Anda di halaman 1dari 11

CJR

(CRITICAL JOURNAL REVIEW)

DOSEN PENGAMPU : Drs. Edim Sinuraya, S. T. M. Pd.

NAMA : KHAIRINA NAZURAH

NIM : 5181111011

KELAS : PTB-A

MATA KULIAH : PENGINDRAAN JAUH

PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat tuhan yang maha esa karena dengan rahmat,
karunia, serta hidayah_nya, saya dapat menyelesaikan critical journal review ini dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga saya berterima kasih kepada dosen
pengampu yang telah memberikan tugas critical journal reviewini kepada saya.

Saya sangat berharap critical journal review ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan. Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam critical journal
reviewini terdapat kekurangan. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan
demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga critical journal review sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi diri saya sendiri
maupun orang lain. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari anda demi
perbaikan critical jurnal reviewini di waktu yang akan datang.

Medan, 1 Desember 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi Pentingnya Cjr


keterampilan membuat cjr pada penulis dapat menguji kemampuan dalam meringkas
dan menganalisi sebuah jurnal serta membandingkan jurnal yang dianalisis dengan jurnal yang
lain, mengenal dan memberi nilai serta mengkritik sebuah karya tulis yang dianalisis
seringkali kita bingung memilih jurnal referensi untuk kita baca dan pahami,
terkadang kita hanya memilih satu jurnal untuk dibaca tetapi hasilnya masih belum
memuaskan misalnya dari segi analisis bahasa dan pembahasan, oleh karena itu penulis
membuat cjr ini untuk mempermudah pembaca dalam memilih jurnal referensi terkhusus pada
pokok-pokok yang di bahas.

B. Tujuan Penulisan Cjr


Adapun tujuan daripada penulisan cjr adalah meringkas isi jurnal yang di kritik,
membandingkan dan menghubungkan isi jurnal yang diriview dengan jurnal yang relevan
tentang journal yang di bahas, melatih mahasiswa agar lebih kritis dan berani berargumentasi
berdasarkan teori teori yang ada dari jurnal.

C. Manfaat
manfaat yang dapat kita simpulkan pada hal diatas ialah:
 Menambah wawasan pengetahuan tentang isi jurnal.
 Mempermudah pembaca mendapatkan inti dari sebuah jurnal yang telah di lengkapi
dengan ringkasan jurnal , pembahasan isi jurnal, serta kekurangan dan kelebihan jurnal
tersebut.

D. Identitas Jurnal Yang Di Review


Jurnal utama.
1. Judul Artikel : Implementasi Penginderaan Jauh Dan Sig Untuk Inventarisasi
Daerah Rawan Bencana Longsor (Propinsi Lampung)
2. Nama Jurnal : Jurnal Penginderaan Jauh
3. Halaman : 77-86
4. Pengarang : Samsul Arifin, Ita Carolita , Gathot Winarso.
5. Tahun : 2006
6. Volume : Vol. 3 No. 1
7. Situs : Http://Repository.Lapan.Go.Id/Repository/Samsul(7).Pdf

Jurnal Pembanding

1. Judul Artikel : Model Simulasi Luapan Banjir Sungai Ciliwung Di Wilayah


Kampung Melayu–Bukit Duri Jakarta, Indonesia
2. Nama Jurnal : Jurnal Penginderaan Jauh Vol. 6, 2009 :43-53
3. Halaman : 43-53
4. Pengarang : Fajar Yulianto, Muh Aris Marfai, Parwati , Suwarsono
5. Tahun : 2009
6. Volume : Vol. 6
7. Situs :http://jurnal.lapan.go.id/index.php/jurnal_inderaja/article/viewFile/1185/1063

