Anda di halaman 1dari 21

COLOUR SAYBOLT ASTM D 156

LAPORAN PRAKTIKUM PRODUK MIGAS

DISUSUN OLEH:

NAMA : Teguh Ferdianto


NIM : 191420054
PRODI : Teknik Pengolahan Migas 1 A
BIDANG MINAT : Revinery
DIPLOMA : III
TINGKAT : 1 (satu)

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
POLITEKNIK ENERGI DAN MINERAL AKAMIGAS

( PEM AKAMIGAS )

Cepu, 24 febuari 2020

I. TUJUAN

Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan:


1. Mahasiswa dapat menentukan warna dari ‘refined oil” seperti “undyed motor” dan aviation
gasoline, jet fuel, naphtha, kerosine, petroleum wax
II. KESELAMATAN KERJA

1. Hati – hati bekerja menggunakan peralatan – peralatan yang mudah pecah.

2. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan jaringan listrik
yang ada.
III. TEORI DASAR

Pengukuran warna dengan menurunkan level sample dalam kolom secara perlahan sampai warna
sample jelas lebih terang dari warna standar. Pembacaan angka pada tabung uji kemudian
dikonversikan ke skala warna. Saybolt warna untuk mengukur halus produk minyak bumi, termasuk
satu set pencocokan sampel dan standar dengan optik indikator uji tabung. Yang sama contoh di
bawah sumber cahaya dibandingkan dengan warna standar. Mengurangi liquid Column tinggi
sampel sampai sampel secara signifikan lebih ringan dari warna standar bagan warna di instrumen
dan untuk mengubah tinggi Saybolt warna. Warna standar kaca di tiga posisi Kromatisitas pipa
standar mungkin mudah dilakukan Swatch Penggantian.
Color Saybolt biasanya di ukur dengan method ASTM D 156-94 biasanya digunakan untuk
mengukur refined oils seperti undyed motor/aviation gasoline,napthas, kerosene dan lain-lain.
nilainya semakin tinggi berarti semakin Clear/lighter…semakin kecil semakin ‘Dark’ kalo di lab
biasanya standar yang di gunakan paling tinggi +30 jadi kalo ada sample yang lebih ‘clear’ dari
standar di tulis >+30. mengenai standar dan cara analisanya silahkan lihat ASTM nya aja, tapi kalo
untuk condensate ( biasanya warnanya agak coklat ) color yang di gunakan biasanya Color ASTM (
method ASTM D 1500-98 ) yang biasanya di gunakan untuk mengukur color dari petroleum
product, kalo condensate nya clear biasanya di gunakan Saybolt Color. sebagai perbandingan
Saybolt color untuk Ligh Naphta biasanya >+30.

Signifikansi dan Penggunaan

Penentuan warna produk minyak bumi digunakan terutama untuk tujuan pembuatan manufaktur dan
merupakan karakteristik kualitas penting karena warna siap diamati oleh pengguna produk. Dalam
beberapa kasus warna dapat berfungsi sebagai indikasi tingkat penyempurnaan materi. Ketika
rentang warna produk tertentu diketahui, variasi di luar rentang yang ditetapkan dapat
mengindikasikan kemungkinan kontaminasi dengan produk lain. Namun, warna tidak selalu
merupakan panduan yang dapat diandalkan untuk kualitas produk dan tidak boleh digunakan tanpa
pandang bulu dalam spesifikasi produk.
Metode pengujian ini mencakup penentuan warna minyak yang dimurnikan seperti motor yang
dicabut dan bensin penerbangan, bahan bakar jet propulsi, nafta dan kerosin, dan, selain itu, lilin
minyak bumi dan minyak putih farmasi. Metode pengujian ini melaporkan hasil khusus untuk
metode pengujian ini dan dicatat sebagai, "unit Saybolt Color."

Nilai yang dinyatakan dalam satuan inch-pound atau dalam satuan SI dan yang tidak dalam tanda
kurung harus dianggap sebagai standar. Nilai yang diberikan dalam tanda kurung hanya untuk
informasi saja.

