Anda di halaman 1dari 9

KONSEP INFEKSI

Manusia, seperti halnya binatang, merupakan pejamu bagi sejumlah besar mikroorganisme.
Mikroorganisme ini disebut organisme komensal atau “flora normal” tubuh yang
menguntungkan. Mikroorganisme membantu tubuh memetabolisme makanan, memproduksi
vitamin, memberi fungsi perlindungan terhadap infeksi, dan merangsang respon imun.
Mikroorganisme ditemukan pada bagian tubuh yang berhubungan dengan lingkungan.
Misalnya kulit, hidung dan mulut, dan lain-lain.

Istilah kolonisasi digunakan untuk menjelaskan keberadaan mikroorganisme komensal tanpa


mengganggu fungsi tubuh yang normal. Koonisasi dapat bersifat sementara atau permanen.
Sebaliknya, mikroorganisme yang mampu menginvasi tubuh dan menyebabkan penyakit
disebut organism pathogen. Infeksi merupakan proses penyakit yang disebabkan oleh
organism pathogen dan terjadi ketika interaksi antara organism pathogen dan pejamu
mengakibatkan proses patologis dan kerusakan pada jaringan yang terdapat dalam tubuh
pejamu. Kerusakan jaringan akibat infeksi dapat terjadi karena faktor dan aktifitas mikroba.

Sebagian mikroorganisme selalu menyebabkan penyakit pada manusia dan disebut strict
patogens (organism yang pasti bersifat patogen). Namun, banyak infeksi disebabkan oleh
organisme pathogen oportunis, yaitu organisme yang biasanya tidak menyebabkan penyakit ;
walaupun jika terdapat pada lokasi yang secara khas bukan tempat tinggal organisme ini, atau
jika kerentanan pejamu berubah, dapat menyebabkan penyakit.
Agen Infeksius

Agen-agen infeksius Infeksi merupakan peristiwa masuk dan penggandaan


mikroorganisme di dalam tubuh pejamu (Pronggoutomo, 2002). Sedangkan agen infeksius
adalah mikroorganisme yang dapat menimbulkan infeksi. Mikroorganisme yang termasuk
dalam agen infeksi antara lain virus, bakteri, jamur, parasit, riketsia, dan clamidia.

1. Virus

Virus adalah organisme patogen terkecil (20-300 nm) yang mengandung RNA atau
DNA serta memiliki kapsid. Virus tidak mampu bermetabolisme/bereplikasi mandiri
sehingga memerlukan organel sel terinfeksi untuk berkembang biak. Virus merupakan
penyebab tersering timbulnya penyakit pada manusia sering tanpa gejala dan berkembang
tanpa diketahui. Hal demikian menyebabkan perbedaan antara infeksi virus (replikasi di
tubuh penjamu) dan penyakit virus (replikasi disertai kerusakan jaringan) sangat kritis.
Banyak infeksi tanpa disertai eliminasi virus dari tubuh tetapi menetap bertahun-tahun atau
seumur hidup, multiplikasi berlanjut dan dapat diperlihatkan sebagai infeksi menahun atau
hidup di dalam bentuk laten non-infektif dengan potensi direktifkan kemudian, misalnya,
virus herpes zoster penyebab cacar air (varicella) dapat menetap dalam bentuk laten di
ganglia dorsalis dan secara periodik diaktifkan timbul sebagai vesikel dikulit yang dapat
menyebabkan rasa sakit. Infeksi berbagai jenis virus yang menyebabkan penyakit sering
digolongkan ke dalam sistem organ yang terkena seperti infeksi virus pernapasan, bentuk
kelainan klinik yang ditimbulkan seperti virus yang menyebabkan eksantema, dan sifat
infeksi laten virus.
2. Bakteri
Bakteri merupakan mikrobia prokariotik uniselular, berukuran antara 0,5-10 µm. Bakteri
juga merupakan organisme hidup dan dapat ditemukan di mana-mana. Ada waktu saat
sistem kekebalan tubuh tidak dapat menyingkirkan suatu infeksi bakteri. Infeksi bakteri
sering terjadi bersamaan dengan adanya rasa sakit, nyeri atau borok pada bagian tubuh.
Bakteri memiliki flagel atau bulu cambuk, pili atau fimbriae, kapsula atau lapisan lendir,
dinding sel dimana ada yang struktur dinding sel bakteri Gram negatif yaitu merupakan
struktur yang berlapis, sedangkan bakteri Gram positif mempunyai satu lapis yang tebal.

