Anda di halaman 1dari 11

Kreatif Menuju re AKREDiTASi Puskesmas..

Apa yg menjadi keluhan atau kebutuhan pelanggan Puskesmas melalui kotak saran, sms center, quisioner,
SMD, wawancara... Perlu di bahas setiap bulan lalu di buat rencana tindak lanjut dan di evaluasi......
Rahasia sukses re AKREDiTASi Paripurna...
Jurus :: "Hasil Kegiatan PMKP dan Audit Internal di bawa ke Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) Menuju re
AKREDiTASi Puskesmas"
.
Rapat Tinjauan Manajemen I (satu), membahas ::
- laporan hasil audit internal
- umpan balik masyarakat
- hasil survei kepuasan
- laporan capaian indikator mutu dan sasaran keselamatan pasien
- rekomendasi perbaikan.
.
.
Sebelum RTM lakukan kegiatan PMKP...
Kegiatan PMKP (Peningkatan Mutu Klinis & Keselamatan Pasien) mencakup tentang ::
- Area Prioritas
- Indikator mutu pelayanan klinis
- Indikator perilaku petugas pelayanan klinis
- Sasaran keselamatan pasien.
.
.
Upaya peningkatan mutu layanan klinis, dan keselamatan pasien menjadi tanggung jawab seluruh tenaga
klinis yang memberikan asuhan pasien.
.
.
Tenaga klinis wajib berperan aktif mulai dari :
- identifikasi permasalahan mutu layanan klinis
- melakukan analisis
- menyusun rencana perbaikan
- melaksanakan, dan menindaklanjuti.
.
.
Dengan adanya keterbatasan sumber daya yang ada di puskesmas, maka upaya perbaikan mutu layanan klinis
perlu diprioritaskan.
.
Oleh karena itu tenaga klinis bersama dengan pengelola Puskesmas menetapkan prioritas fungsi dan proses
pelayanan yang perlu disempurnakan dari tahun ke tahun.
.
Akreditasi adalah langkah awal. Proses akan terus kita jalankan.
.
Peningkatan mutu layanan klinis & keselamatan pasien akan terus kita tingkatkan.
.
Berproses itu pasti. Menjadi lebih baik & diterima masyarakat itu harapan.
🙋♀️🙋♂️
PMKP (Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien) memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu dan kualitas
pelayanan kesehatan puskesmas dengan melakukan kegiatan :
1. Penetapan indikator mutu klinis
2. Menetapkan indikator mutu sasaran keselamatan pasien
3. Melakukan sosialisasi hasil kegiatan tim PMKP
4. Pengukuran indikator mutu dan sasaran keselamatan pasien
5. Melakukan penanganan dan pelaporan insiden KTD, KPC, KNC, dan KTC
6. Melakukan root cause analisa
.
Selain kegiatan PMKP , kegiatan Puskesmas juga melakukan Pertemuan Audit Internal
Tim Audit Internal mempersiapkan laporan laporan hasil audit yang sudah dilakukan untuk dibawa ke RTM (
Rapat Tinjauan Manajemen) ; melakukan monev kegiatan selama tahun 2019 serta mempersiapkan jadwal
kegiatan untuk tahun 2020
Dan yang terpenting adalah beruntungnya Puskesmas memiliki kalian semua , terus bersemangatt The Best
Team
Rapat Tinjauan Manajemen II (dua) membahas tentang ::
- tindak lanjut perbaikan mutu rekomendasi RTM sebelumnya
- hasil audit internal
- presentasi hasil audit klinis Penatalaksanaan Diare dan rekomendasi tindak lanjutnya
- hasil survey kepuasan dan keluhan/ masukan pelanggan
- capaian indikator mutu dan sasaran keselamatan pasien
- rekomendasi tindak lanjutnya.