Tabung minyak dan peralatan yang digunakan dalam metode uji ini secara tradisional telah ditandai
dalam inci, (tabung diperlukan untuk dietsa dengan 1/8 di. Divisi.) Nomor Warna Saybolt
diselaraskan dengan inci, 1/2 inci. , 1/4 inci, dan 1/8 inci perubahan kedalaman minyak. Perubahan
pecahan inci ini tidak siap sesuai dengan SI setara dan mengingat banyaknya peralatan yang
digunakan dan ditandai dalam inci, satuan inch / pound dianggap sebagai standar. Namun metode
pengujian tidak menggunakan satuan panjang SI ketika panjang tidak secara langsung terkait dengan
divisi pada tabung minyak dan Nomor Warna Saybolt. Metode pengujian menggunakan satuan SI
untuk suhu.

Standar ini tidak dimaksudkan untuk mengatasi semua masalah keamanan, jika ada, yang terkait
dengan penggunaannya. Ini adalah tanggung jawab pengguna standar ini untuk menetapkan praktik
keselamatan dan kesehatan yang tepat dan menentukanpenerapan pembatasan peraturan sebelum
digunakan.
IV. BAHAN DAN PERALATAN
a. Bahan
1. Avtur
b. Peralatan
1. Saybolt Chromometer.
2. Light Source (lampu standar).
3. Standar Warna.
“Optical” System

V. LANGKAH KERJA
1. Tutup kerangan pada tabung contoh (kanan) jika akan mengisi contoh uji.
2. Isi contoh uji ke dalam tabung contoh sampai penuh (tanda angka 20)
3. Hubungkan lampu penerang dengan Power Supply Connectionpada stop kontak 220 Volt
4. Bandingkan warna contoh dengan mengurangi perlahan-lahan contoh dari kerangan di
tabung Contoh.
5. Ada 3 ukuran standar warna yaitu : 0,5 ; 1.0 dan 2
6. Pilih standar warna yang dipergunakan mendekati warna contoh uji
7. Baca dan catat angka pada tabung uji dan ukuran standar warna dimana diperoleh warna
yang sama.
8. Konversikan hasil yang diperoleh pada butir (7) pada tabel yang menempel di alat
9. Setelah selesai switch diubah ke posisi Off pada Power Supply Connection
10.Lepaskan kabel listrik dari stop kontak 220 Volt.
11.Keluarkan Contoh dari tabung Contoh dan bersihkan.

VI. HASIL PENGAMATAN

Pada percobaan ini digunakan sampel AVTUR diperoleh :


Deep Of Oil in = 7,25
Number Of Colour = +17
Lensa Colour Standart= 1,0 (one)

VII. ANALISIS

Pada percobaan COLOUR SAYBOLT ASTM D 156 adalah menentukan warna dari refined oil
seperti undyed motor dan aviation avtur dengan cara yaitu buka tutup kerangan pada tabunng yang
akan diisi dengan avtur lalu masukkan avtur sampai tanda batas angka 20. Ada 3 ukuran standar
warna yaitu : 0,5 ; 1,0 dan 1,5 kemudian pilih standar warna yang dipergunakan mendekati warna
avtur. Pada percobaan pertama menggunakan lensa no 1,5 dan pada hasil pengamatan warnanya
tidak mendekati dengan sampel, kemudian pada percobaan yang ke 2 menggunakan lensa no 1,0 dan
pada hasil pengamatan pada lensa no 1,0 ini di temukan warna yang mendekati dengan warna pada
sampel dan di peroleh hasil 7,5 dengan hasil colour saybolt +17. Pada pengujian spesivikasi avtur
dari dirjen migas tidak ada batasan avtur yang di uji Onspec. Jadi pada percobaan COLOUR
SAYBOLT ASTM D 156 bisa di katakan berhasil dan sesuai dengan apa yang ada pada teori.
Jadi pengukuran warna pada Saybolt terhadap avtur bertujuan agar kita dapat mengetahui nilai atau
kualitas avturdan agar kita juga dapat mengetahui jenis-jenis avtur apa saja yang dipasarkan di
pasaran.Sebab avtur sendiri juga memiliki nilai spesifikasi tersendiri dan dengan dilakukan
pengujian ini maka kita dapat mengetahui sifat-sifat kimia dan fisika apa saja yang terkandung
didalam avtur.