BAB II
RINGKASAN ISI ARTIKEL
A. Abstrak
Longsor merupakan suatu fenomena alam yang sangat potensial menimbulkan kerusakan dan
kerugian baik berupa materi maupun jiwa, walaupun kerugian yang diderita sesaat, akan tetapi
lahan yang rusak dalam jangka panjang mempengaruhi kehidupan masyarakat setempat. Oleh
karena itu, untuk mengantisipasi terjadinya korban yang lebih banyak, maka perlu dilakukan
suatu penelitian untuk menginventarisasi daerah rawan longsor pada suatu daerah. Model yang
diterapkan untuk menentukan daerah rawan bencana longsor adalah pendekatan model indeks
storie dengan mengimplentasikan data penginderaan jauh dan sistem informasi geografi (sig).
Berdasarkan analisis di propinsi lampung terdapat 5 tingkat rawan longsor yaitu sangat tinggi,
tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah dengan nilai kisaran hasil pembobotan antara 0,001-
1,68. Secara umum propinsi lampung cukup aman terhadap longsor, sedangkan daerah yang
diperkirakan rawan longsor terdapat di 3 kabupaten yaitu kabupaten lampung barat, tanggamus
dan sebagian di kabupaten lampung utara.
Kata kunci : penginderaan jauh, sig, rawan longsor

B. Permasalahan
Longsor yang akhir-akhir ini sering terjadi dibeberapa daerah/lokasi di indonesia
merupakan suatu bencana yang mengakibatkan kerugian cukup besar, baik berupa harta
maupun jiwa. Sehingga bencana longsor ini dianggap sebagai bencana nasional yang
harus ditanggulangi bersama oleh seluruh rakyat indonesia. Walaupun kerugian yang
diderita sesaat, akan tetapi untuk jangka panjang lahan yang rusak akan mempengaruhi
kehidupan masyarakat setempat. Oleh karena itu, agar kerusakan tanah, materi maupun
jiwa yang terjadi dapat ditekan maka perlu dilakukan suatu penelitian dengan
mengiventarisasi daerah atau lokasi yang dianggap mempunyai rawan/rentan akan
bencana longsor. Jika longsor yang akan terjadi telah dapat diperkirakan, maka dapat
ditentukan kebijaksanaan penggunaan tanah dan tindakan konservasi tanah yang
diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah dan tanah dapat dipergunakan secara
produktif dan lestari.

C. Solusi secara teoretik


Sig merupakan suatu alat (system) berdasarkan komputer yang mempunyai kemampuan untuk
menangani data yang bereferensi geografi yang mencakup pemasukan, manajemen data (penyimpanan
data dan pemanggilan), manipulasi dan analisis, dan pengembangan produk dan pencetakan yang
didukung oleh pemakai dan organisasinya serta data yang digunakan. Dengan mengimplementasikan
data penginderaan jauh dan sig menggunakan model indeks storie, maka prediksi rawan bencana
longsor pada suatu lokasi tertentu dapat ditentukan, karena model indeks storie merupakan fungsi dari
beberapa parameter yang terdiri dari faktor-faktor penyebab longsor antara lain iklim (curah hujan),
topografi (kemiringan dan panjang lereng), vegetasi (penggunaan lahan), tanah (jenis tanah) dan faktor
tindakan konservasi (pengelolahan tanah) dan faktor-faktor lain (geomorfogi/bentuk lahan, litologi,
tekstur tanah, kelembaban tanah, geologi). Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi daerah
rawan bencana longsor, dengan menggunakan implementtasi data penginderaan jauh dan sig.

D. Metode Yang Digunakan


A. Studi area
penelitian ini dilakukan di daerah provinsi lampung. Pemilihan daerah penelitian karena daerah
tersebut memiliki beragam bentuk topografi dan banyak terjadi adanya konversi lahan.

B. Identifikasi parameter
Longsor longsor (landslide) merupakan suatu bentuk pergerakan tanah yang pengangkutan atau
pemindahan tanahnya terjadi pada suatu saat dalam volume yang besar. Longsor mempunyai perbedaan
dengan bentuk-bentuk erosi yang lainnya, dimana pada longsor pengangkutan tanah terjadi sekaligus.
Longsor terjadi sebagai akibat meluncurnya suatu volume tanah diatas suatu lapisan agak kedap air
yang jenuh air. Lapisan itu terdiri dari liat atau mengandung kadar liat tinggi yang setelah jenuh air
berlaku sebagai peluncur. Parameter-parameter longsor dapat diidentifikasi akibat dari interaksi kerja
antara faktor-faktor iklim, topografi, vegetasi tanah dan manusia sebagai berikut : l = f ( i , r , v , t , m )
Persamaan di atas mengandung dua jenis peubah yaitu (1) faktor-faktor yang dapat dirubah oleh
manusia seperti tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di atas tanah (v), sebagian sifat-sifat tanah (t) yaitu
kesuburan tanah, ketahanan agregat dan kapasitas infiltrasi, dan satu unsur topografi (r) yaitu panjang
lereng, dan (2) faktorfaktor yang tidak dapat dirubah oleh manusia seperti iklim (i), tipe tanah dan
kecuraman lereng (arsyad, 1989).