Puskesmas Ramah Anak strategi menuju re AKREDiTASi


Puskesmas raup point nilai plus
Jurus :: "Anak anak yang ikut berobat dengan orang tuanya harus mendapatkan pelayanan khusus, melalui
Puskesmas Ramah Anak"
Ada 5 (lima) komponen pelayanan ramah anak di Puskesmas, yaitu Sumber Daya Manusia (SDM), Sarana
dan Prasarana Lingkungan, Pelayanan Pengelolaan, Partisipasi Anak, dan Pemberdayaan Masyarakat.
Nonton video :: https://youtu.be/AIzD38PfQOA
Jika ingin meraih penetapan sebagai Puskemas ramah anak, maka puskesmas tersebut harus memiliki
beberapa fasilitas yang memang khusus untuk kebutuhan anak. Bukan hanya dalam hal pelayanan yang baik
terhadap pasien anak, namun juga dalam hal sarana dan prasarananya..
Antara lain, seperti adanya tempat bermain bagi anak-anak.
Untuk indikator yang seharusnya terpenuhi ada sebanyak 15 (lima belas) , namun Puskesmas dapat dikatakan
telah menginisiasi pelayanan ramah anak apabila minimal melaksanakan 8 (delapan) indikator pilihan...
Ini indikator Puskesmas ramah anak ::
1. Jaminan tersedianya tenaga medis yang memahami tentang hak dan kesehatan anak.
2. Tersedianya ruang pelayanan khusus untuk anak dan konseling bagi anak.
3, tersedia komunikasi informasi dan edukasi (KIE) tentang hak kesehatan anak.
4. Puskesmas tersebut memiliki ruang laktasi yang higienis dan mampu melaksanakan inisiasi menyusui dini
(IMD) untuk puskesmas yang memberikan layanan persalinan.
5. Tersedia ruang bermain bagi anak yang berjarak aman dari ruang tunggu pasien.
6.Terdapat Poli Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).
7. Pembentukan dan pelaksanaan kelompok pendukung ibu untuk meningkatkan ASI Eksklusif.
8. Merupakan kawasan tanpa rokok.
9. Sebagian besar atau sekitar 50 persen seekolah di wilayah kerja puskesmas, unit kesehatan sekolah (UKS)
nya telah memenuhi klasifikasi standar.
10. Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) terkait pemenuhan hak anak di wilayah kerja sebagian
besar aktif, seperti Posyandu paling sedikitnya 50 persen mencapai kualifikasi Pratama dan puskesmas
melaksanakan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) serta layanan tata laksana.
11. Tersedianya cakupan-cakupan pelayanan kesehatan anak. Dimana itu meliputi seperti cakupan ASI tinggi,
peningkatan asupan gizi, layanan anak sakit HIV AIDS, imunisasi dasar lengkap, serta layanan kesehatan
reproduksi.
12. Tersedianya layanan Therapeutic Feeding Centre (TFC). Maksudnya pelayanan kesehatan untuk
mendukung penurunan prevalensi kekurangan gizi pada balita.
13. Fasilitas dan advokasi kader kesehatan desa.
14. Menerima rujukan anak korban kekerasan, ketergantungan obat, dan anak hamil.
15. Sanitasi lingkungan puskesmas memenuhi ketentuan standar kesehatan, dan terakhir (16) yakni tersedia
data tentang pemenuhan hak anak yang terpilah sesuai usia, jenis kelamin, serta permasalahan kesehatan

