Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HERPES

ZOSTER

A. DEFINISI
Herpes zoster (Shingles atau sinanaga) adalah suatu infeksi yang menyebabkan erupsi kulit
yang terasa sangat nyeri berupa lepuhan yang berisi cairan. Penyakit ini juga disebabkan virus
herpes yang juga mengakibatkan cacar air (virus varisela zoster). Seperti virus herpes yang lain,
viru varisela zoster mempunyai tahapan penularan awal (cacar air) yang diikuti oleh suatu
tahapan tidak aktif. Kemudian tanpa alasan virus ini jadi aktif kembali menjadi penyakit yang
disebut sebagai herpes zoster.
Herpes zoster hidup dalam jaringan syaraf. Kejangkitan herpes zoster dimulai dengan gatala,
mati rasa, kesemutan atau rasa nyeri yang parahpada daerah bentuk tali lebar di dada, punggung
hidung dan mata. Walaupun jarang, herpes zoster dapat menular pada syaraf wajah dan mata. Ini
menyebabkan jangkitan di sekitar mulut, wajah, leher dan kulit kepala, dalam dan sekitar telinga
atau pada ujung hidung.
Jangkitan herpes zoster hampir selalu terjadi hanya pada satu sisi tubuh. Setelah bebeapa
hari ruam muncul pada daerah kulit yang berhubungan dengan syaraf yang meradang. Lepuh
kecil terbentuk dan berisi cairan. Kemudian lepuh pecah dan berkeropang. Jika lepuh digaruk,
infeksi akan terjadi. Ini membutuhkan pengobatan dengan antibiotic dan mungkin menimbulkan
bekas.
Penelitian baru tehadap Odha menemukan bahwa angka herpes zoster tertinggi terjadi pada :
a. Laki-laki gay dan biseks
b. Orang di bawah usia 29 tahun
c. Orang dengan kadar CD4 di bawah 500
d. Orang kulit putih

Bila kekebalan tubuh menurun maka virus akan aktif kembali. Virus varisela zoster
berkembang biak, merusak, menyebabkan peradangan dan kemudian menyebar menuju kulit
serta menimbulkan gangguan kulit yang lebih parah. Sekalipun belum pernah mengalami cacar
air dapat saja terkena Herpes zoster. Hal ini disebabkan karena virus varisela zoster dapat
langsung menular. Caranya :
a. Kontak langsung dengan kulit penderita Herpes zoster
b. Melalui udara masuk mukosa saluran pernapasan bagian atas

B. ETIOLOGI
Penyebab herpes zoster adalah virus varicella-zoster, virus yang juga menyebabkan cacar air.
Infeksi awal oleh virus varicella-zoster (yang bisa berupa cacar air) berakhir dengan masuknya
virus ke dalam ganglia (badan syaraf) pada syaraf spinalis maupun syaraf kranialis dan virus
menetap di sna dalam keadaan tidak aktif. Herpes zoster selalu terbatas pada penyebaran akar
syaraf yang terlibat di kulit (dermatom).
Virus herpes zoster bisa tidak pernah menimbulkan gejala lagi atau bisa kembali aktif
beberapa tahun kemudian. Herpes zoster terjadi jika virus kembali aktif. Kadang pengaktifan
kembali virus ini terjadi jika terdapat gangguan pada system kekebalan akibat suatu penyakit
atau obat-obatan yang mempengaruhi system kekebalan. Yang sering terjadi adalah penyebab
dari pengaktifan kembali virus ini tidak diketahui.

