Anda di halaman 1dari 8

TIPE RESPON HEWAN

Jupriadi , Wahyu Yulis Gitasya2), Ranti Hidayat3), Lusi Rahmayani4), Ayola Pajrita 5)
1)*

1)
BP 1810421010, Kelompok III C, Laboratorium Ekologi Hewan, Jurusan Biologi, UNAND
2)
BP 1810421015, Kelompok III C, Laboratorium Ekologi Hewan, Jurusan Biologi, UNAND
3)
BP 1810421021, Kelompok III C, Laboratorium Ekologi Hewan, Jurusan Biologi, UNAND
4)
BP 1810422002, Kelompok III C, Laboratorium Ekologi Hewan, Jurusan Biologi, UNAND
5)
BP 1810422029, Kelompok III C, Laboratorium Ekologi Hewan, Jurusan Biologi, UNAND
*Koresponden: Jufriadi693@gmail.com

Abstrak

Praktikum Tipe Respon Hewan ini dilaksanakan pada Hari Rabu, 19 Februari 2020 di Laboratorium Teaching I, Jurusan
Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang. Adapun tujuan dari praktikum
ini adalah untuk mengetahui respon dari berbagai rangsangan yang diberikan pada makhluk hidup (cahaya, gravitasi
dan arus). Adapun alat yang digunakan pada saat praktikum Tipe Respon Hewan ini yaitu triplek ganda ukuran kertas
HVS dengan engsel, cawan petri, kertas karbon, triplek penyangga dengan sudut 30 o, 50o, dan 70o, senter, kertas HVS,
kertas milimeter, aquarium, dan stopwatch. Bahan yang digunakan yaitu cacing tanah (Pontoscolex corethurus), ikan
pantau (Poecilia reticulata), tepung beras, dan air. Tipe gerakan Rheotaksis dimana ikan Poecilia reticulata cendrung
bergerak melawan arus Rheotaksis (+). Sebagian ada yang bergerak tidak melawan arus, Tipe gerakan geotaksis pada
Pontoscolex corethurus cendrung menuju kebawah atau (+), walaupun cacing berusaha untuk merayap naik, tapi karena
gaya gravitasi tubuh cacing cendrung turun. Tipe gerakan Fototaksis Pontoscolex corethurus cendrung mengarah
menjauhi cahaya (-).