VIII. PENUTUP

A. Kesimpulan

Menurut hasil pengamatan dan hasil analisa ASTM D 156 dapat di lihat bahwa avtur memiliki
standar tersendiri yang pada saat diuji memperoleh hasil standar dengan 0,5 ; 1,0 dan 1,5. Sedangkan
warna yang mendekati yaitu 7,25 dan dengan hasil colour saybolt +17
B .Saran
1.Praktikan di harapkan dapat teliti dalam membandingkan warna yang sesuai antara sampel dan
standart warna.

2.Praktikan di harapkan berhati-hati ketika menuangkan sampel ke dalam gelas ukur ataupun
wadah sampel yang mudah pecah

IX. DAFTAR PUSTAKA

http://migas-indonesia.com/2009/12/15/rangkuman-diskusisaybolt/
https://www.scribd.com/doc/295326512/Kelompok-a-Produk-Migas
X. LAMPIRAN
ELECTRICAL CONDUCTIVITY, ASTM D 2624
LAPORAN PRAKTIKUM PRODUK MIGAS

DISUSUN OLEH:

NAMA : Teguh Ferdianto


NIM : 191420054
PRODI : Teknik Pengolahan Migas 1 A
BIDANG MINAT : Revinery
DIPLOMA : III
TINGKAT : 1 (satu)

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
POLITEKNIK ENERGI DAN MINERAL AKAMIGAS

( PEM AKAMIGAS )

Cepu, 24 febuari 2020

I. TUJUAN

Setelah melaksanakan praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat:


1.Melakukan pengujian Electrical Conductivity ASTM D 2624.
2.Mengerti pentingnya kemampuan menghantarkan listrik pada suatu produk bahan bakar
minyak.

II. KESELAMATAN KERJA

a. Hati – hati bekerja menggunakan peralatan – peralatan yang mudah pecah.

b. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan jaringan listrik
yang ada.

III. TEORI DASAR

Konduktivitas listrik adalah ukuran kemampuan suatu material untuk memungkinkan


pengangkutan muatan listrik. SI- nya adalah siemens per meter (A2s3 m−3 kg −1) (dinamai Werner
von Siemens ) atau, lebih sederhana, Sm −1 . Ini adalah rasio kepadatan arus terhadap
kekuatan medan listrik . Ini setara dengan konduktansi listrik yang diukur antara permukaan
berlawanan dari kubus 1 meter dari material yang diuji. Simbol untuk konduktivitas listrik adalah κ
(kappa), dan juga σ (sigma) atau γ (gamma) (https://simple.wikipedia.org/).
Konduktansi listrik adalah fenomena listrik di mana bahan mengandung partikel bergerak
dengan muatan listrik (seperti elektron ), yang dapat membawa listrik. Ketika perbedaan potensial
listrik ditempatkan di konduktor, elektronnya mengalir, dan arus listrik muncul. Konduktivitas listrik
adalah kebalikan (atau kebalikan ) dari resistivitas listrik. Tegangan dialirkan melalui dua elektroda
kepada bahan bakar dan arus yang terjadi dilaporkan sebagai nilai conductivity (daya hantar)
Conductivity meter adalah alat untuk mengukur nilai konduktivitas listrik (specific/electric
conductivity) suatu larutan atau cairan. Nilai konduktivitas listrik sebuah zat cair menjadi referensi
atas jumlah ion serta konsentrasi padatan (Total Dissolved Solid / TDS) yang terlarut di dalamnya.
Pengukuran jumlah ion di dalam suatu cairan menjadi penting untuk beberapa kasus. Konsentrasi
ion di dalam larutan berbanding lurus dengan daya hantar listriknya. Semakin banyak ion mineral
yang terlarut, maka akan semakin besar kemampuan larutan tersebut untuk menghantarkan listrik.
Sifat kimia inilah yang digunakan sebagai prinsip kerja conductivity meter (http://artikel-
teknologi.com/).
Sebuah sistem conductivity meter tersusun atas dua elektrode, yang dirangkaikan dengan
sumber tegangan serta sebuah ampere meter. Elektrode-elektrode tersebut diatur sehingga memiliki
jarak tertentu antara keduanya (biasanya 1 cm). Pada saat pengukuran, kedua elektrode ini
dicelupkan ke dalam sampel larutan dan diberi tegangan dengan besar tertentu. Nilai arus listrik
yang dibaca oleh ampere meter, digunakan lebih lanjut untuk menghitung nilai konduktivitas listrik
larutan