C. MANIFESTASI KLINIS
3-4 hari sebelum timbulnya herpes zoster, penderita merasa tidak enak badan, menggigil,
demam, mual, diare atau sulit berkemih. Penderita lainnya hanya merasakan nyeri, kesemutan
atau gatal di kulit yang terkena.
Muncul sekumpulan lepuhan kecil berisi cairan dikelilingi oleh daerah kemerahan. Lepuhan
ini hanya terbatas pada daerah kulit yang dipersarafi oleh saraf yang terkena. Lepuhan paling
sering muncul di batang tubuh dan biasanya hanya mengenai satu sisi. Daerah yang terkena
biasanya peka terhadap berbagai rangsangan (termasuk sentuhan yang sangat ringan) dan bisa
terasa sangat nyeri.
Lepuhan mulai mongering dan membentuk keropeng pada hari kelima setelah muncul.
Lepuhan mengandung virus herpes zoster yang jika ditularkan bisa menyebabkan cacar air.
Lepuhan yang tua atau menetap lebih dari 2 minggu biasanya menunjukkan bahwa system
kekebalan penderita tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sebagian besar penderita mengalami
penyembuhan tanpa meninggalkan gejala sisa. Tetapi bisa terbentuk jaringan parut yang luas
meskipun tidak terjadi infeksi bakteri sekunder. Jika mengenai saraf wajah yang menuju ke mata
bisa menimbulkan masalh yang cukup serius.
Sebelum timbul gejala kulit, terdapat gejala awal berupa :
a. Demam
b. Pusing
c. Lemas
d. Nyeri otot-tulang
e. Gatal
f. Pegal
g. Kulit kebas
Gejala awal yang terlihat pada kulit adalah bercak kemerahan. Dalam 12-24 jam muncul
kelompok bintil-intil berair di atas kulit yang kemerahan tersebut dan akan tumbuh terus selama
7 hari. Kemudian berair tersebut berubah menjadi bintil bernanah dan selanjutnya mongering.
Selain kulit herpes zoster juga bisa menyerang selaput mukosa dalam bentuk sariewan dan luka
yang sangat parah.

Komplikasi Herpes Zoster:


1. Nyeri
- Nyeri adalah gejala yang dialami penderita herpes zoster di awal dan akhir penyakit.
- Nyeri akut dialami penderita sebelum keluar kelainan kulit dan pada saat kelainan
kulit muncul
- Nyeri setelah herpes Zoster (NPH) disebut nyeri persisten, adalah nyeri yang timbul
pada daerah bekas penyembuhan lebih dari sebulan setelah Herpes sembuh. Nyeri ini
sering dialami penderita herpes berumur lebih dari 50 tahun dan mengalami herpes
pada wajah.

2. Mata
Komplikasi mata bisa terjadi bila ada gangguan saraf cabang pertama Nervus
Trigemus. Masuknya virus menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada saraf
sehingga sering ditemukan gangguan mata berupa konjungtivitis, ptosis paralitik,
Keratitis epithelial, skleritis, iridosiklitis, uveitis dan glukoma.
3. Sindrom Ramsay Hunt
Akibat gangguan saraaf wajah dan saraf otikus, penderita herpes akan mengalami
lumpuh otot wajah (paralisis bell), telinga berdenging, sakit kepala seperti berputar,
gangguan pendengaran dan mual. Hal ini cenderung terjadi dalam 2 minggu sejak
kelainan kulit muncul, umumnya dapat sembuh spontan.
D. PENATALAKSANAAN
Perawatan setempat untuk herpes zoster sebaiknya termasuk membersihkan lukanya
dengan air garam dan menjaganya tetap kering. Gentian violet dapat dioleskan pada luka.
Penyakit ini juga diobati dengan asiklovir yang diminu 5x sehari atau jika penyakitnya parah
bisa diberikan lewat infus. Dua obat yang lebih baru yaitu famsiklovir dan valasiklovir
kelihatannya lebih efektif terhadap ras nyeri yang timbul akibat herpes zoster dan hanya
perlu diminum 3x sehari. Ada juga suatu pengobatan baru adalah tempelan obat bius yang
dapat ditempelkan langsung pada kulit. Dapat juga digunakan beberapa jenis obat penawar
nyeri. Herpes harus ditangani secara serius mengingat virus varisela zoster dapat bertahan
lama di dalam tubuh.
Metode pengobatan yang dapat dilakukan adalah :
- Pengobatan topical: Pengobatan topical dengan antivirus untuk penyakit herpes zoster
cenderung tidak efektif, sehingga tidak menyembuhkan. Pengobatan topical sangat
ditentukan oleh stadium penyakit yaitu stadium bintil berair yang bertujuan protektif
untuk mencegah bintil-bintil berair menjadi pecah dengan cara dibedaki. Bila telah
terjadi luka akan diberikan salep antibiotic untuk mencegah infeksi.
- Pengobatan sistemik: Pengobatan oral berupa antivirus, biasabya harus dikonsumsi 3x
sehari selama paling tidak 7 hari berturut-turut tanpa terhenti.
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HERPES ZOSTER