Kata Kunci: Ekologi, Fototaksis, Geotaksis, Rheotaksis

PENDAHULUAN

Taksis yang merupakan suatu bentuk sederhana berlangsung ke arah stimulus atau mendekati arah
dari tingkah laku hewan bagi penyesuaian stimulus(respon positif), respon menjauhi arah
terhadap keadaan lingkungan, menunjukkan stimulus (respon negatif) maupun bergerak kearah
seperti apa hewan akan menunjukkan suatu tertentu dengan sudut tertentu dari stimulus.
orientasi karena adanya rangsangan. Para ethologi Taksis merupakan arah dari orientasi-orientasi dan
mencatat bahwa stimulus yang membebaskan pola gerakan-gerakan (positif dan negatif) sesuai
aksi tertentu umumnya menonjolkan kemunculan dengan rangsangan-rangsangan alam. Perubahan
atau perilaku anggota lain spesies mereka sendiri, orientasi tubuh suatu organisme sebagai reaksi
dan mereka dapat menunjukkan bagaimana terhadap stimulus dan mempertahankan posisinya
bentuk penting komunikasi hewan dapat ditengahi sebelum melakukan pergerakan disebut respon
dengan pola aksi tertentu yang sedikit sederhana. taksis (Lucas and Baras, 2001).
Salah satu pengmatan mengenai komunikasi Pada hewan pembawaan tubuh ke arah
dilakukan oleh Karl von Frisch. Ia mengamati atau jauh dari sesuatu rangsangan dinamakan
tarian yang dilakukan lebah dalam berkomunikasi. taksis. Taksis dapat diberi nama berdasarkan arah
Setelah itu, Lorenz mengembangkan teori menarik orientasi dan pergerakan (positif atau negatif).
dari evolusi komunikasi binatang berdasarkan Suatu gerak taksis dikatakan taksis positif jika
pada pengamatannya terhadap alam pola aksi respon yang terjadi adalah menuju atau mendekati
tertentu dan keadaan yang mana hewan rangsangan, sedangkan dikatakan taksis negatif
memancarkannya (Widiastuti, 2002). jika respon yang terjadi adalah menjauhi
Taksis dapat diartikan sebagai pergerakan rangsangan. Hewan dapat menunjukan macam-
suatu organisme sebagai respon terhadap adanya macam taksis sesuai dengan arah datangnya
stimulus eksternal yang mengenainya secara rangsangan, misalnya respon hewan terhadap
langsung. Pergerakan organisme ini dapat rangsangan cahaya (fototaksis), respon hewan
terhadap arus air (rheotaksis), respon hewan Suatu rangsangan pada tingkah laku
terhadap rangsangan gravitasi (Geotaksis) dan (iritabilitas) suatu organisme disebut juga daya
respon hewan karena rangsangan bahan kimia menanggapi rangsangan. Daya ini memungkinkan
(kemotaksis) (Virgianti, 2005). organisme menyesuaikan diri terhadap perubahan
Reaksi-reaksi perilaku mencakup lingkungannya. Pada beberapa organisme terdapat
mekanisme sederhana, gerakan negatif atau positif sel-sel, jaringan atau organ-organ yang
terbagi dalam 3 kategori, yaitu: pertama, tropisme berdiferensiasi khusus. Pada organisme yang
hal ini mengenai gerakan memutar yang bergerak, tanggapan terhadap rangsangan disebut
sederhana dimana seluruh tubuh atau bagian refleks. Suatu gerak taksis pada organisme yang
utama darinya menjadi berorientasi dalam suatu diberikan rangsangan akan bergerak menjauhi
hubungan tertentu langsung ke arah rangsangan. atau mendekati rangsangan (Widiastuti, 2002).
Kedua, taksis yaitu gerakan-gerakan hewan Hewan dan tumbuhan memiliki ciri yang
menuju, menjauhi atau pada sudut tertentu membuat mereka berbeda, hewan mempunyai
langsung ke arah rangsangan dan ketiga, kinesis daya gerak, cepat tanggap terhadap rangsang
yaitu tidak ada gerakan secara langsung tetapi eksternal, tumbuh mencapai besar tertentu,
makhluk hidup tersebut berputat-putar dan memerlukan makanan dalam bentuk kompleks
terganggu. Intenstitas gerakan tanpa tujuan ini dan jaringan tubuhnya lunak. Setiap individu, baik
sesuai dengan intensitas rangsangan (Michael, pada hewan yang uniseluler maupun pada hewan
2004). yang multiseluler, merupakan suatu unit. Hewan
Hewan adalah organisme yang bersifat itu berorganisasi, berarti setiap bagian dari
motil, artinya dapat berjalan dari satu tempat ke tubuhnya merupakan subordinate dari individu
tempat lain. Gerakannya disebabkan oleh sebagai keseluruhan, baik sebagai bagian satu sel
rangsang-rangsang tertentu yang datang dari maupun seluruh sel. Perilaku dapat terjadi sebagai
lingkungannya.Jenis-jenis hewan pada umumnya akibat suatu stimulus dari luar. Reseptor
dapat tinggal di suatu lingkungan hidup yang diperlukan untuk mendeteksi stimulus itu, syarat
sesuai dengan ciri-ciri kehidupannya. Jika hewan diperlukan untuk mengkoordinasikan respon dan
berjalan atau berpindah ke tempat lain tidak efektor itulah yang sebenarnya melakukan aksi.
