Anda di halaman 1dari 16

Dasar-Dasar Hukum Acara Pidana

1. Pengertian

 Merupakan bagian dari hukum pidana dalam arti luas yang terdiri dari
hukum pidana material dan hukum pidana formal
 Hukum pidana material mengatur tentang perbuatan-perbuatan yang
dilarang dan diharuskan, siapa yang melanggar larangan atau keharusan
diancam dengan hukuman atau pemidanaan
 Hukum acara pidana juga disebut sebagai hukum pidana formal adalah
keseluruhan peraturan atau norma hukum yang mengatur tata cara aparatur
negara yang berwenang (kepolisian, kejaksaan, pengadilan) melaksanakan
dan mempertahankan hukum pidana material yang dilanggar
 Van bemmelen :ilmu hukum acara pidana mempelajari peraturan yang
diadakan oleh negara dalam hal adanya persangkaan dilanggarnya hukum
pidana

2. Fungsi Hukum Acara Pidana

 Van bemmelen :
o Mencari dan menemukan kebenaran karena adanya persangkaan atau
dugaan dilanggarnya undang-undang hukum pidana
o Diusahakan diusutnya pelaku tindak pidana (dilakukan penyidikan)
o Diupayakan tindakan agar pelaku tindak pidana ditangkap dan ditahan
o Mengumpulkan barang-barang bukti dari hasil penyidikan untuk
mendukung kebenaran dan tuntutan terhadap terdakwa dalam
pemeriksaan di pengadilan
o Menyerahkan pelaku kepada pengadilan untuk diperiksa dan dijatuhi
putusan pidana
o Menentukan upaya hukum terhadap putusan pengadilan
o Melaksanakan putusan pengadilan (eksekusi)

 Conclusion, maka fungsi hukum acara pidana ada 3 yaitu:


o Mencari dan menemukan kebenaran
o Mengadili dan menjatuhkan putusan kepada terdakwa
o Melaksanakan putusan (eksekusi) pengadilan terhadap terdakwa

3. Sumber Hukum

 UUD 1945
 KUHP
 KUHAP
 UU No. 2 tahun 2002 tentang kepolisian negara
 UU No. 48 tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman
 UU No. 3 tahun 2009 tentang mahkamah agung
 UU No. 49 tahun 2009 tentang peradilan umum
 UU No. 16 tahun 2004 tentang kejaksaan
 Jurisprudensi
 Doktrin

4. Asas-Asas Hukum ( hukum acara pidana)

 Asas perdilan berdasarkan UU (asas legalitas)


 Asas setiap orang diperlakukan sama di muka hukum ( equality before the
law)
 Asas praduga tidak bersalah( asas presumption of innoncence)
 Asas tersangka/terdakwa sebagai subyek pemeriksaan (asas accusatoir)
 Asas peradilan bersifat sederhana, cepat dan biaya ringan
 Asas tersangka/terdakwa berhak mendapat bantuan hukum
 Asas pemeriksaan pengadilan terbuka untuk umum
 Asas pengadilan memeriksa perkara dengan hadirnya terdakwa (tidak
mengenal asas in absentia)
 Asas pemeriksaan perkara oleh hakim majelis
 Asas beracara secara lisan ( terdakwa dan saksi berbicara langsung dengan
hakim)
 Asas putusan pengadilan diusapkan dalam sidang terbuka untuk umum
 Asas putusan disertai alasan-alasan yang sah menurut hukum
 Asas pengawasan pelaksaan putusan oleh pengadilan
 Asas jaksa sebagai eksekutor putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap

5. Sifat Hukum Acara Pidana

 Karena tujuan hukum pidana (material) melindungi kepentingan umum


maka negara melalui aparatur penegak hukum pidana (polisi, jaksa,
pengadilan) berkewajiban melaksanakan dan mempertahankan hukum
pidana material yang dilanggat oleh siapapun
 Apabila ada pelanggaran terhadap hukum pidana material amak aparat
kepolisian, kejaksaan dan pengadilan tanpa diminta oleh korban kejahatan,
harus sanggup melaksanakan tugas kewajibannya untuk melakukan
penyelidiikan dan/atau penyidikan, penuntutan, mengadili dan
mengeksekusi pelaku kejahatan.
 Hukum acara pidana bersifat memaksa (dwangenrecht)
6. Hak-Hak Tersangka dan Terdakwa

