Anda di halaman 1dari 39

CASE

Bell’s Palsy

Oleh

dr. Meirisa Rahma Pratiwi

Pendamping

dr. Zainab, M.Kes.

dr. Sylvia Agesti

Narasumber

Dr. Henry Sugiharto, Sp.S

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP

RS. PELABUHAN PALEMBANG

2019
Case

No. ID dan Nama dr. Meirisa Rahma Pratiwi


Peserta :
No. ID dan Nama Puskesmas Dempo Palembang
wahana:
Topik : Bells Palsy

Tanggal Kasus : 2 Oktober 2019

Nama Pasien : Ny. H Nomor RM : 025584

Tanggal Presentasi : 28/10/19 Pendamping : dr. Zainab, M.kes

Tempat Presentasi : RS Pelabuhan Palembang

Objektif Presentasi :

 Keilmuan  Keterampilan  Penyegaran  Tinjauan Pustaka

 Diagnostik  Manajemen  Masalah  Istimewa

 Neonatus  Bayi  Anak  Remaja  Dewasa  Lansia  Bumil

Deskripsi : Sejak 1 hari yang lalu, saat bangun tidur tiba-tiba os merasa kelopak
mata kanan sukar dipejamkan, keluar air dari mata kanan. Os juga
mengeluh mulut mengot ke sebelah kanan, os menjadi sulit mengunyah,
saat mengunyah air liur keluar dari sudut mulut kanan.
Tujuan : Mampu menegakan diagnosis Bell’s palsy serta melakukan penanganan
awal.
Bahan  Tinjauan  Riset  Kasus  Audit
Bahasan : Pustaka
Cara  Diskusi  Presentasi dan  Email  Pos
Membahas Diskusi
:

2
Data Nama : Ny.H/ 32 tahun No. Reg: 025584
Pasien
Nama Klinik : Puskesmas Dempo Telp : Terdaftar sejak :
02/10/2019
Data Utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis / Gambaran Klinis :
- Keluhan Utama: Mata sebelah kanan sukar dipejamkan
- Riwayat Perjalanan Penyakit: Autoanamnesis
Sejak 1 hari yang lalu, saat bangun tidur tiba-tiba os merasa kelopak
mata kanan sukar dipejamkan, mata perih dan keluar air dari mata kanan.
Os juga mengeluh mulut mengot ke sebelah kiri, os menjadi sulit
mengunyah, saat mengunyah air liur keluar dari sudut mulut kiri.
Os tidak pernah mengalami trauma kepala. Riwayat keluar cairan
berbau dari telinga kanan dan bengkak pada bagian belakang telinga kanan
tidak ada. Os tidak mengalami telinga kanan berdenging dan tidak
mengalami gangguan pendengaran pada telinga kanan.
Os mengaku beberapa hari yang lalu os baru pulang dari daerah
tempat tinggalnya yang menempuh jarak sekitar 1.5 jam menggunakan
sepeda motor tanpa menggunakan helm. Wajah os sebelah kanan setiap
malam terkena semburan angin dari kipas angin.
Penyakit ini dialami penderita untuk pertama kalinya.
2. Riwayat Pengobatan : -
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit :
- Riwayat penyakit sebelumnya disangkal
- Riwayat trauma disangkal
- Riwayat penyakit herpes zoster disangkal.
- Riwayat penyakit Hipertensi disangkal
- Riwayat penyakit penyakit jantung disangkal,
- Riwayat penyakit stroke disangkal
- Riwayat penyakit diabetes melitus disangkal.
4. Riwayat Keluarga :

3
- Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama disangkal
5. Riwayat Pekerjaan :
- Pasien seorang ibu rumah tangga
6. Riwayat Lingkungan Sosial dan Fisik :
Ny. H tinggal bersama suami dan 2 orang anak. Ny. H adalah ibu rumah
tangga. Sehari-hari Ny. H pergi mengantar anaknya ke sekolah menggunakan
sepeda motor tanpa menggunakan Helm. Ny H juga mengaku suka
menggunakan kipas angin saat tidur malam hingga pagi.
Lain lain
Status Generalisata
Kesadaran : E4M6V5
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Nadi : 84 kali/menit, irama regular, isi dan tegangan cukup
Pernafasan : 20 kali/menit
Suhu : 36,5oC
SpO2 : 100%
Tinggi Badan : 165 cm
Berat Badan : 60 kg
Status Lokalis
Kepala
Bentuk : normal
Ukuran : normocephali
- Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor
3mm/3mm, RC (+/+)
- Hidung : normal, simetris
- Telinga : normal, simetris
- Mulut : asimetris (deviasi)
- Wajah : Asimetris gerakan abnormal : tidak ada
Leher
JVP (5-2) cmH2O, pembesaran KGB tidak ada

4
Thoraks
a. Paru-paru
Inspeksi : Statis dan dinamis: simetris, kanan = kiri.
Palpasi : Stem fremitus kanan dan kiri simetris
Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
Auskultasi : Vesikuler (+) normal, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
b. Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis tidak teraba
Perkusi : Batas jantung atas: ICS II LPS sinistra, batas Jantung, batas
jantung kanan: ICS V LS dekstra, kiri: ICS V 2 jari medial LMC
sinistra
Auskultasi :HR 84 kali/menit, BJ I-II (+) normal, regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Datar, umbilikus tidak menonjol, lesi (-), skar (-), tonjolan massa -
Palpasi : Lemas, massa/ tumor (-), hepar, lien, dan ginjal tidak teraba.
Perkusi : Timpani, Shiffting dullnes (-), undulasi (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal, 4 kali/menit
Genitalia
Tidak diperiksa
Ekstremitas
Akral hangat (+), palmar pucat (-/-), edema pretibia (-/-)
Nervus Cranialis
N. Olfaktorius Kanan Kiri
Penciuman Tidak ada kelainan
Anosmia Tidak ada
Hiposmia Tidak ada
Parosmia Tidak ada

N. Optikus Kanan Kiri


Visus 6/15 6/15

5
Campus visi Luas Luas
Anopsia Tidak ada Tidak ada
Hemianopsia Tidak ada Tidak ada
Fundus Oculi
- Papil edema Tidak ada Tidak ada
- Papil atrofi Tidak ada Tidak ada
- Perdarahan retina Tidak ada Tidak ada

N. Occulomotorius, Trochlearis, & Kanan Kiri


Abducens
Diplopia Tidak ada
Celah mata Normal Normal
Ptosis Tidak ada Tidak ada
Sikap bola mata
- Strabismus Tidak ada Tidak ada
(-)
- Exophtalmus Tidak ada Tidak ada
(-) Tidak ada Tidak ada
- Enophtalmus Tidak ada Tidak ada
(-)
- Deviation conjugee
Bulat Bulat
Gerakan bola mata
3 mm 3 mm
Pupil
Isokor Isokor
- Bentuk
Tidak ada Tidak ada
- Diameter
- Isokor/anisokor
Ada Ada
- Midriasis/miosis
Ada Ada
- Refleks cahaya
Ada Ada
 Langsung
Tidak ada Tidak ada
 Konsensuil
 Akomodasi