mengalami perubahan bentuk, kecuali perubahan Perilaku dapat juga terjadi sebagai akibat stimulus
sifat-sifat fisiologisnya. Faktor-faktor yang dari dalam. Lebih sering terjadi, perilaku suatu
merangsang gerakan hewan adalah makanan, air, organisme merupakan akibat gabungan stimulus
cahaya, suhu, kelembaban, dan lain-lain. dari luar dan dalam (Pramudiyanti, 2009). Suatu
Beberapa hewan mampu menempuh jarak tempuh gerak taksis dikatakan taksis positif jika respon
itu dipengaruhi batas toleransinya untuk merespon yang terjadi adalh menuju atau mendekati
perubahan lingkungannya (Melles, 2004). rangsangan, sedangkan taksis negatif jika respon
Salah satu ciri dari makhluk hidup yaitu yang terjadi adalah menjauhi rangsangan
peka terhadap rangsang, respon makhluk hidup (Virgianti, 2005).
terhadap lingkungannya. Mampu merespon Perilaku dapat terjadi sebagai akibat
berbagai impuls atau stimulus-stimulus yang ada suatu stimulus dari luar. Reseptor diperlukan
disekitar lingkungannya. Lingkungan memberikan untuk mendeteksi stimulus itu, syarat diperlukan
segala sesuatu yang ada disekitar makhluk hidup untuk mengkoordinasikan respon dan efektor
dan saling berinteraksi. Lingkungan sangat itulah yang sebenarnya melakukan aksi. Perilaku
berperan penting bagi semua makhluk hidup. dapat juga terjadi sebagai akibat stimulus dari
Lingkungan meliputi lingkungan abiotik maupun dalam. Lebih sering terjadi, perilaku suatu
lingkungan biotik. Lingkungan abiotik itu sendiri organisme merupakan akibat gabungan stimulus
terdiri dari suhu, cahaya matahari, kelembapan, dari luar dan dalam (Pramudiyanti, 2009).
dan benda-benda mati lainnya yang tidak Adapun tujuan diadakannya praktikum ini
digunakan sebagai sumber daya seperti batu, adalah untuk mengetahui dan memahami alat-alat
tanah sebagai tempat tinggal sedangkan yang digunakan dalam ruang lingkup ekologi
lingkungan biotik yaitu manusia, hewan dan hewan beserta fungsi dan cara kegunaannya.
tumbuhan (Pratiwi, 2007).
PELAKSANAAN PRAKTIKUM Pheretima sp antara bagian yang gelap atau
bagian yang terang dan catat waktu pada saat
Waktu dan Tempat Pheretima sp sudah berpindah tempat. Lakukan
Praktikum ini dilaksanakan pada Hari Rabu, 19 dengan tiga kali pengulangan.
Februari 2020 di Laboratorium Teaching I,
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu b. Geotaksis
Pengetahuan Alam Universitas Andalas. Disediakan triplek ganda dengan engsel, sudut
penyangga, tepung, dan lima ekor cacing.
Alat dan Bahan Letakkan sudut penyangga 30o, 50o, 70o pada
Adapun alat yang digunakan pada saat praktikum triplek ganda. Tutupi permukaan triplek tersebut
Tipe Respon Hewan ini yaitu triplek ganda ukuran dengan kertas HVS dan taburi kertas HVS dengan
kertas HVS dengan engsel, cawan petri, kertas tepung secara merata. Pada permukaan kertas
karbon, triplek penyangga dengan sudut 30o, 50 o, yang sudah ditaburi dengan tepung beras dibagi
dan 70o, senter, kertas HVS, kertas milimeter, menjadi empat kuadran. Letakkan lima ekor
aquarium, dan stopwatch. Bahan yang digunakan Pheretima sp ditengah-tengah kuadran. Tunggu
yaitu cacing tanah (Pheretima sp.), ikan pantau dan catat waktu pada saat Pheretima sp jatuh
(Poecilia reticulata), tepung beras, dan air. kebawah. Amati arah dan dikuadran mana
Cara Kerja Pheretima sp tersebut jatuh. Lakukan tiga kali
Praktikum ini dilakukan dengan cara: pengulangan pada setiap sudut.
a. Fototaksis c. Rheotaksis
Disediakan cawan petri, senter, kertas karbon, dan Disediakan aquarium dan diletakkan didekat air
yang mengalir. Aquarium dimiringkan dan diisi
dua ekor Pheretima sp dengan ukuran sama besar.
Tutup sebagian cawan petri dengan kertas karbon dengan air hingga air melimpah. Matikan kran air,
dan sebagiannya lagi dibiarkan terbuka. Letakkan kemudian Poecilia reticulata dimasukkan
dua ekor Pheretima sp didalam cawan petri sebanyak 20 ekor secara bersamaan dan hidupkan
air kembali. Amati pergerakkan dari Poecilia
dengan posisi ditengah-tengah antara bagian yang
gelap dan bagian yang gelap. Berikan cahaya dari reticulata tersebut. lakukan beberapa kali
atas dengan senter. Amati arah perpindahan pengulangan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil sebagai berikut:
a. Fototaksis
Tabel 1. Hasil pengamatan fototaksis pada Pheretima sp
Individu Pengulangan (detik) Keterangan
1 2 3
1 320 s 50 s 25 s Menjauhi cahaya (fototaksis
negatif)
2 332 s 40 s 41 s Menjauhi cahaya (fototaksis
negatif)