 Hak segera diperiksa dan diadili ( pasal 50 KUHAP)


 Hak untuk mengetahui dengan jelas tentang yang disangkakan atau
didakwakan (pasal 51 KUHAP)
 Hak untuk memberikan keterangan secara bebas (pasal 52 KUHAP)
 Hak mendapatkan juru bahasa(pasal 53 ayat 1 KUHAP)
 Hak mendapat bantuan hukum pada setiap tingkatan pemeriksaan (pasal 54
KUHAP)
 Hak mendapat nasehat hukum dari penasehat hukum secara Cuma-Cuma
bagi terdawa hukuman mati (pasal 56 KUHAP)
 Hak menghubungi dan berbicara dengan perwakilan negaranya (pasal 57
ayat 2 KUHAP)
 Hak menghubungi dokter bagi tersangka/terdakwa yang ditahan (pasal 58
KUHAP)
 Hak diberitahukan kepada keluarganya atau orang lain yang serumah dengan
tersangka/terdakwa (pasal 59-61 KUHAP)
 Hak dikunjungi sanak keluarganya guna kepentingan pekerjaan/keluarga
(pasal 61 KUHAP)
 Hak berhubungan surat menyurat (pasal 62 KUHAP)
 Hak menghubungi dan dikunjungi rokhaniawan (pasal 63 KUHAP)
 Hak mengajukan saksi ahli/saki a decharge (pasal 65 KUHAP)
 Hak tidak dibebani pembuktian (pasal 66 KUHAP)
 Hak mengajukan upaya hukum (pasal 67 KUHAP)
 Hak menuntut ganti rugi/rehabilitasi (pasal 68 KUHAP)
 Hak mendapat salinan berita acara pemeriksaan (pasal 72 KUHAP)

7. Sistem Pemeriksaan

 2 macam sistem pemeriksanaa yaitu :


o Sistem inquistoir
 Menempatkan tersangka sebagai objek pemeriksaan oleh aparat
penegak hukum (penyidik, penuntut umum)
 Pemeriksaan dilakukan dengan keras untuk memperoleh
pengakuan bersalah dari tersangka atau terdakwa yang akan dicatat
dalam BAP. Tersangka tidak boleh didampingi oleh pembela atu
penasehat hukum
 Sudah ditinggalkan
o Sistem accusatoir
 Tersangka atau terdakwa diperlakukan sebagai subjek yang
memeproleh hak untuk berdebat dan berpendapat dengan pihak
penyidik dan/atau penuntut umum, atau hakim pemeriksa perkara
di persidangan sehingga masing-masing pihak mempunyai hak dan
kedudukan yang sama didalam pemeriksaan untuk mencari
kebenaran material
 Hakim bertindak sebagai wasit yang tidak memihak
 Hakim berperan aktif apabila para pihak (jaksa penuntut umum,
terdakwa, dan/atau penasehat hukum) saling beragumentasi untuk
memperkuat fakta-fakta dengan alat-alat bukti yang diajukan ole
para pihak
 Menurut KUHAP pemeriksaan terhadap tersangka/terdakwa
menggunakan pemeriksaan dengan sistem accusatoir

8. Subjek-Subjek dalam Hukum Acara Pidana

 Penyelidik dan penyidik (polisi)


 Penuntut umum (jaksa)
 Hakim (pengadilan)
 Tersangka/terdakwa yang diperiksa
 Penasehat hukum/pembela
 Panitera sidang
 Eksekutor putusan pengadilan (kejaksaan)

9. Tahapan Beracara Pidana

 Berdasarkan kewenangan aparat penegak hukum pidana :


o Penyelidikan dan penyidikan oleh kepolisian RI
o Penuntutan oleh jaksa penuntut umum
o Pemeriksaan terdakwa oleh hakim persidangan
o Pelaksanaan (eksekusi) putusan hakim oleh jaksa penuntut umum