1. PENGKAJIAN
A. IDENTITAS KLIEN
Nama :
Tempat, tanggal lahir :
Umur :
Jenis Kelamain :
Alamat :
Agama :
Suku Bangsa :
Pendidikan :
No. CM :
B. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB
Nama :
Tempat tanggal Lahir :
Umur :
Jenis Kelamin :
Alamat :
Agama :
Suku Bangsa :
Pendidikan :
Hubungan Dengan Pasien :

2. RIWAYAT KESEHATAN
a. Keluhan utama
Penderita herpes mengeluh adanya rasa nyeri pada otot dan sendi
b. Riwayat kesehatan sekarang
- demam
- nyeri otot
- gatal
- tidak enak badan
- lemas
c. Riwayat kesehatan dahulu
Penderita herpes
d. Riwayat kesehatan keluarga
-
e. Riwayat kesehatan lingkungan
Keadaan tempat tinggal klien bersih, dan tidak menimbulkan tumbuhnya mikroorganisme atau
penyakit

C. POLA FUNGSI KESEHATAN (GORDON)


a. Persepsi terhadap kesehatan
Penderita herpes tidak begitu memperhatikan kesehatan tetapi klien juga tidak melakukan
kebiasaan yang bertentangan dengan kesehatanya. Jika klien sakit biasanya pasien minum obat
dan apabila penyakitnya tidak sembuh pasien baru pergi ke dokter terdekat.
b. Pola aktifitas latihan (Mandi,berpakaian/berdandan, eliminasi, mobilisasi ditempat
tidur, ambulansi, makan).Tergantung berat dan ringannya penyakit.

AKTIVITAS 0 1 2 3 4
Mandi
Berpakaian
Eleminasi
Mobilisasi
Ambulansi
Makan

Keterangan: :
0 : Mandiri
1 : dengan menggunakan alat bantu
2 : Perlu bantuan orang lain
3 : Perlun bantuan orang lain dan alat
4 : Tergantung/total, tidak berpartisipasi dalam beraktifitas
c. Pola istirahat tidur
Pada pola istirahat penderita herpes terjadi gangguan susah tidur dikarenakan rasa nyeri dan rasa
gatal yang dideritanya
d. Pola nutrisi metabolic
Pada penderita herpes nafsu makannya terganggu karena jika makan penderita herpes merasa
mual.
e. Pola eliminasi
Pada penderita herpes kebiasan yang terjadi :
 BAB : encer
 BAK : nyeri saat BAK

f. Pola kognitif perceptual


- Status mental sadar
- Bicara normal dengan menggunakan bahasa indonesia
- kemampuan membaca lancar
- Kemampuan interaksi,penderita herpes terganggu karena penyakitnya yang menular
- Pendengaran penderita herpes baik
- Penglihatan penderita herpes agak berkurang karena penyakit herpes simplex yang menyerang
mata
- Manajemen nyeri : Penderita herpes mangatasi rasa nyeri dengan mengkonsumsi obat anti nyeri
g. Pola konsep diri
 Harga diri : Tidak terganggu
 Ideal diri : Tidak terganggu
 Identitas diri : Tidak terganggu
 Gambaran diri : Tidak terganggu
 Peran diri : Tidak terganggu

h. Pola koping dan toleransi stress


-
i. Pola seksual reproduksi
Penderita herpes merasa terganggu dengan pola seksual reproduksinya. Karena penderita herpes
mengalami penyakit genital herpes
j. Pola peran hubungan
Hubungan dengan keluarga,teman dan tetangga terganggu karena penyakitnya yang menular
k. Pola nilai dan kepercayaan
-