Dari tabel 1 didapatkan hasil bahwa Pheretima sp diterima oleh reseptor sensorik yang tersebar di
akan menjauhi arah datangnya cahaya ke arah seluruh tubuhnya. Reseptor yang tersebar ini
petridis yang gelap, yaitu ke arah petridis yang menyebabkan cacing tanah sangat sensitif
tertutup kertas karbon. Hal ini sesuai dengan terhadap kondisi lingkungan sekitarnya. Pada
literatur yang menyatakan bahwa cacing akan bagian anterior terdapat ganglion cerebral, dan
menjauhi cahaya. berbagai macam saraf penting lainnya, sehingga
Cacing tanah merupakan salah satu sensitivitasnya pun lebih tinggi jika dibandingkan
organisme yang tidak memiliki alat indera dan dengan bagian tubuh lainnya. Repon terhadap
alat gerak, sehingga stimulus yang datang akan perubahan kondisi lingkungan diwujudkan dalam
perilaku taksis, dimana cacing tanah akan menuju lingkungan yang lembab. Hal ini sesuai dengan
arah datangnya stimulus dan menjauhi stimulus pernyataan Nukmal, (2012), Cacing tanah
yang dianggap berbahaya. Pengamatan terhadap menyukai lingkungan yang lembab dengan bahan
perilaku taksis cacing tanah menjadi penting organik yang berlimpahan dan banyak banyak
untuk dilakukan karena cacing tanah dapat kalsium yang tersedia. Akibatnya, cacing tanah
dijadikan sebagai bioindikator dari kesuburan terdapat paling melimpah dalam tanah berstruktur
tanah di suatu wilayah serta secara tidak langsung halus dan kaya bahan organik dan tidak terlalu
memberikan sinyal apakah tanah tersebut asam. Cacing tanah pada umumnya membuat
mengandung zat-zat berbahaya atau tidak liang dangkal dan hidup mencerna bahan organik
(Cronodon, 2017). yang terdapat didalam tanah.
Cacing tanah selalu menjauhi cahaya karena
cacing tanah merupakan hewan yang menyukai

