Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN WAHAM

DI RUMAH SAKIT JIWA KLATEN


Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktek Klinik Keperawatan Jiwa

Dosen Pengampu: Christin Wiyani. S.Kep., Ns,. MSN

Disusun Oleh :

A.A Gede Rai Wirayuda

13130177

A10.4

PROGRAM PENDIDIKAN S-1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA

2015/2016
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN WAHAM

DI RUMAH SAKIT JIWA KLATEN

Disusun Oleh :

Nama : A.A Gede Rai Wirayuda


NIM : 13130177

Mengetahui :

Pembimbing Klinik PembimbingAkademik

( ) ( )

Mahasiswa

( )
WAHAM

A. PENEGERTIAN
Waham adalah suatu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal, meskipun telah
dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinan tersebut tidak rasional, namun penderita tetap
meyakini kebenarannya. (Hawari,2006).
Waham adalah suatu kepercayaan yang terpaku dan tidak dapat dikoreksi atas dasar fakta
dan kenyataan, tetapi harus dipertahankan bersifat patologis dan tidak terkait dengan
kebudayaan setempat. (Yosep, 2007).
Waham adalah suatu keyakinan yang salah dipertahankan secara kuat atau terus-menerus,
tetapi tidak sesuai dengan kenyataan (Keliat, dkk, 2010).
Jadi waham adalah suatu keyakinan yang salah yang tidak sesuai dengan faktanya,
namun tetap dipertahankan secara terus-menerus.

B. TANDA DAN GEJALA


Menurut Yosep (2007), klien dengan waham sering menunjukkan adanya
1. Data Subyektif
a. Mengatakan perasaan tidak aman, merasa takut
b. Mengungkapkan ide-ide yang salah
c. Mengeluh cems dan khawatir
2. Data Obyektif
a. Ketidakmampuan berkonsentrasi
b. Kewaspadaan yang berlebih
c. Kelainan rentang perhatian atau distraktivitas
d. Ketidaktepatan intrepretasi lingkungan
e. Kelainan kemampuan mengambil keputusan, menyelesaikan masalah
f. Ketidakmampuan berfikir abstrak atau konseptualisasi dan berhitung
g. Menunjukkan perilaku sosial yang tidak sesuai
h. Klien sering menolk hubungan dengan orang waham kebesaran, pembicaraan
logorrhea, inkoheren dan kadang fligh of idea
i. Menunjuk perilaku atau berdandan identik dengan isi wahamnya

C. PENYEBAB
1. Faktor Predisposisi
a. Biologis
1) Latar Belakang Genetik
- Adanya riwayat keturunan
- Riwayat janin pada saat prenatal
- Neurobiologis: adanya gangguan pada korteks pre prontal dan korteks limbic
- Nuerotransmiter: abnormalitas pada dopamine, serotonin, dan glutamate.
2) Status Nutrisi
Adanya riwayat status nutrisi yang jelek KEP dan malnutrisi.
3) Keadaan Kesehatan Secara Umum
Kurang tidur, gannguan irama sirkadian, lethargi, riwayat infeksi, riwayat
aktivitas,dan inisiatif mencari pelayanan kesehatan.
4) Sensivitas Biologis
Riwayat penggunaan obat, infeksi dan radiasi.
5) Paparan Terhadap Racun
Virus influenza pada trimester I dan II, Gas CO, asbestos.
b. Psikologis
1) Intelegensi
Riwat kerusakan pada korteks pre prontal dan korteks limbic serta gangguan
sikulasi oksigen dan glukosa ke otak.
2) Keterampilan Verbal
- Komunikasi tertutup, komunikasi dengan emosi berlebihan, komunikasi
peran ganda, gagap.
- Riawayat adanya stroke, trauma kepala dan infeksi.
3) Moral
Riwayat tinggal di lingkungan broken home, seperti asuhan, panti sosial,
pesantren, biara dan lapas.
4) Kepribadian
Mudah kecewa, putus asa, tidak mampu mebuat keputusan, menutup diri, cemas
yang tinggi.
5) Pengalaman Masa Lalu
Trauma, teraniaya, orangtua otoriter, brokem home dan pilih kasih.
6) Konsep Diri
Ideal diri yang tidal realitas, HDR, identitas tidak jelas, krisis peran dan
gambaran diri negative.
7) Motivasi
Kurangnya penghargaan dan riwayat kegagalan.
8) Pertahan Psikologis
Riwayat koping tidak efektif dan gangguan perkembangan.
9) Self Kontrol
Tidak mampu berkonsentrasi
c. Sosial budaya
1) Usia
Riwayat tugas perkembangan yang tidak selesai.
2) Gender
Riwayat ketidakjelasn identitas dan adanya kegagalan peran gender.
3) Pendidikan
Riawayat pendidikan yang rendah, riwayat putus dan gagal sekolah.
4) Pendapatan
Riwayat penghasilan yang rendah dan tidak ada kemandirian.
5) Pekerjaaan
Riwayat pekerjaan dengan stressful dan resiko tinggi.
6) Status Sosial
Riwayat tunawisma dan terisolasi
7) Latar Belakang Budaya
Nilai-nilai dan budaya yang bertentangan dengan nilai kesehatan.
8) Agama dan Keyakinan
Sifat religi dan keyakinan yang berlebihan atau kurang.
9) Keikutsertaan Dalam Politik
Gagal dalam berpolitik