D. PEMERIKSAAN FISIK
a. Tanda-tanda vital:
- -Suhu : > 37 C (Hipertermi)
-Nadi : > 100x/menit (Takikardi)
-TD : systole >139 mmHg, diastole >89 mmHg
-Pernafasan : 16 – 24x/menit
b. Keadaan umum
- -Kesadaran : kompas metis
-Kulit : terganggu dengan adanya bintil-bintil dan rasa gatal pada kulitnya
-Warna kulit : Sawo matang
c. Pemeriksaan head to toe
1. Kepala dan Rambut
Inspeksi
a. Bentuk kepala : bulat,simetris
Kulit kepala : Tidak ada ketombe, tidak ada lesi, agak bau, tidak ada benjolan

b. Rambut
-Pertumbuhan Rambut : Baik
-Keadaan rambut : Rontok, lembab berminyak
-Bentuk rambut : Agak keriting,panjang
-Bau : Agak bau dan kotor
-Warna : Hitam
2.Mata
Inspeksi
a.Kelengkapan dan kesimetrisan : Mata kanan dan kiri lengkap,simetris, tetapi jika mata terkena
herpes terjadi gangguan pada salah satu mata
b.Konjungtiva : Terganggu, mata terlihat sayu
c.Sklera : Merah dan sensitive terhadap cahaya
d.Tampak lingkar hitam dibawah mata
e. Kornea mengalami gangguan yang menyebabkan radang permanen dan pembentukan jaringan
parut
3.Hidung
Inspeksi
a.Tulang hidung dan posisi septum nasi normal, tidak ada pembengkakan
b.Lubang hidung : Selaput lendir lembab,mukosa hidung lembab
c.Cuping hidung : Tidak ikut membesar / melebar saat bernafas
d.Tidak ada polip pada hidung
4.Telinga
Inspeksi
a.Bentuk telinga : Simetris
b.Lubang telinga : Tidak ada benjolan, tidak ada serumen
c.Ketajaman pendengaran : Tidak ada kelainan pendengaran
Palpasi
Ketegangan telinga : Lentur
5.Mulut
Inspeksi
a.Keadaan bibir : Terlalu lembab
b.Keadaan lidah : Mukosa mulut lembab,warna lidah merah muda
c.Bau mulut
6.Leher
Inspeksi
a.warna kulit : Sawo matang,tidak ada tubor
b.Leher simetris : Tidak ada benjolan
7.Kulit
Inspeksi
a.Kebersihan : Tidak bersih karena terdapat bintil-bintil berisi cairan
b.Warna kulit : Sawo matang
8.Dada
- Inspeksi
a.Bentuk dada : Simetris, tidak ada benjolan
b.Nafas : 16 – 24x/menit
c.Payudara : tidak ada lesi
- Palapsi
Tidak ada nyeri pada dada
9.Abdomen
- Inspeksi
a.Tidak ada benjolan
b.Peristaltik usus 10 kali/menit
- Palpasi
Perut terasa kaku dan tegang
10.Ekstremitas
a.Ekstremitas atas : Simetris, tidak ada kelainan
b.Reflek : Normal
c.Ekstrimitas bawah : Tidak ada kelainan
d.Alat-alat ekstremitas lengkap kanan kiri, tetapi jika salah satu terkena herpes maka salah satu
organ tidak berfungsi dengan baik
11. Anus dan rectum
Anus dan rectum hemoroid interna
12. Alat kelamin
Alat kelamin mengalami gangguan karena penyakit yang menyerang alat kelamin akan menular
jika melakukan hubungan seks
13.Musculoskeletal
Pada otot ukuran kotur dan kontraksinya normal, kekuatan otot baik, tetapi pada otot bagian
tertentu lemah, dan pada gerakanya pun sedikit terbatas. Pada tulang sum-sum bagian belakang
baik atau normal. Kekuatan baik dengan gerakan tulang yang sedikit terbatas diakibatkan
kelemahan fisik. Kekuatan baik dengan gerakan tulang yang sedikit terbatas diakibatkan
kelemahan fisik. Tidak ada edema, pembengkakan, dan deformitas. Pada persendian tidak kaku,
ROM normal, tidak ada nyeri tekan dan bengkak dan kapasitasnya pun normal.
14. Neurologi
Klien sadar dengan gerakan leluasa. Sensasi, regulasi, inegrasinya baik. Pola pemecahan masalah
yaitu dengan opname atau rawat inap dirumah sakit.