b. Geotaksis
Tabel 2. Hasil pengamatan geotaksis pada Pheretima sp
Sudut Individu Pengulangan (detik) Kuadran keterangan
1 2 3 I II III IV
70o Sp 1 22 48 34 √ √ √
Sp 2 38 117 206 √ √ √ Geotaksis
Sp 3 48 41 236 √ √ √ positif
Sp 4 48 59 216 √ √ √
Sp 5 103 34 242 √ √ √
50o Sp 1 233 326 23 √ √ √
Sp 2 59 353 146 √ √ √ Geotaksis
Sp 3 21 429 130 √ √ √ positif dan
Sp 4 359 17 157 √ √ √ negatif
Sp 5 306 408 52 √ √ √
30o Sp 1 43 18 27 √ √ √
Sp 2 48 35 42 √ √ √ Geotaksis
Sp 3 120 39 159 √ √ √ positif dan
Sp 4 105 130 204 √ √ √ negatif
Sp 5 126 117 59 √ √ √
Dari tabel 1 didapatkan hasil yaitu pada kudran 3
dan 4 merupakan tempat atau lokasi yang paling cacing tersebut selalu membuat liang dalam tanah
banyak menjadi arah pergerakan dari Pheretima untuk berlindung dan didukung dengan bentuk
sp. Selain itu Pheretima sp memiliki waktu yang tubuhnya yang memiliki mukus dan besegmen
lebih lama untuk menuju ke bagian bawah papan agar mudah membuat liang tanah. Cacing tanah
pada sudut yang landau yaitu 30o dan bertubuh tanpa kerangka yang tersusun oleh
membutuhkan waktu yang singkat untuk sudut segmen-segmen (Widiastuti, 2002).
yang lebih terjal, yaitu 70o. Hal in terjadi karena cacing tanah selalu bergerak ke arah bawah atau
respon cacing sangat dipengaruhi oleh kemiringan menuju ke arah datangnya rangsangan seperti
dan gravitasi. Hal ini sesuai dengan pendapat rangsangan berupa gravitasi bumi. Pergerakan
Michel (2004), dimana ia menyatakan geotaksis pada cacing tanah ini merupakan gerak geotaksis
adalah gerak taksis yang terjadi karena adanya positif. Gerak taksis terdapat dua bentuk yaitu
kemiringan suatu tempat. taksis posistif dan taksis negatif. Dikatakan taksis
Geotaksis adalah gerak taksis yang terjadi positif karena respon yang terjadi pada cacing
karena adanya kemiringan suatu tempat. tanah adalah menuju atau mendekati rangsangan.
Berdasarkan hasil pengamatan, cacing melakukan Sedangkan dikatakan taksis negatif, ketika cacing
gerakan geotaksis positif karena secara umum tanah akan menjauhi adanya suatu rangsangan
(Virganti,2005).
c. Rheotaksis
Tabel 3. Hasil pengamatan Rheotaksis pada Poecilia reticulata
Species Waktu (menit) Jumlah Arah
P. reticulata 1-2 3 Dua ekor melawan arus
(rheotaksis positif)
P. reticulata 3-4 3 Semua melawan arus
(rheotaksis positif)
P. reticulata 5-6 3 Dua ekor melawan arus
(rheotaksis positif)
P. reticulata 7-8 3 Dua ekor melawan arus
(rheotaksis positif)
P. reticulata 9-10 3 Dua ekor melawan arus
(rheotaksis positif)
.
Dari hasil pengamatan, didapatkan hasil adalah menjauhi rangsangan.Poecilia reticulata
bahwa Poecilia reticulata termasuk kepada jenis lebih cendrung bergerak kearah dasar air
rheotaksis positif karena dapat melawan aus air. dikarenakan arus pada dasar air lebih tenang
Hal ini dikarenakan bentuk tubuhnya yang kecil dibandingkan dengan arus pada permukaan air.
sehingga dapat bergerak dengan cepat (stream Poecilia reticulata merupakan kelas pisces yang
line) dan dapat melawan arus. Pada air yang sudah termasuk ke dalam tipe nekton, hal ini
berisi Poecilia reticulata didalam aquarium dikarenakan kemampuannya untuk melawan suatu
tersebut dimiringkan dengan cepat dan terlihat arus air.
bahwa pergerakan Poecilia reticulata melawan Ikan melakukan rheotaksis berguna untuk
arus air yang mengalir kebawah. Ada beberapa mencari sumber makanan, mencari sumber O2,
Poecilia reticulata yang berada di bawah karena dan untuk pertahanan supaya tidak jauh dari
arus yang berada diatas mengalir lebih kuat. habitatnya. Aplikasi dari rheotaksis ini dalam
Energi menjadi sumber kekuatan ikan untuk kehidupan sehari-hari yaitu berguna pada saat
melawan arus air, apabila energi ikan untuk memancing ikan, untuk pemasangan keramba
melawan arus air sudah habis, maka ikan pergi ikan, dan berguna dalam ilmu renang. Menurut
ketempat yang berarus tenang untuk beristirahat literatur terdapat beberapa tipe pergerakan dari
dan ada juga ikan yang terbawa arus. Hal ini suatu organisme diantaranya yaitu neuston adalah
sesuai dengan pernyataan Hasan (2000), bahwa organisme yang hidup dipermukaan atas atau
kecepatan arus mempengaruhi keberadaan ikan permukaa air. Peryphyton (teritip/sesil) organisme
ini. Habitat yang paling disukai Poecilia baik tumbuhan atau hewan yang hidupnya
reticulata adalah perairan tawar yang arusnya menempel pada benda lain hidup atau mati
tidak terlalu deras. (contoh lumut dan tiram). Benthos adalah
Menurut Virgianti (2005), rheotaksis organisme baik hewan atau tumbuhan yang hidup
adalah gerak taksis yang terjadi disebabkan oleh didasar permukaan (kerang siput) epibentik tanah
adanya arus air pada suatu tempat. Suatu gerak dasar. Inbentik dalam tanah. Nekton (ikan) semua
taksis dikatakan taksis positif jika respon yang organisme yang aktif bergerak dalam air
terjadi adalh menuju atau mendekati rangsangan, (Pramudiyanti,2009).
sedangkan taksis negatif jika respon yang terjadi