C. Ekstrasi informasi data inderaja


Data penginderaan jauh, merupakan suatu data yang mampu memberikan informasi terbaru dan
ketelitian yang tinggi. Oleh karena itu, data inderaja dapat diektrasi untuk keperluankeperluan penelitian
yang dibutuhkan pada saat yang lampau, sekarang dan yang akan datang. Untuk keperluan penelitian
inventarisasi daerah rawan longsor data dapat diekstrasi menjadi peta penggunaan lahan, peta
geomorfologi dan peta kelembaban lahan/tanah.

D. Sig dan penentuan rawan bencana longsor


Seperti yang telah diungkapkan dalam pendahuluan bahwa sig merupakan suatu system yang
mempunyai kemampuan analisis terhadap data spasial untuk keperluan manipulasi maupun
permodelan. Fungsi analisis ini dijalankan memakai data spasial dan data atribut dalam sig untuk
menjawab berbagai pertanyaan yang dikembangkan dari data yang ada menjadi suatu persoalan yang
relevan. Data spasial dalam sig hanya merupakan model penyajian yang merefleksikan berbagai aspek
realitas dunia nyata, sedangkan untuk meningkatkan peranan data dalam pengambilan keputusan
mengenai kenyataan tersebut, suatu model harus ditampilkan yang menggambarkan obyekobyek
termasuk menyajikan hubungan antar obyek. Fungsi-fungsi analisis yang dimaksudkan adalah fungsi
yang memanfaatkan data yang telah dimasukkan kedalam sig dan telah mendapatkan berbagai
manipulasi persiapan. Fungsifungsi tersebut antara lain adalah fungsi pengolahan dan analisis data
atribut atau spasial, serta fungsi integrasi analisis data spasial dan atribut. Implementasi fungsi analisis
tergantung beberapa factor antara lain seperti model data (raster atau vector), piranti keras dan
ketersediaan kriteria.

E. Hasil Penelitian
1. Ekstraksi parameter
Longsor merupakan interaksi antara beberapa parameter dari iklim, topografi, vegetasi, tanah dan
pengolahan lahan. Dalam penelitian ini parameterparameter diperoleh dengan dua cara yaitu mengakses
dari peta satuan tanah skala 1 : 250.000 (puslitanak), peta curah hujan skala 1:1.000.000 (data gms -
lapan) dan penggunaan lahan skala 1:250.000 (landsat tm tahun 2002- lapan). Dengan menggunakan
peta satuan tanah diperoleh informasiinformasi fisik lahan/tanah antara lain peta lereng/topografi dan
peta jenis tanah. Peta curah hujan/iklim diekstrak dari data isohayet dan data geostationer meteological
satellit (gms), sedangkan peta penggunaan lahan/penutup lahan diperoleh dari ekstraksi informasi data
landsat.