6
- Argyl Robertson
N. Trigeminus Kanan Kiri
Motorik
- Menggigit Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
- Trismus Tidak ada Tidak ada
- Refleks kornea Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
Sensorik
- Dahi Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
- Pipi Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
- Dagu Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan

N. Fasialis Kanan Kiri


Motorik
- Mengerutkan dahi Datar Tidak ada kelainan
- Menutup mata Lagofthalmus (+) Tidak ada kelainan
- Menunjukkan gigi Sudut mulut tertinggal Tidak ada kelainan
- Lipatan nasolabialis Datar Tidak ada kelainan
- Bentuk muka Asimetris Asimetris
Sensorik
- 2/3 depan lidah Tidak ada kelainan Hipogeusia
Otonom
 Salivasi Hipersalivasi Tidak ada kelainan
 Lakrimasi Hiperlakrimasi Tidak ada kelainan
 Chvostek’s sign Negatif Negatif

N. Cochlearis Kanan Kiri


Suara bisikan Tidak ada kelainan
Detik arloji Tidak ada kelainan
Tes Weber Tidak ada lateralisasi
Tes Rinne (+) (+)

7
N. Vestibularis Kanan Kiri
Nistagmus Tidak ada Tidak ada
Vertigo Tidak ada Tidak ada

N. Glossopharingeus dan Kanan Kiri


N. Vagus
Arcus pharingeus Simetris
Uvula Di tengah
Gangguan menelan Tidak ada
Suara serak/sengau Tidak ada
Denyut jantung Tidak ada kelainan
Refleks
- Muntah Ada
- Batuk Ada
- Okulokardiak Tidak ada kelainan
- Sinus karotikus Tidak ada kelainan
Sensorik
- 1/3 belakang lidah Tidak ada kelainan
N. Accessorius Kanan Kiri
Mengangkat bahu Tidak ada kelainan
Memutar kepala Tidak ada kelainan
N. Hypoglossus Kanan Kiri

Menjulurkan lidah Tidak ada deviasi lidah


Fasikulasi Tidak ada Tidak ada
Atrofi papil Tidak ada Tidak ada
Disatria Tidak ada
Status Neurologis:
• Motorik : Aktif seluruh ekstremitas
• Tonus : normal
• Refleks fisiologis : normal

8
• Refleks primitif :-

Pemeriksaan penunjang
-

Daftar Pustaka :
1. 1. Dorland, W.A. Newman. 2011. Dorland’s Pocket Medical Dictionary. 28th
edition. Elsevier. Singapore. Terjemahan A.A. Mahode. 2012. Kamus Saku
Kedokteran Dorland. Edisi 28. EGC. Jakarta.
2. Paulsen, F. dan Waschke. 2010. Sobotta: Altas der Anatomie des Menschen Kopf,
hals, und Neuroanatomie. Book 3. 23th edition. Elsevier GmbH. Munchen.
Terjemahan Pendit, U., Hartanto, H., Nugroho, A., Ramadhani, D., dan Diani, A.
2013. Sobotta Atlas Anatomi Manusia Kepala, Leher, dan Neuroanatomi. Jilid 3.
Edisi 23. EGC. Jakarta. Hal 307-311.
3. Snell, S. Richard. 2008. Clinical Anatomy by Systems. Lippincott Williams
&Wilkins. USA. Terjemahan Suwahjo, Ardy dan Yohanes Antoni. 2011.
Anatomi Klinis Berdasarkan Sistem. EGC. Jakarta. Hal.527-529.
4. Netter F.H : The Ciba Collection of Medical Collection, vol 1, Nervous Systems,
Part II, Neurologic and Neuromusculer Disorders, Ciba Geigy, USA,1986, page:
102 –104
5. Lowis, Handoko dan Maula N. Gaharu. 2012. Bell’s Palsy, Diagnosis dan Tata
Laksana di Pelayanan Primer dalam Artikel Pengembangan Pendidikan
Keprofesian Berkelanjutan (P2KB). Journal Indonesia Medical Associations
62(1): 32-37.
6. Mujaddidah, Nur. 2017. Tinjauan Anatomi Klinik dan Manajemen Bell’s Palsy.
Qanun Medika vol. I no. 2. Surabaya.
7. Konsil Kedokteran Indonesia. 2012. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Edisi
ke-2. Penerbit Konsil Kedokteran Indonesia. Jakarta.
8. Monkhouse, S. 2006. Cranial Nerves: Functional Anatomy. Cambridge
University Press. New York.

9
9. Ronthal, M., Shefner, J.M., Dashe, J.F.2012. Bell’s palsy: Pathogenesis, Clinical
Features, and Diagnosis in Adults.
10. Baugh, Reginald, Gregory J. Basura, Lisa E. Ishii, Seth R. Schwartz, Caitlin
Murray Drumheller, Rebecca Burkholder, Nathan A. Deckard, Cindy Dawson,
Colin Driscoll, M. Boyd Gillespie, Richard K. Gurgel, John Halperin, Ayesha N.
Khalid, Kaparaboyna Ashok Kumar, Alan Micco, Debra Munsell, Steven
Rosenbaum, dan William Vaughan. 2013. Clinical Practice Guideline: Bell’s
Palsy. Otolaryngology–Head and Neck Surgery Journal 149(3S): S1–S27.
11. Holland NJ, Weiner GM. 2004. Clinical review: Recent developments in Bell’s
palsy. BMJ 329:553–7.
12. Ramsey MJ, DerSimonian R, Holtel MR, Burgess LPA. 2000. Corticosteroid
Treatment for Idiopathic Facial Nerve Paralysis: A Meta-analysis. Laryngoscope
110:335–341.
13. Somasundara, Dhruvashree., dan Frank Sullivan. 2017. Management of Bell’s
Palsy. Australian Prescriber 40(3): 94-96.
14. Zhao, Yang., Guodong feng, dan Zhiqiang Gao. 2015. Advances in Diagnosis and
Non-Surgical Treatment of Bell’s Palsy. Journal of Otology 10(2015): 7-12.de
Almeida, John R., Gordon H. Guyatt, Sachin Sud, Joanne Dorion, Michael D.
Hill, Michael R. Kolber, Jane Lea, Sylvia Loong Reg, Balvinder K. Somogyi,
Brian D. Westerberg, Chris White, dan Joseph M. Chen. 2014. Management of
Bell Palsy: Clinical Practice Guideline. CMAJ 186(2): 917-922.
Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis Bells Palsy
2. Mekanisme perjalanan penyakit Bells Palsy
3. Penanganan Bells Palsy di Puskesmas Dempo Palembang

Subjektif :
- Sejak 1 hari yang lalu, saat bangun tidur tiba-tiba os merasa kelopak mata kanan sukar
dipejamkan, mata perih dan keluar air dari mata kanan. Os juga mengeluh mulut