10.Alat-Alat Bukti

 Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada terdakwa kecuali didukung


oleh sekurang-kurangnya 2 alat bukti yang sah (pasal 183 KUHAP)
 Macam-macam alat bukti (pasal 184 KUHAP) :
o Keterangan saksi
o Keterangan ahli
o Surat
o Petunjuk
o Keterangan terdakwa

11.Upaya hukum
Dasar-Dasar Hukum Acara Perdata
1. Pengertian

 Merupakan bagian dari hukum perdata dalam arti luas yang terdiri dari
hukum perdata material dan hukum perdata formal
 Hukum perdata material disebut juga hukum perdata adalah keseluruhan
peraturan atau norma hukum yang mengatur hubungan hukum antar
perorangan yang satu dengan perorangan lain, atau hubungan hukum yang
mengatur kepentingan pribadi
 Hukum acara perdata disebut hukum perdata formal yang berfungsi
memepertahankan dan melaksanakan hukum perdata material apabila
dilanggar
 Hukum acara perdata adalah keseluruhan peraturan atau norma hukum
yang mengatur tata cara seseorang atau badan pribadi mempertahankan
dan melaksanakan hak-haknya di peradilan perdata
 Hukum acara perdata adalah hukum yang mengatur tata cara bersengketa
di peradilan perdata

2. Sumber hukum

 UUD 1945
 UU No 48/2009 tentang kekuasaan kehakiman
 UU No 3/2009 tentang mahkamah agung
 UU No 49/2009 tentang peradilan umum
 Het Herziene Indonesische Reglement (HIR/RIB) untuk jawa dan
madura
 Rechtsreglement Buitengewesten (Rbg. Atau reglement) untuk luar
jawa dan madura
 Reglement op de Burgelijke rechtsvordering (Rv. Reglement/ hukum
acara perdata) utnuk golongan eropa
 Jurisprudensi
 Praktek hukum sehari-hari sebagai hukum kebiasaan
 Doktrin

3. Asas-asas hukum acara perdata

 Hakim bersifat menunggu : dalam proses hukum acara perdata


kehendak atau inisiatif gugatan diserahkan kepada para pihak yang
berkepentingan. Apabila tidak ada gugatan ke pengadilan, hakim tidak
berwenang mengadili. Istilahnya tidak ada gugatan tidak ada hakim (wo
kein kloger ist, ist kein richter/nemo judex sine actore)
 Hakim aktif : sejak awal sampai akhir persidangan hakim harus aktif
memberi nasehat dan bantuan kepada para pihak yang berperkara
tentang cara memasukkan gugatan (psl. 119,195 HIR/psl 143 Rbg).
Hakim wajib mendamaikan para pihak yang berperkara (psl130 HIR);
hakim wajib memberi nasehat kepada para pihak untuk melakukan
upaya hukum dan memberikan keterangan yang diperbolehkan (psl 132
HIR). Hakim tetap terikat pada kasus yang diajukan para pihak beracara
menurut Rv, hakim bersifat pasif
 Sidang bersifat terbuka : pemeriksaan perkara di pengadilan bersifat
terbuka utnuk umum, setiap orang boleh hadir dalam pemeriksaan
perkara di persidangan ( psl 179 (1) HIR)
 Persamaan hak dimuka umum : semua orang emmpunyai kedudukan
yang sama dimuka umum, hakim harus adil, karena itu tidak boleh
memihak salah satu pihak yang bersengketa
 Tidak harus diwakilkan : berperkara dipengadilan tidak harus
diwakilkan. Akan tetapi para pihak dapat juga diwakili oleh kuasanya
kalua dikehendaki (psl 123 HIR/ 147 Rbg)
 Beracara dengan lisan : pemeriksaan perkara di persidangan dilakaukan
dengan tanya jawab antara hakim dengan para pihak maupun dengan
saksi. Selain itu para pihak diperbolehkan menyampaikan dengan surat-
surat atau tulisan (psl 121(2) HIR/RIB)
 Beracara secara langsung : pemeriksaan perkara di persidangan
dilakukan secara langsung, hakim berhadapan, berbicara, mendengar
keterangan dari para pihak yang berperkara maupun saksi. Asas ini
dikenal dengan alteram partem atau kedua pihak harus didengar
 Beracar dikenai biaya : berperkara dipengadilan harus membayar biaya
perkara (psl 121(4),182,183 HIR/psl 145(4),192-194 Rbg. Jo psl 5(2)
UUKK)
 Hakim harus berusaha mendamaikan : sebelum acara pemeriksaan
perkara dimulai, hakim lebih dahulu harus berusaha mendamaikan para
pihak yang berperkara (psl 130 HIR/psl 154 Rbg.jo psl 16(2) UUKK)
 Putusan hakim harus disertai alasan-alasan hukum : setiap putusan
pengadilan harus dsertai alasan alasan hukum sebagai dasar putusan
mengadili (psl 184(1) HIR, psl 195(1)Rbg.jo psl 19(4) UUKK)
 Hakim terikat pada alat bukti: hanya boleh mengambil keputusan
hukum berdasarkan alat-alat bukti yang sah