2. Pengharkatan
Pengharkatan parameter dilakukan berdasarkan karakteristik suatu parameter memiliki kepekaan
terhadap longsor. Pengharkatan terhadap kelerengan didasarkan pada logika bahwa lereng yang curam
memiliki harkat yang besar dibandingkan dengan lereng yang landai atau datar, karena salah satu syarat
terjadinya longsor adalah lereng yang curam, sehingga volume tanah akan bergerak/meluncur ke bawah.
Pengharkatan terhadap jenis tanah didasarkan pada kematangan tanah, semakin matang suatu jenis
tanah maka tanah tersebut akan mengandung liat yang lebih tinggi dan struktur tanah yang lebih kuat
(agregat) dibandingkan dengan jenis tanah yang lebih muda. Pengharkatan terhadap iklim didasarkan
pada besarkecilnya rata-rata curah hujan tahunan. Makin besar curah hujan rata-rata tahunan,
kemungkinan terjadinya longsor relatif cukup besar dibandingkan dengan curah hujan rata-rata tahunan
yang lebih kecil. Pengharkatan terhadap penggunaan lahan/penutup lahan/ vegetasi didasarkan pada
tingkat lebat/ jarangnya suatu vegetasi dan tingkat perakaran.
3. Penentuan daerah rawan longsor
Penentuan daerah rawan longsor menggunakan sig dengan metode indeks strorie yaitu perkalian setiap
parameter-parameter. Hasil analisis aritmatik maka nilai kisaran indeks storie antara 0,001-1,68.
Selanjutnya kisaran ini dikonversi pada beberapa tingkatan sesuai dengan kebutuhan, pada penelitian
ini tingkat rawan longsor dibagi atas 5 kelas atau tingkatan yaitu : tingkat longsor sangat tinggi apabila
memiliki nilai hasil pembobotan berkisar 1,5 sampai 1,68, tingkat longsor terkategori tinggi apabila
kisarannya antara 1,2-1,5, tingkat longsor terkategori sedang apabila memiliki nilai kisaran antara 0,8-
1,1, tingkat longsor berkategori rendah memiliki nilai antara 0,4-0,7 dan tingkat longsor berkategori
sangat rendah memiliki nilai antara 0,001-0,3.

F. Kesimpulan
Berdasarkan analisis secara umum di
 Propinsi lampung relatif aman terhadap longsor, karena tingkatan daerah rawan longsor hanya
pada tingkat cukup dan sedang, seningga tidak begitu membahayakan dalam waktu yang
singkat. Daerah rawan longsor terdapat pada
 Kabupaten lampung barat, tanggamus, dan sebagian di kabupaten lampung utara. Kabupaten
lampung tengah, metro
 Bandar lampung, lampung selatan, lampung timur, way kanan dan kabupaten tulangbawang
mempunyai tingkat rawan longsor rendah sampai kurang, sehingga kemungkinan tidak akan
terjadi longsor.

BAB III
PEMBAHASAN
A. Pembahasan isi jurnal

Jurnal Utama :
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka terdapat beberapa kesimpulan yang
dikemukakan sebagai berikut:

 Berdasarkan analisis secara umum di propinsi lampung relatif aman terhadap longsor, karena
tingkatan daerah rawan longsor hanya pada tingkat cukup dan sedang, seningga tidak begitu
membahayakan dalam waktu yang singkat. Daerah rawan longsor terdapat pada
 Kabupaten lampung barat, tanggamus, dan sebagian di kabupaten lampung utara. Kabupaten
lampung tengah, metro
 Bandar lampung, lampung selatan, lampung timur, way kanan dan kabupaten tulangbawang
mempunyai tingkat rawan longsor rendah sampai kurang, sehingga kemungkinan tidak akan
terjadi longsor.

Sedangkan Pada Jurnal Pembanding :


Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka terdapat beberapa kesimpulan yang
dikemukakan sebagai berikut:
 Penyusunan basis data spasial dalampenelitian ini berupa data vektor penggunaan lahan yang
diinterpretasi berdasarkan data quickbird. Hasil tersebut meliputi: perumahan teratur,
perumahan tidak teratur, ruang terbuka (taman dan lapangan olah raga), tanah jasa (kantor
pemerintahan, sekolah, rumah sakit), tanah kosong, tanah pemakaman, tanah perusahaan
(pasar, pertokoan, gudang) dan jalan. Informasi luasan didominasi oleh perumahan tidak teratur
(254,09 ha) dengan lahan minimal berupa tanah kosong (1,73 ha).
 Dengan menggunakan input titik tinggi atau pint map dari peta rbi metode moving average
inverse distance dipilih dalam penelitian ini untuk menggambarkan kondisi dem, karena telah
diketahui bahwa variasi nilai ketinggian di daerah penelitian sangat kecil dan merupakan daerah
yang datar hingga landai dengan kisaran ketinggian 12-17 meter di atas permukaan air laut.
 Model luapan banjir dibuat dengan proses iterasi, dalam hal ini hasil perhitungan matematika
secara berulang-ulang dalam satu piksel tersebut digunakan sebagai masukan dalam
perhitungan piksel raster berikutnya secara terus menerus hingga persyaratan hasil terpenuhi
 Secara umum tampak pada skenario 1,5 - 2,0 m luapan banjir berdampak pada jenis perumahan
tidak teratur dan beberapa perumahan teratur mengingat sebagian besar penggunaan lahan
didominasi oleh kedua jenis penggunaan lahan ini.