10
mengot ke sebelah kiri, os menjadi sulit mengunyah, saat mengunyah air liur keluar
dari sudut mulut kiri.
- Os tidak pernah mengalami trauma kepala. Riwayat keluar cairan berbau dari telinga
kanan dan bengkak pada bagian belakang telinga kanan tidak ada. Os tidak mengalami
telinga kanan berdenging dan tidak mengalami gangguan pendengaran pada telinga
kanan.
- Os mengaku beberapa hari yang lalu os baru pulang dari daerah tempat tinggalnya
yang menempuh jarak sekitar 1.5 jam menggunakan sepeda motor tanpa
menggunakan helm. Wajah os sebelah kanan setiap malam terkena semburan angin
dari kipas angin.
- Penyakit ini dialami penderita untuk pertama kalinya.
Objektif :
Status Generalisata
Kesadaran : E4M6V5
Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Nadi : 84 kali/menit, irama regular, isi dan tegangan cukup
Pernafasan : 20 kali/menit
Suhu : 36,5oC
SpO2 : 100%
Tinggi Badan : 165 cm
Berat Badan : 60 kg
Status Lokalis
Kepala
Bentuk : normal
Ukuran : normocephali
- Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor 3mm/3mm,
RC (+/+)
- Hidung : normal, simetris
- Telinga : normal, simetris
- Mulut : asimetris (deviasi)
- Wajah : Asimetris gerakan abnormal : tidak ada

11
Leher
JVP (5-2) cmH2O, pembesaran KGB tidak ada
Thoraks
a. Paru-paru
Inspeksi : Statis dan dinamis: simetris, kanan = kiri.
Palpasi : Stem fremitus kanan dan kiri simetris
Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
Auskultasi : Vesikuler (+) normal, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
b. Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis tidak teraba
Perkusi : Batas jantung atas: ICS II LPS sinistra, batas Jantung, batas jantung
kanan: ICS V LS dekstra, kiri: ICS V 2 jari medial LMC sinistra
Auskultasi :HR 84 kali/menit, BJ I-II (+) normal, regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Datar, umbilikus tidak menonjol, lesi (-), skar (-), tonjolan massa -
Palpasi : Lemas, massa/ tumor (-), hepar, lien, dan ginjal tidak teraba.
Perkusi : Timpani, Shiffting dullnes (-), undulasi (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal, 4 kali/menit
Genitalia
Tidak diperiksa
Ekstremitas
Akral hangat (+), palmar pucat (-/-), edema pretibia (-/-)
Nervus Cranialis
N. Olfaktorius Kanan Kiri
Penciuman Tidak ada kelainan
Anosmia Tidak ada
Hiposmia Tidak ada
Parosmia Tidak ada

N. Optikus Kanan Kiri

12
Visus 6/15 6/15
Campus visi Luas Luas
Anopsia Tidak ada Tidak ada
Hemianopsia Tidak ada Tidak ada
Fundus Oculi
- Papil edema Tidak ada Tidak ada
- Papil atrofi Tidak ada Tidak ada
- Perdarahan retina Tidak ada Tidak ada

N. Occulomotorius, Trochlearis, & Kanan Kiri


Abducens
Diplopia Tidak ada
Celah mata Normal Normal
Ptosis Tidak ada Tidak ada
Sikap bola mata
- Strabismus Tidak ada Tidak ada
(-)
- Exophtalmus Tidak ada Tidak ada
(-) Tidak ada Tidak ada
- Enophtalmus Tidak ada Tidak ada
(-)
- Deviation conjugee
Bulat Bulat
Gerakan bola mata
3 mm 3 mm
Pupil
Isokor Isokor
- Bentuk
Tidak ada Tidak ada
- Diameter
- Isokor/anisokor
Ada Ada
- Midriasis/miosis
Ada Ada
- Refleks cahaya
Ada Ada
 Langsung
Tidak ada Tidak ada
 Konsensuil

13
 Akomodasi
- Argyl Robertson
N. Trigeminus Kanan Kiri
Motorik
- Menggigit Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
- Trismus Tidak ada Tidak ada
- Refleks kornea Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
Sensorik
- Dahi Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
- Pipi Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan
- Dagu Tidak ada kelainan Tidak ada kelainan

N. Fasialis Kanan Kiri


Motorik
- Mengerutkan dahi Datar Tidak ada kelainan
- Menutup mata Lagofthalmus (+) Tidak ada kelainan
- Menunjukkan gigi Sudut mulut tertinggal Tidak ada kelainan
- Lipatan nasolabialis Datar Tidak ada kelainan
- Bentuk muka Asimetris Asimetris
Sensorik
- 2/3 depan lidah Tidak ada kelainan Hipogeusia
Otonom
 Salivasi Hipersalivasi Tidak ada kelainan
 Lakrimasi Hiperlakrimasi Tidak ada kelainan
 Chvostek’s sign Negatif Negatif

N. Cochlearis Kanan Kiri


Suara bisikan Tidak ada kelainan
Detik arloji Tidak ada kelainan
Tes Weber Tidak ada lateralisasi
Tes Rinne (+) (+)

14
N. Vestibularis Kanan Kiri
Nistagmus Tidak ada Tidak ada
Vertigo Tidak ada Tidak ada

N. Glossopharingeus dan Kanan Kiri


N. Vagus
Arcus pharingeus Simetris
Uvula Di tengah
Gangguan menelan Tidak ada
Suara serak/sengau Tidak ada
Denyut jantung Tidak ada kelainan
Refleks
- Muntah Ada
- Batuk Ada
- Okulokardiak Tidak ada kelainan
- Sinus karotikus Tidak ada kelainan
Sensorik
- 1/3 belakang lidah Tidak ada kelainan
N. Accessorius Kanan Kiri
Mengangkat bahu Tidak ada kelainan
Memutar kepala Tidak ada kelainan
N. Hypoglossus Kanan Kiri

Menjulurkan lidah Tidak ada deviasi lidah


Fasikulasi Tidak ada Tidak ada
Atrofi papil Tidak ada Tidak ada
Disatria Tidak ada
Status Neurologis:
• Motorik : Aktif seluruh ekstremitas
• Tonus : normal
• Refleks fisiologis : normal