4. Proses gugatan

 Proses berperkara perdata di pengadilan umum meliputi pengadilan


negeri, pengadilan tinggi dan terakhir berpuncak di mahkamah agung
untuk upaya kasasi dan peninjauan kembali serta hak uji peraturan
perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-
undang
 Proses gugatan perkara perdata diajukan ke pengadilan tingkat pertama
yaitu pengadilan negeri yang berwenang dengan tahapan :
o Pertama, Pengajuan gugatan
 Surat gugatan yang telah dibuat dan ditttdin
penggugat/pemohon disampaikan kepada panitera
pengadilan negeri setempat yang berkompetensi
memeriksa perkara gugatan. Pengadilan negeri yang
berwenang sebagaimana dimaksud diatur dalam pasal 118
HIR/psl 142 Rbg.ko pasal 20 s/d 23 P.P No 9/1975 sebagai
berikut : gugatan diajukan kepada ketua pengadilan negeri
tempat kediaman tergugat (psl 118(1)HIR)
 Apabila tergugat terdiri lebih dari seorang yang tempat
tinggalnya berbeda, amaka gugatan diajukan kepada ketua
pengadilan negeri di tempat tinggal tergugat yang
diketahui secara jelas, demikian apabila yang digugat
orang yang berutang, gugatan diajukan kpd ketua
pengadilan negeri yang mewilayahi tempat tinggal
tergugat yang berutang (psl 118(2)HIR)
 Apabila tempat tinggal tergugat tidak diketahui, amka
gugatan diajukan kpd ketua pengadilan negeri yang
mewilayahi tempat tinggal penggugat, apabila yang
digugat adalah barang tetap maka gugatan diajukan kepada
ketua pengadilan negeri yang mewilayahai tempat barang
tetap berada (psl 118(3) HIR)
 Apabila ada tempat tinggal yang dipilih dengan akta, maka
gugatan diajukan kepada pengadilan negeri yang ditunjuk
oleh akta yang bersangkutan (psl 118 (4)HIR)
 Untuk gugatan perkawinan dan perceraian menurut UU No
1/1974 tentang perkawinan dan peraturan pelaksaannya yakni
peraturan pemerintah no 9/1975 maka gugatan sbg berikut :
o Apabila menyangkut pembatalan perkawinan,
permohonan diajukan kepada ketua pengadilan negeri
atau ketua pengadilan agama dalam daerah hukum
dimana perkawinan dilaksanakan, atau ditempat
tinggal suami-istri, suami atau istri (psl 25 jo psl 63(1)
UUP jo psl 38(1) dan92) P.P No 9/1975)
o Gugatan perceraian diajukan kpd ketua pengadilan
negeri/agama ditempat kediaman tergugat. Apabila
tempat kediaman tergugat tidak jelas atau tidak
diketahui, gugatan perceraian diajukan kpd ketua
pengadilan negeri/agama tempat kediaman tergugat
(psl 20(1)(2) P.P No 9/1975)
o apabila yang digugat berada di luar negeri, maka
gugatan diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri
tempat kediaman penggugat. Ketua Pengadilan
menyampaikan permohonan gugatan kepada tergugat
melalui perwakilan Negara R.I. (asal 20 ayat (3) P.P.
No. 9 Tahun 1975).
o terhadap gugatan perceraian dengan alasan salah satu
pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun
berturut-turut tanpa ijin dan tanpa alasan yang sah,
gugatan diajukan kepada Ketua Pengadilan
Negeri/Agama tempat kediaman penggugat (Pasal 21
ayat (1) P.P.No. 9 Tahun 1975)
o gugatan perceraian karena alasan suami-isteri terus
menerus berselisih dan bertengkar, gugatan diajukan
kepada Ketua Pengadilan Negeri/Agama tempat
kediaman tergugat (Pasal 22 ayat (1) P.P.No. 9 Tahun
1975).
o gugatan perceraian karena alasan salah seorang dari
suami atau isteri dihukum penjara 5 tahun atau lebih.
Untuk mendapatkan putusan perceraian, sebagai bukti
di persidangan penggugat cukup menyampaikan
salinan putusan dari pengadilan yang memutus perkara
pidana, disertai keterangan bahwa putusan telah
mempunyai kekuatan hukum yang tetap (Pasal 23 P.P.
No. 9 Tahun 1975)
 kedua, membayar biaya perkara
o Pasal 121 ayat (4)/Pasal 145 ayat (4) Rbg menentukan
bahwa, syarat agar gugatan/permohonan dapat diterima
dan didaftar dalam register perkara, bilamana
penggugat/pemohon telah membayar uang muka atau
“panjar” biaya perkara. Dalam hal ini calon
penggugat/pemohon membayar biaya perkara di kasir
dengan menyerahkan surat gugatan/permohonan
 Ketiga, pendaftaran perkara gugatan/permohonan
o Setelah membayar biaya perkara di kasir,
penggugat/pemohon mendaftarkan
gugatan/permohonan ke petugas pendaftaran di
kepaniteraan pengadilan yang bersangkutan dengan
menyerahkan surat gugatan/permohonan untuk diberi
nomor perkara dan didaftar dalam buku register perkara
 Empat, penetapan majelis hakim
o Selambat-lambatnya 7 hari setelah Ketua Pengadilan
menerima surat gugatan/permohonan dari
penggugat/pemohon melalui panitera, Ketua
Pengadilan menunjuk/menetapkan Majelis Hakim
untuk memeriksa perkara di persidangan (Pasal 121
HIR). Dalam hal ini Ketua Pengadilan memberikan
semua berkas perkara kepada Majelis Hakim untuk
diperiksa di persidangan
 Kelima, penunjukan panitera siding
o Untuk membantu majelis hakim di perdisangan,
ditunjuk seorang panitera/panitera pengganti sebagai
panitera siding yang bertugas mencatat jalannya
persidangan
 Keenam, penetapan hari siding
o Setelah menerima berkas perkara dari ketua
pengadilan, ketua majelis hakim menetapkan hari,
tanggal dan jam pemeriksaan perkara atau persidangan.
Dalam hal ini ketua majelis hakim memerintahkan
panitera untuk meamnggil para pihak berperkara agar
hadir pada hari, tanggal dan jam persidangan yang
ditetapkan
 Ketujuh, pemanggilan para pihak
o Berdasarkan perintah ketua majelis hakim,
panitera/panitera pengganti melakukan pemanggilan
kepada para pihak yang berperkara agar hadir
dipersidangan pada hari, tanggal dan jam yang
ditetapkan ( psl 122 HIR)