Sanitasi lingkungan puskesmas memenuhi ketentuan standar kesehatan, dan terakhir (16) yakni tersedia data
tentang pemenuhan hak anak yang terpilah sesuai usia, jenis kelamin, serta permasalahan kesehatan
Kupas tuntas bab 9 dan Permenkes Nomor 11 tahun 2017 tentang
keselamatan pasien...
Jurus :: "Sasaran Keselamatan Pasien menuju re AKREDiTASi
Puskesmas juga oleh Tim PPI"
Tujuan Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) adalah untuk menggiatkan perbaikan-perbaikan tertentu dalam
soal keselamatan
pasien.
Sasaran–sasaran dalam SKP menyoroti bidang-bidang yang bermasalah dalam perawatan kesehatan,
memberikan bukti dan solusi hasil konsensus yang berdasarkan nasihat para pakar.
Sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) juga termasuk oleh tim PPI setelah mengikuti
pelatihan :
1. Praktek Hand Higiene
2. Penggunaan APD
3. Pengelolaan Limbah Medis dan Non Medis
4. Penggunaan Antibiotik yang Rasional
5. Sasaran Keselamatan Pasien
🙋🙋🙋
Rapat Tinjauan Manajemen Puskesmas nantinya dalam rangka peningkatan kinerja, peningkatan mutu dan
keselamatan pasien/ sasaran baik untuk pelayanan di dalam gedung maupun di luar gedung
.

KESELAMATAN PASIEN
(Pasien Safety)
Berdasarkan Permenkes No. 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien, setiap fasilitas pelayanan kesehatan
harus menyelenggarakan Keselamatan Pasien.
Standar Akreditasi Puskesmas pada Bab 9 mensyaratkan dilaksanakannya upaya keselamatan pasien dalam
pelayanan klinis.
Keselamatan pasien adalah suatu sistem yang membuat asuhan pasien lebih aman, meliputi asesmen resiko,
identifikasi & pengelolaan resiko pasien, pelaporan & analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan
tindak lanjutnya, serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko dan mencegah terjadinya
cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil.
Peningkatan mutu pelayanan di Puskesmas merupakan sebuah upaya yang dinamis dan selalu berorientasi
kepada perbaikan proses pelayanan.
Pelayanan kesehatan sarat dengan resiko yang dapat menimbulkan cedera baik bagi pasien, keluarga pasien,
petugas kesehatan, sasaran kegiatan upaya kesehatan, bahkan masyarakat dan lingkungan sebagai akibat
penyelenggaraan pelayanan atau kegiatan upaya kesehatan.
Hampir setiap tindakan dalam pelayanan kesehatan menyimpan potensi resiko.
Oleh karena itu perlu dilakukan upaya keselamatan pasien.
Penyelenggaraan keselamatan pasien dilakukan melalui pembentukan sistem pelayanan standar keselamatan
pasien, diantaranya adalah kegiatan pendidikan & pelatihan berkelanjutan bagi staf, untuk meningkatkan &
memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisipliner dalam pelayanan pasien.
Setelah kegiatan ini diharapkan setiap staf Pokja UKP bisa bekerja lebih baik lagi dalam bidangnya, sehingga
bisa mengaplikasikan 6 sasaran keselamatan pasien, yaitu:
1. Mengidentifikasi pasien dengan benar
2. Meningkatkan komunikasi yang efektif
3. Meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai
4. Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, pembedahan pada pasien yang benar
5. Mengurangi resiko infeksi akibat perawatan kesehatan
6. Mengurangi resiko cedera pasien akibat terjatuh
Dengan mengikuti setiap prosedur, maka setiap pasien akan mendapatkan pelayanan prima serta terhindar dari
insiden keselamatan pasien: kondisi potensial cedera (KPC), kejadian nyaris cedera (KNC), kejadian tidak
cedera (KTC) maupun kejadian tidak diharapkan (KTD).
Sumber:
- Permenkes No. 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien
- Modul Pelatihan Manajemen Puskesmas, Badan PPSDM Kesehatan Kemenkes RI, 2017

Strategi menjadi Puskesmas Paripurna..


