Anda di halaman 1dari 84

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit infeksi kronik yang sudah

sangat lama dikenal pada manusia, misalnya dia dihubungkan dengan tempat

tinggal di daerah urban, lingkungan yang padat (Sudoyo, dkk., 2009).

TB paru menjadi salah satu penyakit menular yang paling mematikan di

dunia. Pada Tahun 2013, diperkirakan 9 juta jiwa menderita TB paru dan 1,5 juta

meninggal karena penyakit ini, 360.000 diantaranya adalah HIV positif. TB

secara perlahan menurun setiap tahunnya dan diperkirakan sekitar 37 juta jiwa

terselamatkan dalam kurun waktu tahun 2000-2013 melalui diagnosis dan

penatalaksanaan efektif (WHO, 2014).

Di Indonesia, TBC merupakan masalah kesehatan yang harus

ditanggulangi oleh pemerintah. Data WHO (2008) mencatat bahwa Indonesia

berada pada peringkat 5 dunia penderita TBC terbanyak setelah India, China,

Afrika Selatan dan Nigeria. Peringkat ini mengalami penurunan dibandingkan

tahun 2007 yang menempatkan Indonesia pada posisi ke-3 kasus TBC terbanyak

setelah India dan China (Depkes, 2012).

Menurut data Dinas Kesehatan Povinsi Sulawesi Tengah Pada Tahun 2012,

di Provinsi Sulawesi Tengah terdapat sekitar 2.856 kasus baru dan 34 kasus lama

yang menyebabkan 64 kasus kematian. Prevalensi kejadian TB paru di Sulawesi

1
Tengah adalah 106 kasus dari 100.000 penduduk. Di Kota poso sendiri tercatat

ditemukan angka Case Detection Rate (CDR) TB Paru berjumlah 32%, angka ini

belum mencapai target nasional yaitu 70% dari perkiraan kasus yaitu 12.900

kasus (Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah, 2017).

Tahun 2019 jumlah kasus baru penderita TB paru BTA positif positif

sebanyak 9 kasus (Puskesmas Lawanga, 2019). Sekitar 75% pasien TB adalah

kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun).

Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu

kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan

tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka

akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara

ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial bahkan

dikucilkan oleh masyarakat (Kemenkes RI, 2011).

Hasil survei prevalensi TBC tahun 2004 mengenai pengetahuan, sikap dan

perilaku menunjukkan bahwa 96% keluarga merawat anggota keluarga yang

menderita TBC dan hanya 13% yang menyembunyikan keberadaan mereka.

Meskipun 76% keluarga pernah mendengar tentang TBC dan 85% mengetahui

bahwa TBC dapat disembuhkan, akan tetapi hanya 26% yang dapat menyebutkan

dua tanda dan gejala utama TBC. Cara penularan TBC dipahami oleh 51%

keluarga dan hanya 19% yang mengetahui bahwa tersedia obat TBC gratis

(Depkes, 2011). Dari hasil survei tersebut menunjukkan bahwa masih ada

2
keluarga yang belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang penyakit

tuberkulosis.

Survei pada tahun 2004 tersebut juga mengungkapkan pola pencarian

pelayanan kesehatan. Apabila terdapat anggota keluarga yang mempunyai gejala

TBC, 66% akan memilih berkunjung ke Puskesmas, 49% ke dokter praktik

swasta, 42% ke rumah sakit pemerintah, 14% ke rumah sakit swasta dan sebesar

11% ke bidan atau perawat praktik swasta. Namun pada responden yang pernah

menjalani pengobatan TBC, tiga Fasilitas Pelayanan Kesehatan (FPK) utama

yang digunakan adalah rumah sakit, puskesmas dan praktik dokter swasta.

Keterlambatan dalam mengakses fasilitas DOTS (Directly Observed Treatment,

Shorcourse chemotherapy) untuk diagnosis dan pengobatan TBC merupakan

tantangan utama di Indonesia dengan wilayah geografis yang sangat luas

(Depkes, 2011).

Pencegahan penyakit merupakan komponen penting dalam pelayanan

kesehatan. Perawatan pencegahan melibatkan aktivitas peningkatan kesehatan

termasuk program pendidikan kesehatan khusus, yang dibuat untuk membantu

klien menurunkan risiko sakit, mempertahankan fungsi yang maksimal, dan

meningkatkan kebiasaan yang berhubungan dengan kesehatan yang baik (Perry

& Potter, 2005). Upaya pencegahan penyakit tuberkulosis dilakukan untuk

menurunkan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit tuberkulosis. Upaya

pencegahan tersebut terdiri dari menyediakan nutrisi yang baik, sanitasi yang

adekuat, perumahan yang tidak terlalu padat dan udara yang segar merupakan

3
tindakan yang efektif dalam pencegahan TBC (Francis, 2011). Pengetahuan atau

kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan

seseorang (overt behavior). Pengetahuan yang baik apabila tidak ditunjang

dengan sikap yang positif yang diperlihatkan akan mempengaruhi seseorang

untuk berperilaku, seperti yang diungkapkan oleh Benyamin Bloom (1908)

dalam Notoatmodjo (2007) yang menyatakan bahwa domain dari perilaku adalah

pengetahuan, sikap dan tindakan. Menurut Notoadmodjo (2007) sikap dan

praktek yang tidak didasari oleh pengetahuan yang adekuat tidak akan bertahan

lama pada kehidupan seseorang, sedangkan pengetahuan yang adekuat jika tidak

diimbangi oleh sikap dan praktek yang berkesinambungan tidak akan mempunyai

makna yang berarti bagi kehidupan. Maka dari itu pengetahuan dan sikap

merupakan penunjang dalam melakukan perilaku sehat salah satunya upaya

pencegahan penyakit tuberkulosis.

Berdasarkan latar belakang ini peneliti ingin mengetahui adakah hubungan

tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit

tuberkulosis di Posyandu Tegal Rejo Bulan September 2019.

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Masyarakat

Terhadap Upaya Pencegahan Penyakit TB Paru Di Posyandu Tegal Rejo Bulan

September 2019?

4
C. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Diketahuinya hubungan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat

terhadap upaya pencegahan penyakit TB Paru Di Posyandu Tegal Rejo Bulan

September 2019.

Tujuan Khusus

a. Diketahuinya tingkat pengetahuan tentang upaya pencegahan penyakit TB

paru pada masyarakat Di Posyandu Tegal Rejo Bulan September 2019.

b. Diketahuinya sikap tentang upaya pencegahan penyakit TB paru pada

masyarakat Di Posyandu Tegal Rejo Bulan September 2019.

c. Diketahuinya upaya pencegahan penyakit TB paru pada masyarakat Di

Posyandu Tegal Rejo Bulan September 2019.

d. Diketahuinya hubungan tingkat pengetahuan terhadap upaya pencegahan

penyakit TB paru pada masyarakat Di Posyandu Tegal Rejo Bulan September

2019.

e. Diketahuinya hubungan sikap terhadap upaya pencegahan penyakit TB paru

pada masyarakat Di Posyandu Tegal Rejo Bulan September 2019.

D. Manfaat Penelitian

1. Peneliti : dapat menambah pengetahuan peneliti mengenai macam-macam

faktor risiko terjadinya penyakit TB paru.

2. Masyarakat : diharapkan dapat membantu masyarakat untuk mengetahui cara

upaya pencegahan penyakit TB paru.

5
3. Puskesmas : diharapkan dapat membantu program pencegahan dan

pengendalian TB Paru di wilayah kerja puskesmas Lawanga

E. Keaslian Penelitian

1. Penelitian terkait yang dilakukan oleh Nanin Kurniasari dengan judul

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Penderita TBC Dengan Keteraturan Dalam

Pengobatan TBC Di UPTD Puskesmas Cibogo Kabupaten Subang Tahun

2007. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kuantitatif dengan

desain penelitian cross-sectional. Teknik analisa dalam penelitian adalah

korelasi pearson moment (produk). Sampel dalam penelitian sebesar 25 orang

dari populasi penderita TBC yang diterapi di Puskesmas Cibogo (Sampling

Jenuh). Hasil dari uji pengetahuan penderita TBC dengan keteraturan dalam

pengobatan TBC di peroleh nilai P = 0,590 tidak ada hubungan yang

signifikan antara pengetahuan penderita TBC dengan keteraturan dalam

pengobatan TBC, sikap penderita TBC dengan keteraturan dalam pengobatan

TBC di dapatkan nilai P = 0,180 tidak ada hubungan yang signifikan antara

sikap penderita TBC dengan keteraturan dalam pengobatan TBC.

2. Penelitian terkait yang dilakukan oleh Bagas Wirasti Tahun 2010 dengan judul

Hubungan Antara Karakteristik dan Pengetahuan Tentang Tuberkulosis Paru

Dengan Perilaku Penularan Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Sawangan Kota

Depok Tahun 2010. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan

pendekatan cross sectional. Sampel adalah penderita TBC yang tercatat di

6
Puskesmas Sawangan Depok yang berjumlah 33 orang, diambil menggunakan

metode sampling jenuh. Hasil yang didapatkan dari penelitian tersebut

menunjukkan variabel yang mempunyai hubungan signifikan terhadap

perilaku pencegahan penularan TB adalah pendidikan (p = 0,001), pekerjaan

(p = 0,046) dan pengetahuan (p = 0,031). Variabel yang tidak berhubungan

dengan perilaku pencegahan penularan TBC adalah usia dan jenis kelamin (p

> 0,05).

3. Penelitian yang dilakukan oleh Arimas Bramantyo dengan judul Hubungan

Status Gizi Anak, Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Ibu Terhadap Gizi

dengan Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Pada Anak di Puskesmas

Pisangan Tahun 2009-2010. Rancangan penelitian yang digunakan adalah

cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah anak

penderita TBC yang berumur ≤ 15 tahun dan ibu penderita. Cara

pengumpulan data dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data ini

dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov, Chi-Square dan FisherExact

sebagai alternatifnya (p<0,05). Hasil yang didapat menunjukkan terdapat

hubungan status gizi anak terhadap keberhasilan pengobatan TB paru anak

(p=0,047), ada hubungan tingkat pendidikan ibu terhadap keberhasilan

pengobatan TB paru anak (p=0,037) dan tidak ada hubungan tingkat

pengetahuan ibu tentang gizi terhadap keberhasilan pengobatan TB paru anak

(p=0,273). Terdapat hubungan antara status gizi anak dan tingkat pendidikan

terhadap keberhasilan pengobatan TB paru anak.

7
4. Penelitian terkait yang dilakukan oleh Rizki Ramdan Sudarso dengan judul

Hubungan Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Tuberkulosis

dengan Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Paru Anak Di Puskesmas

Kelurahan Lagoa Jakarta Utara Periode Januari 2009-Juni 2010. Jenis

penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross

sectional. Sampel dalam penelitian adalah ibu yang menderita tuberkulosis

paru dan berobat di Puskesmas Kelurahan Lagoa Jakarta Utara dengan jumlah

sampel 58 orang dengan pendekatan sampling jenuh. Hasil analisis uji chi-

square variabel yang memiliki hubungan yang bermakna dengan keberhasilan

pengobatan TB Paru anak di Puskesmas Kelurahan Lagoa Jakarta Utara

periode Januari 2009 – Juni 2010 adalah usia ibu (p = 0,001), pekerjaan ibu (p

= 0,013), dan tingkat pengetahuan ibu tentang tuberkulosis (p = 0,027). 5.

Penelitian terkait yang dilakukan oleh Niko Rianda Putra dengan judul

Hubungan Perilaku dan Kondisi Sanitasi Rumah Dengan Kejadian TB Paru Di

Wilayah Kota Solok Tahun 2011. Penelitian ini menggunakan desain case

control. Sampel dalam penelitian ini adalah orang yang pernah menderita TB

paru yang termasuk dalam kasus Dinkes Kota Solok dan seluruh Puskesmas di

Kota Solok pada tahun 2011 yaitu 22 kasus atau orang yang Tb paru

dibandingkan dengan yang belum pernah menderita TB paru atau kontrol.