E. Pemeriksaan Penunjang
a. Hasil laboratorium
b. Obat yang diberikan :
- Obat analgetik
- Obat anti virus
- Obat anti Herpes

c. Laser Eximer
Jika terdapat parut kornea yang parah dan menyebabkan kemunduran penglihatan
d. CT Scan
Untuk mengetahui adanya gangguan pada otak

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


A. DATA FOKUS
- demam
- nyeri otot-sendi
- letih
- tidak enak badan
- nyeri saat buang air kecil
- luka pada kulit
- adanya perasaan seperti tertekan di daerah perut
- nyeri ringan di mulut atau tenggorokkan
- gatal di kulit yang terkena
- mati rasa
- kesemutan
- nyeri yang parah pada daerah bentuk tali lebar di dada, punggung, hidung dan mata
- menggigil
- mual
- diare
- lemas
- kulit kebas
- malnutris
- keluarnya cairan dari vagina

A. ANALISA DATA
No Sympton Problem Etiology
1. DS : - Kerusakan integritas Perubahan turgor
DO :
kulit
Luka pada kulit
Gatal di kulit yang terkena
Kulit kebas
Mati rasa
Kesemutan

DS : -
2. Ketidakseimbangan Tidak mampu dalam
DO :
Adanya perasaan seperti tertekan di nutrisi kurang dari memasukkan,
perut kebutuhan mencerna,
Mual
mengabsorbsi
Diare Lemas Pusing
makanan karena
factor biologi

DS : -
DO :
Nyeri otot-sendi Agen cidera biologi
Nyeri akut
3. Nyeri saat buang air kecil
Adanya perasaan seperti tertekan di
perut
Nyeri ringan di mulut atau
tenggorokan
Penyakit /trauma
Nyeri yang parah pada daerah
bentuk tali lebar di dada, punggung,
hidung dan mata
Hipertermi

4.
Ketidakcukupan
DS : -
pengetahuan untuk
DO :
Demam menghindari
Panas Resiko Infeksi
paparan patogen
Kulit terasa hangat
Menggigil
5. Pusing

DO : -
DS :
Luka pada kulit
Keluarnya cairan dari vagina
malnutrisi

PRIORITAS MASALAH
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kelembaban kulit
2. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan tidak mampu
memasukkan, mencerna dan mengabsorbsi makanan karena faktor biologi
3. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi
4. Hipertermi berhubungan dengan penyakit atau trauma
5. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakcukupan pengetahuan untuk menghindari paparan
patogen

