Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

“HIDDEN CURRICULUM DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL”

Disusun oleh:
Ari Dwi Setya Laksana
NIM 150210103012

Kelompok 13
Pendidikan Multikultural A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan
Karunia-Nya sehingga makalah Pendidikan Multikultural yaitu tentang “Pendidikan
Berbasis Budaya” ini dapat terselesaikan sebagaimana mestinya. Ucapan terimakasih
kepada dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Multikultural yang telah
memberikan kami kesempatan untuk membuat makalah ini sebagai pedoman, acuan,
dan sumber belajar.

Makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan bagi pembaca terutama
bagi kami sebagai penulis. Dan tak lupa pula kami mengucapkan banyak terimah
kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah
ini tepat waktu.

Akhir kata, penyusun menyadari bahwa masih terdapat banyak kesalahan baik
dari segi bahasa, tulisan, maupun kalimat yang kurang tepat dalam makalah ini, oleh
karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca sangat
diharapkan demi kesempurnaan makalah berikutnya.

Jember, 4 Juni 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i


DAFTAR ISI............................................................................................................................. ii
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ............................................................................................................................. 2
1.4 Manfaat ........................................................................................................................... 2
BAB 2 PEMBAHASAN ........................................................................................................... 3
2.1 Definisi Hidden Curriculum............................................................................................ 3
2.2 Fungsi Hidden Curriculum.............................................................................................. 5
2.3 Dimensi Hidden Curriculum ........................................................................................... 7
2.4 Aspek yang memengaruhi Hidden Curriculum .............................................................. 8
2.5 Keterkaitan antara Hidden Curriculum dengan Pendidikan Multikultural ..................... 8
BAB 3 PENUTUP .................................................................................................................. 11
3.1 Kesimpulan ................................................................................................................... 11
3.2 Saran ............................................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 12

ii
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan adalah sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya
dan masyarakat. Pendidikan dapat diperoleh baik secara formal dan non formal.
Pendidikan secara formal diperoleh dengan mengikuti program-program yang telah
direncanakan, terstruktur oleh suatu insititusi, departemen atau kementrian suatu
negara seperti di sekolah pendidikan memerlukan sebuah kurikulum untuk
melaksanakan perencanaan penganjaran. Sedangkan pendidikan non formal adalah
pengetahuan yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari dari berbagai pengalaman
baik yang dialami atau dipelajari dari orang lain.
Secara umum, kurikulum adalah seperangkat atau sistem rencana dan pengaturan
mengenai isi dan bahan pembelajaran yang dipedomani dalam aktivitas belajar
mengajar. Secara etimologis, kurikulum berasal dari istilah curriculum dimana dalam
bahasa inggris, kurikulum adalah rencana pelajaran. Curriculum berasal dari bahasa
latin yaitu currere, kata currere memiliki banyak arti yaitu berlari cepat, maju dengan
cepat, menjalani dan berusaha untuk suatu hal. Kurikulum merupakan suatu sistem
pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan karna berhasil atau tidaknya
sistem pembelajaran diukur dari banyaknya tujuan-tujuan yang tercapai. Selain
adanya kurikulum yang ditetapkan menjadi pedoman dan arah tujuan suatu sekolah
secara tertulis, juga terdapat sebuah rancangan pendidikan yang tidak tertulis dan
tidak dibakukan dalam peraturan-peraturan pembelajaran. Akan tetapi diaplikasikan
dalam proses belajar mengajar dan memiliki pengaruh terhadap keperibadian peserta
didik, baik secara langsung maupun tidak langsung sebagai output dari proses belajar
mengajar. Rancangan pendidikan yang dimaksud adalah Hidden Curriculum atau
kurikulum tersembunyi. Pemahaman tentang Hidden Curriculum dalam pendidikan

1
multikultural akan dibahas lebih detail dalam makalah ini sehingga makalah dapat
bermanfaat untuk menambah wawasan tentang berbagai hal dalam dunia pendidikan
dan pembelajaran.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana definisi Hidden Curriculum dalam pendidikan multikultural?
2. Apakah fungsi dari Hidden Curriculum dalam pendidikan multikultural?
3. Apakah dimensi Hidden Curriculum dalam pendidikan multikultural?
4. Apa sajakah aspek yang memengaruhi Hidden Curriculum dalam pendidikan
multikultural?
5. Bagaimanakah kaitannya antara Hidden Curriculum dengan pendidikan
multikultural?

