serta perlu adanya education. (7
th
standarisasi atau pedoman yang baku ed). New York : McGraw Hill
dalam memilih alat kesehatan yang Kobayashi, K. Fisher, R & Gapp, R. (2008).
dibutuhkan sesuai dengan standart Implementing 5S within a japanese
klasifikasi rumah sakit context : an integrated management
2. Bagi Institusi Pendidikan system. Journal Management
Sebagai bahan referensi dosen dan Decision . Vol. 46 No.4 diperoleh
mahasiswa dalam menunjang proses Desember 2015
belajar mengajar mengenai perencanaan Komarudin. (1991). Manajemen produksi.
logistik alat kesehatan di rumah sakit. Jakarta : Bumi Aksara
3. Bagi Peneliti Selanjutnya Kasjono, S. (2009). Teknik sampling untuk
Penelitian ini memiliki kekurangan dan peneliti kesehatan. Yogyakarta :
keterbatasan didalamnya, maka dari itu Graha Ilmu
keterbatasan penelitian ini membuka
peluang untuk penelitian selanjutnya M.S. Subagya. H, (1990). Manajemen
untuk menggunakan waktu yang lebih logistik. Jakarta : CV Haji Masagung
dalam menerapkan metode 5S dalam Massie, S. (2010). Proses perencanaan
pengadaan barang kebutuhan alat

479
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 4, No. 2, September 2018

kesehatan. Tesis. Manado : FKM UI, 20 Tahun 1999 diperoleh Januari


Tidak dipublikasikan 2015
Nalysis, A, P. (2000). Educational research Setiadi, (2007). Konsep & penulisan
competencies for analysis and risetkKeperawatan. Jakarta : Edisi I
application. Sixth Edition. USA : Graha Ilmu
Peter Airasian Sastroasmoro, S. I, S. (2011). Dasar-dasar
Jimba, M, et al. (2015). Implementation of metodologi penelitian klinis edisi 4.
5S management method for lean Jakarta : CV. Sagung Seto
healthcare at a health center in Suwondo, C. (2012). Penerapan Budaya
senegal: a qualitative study of staff Kerja Unggulan 5S (Seri, Seiton,
perception. Journal Global Health Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke). Jurnal
Action. diperoleh April 2016 Menejemen di Indonesia. Jakarta
Osaka. T. (2002). Sikap kerja 5S. Jakarta : Spens. M, Karen & Kovacs. G, (2007).
PPM Humanitarian Logistics in disaster
Polite & Beck. (2012). Nursing research: relief operations. International
generating and assessing evidence for Journal of Physical Distribution &
nursing Logistics Management. Vol. 37 No.2
practice. 9 th Edition. USA: Lippincot diperoleh Januari 2016
Willian & Walkins Tristyana, N. (2012). Analisis manajemen &
Pamudji, D. (2007), Analisis sistem pengenalan penerapan pengendalian
pengadaan logistik farmasi instalasi perencanaan VEN system di gudang
bedah sentral Rumah Sakit obat departemen gigi dan mulut
Kepolisian Pusat Raden Said Sukanto RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad.
Thun 2008. Jakarta. Tesis, FKM UI. Jakarta : Tesis FKM UI.2012
2008
Pertiwi. K.N. (2012). Leand hospital Undang-Undang Republik Indonesia No 44 ,
sebagai usulan perbaikan sistem (2009). Tentang Rumah Sakit
Rack addressing dan Order picking Vactor V. D. J (2011). Cognizant healthcare
gudang logistic perbekalan logistics management: ensuring
keseharan Rumah sakit Islam. Tesis. resilience during crisis. International
FKM UI, Jakarta Tidak Journal of Disaster Resilience in the
dipublikasikan Built Environment. Vol. 2 No.3.
Pokharel, S. & Pan T. X. Z. (2007). diperoleh Januari 2016
Logistics in hospitals: a case study of Wasetya D. (2012). Alur proses pelayanan
some Singapore hospitals. Journal unit rawat jalan dengan
Leadership in Health Srvices. Vol. 20 mengaplikasikan lean hospital di
No. 3 diperoleh Januari 2015 Ria, E, Rumah Sakit Marinir. Cilandak Tesis
R, (2012). Analisis pengadaan FIK UI.2012
barang umum dengan metode EOQ Yang L, S, Gammelgaard, B & Su, I, S, S,
pada bagian logistik Rumah Sakit (2010). Logistics innovation process
Pertamina Jaya Depok. Tesis. revisited: insights from a hospital case
FKM UI, 2012, Tidak study. International Journal of
dipublikasikan Physical Distribution & Logistics
Rick, H, (1999). Case study on the 5S Management. Vol. 37 No.2 diperoleh
program: The five pillars of the Januari 2015
visual workplace. Journal Materiel Zulparida, (2011). Gambaran pelaksanaan
Management Quarterly. Vol. 4 No. pelatihan 5S di Rumah Sakit. Depok
Tesis FKM UI.2012

480