IV. BAHAN DAN PERALATAN

a. Bahan
- Avtur

b. Peralatan

- Portable Conductivity unit dan Probe (Include)

- Thermometer (Include dalam EMCEE 1153)

- Measuring Vessel (Metal)

- Ground Probe Cable dengan Jepitan

- Solvents (Isopropyl Alcohol + Hepatane)


V. LANGKAH KERJA
 Persiapan Alat

1. Bersihkan Probe dan Vessel dari air dengan menggunakan solvent dan dikeringkan

2. Sampel yang diambil harus segera di uji maksimum 24 jam setelah sampling.

3. Sampel tidak boleh terkena air sehingga botol sampel dan tutup harus benar – benar kering sebelum
dilakukan pengujian.

4. Nyalakan alat dengan menekan logo sampai kata EMCEE tampil lepas.

5. Lalu tekan logo dan tahan sampai membaca sampel (lampu LED menyala) dan tertulis “READ”.

6. Lihat hasilnya harus menunjukkan 0 (Zero Check).

7. Over Ranges Check → Pasang probe pada isopropanol lakukan pembacaan isopropanol dengan
menekan logo sampai tertulis EMCEE dan tekan tahan kembali sampai membaca (harus
menunjukkan “OVER”).

 Pengujian Sampel

1. Tuang sampel ke stainless steel vessel jumlah sesuai (Probe sampai lubang terendam).
2. Pasang kabel grounding seperti gambar (antara vessel dan alat).
3. Letakkan probe ke sampel.
4. Tekan logo, lepas dan tekan kembali tahan sekitar 5 detik dan lepas.
LED merah menyala dan hasil bisa dilihat sesudahnya

VI. KETELITIAN
Presisi dari metode pengujian ini sebagaimana didtentukan oleh analisis statistik dari hasil
pengujian yang diperolah oleh pasangan operator instrumen di lokasi pengujian yang umumnya
adalah sebagai berikut. data presisi yang dihasilkan untuk tabel 1 tidak termasuk gasoline atau
pelarut.
Repeatability— Perbedaan antara nilai konduktivitas terukur berturut-turut yang diperoleh oleh
operator yang sama dengan peralatan yang sama di bawah kondisi operasi konstan pada bahan uji
yang identik dan pada suhu bahan bakar yang sama.
Reproducibility— Perbedaan antara dua pengukuran konduktivitas tunggal dan independen yang
diperoleh oleh operator berbeda yang bekerja di lokasi yang sama pada bahan uji yang identik dan
pada suhu bahan bakar yang sama.
Bias— Karena tidak ada bahan referensi yang diterima atau metode pengujian untuk menentukan
bias prosedur dalam Metode Uji D 2624 untuk mengukur konduktivitas listrik, bias tidak dapat
ditentukan.
VII. HASIL PENGAMATAN

Electrical conductivity Temperature


Percobaan Ke-
(pS/m) oC oF

1 199 29,3 84,7


2 198 29,3 84,7
3 200 29,3 84,7
Rata-Rata 199 29,3 84,7

VIII. ANALISIS

Pada pengukuran konduktivitas yang didasari dari elektronik internal yang stabil secara
termal dan cocok untuk digunakan dari suhu 0-35 ° C. Pada percobaan Electrical Conductivity
yang telah kami lakukan dengan sampel yang kami ujikan pada percobaan ini adalah avtur. Pada
percobaan pertama yang telah kami lakukan Electrical Conductivity yang didapat sebesar 199
pS/m dengan suhu 29,3 oC atau 84,7oF. Pada percobaan kedua yang telah kami lakukan Eelectrical
Conductivity yang kami dapatkan sebesar 198 pS/m dengan suhu 29,3 oC atau 84,7oF/ . selanjutnya
untuk percobaan ketiga yang telah kami lakukan didapat dapatka Electrical Cunductivity sebesar
200 pS/m dengan suhu 29,3 oC atau 84,7 oF. Rata- rata dari ketiga percobaan Electrical
Conductivity sebesar 199 pS/m dengan suhu 30,13 oC atau 86,26 oF.
Sesuai SK dirjen migas yang telah tertera Electrical Conductivity harus min 50 pS/m dan
max 600 pS/m. Dan sedangkan rata-rata hasil Electrical Conductinity yang telah kami dapatkan
dari ketiga percobaan adalah 199 pS/m. Jadi untuk hasil uji yang telah kami lakukan adalah On-
spec karena hasil Electrical Conductivity yang kami dapatkan adalah 199 pS/m dan itu berada di
atas minimal yaitu 50 pS/m dan di bawah maximal yaitu 600 pS/m.