15
• Refleks primitif :-

Pemeriksaan penunjang
-
Assesment :
- Sejak 1 hari yang lalu, saat bangun tidur tiba-tiba os merasa kelopak mata kanan
sukar dipejamkan, mata perih dan keluar air dari mata kanan. Os juga mengeluh
mulut mengot ke sebelah kiri, os menjadi sulit mengunyah, saat mengunyah air
liur keluar dari sudut mulut kiri.
- Os tidak pernah mengalami trauma kepala. Riwayat keluar cairan berbau dari
telinga kanan dan bengkak pada bagian belakang telinga kanan tidak ada. Os tidak
mengalami telinga kanan berdenging dan tidak mengalami gangguan
pendengaran pada telinga kanan.
- Os mengaku beberapa hari yang lalu os baru pulang dari daerah tempat tinggalnya
yang menempuh jarak sekitar 1.5 jam menggunakan sepeda motor tanpa
menggunakan helm. Wajah os sebelah kanan setiap malam terkena semburan
angin dari kipas angin.
- Penyakit ini dialami penderita untuk pertama kalinya.
- Dari Pemeriksaan fisik didapatkan dahi kanan datar, lagoftalmus + dimata kanan,
sekresi air mata kanan meningkat, mulut mengot ke sebelah kiri, lipatan
nasolabialis sebelah kanan datar, hipogeusia, dan hipersalivasi.
Kesimpulan :
Os dicurigai menderita Bells Palsy
Plan :
Diagnosis : Bells Palsy
Nonfarmakologi:
Edukasi:
 Kompres air hangat tiap pagi dan sore hari selama 10-15 menit
 Disarankan untuk tidak tidur di lantai, saat tidur menggunakan penutup mata,
jangan menggunakan kipas angin langsung menerpa wajah

16
 Disarankan menghindari paparan debu dan angin ke mata kiri secara langsung
dan tidak lupa menggunakan obat tetes mata
 Pasien diajarkan untuk melatih gerakan-gerakan di depan kaca (mirror exercise)
 Saat keuar malam disarankan menggunakan helm full face dengan kaca tertutup
serta memakai selayer atau masker
Farmakologi:
 Prednison 60 mg per hari untuk 5 hari
 Mecobalamin 3x1

Peserta Pendamping 1: Pendamping 2:

dr. Meirisa Rahma P dr. Zainab, M.Kes dr. Sylvia Agestie

Narasumber:

dr. Henry Sugiharto, Sp.S

17
TINJAUAN PUSTAKA

BELL’S PALSY
Definisi
Bell’s Palsy pertama sekali dideskripsikan pada tahun 1821 oleh seorang anatomis
dan dokter bedah bernama Sir Charles Bell. Bell’s Palsy merupakan suatu kelumpuhan atau
kelemahan saraf perifer wajah secara akut pada sisi sebelah wajah. Sejak saat itu semua
kelumpuhan N. Fasialis perifer yang tidak diketahui sebabnya disebut Bell’s Palsy. Lima
kemungkinan (hipotesis) penyebab Bell’s palsy, yaitu iskemik vaskular, virus, bakteri,
herediter, dan imunologi. Hipotesis virus lebih banyak dibahas sebagai etiologi penyakit
ini. Sebuah penelitian mengidentifikasi genom virus herpes simpleks (HSV) di ganglion
genikulatum seorang pria usia lanjut yang meninggal enam minggu setelah mengalami
Bell’s palsy.5

Gambar 1. Istilah dan Definisi Terminologi Umum 5

Epidemiologi
Bell’s Palsy merupakan penyebab paralisis fasialis yang paling sering ditemukan,
yaitu sekitar 75% dan seluruh paralisis fasialis. Insiden bervariasi di berbagai negara di
seluruh dunia. Perbedaan insidensi ini tergantung pada kondisi geografis masing- masing
negara. Insiden tahunan yang telah dilaporkan berkisar 11-40 kasus per 100.000 populasi.
Puncak insiden terjadi antara dekade kedua dan keempat (15-45 tahun). Tidak dijumpai
perbedaan prevalensi dalam jenis kelamin. Insiden meningkat tiga kali lebih besar pada
wanita hamil (45 kasus per 100.000). Menurut Finsterer (2008) sebanyak 5-10% kasus

18
Bell’s Palsy adalah penderita diabetes mellitus. Bell’s Palsy jarang ditemukan pada anak-
anak < 2 tahun. Tidak ada perbedaan pada sisi kanan dan kiri wajah, paralisis saraf fasialis
bilateral dapat terjadi dengan prevalensi 0,3- 2%. Risiko terjadinya rekurensi dilaporkan
sekitar 8-12% kasus, dengan 36% pada sisi yang sama dan 64% pada sisi yang berlawanan
(Tiemstra dkk, 2007; Kanerva 2008). Adanya riwayat keluarga yang positif diperkirakan
pada 4-14% kasus Bell’s Palsy. Suatu studi epidemiologi yang dilakukan oleh Monini dkk
(2010) terhadap 500.000 penduduk di satu wilayah di Roma ltalia selama 2 tahun, telah
rnenemukan jumlah pasien Bell’s palsy sebanyak 381 orang dengan insiden kumulatif
sebesar 53,3 kasus pertahun.5

Etiologi
Terdapat lima teori yang kemungkinan menyebabkan terjadinya Bell’s palsy, yaitu
iskemik vaskular, virus, bakteri, herediter, dan imunologi. Teori virus lebih banyak dibahas
sebagai etiologi penyakit ini. Mekanisme pasti yang terjadi akibat infeksi ini yang
menyebabkan penyakit belum diketahui. Inflamasi dan edema diduga muncul akibat
infeksi. Nervus fasialis yang berjalan melewati terowongan sempit menjadi terjepit karena
edema ini dan menyebabkan kerusakan saraf tersebut baik secara sementara maupun
permanen. Virus yang menyebabkan infeksi ini diduga adalah herpes simpleks. Beberapa
kasus Bell’s palsy disebabkan iskemia oleh karena diabetes dan aterosklerosis. Hal ini
mungkin menjelaskan insiden yang meningkat dari Bell’s palsy pada pasien tua. Kelainan
ini analog dengan mononeuropati iskemik pada saraf kranialis lain pada pasien diabetes.5

Patofisiologi
Saraf fasialis keluar dari otak di angulus ponto-cerebelaris memasuki meatus
akustikus internus. Saraf selanjutnya berada di dalam kanalis fasialis memberikan cabang
untuk ganglion pterygopalatina sedangkan cabang kecilnya kemuskulus stapedius dan
bergabung dengan korda timpani. Pada bagian awal dari kanalis fasialis, segmen labirin
merupakan bagian yang tersempit yang dilewati saraf fasialis. Foramen meatal pada
segmen ini hanya memiliki diameter sebesar 0,66 mm. Otot-otot wajah diinervasi saraf
fasialis. Kerusakan pada saraf fasialis di meatus akustikus internus (karena tumor), di
telinga tengah (karena infeksi atau operasi), di kanalis fasialis (perineuritis, Bell’s palsy)
atau di kelenjar parotis (karena tumor) akan menyebabkan distorsi wajah, dengan
penurunan kelopak mata bawah dan sudut mulut pada sisi wajah yang terkena. Ini terjadi
pada lesi lower motor neuron (LMN). Lesi upper motor neuron (UMN) akan menunjukkan
bagian atas wajah tetap normal karena saraf yang menginnervasi bagian ini menerima serat