1.3 Tujuan
1. Menjelaskan definisi Hidden Curriculum dalam pendidikan multikultural.
2. Menjelaskan fungsi dari Hidden Curriculum dalam pendidikan multikultural.
3. Menjelaskan dimensi Hidden Curriculum dalam pendidikan multikultural.
4. Menjelaskan aspek yang memengaruhi Hidden Curriculum dalam pendidikan
multikultural.
5. Menjelaskan kaitannya antara Hidden Curriculum dengan pendidikan
multikultural.

1.4 Manfaat
1. Untuk penulis, dapat memberikan wawasan dan ilmu dalam dunia pendidikan
pada pembaca sehingga dapat bermanfaat.
2. Untuk calon guru, dapat menerapkan Hidden Curriculum dalam pendidikan
multikultural disekolah sehingga sikap afektif siswa lebih baik lagi.
3. Untuk pembaca, dapat menambah wawasan dan ilmu baru terkait Hidden
Curriculum dalam pendidikan multikultural.

2
BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Definisi Hidden Curriculum


Dunia pendidikan sangat erat kaitannya dengan kurikulum. Ada yang
mengatakan bahwa kurikulum merupakan inti dari pendidikan. Namun, kurikulum
bukanlah sesuatu yang bisa dipisahkan dari pendidikan. Pendidikan merupakan
interaksi antara peserta didik dengan guru dalam mengadakan pengajaran. Dengan
adanya pendidikan, kurikulum sangat membantu pendidikan dalam mencapai tujuan.
Dalam mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan, maka sekolah dapat
mengembangkan kurikulum yang direncanakan. Kurikulum yang direncanakan inilah
yang sering disebut dengan kurikulum tertulis atau kurikulum formal. Lazimnya
kurikulum dipandang sebagai suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses
belajar-mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah. Kurikulum dalam
artian sempit menunjukkan sejumlah mata pelajaran yang berisikan materi-materi
ilmu pengetahuan yang harus dicapai oleh peserta didik. Dengan materi-materi
tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh ijazah dalam pendidikannya.
Kedua, kurikulum dalam artian luas yakni menyangkut tentang segala pengalaman
yang dialami peserta didik yang berikaitan dengan pengalaman yang memberikan
pembelajaran tentunya. Pengalaman tersebut akan diarahkan sesuai dengan tujuan
yang ingin dicapai.
Gambaran tentang konsep kurikulum di atas menjelaskan bahwa kurikulum
merupakan alat sebagai tujuan pembelajaran yang berisikan sejumlah mata pelajaran
dan berbagai pengalaman siswa. Suatu pengalaman dikatakan kurikulum apabila
kegiatan yang dilakukan memiliki pengalaman belajar. Pengertian ini juga
menunjukkan bahwa kurikulum bukanlah kegiatan yang terbatas hanya di dalam
kelas saja, melainkan semua kegiatan yang dilakukan saat di luar kelas. Selain
kurikulum formal juga terdapat kurikulum tidak formal terdiri atas aktivitas-aktivitas
yang juga direncanakan akan tetapi tidak berkaitan langsung dengan pelajaran
akademis di kelas, dan keberadaan kurikulum ini dipandang sebagai pelengkap