Data variabel independen diperoleh dengan mewawancarai, observasi dan

mengukur. Dari hasil uji statistik menunjukkan tingkat pengetahuan nilai (p =

0,034), sikap tentang pencegahan (p = 0, 028), tindakan pencegahan (p =

8
0,028), kondisi kepadatan hunian (p = 0,015), kondisi ventilasi (p = 0,016),

dan kondisi pencahayaan (p = 0,015), memiliki hubungan dengan kejadian TB

Paru di Kota Solok. Sedangkan untuk kondisi jenis lantai dengan hasil uji

statistik kondisi jenis lantai (p = 1,000) tidak memiliki hubungan dengan

kejadian TB Paru di Kota Solok.

9
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Puskesmas Lawanga

1. Gambaran Geografi

Luas wilayah Puskesmas Lawanga ± 20,04 km2 dengan jumlah kelurahan

sebanyak 7 kelurahan. secara geografis wilayah Puskesmas Lawanga terdiri

dari dataran dan sebagian besar pesisir pantai sehingga transportasi dan

komunikasi relatif mudah dijangkau.

Puskesmas Lawanga merupakan puskesmas yang terdapat di Kecamatan

Poso Kota Utara dengan batas-batas wilayah kerja Puskesmas Lawanga

adalah sebagai berikut:

 Sebelah Utara : Berbatasan dengan perairan Teluk Tomini

 Sebelah Timur: Berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Tagolu

kecamatan Lage

 Sebelah Selatan: Berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas kawua

Kecamatan poso Kota Selatan

 Sebelah Barat : Berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Kayamanya

dan sungai Poso

10
2. Kependudukan

Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Lawanga tahun 2018

yaitu 11.102 jiwa.

Tabel II.1.
Jumlah Penduduk Menurut Kelurahan dan jenis kelamin di wilayah kerja
Puskesmas Lawanga

Kelurahan Penduduk

Laki-laki Perempuan Jumlah

Bonesompe 1.430 1.524 2.962

Kasintuwu 1.050 784 1.869

Lombugia 589 357 589

Lawanga 841 839 1.718

Lawanga Tawongan 573 548 1.135

Tegal rejo 1.028 895 1.681

Madale 510 496 993

TOTAL 5.659 5.443 11.102

Sumber: Penilaian kerja Kinerja Puskesmas Lawanga Kec. Poso Kota Utara

B. Tuberkulosis Paru

1. Pengertian TB Paru

Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan penyakit menular yang

disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis. Pada dasarnya kuman

penyebab TB paru dapat menyerang organ tubuh lain misalnya kulit akan

11
tetapi bagian besar menyerang paru-paru. Bakteri tersebut biasanya masuk ke

dalam tubuh manusia melalui udara pernapasan ke dalam paru-paru

kemudian kuman tersebut menyebar dari paru-paru ke bagian tubuh lainnya,

melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, melalui saluran

pernapasan (bronkus) atau langsung menyebar ke bagian-bagian tubuh

lainnya (Erlien, 2008).

2. Klasifikasi TB Paru

Menurut Djojodibroto (2007), berdasarkan hasil pemeriksaan dahak TB

paru dibagi menjadi 2 yaitu:

a. TB Paru BTA Positif

Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS (Sewaktu, Pagi,

Sewaktu) hasilnya BTA positif. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA

positif dan foto rontgen dada menunjukan gambaran tuberkulosis aktif.

b. TB Paru BTA Negatif

Pemeriksaan 3 spesiemen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto

rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. TB paru BTA

negatif rontgen positif dibagi bedasarkan tingkat keparahan penyakitnya,

yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila gambaran foto rontgen

dada memperlihatkan gambaran kerusakan paru yang luas penderita

buruk.

12
Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya

dibedakan menjadi (Djojodibroto, 2007):

1. Kasus baru

Kasus baru adalah penderita yang belum pernah diobati dengan OAT

(Obat Anti Tuberkulosis) atau sudah pernah menelan OAT kurang dari

satu bulan (30 dosis harian).

2. Kambuh (relaps)

Kambuh (relaps) adalah penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah

mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh

kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA

positif.

3. Pindahan (transfer in)

Pindahan adalah penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu

kabupaten lain dan kemudia pindah berobat ke kabupaten ini.

4. Setelah lalai (pengobatan setelah default / drop out)

Setelah lalai adalah penderita yang sudah berobat paling kurang 1 bulan,

dan berhenti 2 bulan atau lebih, kemudian datang kembali berobat.

5. Lain-lain

a. Gagal

Gagal adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau

kembali menjadi positif pada akhir bulan ke 5 (1 bulan sebelum akhir

pengobatan atau lebih).

13
b. Kasus kronis

Kasus kronis adalah penderita dengan hasil pemeriksaan masih

tetap TBA positif setelah selesai pengobatan ulang kategori 2.

3. Etiologi

Penyakit TB paru merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh

bakteri berbentuk basil yang dikenal dengan nama Mycobacterium

Tuberculosis dan dapat menyerang semua golongan umur. Penyebaran TB

paru melalui perantara ludah atau dahak penderita yang mengandung basil

TB paru. (Jordao dan Vieira, 2011).

Penyakit TB paru biasanya menular melalui udara yang tercemar dalam

bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang dilepaskan pada saat penderita TB

paru batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari

penderita TB paru dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul

dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada

orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui

pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh karena itu, infeksi TB paru

dapat dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti paru-paru, otak,

ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain

(Jordao dan Vieira, 2011).

4. Patogenesis

Penularan TB paru biasanya melalui udara, yaitu secara inhalasi “droplet

nucleus” yang mengandung basil TB paru. Droplet dengan ukuran 1-5

14
mikron yang dapat melewati atau menembus sistem mukosilier saluran napas

kemudian mencapai dan bersarang di bronkiolus dan alveolus. Beberapa

penelitian menyebutkan 25%-50% angka terjadinya infeksi pada keadaan

tertutup. Karena di dalam tubuh pejamu belum ada kekebalan awal, hal ini

memungkinkan basil TB paru tersebut berkembangbiak dan menyebar

melalui saluran limfe dan aliran darah (Yulianti, 2010).

Sebagian basil TB paru difagositosis oleh makrofag di dalam alveolus

tetapi belum mampu membunuh basil tersebut, sehingga basil dalam

makrofag umumnya dapat tetap hidup dan berkembang biak. Basil TB paru

menyebar melalui saluran limfe mencapai kelenjar limfe regional, sedangkan

yang di aliran darah akan mencapai berbagai organ tubuh, dan di dalam organ

tersebut akan terjadi proses dan transfer antigen ke dalam limfosit. Kuman

TB paru hampir selalu dapat bersarang di dalam sumsum tulang, hati,

kelenjar limfe, tetapi tidak selalu dapat berkembang biak secara luas,

sedangkan basil di lapangan atas paru, ginjal, tulang dan otak lebih mudah

berkembang biak terutama sebelum imunitas terbentuk (Yulianti, 2010).

Infeksi yang alami, setelah sekitar 4-8 minggu tubuh melakukan

mekanisme pertahanan secara cepat. Pada sebagian anak-anak atau orang

dewasa mempuyai pertahanan alami terhadap infeksi primer sehingga secara

perlahan dapat sembuh. Tetapi kompleks primer ini dapat lebih progresif dan

membesar yang pada akhirnya akan muncul menjadi penyakit tuberkulosis

setelah 12 bulan (Yulianti, 2010).

15
Sebagian besar orang yang telah terinfeksi (80%-90%), belum tentu

menjadi penyakit TB paru. Untuk sementara, kuman-kuman yang berada

dalam tubuh berada dalam keadaan dormant (tidur), dan keberadaan kuman

dormant tersebut diketahui hanya dengan tes tuberculin. Mereka menjadi

sakit (menderita TB paru) paling cepat setelah 3 bulan setelah terinfeksi, dan

mereka yang tidak sakit tetap mempunyai risiko untuk menderita TB paru

sepanjang hidupnya (Yulianti, 2010).

5. Gejala

Keluhan yang banyak dirasakan oleh pasien adalah sebagai berikut:

1. Demam

Demam merupakan gejala pertama dari TB paru, biasanya timbul

pada sore dan malam hari disertai dengan keringat mirip demam

influenza yang segera mereda. Tergantung dari daya tahan tubuh dan

virulensi kuman, serangan demam yang berikut dapat terjadi selama 3

bulan, 6 bulan, dan 9 bulan.

2 Sesak napas

Pada penyakit ringan belum dirasakan sesak napas. Sesak napas

akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang infiltrasinya

sudah meliputi setengah sebagian paru-paru (Manurung dkk, 2009).

3. Batuk/batuk darah

Batuk baru timbul apabila proses penyakit sudah melibatkan

bronkus. Batuk mula-mula terjadi karena iritasi bronkus, selanjutnya

16
akibat dari adanya peradangan pada bronkus, batuk akan menjadi

produktif. Batuk darah terjadi akibat pecahnya pembuluh darah. Berat

dan ringannya batuk darah yang timbul, tergantung dari besar kecilnya

pembuluh darah yang pecah (Manurung dkk, 2009).

3. Nyeri Dada

Gejala ini timbul apabila sistem persarafan yang terdapat di pleura

terkena, gejala ini dapat bersifat lokal atau pleuritik (Manurung dkk,

2009).

5 Malaise

Karena TB paru bersifat radang menahun, maka akan terjadi rasa

tidak enak pada badan, pegal-pegal, nafsu makan berkurang, bdan

makin kurus, sakit kepala, mudah lelah, dan pada wanita kadang-kadag

dapat terjadi gangguan siklus haid bagi wanita (Manurung dkk, 2009).

6. Diagnosis

Diagnosis TB paru ditegakkan berdasarkan gejala klinik, pemeriksaan

radiologi dan pemeriksaan laboratorium.

1. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin

ditemukan konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu

demam (subfebris), berat badan kurus atau badan menurun. Tempat

kelainan lesi TB paru yang paling dicurigai adalah apeks paru. Bila

dicurigai ada infiltrate yang agak luas, maka didapatkan perkusi yang

17
redup dan auskultasi suara napas bronkial. Akan didapatkan juga suara

napas tambahan berupa ronki basah, kasar, dan nyaring. Tetapi bila

infiltrate ini diliputi oleh pleura tebal, suara napasnya menjadi vesicular

melemah. Bila terdapat cavitas, perkusi akan memberikan suara

hipersonor atau timpani dan auskultasi memberikan suara amforik (Niko,

2011).

TB paru yang lanjut dengan fibrosis yang luas sering ditemukan

atrofi dan retraksi otot-otot intercostal. Bagian paru yang sakit akan

menarik mediatrium atau paru lainnya. Bila terjadi kenaikan tekanan arteri

pulmonalis yang disebabkan oleh pengecilan daerah aliran darah paru,

disini akan didapatkan tanda-tanda korpulmonal dengan gagal jantung

kanan seperti takipnea, takikardial, sianosis, right atrial lift, left atrial

gullop, murmur Graham-Steel, bunyi P2 yang mengeras, tekanan vena

jugularis yang meningkat, hepatomegali, astesis, dan edema (Niko, 2011).

2. Pemeriksaan radiologis

Lokasi lesi tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru (segmen

apiicallobus atas atau segmen apical lobus bawah), tetapi dapat juga

mengenai lobus bawah (bagian inferior) atau di daerah hilus (menyerupai

tumor paru) misal pada tuberkulosis endobronkial. Pada awal penyakit

saat lesi masih merupakan sarang-sarang pneumonia, gambaran radiologis

berupa bercak-bercak seperti awan dengan batas-batas yang tidak tegas.

Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa

18
bulatan dengan batas yang tegas. Lesi ini dikenal sebagai tuberkuloma

(Niko, 2011).

Gambar pada cavitas bayangan berupa cincin yang bergaris-garis.

Pada kalsifikasi bayangan tampak sebagai bercak-bercak dengan densitas

tinggi. Pada atelectasis terlihat seperti fibrosis yang luas disertai penciutan

yang dapat terjadi pada sebagian atau satu lobus maupun pada satu bagian

paru.Gambaran tuberkulosis milier terlihat berupa bercak-bercak halus

yang umumnya tersebar pada seluruh lapangan paru. Gambaran radiologi

lain yang sering menyertai TB paru adalah penebalan pleura (pleuritis),

massa cairan hitam radiolesun di pinggir paru/pleura (pneumotoraks).