19
kortikobulbar dari kedua korteks serebral (Snell, 2012). Murakami, dkk menggunakan
teknik reaksi rantai polimerase untuk mengamplifikasi sekuens genom virus, dikenal
sebagai HSV tipe 1 di dalam cairan endoneural sekeliling saraf ketujuh pada 11 sampel
dari 14 kasus Bell’s Palsy yang dilakukan dekompresi pembedahan pada kasus yang berat.
Murakami, dkk menginokulasi HSV dalam telinga dan lidah tikus yang menyebabkan
paralisis pada wajah tikus tersebut. Antigen virus tersebut kemudian ditemukan pada saraf
fasialis dan ganglion genikulatum. Dengan adanya temuan ini, istilah paralisis fasialis
herpes simpleks atau herpetika dapat diadopsi. Gambaran patologi dan mikroskopis
menunjukkan proses demielinisasi, edema, dan gangguan vaskular saraf.5

Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis Bell’s palsy dapat berbeda tergantung lesi pada perjalanan saraf
fasialis. Bila lesi di foramen stylomastoideus, dapat terjadi gangguan komplit yang
menyebabkan paralisis semua ototekspresi wajah. Saat menutup kelopak mata, kedua
matamelakukan rotasi ke atas (Bell’s phenomenon). Selain itu,mata dapat terasa berair
karena aliran air mata ke sakuslakrimalis yang dibantu muskulus orbikularis okuli
terganggu. Manifestasi komplit lainnya ditunjukkan dengan makanan yang tersimpan
antara gigi dan pipi akibat gangguan gerakan wajah dan air liur keluar dari sudut mulut.
Lesi di kanalis fasialis (di atas persimpangan dengan korda timpani tetapi di bawah
ganglion genikulatum) akan menunjukkan semua gejala seperti lesi di foramen
stylomastoid ditambah pengecapan menghilang pada dua per tiga anterior lidah pada sisi
yang sama. Lesi yang terjadi di saraf yang menuju ke muskulus stapedius dapat
mengakibatkan hiperakusis (sensitivitas nyeri terhadapsuara keras). Selain itu, lesi pada
ganglion genikulatum akan menimbulkan lakrimasi dan berkurangnya salivasi sertadapat
melibatkan saraf kedelapan. Pasien dengan Bell’s palsy juga dapat mengalami mata dan
mulut yang kering, kehilangan atau gangguan rasa (taste), hiperakusis dan penurunan
(sagging) kelopak mata atau sudut mulut.5

Klasifikasi
Skala House-Brackmann yang telah dimodifikasi (1985) merupakan alat
klinis yang digunakan untuk menilai derajat kelumpuhan N. fascialis dan untuk
memprediksi kemungkinan penyembuhan. Skala ini menilai manifestasi klinis pada
wajah dan kesimetrisannya, baik saat istirahat maupun saat beraktifitas. Skala
berada pada nilai 1 sampai 6, dengan skala tertinggi menunjukkan kelemahan total.

20
Pasien dengan pergerakan wajah yang masih dapat diobservasi dan parese
inkomplit di harapakan memiliki penyembuhan yang baik. Pasien dengan Skor
House-Brackmann 6 mungkin akan memiliki masa penyembuhan yang memanjang
dan inkomplit.10
Sistem Grading Fascial Sunnybrook, Sistem Grading Yanagihara, dan Sistem
Grading Sydney mungkin dapat digunakan sebagai alternatif Skala House-
Brackmann yang memiliki reliabilitas hampir sama, meskipun dilaporkan bahwa
penggunaan sistem grading tersebut sangat bervariasi. Skala House-Brackmann
merupakan sistem grading yang saat ini paling sering digunakan untuk menilai
kelemahan N. fascialis.10

Gambar 2. Sistem Grading Nervus Fascialis House-Brackmann 10

Diagnosis Banding
Diagnosis banding paralisis fasialis dapat dibagi menurut lokasi lesi sentral
dan perifer. Kelainan sentral dapat merupakan stroke bila disertai kelemahan
anggota gerak sisi yang sama dan ditemukan proses patologis di hemisfer serebri
kontralateral; kelainan tumor apabila onset gradual dan disertai perubahan mental

21
status atau riwayat kanker di bagian tubuh lainnya; sklerosis multipel bila disertai
kelainan neurologis lain seperti hemiparesis atau neuritis optika; dan trauma bila
terdapat fraktur os temporalis pars petrosus, basis kranii, atau terdapat riwayat
trauma sebelumnya.5
Kelainan perifer yang ditemukan dapat merupakan suatu otitis media
supuratif dan mastoiditis apabila terjadi reaksi radang dalam kavum timpani dan
foto mastoid menunjukkan suatu gambaran infeksi; herpes zoster otikus bila
ditemukan adanya tuli perseptif, tampak vesikel yang terasa amat nyeri di pinna
dan/atau pemeriksaan darah menunjukkan kenaikan titer antibodi virus varicella-
zoster; sindroma Guillain-Barre saat ditemukan adanya paresis bilateral dan akut;
kelainan miastenia gravis jika terdapat tanda patognomonik berupa gangguan gerak
mata kompleks dan kelemahan otot orbikularis okuli bilateral; tumor serebello-
pontin (tersering) apabila disertai kelainan nervus kranialis V dan VIII; tumor
kelenjar parotis bila ditemukan massa di wajah (angulus mandibula); dan
sarcoidosis saat ditemukan tanda-tanda febris, perembesan kelenjar limfe hilus,
uveitis, parotitis, eritema nodosa, dan kadang hiperkalsemia.5

22
Gambar 3. Etiologi dan manifestasi klinis dari kelemahan saraf fascial 10

Penegakkan Diagnosis
Diagnosis Bell’s Palsy ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan penunjang, yaitu sebagai berikut:
Anamnesis
Berdasarkan letak lesi, manifestasi klinis Bell’s palsy dapat berbeda. Bila lesi
di foramen stylomastoid, dapat terjadi gangguan komplit yang menyebabkan
paralisis semua otot ekspresi wajah. Saat menutup kelopak mata, kedua mata
melakukan rotasi ke atas (Bell’s phenomenon). Selain itu, mata dapat terasa berair
karena aliran air mata ke sakus lakrimalis yang dibantu muskulus orbikularis okuli
terganggu. Manifestasi komplit lainnya ditunjukkan dengan makanan yang

23
tersimpan antara gigi dan pipi akibat gangguan gerakan wajah dan air liur keluar
dari sudut mulut.5
Lesi di kanalis fasialis (di atas persimpangan dengan korda timpani tetapi di
bawah ganglion genikulatum) akan menunjuk semua gejala seperti lesi di foramen
stylomastoid ditambah pengecapan menghilang pada dua per tiga anterior lidah
pada sisi yang sama.5
Bila lesi terdapat di saraf yang menuju ke muskulus stapedius dapat terjadi
hiperakusis (sensitivitas nyeri terhadap suara keras). Selain itu, lesi pada ganglion
genikulatum akan menimbulkan lakrimasi dan berkurangnya salivasi serta dapat
melibatkan saraf kedelapan.5
Pemeriksaan Fisik
Paralisis fasialis mudah didiagnosis dengan pemeriksaan fisik yang lengkap
untuk menyingkirkan kelainan sepanjang perjalanan saraf dan kemungkinan
penyebab lain. Adapun pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan gerakan
dan ekspresi wajah. Pemeriksaan ini akan menemukan kelemahan pada seluruh
wajah sisi yang terkena. Kemudian, pasien diminta menutup mata dan mata pasien
pada sisi yang terkena memutar ke atas.5
Bila terdapat hiperakusis, saat stetoskop diletakkan pada telinga pasien maka
suara akan terdengar lebih jelas pada sisi cabang muskulus stapedius yang paralisis.
Tanda klinis yang membedakan Bell’s palsy dengan stroke atau kelainan yang
bersifat sentral lainnya adalah tidak terdapatnya kelainan pemeriksaan saraf
kranialis lain, motorik dan sensorik ekstremitas dalam batas normal, dan pasien
tidak mampu mengangkat alis dan dahi pada sisi yang lumpuh.5