3
kurikulum formal. Konsep lain dari kurikulum tidak formal yakni kurikulum
tersembunyi atau hidden curriculum.
Istilah Hidden Curriculum untuk pertama kali diperkenalkan oleh Philip
W.Jackson dalam bukunya Life in Classroom (1968). Dalam buku tersebut Jackson
secara kritis mencari jawaban kekuatan utama apa yang terdapat di Sekolah sehingga
dapat membentuk hibitus budaya seperti kepercayaan, sikap dan pandangan murid.
Setelah tulisan Jackson terbit, Benson Snyder mempublikasikan buku The
Hidden Curriculum (1970), yang mengajukan pertanyaan tentang mengapa siswa-
bahkan atau terutama yang berbakat-menjauhi pendidikan. Dalam buku ini, Snyder
menjelaskan tesis utamanya bahwa banyak terjadi konflik dikampus dan fenomena
kecemasan pribadi siswa yang disebabkan karena factor norma-norma akademik dan
social yang tak tertulis di lingkungan kampus. Hal tersebut dianggap menggagalkan
siswa untuk memiliki kemampuan berkembang secara mandiri atau berpikir kreatif.
Istilah hidden curriculum terdiri dari dua kata, yaitu “hidden’ dan “curriculum”.
Secara etimologi, kata “hidden” berasal dari bahasa Inggris yaitu hide yang berarti
tersembunyi (terselubung) dan hidden (menyembunyikan). Sedangkan istilah
kurikulum yaitu suatu rencana, suatu program yang diharapkan, atau tentang
kebutuhan yang diperlukan selama studi berlangsung.
Pengertian hidden curriculum menurut para ahli:
1. John D. MC. Neil
Hidden curriculum merupakan pengaruh pembelajaran yang tidak resmi (tidak
direncanakan) hal mana bisa melemahkan atau menguatkan dalam
merealisasikan tujuan.
2. Jane Martin
Hidden curriculum adalah hasil sampingan dari proses pembelajaran, baik
diluar ataupun di dalam sekolah tetapi tidak secara formal dicantumkan
sebagai tujuan pendidikan.
3. Allan A. Glattrhorn
Hidden curriculum merupkan kurikulum yang tidak menjadi bagian untuk
dipelajari. Hal ini dapat digambarkan dari beberapa aspek yang ada di sekolah

4
di luar kurikulum yang dipelajari, namun memberikan pengaruh dan
perubahan nilai, prestasi, dan tingkah laku peserta didik.
4. Murray Print
Hidden curriculum adalah peristiwa atau kegiatan yang terjadi tetapi tidak
direncanakan keberadaanya, tapi bisa dimanfaatkan guru dalam pencapaian
hasil belajar. Selain itu , hidden curriculum juga dapat mempengaruhi gaya
belajar atau tujuan yang tidak dideskripsikan tetapi pencapaiannya dapat
dilaksanakan oleh guru pada waktu proses belajar mengajar berlangsung.
5. H. Dakir
Hidden curriculum merupakan kurikulum yang tidak direncanakan, tidak
diprogram, dan tidak dirancang, tetapi mempunyai pengaruh baik secara
langsung maupun tidak langsung terhadap output dari proses belajar
mengajar.
Dari beberapa pengertian yang telah disebutkan diatas, dapat penulis
simpulkan bahwa hidden curriculum (kurikulum tersembunyi) merupakan sebuah
rancangan pendidikan yang tidak tertulis dan tidak dibakukan dalam peraturan-
peraturan pembelajaran. Akan tetapi diaplikasikan dalam proses belajar-mengajar dan
memiliki pengaruh terhadap keperibadian peserta didik, baik secara langsung maupun
tidak langsung sebagai output dari proses belajar-mengajar. Keberadaan Hidden
curriculum tanpa disadari sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan.

2.2 Fungsi Hidden Curriculum


Walaupun kurikulum tersembunyi memberikan sejumlah besar pengetahuan pada
siswa, ketidaksamaan yang diakibatkan kesenjangan antar kelas dan status sosial
sering menimbulkan konotasi negatif. Sebagai contoh, Pierre Bourdieu menegaskan
bahwa modal yang berhubungan dengan pendidikan harus dapat diakses untuk
meningkatkan prestasi akademik. Efektivitas dari sekolah akan menjadi terbatas bila
kapital jenis ini didistribusikan secara tidak merata. Karena kurikulum tersembunyi
dianggap sebagai suatu bentuk modal yang berhubungan dengan pendidikan, maka
kurikulum tersebut menghasilkan ketidakefektifan pada suatu sekolah, sebagai hasil