Pada satu foto dada sering didapatkan bermacam-macam bayangan

sekaligus (pada TB paru yang sudah lanjut) seperti infiltrate, garis-garis

fibrosis, kalsifikasi, cavitas (non sklerotik/sklerotik) maupun atelectasis

dan emfisema. Adanya bayangan (lesi) pada foto dada, bukanlah

menunjukkan adanya penyakit, kecuali sudah infiltrate yang betul-betul

nyata. Lesi penyakit yang sudah non aktif, sering menetap selama hidup

pasien. Lesi yang berupa fibrotic, kalsifikasi, cavitas, schwarte, sering

dijumpai pada orang-orang yang sudah tua (Niko, 2011).

3. Pemerikasaan laboratorium

a. Darah

Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian, karena hasilnya

kadang-kadang meragukan. Hasilnya tidak sensitif dan juga tidak

19
spesifik. Pada saat tuberkulosis baru mulai (aktif) akan didapatkan

jumlah leukosit yang sedikit meninggi dengan hitung jenis pergeseran

ke kiri. Jumlah limfosit masih dibawah normal. Laju endap darah

mulai turun kearah normal lagi. Hasil pemeriksaan darah lain

didapatkan juga:

1) Anemia ringan dengan gambaran normokrom dan normositer

2) Gama globulin meningkat

3) Kadar natrium darah menurun

4) Pemeriksaan tersebut diatas nilainya juga tidak spesifik (Niko,

2011).

Pemeriksaan serologis yang pernah dipakai adalah rekasi

Takahashi. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan proses tuberkulosis

masih aktif atau tidak. Kriteria positif yang dipakai di Indonesia adalah

titer 1/128. Pemeriksaan ini juga kurang mendapat perhatian karena

mendapat perhatian karena angka-angka positif palsu dan negatif

palsunya masih besar (Niko, 2011).

Belakangan ini terdapat pemeriksaan serologis yang banyak tetapi

juga dipakai yakni Peroksidase Anti Peroksida (PAP-TB) yang oleh

beberapa peneliti mendapatkan nilai sensitivitas dan spesifitasnya

cukup tinggi (85-95%), tetapi beberapa peneliti lain meragukannya

karena mendapat angka-angka yang lebih rendah. Walapun begitu

PAP-TB ini masih dapat dipakai, tetapi kurang bermanfaat bila

20
digunakan sebagai saran tunggal untuk diagnosis TB paru (Niko,

2011).

b. Sputum

Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya

kuman BTA, diagnosis TB paru sudah dapat dipastikan. Disamping itu

pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap

pengobatan yang sudah diberikan. Pemeriksaan ini mudah dan murah

sehingga dapat dikerjakan di lapangan (puskesmas). Tetapi kadang-

kadang tidak mudah untuk mendapat sputum, terutama pasien yang

tidak batuk atau batuk yang non produktif. Dalam hal ini dianjurkan

satu hari sebelum pemeriksaan sputum, pasien dianjurkan minum

sebanyak ± 2 liter dan diajarkan melakukan refleks batuk. Dapat juga

memberikan tambahan obat-obat mukolitik ekspektoran atau dengan

inhalasi larutan garam hipertonik selama 20-30 menit. Bila masih sulit,

sputum dapat diperoleh dengan cara bronkoskopi diambil dengan

brushing atau bronchial washing BAL, bronco alveolar lavage) BTA

dari sputum bisa juga didapat dengan cara bilasan lambung. Hal ini

sering dikerjakan pada anak-anak karena mereka sulit mengeluarkan

dahaknya. Sputum yang hendak diperiksa hendaknya sesegar mungkin

(Niko, 2011).

21
Kriteria sputum BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya

ditemukan 3 batang kuman BTA pada suatu sendiaan. Dengan kata

lain diperlukan 5.000 kuman dalm 1 mL sputum.

Cara pemeriksaan sendiaan sputum yang dilakukan adalah:

1. Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop biasa.

2. Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop flouresens

(pewarnaan khusus).

3. Pemeriksaan dengan biakan (kultur).

4. Pemeriksaan terhadap resistensi obat (Niko, 2011).

Dalam panduan mikroskopis tuberklosis semua tersangka

penderita yang datang dengan kemauan sendiri ke pelayanan kesehatan

dengan gejala klinis TB paru (suspek) pada orang dewasa harus

diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari berturut-turut:

1. Sewaktu: dahak dikumpulkan pada saat suspek TB paru datang

berkunjung pertama kali di pelayanan kesehatan.

2. Pada saat pulang suspek membawa sebuah pot untuk

mengumpulkan dahak hari kedua.

3. Pagi: dahak dikumpulkan dirumah pada pagi hari kedua segera

setelah bangun tidur. Pot tersebut diantar sendiri ke laboratorium

pelayanan kesehatan. Volume dahak sebaiknya 3-5 ml.

4. Sewaktu: Dahak dikumpulkan di UPK (Unit Pelayanan

Kesehatan) pada hari kedua saat menyerahkan dahak pagi.

22
5. Hasil pemeriksaan dinyatakan (+) apabila sedikitnya 2 dari

spesimen SPS ( Sewaktu, Pagi, Sewaktu) BTA hasil positif.

6. Bila hanya 1 pemeriksaan SPS positif maka pemeriksaan lanjut

dengan foto rontgen dada, apabila hasil rontgen mendukung TB

paru maka penderita di diagnosis TB paru BTA positif.

7. Hasil rontgen tidak mendukung maka di diagnosis bukan penderita

TB paru (Niko, 2011).

Untuk mendapat kualitas dahak yang baik beberapa hal yang perlu

diperhatikan oleh petugas kesehatan yaitu:

1. Memberikan penjelasan kepada penderita mengenai pentingnya

pemeriksaan dahak, baik pemeriksaan dahak pertama maupun

dahak ulang.

2. Memberi penjelasan kepada penderita tentang cara batuk yang

benar untuk mendapat dahak yang kental dan purulen.

3. Petugas memeriksa kekentalan, warna dan volume dahak, warna

dahak yang baik untuk pemeriksaan adalah warna kuning kehijau-

hijauan (mukopurulen), kental dengan warna 3-5 ml, bila volume

kurang, petugas harus meminta penderita batuk lagi sampai

volume dahak cukup.

4. Jika tidak ada dahak yang keluar, pot dahak dianggap sudah

terpakai dan harus dimusnahkan untuk menghindari kemungkinan

terjadinya kontaminasi kuman TB paru (Niko, 2011).

23
Pembacaan hasil pemeriksaan sediaan dilakukan dengan

menggunakan skala Internasional Union Againt Tuberkulosis and

Lung Diseases (IUATLD) dan diperiksa paling paling sedikit 100

lapang pandang atau dalam waktu kurang lebih 10 menit sebagai

berikut:

1. Tidak ditemukan BTA per 100 lapang pandang = negatif

2. Ditemukan 1-9 BTA per 100 lapang pandang = ditulis jumlah

kuman yang ditemukan

3. Ditemukan 10-99 BTA per 1 lapang pandang = + atau 1 +

4. Ditemukan 1-10 BTA per 1 lapang pandang =++ atau 2+

5. Ditemukan > 10 BTA dalam 1 lapang pandang = +++ atau 3+

(Niko, 2011).

Bila ditemukan 1-3 BTA dalam 100 lapang pandang, pemeriksaan

harus diulang dengan spesimen dahak yang baru, bila hasilnya tetap 1-

3 BTA maka hasilnya dilaporkan negatif, bila hasilnya 4-9 dilaporkan

positif (Niko, 2011).

c. Tes Tuberkulin

Pemerikasaan ini dipakai untuk menegakkan diagnosis TB paru

terutama pada anak-anak. Biasanya dipakai tes Mantoux yakni dengan

menyuntikkan 0,11 cc tuberkulin berkekuatan 5 T.U

(intermediastrength). Tes tuberkulin hanya menyatakan apakah

seseorang individu sedang atau pernah mengalami infeksi M.

24
Tuberculosae, M. Bovis, Vaksinasi BCG (Bacille Calmette-Guerin)

dan Mycrobacteriac patogen lainnya. Dasar tes tuberkulin ini adalah

reaksi alergik tipe lambat. Biasanya hampir seluruh pasien TB paru

memberikan rekasi Mantoux yang positif (99,8%). Kelemahan tes ini

juga terdapat positif palsu yakni pada pemberian BCG atau terinfeksi

dengan Mycrobacterium lain. Negatif palsu lebih banyak ditemukan

daripada positif palsu (Niko, 2011).

7. Faktor Risiko

Suryo (2010) menjelaskan bahwa faktor risiko yang menyebabkan

penyakit TBC adalah sebagai berikut:

a. Faktor umur

Beberapa faktor risiko penularan penyakit tuberkulosis di Amerika

yaitu umur, jenis kelamin, ras, asal negara bagian, serta infeksi AIDS.

Dari hasil penelitian yang dilaksanakan di New York pada panti

penampungan orang-orang gelandangan, menunjukkan bahwa

kemungkinan mendapat infeksi tuberkulosis aktif meningkat secara

bermakna sesuai dengan umur.

Insiden tertinggi tuberkulosis paru-paru biasanya mengenai usia

dewasa muda. Di Indonesia diperkirakan 75% penderita TBC adalah

kelompok usia produktif, yaitu 15-50 tahun.

25
b. Faktor Jenis Kelamin

Di benua Afrika banyak tuberkulosis, terutama menyerang laki-laki.

Pada tahun 1996 jumlah penderita TBC pada laki-laki hampir dua kali

lipat dibandingkan jumlah penderita TBC pada wanita, yaitu 42,34%

pada laki-laki dan 28,9% pada wanita. Antara tahun 1985-1987 penderita

TBC pada laki-laki cenderung meningkat sebanyak 2,5%, sedangkan

penderita TBC pada wanita menurun 0,7%.

TBC lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita

karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga

memudahkan terjangkitnya TBC.

c. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap

pengetahuan seseorang, di antaranya mengenai rumah yang memenuhi

syarat kesehatan dan pengetahuan penyakit TBC sehingga dengan

pengetahuan yang cukup, maka seseorang akan mencoba untuk

mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu, tingkat

pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaannya.

d. Pekerjaan

Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang harus dihadapi

setiap individu. Bila pekerja bekerja di lingkungan yang berdebu, paparan

partikel debu di daerah terpapar akan memengaruhi terjadinya gangguan

pada saluran pernapasan. Paparan kronis udara yang tercemar dapat

26
meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya gejala penyakit saluran

pernapasan dan umumnya TBC.

Jenis pekerjaan seseorang juga memengaruhi pendapatan keluarga

yang akan mempunyai dampak terhadap pola hidup seharihari di antara

konsumsi makanan, pemeliharaan kesehatan. Selain itu, akan

memengaruhi kepemilikan rumah (konstruksi rumah).

Kepala keluarga yang mempunyai pendapatan di bawah UMR akan

mengonsumsi makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai dengan

kebutuhan bagi setiap anggota keluarga sehingga mempunyai status gizi

yang kurang dan akan memudahkan untuk terkena penyakit infeksi, di

antaranya penyakit TBC. Dalam hal jenis konstruksi rumah dengan

mempunyai pendapatan yang kurang, maka konstruksi rumah yang

dimiliki tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga akan mempermudah

terjadinya penularan penyakit TBC.

e. Kebiasaan Merokok

Merokok diketahui mempunyai hubungan dengan meningkatkan

risiko untuk mendapatkan kanker paru-paru, penyakit jantung koroner,

bronkitis kronis, dan kanker kandung kemih. Kebiasaan rokok

meningkatkan risiko untuk terkena TBC sebanyak 2,2 kali.

Prevalensi merokok pada hampir semua negara berkembang lebih

dari 50% terjadi pada lakilaki dewasa, sedangkan wanita perokok kurang

27
dari 5%. Dengan adanya kebiasaan merokok sehingga mempermudah

untuk terjadinya infeksi penyakit TBC.

f. Kepadatan Hunian Kamar Tidur

Luas lantai bangunan rumah harus cukup untuk penghuni di

dalamnya, artinya luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan

dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan overload. Hal ini

tidak sehat karena di samping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen

juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan

mudah menular kepada anggota keluarga yang lain.

Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasanya

dinyatakan dalam m2/orang. Luas minimum per orang sangat relatif

bergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk

rumah sederhana luasnya minimum 10 m2/orang. Untuk kamar tidur

diperlukan luas lantai minimum 3 m2/orang. Untuk mencegah penularan

penyakit pernapasan, jarak antara tepi tempat tidur yang satu dengan yang

lainnya minimum 90 cm. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni lebih dari

dua orang, kecuali untuk suami-istri dan anak di bawah 2 tahun. Untuk

menjamin volume udara yang cukup, disyaratkan juga langit-langit

minimum tingginya 2,75 m.

g. Pencahayaan

Untuk memperoleh cahaya cukup pada siang hari, diperlukan luas

jendela kaca minimum 20% luas lantai. Jika peletakkan jendela kurang

28
baik atau kurang leluasa, dapat dipasang genting kaca. Cahaya ini sangat

penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah,

misalnya basil TBC. Oleh karena itu, rumah yang sehat harus mempunyai

jalan masuk cahaya yang cukup. Intensitas pencahayaan minimum yang

diperlukan 10 kali lilin atau kurang lebih 60 lux, kecuali untuk kamar

tidur diperlukan cahaya yang lebih redup.

Semua jenis cahaya dapat mematikan kuman hanya berbeda dari segi

lamanya proses mematikan kuman untuk setiap jenisnya. Cahaya yang

sama apabila dipancarkan melalui kaca tidak berwarna dapat membunuh

kuman dalam waktu yang lebih cepat daripada yang melalui kaca

berwarna. Penularan kuman TBC relatif tidak tahan pada sinar matahari.

Bila sinar matahari dapat masuk dalam rumah serta sirkulasi udara diatur,

risiko penularan antarpenghuni akan sangat berkurang.

h. Ventilasi

Ventilasi mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk

menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini

berarti keseimbangan oksigen yang diperlukan oleh penghuni rumah

tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya

oksigen di dalam rumah. Di samping itu, kurangnya ventilasi akan

menyebabkan kelembapan udara di dalam ruangan naik karena terjadinya

proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembapan ini akan

29
menjadi media yang baik untuk pertumbuhan bakteri-bakteri

patogen/bakteri penyebab penyakit, misalnya kuman TBC.

Fungsi kedua dari ventilasi itu adalah untuk membebaskan udara

ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena di situ

selalu terjadi aliran udara terus-menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara

akan selalu tetap di dalam kelembapan (humiditas) yang optimum.

Untuk sirkulasi yang baik diperlukan paling sedikit luas lubang

ventilasi sebesar 10% dari luas lantai. Untuk luas ventilasi permanen

minimal 5% dari luas lantai dan luas ventilasi insidentil (dapat dibuka

tutup) 5% dari luas lantai. Untuk udara segar juga diperlukan untuk

menjaga temperatur dan kelembapan udara dalam ruangan. Umumnya

temperatur kamar 22o-30oC, dari kelembapan udara optimum kurang

lebih 60%.

i. Kondisi Rumah

Kondisi rumah dapat menjadi salah satu faktor risiko penularan

penyakit TBC. Atap, dinding, dan lantai dapat menjadi tempat

perkembangbiakan kuman. Lantai dan dinding yang sulit dibersihkan

akan menyebabkan penumpukan debu sehingga akan dijadikan sebagai

media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman Mycobacterium

tuberculosis.

j. Kelembapan Udara

30
Kelembapan udara dalam ruangan untuk memperoleh kenyamanan,

di mana kelembapan yang optimum berkisar 60% dengan temperatur

kamar 22o-30oC. Kuman TBC akan cepat mati bila terkena sinar

matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup selama beberapa jam di

tempat yang gelap dan lembap.

k. Status Gizi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang dengan status gizi kurang

mempunyai risiko 3,7 kali untuk menderita penyakit TBC berat

dibandingkan dengan orang yang status gizinya cukup atau lebih.

Kekurangan gizi pada seseorang akan berpengaruh terhadap kekuatan

daya tahan tubuh dan respon imunologik terhadap penyakit.

l. Keadaan Sosial Ekonomi

Keadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan, keadaan

sanitasi lingkungan, gizi, dan akses terhadap pelayanan kesehatan.

Penurunan pendapatan dapat menyebabkan kurangnya kemampuan daya

beli dalam memenuhi konsumsi makanan sehingga akan berpengaruh

terhadap status gizi. Apabila status gizi buruk, akan menyebabkan

kekebalan tubuh menurun sehingga memudahkan terkena infeksi TBC.

m. Perilaku

Perilaku dapat terdiri atas pengetahuan, sikap, dan tindakan.

Pengetahuan penderita TBC yang kurang tentang cara penularan, bahaya,

dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku

31
sebagai orang sakit dan akhirnya berakibat menjadi sumber penular bagi

orang di sekelilingnya.

8. Pencegahan

Naga (2012) berpendapat bahwa tindakan yang dapat dilakukan untuk

mencegah timbulnya penyakit TBC, yaitu:

a. Bagi penderita, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan menutup

mulut saat batuk, dan membuang dahak tidak di sembarangan tempat.

b. Bagi masyarakat, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan

meningkatkan ketahanan terhadap bayi, yaitu dengan memberikan

vaksinasi BCG.

c. Bagi petugas kesehatan, pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan

penyuluhan tentang penyakit TBC, yang meliputi gejala, bahaya, dan

akibat yang ditimbulkannya terhadap kehidupan masyarakat pada

umumnya.

d. Petugas kesehatan juga harus segera melakukan pengisolasian dan

pemeriksaan terhadap orang-orang yang terinfeksi, atau dengan

memberikan pengobatan khusus kepada penderita TBC. Pengobatan

dengan cara dirawat di rumah sakit hanya dilakukan bagi penderita

dengan kategori berat dan memerlukan pengembangan program

pengobatannya, sehingga tidak dikehendaki pengobatan jalan.

e. Pencegahan penularan juga dapat dicegah dengan melaksanakan

desinfeksi, seperti cuci tangan, kebersihan rumah yang ketat, perhatian

32
khusus terhadap muntahan atau ludah anggota keluarga yang terjangkit

penyakit TBC (piring, tempat tidur, pakaian), dan menyediakan ventilasi

dan sinar matahari yang cukup.

f. Melakukan imunisasi bagi orang-orang yang melakukan kontak langsung

dengan penderita, seperti keluarga, perawat, dokter, petugas kesehatan,

dan orang lain yang terindikasi, dengan vaksin BCG dan tindak lanjut

bagi yang positif tertular.

g. Melakukan pemeriksaan terhadap orang-orang yang kontak dengan

penderita TBC. Perlu dilakukan Tes Tuberkulin bagi seluruh anggota

keluarga. Apabila cara ini menunjukan hasil negatif, perlu diulang

pemeriksaan tiap bulan selama 3 bulan, dan perlu pemeriksaan intensif.

h. Dilakukan pengobatan khusus. Penderita dengan TBC aktif perlu

pengobatan yang tepat, yaitu obat-obat kombinasi yang telah ditetapkan

oleh dokter untuk diminum dengan tekun dan teratur, selama 6 sampai 12

bulan. Perlu diwaspadai adanya kebal terhadap obat-obat, dengan

pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter.

Francis (2011) menyatakan pencegahan penyakit tuberkulosis dapat

dilakukan dengan cara penyediaan nutrisi yang baik, sanitasi yang adekuat,

perumahan yang tidak terlalu padat dan udara yang segar merupakan

tindakan yang efektif dalam pencegahan TBC.

Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), 2010

menjelaskan tentang pencegahan penularan penyakit TBC, yaitu:

33
a. Bagi masyarakat

1) Makan makanan yang bergizi seimbang sehingga daya tahan tubuh

meningkat untuk membunuh kuman TBC

2) Tidur dan istirahat yang cukup

3) Tidak merokok, minum alkohol dan menggunakan narkoba

4) Lingkungan yang bersih baik tempat tinggal dan disekitarnya

5) Membuka jendela agar masuk sinar matahari di semua ruangan rumah

karena kuman TBC akan mati bila terkena sinar matahari

6) Imunisasi BCG bagi balita, yang tujuannya untuk mencegah agar

kondisi balita tidak lebih parah bila terinfeksi TBC

7) Menyarankan apabila ada yang dicurigai sakit TBC agar segera

memeriksakan diri dan berobat sesuai aturan sampai sembuh

b. Bagi penderita

1) Tidak meludah di sembarang tempat

2) Menutup mulut saat batuk atau bersin

3) Berperilaku hidup bersih dan sehat

4) Berobat sesuai aturan sampai sembuh

5) Memeriksakan balita yang tinggal serumah agar segera diberikan

pengobatan pencegahan

34
C. Pengetahuan

1. Pengertian

Martin dan Oxman (1988) dalam Kusrini (2009) mengungkapkan bahwa

pengetahuan merupakan kemampuan untuk membentuk model mental yang

menggambarkan obyek dengan tepat dan merepresentasikannya dalam aksi

yang dilakukan terhadap suatu obyek. Pengetahuan merupakan hasil dari

tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan suatu kejadian

tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo,

2007). Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam

terbentuknya suatu tindakan. Dengan demikian terbentuknya perilaku

terhadap seseorang karena adanya pengetahuan yang ada pada dirinya

terbentuknya suatu perilaku baru, terutama yang ada pada orang dewasa

dimulai pada domain kognitif. Dalam arti seseorang terlebih dahulu diberi

stimulus yang berupa informasi tentang upaya pencegahan penyakit TBC

sehingga menimbulkan pengetahuan yang baru dan selanjutnya menimbulkan

respon batin dalam bentuk sikap pada orang tersebut terhadap informasi

upaya pencegahan penyakit TBC yang diketahuinya. Akhirnya rangsangan

yakni informasi upaya pencegahan penyakit TBC yang telah diketahuinya

dan disadari sepenuhnya tersebut akan menimbulkan respon lebih jauh lagi

35
yaitu berupa tindakan atau sehubungan dengan stimulus atau informasi upaya

pencegahan penyakit TBC (Notoatmodjo, 2007).

Djannah (2009) dalam penelitiannya di Yogyakarta mengungkapkan

bahwa semakin tinggi pengetahuan terhadap suatu objek maka akan semakin

baik pula sikap seseorang terhadap objek tersebut. Pengetahuan dan

pemahaman seseorang tentang penyakit tuberkulosis dan pencegahan

penularannya memegang peranan penting dalam keberhasilan upaya

pencegahan penularan penyakit tuberkulosis. Dari pengalaman dan penelitian

terbukti bahwa perilaku yang di dasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng

dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo,

2007).

2. Klasifikasi

Budiman (2013) menjelaskan bahwa jenis pengetahuan di antaranya

sebagai berikut:

a. Pengetahuan Implisit Merupakan pengetahuan yang masih tertanam dalam

bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-faktor yang tidak bersifat

nyata, seperti keyakinan pribadi, perspektif, dan prinsip.

b. Pengetahuan Eksplisit Merupakan pengetahuan yang telah disimpan dalam

wujud nyata, bisa dalam wujud perilaku kesehatan.

3. Proses Adopsi Perilaku

36
Penelitian Rogers (1974) dalam Notoatmodjo (2007) mengungkapkan

bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam

diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:

a. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari dalam arti

mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu

b. Interest, yakni orang mulai tertarik kepada stimulus

c. Evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut

bagi dirinya). Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi

d. Trial, orang telah mulai mencoba perilaku baru

e. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,

kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses

seperti ini didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, maka

perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila

perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan

berlangsung lama (Notoatmodjo, 2007).

4. Tingkat Pengetahuan di Dalam Domain Kognitif

Notoatmodjo (2012) menjelaskan bahwa pengetahuan yang tercakup

dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah

37
mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi

tersebut secara benar.

c. Aplikasi (aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur

organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang

baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun

formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu

38
didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan

kriteria-kriteria yang telah ada.

5. Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan

Budiman (2013) menjelaskan mengenai faktor-faktor yang

mempengaruhi terbentuknya pengetahuan adalah sebagai berikut:

a. Pendidikan

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah menerima

informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki.

b. Informasi/media massa

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun nonformal

dapat memberikan pengaruh jangka pendek sehingga menghasikan

perubahan atau peningkatan pengetahuan. Adanya informasi baru

mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi

terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut.

c. Sosial, budaya, dan ekonomi

Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan seseorang tanpa melalui penalaran

sehingga akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan.

Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu

fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu sehingga status sosial

ekonomi ini akan memengaruhi pengetahuan seseorang.

d. Lingkungan

39
Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke

dalam individu yang berada dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi

karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak, yang akan direspon

sebagai pengetahuan oleh setiap individu.

e. Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali

pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi

masa lalu.

f. Usia

Usia memengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin

bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola

pikirnya sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik.