B. Kelebihan dan kekurangan isi artikel journal

1. Dari aspek layout dan tata letak, serta tata tulis.


Kelebihan : dilihat dari layout atau tata letaknya, jurnal tersebut telah rapi, dan sesuai untuk
pembuatan sebuah jurnal.
Kekurangan : di dalam jurnal terbagi menjadi dua sehingga menyulitkan pembaca dalam
membaca seluruh jurnal.

2. Dari aspek isi jurnal.


Kelebihan : isi maupun hal yang dibahas dalam jurnal ini sudah terbilang lengkap. Karena
materi yang saya cari sudah mencakup disini
Kekurangan : pada jurnal tersebut diharapkan dalam penggambaran ilustrasi diagram atau kurva
dalam bagian hasil penelitian agar lebih jelas

3. Dari aspek tata bahasa, buku tersebut.


Kelebihan : tata bahasa yang digunakan dalam jurnal ini menggunakan tata bahasa indonesia
yang baik.
Kekurangan : didalam jurnal ini banyak menggunakan bahasa ilmiah, sehingga mahasiswa baru
seperti saya maupun pembaca awam lainnya harus mencari makna dari kata yang susah
dipahami tersebut.

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka terdapat beberapa kesimpulan yang
dikemukakan dalam jurnal sebagai berikut:
 Penyusunan basis data spasial dalampenelitian ini berupa data vektor penggunaan lahan yang
diinterpretasi berdasarkan data quickbird. Hasil tersebut meliputi: perumahan teratur,
perumahan tidak teratur, ruang terbuka (taman dan lapangan olah raga), tanah jasa (kantor
pemerintahan, sekolah, rumah sakit), tanah kosong, tanah pemakaman, tanah perusahaan
(pasar, pertokoan, gudang) dan jalan. Informasi luasan didominasi oleh perumahan tidak teratur
(254,09 ha) dengan lahan minimal berupa tanah kosong (1,73 ha).
 Dengan menggunakan input titik tinggi atau pint map dari peta rbi metode moving average
inverse distance dipilih dalam penelitian ini untuk menggambarkan kondisi dem, karena telah
diketahui bahwa variasi nilai ketinggian di daerah penelitian sangat kecil dan merupakan daerah
yang datar hingga landai dengan kisaran ketinggian 12-17 meter di atas permukaan air laut.
 Berdasarkan analisis secara umum di propinsi lampung relatif aman terhadap longsor, karena
tingkatan daerah rawan longsor hanya pada tingkat cukup dan sedang, seningga tidak begitu
membahayakan dalam waktu yang singkat. Daerah rawan longsor terdapat pada
 Kabupaten lampung barat, tanggamus, dan sebagian di kabupaten lampung utara. Kabupaten
lampung tengah, metro
 Bandar lampung, lampung selatan, lampung timur, way kanan dan kabupaten tulangbawang
mempunyai tingkat rawan longsor rendah sampai kurang, sehingga kemungkinan tidak akan
terjadi longsor.

Daftar Pustaka

1. Arsyad, s., 1989. Konservasi tanah dan air, ipb, bogor.


2. Barus, b., 1999. Pemetaan bahaya longsoran berdasarkan klasifikasi statistik peubah tunggal
menggunakan sig : studi kasus daerah ciawipuncak-pacet jawa barat, jurnal ilmu tanah dan
lingkungan, bogor.
3. Hardjowigeno, s., 1993. Klasifikasi tanah dan pedogenesis, akapress, jakarta.
4. Kartasaputro, g., 1991. Teknologi konservasi tanah dan air, rineka cipta, jakarta.
5. Sitorus, s., 1995. Evaluasi sumber daya lahan, tarsito, bandung.