5
dari ketidakmerataan distribusinya. Intinya akan ada beberapa kemungkinan yang
akan membuat kurikulum tersembunyi sulit diterapkan disebuah sekolah karena
perbedaan status sosial.
Sebagai cara dari kontrol sosial, kurikulum tersembunyi mempromosikan
persetujuan terhadap nasib sosial tanpa meningkatkan penggunaan pertimbangan
rasional dan reflektif. Menurut Elizabeth Vallance, fungsi dari kurikulum
tersembunyi mencakup "penanaman nilai, sosialisasi politis, pelatihan dalam
kepatuhan, pengekalan struktur kelas tradisional-fungsi yang mempunyai
karakteristik secara umum seperti kontrol sosial”. Kurikulum tersembunyi dapat juga
diasosiasikan dengan penguatan ketidaksetaraan sosial, seperti terbukti dalam
perkembangan hubungan yang berbeda terhadap modal yang berdasar pada jenis
kerja dan aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaan yang diterapkan pada siswa
jadi berbeda-beda berdasarkan kelas sosialnya.
Keberadaan hidden curriculum berupaya untuk melengkapi dan menyempurnakan
kurikulum formal. Dengan demikian, kurikulum formal dan hidden curriculum dapat
saling melengkapi, penggunaan kedua kurikulum tersebut secara langsung tidak dapat
dipisahkan dalam prakteknya di Sekolah. Hidden curriculum memiliki beberapa
fungsi.
Pertama, hidden curriculum memberikan pemahaman mendalam tentang
kepribadian, norma, nilai, keyakinan yang tidak dijelaskan secara menyeluruh dalam
kurikulum formal. Kedua, hidden curriculum memiliki fungsi untuk memberikan
kecakapan, keterampilan yang sangat bermanfaat bagi murid sebagaii bekal dalam
fase kehidupannya di kemudian hari. Dalam hal ini, hidden curriculum dapat
mempersiapkan murid untuk siap terjun di masyarakat. Ketiga, hidden curriculum
dapat menciptakan masyarakat yang lebih demokratis.
Hal tersebut dapat dilihat dalam berbagai kegiatan maupun aktivitas selain selain
dijelaskan di dalam kurikulum formal. Misalnya, melalu berbagai kegiatan pelatihan,
ekstrakulikuler, diskusi. Keempat, hidden curriculum juga dapat menjadi mekanisme
dan control sosial yang efektif terhadap perilaku murid maupun perilaku guru. Guru
memberikan berbagai contoh panutan, teladan, dan pengalaman yang ditransmisikan

6
kepada murid. Murid kemudian mendiskusikan dan menegosiasikan penjelasan
tersebut. Kelima, berbagai sumber dalam hidden curriculum dapat meningkatkan
motivasi dan prestasi murid dalam belajar.

2.3 Dimensi Hidden Curriculum


Menurut Bellack dan Kiebard seperti yang dikutip oleh Sanjaya, hidden
curriculum memiliki tiga dimensi, yaitu:
a. Hidden curriculum dapat menunjukkan suatu hubungan struktur sekolah, yang
meliputi interaksi guru, peserta didik, struktur kelas, keseluruhan pola
organisasional peserta didik sebagai mikosmos sistem nilai sosial.
b. Hidden curriculum dapat menjelaskan sejumlah proses pelaksanaan di dalam
atau diluar sekolah yang meliputi hal-hal yang memiliki nilai tambah,
sosialisasi, dan pemeliharaan struktur kelas.
c. Hidden curriculum mencangkup perbedaan tingkat kesenjangan sepeti halnya
yang dihayati oleh para peneliti, tingkat yang berhubungan dengan hasil yang
bersifat insidental. Bahkan hal itu terkadang tidak diharapkan dari penyusunan
kurikulum dalam kaitannya dengan fungsi sosial pendidikan.
Jeane H.Balantine mengatakan bahwa hidden curriculum terbentuk dari tiga R
yang sangat penting untuk dikembangkan,yaitu:
a. Rules atau aturan, sekolah harus menciptakan berbagai aturan untuk
menciptakan situasi dan kondisi sekolah yang kondusif untuk belajar.
b. Regulations atau kebijakan, sekolah harus membuat kebijakan yang
mendukung terhadap tercapainya tujuan dari pembelajaran di sekolah tersebut,
kebijakan tersebut tidak hanya bersangkutan terhadap siswa, tetapi perlu
dibuat kebijakan untuk semua komponen sekolah, tentunya dengan formulasi
yang berbeda.
c. Routines atau kontinyu, sekolah harus menerapkan segala kebijakan dan
aturan secara terus menerus dan adaptif, tujuanya agar kebijakan tersebut
dapat diterima dengan baik dan terus dilaksanakan.