D. Sikap (attitude)

1. Pengertian

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang

terhadap suatu stimulus atau objek. Newcomb menyatakan bahwa sikap itu

merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan

pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau

aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap

itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau

40
tingkah laku yang terbuka. Maka dari itu, sikap merupakan kesiapan untuk

bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan

terhadap objek (Notoatmodjo, 2007).

Sikap dalam hal ini merupakan sikap seseorang dalam menghadapi

penyakit tuberkulosis dan upaya pencegahannya. Sikap merupakan

kecenderungan seseorang untuk menginterpretasikan sesuatu dan bertindak

atas dasar hasil interpretasi yang diciptakannya. Sikap seseorang terhadap

sesuatu dibentuk oleh pengetahuan, antara lain nilai-nilai yang diyakini dan

norma-norma yang dianut. Untuk dapat mempengaruhi seseorang, informasi

perlu disampaikan secara perlahan-lahan dan berulang-ulang dengan

memperlihatkan keuntungan dan kerugiannya bila mengadopsi informasi

tersebut (Kurniasari,2008).

Proses pembentukan sikap dapat terjadi karena adanya rangsangan,

seperti pengetahuan masyarakat tentang pencegahan penyakit TBC.

Rangsangan tersebut menstimulus diri masyarakat untuk memberi respon,

dapat berupa sikap positif atau negatif, akhirnya akan diwujudkan dalam

perilaku atau tidak. Menurut Berkowitz (1972) dalam Azwar (2013), setiap

orang yang mempunyai perasaan positif terhadap suatu objek psikologis

dikatakan menyukai objek tersebut atau mempunyai sikap favorable terhadap

objek itu, sedangkan individu yang mempunyai perasaan negatif terhadap

suatu objek psikologis dikatakan mempunyai sikap yang unfavorable

terhadap objek sikap tersebut.

41
2. Komponen Pokok Sikap

Allport (1954) dalam Notoatmodjo (2012) menjelaskan bahwa sikap itu

mempunyai 3 komponen pokok:

a. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.

b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.

c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).

Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh

(total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran,

keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Suatu contoh misalnya,

seorang ibu telah mendengar penyakit TB paru (penyebabnya, akibatnya,

pencegahannya, dan sebagainya). Pengetahuan ini akan membawa ibu untuk

berpikir dan berusaha supaya anaknya tidak terkena penyakit TB paru. Dalam

berpikir ini komponen emosi dan keyakinan ikut bekerja sehingga ibu

tersebut berniat untuk melakukan pencegahan agar anaknya tidak terkena

penyakit TB paru. Ibu ini mempunyai sikap tertentu terhadap objek yang

berupa penyakit TB paru.

Breckler (1984) dalam Budiman (2013) menjelaskan bahwa komponen

utama sikap adalah sebagai berikut:

a. Kesadaran

b. Perasaan

c. Perilaku\

42
3. Tingkatan Sikap

Notoatmodjo (2007) membagi sikap dalam berbagai tingkatan:

a. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan

memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

b. Merespon (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya,

mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu

indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab

pertanyaan atau mengerjakan tugas yang di berikan, terlepas dari pekerjaan

itu benar atau salah, adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.

c. Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau

mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap.

d. Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu

yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling

tinggi. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung. Secara

langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden

terhadap suatu objek.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap

Azwar (2013) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap adalah:

a. Pengalaman pribadi

43
Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan

mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan

menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap, untuk dapat mempunyai

pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis.

b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting

Orang lain disekitar kita merupakan salah satu diantara komponen sosial

yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang kita anggap penting,

akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu.

c. Pengaruh kebudayaan Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan

mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Tanpa kita

sadari, kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita terhadap

berbagai masalah.

d. Media massa Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa

seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai

pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Pesan-

pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan

memberi dasar efektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah

arah sikap tertentu.

e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama Lembaga pendidikan dan

lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam

pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian

dan konsep moral dalam diri individu, pemahaman akan baik dan buruk,

44
garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan,

diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.

f. Pengaruh faktor emosional Tidak semua bentuk sikap yang ditentukan oleh

situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang

suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang

berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk

mekanisme pertahanan ego.

45
E. Kerangka Teori

Organisme
Stimulus
(Informasi) -Perhatian

-Perasaan

-Penerimaan Faktor yang mempengaruhi


pengetahuan dengan sikap:

- Pendidikan
- Usia
- Pengalaman
- Sumber informasi
Respon Tertutup: - Penghasilan
- Pengetahuan
- Sikap Faktor yang mempengaruhi
sikap dengan perilaku:
- Pengalaman pribadi
- Pengaruh orang lain yang
dianggap penting
- Pengaruh kebudayaan
- Media massa
Respon Terbuka: - Pengaruh faktor
Penyakit TBC dapat
Upaya pencegahan emosional
dicegah/tidak terjadi
TB Paru

Keterangan:

Diteliti

Tidak diteliti

46
F. Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

TINGKAT
PENGETAHUAN
UPAYA
PENCEGAHAN
PENYAKIT TB PARU
SIKAP

G. Hipotesis Penelitian

H0 : - Ada hubungan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap upaya

pencegahan penyakit TB paru Di Posyandu Tegal Rejo Bulan

September 2019

- Ada hubungan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit

TB paru Di Posyandu Tegal Rejo Bulan September 2019.

H1 : - Tidak ada hubungan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap upaya

pencegahan penyakit TB paru Di Posyandu Tegal Rejo Bulan

September 2019.

- Tidak ada hubungan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan

penyakit TB paru Di Posyandu Tegal Rejo Bulan September 2019.

47
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian survey analitik dengan menggunakan

pendekatan cross sectional (potong silang) yaitu penelitian yang diukur atau

dikumpulkan secara simultan (dalam waktu yang bersamaan). Dalam hal ini

peneliti mencari hubungan antara variabel bebas/variabel independent yaitu

tingkat pengetahuan dan sikap dengan variabel terikat/variabel dependent yaitu

upaya pencegahan TB paru.

B. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini akan dilaksanakan di Di Posyandu Tegal Rejo Bulan

September 2019.

2. Waktu Penelitian

Waktu yang direncanakan pada penelitian ini adalah pada tanggal 13

September 2019

C. Populasi dan Sampel

Populasi target dari penelitian ini ialah semua masyarakat yang berkunjung

Di Posyandu Tegal Rejo Bulan September 2019.

Sampel adalah subunit populasi survei itu sendiri yang oleh peneliti dipilih

dengan mewakili populasi target. Semakin besar sampel maka representative

48
sampel tersebut semakin mendekati jumlah populasi (Nursalam, 2008). Sampel

penelitian ini adalah masyarakat yang berkunjung Di Posyandu Tegal Rejo Bulan

September 2019.

1. Kriteria Sampel

Dalam pemilihan sampel, peneliti membuat kriteria bagi sampel yang

diambil. Sampel yang diambil berdasarkan pada kriteria inklusi, yaitu

karakteristik sampel yang dapat dimasukkan atau layak untuk diteliti.

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:

I. Masyarakat Di Posyandu Tegal Rejo bulan September 2019 yang

sudah dewasa (>17 tahun).

II. Bersedia untuk menjadi responden.

III. Mampu berkomunikasi dengan aktif.

Kriteria ekslusi dalam penelitian ini adalah:

I. Tidak dapat membaca, menulis dan mendengar

D. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik sampling adalah teknik yang dipergunakan untuk mengambil sampel

dari populasi. Sampling adalah suatu proses dalam menyeleksi proporsi dari

populasi untuk dapat mewakili populasi (Setiadi, 2007). Teknik sampling yang

dipakai dalam penelitian ini adalah dengan Accidental Sampling.

Pengambilan sampel dilakukan pada tanggal 13 September 20119. Diambil

dari masyarakat yang berkunjung ke Posyandu Tegal Rejo

49
E. Definisi Operasional Variabel dan Pengukurannya

Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional

berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga peneliti dapat melakukan

pengukuran secara cermat terhadap suatu objek (Hidayat, 2007).

1. Variabel Bebas

a) Pengetahuan

- Definisi Operasional : Adalah segala sesuatu yang diketahui

responden mengenai penyakit tuberkulosis paru meliputi pengertian,

gejala, penyebab, cara penularan, komplikasi, faktor risiko dan

tindakan pencegahan.

- Alat Ukur : Kuesioner

- Hasil Ukur :

1. Pengetahuan kurang Apabila skor tingkat pengetahuan responden <

55% atau < 10 pernyataan yang benar.

2. Pengetahuan cukup Apabila skor tingkat pengetahuan responden

antara 56-74% atau 11 -14 pernyataan yang benar.

3. Pengetahuan baik Apabila skor tingkat pengetahuan responden ≥

75% atau ≥ 15 pernyataan yang benar.

- Skala : Ordinal

50
b) Sikap

- Definisi Operasional : Adalah penilaian, persepsi responden terhadap

upaya pencegahan penyakit TBC yang dilakukan pada kehidupan

sehari-hari.

- Alat Ukur : Kuesioner

- Hasil Ukur :

1. Positif (mendukung upaya pencegahan penyakit TBC) jika nilai

≥ nilai mean (77,8)

2. Negatif (menolak upaya pencegahan penyakit TBC) jika nilai <

nilai mean (77,8)

- Skala : Ordinal

Pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah kuesioner atau angket

yang disesuaikan dengan tujuan penelitian dan mengacu kepada konsep dan

teori yang telah dibuat. Pertanyaan terdiri dari empat bagian yaitu, bagian A

berisi tentang data demografi yang meliputi nama, usia, jenis kelamin, status

pendidikan dan status pekerjaan. Bagian B berkaitan dengan tingkat

pengetahuan dalam bentuk pernyataan tertutup tentang penyakit tuberkulosis

dan pencegahannya sebanyak 20 item. Pernyataan negatif berjumlah 7 point,

yaitu pada point B1, B3, B5, B8, B10, B14, B17 dan pernyataan positif

berjumlah 15 point, yang terdiri dari point B2, B4, B6, B7, B9, B11, B12,

B13, B15, B16, B18, B19 dan B20.

51
Bagian C berisi 24 pernyataan tentang sikap tentang upaya pencegahan

penyakit tuberkulosis dalam bentuk pernyataan tertutup. Pernyataan positif

berjumlah 11 point, yang terdiri dari point C1, C3, C5, C6, C10, C16, C17,

C18, C19, C20, C22 dan pernyataan negatif berjumlah 13 point, yang terdiri

dari point C2, C4, C7, C8, C9, C11, C12, C13, C14, C15, C21, C23 dan C24.

Skala pengukuran pengetahuan tentang pencegahan penyakit tuberkulosis

menggunakan skala Guttman, skala yang bersifat tegas dan konsisten dengan

memberikan jawaban yang tegas seperti jawaban dari pernyataan: benar dan

salah atau ya dan tidak. Skala Guttman dapat dibuat dalam bentuk pilihan

ganda atau dalam bentuk check list. Skor penilaiannya jika jawaban

pernyataan benar maka nilainya 1, sedangkan jika jawaban pernyataan salah

maka nilainya 0 (Hidayat, 2007).

Skala pengukuran sikap tentang upaya pencegahan penyakit tuberkulosis

menggunakan skala Likert. Dalam penilaian atau skor berdasarkan skala

Likert berbeda antara pernyataan positif dengan pernyataan negatif. Penilaian

untuk pernyataan positif sikap responden tentang upaya pencegahan penyakit

tuberkulosis yaitu:

Sangat setuju : 4

Setuju : 3

Tidak setuju : 2

Sangat tidak setuju : 1

52
Sedangkan penilaian pernyataan negatif sikap responden tentang upaya

pencegahan penyakit tuberkulosis juga menggunakan skala Likert, yaitu:

Sangat tidak setuju : 4

Tidak setuju : 3

Setuju : 2

Sangat setuju : 1

2. Variabel Terikat

Upaya Pencegahan TB paru

- Definisi Operasional : Merupakan tindakan yang pernah dilakukan

responden dalam mencegah penyakit tuberkulosis paru.