24
Gambar 4. Manifestasi klinis Bell’s palsy 13

Pemeriksaan Penunjang
Bell’s palsy merupakan diagnosis klinis sehingga pemeriksaan penunjang
perlu dilakukan untuk menyingkirkan etiologi sekunder dari paralisis saraf
kranialis. Pemeriksaan radiologis dengan CT-scan atau radiografi polos dapat
dilakukan untuk menyingkirkan fraktur, metastasis tulang, dan keterlibatan sistem
saraf pusat (SSP). Pemeriksaan MRI dilakukan pada pasien yang dicurigai
neoplasma di tulang temporal, otak, glandula parotis, atau untuk mengevaluasi
sklerosis multipel. Selain itu, MRI dapat memvisualisasi perjalanan dan
penyengatan kontras saraf fasialis.5
Pemeriksaan neurofisiologi pada Bells palsy sudah dikenal sejak tahun 1970-
sebagai prediktor kesembuhan, bahkan dahulu sebagai acuan pada penentuan
kandidat tindakan dekompresi intrakanikular. Grosheva et al melaporkan
pemeriksaan elektromiografi (EMG) mempunyai nilai prognostik yang lebih baik
dibandingkan elektroneurografi (ENG). Pemeriksaan serial EMG pada penelitian
tersebut setelah hari ke-15 mempunyai positive-predictivevalue (PPV) 100% dan
negative-predictive-value (NPV) 96%. Spektrum abnormalitas yang didapatkan

25
berupa penurunan amplitudo Compound Motor Action Potential (CMAP),
pemanjangan latensi saraf fasialis, serta pada pemeriksaan blink reflex didapatkan
pemanjangan gelombang R1 ipsilateral. Pemeriksaan blink reflex ini sangat
bermanfaat karena 96% kasus didapatkan abnormalitas hingga minggu kelima,
meski demikian sensitivitas pemeriksaan ini rendah. Abnormalitas gelombang R2
hanya ditemukan pada 15,6% kasus.5

Gambar 5. Waktu dan Interpretasi Pemeriksaan Penunjang N. fascialis 14

Penatalaksanaan
Peran dokter umum sebagai lini terdepan pelayanan primer berupa
identifikasi dini dan merujuk ke spesialis saraf (jika tersedia) apabila terdapat
kelainan lain pada pemeriksaan neurologis yang mengarah pada penyakit yang
menjadi diagnosis banding Bell’s palsy. Jika tidak tersedia, dokter umum dapat
menentukan terapi selanjutnya setelah menyingkirkan diagnosis banding lain.
Terapi yang diberikan dokter umum dapat berupa kombinasi non-farmakologis dan
farmakologis seperti dijelaskan di bawah ini.5

26
Gambar 6. Rekomendasi Tatalaksana Bell’s Palsy 15

Terapi Non-farmakologis
Kornea mata memiliki risiko mengering dan terpapar benda asing.
Proteksinya dapat dilakukan dengan penggunaan air mata buatan (artificial tears),
pelumas (saat tidur), kaca mata, plester mata, penjahitan kelopak mata atas, atau
tarsorafi lateral (penjahitan bagian lateral kelopak mata atas dan bawah).5
Masase dari otot yang lemah dapat dikerjakan secara halus dengan
mengangkat wajah ke atas dan membuat gerakan melingkar. Tidak terdapat bukti
adanya efektivitas dekompresi melalui pembedahan saraf fasialis, namun tindakan
ini kadang dilakukan pada kasus yang berat dalam 14 hari onset.5
Rehabilitasi fasial secara komprehensif yang dilakukan dalam empat bulan
setelah onset terbukti memperbaiki fungsi pasien dengan paralisis fasialis. Namun,
diketahui pula bahwa 95% pasien sembuh dengan pengobatan prednison dan
valasiklovir tanpa terapi fisik.13 Rehabilitasi fasial meliputi edukasi, pelatihan
neuro-muskular, masase, meditasirelaksasi, dan program pelatihan di rumah.
Terdapat empat kategori terapi yang dirancang sesuai dengan keparahan penyakit,
yaitu kategori inisiasi, fasilitasi, kontrol gerakan, dan relaksasi.5

27
Kategori inisiasi ditujukan pada pasien dengan asimetri wajah sedang-berat
saat istirahat dan tidak dapat memulai gerakan pada sisi yang lumpuh. Strategi yang
digunakan berupa masase superfisial disertai latihan gerak yang dibantu secara aktif
sebanyak 10 kali yang dilakukan 1-2 set per hari dan menghindari gerakan wajah
berlebih.5
Sementara itu, kategori fasilitasi ditujukan pada pasien dengan asimetri wajah
ringan-sedang saat istirahat, mampu menginisiasi sedikit gerakan dan tidak terdapat
sinkinesis. Strategi yang digunakan berupa mobilisasi jaringan lunak otot wajah
yang lebih agresif dan reedukasi neuromuskular di depan kaca (feedback visual)
dengan melakukan gerakan ekspresi wajah yang lambat, terkontrol, dan bertahap
untuk membentuk gerakan wajah yang simetris. Latihan ini dilakukan sebanyak
minimal 20-40 kali dengan 2-4 set per hari.5
Berikutnya adalah kategori kontrol gerakan yang ditujukan pada pasien
dengan simetri wajah ringan-sedang saat istirahat, masih mampu menginisiasi
sedikit gerakan, dan terdapat sinkinesis. Strategi yang digunakan berupa mobilisasi
jaringan lunak dalam otot wajah dengan agresif, reedukasi neuromuskular di depan
kaca seperti kategori fasilitasi, namun secara simultan mengontrol gerakan
sinkinesis pada bagian wajah lainnya, dan disertai inisiasi strategi meditasi-
relaksasi.5
Kategori terakhir adalah relaksasi yang ditujukan pada pasien dengan
kekencangan seluruh wajah yang parah karena sinkinesis dan hipertonisitas.
Strategi yang digunakan berupa mobilisasi jaringan lunak dalam otot wajah dengan
agresif, reedukasi neuromuskular di depan kaca, dan fokus pada strategi meditasi-
relaksasi yaitu meditasi dengan gambar visual atau audio difokuskan untuk
melepaskan ketegangan pada otot yang sinkinesis. Latihan ini cukup dilakukan 1-2
kali per hari.5
Bila setelah menjalani 16 minggu latihan otot tidak mengalami perbaikan,
pasien dengan asimetri dan sinkinesis perlu dipertimbangkan untuk menjalani
kemodenervasi untuk memperbaiki kualitas hidupnya, baik gerakan, fungsi sosial,
dan ekspresi emosi wajah. Pada keadaan demikian perlu dikonsultasikan ke bagian
kulit atau bedah plastik.5