7
2.4 Aspek yang memengaruhi Hidden Curriculum
Hidden Curriculum mengkaji berbagai penjelasan maupun materi yang tidak
disampaikan dalam kurikulum resmi yang diajarkan di Sekolah, tetapi ditanamkan
melalui serangkaian aktivitas yang berlangsung di Sekolah. Terdapat dua aspek dalam
kajian hidden curriculum yaitu aspek structural (organisasi) dan aspek budaya. Dua
aspek ini menjadi contoh dan panduan untuk melihat dan mendengar dalam
berlangsungnya hidden curriculum di Sekolah. Aspek structural menjelaskan tentang
pembagian kelas, berbagai kegiatan Sekolah diluar kegiatan belajar (misalnya
berbagai kegiatan ekstrakulikuler), berbagai kegiatan yang disediakan (misalnya
fasilitas lapangan olahraga, fasilitas perpustakaan, fasilitas ruang multimedia, fasilitas
laboratorium, fasilitas tempat ibadah).
Fasilitas juga mencakup barang-barang yang ada di Sekolah yang dapat
mendukung pembelajaran di Sekolah. Termasuk di dalamnya adalah buku teks dan
berbagai program computer yang diajarkan di Sekolah. Aspek kultural mencakup
norma Sekolah, etos kerja keras, peran dan tanggung jawab, relasi sosial antar-pribadi
dan antar-kelompok, konflik antarpelajar, ritual dan perayaan ibadah, toleransi, kerja
sama, kompetisi, ekspektasi guru terhadap muridnya serta disiplin waktu.

2.5 Keterkaitan antara Hidden Curriculum dengan Pendidikan Multikultural


Proses pembentukan pribadi seorang peserta didik yang dilakukan oleh guru
sebenarnya sudah dan dapat dilakukan sesuai dengan arah dan tujuan program
pendidikan yang telah dijabarkan dalam kurikulum. Oleh karena itu keberhasilan dan
kegagalan guru dalam menerjemahkan, merancang dan mengembangkan program
pembelajaran akan sangat menentukan proses pembentukan kepribadian peserta
didik.
Dalam konteks demikian, sebagai pendidik, guru mata pelajaran apapun dituntut
menanamkan atau menginternalisasikan nilai-nilai moral yang berlaku dalam
kehidupan sehari-hari, di samping tetap menjalankan tugasnya sebagai pengajar. Guru
sebagai pengajar seringkali hanya dimaknai sebagai sebagai penyampai isi
kurikulum. Oleh karena posisinya yang demikian menuntut guru disamping harus

8
professional dalam bidang keilmuan dan pengajaran, guru dituntut dapat mengambil
peran mereka sebagai pendidik dalam arti melaksanakan profesi mendidik (bukan
sekedar mengajar yang hanya dimaknai sebagai kewajiban mengajar di dalam kelas
yang dibatasi oleh suatu ukuran kuantitas, misalnya 24 jam pelajaran setiap
minggunya), namun lebih dari itu dapat menjadikan peserta didik memiliki moral
atau kepribadian yang baik, disamping menguasai ilmu yang dipelajari.
Kurikulum adalah seluruh pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik di
bawah bimbingan pihak sekolah, baik pengalaman yang direncanakan maupun yang
tidak direncanakan. Sejumlah pengalaman yang dikenal dengan hidden curriculum
atau kurikulum tersembunyi merupakan pengalaman yang tidak
direncanakan/diprogramkan seperti mematuhi peraturan-peraturan sekolah,
menjalankan ritual/acara keagamaan, mematuhi peraturan-peraturan lainnya.
Pelaksanaan kurikulum tersembunyi dalam KTSP dapat pula digolongkan dalam
aktivitas pengembangan diri yang pelaksanaannya tidak terprogram. Dalam panduan
KTSP untuk pengembangan diri tentang bentuk-bentuk pelaksanaan pengembangan
diri dinyatakan bahwa, bentuk-bentuk pelaksanaan pengembangan diri mencakup: (1)
Kegiatan pengembangan diri secara terprogram dilaksanakan dengan perencanaan
khusus dalam kurun waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara
individual, kelompok dan atau klasikal melalui penyelenggaraan: (a) layanan dan
kegiatan pendukung konseling, dan (b) kegiatan ekstra kurikuler; (2) Kegiatan
pengembangan diri secara tidak terprogram dapat dilaksanakan sebagai berikut, (a)
rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan terjadwal, seperti: upacara bendera, senam,
ibadah khusus keagamaan bersama, keberaturan, pemeliharaan kebersihan dan
kesehatan diri; (b) spontan, adalah kegiatan yang tidak terjadwal dalam kejadian
khusus seperti: pembentukan perilaku memberi salam, membuang sampah pada
tempatnya, antri, mengatasi silang pendapat (pertengkaran); dan (c) keteladanan,
adalah kegiatan dalam bentuk perilaku sehari-hari seperti: berpakaian rapi, berbahasa
yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan atau keberhasilan orang lain, datang
tepat waktu.