5. Pemeriksaan di persidangan

 Pada hari sidang pertama yang telah ditetapkan oleh


pengadilan, para pihak penggugat/pemohon dan
tergugat/termohon dipanggil agar hadir di persidangan.
 Dalam sidang pertama ini akan diketemukan beberapa
kemungkinan, yaitu:
o a)Penggugat/pemohon dan tergugat/termohon tidak
hadir dalam sidang
 Apabila kedua pihak tidak hadir dalam
persidangan, majelis hakim dapat melakukan
penundaan sidang dan memerintahkan panitera
agar memanggil kedua pihak hadir dalam
persidangan berikutnya, atau hakim
menjatuhkan putusan gugur dan perkara tidak
diperiksa;
o b)Penggugat tidak hadir, tetapi tergugat hadir.
 Bilamana penggugat atau wakilnya. tidak hadir,
sedang tergugat hadir, maka hakim
memerintahkan supaya penggugat yang tidak
datang dipanggil sekali lagi (Pasal 126
HIR/Pasal 150 Rv.).
 Apabila penggugat telah dipanggil dengan patut
tidak hadir lagi, sedangkan tergugat hadir, maka
gugatan penggugat dinyatakan gugur dan
penggugat dihukum membayar biaya perkara.
 Penggugat masih diberi kesempatan mengajukan
gugatannya sekali lagi setelah membayar biaya
perkara (Pasal 124 HIR/Pasal 148 Rbg);
o C. Tergugat tidak hadir, tetapi penggugat hadir
 Dalam hal tergugat tidak hadir, sedangkan
penggugat hadir, maka hakim dapat menunda
persidangan, dan tergugat dipanggil sekali lagi
agar hadir pada sidang berikutnya (Pasal 126
HIR/Pasal 150 Rbg).
 Apabila pada sidang berikutnya, tergugat tidak
hadir lagi, maka gugatan penggugat dikabulkan
dengan putusan di luar hadirnya tergugat
(verstek)kecuali apabila gugatan mengenai
perbuatan melawan hukum atau tidak beralasan.
 Putusan verstek dapat dijatuhkan pada sidang
pertama ketika tergugat tidak hadir (Pasal 125
HIR/149 Rbg.)
 Apabila pada sidang pertama tergugat hadir,
sedangkan pada sidang berikutnya tidak hadir,
maka perkaranya diperiksa secara
“contradictoir” (di luar hadirnya salah satu pihak
yang berperkara).
 Demikian pula jika pada sidang berikutnya
tergugat hadir, tetapi penggugat tidak hadir,
maka perkaranya diperiksa di luar hadirnya salah
satu pihak yang berperkara (contradictoir).
 Terhadap putusan verstek dapat diajukan
tuntutan perlawanan (verzet).
 Perlawanan (verzet) dapat diajukan dalam waktu
14 (empat belas) hari setelah pemberitahuan
putusan verstek kepada tergugat (Pasal 125 ayat
(3) jo Pasal 129 HIR/Pasal 149 ayat (3) jo Pasal
153 Rbg.).
 Apabila dalam acara perlawanan (verzet),
penggugat tidak hadir, maka perkara diperiksa
secara “contradictoir”.
 Kalau tergugat tidak hadir dalam acara
perlawanan (verzet), maka hakim memutus
“verstek”, yang mana tuntutan perlawanan
(verzet) tidak diterima (niet ontvankelijk
verklaard-Pasal 129 ayat (5) HIR/Pasal 153 ayat
(6) Rbg.)
o D). Penggugat dan tergugat hadir di persidangan.
 Apabila kedua pihak (penggugat/tergugat) hadir
dipersidangan, maka sebelum pemeriksaan
perkara dimulai, hakim harus berusaha
mendamaikan para pihak yang berperkara (Pasal
130 HIR/Pasal 154 Rbg. jo. Pasal 16 ayat (2)
U.U No. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan
Kehakiman).
 Apabila perdamaian berhasil disepakati para
pihak, maka dibuatlah akta perdamaian (acta van
vergelijk) yang isinya menghukum para pihak
untuk memenuhi isi perdamaian yang dibuat
oleh para pihak yang bersengketa.
 Putusan perdamaian mempunyai kekuatan
hukum yang sama dengan putusan-putusan biasa
yang dapat dilakukan “eksekusi”seperti putusan
hakim lainnya.
 Putusan akta perdamaian (acta van vergelijk) ini
tidak dapat diajukan perlawanan (banding,
kasasi maupun peninjauan kembali).
 Dengan adanya putusan akta perdamaian (acta
van vergelijk) berarti gugatan tidak dapat
diteruskan atau tidak dapat diajukan gugatan
baru.
 Putusan akta perdamaian yang dapat dieksekusi
adalah yang berkenaan dengan sengketa
kebendaan saja.
 Usaha perdamaian terbuka selama pemeriksaan
perkara berlangsung.
 Dengan adanya usaha perdamaian, ini
menunjukkan bahwa hakim berperan aktif dalam
hukum acara perdata.
 Apabila antara kedua pihak yang berperkara tidak dapat didamaikan oleh
hakim, maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan acara:
o Pertama, pembacaan gugatan.
 Pada tahap pembacaan gugatan, terdapat
beberapa kemungkinan antara lain:
(a) penggugat mencabut gugatan;
(b) penggugat mengubah gugatan;
(c) penggugat mempertahankan gugatan.
 Apabila penggugat mempertahankan
gugatannya, maka sidang dilanjutkan dengan
“jawaban tergugat”.
o Kedua,jawaban tergugat.
 Pada tahap ini tergugat diberi kesempatan untuk
membela diri mempertahankan dan
melaksanakan hak-haknya/kepentingannya
terhadap gugatan penggugat.
 Dalam hal ini tergugat dapat mengajukan
“eksepsi” atau tangkisan, mengakui atau
menerima gugatan sepenuhnya atau sebagian,
mengaku dengan persyaratan (clausula) tertentu,
atau membantah sepenuhnya, menjawab dengan
berbagai cara (referte)sehingga pemeriksaan
perkara tetap dilanjutkan, dan/atau menjawab
dengan gugatan balik (reconvensi)