Jurus ::: "Penyampaian Informasi Kesehatan kepada Anak melalui Lagu... Nonton lagu yuk"
Puskesmas memiliki peran penting dalam pemenuhan hak anak atas pelayanan kesehatan.
Sebagai salah satu Puskesmas Ramah Anak, mengedepankan pelayanan kepada anak. Baik pada anak yang
berobat maupun anak sehat yang berkunjung ke Puskesmas.
Pelayanan tersebut diberikan dengan memperhatikan perlindungan serta penghargaan terhadap hak-hak anak.
Salah satu indikator puskesmas ramah anak adalah adanya upaya Komunikasi Informasi dan Edukasi terkait
dengan kesehatan anak baik yang dilakukan di dalam maupun di luar gedung.
Oleh karena itu, diperlukan kegiatan penyuluhan dalam gedung dengan sasaran anak - anak.
Nonton video :: https://youtu.be/AIzD38PfQOA
Agar anak-anak mampu menerima informasi yang disampaikan, penyampaian informasi dikemas dengan lagu
yang dinyanyikan bersama anak-anak.
Jurus :: *Manajemen Risiko untuk Peningkatan Mutu Layanan
Faskes Primer Menuju re AKREDiTASi Puskesmas... Ayo Pokja
UKP ***
Aturan hukum yang mesti di pahami lalu di terapkan antara lain :
♦Permenkes 46 tahun 2015 tentang Akreditasi Puskesmas dan Klinik Pratama
♦Permenkes Nomor 52 tahun 2018 tentang K3 di Fasyankes
♦Permenkes Nomor 11 tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien
.
Materi yang harus anda kuasai dan terapkan menuju re AKREDiTASi Puskesmas ::
✔Kebijakan Akreditasi di Puskesmas dan FKTP
✔Manajemen Risiko Klinis
✔Manajemen Risiko Fasilitas dan Lingkungan
✔Program K3 di Fasyankes
✔Analisis Risiko dengan FMEA
✔Analisis Risiko dengan RCA
✔Rencana tanggap darurat dan bencana di FKTP
✔Penyusunan dokumen manajemen risiko
.
Ingat, jika anda tidak memahami dan tidak mau menerapkan... Maka yang rugi bukan cuma Puskesmas tempat
anda bernaung, tetapi diri anda sendiri juga rugi, karena "status" masih "jadoel" alias kurang kapasitas...
Sementara Puskesmas lain ber lomba lomba mengejar prestasi terbaik... Jangan sampai blunder bro..

Rahasia agar tidak rugi jauh jauh kaji banding..


Jurus :: "Tujuh Rahasia Yang Harus Anda Raih Saat lakukan Kaji
Banding ke Puskesmas Lain.. Fokus hal Prioritas, Karena Waktu
Singkat"
Instrumen kaji banding adalah alat bantu yang akan di gunakan pada saat kaji banding misalnya ( ceklist
wawancara, kamera, quisioner, bahan persentasi, diskusi personal dan observasi ).
Kaji banding merupakan upaya untuk mendapatkan informasi apa yang telah dicapai oleh pihak atau instansi
lain dalam menjalankan tugas yang sama dengan tugas yang telah anda lakukan, guna perbaikan apa yang
telah anda lakukan .
Kaji Banding bagian dari usaha menuju proses Akreditasi bagi sebuah fasilitas kesehatan.
Saya ingin memaparkan bahwa tujuan kunjungan kaji banding yaitu tercapainya mutu kesehatan yang baik di
Puskesmas anda..
Ketika kaji banding mintalah :
1. Pemaparan tentang Profil Puskesmas,
2. Pemaparan Manajemen Puskesmas
3. Cara Peningkatan Mutu Puskesmas,
4. Proses mereka menuju Akreditasi Puskesmas.
5. Bersedia dilanjutkan diskusi,
6. Bersedia lakukan tela'ah dokumen per-Bab Instrumen Akreditasi,
7. Bersedia visitasi lingkungan Puskesmas tersebut
“Masa lalu tidak akan bisa kita ubah
Masa depan belum terjadi”
“Hari ini bagian dari masa depan, maka pastikan hari ini kita memulai,
mengisi dan mengakhirinya dengan hal terbaik yang bisa kita kerjakan
Tidak ada hal yang sempurna di dunia ini, Setiap tempat memiliki kelebihan
dan kekurangan masing-masing, tugas kita adalah memperbaiki segala
kekurangan yang ada untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Sehingga harapan akan masa depan yang lebih baik akan selalu terbuka
lebar”