C. INTERVENSI

No Tujuan ( NOC) Intervensi ( NIC ) Rasional


1. Setelah dilakukan tindakan ( 3590 ) Skin Surveilance Mengetahui perubahan warna
Monitor warna kulit
keperawaan selama ... x 24 kulit
Monitor adanya infeksi
Mengetahui infeksi yang
jam, integritas kulit klien Monitor temperatur kulit
Jaga kebersihan kulit agar tetap terjadi
dapat membaik dengan
Mengetahui kelembaban kulit
bersih dan kering
kriteria hasil : Mempermudah proses
Anjurkan klien untuk
 Tissue Integrity : Mucous penyembuhan
menggunakan pakaian longgar
Agar kulit dapat
Membranes Monitor status nutrisi klien
Oleskan lotion pada daerah mendapatkan udara yang
( 110101 ) Temperatur
yang tertekan cukup
jaringan baik
Agar kebutuhan akan nutrisi
( 110102 ) Sensasi baik
( 110104 ) Hidrasi baik tercukupi
( 110110 ) Tidak ada lesi atau Untuk mengurangi infeksi
luka pada kulit
( 110111 ) Perfusi jaringan
baik
Kriteria NOC :
( 1100 ) Manajemen nutrisi
1. Extremelly compromised Catat adanya mual dan muntah
Kaji adanya alergi makanan
2. Subsantially compromised
Monitor adanya penurunan
2.3. Moderately compromised
berat badan
4. Midly compromised Berikan makanan yang terpilih
Mengetahui adanya alergi
Kaji kemampuan klien untuk
5. Not compromised
pada makanan
mendapatkan nutrisi yang
Untuk mengetahui makanan
Setelah dilakukan tindakan dibutuhkan
yang baik untuk klien
Berikan informasi tentang
keperawatan selama ... x 24 Mengetahui perubahan berat
kebutuhan nutrisi
jam diharapkan kebutuhan badan
Kolaborasi dengan ahli gizi
Membantu agar klien mau
nutrisi klien tercukupi
dengan kriteria hasil : untuk memberikan nutrisi yang makan
Memenuhi kebutuhan akan
 Status Nutrisi terbaik
nutrisi
( 100801 ) Peningkatan berat
Agar informasi tentang
badan sesuai ( 2590 ) Manajemen nyeri
nutrisi terpenuhi
( 100802 ) Tidak ada tanda- Kaji secara komprehensif
Kebutuhan nutrisi dapat
tanda malnutrisi tentang nyeri meliputi, lokasi,
terpenuhi
Kriteria NOC :
karakteristik dan onset durasi,
1. Tidak pernah menunjukkan
frekuensi, kualitas intensif /
3.
2. Jarang menunjukkan
beratnya nyeri dan faktor-faktor
3. Kaadang menunjukkan Mengetahui tingkatan tipe,
presipitasi
4. Sering menunjukkan Tingkatkan tidur / istirahat berapa lama dan kualitas nyeri
Monitor kenyamana klien
5. Selalu menunjukkan yang dialami klien
terhadap manajemen nyeri Memberikan rasa nyaman
Berikan informasi tentang nyeri
untuk mengurangi nyeri
seperti penyebab berapa lama Mengetahui tindakan yang
Setelah dilakukan tindakan
terjadi dan tindakan pencegahan dapat meningkatkan
keperawatan selama ...x 24 Berikan Analgesik untuk
kenyamana klien
jam, nyeri dapat berkurang mengurangi nyeri Mempermudah untuk
Kolaborasi dengan dokter jiwa
dengan skala ( 0 ) dengan melakukan tindakan
ada keluhan dan tindakan nyeri
kriteria hasil : keperawatan
tidak berhasil Mengurangi rasa sakit dan
 Kontrol nyeri
memberikan rasa tenang dan
( 160502 ) Mengenal faktor
aman
penyebab nyeri
Membantu proses
( 160502 ) Mengenali
( 3900 ) Penurunan demam
4. keperawatan dan untuk
lamanya obat ( onset ) sakit Monitor suhu sesering mungkin
( 160509 ) Mengenali gejala Monitor warna dan suhu kulit melakukan tindakan yang
Monitor nadi dan respirasi
nyeri lebih lanjut
Kolaborasi pemberian
( 160511 ) Melaporkan nyeri
antipireptik
sudah terkontrol
Kompres klien
Kriteria NOC :
Berikan pengobatan untuk
1. Tidak dilakukan sama sekali
mencegah terjadinya menggigil
2. Jarang dilakukan Tingkatkan intake cairan dan
3. Kadang dilakukan nutrisi
Mengetahui perubahan dari
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan suhu tubuh
Mengetahui apakah ada
perubahan pada warna dan
suhu kulit yang tidak
Setelah dilakukan tindakan dapatbermanifest dengan
keperawatan selama ... x 24 demam
Mengetahui kondisi umum
jam diharapkan suhu tubuh
5.
klien
lebih baik dari sebelumnya
Mengurangi dan mengurangi
dengan kriteria hasil : ( 6540 ) Kontrol infeksi
panas
Observasi dan laporkan tanda
 Pengaturan suhu Mengurangi demam dan
dan gejala infeksi
( 08001 ) Suhu tubuh dalam mencegah vasodilatasi
Kaji warna kulit, kelembaban
Untuk mengurangi menggigil
rentang normal
tekstur dan turgor
( 08002 ) Suhu kulit dalam klien
Pertahankan lingkungan aseptik
Untuk membantu proses
rentang normal
selama pemasangan alat
( 08007 ) tidak ada penyembuhan
Cuci kulit dengan hati-hati,
perubahan warna
gunakan hidrasi pelembab
Kriteria NOC :
Mengetahui resiko yang akan
seluruh permukaan
1. Tidak pernah dilakukan
Berikan antibiotik sesuai terjadi
2. Jarang dilakukan Mencegah terjadinya infeksi
instruksi
3. Kadang dilakuan Pertahankan tekhnik isolasi dan akibat yang ditimbulkan
Tingkatkan intake nutrisi Menjaga agar lingkungan dan
4. Sering dilakukan
alat tetap steril sehingga
5. Selalu dilakukan
resiko infeksi dapat dicegah
Meningkatkan proses
penyembuhan dan
mengurangi infeksi
Mengurangi proses infeksi
Untuk mencegah terjadinya
Setelah dilakukan tindakan infeksi nosokomial
Untuk membantu proses
keperawatan selama ... x 24
penyembuhan
jam diharapkan klien tidak
terjadi infeksi dengan kriteria
hasil :
 Kontrol infeksi
( 100201 ) Mengetahui
resiko
( 100202 ) Monitor
perubahan status kesehatan
lainnya
( 100203 ) Klien bebas dari
infeksi
( 190214 ) Menggunakan
dukungan personal untuk
mengurangi resiko
Kriteria NOC :
1. Tidak dilakukan sama sekali
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Herpes Simplex merupakan sejenis virus yang menginfeksi kulit, membrane mukosa dan
syaraf. Ciri-ciri herpes simplex adalah adanya bintil-bintil kecil, bisa satu atau sekumpulan, yang
berisi cairan dan jika pecah bisa menyebabkan peradangan. Bintil-bintil ini biasanya muncul di
daerah muco-cutaneous atau daerah dimana kulit bertemu dengan lapisan membrane mukosa. Di
wajah, daerah ini berlokasi di pertemuan bibir dengan kulit wajah.
Jika terinfeksi virus herpes, virus tersebut bisa menyebar ke seluruh tubuh seperti di jari-
jari (herpetic whitlow), di mata (herpetic ophthalmitis), di daerah kemaluan (genital herpes),
bahkan bisa juga menyerang otak (herpetic encephalitis).

Herpes zoster (Shingles atau sinanaga) adalah suatu infeksi yang menyebabkan erupsi
kulit yang terasa sangat nyeri berupa lepuhan yang berisi cairan. Penyakit ini juga disebabkan
virus herpes yang juga mengakibatkan cacar air (virus varisela zoster). Seperti virus herpes yang
lain, viru varisela zoster mempunyai tahapan penularan awal (cacar air) yang diikuti oleh suatu
tahapan tidak aktif. Kemudian tanpa alasan virus ini jadi aktif kembali menjadi penyakit yang
disebut sebagai herpes zoster.

DAFTAR PUSTAKA

 Mansjoer, Arif dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran Edisi 1, MediaAesculapius : Jakarta
 Mansjoer, Arif dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran Edisi 2, MediaAesculapius : Jakarta
 Mediastore, 2007, penyakit anak-anak : www.mediastore.com
 Info Sehat, 2007, herpes : www.info-sehat.com
 Shodikin, 2007, herpes: http://nursingbrainriza.blogspot.com
 NANDA,Panduan Diagnosa Keperawatan 2005-2006
 Dr. Danis,D, Kamus Istilah Kedokteran, Jakarta : Gitamedia Press
 Hinchliff,S, Kamus Keperawatan, Jakarta : EGC
 Hidayat,A.Aziz Alimul, 2004, Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Jakarta : Salemba
Medika..
 Iowa Outcomes Project. (2000).Nursing Outcome Clasification (NOC). (2nd. ed.). St
Louis: Mosby
 Iowa Intervention Project.(2000). Iowa Intervention Project (NIC). (2nd. ed). St.Louis:
Mosby