IX. PENUTUP
a. Kesimpulan
Pada percobaan Electrical Conductiviti yang telah kami lakukan dapat di simpulkan bahwa
dalam percobaan ini bisa di bilang berhasil katena telah sesuai dengan standart SK Dirjen Mgas
dan bisa di katakan bahwa hasil percobaan ini ON-spec

b. Saran
Di harapkan praktikan untuk berhati-hati dalam penanganan alat yang berbahan kaca dan
mudah pecah serta praktikan pada saat melakukan praktikum ikut serta tidak Cuma mengawasi,
memotret ataupun Cuma mencuci balat sehingga prakktikan dapat mengerti dan paham apa
yang telah di praktikan.

X. DAFTAR PUSTAKA

http://www.stanhope-seta.co.uk/
http://artikel-teknologi.com/
https://id.scribd.com/document/409529210/Electrical-Conductivity-Muhammad-Dafa-Alfarel-
NIM-181420011
XI. LAMPIRAN
POUR POINT, ASTM D 97
LAPORAN PRAKTIKUM PRODUK MIGAS

DISUSUN OLEH:

NAMA : Teguh Ferdianto


NIM : 191420054
PRODI : Teknik Pengolahan Migas 1 A
BIDANG MINAT : Revinery
DIPLOMA : III
TINGKAT : 1 (satu)

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL
POLITEKNIK ENERGI DAN MINERAL AKAMIGAS

( PEM AKAMIGAS )
Cepu, 24 febuari 2020
I. TUJUAN
Metode uji ini digunakan untuk produk minyak bumi (minyak solar, pelumas, minyak
diesel dan minyak bakar). Metode ini sesuai untuk “black specimens”, cylinder stock dan fuel
oil yang tidak didistilasi.

II. KESELAMATAN KERJA


1. Hati – hati bekerja menggunakan peralatan – peralatan yang mudah pecah.
2. Bila menggunakan peralatan bertenaga listrik, lihat terlebih dahulu tegangan jaringan
listrik yang ada.

III. TEORI DASAR

Pour Point adalah temperatur terendah dimana sampel produk minyak bumi masih bisa
mengalir dengan sendirinya apabila didinginkan pada kondisi pemeriksaan. Titik tuang produk
minyak bumi merupakan petunjuk tentang kemampuan produk minyak bumi untuk mengalir
pada suhu terendah.
Titik tuang adalah suhu dimana minyak tidak dapat bergoyang karena membeku selama 5
detik ketika dimiringkan atau dituangkan setelah melalui pendinginan selama pada setiap interval
5oF. Titik tuang adalah temperatur terendah dimana minyak masih dapat dituang atau mengalir
bila minyak tersebut didinginkan dengan tanpa diganggu pada kondisi yang ditentukan.
Pemeriksaan titik tuang dilakukan dengan metode yang sama dengan metode titik kabut (ASTM-
D97 dan IP-15). Minyak mula-mula dipanaskan sampai 115oF, dimana semua lilin sudah larut,
kemudian didinginkan menjadi suhu mula-mula minyak sebelum dipanaskan (sekitar 90oF). Titik
tuang biasanya dicatat lebih rendah (8-10oF) dibawah titik kabutnya. Titik tuang (pour point)
adalah suhu terendah minyak bumi dan produknya masih dapat dituang atau mengalir apabila
didinginkan pada kondisi tertentu (ASTMD-97). Uji titik tuang dikenakan kepada minyak bumi
dan produknya. Kriteria titik tuang tergantung pada dua faktor, yaitu kondisi iklim dan
penyimpanan (penanganan). Di daerah dingin, titik tuang 2-3oC akan meningkatkan viskositas
sangat banyak, hasilnya biaya untuk memompa menjadi besar. Titik tuang ditentukan dengan
jalan mendinginkan contoh dan setiap penurunan suhu yang merupakan kelipatan 3oC (5oF)
dilakukan uji sifat alir contoh. Suhu tertinggi saat contoh tidak dapat mengalir dicatat sebagai
titik padat (solid point). Titik tuang juga menunjukkan suhu terendah dimana minyak bumi dan
produknya masih dapat dipompa. Pour point atau titik tuang adalah harga temperatur yang
menyebabkan minyak bumi yang didinginkan mengalami perubahan sifat dari bisa menjadi tidak
bisa dituangkan atau sebaliknya. Semakin rendah titik tuang maka kadar parafin juga semakin
rendah sedangkan kadar aromatnya semakin tinggi.