- Alat Ukur : Kuseioner

- Hasil Ukur :

1. Kurang Apabila skor responden < 55%

2. Cukup Apabila skor responden antara 56-74%

3. Baik Apabila skor responden ≥ 75%

- Skala : Ordinal

Bagian D berisi 18 pertanyaan tentang upaya pencegahan penyakit

tuberkulosis yang telah dilakukan oleh warga dalam bentuk pertanyaan

tertutup. Pertanyaan positif berjumlah 9 point, yang terdiri dari point D1, D3,

D6, D7, D8, D9, D11, D13, D14 dan pertanyaan negatif berjumlah 9 point,

yang terdiri dari point D2, D4, D5, D10, D12, D15, D16, D17 dan D18.

53
Skala pengukuran upaya pencegahan penyakit tuberkulosis juga

menggunakan skala Likert. Skala Likert dapat dibuat dalam bentuk check list.

Penilaian untuk pertanyaan positif tentang upaya pencegahan penyakit

tuberkulosis yang telah dilakukan oleh responden yaitu:

Selalu : 5

Sering : 4

Kadang-kadang : 3

Jarang : 2

Tidak pernah : 1

Sedangkan penilaian pertanyaan negatif tentang upaya pencegahan

penyakit tuberkulosis yang telah dilakukan oleh responden juga

menggunakan skala Likert, yaitu:

Tidak pernah : 5

Jarang : 4

Kadang-kadang : 3

Sering : 2

Selalu : 1

F. Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses

pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam penelitian (Nursalam,

2008). Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti dan dibantu oleh staf

54
puskesmas Lawanga dan Bidan Desa setempat. Pengumpulan data dilakukan di

Posyandu Tegal Rejo dengan prosedur sebagai berikut:

1. Peneliti mengidentifikasi responden yang memenuhi kriteria inklusi

penelitian.

2. Meminta calon yang terpilih agar bersedia menjadi responden setelah

mengadakan pendekatan dan memberikan penjelasan tentang tujuan,

manfaat, dan prosedur penelitian serta hak dan kewajiban selama menjadi

responden. Responden yang bersedia selanjutnya diminta menanda-

tangani lembar informed concent.

3. Memberikan kesempatan kepada responden untuk bertanya bila ada yang

belum jelas.

4. Setelah itu pertanyaan dalam kuesioner dijawab, maka peneliti

mengumpulkan data dan mengucapkan terima kasih kepada responden.

G. Pengolahan Data

Pada pengolahan data, penulis menggunakan alat perangkat lunak. Setiadi (2007)

membagi 5 tahapan pengolahan data yaitu:

1. Editing

Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang

diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan sendiri oleh peneliti di

tempat penelitian agar apabila jika ada kekurangan data dapat segera

dilengkapi.

55
2. Coding

Coding merupakan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang

terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila

pengolahan dan analisis data menggunakan komputer.

3. Scoring (Penetapan skor)

Setelah data terkumpul dan kelengkapannya diperiksa kemudian dilakukan

tabulasi dan diberi skor sesuai dengan kategori dari data serta jumlah item

pertanyaan dari setiap variabel.

4. Entry Data

Entry data adalah kegiatan memasukan data dari kuisioner kedalam paket

program komputer agar dapat dianalisis, kemudian membuat distribusi

frekuensi sederhana atau bisa juga dengan membuat tabel kontingensi.

5. Cleaning Data

Pembersihan data merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah

dimasukkan ke dalam komputer untuk memastikan data telah bersih dari

kesalahan sehingga data siap dianalisa.

H. Teknik Analisis Data

Analisis data dibantu menggunakan perangkat lunak dengan analisa yang

digunakan adalah:

1. Analisis Univariat

Menurut Setiadi (2007), analisis univariat merupakan analisis tiap variabel

yang dinyatakan dengan menggambarkan dan meringkas data dengan cara

56
ilmiah dalam bentuk tabel atau grafik. Variabel dalam penelitian ini meliputi

variabel independen yaitu pengetahuan dan sikap. Dan variabel dependennya

adalah upaya pencegahan penyakit tuberkulosis.

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel

independen dengan dependen, yaitu hubungan tingkat pengetahuan dan sikap

masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis di Kecamatan

Lawanga. Analisis yang paling tepat untuk penelitian ini yaitu menggunakan

uji Spearman Rank (Rho). Uji ini merupakan ukuran asosiasi yang menuntut

kedua variabel diukur sekurang-kurangnya pada skala ordinal sehingga objek

atau responden dapat di ranking dalam dua rangkaian yang berurutan

(Dahlan, 2012). Sehingga dari hasil uji ini dapat terlihat pola hubungan antara

tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan

penyakit tuberkulosis di Posyandu tegal Rejo. Kekuatan hubungan dari kedua

variabel tersebut ditentukan dengan mengetahui nilai dari kekuatan

korelasinya (nilai r) menurut Dahlan (2010), sebagai berikut:

No. Parameter Nilai Interptretasi

1 0,00-0,199 Sangat lemah

2 0,20-0,399 Lemah
Kekuatan korelasi (r)
3 0,40-0,599 Sedang

4 0,60-0,799 Kuat

57
5 0,80-1,000 Sangat kuat

Untuk melihat kemaknaan perhitungan sistem dengan membandingkan nilai

p < α (0,05) maka ada hubungan yang bermakna antara variabel dependent

dengan variabel independent. Sebaliknya jika p > α (0,05) maka tidak ada

hubungan yang bermakna antara variabel dependent dengan variabel

independent.

I. Etika Penelitian

Hidayat (2007) menjelaskan bahwa dalam melakukan penelitian menekankan

masalah etika penelitian yang meliputi:

1. Lembar persetujuan (Informed Consent)

Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan

responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed

consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan

lembar persetujuan untuk menjadi responden. Pemberian informed concent

bertujuan agar subjek mengerti maksud, tujuan penelitian, dan mengetahui

dampaknya. Jika subjek bersedia, maka mereka harus menandatangani

lembar persetujuan. Jika responden tidak menerima, maka peneliti harus

menghormati hak subjek.

58
2. Tanpa Nama (Anonimity)

Peneliti memberikan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian

dengan cara mencantumkan nama responden pada hasil data, hanya

menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian.

3. Kerahasiaan (Confidentially)

Etika penelitian bertujuan untuk menjamin kerahasiaan identitas responden,

melindungi dan menghormati hak responden dengan mengajukan surat

pernyataan persetujuan (informed consent). Sebelum menandatangani surat

persetujuan, peneliti menjelaskan judul penelitian, tujuan penelitian, manfaat

penelitian dan menjelaskan kepada responden bahwa penelitian tidak akan

membahayakan bagi responden. Peneliti akan menjamin kerahasiaan identitas

responden, dimana data-data yang diperoleh hanya akan digunakan untuk

kepentingan penelitian dan apabila telah selesai maka data tersebut akan

dimusnahkan.

59
BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah warga yang berusia ≥ 17 tahun yang

tinggal di Kecamatan Lawanga. Total responden berjumlah 56 orang. Berikut

adalah kategori responden penelitian, antara lain:

1. Karakteristik Usia

Mean Median Modus Min-Mak

Umur 35 34 38 30-65

Berdasarkan tabel diperoleh hasil analisis didapatkan rata-rata umur

responden adalah 35 tahun, median 34 tahun dengan modus 38 tahun. Umur

termuda 30 tahun dan umur tertua 65 tahun.

2. Karakteristik Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Jumlah Presentase (%)

Laki-laki 16 28

Perempuan 40 72

Total 56 100

Tabel diatas menunjukkan karakteristik responden berdasarkan jenis

kelamin. Dapat diketahui responden laki-laki sebanyak 16 orang (28%) dan

perempuan sebanyak 40 orang (72%).

60
3. Karakteristik Pendidikan

Pendidikan Terakhir Jumlah Presentase (%)

Dasar 15 27

Menengah 35 63

Tinggi 6 10

Total 56 100

Tabel diatas menunjukkan karakteristik responden berdasarkan tingkat

pendidikan. Hal ini menunjukkan dari 56 responden, semuanya menempuh

pendidikan, berpendidikan dasar sebanyak 15 orang (27%), berpendidikan

SMA sebanyak 35 responden (63%) dan berpendidikan tinggi sebanyak 6

responden (10%).

B. Analisis Univariat

Analisis univariat adalah cara analisis dengan mendeskripsikan atau

menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa membuat

kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Pada umumnya analisis

ini hanya menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel.

1. Gambaran pengetahuan masyarakat terhadap upaya pencegahan

penyakit tuberculosis

Pengetahuan Jumlah Persentase (%)

Baik 12 21,4

Cukup 20 35,7

61
Kurang 24 42,9

Total 56 100

Tabel diatas diperoleh hasil pengetahuan terhadap upaya pencegahan

penyakit tuberkulosis pada masyarakat. Dapat diketahui dari 56 responden

yang memiliki pengetahuan yang baik mengenai upaya pencegahan penyakit

tuberkulosis sebanyak 12 orang (21,4%), pengetahuan yang cukup mengenai

upaya pencegahan penyakit tuberkulosis sebanyak 20 orang (35,7%) dan

pengetahuan yang kurang mengenai upaya pencegahan penyakit tuberkulosis

sebanyak 24 orang (42.9%).

2. Gambaran sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit


tuberkulosis

Sikap Jumlah Persentase (%)

Positif 24 42,9

Negatif 30 57,1

Total 56 100

Tabel diatas diperoleh hasil sikap masyarakat terhadap upaya

pencegahan penyakit tuberkulosis. Responden yang memiliki sikap positif

terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis sebanyak 24 orang (42,9%),

dan responden yang memiliki sikap negatif terhadap upaya pencegahan

penyakit tuberkulosis sebanyak 30 orang (57,1%).

62
3. Gambaran Upaya Pencegahan Penyakit Tuberkulosis

Upaya pencegahan Jumlah Persentase (%)

Baik 12 21,4

Cukup 18 32,1

Kurang 26 46,4

Total 56 100

Tabel hasil penelitian mengenai upaya pencegahan penyakit

tuberkulosis meliputi kategori baik sebanyak 12 orang (21,4%), kategori

cukup sebanyak 18 orang (32,1%), dan kategori kurang sebanyak 26 orang

(46,4%).

C. Analisis Bivariat
Berdasarkan kerangka konsep, analisis bivariat telah menguji hubungan

satu persatu antara variabel bebas dengan variabel terikat. Variabel bebas adalah

tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit

tuberkulosis. Uji bivariat ini menggunakan uji Correlation Spearman dengan

menggunakan α = 5%.

1. Hubungan pengetahuan masyarakat terhadap upaya pencegahan

penyakit tuberculosis

Upaya Pencegahan

P
Pengetahuan Baik Cukup Kurang Total
value

63
N % N % N % N %

Baik 10 17,85 2 3,7 0 0 12 21,42

Cukup 2 3,7 8 14,28 8 14,28 18 32,15 0,00

Kurang 0 0 10 17,8 16 28,57 26 46,43

Total 12 21,55 20 35,78 24 42,85 56 100

Tabel di atas menunjukkan bahwa responden yang memiliki

pengetahuan yang baik sebanyak 12 orang (21.42%) terdapat 10 orang

(17,85%) memiliki upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang baik dan 2

orang (3,7%) memiliki upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang cukup.

Responden yang memiliki pengetahuan yang cukup sebanyak 18 orang

(32,14%) terdapat 2 orang (3,7%) memiliki upaya pencegahan penyakit

tuberkulosis yang baik, 8 orang (14,28%) memiliki upaya pencegahan

penyakit tuberkulosis yang cukup, dan 8 orang (14,28%) memiliki upaya

pencegahan yang kurang. Responden yang memiliki pengetahuan kurang

sebanyak 26 orang (46,42%), tidak terdapat responden yang memiliki upaya

pencegahan baik, terdapat 10 orang (17,8%) memiliki upaya pencegahan

penyakit tuberkulosis yang cukup, dan 16 (28,57%) orang responden yang

memiliki upaya pencegahan kurang. Hasil uji Correlation Spearman

diperoleh nilai p value=0,000, dimana nilai p<0,05 yang berarti terdapat

hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan upaya pencegahan

penyakit tuberkulosis.