28
Konsultasi ke bagian lain, seperti Telinga Hidung Tenggorok dan kardiologi
perlu dipertimbangkan apabila terdapat kelainan pemeriksaan aufoskop atau
pembengkakan glandula parotis dan hipertensi secara berurutan pada pasien.5
Dekompresi melalui pembedahan dianjurkan sebagai terapi akut Bell palsy
yang didasari oleh hipotesis pembengkakan neuronal pada tulang temporal
berperanan dalam trauma kompresi saraf. Namun, masih sedikit data mengenai hal
ini. Penanganan ini bersifat invasif dan memiliki risiko kehilangan pendengaran
yang permanen.5

2.1.1.1. Terapi Farmakologis


Inflamasi dan edema saraf fasialis merupakan penyebab paling mungkin
dalam patogenesis Bell’s palsy. Penggunaan steroid dapat mengurangi
kemungkinan paralisis permanen dari pembengkakan pada saraf di kanalis fasialis
yang sempit. Steroid, terutama prednisolon yang dimulai dalam 72 jam dari onset,
harus dipertimbangkan untuk optimalisasi hasil pengobatan. Dosis pemberian
prednison (maksimal 4060 mg/hari) dan prednisolon (maksimal 70 mg) adalah 1
mg per kg per hari peroral selama enam hari diikuti empat hari tappering off.5
Efek toksik dan hal yang perlu diperhatikan pada penggunaan steroid jangka
panjang (lebih dari 2 minggu) berupa retensi cairan, hipertensi, diabetes, ulkus
peptikum, osteoporosis, supresi kekebalan tubuh (rentan terhadap infeksi), dan
Cushing syndrome.5
Ditemukannya genom virus di sekitar saraf ketujuh menyebabkan preparat
antivirus digunakan dalam penanganan Bell’s palsy. Namun, beberapa percobaan
kecil menunjukkan bahwa penggunaan asiklovir tunggal tidak lebih efektif
dibandingkan kortikosteroid. Penelitian retrospektif Hato et al mengindikasikan
bahwa hasil yang lebih baik didapatkan pada pasien yang diterapi dengan asiklovir/
valasiklovir dan prednisolon dibandingkan yang hanya diterapi dengan
prednisolon.1
Axelsson et al juga menemukan bahwa terapi dengan valasiklovir dan
prednison memiliki hasil yang lebih baik. Almeida et al menemukan bahwa
kombinasi antivirus dan kortikosteroid berhubungan dengan penurunan risiko batas

29
signifikan yang lebih besar dibandingkan kortikosteroid saja. Data-data ini
mendukung kombinasi terapi antiviral dan steroid pada 48-72 jam pertama setelah
onset.5
Namun, hasil analisis Cochrane 2009 pada 1987 pasien dan Quant et al
dengan 1145 pasien menunjukkan tidak adanya keuntungan signifikan penggunaan
antiviral dibandingkan plasebo dalam hal angka penyembuhan inkomplit dan tidak
adanya keuntungan yang lebih baik dengan penggunaan kortikosteroid ditambah
antivirus dibandingkan kortikosteroid saja. Studi lebih lanjut diperlukan untuk
menentukan keuntungan penggunaan terapi kombinasi.5
Dosis pemberian asiklovir untuk usia >2 tahun adalah 80 mg per kg per hari
melalui oral dibagi dalam empat kali pemberian selama 10 hari. Sementara untuk
dewasa diberikan dengan dosis oral 2 000-4 000 mg per hari yang dibagi dalam
lima kali pemberian selama 7-10 hari.5
Sedangkan dosis pemberian valasiklovir (kadar dalam darah 3-5 kali lebih
tinggi) untuk dewasa adalah 1.000-3.000 mg per hari secara oral dibagi 2-3 kali
selama lima hari. Efek samping jarang ditemukan pada penggunaan preparat
antivirus, namun kadang dapat ditemukan keluhan berupa adalah mual, diare, dan
sakit kepala.5

30
Gambar 7. Algorithm of guideline key action statements 10

31
Gambar 8. Algoritma Pengambilan-Keputusan Tatalaksana untuk Bell’s Palsy Akut
15

32
Komplikasi

Sekitar 5% pasien setelah menderita Bell’s palsy mengalami sekuele berat


yang tidak dapat diterima. Beberapa komplikasi yang sering terjadi akibat Bell’s
palsy, adalah (1) regenerasi motor inkomplit yaitu regenerasi suboptimal yang
menyebabkan paresis seluruh atau beberapa muskulus fasialis, (2) regenerasi
sensorik inkomplit yang menyebabkan disgeusia (gangguan pengecapan), ageusia
(hilang pengecapan), dan disestesia (gangguan sensasi atau sensasi yang tidak sama
dengan stimuli normal), dan (3) reinervasi yang salah dari saraf fasialis.5
Reinervasi yang salah dari saraf fasialis dapat menyebabkan (1) sinkinesis
yaitu gerakan involunter yang mengikuti gerakan volunter, contohnya timbul
gerakan elevasi involunter dari sudut mata, kontraksi platysma, atau pengerutan
dahi saat memejamkan mata, (2) crocodile tear phenomenon, yang timbul beberapa
bulan setelah paresis akibat regenerasi yang salah dari serabut otonom, contohnya
air mata pasien keluar pada saat mengkonsumsi makanan, dan (3) clonic facial
spasm (hemifacial spasm), yaitu timbul kedutan secara tiba-tiba (shock-like) pada
wajah yang dapat terjadi pada satu sisi wajah saja pada stadium awal, kemudian
mengenai sisi lainnya (lesi bilateral tidak terjadi bersamaan).5

Prognosis
Perjalanan alamiah Bell’s palsy bervariasi dari perbaikan komplit dini sampai
cedera saraf substansial dengan sekuele permanen. Sekitar 80-90% pasien dengan
Bell’s palsy sembuh total dalam 6 bulan, bahkan pada 50-60% kasus membaik
dalam 3 minggu.1 Sekitar 10% mengalami asimetri muskulus fasialis persisten, dan
5% mengalami sekuele yang berat, serta 8% kasus dapat rekuren.5
Faktor yang dapat mengarah ke prognosis buruk adalah palsi komplit (risiko
sekuele berat), riwayat rekurensi, diabetes, adanya nyeri hebat post-aurikular,
gangguan pengecapan, refleks stapedius, wanita hamil dengan Bell’s palsy, bukti
denervasi mulai setelah 10 hari (penyembuhan lambat), dan kasus dengan
penyengatan kontras yang jelas.5