Titik beku adalah temperatur terendah dimana minyak sudah tidak dapat bergerak atau mengalir
lagi. Titik pembekuan adalah sifat lilin yang penting bagi banyak pemakai lilin petroleum. Titik
pembekuan digambarkan bahwa pengukuran suhu pada saat contoh menjadi dingin atau tertahan
untuk mengalir. Pada suhu tersebut lilin dapat mendekati bentuk padat atau lilin semi-padat dan
cukup lunak, bergantung pada komposisi lilin petroleum yang diuji. Sifat pembekuan lilin
petroleum adalah suatu suhu pada saat lilin petroleum, jika dibiarkan dingin dibawah suhu
tertentu akan berhenti mengalir. Titik pembekuan ditentukan dengan melelehkan contoh uji,
diambil setetes dan ditempelkan ke bola termometer. Tabung silinder digunakan untuk menahan
dingin dari udara, tetesan pada bola dibiarkan dingin pada kecepatan tertentu sampai beku. Titik
pembekuan diamati sebagai suhu dimana tetesan contoh berhenti mengalir bila termometer
diputar. Titik pembekuan dapat juga digunakan untuk menunjukkan suhu terendah dimana lilin
dapat membeku dan menjadi padat. Penanganan minyak yang mempunyai titik beku yang tinggi
akan lebih mudah apabila dibandingkan dengan minyak yang mempunyai titik beku rendah. Pada
minyak yang mempunyai titik beku yang rendah apabila berada dibawah temperatur normal maka
akan cepat membeku dalam pipa apabila hanya menggunakan pipa biasa, dan hal ini tentu saja
akan merugikan karena memungkinkan akan terjadi penyumbatan-penyumbatan dalam pipa
tersebut. Mengatasi hal tersebut maka dipasang pemanas pada jarak tertentu agar minyak tidak
membeku dalam pipa.

Titik kabut dan titik tuang dimaksudkan untuk memperkirakan jumlah lilin yang terdapat dalam
minyak. Semua minyak akan membeku jika didinginkan pada suhu yang cukup rendah, maka
pemeriksaaan ini tidak menunjukkan adanya sejumlah lilin atau padatan lain dalam minyak. Ini
berarti pada pemeriksaan tersebut terlihat bahwa lilin akan meleleh diatas titik tuangnya sehingga
dapat dipisahkan dari minyaknya. Titik kabut dan titik tuang berfungsi untuk mendeterminasi
jumlah relatif kandungan lilin pada crude oil, namun tes ini tidak menyatakan jumlah kandungan
lilin secara absolut, begitu juga kandungan materi solid lainnya yang terdapat dalam
minyak.http://riahani.blogspot.com/2012_07_01_archive.html

IV. BAHAN DAN PERALATAN


a. Bahan
1. Pertadex
2. Solar
b. Peralatan
1. Test jar, bentuk silinder gelas bening, dasar flat, diameter luar 33,2 – 34,8 mm, tinggi
11,5 –12,5 mm, diameter 30,0 – 32,4 mm, tebal dinding tidak lebih besar dari 1,6 mm.
Tabung dapat menampung contoh dengan ketinggian 54 ± 3 mm dari dasar bagian
dalam.
2. Termometer, spesifikasi E1.