64
2. Hubungan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit

tuberculosis

Upaya Pencegahan

P
Baik Cukup Kurang Total
Sikap value

N % N % N % N %

Positif 12 21,42 8 14,28 4 7,14 24 42,85


0,00
Negatif 0 0 10 17,85 22 39,28 32 57,15

Total 12 21,42 20 32,13 26 46,42 56 100

Tabel di atas menunjukkan bahwa responden yang memiliki sikap

positif terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis sebanyak 24 orang

(42,85%) terdapat 12 orang (21,42%) memiliki upaya pencegahan yang baik,

8 orang (14,28%) memiliki upaya pencegahan yang cukup, dan 8 orang

(14,28%) memiliki upaya pencegahan yang kurang. Responden yang

memiliki sikap negatif terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis

sebanyak 32 orang (57,15%), tidak terdapat responden yang memiliki upaya

pencegahan baik, terdapat 10 orang (17,85%) memiliki upaya pencegahan

yang cukup dan 22 orang (39,28%) memiliki upaya pencegahan yang kurang.

Hasil uji Correlation Spearman diperoleh nilai p value=0,000, dimana nilai

p<0,05 yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara sikap dengan

upaya pencegahan penyakit tuberkulosis.

65
BAB V

PEMBAHASAN

A. Analisis Univariat

1. Gambaran Pengetahuan tentang Penyakit Tuberkulosis dan Upaya

Pencegahan Penyakit Tuberkulosis

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah

seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam menimbulkan rasa

percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap hari, sehingga dapat

dikatakan bahwa pengetahuan merupakan domain yang sangat penting

untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2007). Pengetahuan

dalam penelitian ini adalah responden mampu mengetahui tentang

penyakit tuberkulosis dan upaya pencegahan penyakit tuberkulosis.

Notoatmodjo (2007) menjelaskan bahwa sumber informasi yang

diperoleh dari berbagai sumber maka seseorang cenderung mempunyai

pengetahuan yang luas. Pengetahuan tentang penyakit tuberkulosis dan

upaya pencegahannya yang didapatkan oleh responden berasal dari

berbagai sumber, seperti buku, media massa, penyuluhan atau pendidikan

dan melalui kerabat. Adanya informasi baru mengenai suatu hal dari

66
media massa memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya

pengetahuan terhadap hal tersebut.

Hasil penelitian pada 56 responden menunjukkan bahwa tingkat

pengetahuan responden tentang penyakit tuberkulosis dan upaya

pencegahan penyakit tuberkulosis yang baik sebesar 21,4%, pengetahuan

yang cukup sebesar 35,7% dan pengetahuan yang kurang sebesar 42,9%.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden

memiliki pengetahuan yang kurang terhadap penyakit tuberkulosis dan

upaya pencegahan penyakit tuberkulosis. Pengetahuan yang kurang

tersebut didapatkan karena masyarakat di Posyandu Tegal Rejo kurang

mencari informasi mengenai TB Paru dan upaya pencegahannya. Sumber

informasi bisa didapatkan melalui media seperti buku, media massa, dan

penyuluhan dari Puskesmas serta dari kerabat terdekat yang

memberitahukan tentang pentakit TBC dan upaya pencegahannya.

Pengetahuan yang baik dalam penelitian ini adalah wawasan atau

pemahaman yang dimiliki responden tentang penyakit TBC dan upaya

pencegahannya yang mencakup pengertian, penyebab, penularan, tanda

dan gejala, komplikasi, faktor risiko dan tindakan pencegahan penyakit

TBC. Sedangkan pengetahuan yang cukup dalam penelitian ini dapat

diartikan bahwa responden memiliki pemahaman yang cukup tentang

penyakit TBC dan upaya pencegahannya seperti pengertian, tanda gejala,

penularan dan beberapa upaya pencegahan. Pengetahuan yang kurang

67
dalam penelitian ini adalah responden memiliki pemahaman yang kurang

tentang penyakit TBC dan upaya pencegahannya seperti tentang

pengertian, komplikasi, faktor risiko dan beberapa upaya pencegahan. Hal

ini dikarenakan responden kurang mendapatkan informasi tentang

penyakit tuberkulosis dari media massa maupun dari Puskesmas atau

Posyandu karena responden jarang mengikuti kegiatan pendidikan

kesehatan di Puskesmas atau Posyandu.

Pengetahuan yang baik mengenai upaya pencegahan penyakit

tuberkulosis akan sangat mempengaruhi perilaku masyarakat dalam

melakukan upaya pencegahan penyakit tuberkulosis. Masyarakat dengan

pengetahuan yang baik diharapkan dapat melakukan upaya pencegahan

penyakit tuberkulosis yang tepat. Kesadaran akan tumbuh pada

masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan penyakit tuberkulosis jika

warga mempunyai pengetahuan yang baik.

Penelitian ini sejalan dengan Putra (2011), tingkat pengetahuan

responden tentang penyakit TBC dan perilaku pencegahannya di kota

Solok didapatkan presentase sebesar 63,6% yang berpengetahuan rendah.

Rendahnya tingkat pengetahuan dalam penelitian Putra dapat disebabkan

oleh kurangnya pemahaman responden terhadap penyakit TBC dan upaya

pencegahannya. Sampel yang diambil oleh Putra adalah penderita TB paru

yang tercatat oleh Dinkes Kota Solok.

68
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Wahyuni (2008),

tingkat pengetahuan responden tentang penyakit tuberkulosis dan perilaku

pencegahan penularan penyakit tuberkulosis di desa Sidorejo didapatkan

nilai presentase sebesar 42,5% yang berpengetahuan baik. Pada penelitian

ini juga melaporkan bahwa pengetahuan baik yang didapatkan

dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti media massa, pengalaman, usia

dan lingkungan.

Notoatmodjo (2007) mengungkapkan bahwa semakin tinggi tingkat

pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi

seseorang untuk lebih mudah menerima pengetahuan baru dan semakin

tinggi pendidikan seseorang akan semakin baik pengetahuannya. Hal ini

sesuai dengan hasil penelitian yang didapatkan oleh peneliti, mayoritas

responden memiliki pengetahuan yang kurang (42,9%) terhadap penyakit

tuberkulosis dan upaya pencegahan penyakit tuberkulosis dengan

mayoritas karakteristik pendidikan responden adalah pendidikan

menengah (62,5%).

2. Gambaran Sikap Masyarakat tentang Upaya Pencegahan Penyakit

Tuberkulosis

Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di

lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek

(Notoatmodjo, 2007). Proses pembentukan sikap dapat terjadi karena

adanya rangsangan, seperti pengetahuan masyarakat tentang pencegahan

69
penyakit TBC. Rangsangan tersebut menstimulus diri masyarakat untuk

memberi respon, dapat berupa sikap positif atau negatif, akhirnya akan

diwujudkan dalam perilaku atau tidak. Berkowitz (1972) dalam Azwar

(2013) berpendapat bahwa setiap orang yang mempunyai perasaan positif

terhadap suatu objek psikologis dikatakan menyukai objek tersebut atau

mempunyai sikap favorable terhadap objek itu, sedangkan individu yang

mempunyai perasaan negatif terhadap suatu objek psikologis dikatakan

mempunyai sikap yang unfavorable terhadap objek sikap tersebut. Sikap

responden dalam penelitian ini adalah bagaimana responden bersikap

terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis, baik mendukung atau

menolak.

Hasil penelitian pada 56 responden ini menunjukkan bahwa

responden yang memiliki sikap positif terhadap upaya pencegahan

penyakit tuberkulosis sebanyak 42,9% dan sikap negatif sebanyak 57,1%.

Sikap positif terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis cenderung

menerima dan mengetahui tentang hal tersebut, sedangkan sikap negatif

cenderung menolak terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis.

Sikap merupakan kemampuan internal yang berperan dalam mengambil

tindakan, terlebih bila sikap tersebut bersifat terbuka, besar kemungkinan

dapat tercermin dari tindakan yang diperlihatkan.

Azwar (2013) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap

yaitu pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting,

70
pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga

agama dan pengaruh faktor emosional. Hal ini sesuai dengan penelitian

dimana sikap masyarakat Kecamatan Lawanga dipengaruhi oleh beberapa

faktor, seperti pengalaman pribadi, pengaruh orang lain, kebudayaan yang

dimiliki masyarakat dan pendidikan masyarakat, dimana sebagian

pendidikan responden dalam penilitian adalah pendidikan menengah

sehingga memiliki pemahaman yang kurang tentang upaya pencegahan

penyakit TBC yang dapat mempengaruhi responden dalam bersikap.

Sikap positif dalam penelitian ini terdiri dari responden mendukung

dengan upaya pencegahan penyakit tuberkulosis, cara penularan, dan

faktor risiko yang menyebabkan penyakit tuberkulosis terjadi. Sikap

negatif dalam penelitian ini terdiri dari beberapa responden kurang

mendukung dengan beberapa upaya pencegahan dan faktor risiko yang

dapat menyebabkan penyakit tuberkulosis. Hal ini disebabkan responden

kurang informasi tentang penyakit tuberkulosis, memiliki pengalaman

yang kurang tentang upaya pencegahannya dan dapat juga disebabkan

oleh pengaruh orang lain atau kebudayaan dalam pengambilan sikap dari

responden.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Fibriana (2011),

responden yang memiliki sikap negatif tentang pencegahan penyakit

menular tuberkulosis sebanyak 54,5%. Hal ini disebabkan oleh beberapa

faktor yaitu pengalaman pribadi, faktor emosional, faktor dukungan

71
keluarga, dan usia, dimana sebagian usia responden dalam penelitian

berusia <36 tahun yang mempunyai emosi yang terkadangkadang (malas)

untuk pergi berobat. Sampel yang diambil oleh Fibriana adalah keluarga

penderita tuberkulosis yang ada di Puskesmas Wringinanom Gresik.

Sikap masyarakat Kecamatan Lawanga sebagian besar memiliki

sikap negatif terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang

artinya sebagian besar masyarakat Kecamatan Lawanga tidak mendukung

atau menerima tentang upaya untuk mencegahan penyakit TBC.

Salah satu faktor yang mempengaruhi sikap seseorang adalah

pengetahuan yang dimilikinya. Semakin tinggi pengetahuan yang dimiliki

akan memberikan kontribusi terhadap terbentuknya sikap yang baik.

Pembentukan sikap tidak dapat dilepaskan dari adanya faktor-faktor yang

mempengaruhi seperti pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang

dianggap penting, media massa, serta faktor emosional dari individu

(Azwar, 2013).

3. Gambaran Upaya Pencegahan Penyakit Tuberkulosis

Pencegahan penyakit merupakan komponen penting dalam

pelayanan kesehatan. Perawatan pencegahan melibatkan aktivitas

peningkatan kesehatan termasuk program pendidikan kesehatan khusus,

yang dibuat untuk membantu klien menurunkan risiko sakit,

mempertahankan fungsi yang maksimal, dan meningkatkan kebiasaan

yang berhubungan dengan kesehatan yang baik (Perry & Potter, 2005).

72
Upaya pencegahan penyakit tuberkulosis dilakukan untuk menurunkan

angka kematian yang disebabkan oleh penyakit tuberkulosis. Upaya

pencegahan penyakit tuberkulosis dalam penelitian ini adalah tindakan

yang pernah dilakukan oleh responden dalam mencegah penyakit

tuberkulosis.

Hasil penelitian pada 56 responden ini menunjukkan bahwa

responden yang memiliki upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang

baik sebanyak 21,4%, yang memiliki upaya pencegahan penyakit

tuberkulosis yang cukup sebanyak 32,1%, dan yang memiliki upaya

pencegahan penyakit tuberkulosis yang kurang sebanyak 46,4%. Hal ini

disebabkan oleh faktor pengetahuan dan sikap yang dimiliki oleh

responden. Hasil penelitian tentang pengetahuan didapatkan sebagian

besar responden memiliki pengetahuan yang kurang, hal ini sejalan

dengan hasil penelitian tentang sikap dimana didapatkan sebagian besar

responden memiliki sikap negatif terhadap upaya pencegahan penyakit

TBC sehingga upaya pencegahan yang dilakukan responden masih

kurang. Upaya pencegahan yang dilakukan masyarakat untuk mencegah

penyakit tuberculosis masih kurang seperti menggunakan masker pada

saat berbicara dengan penderita TBC, mengkonsumsi makanan yang

bergizi, menjaga kebersihan lingkungan, menyediakan ventilasi dan sinar

matahari yang cukup dan tidak membuang dahak disembarang tempat.