o Ketiga, replik penggugat.


 Setelah tergugat menyampaikan jawaban,
kemudian hakim memberikan kesempatan
kepada penggugat untuk menanggapi jawaban
tergugat yang sesuai dengan pendapatnya.
 Dalam replik, penggugat dapat mempertahankan
haknya atau gugatannya dan menambah
kekurangan yang dianggap perlu dengan
memperjelas alasan-alasan hukum dan dalil-
dalilnya, atau penggugat berubah sikap
membenarkan sebagian atau keseluruhan
jawaban/bantahan tergugat.
o Keempat, duplik tergugat.
 Setelah penggugat menyampaikan jawabannya
(replik), kemudian tergugat oleh hakim diberi
kesempatan untuk menanggapi replik
penggugat.
 Dalam acara duplik ini, tergugat dapat menolak
atau menerima sebagian atau keseluruhan
jawaban atau replik yang dikemukakan oleh
tergugat.
 Dalam acara jawab menjawab antara penggugat
dan tergugat (replik-duplik) dapat dilakukan
secara berulang-ulang (rereplik-reduplik)
sampai ada kesepakatan di antara para pihak,
dan/atau sampai dianggap cukup oleh hakim.
 Jika dalam acara replik-duplik atau rereplik-
reduplik masih ada hal-hal yang belum
disepakati oleh kedua pihak, maka kedua pihak
perlu memperkuat dalil-dalilnya dengan alat-alat
bukti yang sah dalam tahap pembuktian.
o Kelima, pembuktian.
 Pada tahap pembuktian, pihak
penggugat/pemohon dan pihak
tergugat/termohon diberi kesempatan
memperkuat atau mendukung dalil-dalilnya
dengan menyampaikan alat-alat bukti secara
bergantian kepada majelis hakim dipersidangan.
 Macam-macam alat bukti yang berlaku dalam
hukum acara perdata diatur dalam Pasal 164
HIR/Pasal 284 Rbg/Pasal 1866 B.W. yaitu:
(a) bukti tertulis atau surat;
(b) bukti saksi;
(c) bukti persangkaan;
(d) bukti pengakuan;
(e) bukti sumpah.
o Keenam, tahap kesimpulan.
 Pada tahap ini masing-masing pihak yaitu
penggugat dan tergugat diberi kesempatan untuk
menyampaikan pendapat akhir secara tertulis
atau lisan sebagai kesimpulan tentang hasil
pemeriksaan selama persidangan.
o Ketujuh, putusan hakim.
 Pada tahap ini Majelis Hakim menyampaikan
pendapatnya atau pandangan hukum tentang
perkara yang diperiksa selama persidangan
disertai alasan-alasan atau dasar-dasar hukum,
dan diakhiri dengan putusan hakim/pengadilan.
 Putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai
kekuatan hukum yang tetap apabila diucapkan
dalam sidang terbuka untuk umum (pasal 1917
B.W./Pasal 20 UUKK).
 Dalam hukum acara perdata putusan hakim yang
mempunyai kekuatan hukum tetap atau
mengikat disebut “gezag van gewijsde” atau
“kracht van gewijsde” apabila tidak ada upaya
hukum biasa, yaitu verzet, banding atau kasasi.
 Siapapun tidak dapat mengubah putusan
pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum yang tetap, termasuk oleh pengadilan