3. Bak Pendingin

V. LANGKAH KERJA
1. Tuangkan contoh ke test jar sampai tanda batas. Jika perlu, panaskan sampel pada
penangas air sampai cukup bisa mencair untuk dituangkan ke jar test.

2. Pasangkan thermometer tercelup pada contoh uji (seperti terlihat pada gambar)
3. Lakukan pendinginan secara bertahap dimulai dari suhu paling hangat.

4. Setiap penurunan suhu 3 0C, lakukan pengamatan apakah masih bisa


mengalir/bergerak ketika jar test sedikit dimiringkan.

5. Lanjutkan cara ini sampai suatu titik dicapai dimana minyak tidak menunjukan
gerakan ketika jar test dipegang pada posisi horizontal selama 5 detik, amati
termometer dan catat

6. Tambahkan sebesar 3 0C pada hasil pengamatan diatas dilaporkan sebagai Pour Point
VI. KETELITIAN

Repeatability Reproducibility

Lubricating Oil 6 0C 9 0C

Middle Distilate and Residue 3 0C 9 0


C

VII. HASIL PENGAMATAN


a.Hasil pengamatan
Temperatur Kondisi Temperature Kondisi
solar pertadex
30 Cair 30 Cair
27 Cair 27 Cair
24 Cair 24 Cair
21 Cair 21 Cair
18 Cair 18 Cair
15 Cair 15 Cair
12 Cloud point 12 Cair
9 Pour point 9 Cair
6 Freezing point 6 Cair
3 Cair
0 Cair
-3 Cloud point
-6 Pour point
-9 Freezing point
b.Spesifikasi produk

Sampel Karakterristik Satuan Min Maks Metode


produk uji
Pertadex Titik tuang ℃ - 18℃ D97
Solar Titik tuang ℃ - 18℃ D97
VIII. ANALISIS

Pada praktikum uji POUR POINT, ASTM D 97 yaitu uji alir suatu bahan uji di titik
terendah.Dimana bahan uji itu sudah tidak dapat mengalir lagi/freezing point. Pada percobaan
ini kita menggunakan 2 sampel yang berbeda yaitu SOLAR dan PERTADEX. pada percobaan
pertama kita menurunkan suhu kedua sampel tersebut per 30C dari suhu awal 300C. Pada suhu
300C-150C kedua sampel masih dalam fasa cair atau belum ada perubahan, selanjutnya pada
suhu 120C pasa sampel solar mengalami cloud point atu mulai timbul kabut sedangkan pada
sampel pertadex belum mengalami perubahan, selanjutnya pada suhu 90C pada sampel solar
mengalami pour point atau titik terakhir alir pada suatu sampel dan pada suhu 60C pada
sampel solar mengalami freezing pont atau titik beku suatu sampel. Sedangkan pada suhu
tersebut pada sampel pertadex belum mengalami perubahan, dan mulai terjadi cloud point atau
pengkabutan pada suhu -30C serta mengalami pour point atau titik terakhir suatu sampel dapat
mengalir pada suhu -60C ,dan freezing point atau titik dimana suatu sampel tidak dapat
mengalir pada suhu 90C.

IX. PENUTUP

A. kesimpulan
Pour Point adalah temperatur terendah dimana sampel produk minyak bumi masih
bisa mengalir dengan sendirinya apabila didinginkan pada kondisi pemeriksaan. Titik tuang
produk minyak bumi merupakan petunjuk tentang kemampuan produk minyak bumi untuk
mengalir pada suhu terendah.
B. saran

Di harapkan praktikan untuk berhati-hati dalam penanganan alat yang berbahan kaca dan
mudah pecah serta praktikan pada saat melakukan praktikum ikut serta tidak Cuma mengawasi,
memotret ataupun Cuma mencuci balat sehingga prakktikan dapat mengerti dan paham apa
yang telah di praktikan.
X. DAFTAR PUATAKA

https://id.scribd.com/doc/265382786/titik-tuang-pour-point-ASTM-D-97

http://fitriakrisna12.blogspot.com/2015/02/pour-point-minyak-bumi-astm-d-97-
66.html
XI. LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai