Anda di halaman 1dari 4

DASAR TEORI

Sungai merupakan salah satu ekosistem lotik (perairan mengalir) memiliki


fungsi sebagai tempat hidup organisme (Maryono, 2005). Organisme yang hidup
dalam perairan sungai adalah organisme yang telah memiliki kemampuan untuk
beradaptasi terhadap kecepatan arus (Susanto & Rochidanto, 2008). Sungai
merupakan salah satu lingkungan yang sering terkena dampak pencemaran.
Pencemaran dapat disebabkan karena berbagai jenis aktivitas manusia yang
dilakukan di sepanjang daerah aliran sungai. Meningkatnya aktivitas domestik,
pertanian dan industri akan mempengaruhi dan berdampak buruk terhadap kondisi
kualitas air sungai (Priyambada, dkk., 2008).

Tipe-tipe binatang di sungai dengan tingkat kebutuhan oksigen yang


berbeda, dapat dijadikan petunjuk berbagai tingkat pencemaran. Salah satu cara
untuk mengukur pencemaran adalah dengan memberi angka (skor) pencemaran
pada binatang tersebut. Misalnya, binatang yang membutuhkan banyak oksigen
terlarut dan tidak tahan terhadap pencemaran diberi skor tertinggi (10 di dalam
tabel); sedangkan yang dapat hidup di tempat yang sangat tercemar diberi skor
paling rendah (1-2 di dalam tabel).

Dalam ekosistem perairan, komunitas bentos sangat penting terutama di


danau dan sungai. Makrozoobentos sering digunakan dalam menilai kualitas
lingkungan perairan (Vyas, dkk., 2012). Makrozoobentos adalah organisme yang
sering digunakan sebagai indikator pencemaran dan berperan juga dalam
biomonitoring dari suatu perairan (Minggawati, 2013). Karena hidupnya yang
cenderung menetap pada sedimen dasar perairan, memiliki sifat kepekaan terhadap
beberapa bahan pencemar, mobilitas yang rendah, mudah di tangkap dan memiliki
kelangsungan hidup yang panjang (Purnami et al. 2010). Makrozoobentos
berkontribusi sangat besar terhadap fungsi ekosistem perairan dan memegang
peranan penting seperti proses mineralisasi dalam sedimen dan siklus material
organik serta berperan dalam transfer energi melalui bentuk rantai makanan
sehingga hewan ini berfungsi sebagai penyeimbang nutrisi dalam lingkungan
perairan. Komposisi makrozoobentos dapat merespon perubahan variasi
karakteristik fisika kimia air diatasnya (Stamenkovic, dkk., 2010).
DAFTAR PUSTAKA

Maryono, A. 2005. Ecological Hydraulics of River Development. Edisi Kedua.


Yogyakarta: Gajah Mada.

Minggawati I. 2013. Struktur komunitas makrozoobentos di Perairan Rawa


Banjiran Sungai Rungan, Kota Palangka Raya. Ilmu Hewani Tropika 2. (2):
64-67.

Priyambada, I. B., Oktiawan W. & Suprapto, R.P.E. 2008. Analisa Pengaruh


Perbedaan Fungsi Tata Guna Lahan Terhadap Beban Pencemaran BOD
Sungai (Studi Kasus Sungai Serayu Jawa Tengah). Jurnal Presipitasi. (5)
55-62.

Purnami, A.T, Sunarto, Setyono, P. 2010. Study of bentos community based on


diversity and similarity index in Cengklik DAM Boyolali. Ekosains 2 (2):
50-65.

Stamenkovic, V.S., Smiljkov, S., Prelic, D., Paunovic, M., Atanackovic, A. &
Rimcheska, B. 2010. Structural characteristic of benthic macroinvertebrate
in The Mantovo Reservoir (South-East Part of the R. Macedonia). Balwois
2010-Ohrid, Republic of Macedonia-25,29 May 2010

Susanto, H. & Rochdianto, A. 2008. Kiat Budi Daya Ikan Mas Dilahan Kritis.
Jakarta: Penebar Swadaya Depok.

Vyas, V., Bharose, S., Yousuf, S. & Kumar, A. 2012. Distribution of


makrozoobenthos in River Narmada near water intake point. Nat SciRes 2
(3): 18-25.
LAMPIRAN

No Gambar Keterangan
1.

Larva mrutu biasa

2.

Larva lalat lainnya

3.

Kadar oksigen pada perairan


bagian tengah

4.

Kadar oksigen pada perairan


bagian kiri
5.

Kadar oksigen pada perairan


bagian kanan

6.

Proses pemindahan
makrozoobenthos ke dalam
nampan plastik