10) Pengalaman Sosial


Bencana alam, kerusuhan, tekanan dalam pekerjaan, sulit mendapat pekerjaan.
11) Peran Sosial
Stigma negative, diskriminasi, dan praduga negative (TIM Keperawatan Jiwa,
2013).
2. Faktor Presipitasi
a. Faktor Biologis
1) Latar Belakang Genetik
- Adanya riwayat keturunan, gangguan pada janin
- Nuerobiologis: adanya gangguan pada korteks pre prontal, korteks limbic,
dan neurotransmitter: abnormalitas pada dopamine, serotonin, dan glutamate.
2) Status Nutrisi
Status nutrisi yang jelek: KEP dan malnutrisi.
3) Keadaan Kesehatan Secara Umum
Kurang tidur, gannguan irama sirkadian, lethargi, riwayat infeksi, riwayat
aktivitas,dan inisiatif mencari pelayanan kesehatan.
4) Sensivitas Biologis
Riawayat penggunaan obat, infeksi, radiasi, dan terpapar racun.
b. Faktor Psikologis
1) Intelegensi
Riwat kerusakan pada korteks pre prontal dan korteks limbic serta gangguan
sikulasi oksigen dan glukosa ke otak.
2) Keterampilan Verbal
Komunikasi tertutup, komunikasi dengan emosi berlebihan, komunikasi peran
ganda, gagap dan riwayat adanya stroke.
3) Moral
Riwayat tinggal di lingkungan broken home, seperti asuhan, panti sosial,
pesantren, biara dan lapas.
4) Kepribadian
Mudah kecewa, putus asa, tidak mampu mebuat keputusan, menutup diri, cemas
yang tinggi.
c. Sosial budaya
1) Pekerjaan
Riwayat pekerjaan dengan stressful dan resiko tinggi.
2) Pengalaman Sosial
Bencana alam, kerusuhan, tekanan dalam pekerjaan, sulit mendapat pekerjaan
(TIM Keperawatan Jiwa, 2013)

D. AKIBAT
Adanya gangguan isi pikir waham dapat berisiko mencederai diri sendiri, orang lain dan
lingkungan (perilaku kekerasan). Waham dapat mengalami kelainan dalam rentang perhatian
(distrakbilitas) dan ketidaktepatan intrepretasi lingkungan serta kemampuan untuk
berkonsentrasi sehingga berdampak pada munculnya masalah keperawatan defisit perawatan
diri. Akibatnya yang lain dapat terjadi jika waham ini tidak diatasi adalah terganggunya
hubungan sosial adalah orang lain. Akibat kewaspadaan yang berlebih dan perilaku sosial
yang tidak sesuai sehingga jika tidak diatasi dapat menimbulkan masalah keperawatan isolasi
sosial yang jika berlanjut dapat menimbulkan halusinasi yang isinya sesuai dengan waham
klien.

E. JENIS
Adapun jenis-jenis waham menurut Keliat (2007) terbagi atas beberapa jenis, yaitu:
1. Waham agama : keyakinan klien terhjadap suatu agama secara berlebihan diucapkan
beulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
2. Waham kebesaran : klien yakin secara berlebihan bahwa ia memiliki kebesaran atau
kekuatan khusus diucapkan beulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
3. Waham somatic : klien meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya teganggu dan
terserang penyakit, diucapkan beulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
4. Waham curiga : kecurigaan yang berlebihan dan tidak rasional dimana klien yakin
bahwa ada seseorang atau kelompok orang yang berusaha merugikan atau mencurigai
dirinya, diucapkan beulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
5. Waham nihilistic : klien yakin bahwa dirinya sudah ridak ada di dunia atau sudah
meninggal, diucapkan beulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
6. Waham bizar
a. Sisip pikir : klien yakin ada ide pikiran orang lain yang dsisipkan di dalam pikiran
yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan
b. Siar pikir : klien yakin bahwa orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan
walaupun dia tidak menyatakan kepada orang tersebut, diucapkan beulang kali
tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
c. Kontrol pikir : klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar.