Sudahkah Puskesmas anda menggunakan "tapak kaki merah" dan "tapak kaki hijau" ??? Daripada jauh jauh
Kaji Banding, lebih baik simak foto foto "tapak kaki" di bawah ini... Jalur naik tangga atau jalur masuk di
tapak kaki hijau, jalur turun tangga atau keluar di tapak kaki merah... Ini foto di Puskesmas Ciracas
*SPM* (Standar Pelayanan Minimal) Bidang Kesehatan 2019...
Waspada lah para Kapus !!!!!
= = = Renungan menuju re Akreditasi
Permenkes No.4 Tahun 2019 Tentang Perubahan Juknis SPM dari Permenkes No.43 Tahun 2016, dengan
adanya sedikit tambahan sesuai pada Box Gambar Dibawah ini :
Jika kita bicara tentang Indikator SPM yang terdiri dari 12 Parameter Penilaian, maka akan kita dapati kata
kata : "Sesuai Standar" disetiap akhir kalimatnya.
Lalu, yang jadi bahan diskusi adalah : Dari setiap Hasil Monitoring & Evaluasi, kita sering mendapatkan
hampir semua diantara 12 Indikator yang ada selalu PASTI Nilai Cakupan nya adalah 100%...!
Benarkah Realitas nya demikian???
Dengan memberi nilai Layanan 100% tsb, sudahkah kita sebagai Nakes yang notabene nya adalah sebagai
Pemberi Layanan telah Memahami dengsn pasti apa saja Kriteria Layanan dari 12 Indikator yang ada tersebut
sudah sesuai dengan Standar???
Apa saja Kriteria standar nya?? Lalu apakah Masyarakat sebagai Penerima Layanan nya sdh mengetahui
bahwa mrka telah benar benar dilayani sesuai Standar???
Pernahkah ada Sosialisasi Intensif tentang Point per Point Jenis Layanan Sesuai Standar kepada
Masyarakat???
Atas dasar apa kita bisa memberi Nilai Cakupan 100% untuk setiap Indikator sedangkan si Penerima Layanan
benar benar dalam Posisi Pasif (alias tidak tau Standar yang harus mereka dapatkan).
Perlu diketahui, bahwa Cakupan Program sangat berbeda dengan Cakupan Indikator dalam SPM..
Seperti Contoh : Capaian Cakupan Program TB paru (TBC) salah satunya adalah Penemuan & Pengobatan
Penderita TB baru dengan hasil Pemeriksaan Bakteriologis Positif adalah >75%,
Maka belum tentu hasil SPM nya pun juga 75%, Karena Layanan bagi Penderita TB paru sesuai Standar
dalam SPM harus minimal penderita TB tsb telah menerima 3 jenis layanan selama proses pengobatan, antara
lain :
1. Penegakan Diagnosis secara Bakteriologis, Klinis dan Pemeriksaan Penunjang lainnya yang berkualitas,
2. Dilakukan Pemeriksaan Pemantauan Pengobatan 3x (Akhir Fase Intensif, Bulan ke-5 dan Akhir
Pengobatan)
3. Mendapatkan Obat Anti Tuberkulosis yang Berkualitas dan adekuat.
Contoh Lain :
Seorang Ibu Hamil bisa dikatakan telah menerima Layanan sesuai Standar dalam SPM apabila Minimal telah
diberikan Layanan Pemeriksaan terhadap 4 jenis layanan, yaitu :
1. Tes Kehamilan
2. Pemeriksaan Hb
3. Pemeriksaan Golongan Darah dan
4. Pemeriksaan Glukoprotein Urine.
Dari dua jenis Indikator itu saja, Mohon Maaf
Saya sangat tidak yakin kita semua telah melakukan semua sesuai standar.
Kekurangan SDM, Anggaran, Sarana dan Prasarana Penunjang Pemeriksaan/Diagnosis selalu menjadi Kisah
Klasik yang selalu menjadi kendala..
Padahal kita sudah tau bahwa SPM sekarang bukan lagi menjadi Rapor bagi Kinerja Kesehatan Saja, tapi telah
menjadi salah satu Rapor Kinerja seorang Kepala Daerah,
Sehingga Implikasinya adalah : Pemerintah WAJIB tau tentang SPM dan WAJIB memenuhi semua
Kebutuhan bagi terlaksananya Pelayanan Kesehatan yang berkualitas dan sesuai dengan standar standar
tersebut
Pernah dengar tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan?
Tahukah kamu, pelayanan #tuberkulosis termasuk pelayanan dasar kesehatan esensial yang harus diberikan
oleh pemerintah kabupaten/kota kepada masyarakat?
SPM dibentuk berdasarkan Undang-undang no 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan wajib
diimplementasikan melalui Permenkes
Pelayanan kesehatan orang terduga #TBC termasuk salah satu dari indikator SPM kesehatan.
Pengertian di atas menerangkan kalau semua warga Indonesia yang mengalami gejala #TBC perlu
mendapatkan pemeriksaan klinis, pemeriksaan penunjang jika dibutuhkan, edukasi tentang penyakit-
pengobatan-pencegahan TBC, dan dirujuk ke faskes tingkat lanjut bila diperlukan.
Apakah kamu atau orang di sekitarmu ada yang batuk-batuk sudah beberapa minggu? Belum sembuh juga
sudah minum obat batuk biasa? Yuk, gunakan hakmu, segera kunjungi Puskesmas untuk pemeriksaan TBC!
0