3. Jamur

Infeksi yang disebabkan oleh jamur tidak hanya terjadi di luar baguan tubuh (kulit),
tetapi terjadi juga di dalam tubuh. Misalnya Candida Albicans. Candida Albicans adalah jenis
fungi yang seperti ragi, umumnya ditemukan di dalam mulut, kerongkongan, usus, dan
saluran genital. Normalnya, bakteri baik dalam usus akan berkompetisi dengan candida dan
menjaganya agar tetap terkendali tanpa menyebabkan masalah kesehatan apapun. Namun
ketika keseimbangan antara bakteri baik dan candida terganggu, maka infeksi candidas tidak
dapat dihindari. Contoh lain adalah infeksi jamur yang terjadi di susunan saraf pusat, seperti
meningitis, meningoensafilitis, intrakranial tromboflebitis, dan abses otak.

4. Parasit

Parasit menginvasi imunitas protektif dengan mengurangi imunogenisitas dan


menghambat respon imun host. Parasit yang berbeda menyebabkan imunitas pertahanan yang
berbeda.

1. Parasit mengubah permukaan antigen mereka selama siklus hidup dalam host vertebrata.

2. Parasit menjadi resisten terhadap mekanisme efektor imun selama berada dalam host.

3. Parasit protozoa dapat bersembunyi dari sistem imun dengan hidup di dalam sel host atau
membentuk kista yang resisten terhadap efektor imun. Parasit dapat menyembunyikan mantel
antigeniknya secara spontan ataupun setelah terikat pada antibodi spesifik.
4. Parasit menghambat respon imun dengan berbagai mekanisme untuk masing-masing
parasit. Riketsia Riketsia merupakan golongan bakteri, karena itu riketsia memiliki sifat yang
sama dengan bakteri, termasuk bakteri Gram negatif.

5. Riketsia

Riketsia mempunyai enzim yang penting untukmetabolisme. Dapat mengoksidasi


asam piruvat, suksinat, dan glutamat serta merubah asam glutamat menjadi asam
aspartat.Riketsia tumbuh dalam berbagai bagian dari sel. Riketsia prowazekii dan Riketsia
typhi tumbuh dalam sitoplasma sel. Sedangkan golongan penyebab spotted fever tumbuh di
dalam inti sel. Riketsia dapat tumbuh subur jikametabolisme sel hospes dalam tingkat yang
rendah, misalnya dalam telur bertunas pada suhu 32o C. Pada umumnya riketsia dapat
dimatikan dengan cepat pada pemanasan dan pengeringan atau oleh bahan-bahan bakterisid.

6. Clamidia

Clamidia termasuk bakteri, memiliki ribosom, RNA, dan DNA, dinding sel
daripeptidoglikan yang mengandung asam muramat. Dikenal juga dengan Miyagawanellla
atau Bedsonia, termasuk Gram negatif, berukuran 0,2-1,5 mikron, berbentuk sferis, tidak
bergerak dan merupakan parasit intrasel obligat. Clamidia berkembang melalui beberapa
stadium mulai dari badanelementer yang infeksius, berbentuk sferis dengan garis tengah
0,20,4 mikron, memiliki satu inti dan sejumlah ribosom. Badanelementer kemudian berubah
menjadi badan inisial dan kemudian badan intermedier. Siklus perkembangan Clamidia
memakan waktu 24-48 jam. Clamidia mempunyai 2 jenis antigen yaitu antigen grup dan
antigen spesies. Keduanya terdapat di dalam dinding sel. Antigen spesies tetap dalam dinding
sel meskipun sebagian besar grup telah dilepaskan dengan fluorocarbon atau deoksikholat.
Clamidia dapat dibeda-bedakan atas dasar patologenitas dan jenis hospes yang diserangnya.
Dua spesies yangterpenting adalah

1.Clamidia psittaci membentuk badan inklusi intrasitoplasma yang tersebar secara difus dan
tidak mengandung glikogen. Penyebab penyakit Psittacosis pada manusia, ornitosis pada
burung, dan lain-lain.
2.Clamidia trachomatis, membentuk badan inklusi intrasitoplasma yang padat dan
mengandung glikogen. Dapat menyebabkan pneumonitis padatikus.Pada manusia dapat
menyebabkan penyakit trachoma, konjungtivitas inklusi, uretritis, non-spesifik, salpingitis,
servisitis, dan pneumonitis. Faktor-faktor yang mempengaruhi transmisi agen-agen infeksius
Penyakit dapat menular terjadi sebagai akibat dari adanya interaksi agen, proses transmisi dan
pejamu.

Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi transmisi agen infeksius diantaranya adalah
sebagai berikut:

a.Faktor penyebab atau agen

b.Sumber penular Sumber penular juga mempengaruhi proses transmisi agen infeksius seperti
hewan, manusia, air, dan lain-lain.

c.Penularan Kontak secara langsung, misal penyakit kelamin, Kontaminasi dan luka, misal
infeksi luka, rabies.Inokulasi, misal gigitan serangga (malaria), suntikan (serum hepatitis)
Menelan makanan dan minuman yang terkontaminasi, misal hepatitis A, poliomielitis, kolera

Menghirup debu dan droplets, mis. influenza, tuberkulosis. Perbedaan proses infeksi berbagai
agen infeksius Pejamu memiliki benteng terhadap infeksi yang tersebar di seluruh jaringan
dan mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh. Benteng pertama diperankan oleh
kulit yang utuh, membran mukosa permukaan dan sekret yang diproduksi.

Contohnya lisozym air mata merusak peptidoglikan dinding bakteri. Agen penyebab
infeksi terdiri dari virus, bakteri, jamur, parasit, riketsia, dan clamidia. Infeksi virus yang
menyebabkan penyakit umumnya digolongkan ke dalam sistem organ yang terkena, seperti
infeksi virus pernapasan, bentuk kelainan klinik yang di timbulkan seperti virus yang
menyebabkan eksastema, dan sifat infeksi infeksi laten virus. Infeksi yang disebabkan oleh
bakteri sering terjadi bersamaan dengan adanya rasa sakit, nyeri, atau borok pada bagian
tubuh. Ada waktu saat sistem kekebalan tubuh tidak dapat menyingkirkan suatu infeksi
bakteri. Masing-masing faktor penyebab memiliki karakteristik tersendiri. Jamur
menimbulkan infeksi umumnya terjadi di kulit. Infeksi jamur lebih cenderung mengenai
daerah-daerah yang sering berkeringat dan lembab, seperti muka, badan, kaki, lipatan paha,
dan lengan. Parasit yang terdiri dari vermes dan protozoa menimbulkan infeksi melalui
kontak langsung maupun tidak langsung.
DAFTAR PUSTAKA

1. Staf Pengajar FK UI. (1993). Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Binarupa Aksara


2. Pringgoutomo, S., Himawan, S. & Tjarta, A. (2002). Buku ajar patologi I (umum).
Jakarta: Sagung Seto.
3. Mitchell, N. (2008). Buku saku dasar patologis penyakit. (edisi ketujuh). Jakarta:
EGC
4. Zimmerman, H.L. (2009). Virus vs Bakteri. http://www.bayisehat.com/immunization-
mainmenu-36/309-virus-vs-bakteri-apakah-antibiotik-diperlukan.html. (diakses 14
Februari 2018 pukul 10.13)
5. Nur. W. (2011). Respon imun terhadap infeksi parasit.
http://id.shyoong.com/medicine-and-health/immunology/2105950-respon-imun-
terhadap-infeksi-parasit/#ixzz1LLaYGg8E. (diakses 14 Februari 2018 pukul 09.53)
6. Chang esther dkk. (2013). Patofisiologi “Aplikasi pada praktik keperawatan”.
Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC
AGEN-AGEN INFEKSIUS

Disusun guna memenuhi tugas: Ilmu Dasar Keperawatan II


Dosen Pengampu: Ns. Ahmat Pujianto, S. Kep., M. Kep

KELOMPOK 1
Kristin Anace Aninam 22020117100095
Hanna Athifahsari 22020117110025
Binta Afifatun Ni’am 22020117120001
Annisa Khanna Daroja 22020117120005
Nabila Nur Maharani 22020117120008
Rochmah Rizqiyanti 22020117120013
Rikha Paramitta 22020117120015
Fahrun Ningsih 22020117120016
Atik Hasna Imani 22020117120018
Novita 22020117120021
Revita Salindri 22020117120023
Natasya Melinda Gita Asmara 22020117120024
Dyas Sangga Anggita 22020117120026
Danang Setiawan 22020117120028

DEPARTEMEN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2017