33
Faktor yang dapat mendukung ke prognosis baik adalah paralisis parsial
inkomplit pada fase akut (penyembuhan total), pemberian kortikosteroid dini,
penyembuhan awal dan/ atau perbaikan fungsi pengecapan dalam minggu pertama.5
Kimura et. al. menggunakan blink reflex sebagai prediktor kesembuhan yang
dilakukan dalam 14 hari onset, gelombang R1 yang kembali terlihat pada minggu
kedua menandakan prognosis perbaikan klinis yang positif. Selain menggunakan
pemeriksaan neurofisiologi untuk menentukan prognosis, House-Brackmann
Facial Nerve Grading System dapat digunakan untuk mengukur keparahan dari
suatu serangan dan menentukan prognosis pasien Bell’s palsy.5
Bell Palsy memiliki prognosis yang baik; setidaknya 70-90% pasien membaik
tanpa pengobatan, dan 90% mengalami perbaikan fungsi yang lengkap dengan
pengobatan kortikosteroid. Dalam masa penyembuhan pasien dapat mengalami
sinkinesis atau gerakan involunter dari otot-otot wajah yang dapat ditangani dengan
efektif melalui pemberian injeksi botulinum toxin subkutan atau intramuskular.11,12
Belum ada skema yang universal untuk menilai keluaran fungsional dari Bell
Palsy. Namun salah satu yang sering digunakan adalah House-Brackmann Grading
Scale. Caranya adalah dengan mengukur gerakan ke atas alis dan gerakan ke
samping dari sudut bibir. Setiap gerakan 0,25 cm diberikan 1 poin dengan maksimal
penilaian 1 cm untuk masing-masing bagian. Jadi total nilai maksimalnya adalah
8.11,12
 Grade I (Normal). 8 poin, fungsi 100%, fungsi perkiraan 100%
 Grade II (Slight). 7 poin, fungsi 76-99%, fungsi perkiraan 80%
 Grade III (Moderate). 5-6 poin, fungsi 51-75%, fungsi perkiraan 60%
 Grade IV (Moderately Severe). 3-4 poin, fungsi 26-50%, fungsi perkiraan 40%
 Grade V (Severe). 1-2 poin, fungsi 1-25%, fungsi perkiraan 20%
 Grade VI (Total). 0 poin, fungsi 0%, fungsi perkiraan 0%

34
Indikator prognosis yang jelek pada Bell Palsy yaitu sebagai berikut:11,12
 Facial palsy yang komplit
 Tidak ada perbaikan dalam 3 minggu
 Usia > 60 tahun
 Nyeri berat
 Ramsay Hunt Syndrome (herpes zoster virus)
 Kondisi yang berhubungan (hipertensi, diabetes, kehamilan)
 Degenerasi yang berat dari N.VII yang ditunjukkan melalui hasil elektrofisiologi

35
36
DAFTAR PUSTAKA

1. Dorland, W.A. Newman. 2011. Dorland’s Pocket Medical Dictionary. 28th edition.
Elsevier. Singapore. Terjemahan A.A. Mahode. 2012. Kamus Saku Kedokteran Dorland.
Edisi 28. EGC. Jakarta.
2. Paulsen, F. dan Waschke. 2010. Sobotta: Altas der Anatomie des Menschen Kopf, hals,
und Neuroanatomie. Book 3. 23th edition. Elsevier GmbH. Munchen. Terjemahan Pendit,
U., Hartanto, H., Nugroho, A., Ramadhani, D., dan Diani, A. 2013. Sobotta Atlas Anatomi
Manusia Kepala, Leher, dan Neuroanatomi. Jilid 3. Edisi 23. EGC. Jakarta. Hal 307-311.
3. Snell, S. Richard. 2008. Clinical Anatomy by Systems. Lippincott Williams &Wilkins.
USA. Terjemahan Suwahjo, Ardy dan Yohanes Antoni. 2011. Anatomi Klinis
Berdasarkan Sistem. EGC. Jakarta. Hal.527-529.
4. Netter F.H : The Ciba Collection of Medical Collection, vol 1, Nervous Systems, Part II,
Neurologic and Neuromusculer Disorders, Ciba Geigy, USA,1986, page: 102 –104
5. Lowis, Handoko dan Maula N. Gaharu. 2012. Bell’s Palsy, Diagnosis dan Tata Laksana
di Pelayanan Primer dalam Artikel Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan
(P2KB). Journal Indonesia Medical Associations 62(1): 32-37.
6. Mujaddidah, Nur. 2017. Tinjauan Anatomi Klinik dan Manajemen Bell’s Palsy. Qanun
Medika vol. I no. 2. Surabaya.
7. Konsil Kedokteran Indonesia. 2012. Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Edisi ke-2.
Penerbit Konsil Kedokteran Indonesia. Jakarta.
8. Monkhouse, S. 2006. Cranial Nerves: Functional Anatomy. Cambridge University Press.
New York.
9. Ronthal, M., Shefner, J.M., Dashe, J.F.2012. Bell’s palsy: Pathogenesis, Clinical Features,
and Diagnosis in Adults.
10. Baugh, Reginald, Gregory J. Basura, Lisa E. Ishii, Seth R. Schwartz, Caitlin Murray
Drumheller, Rebecca Burkholder, Nathan A. Deckard, Cindy Dawson, Colin Driscoll, M.
Boyd Gillespie, Richard K. Gurgel, John Halperin, Ayesha N. Khalid, Kaparaboyna Ashok
Kumar, Alan Micco, Debra Munsell, Steven Rosenbaum, dan William Vaughan. 2013.
Clinical Practice Guideline: Bell’s Palsy. Otolaryngology–Head and Neck Surgery
Journal 149(3S): S1–S27.
11. Holland NJ, Weiner GM. 2004. Clinical review: Recent developments in Bell’s palsy. BMJ
329:553–7.
37
12. Ramsey MJ, DerSimonian R, Holtel MR, Burgess LPA. 2000. Corticosteroid Treatment
for Idiopathic Facial Nerve Paralysis: A Meta-analysis. Laryngoscope 110:335–341.
13. Somasundara, Dhruvashree., dan Frank Sullivan. 2017. Management of Bell’s Palsy.
Australian Prescriber 40(3): 94-96.
14. Zhao, Yang., Guodong feng, dan Zhiqiang Gao. 2015. Advances in Diagnosis and Non-
Surgical Treatment of Bell’s Palsy. Journal of Otology 10(2015): 7-12.
15. de Almeida, John R., Gordon H. Guyatt, Sachin Sud, Joanne Dorion, Michael D. Hill,
Michael R. Kolber, Jane Lea, Sylvia Loong Reg, Balvinder K. Somogyi, Brian D.
Westerberg, Chris White, dan Joseph M. Chen. 2014. Management of Bell Palsy: Clinical
Practice Guideline. CMAJ 186(2): 917-922.

38
39