Rahasia Penerapan Upaya Peni0ngkatan Mutu Dan Keselamatan


Pasien (PMKP) Puskesmas...
Jurus :: "Ada 6 Sasaran Keselamatan Pasien Menuju re
AKREDiTASi Puskesmas"...
1. Kepastian Identifikasi Pasien
2. Peningkatan Komunikasi yang Efektif
3. Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai
4. Kepastian Tepat Lokasi, Tepat Prosedur dan Tepat Operasi
5. Pengurangan Resiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
6. Pengurangan Resiko Pasien Jatuh
Pada permenkes 11 tahun 2017 setiap fasilitas kesehatan wajib mengupayakan keselamatan pasien dengan
tujuan menyediakan sistem asuhan yang lebih aman denga ciri-cirinya yaitu assesment risiko, identifikasi dan
pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan dampak tindak
lanjutnya, implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera, dan
mencegah terjadinya cedera
Sasaran keselamatan pasien harus ditetapkan antara lain
(1) Ketika pasien datang harus dilakukan identifikasi pasien dengan benar, ketika memberikan tindakan,
memberikan obat, identifikasi pasien harus dilakukan dengan benar;
2) Komunikasi efektif dilakukan antara pemberi pelayanan dan pasien, juga komunikasi antar pemberi
pelayanan pada waktu konsultasi;
3) Meningkatkan keamanan obat yang harus di waspadai;
4) memastikan lokasi pembedahan, prosedur, dan pembedahan pada pasien yang benar;
5) Mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan;
6) Mengurangi risiko cedera pasien terjatuh dengan menggunakan skala risiko assesment
Pada pasal 5 ayat 1 jelas menjelaskan, setiap faskes wajib menyelenggarakan keselamatan pasien.
Jadi ini tidak bisa ditawar, wajib harus di laksanakan
Pada ayat 2, untuk menyelenggarakan keselamatan pasien perlu dibentuk standar keselamatan pasien, sasaran
keselamatan pasien dan tujuh langkah menuju keselamatan pasien.