73
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Djannah (2009),

54,1% respondennya memiliki motivasi yang tinggi untuk melakukan

upaya pencegahan penyakit tuberkulosis. Hasil penelitian ini sejalan

dengan Putra (2011), didapatkan hasil tingkat tindakan pencegahan TB

paru oleh penderita TB di kota Solok secara umum terhadap TB paru

tergolong kurang dengan nilai sebesar 81,8%.

B. Analisis Bivariat

1. Hubungan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap upaya

pencegahan penyakit tuberkulosis

Berdasarkan hasil pengolahan data yang menggunakan perhitungan

korelasi Spearman Rank dengan bantuan program komputer menghasilkan

nilai probabilitas sebesar 0,000 lebih kecil dari nilai α=0,05 maka dapat

disimpulkan H1 ditolak yang berarti ada hubungan yang signifikan antara

pengetahuan terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis. Artinya,

semakin baik tingkat pengetahuan, maka semakin baik upaya pencegahan

penyakit tuberkulosis yang dilakukannya.

Hasil penelitian yang didapatkan dari 56 orang dengan pengetahuan

yang baik sebanyak 12 orang (21.42%) terdapat 10 orang (17,85%)

memiliki upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang baik dan 2 orang

(3,7%) memiliki upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang cukup.

Responden yang memiliki pengetahuan yang cukup sebanyak 18 orang

(32,14%) terdapat 2 orang (3,7%) memiliki upaya pencegahan penyakit

74
tuberkulosis yang baik, 8 orang (14,28%) memiliki upaya pencegahan

penyakit tuberkulosis yang cukup, dan 8 orang (14,28%) memiliki upaya

pencegahan yang kurang. Responden yang memiliki pengetahuan kurang

sebanyak 26 orang (46,42%), tidak terdapat responden yang memiliki

upaya pencegahan baik, terdapat 10 orang (17,8%) memiliki upaya

pencegahan penyakit tuberkulosis yang cukup, dan 16 (28,57%) orang

responden yang memiliki upaya pencegahan kurang.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Wahyuni (2008) yang

menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara

pengetahuan dengan perilaku pencegahan penularan penyakit tuberkulosis

di wilayah kerja Puskesmas Bendosari. Semakin baik tingkat pengetahuan

maka semakin tinggi juga tindakan pencegahan penularan penyakit

tuberkulosis yang dilakukan.

Djannah (2009) dalam penelitiannya mengungkapkan pendapat

yang berbeda dengan hasil penelitian ini yaitu bahwa tidak terdapat

hubungan yang bermakna antara pengetahuan mahasiswa tentang penyakit

tuberkulosis dengan perilaku pencegahan penularan penyakit tuberkulosis.

Nilai probabilitas yang didapatkan bersifat tidak signifikan yaitu

0,904>0,05.

Berdasarkan hasil analisa mengenai hubungan tingkat pengetahuan

terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis pada masyarakat

kelurahan Lawanga dapat disimpulkan sesuai dengan teori dan penelitian

75
terkait bahwa responden dengan tingkat pengetahuan yang baik memiliki

tindakan pencegahan penyakit tuberkulosis lebih baik dibandingkan

dengan responden dengan tingkat pengetahuan yang kurang dan cukup.

Hal ini dapat diartikan bahwa pengetahuan merupakan domain yang

sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang karena dengan

pengetahuan yang baik dapat menciptakan perilaku yang baik

(Notoatmodjo,2007).

2. Hubungan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan penyakit

tuberkulosis

Hasil pengolahan data yang menggunakan perhitungan korelasi

Sperman Rank menghasilkan nilai probabilitas sebesar 0,000 lebih kecil

dari nilai α=0,05 maka dapat disimpulkan H1 ditolak yang berarti ada

hubungan yang signifikan antara sikap masyarakat terhadap upaya

pencegahan penyakit tuberkulosis.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memiliki

sikap positif terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis sebanyak

24 orang (42,85%) terdapat 12 orang (21,42%) memiliki upaya

pencegahan yang baik, 8 orang (14,28%) memiliki upaya pencegahan

yang cukup, dan 4 orang (7,14%) memiliki upaya pencegahan yang

kurang. Responden yang memiliki sikap negatif terhadap upaya

pencegahan penyakit tuberkulosis sebanyak 32 orang (57,15%), tidak

terdapat responden yang memiliki upaya pencegahan baik, terdapat 10

76
orang (17,85%) memiliki upaya pencegahan yang cukup dan 22 orang

(39,28%) memiliki upaya pencegahan yang kurang.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Wahyuni (2008) yang

menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara sikap

responden dengan perilaku pencegahan penularan penyakit tuberkulosis di

wilayah kerja Puskesmas Bendosari. Nilai probabilitas yang didapatkan

bersifat signifikan yaitu 0,000<0,05.

Benyamin Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2007) yang

menyatakan bahwa domain dari perilaku adalah pengetahuan, sikap dan

tindakan. Roger (1974) dalam Notoatmodjo (2007) memiliki pendapat

yang sama yaitu sikap dan praktek yang tidak didasari oleh pengetahuan

yang adekuat tidak akan bertahan lama pada kehidupan seseorang,

sedangkan pengetahuan yang adekuat jika tidak diimbangi oleh sikap dan

praktek yang berkesinambungan tidak akan mempunyai makna yang

berarti bagi kehidupan.

Berdasarkan hasil analisa mengenai hubungan sikap masyarakat

terhadap upaya pencegahan penyakit tuberkulosis pada masyarakat

Kecamatan Lawanga dapat disimpulkan sesuai dengan teori dan penelitian

terkait bahwa responden dengan tingkat pengetahuan yang baik dan sikap

yang positif memiliki tindakan pencegahan penyakit tuberkulosis yang

baik. Hal ini dapat diartikan bahwa pengetahuan dan sikap merupakan

penunjang dalam melakukan perilaku sehat (Notoatmodjo,2007).

77
BAB VI

PENUTUP

1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan mengenai

hubungan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan

penyakit tuberkulosis masyarakat di Posyandu Tegal Rejo bulan September tahun

2019, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Pada masyarakat di Posyandu Tegal Rejo bulan September tahun 2019

sebagian besar memiliki pengetahuan yang kurang tentang upaya pencegahan

penyakit tuberkulosis sebesar 42,9%.

2. Pada masyarakat di Posyandu Tegal Rejo bulan September tahun 2019

sebagian besar memiliki sikap negatif terhadap upaya pencegahan penyakit

tuberkulosis sebesar 57,1 %.

3. Pada masyarakat di Posyandu Tegal Rejo bulan September tahun 2019

sebagian besar memiliki upaya pencegahan penyakit tuberkulosis yang

kurang sebesar 46,4%.

4. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan masyarakat dengan

upaya pencegahan penyakit tuberkulosis di Di Posyandu Tegal Rejo bulan

September tahun 2019 dengan nilai p sebesar 0,000.

5. Terdapat hubungan yang bermakna antara sikap masyarakat dengan upaya

pencegahan penyakit tuberkulosis di Di Posyandu Tegal Rejo bulan

September tahun 2019 dengan nilai p sebesar 0,000.

78
2. Saran

Bagi Pelayanan Puskesmas Lawanga dan Posyandu Tegal Rejo

a. Promosi kesehatan tentang penyakit TBC dan pencegahan penyakit TBC

agar ditingkatkan kembali, supaya dapat menumbuhkan kesadaran kepada

masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan penyakit TBC.

b. Petugas kesehatan tetap memberikan dorongan/motivasi kepada masyarakat

untuk melakukan pengobatan secara teratur bagi penderita TBC.

79
DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. Sikap Manusia (Teori dan Pengukurannya). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

2013

Bramantyo, A. Hubungan Status Gizi Anak, Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan

Ibu Terhadap Gizi dengan Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Pada

Anak di Puskesmas Pisangan. Jakarta: Skripsi FK UPN Veteran. 2010

Budiman, A.R. Pengetahuan dan Sikap dalam Penelitian Kesehatan. Jakarta:

Salemba Medika. 2013

Djannah, S.N. Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Dengan Perilaku

Pencegahan Penularan TBC Pada Mahasiswa di Asrama Manokwari

SlemanYogyakarta.

Depkes, 2012, Strategi Nasional Pengendalian TB di Indonesia 2010-2014: Jakarta.

Depkes, 2011, TBC Masalah Kesehatan Dunia: Jakarta.

Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah, 2017, Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah

Tahun 2017, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Poso.

Djojodibroto, R.D, 2007, Respirologi (Respiratory Medicine), EGC, Jakarta.

Eirlen, T.H, 2008, Penyakit Saluran Pernapasan, PT Sunda Kelapa Pustaka, Jakarta.

80
Fibriana, L.P. Hubungan Antara Sikap Dengan Perilaku Keluarga Tentang

Pencegahan Penyakit Menular Tuberkulosis.

Francis, C. Perawatan Respirasi. Jakarta: Erlangga. 2011

Joardo, L., Vieira, O.V, Tuberkulosis New Aspect of An Old Disease, International

Journal of Cell Biology Volume 2011.

Kemenkes RI, 2011, Pedoman Nasional Penanggulangan TBC 2011, Kemenkes RI

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan,

Jakarta.

Kurniasari, N. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Penderita TBC Dengan

Keteraturan Dalam Pengobatan TBC Di UPTD Puskesmas Cibogo

Kabupaten Subang Tahun 2008.

Kusrini. Sistem Pakar, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: ANDI. 2009

Manurung, dkk, 2009, Gangguan Sistem Pernapasan Akibat Infeksi, TIM, Jakarta.

Naga, S.S. Buku Panduan Lengkap Ilmu Penyakit Dalam. Jogjakarta: DIVA Press.

2012

Niko, R.P., 2011, Hubungan Perilaku Dan Kondisi Sanitasi Rumah Dengan Kejadian

TB Paru Di Kota Solok Tahun 2011, Program Studi Ilmu Kesehatan

Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang. <http://

81
repository.unand.ac.id/16894/1/SKRIPSI_LENGKAP_NIKO.pdf>. Diakses 27

desember 2014.

Notoatmodjo, 2007, Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

2012

Perkumulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI). Buku Saku PPTI: Jakarta.

2010

Potter, P.A. & Perry, A.N. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,

Proses, dan Praktik Edisi 4. EGC. Jakarta

Puskesmas Lawanga, 2018, Laporan Kasus TB Paru Puskesmas Lawanga Thun 2019

Per Bulan September, Kelurahan Lawanga, Poso Kota.

Puskesmas Lawanga, 2017, Buku Penilaian Kinerja Puskesmas Lawanga kec. Poso

Kota Utara, Kelurahan Lawanga, Poso Kota

Putra, N.R. Hubungan Perilaku dan Kondisi Sanitasi Rumah Dengan Kejadian

TB Paru Di Wilayah Kota Solok.

Sudarso, R.R. Hubungan Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang

Tuberkulosis Dengan Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Paru Anak

Di Puskesmas Kelurahan Lagoa Jakarta Utara. Jakarta: Skripsi FK UPN

Veteran. 2010

82
Sudoyo, dkk, 2009, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 5, Interna Publishing,

Jakarta.

Suryo. J. Herbal Penyembuhan Gangguan Sistem Pernapasan. Yogyakarta: B First.

2010

Wahyuni. Determinan Perilaku Masyarakat Dalam Pencegahan, Penularan

Penyakit TBC di Wilayah Kerja Puskesmas Bendosari.

WHO, 2014, Global Tuberculosis Report 2014, World Health Organization

WHO/HTM/TB/2014.08, Geneva.

Wirasti, B. Hubungan Antara Karakteristik dan Pengetahuan Tentang

Tuberkulosis Paru Dengan Perilaku Penularan Tuberkulosis Paru Di

Puskesmas Sawangan Kota Depok. Jakarta : Skripsi FK UPN Veteran. 2010

Yulianti, P, 2010, Hubungan Merokok Dengan Angka Kejadian Tuberkulosis Paru di

RSUD Dr. Moewardi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

83
MINI PROJECT September, 2019

Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Masyarakat Terhadap Upaya


Pencegahan Penyakit TB Paru Di Posyandu Tegal Rejo Bulan September 2019

Disusun Oleh:

dr. Indra Tandi


dr. Ade Triansyah
dr. Chintya Fidelia M
dr. Dayanara Rebecca
dr. Dian Ricarianty

PEMBIMBING KLINIK
dr. Intan S. Tompo

DOKTER INTERNSIP KABUPATEN POSO


POSO KOTA
2019

84