F. PSIKOPATOLOGIS
Proses terjadinya waham dapat diuraikan sebagai berikut ;
1. seseorang merasa terancam oleh orang lain atau oleh dirinya sendiri, mempunyai
pengalaman kecemasan dan timbul perasaan bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan
akan terjadi.
2. Seseorang kemudian berusaha terhadap persepsi diri dan obyek realita melalui
manifestasi, lisan terhadap suatu kejadian ayau suatu keadaan.
3. Dilanjutkan dengan memperoykesikan pikiran dan perasaaan lingkungannya, sehingga
pikiran, perasaan, dan keinginan yang negatif, dan tidak dapat diterima akan terlihat
datangnya dari dirinya.
4. Akhirnya orang tersebut berusahan untuk memberikan alasan atau rasional tentang
interpretasi personal ( diri sendiri ) terhadap realita kepada diri sendiri dan orang lain.

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN UTAMA


Diagnosa utamanya adalah waham.

H. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanan pada pasien waham adalah dengan menggunakan strategi pelaksanaan
waham. Namun ada beberapa penalaksanaan yang lain yaitu:
1. Psikofarmalogi
a. Litium Karbonat
Litium Karbonat adalah jenis litium yang paling sering digunakan untuk mengatasi
gangguan bipolar, menyusul kemudian litium sitial. Sejak disahkan oleh “Food and
Drug Administration” (FDA).
b. Haloperidol
Haloperidol merupakan obat antipsikotik (mayor tranquiliner) pertama dari turunan
butirofenon. Mekanisme kerjanya yang pasti tidak diketahui. Haloperidol efektif
untuk pengobatan kelainan tingkah laku berat pada anak-anak yang sering
membangkang an eksplosif.
c. Karbamazepin
Karbamazepin terbukti efektif, dalam pengobatan kejang psikomotor, serta neuralgia
trigeminal. Karbamazepin secara kimiawi tidak berhubungan dengan obat
antikonvulsan lain maupun obat-obat lain yang digunakan untuk mengobati nyeri
pada neuralgia trigeminal.
2. Pasien hiperaktif atau agitasi anti psikotik low potensial.
Penatalaksanaan ini berarti mengurangi dan menghentikan agitasi untuk pengamanan
pasien. Hal ini berkaitan dengan penggunaan obat anti psikotik untuk pasien waham.
Dimana pedoman penggunaan antipsikotik adalah:
a. Tentukan target symptom
b. Antipsikosis yang telah berhasil masa lalu sebaiknya tetap digunakan
c. Penggantian antipsikosis baru dilakukan setelah penggunaan antipsikosis yang lama
4-6 minggu
d. Hindari polifarmasi
e. Dosis maintenans adalah dosis efektif terendah.
3. Penarikan diri high potensial
Selama seseorang mengalami waham. Dia cenderung menarik diri dari pergaulan dengan
orang lain dan cenderung asyik dengan dunianya sendiri (khayalan dan pikirannya
sendiri). Oleh karena itu, salah satu penatalaksanaan pasien waham adalah penarikan diri
high potensial. Hal ini berarti penatalaksanaannya ditekankan pada gejala dari waham itu
sendiri, yaitu gejala penarikan diri yang berkaitan dengan kecanduan morfin biasanya
dialami sesaat sebelum waktu yang dijadwalkan berikutnya, penarikan diri dari
lingkungan sosial.
4. ECT tipe katatonik
Electro Convulsive Terapi (ECT) adalah sebuah prosedur dimana arus listrik melewati
otak untuk memicu kejang singkat. Hal ini tampaknya menyebabkan perubahan dalam
kimiawi otak yang dapat mengurangi gejala penyakit mental tertentu, seperti skizofrenia
katatonik. ECT bisa menjadi pilihan jika gejala yang parah atau jika obat-obatan tidak
membantu meredakan katatonik episode.
5. Psikoterapi
Walaupun obat-obatan penting untuk mengatasi pasien waham, namun psikoterapi juga
penting. Psikoterapi mungkin tidak sesuai untuk semua orang, terutama jika gejala terlalu
berat untuk terlibat dalam proses terapi yang memerlukan komunikasi dua arah. Yang
termasuk dalam psikoterapi adalah terapi perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga,
terapi supportif