yang lebih tinggi, kecuali dengan upaya hukum
luar biasa atau khusus, yaitu peninjauan kembali
(request civil)) dan perlawanan oleh pihak ketiga
(derdenverzet) (Pasal 1917 B.W /Pasal 378-379
Rv)
o Banding
 Terhadap putusan pengadilan tingkat pertama
(Pengadilan Negeri) dapat dimintakan banding
kepada pengadilan tinggi oleh pihak-pihak yang
berperkara, kecuali undang-undang menentukan
lain (Pasal 21 ayat (1) UUKK).
 Permohonan banding disampaikan oleh
pemohon dengan surat/tertulis atau dengan lisan
kepada Panitera Pengadilan Negeri yang
menjatuhkan putusan dalam batas waktu 14 hari
sejak putusan diberitahukan kepada pihak yang
berkepentingan atau pemohon (Pasal 7 ayat (1)
UU No. 20 Tahun 1947/Pasal 199 Rbg.).
o Kasasi
 Terhadap putusan pengadilan tingkat banding
(Pengadilan Tinggi) dapat dimintakan kasasi
kepada Mahkamah Agung oleh pihak-pihak
yang berperkara, kecuali undang-undang
menentukan lain (Pasal 22 UUKK jo.Pasal 28
ayat (1) UUMA).
 Permohonan kasasi dapat diajukan hanya jika
pemohon terhadap perkaranya telah
menggunakan upaya hukum banding, kecuali
ditentukan lain oleh undang-undang.
 Permohonan kasasi hanya dapat diajukan satu
kali (Pasal 43 UUMA).
 Permohonan kasasi dalam perkara perdata
disampaikan secara tertulis melalui Panitera
Pengadilan Tingkat Pertama (Pengadilan
Negeri) yang memutus perkaranya dalam
tenggang waktu 14 hari sesudah putusan atau
penetapan pengadilan yang dimaksudkan
diberitahukan kepada pemohon (Pasal 46
UUMA).
o Peninjauan kembali
 Terhadap putusan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap, pihak-pihak yang
berperkara dapat mengajukan peninjauan
kembali kepada Mahkamah Agung, apabila
terdapat hal atau keadaan tertentu atau bukti
baru (novum) yang ditentukan dalam undang-
undang, termasuk apabila terdapat kekhilafan
hakim dalam menerapkan hukum (Pasal 23 ayat
(1) UUKK jo Pasal 28 ayat (1) UUMA).
 Terhadap putusan peninjauan kembali tidak
dapat dilakukan peninjauan kembali (Pasal 23
ayat (2) UUKK).
 Peninjauan kembali hanya dapat diajukan satu
kali (Pasal 66 ayat (1) UUMA).
 Permohonan peninjauan kembali disampaikan
melalui Ketua Pengadilan Negeri yang
memutus perkara pada tingkat pertama dengan
membayar biaya perkara yang telah ditentukan.
 Mahkamah Agung memutus permohonan
peninjauan kembali pada tingkat pertama dan
terakhir (Pasal 70 ayat (2) UUMA).
 Tenggang waktu pengajuan permohonan
peninjauan kembali adalah 180 (seratus delapan
puluh) hari sejak putusan hakim memperoleh
kekuatan hukum tetap dan telah diberitahukan
kepada pihak yang berperkara; atau sejak
ditemukan bukti baru (novum) yang dinyatakan
di bawah sumpah serta disahkan oleh pejabat
yang berwenang (Pasal 69 UUMA).