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dapat menetap tidak melawan arus ataupun mengikuti
diambil kesimpulan sebagai berikut: arus.
1. Tipe gerakan Rheotaksis dimana ikan Poecilia 2. Tipe gerakan geotaksis pada Pheretima sp
reticulata cendrung bergerak melawan arus cendrung menuju kebawah atau (+), walaupun
Rheotaksis (+). Sebagian ada yang bergerak tidak cacing berusaha untuk merayap naik, tapi
melawan arus, Rheotaksis (-), da nada yang
karena gaya gravitasi tubuh cacing cendrung Jurnal Ekologi dan Perikanan, 20 oktober
turun. 2010.
3. Tipe gerakan Fototaksis Pheretima sp cendrung Lucas MC and Baras E. 2001. Migration of
mengarah menjauhi cahaya (-). Freshwater Fishes. BlackwellScience.
London, 440 pp.
Saran Michael,P.2004. Metode Penelitian Untuk Ekologi
Adapun saran untuk praktikan selanjutnya agar Penelitian Ladang dan Laboratorium. UI
lebih serius dalam mendengarkan penyampaian Press, Jakarta
fungsi serta penggunaan berbagai alat dalam Melles, M. C. Jr. 2004. Ecology Concepts and
ruang lingkup ekologi hewan agar tujuan dari Applications. Third edition. Mc Graw Hill.
praktikum ini dapat tercapai sebagaimana New Mexico.
mestinya. Nukmal, N.2012. Penuntun Praktikum Fisiologi
Hewan. Bandar Lampung.
DAFTAR PUSTAKA
Pramudiyanti.2009. Biologi Umum. Bandar
Adianto. 2004. Pengaruh Inokulasi Cacing Tanah Lampung: Universitas Lampung.
(Pontoscolex corethurus) Er Mull Terhadap Pratiwi, D.A. Sri Maryanti & Srikini. 2007.
Sifat Fisika Kimia Tanah dan Pertumbuhan Biologi Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Tanaman Kacang Hijau (Vigna raelata.) Virgianti, D.P. dan Hana A. P. 2005. Perdedahan
Varietas Walet, Jurnal Matematika dan Sains, Morsin Terhadap Perilaku Massa Prasapih
19 Februari 2020. Mencit. FMIPA. Bandung.
Cronodon. 2017. “Earthworm-Nervous System”. Widiastuti, Endang L. 2002. Buku Ajar Fisiologi
[Online] http://cronodon.com/BioTech/ Hewan I. Universitas Lampung: Bandar
Earthworm_ NS.html diakses pada 19 lampung.
Februari 2020.
Hasan, A. Dan I. Widipangestu, 2000. Uji Coba
Penggunaan Lampu Lacuba Tenaga Surya
pada Bagan Apung Terhadap Hasil
Tangkapan Ikan di Pelabuhan Ratu, Jabar,

LAMPIRAN

Gambar 1.Fototaksis (5 menit) Gambar 2.Fototaksis (10 menit)


Gambar 3.Fototaksis (15 menit) Gambar 4.Geotaksis (5 menit 30o)

Gambar 5.Geotaksis (10 menit 30o) Gambar 6.Geotaksis (15 menit 30o)

Gambar 7.Geotaksis (5 menit 50o) Gambar 8.Geotaksis (10 menit 50o)

Gambar 9.Geotaksis (15 menit 50o) Gambar 10.Geotaksis (5 menit 70o)

Gambar 11.Geotaksis (10 menit 70o) Gambar 12.Geotaksis (15 menit 70o)
Gambar 13. Rheotaksis

Anda mungkin juga menyukai