I. FOKUS INTERVENSI
1. Tindakan mandiri
SP I
a. Membantu orientasi realita
b. Mendiskusikan kebutuhn yang tidak terpenuhi
c. Membantu pasien memenuhi kebutuhannya
d. Menganjurkan pasien untuk memasukkan kedalam jadwal harian
SP II
a. Mengevaluasi jadwal harian pasien
b. Berdiskusi tentang kemampuan yang dimiliki
c. Melatih kemampuan yang dimiliki

SP III
a. Mengevaluasi jadwal harian pasien
b. Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur kepada
pasien
c. Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

2. Tindakan modalitas
a. Melibatkan pasien dalam terapi aktivitas kelompok orientasi realita
b. Melakukan terapi kognitif
1) Kuatkan pikiran kongruen klien. tolak pikiran untuk beragumen dengan pikiran
yang terintegrasi. Hadirkan kenyataan
2) Berikan pikiran yang sesuai dan buat batasan jika klien mencoba berespon secara
impulsive terhadap perubahan pikiran
3) Bantu dan dukung klien dalam usahanya untuk mengungkapkan secara verbal
perasaan ansietas, takut dan tidak aman
4) Bantu klien untuk mencoba menghubungkan keyakinan-keyakinan yang salah
tersebut dengan peningkatan ansietas yang dirasakan oleh klien
5) Diskusikan teknik-teknik yang dapat digunakan untuk mengobrol ansietas (misal
latihan nafas dalam, latihan-latihan relaksassi yang lain, teknik berhenti berfikir)
3. Tindakan kolaborasi
a. Membantu klien dapat menggunakan obat untuk mengendalikan wahamnya.
b. Diskusikan dengan klien tentang obat untuk mengendalikan waham.
c. Bantu klien untuk memastikan bahwa klien minum obat sesuai program dokter.
d. Observasi tanda dan gejala terkait dengan efek samping obat.

J. DAFTAR PUSTAKA
1. Fitria, Nita. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan
Strategi Pelaksana Tindakan Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
2. Hartono, Y. 2007. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika
3. Keliat, dkk, 2010. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC
4. Keliat, B A. 2007. Buku Keperawatan Peran Serta Keluarga dalam Perawatan Jiwa.
Jakarta : EGC.
5. Yosep, I. 2007. Keperawatan Jiwa. Jakarta : Refika Aditama.
6. Stuart dan Suddent. 2005. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.
STRATEGI PELAKSANAAN : WAHAM

A. Kondisi Klien
Petugas mengatakan bahwa klien sering menyendiri
Klien sering menganggap dirinya seorang besar
Klien sering menganggap dirinya mempunyai kekuatan khusus

B. Diagnosa Keperawatan
Waham kebesaran

C. Tujuan
Tujuan tindakan untuk pasien meliputi:
1) Pasien dapat berorientasi pada realita secara bertahap
2) Pasien dapat memenuhi kebutuhan dasarnya.
3) Pasien mampu berinterksi dengan orang lain dan lingkungannya.
4) Klien menggunakan obat sesuai prosedur.

D. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan


SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya; mengidentifikasi kebutuhan yang
tidak terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan, memeperaktikan cara memenuhi
kebutuhan yang tidak terpenuhi.
Orientasi:
”Selamat pagi bapak, Saya Mahasiswa keperawatan yang akan merawat bapak Nama Saya A.A
Gede Rai Wirayuda, biasa dipanggil Rai. Nama bapak siapa? Bapak senang dipanggil apa?”
”Bagaimana perasaan bapak hari ini? Apa keluhan bapak saat ini”
”Baiklah, bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang apa yang bapak rasakan? Di mana kita
duduk? Di ruang tamu? Berapa lama? Bagaimana kalau 30 menit”
Kerja:
”Baik, saya menerima keyakinan bapak, tapi tidak cukup bukti bagi saya untuk meyakini hal
tersebut.”
” Tadi bapak menagatakan bapak ada seorang nabi, masihkah bapak mempunyai keyakinan itu?”
“Baik pak, kalau saya boleh tahu nabi itu berada dimana, pakaiannya seperti apa, tinggal di mana
?” Sedangkan sekarang bapak lagi dimana, lihat pakaian bapak apakah sudah seperti nabi ?”
” Apa yang bapak lakukan seharian ini ?”
” Baik bapak, apakah bapak sudah memenuhi kebutuhan bapak seperti makan, mandi ?”
”Bapak, makan dan mandi itu penting untuk bapak, bagaimana kalo sekarang bapak makan dan
mandi ?” Bagus sekali pak, nanti bapak bisa melakukan kegiatan makan dan mandi setiap hari”
Terminasi:
”Bagaimana perasaan bapak setelah makan dan mandi ?”
” Baik pak, tadi sudah sudah melakukan makan yang benar dan mandi, sekarang kita buat jadwal
latihan untuk bapak ?”
”Berapa kali bapak akan melakukan latihan ? Jam berapa ?.”
” Baik bapak, bagaimana besok kita bertemu lagi untuk mengajarkan cara lain mengatasi
waham ?” Bapak ingin dimana ? Jam berapa ?” Baik pak saya permisi dulu, sampai jumpa
besok.”

SP 2 Pasien : Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien dengan membantu


melatih kemampuan yang dimiki.
Orientasi:

“Selamat pagi bapak Bagaimana perasaan bapak hari ini?” Masih ingat dengan saya ? Saya Rai
perawat yang merawat bapak.”
”Sesuai janji kita kemarin hari ini saya akan latih cara kedua untuk mengontrol waham dengan
melakukan kemampuan yang bapak miliki”. Kita akan latihan selama 20 menit. Mau di mana?
Di sini saja?
Kerja:
“Cara kedua untuk mencegah/mengontrol waham yang lain adalah dengan melakukan kegiatn
yang bapak senangi”
”Coba bapak ceritakan pada apa kegiatan yang bapak senangi ?”
” Baik pak, ternyata bapak senang main gitar ? Bagiamana kalau sekarang kita bermain gitar ?
Bagus sekali bapak main gitanya ?”
” Baik pak bagaimana kalau kita masukan ke jadwal latihan bapak ?” ”Berapa kali bapak akan
melakukan latihan ? Jam berapa ?.”

Terminasi:
“Bagaimana perasaan bapak setelah latihan ini? Jadi sudah ada berapa cara yang bapak pelajari
untuk mencegah waham itu? Bagus, cobalah lakuakan kedua cara ini untuk mencegah waham.
Bagaimana kalau kita latih cara yang ketiga yaitu cara minum obat yang benar ? Mau jam
berapa? Bagaimana kalau jam 08.00? Mau di mana/Di sini lagi? Sampai besok ya. Selamat pagi”

SP 3 Pasien : Memberikan pendidikan tentang penggunaan obat secara teratur.


Orientasi: “Selamat pagi bapak Bagaimana perasaan bapak hari ini? Apakah sudah melakukan
apa yang saya ajarkan kemarin? Apakah saja dua cara yang telah kita pelajari kemarin ? Bagus !
Bapak sudah melakuknya dengan baik.Sesuai janji kita, hari ini kita akan belajar cara yang
ketiga untuk mencegah waham yaitu mengajarkan cara minum obat yang benar. Mau di mana
kita bicara? Baik kita duduk di ruang tamu. Berapa lama kita bicara? Bagaimana kalau 30 menit?
Baiklah.”
Kerja:
“ Baik bapak ada berapa obat yang bapak minum ?”
” Jam berapa saja obat diminum ?”
” Baik pak, bapak harus minum obat ini agar pikirn bapak menjadi tenang, Obatnya ada 3
macam yaitu yang berwarna orange namanya CPZ gunanya membeuat bapak tenang, obat warna
putih jambu namanya THP gunanya membuat rileks, obat warna merah jambu namanya HLP
gunanya agar bapak menjadi lebih tenang. Semuanya diminum 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1
siang, dan jam 7 malam.
Terminasi:
“Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap cara yang ketiga untuk mencegah
waham muncul ? Bagus sekali! Coba sebutkan 3 cara yang telah kita latih untuk mencegah
waham. Bagus sekali. Mari kita masukkan dalam jadwal kegiatan harian bapak Coba lakukan
sesuai jadwal ya ?” Hari ini cukup sekian, 2 jam lagi saya akan menemui bapak. Sampai jumpa.”