9
Hidden curriculum sebaiknya dimasukkan juga dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan pengalaman empiris, pengetahuan yang disampaikan melalui hidden
curriculum ternyata lebih banyak digunakan dan diperlukan dalam kehidupan nyata
dibanding dengan yang lain. Pertama, hidden curriculum adalah alat dan metode
untuk menambah khasanah pengetahuan anak didik di luar materi yang tidak
termasuk dalam pagar-pagar silabus seperti budi pekerti, sopan santun, menciptakan
dan menimbulkan sikap apresiatif terhadap kehidupan lingkungan. Kedua, hidden
curriculum berfungsi sebagai pencairan suasana, menciptakan minat, dan
penghargaan terhadap guru jika disampaikan dengan gaya tutur, keanekaragaman
pengetahuan guru. Guru yang disukai murid merupakan modal awal bagi lancarnya
proses belajar mengajar, dan merangsang minat baca peserta didik. Hidden
curriculum dapat disampaikan dan dipraktekkan oleh siapa saja. Dengan membaca,
informasi, data pengetahuan yang ada di storage memory guru menjadi lebih banyak
daripada isi memory peserta didik. Kemudian pengetahuan itu (tidak hanya materi
pokok) akan mengisi dan menambah data di storage memory peserta didik melalui
hidden curriculum.
Dalam kurikulum tersembunyi, pendidikan multikultural sebaiknya
diintegrasikan ke semua mata pelajaran dan kegiatan lintas kurikulum. Sebaliknya
wawasan multikulturalisme tidak dimasukkan sebagai beban tambahan sebagai mata
pelajaran baru dalam kurikulum yang sudah dirasakan berat oleh guru dan peserta
didik.

10
BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Hidden curriculum (kurikulum tersembunyi) merupakan sebuah rancangan
pendidikan yang tidak tertulis dan tidak dibakukan dalam peraturan-peraturan
pembelajaran.
Terdapat lima fungsi hidden curriculum yaitu pertama, memberikan pemahaman
mendalam tentang kepribadian, norma, nilai, dan keyakinan. Kedua, memiliki fungsi
untuk memberikan kecakapan, keterampilan yang sangat bermanfaat bagi murid.
Ketiga, dapat menciptakan masyarakat yang lebih demokratis. Keempat, juga dapat
menjadi mekanisme dan kontrol sosial yang efektif terhadap perilaku murid maupun
perilaku guru. Kelima, berbagai sumber dalam hidden curriculum dapat
meningkatkan motivasi dan prestasi murid dalam belajar.
Dimensi hidden curriculum dapat menunjukkan suatu hubungan sekolah, dapat
menjelaskan sejumlah proses pelaksanaan di dalam atau diluar sekolah, serta
mencangkup perbedaan tingkat kesenjangan sepeti halnya yang dihayati oleh para
peneliti, tingkat yang berhubungan dengan hasil yang bersifat insidental.
Terdapat dua aspek dalam kajian hidden curriculum yaitu aspek structural
(organisasi) dan aspek budaya.
Dalam kurikulum tersembunyi, pendidikan multikultural sebaiknya
diintegrasikan ke semua mata pelajaran dan kegiatan lintas kurikulum. Namun
wawasan multikulturalisme tidak dimasukkan sebagai beban tambahan sebagai mata
pelajaran baru dalam kurikulum yang dirasakan berat oleh guru dan peserta didik.

3.2 Saran
Walaupun hidden kurikulum tidak tertulis tetapi keberadaannya terkait erat
dengan perilaku siswa, oleh karena itu, jika menginginkan perubahan perilaku siswa
secara lengkap, maka harus pula memperhatikan secara serius tidak hanya pada
kurikulum yang resmi saja tetapi juga pada hidden kurikulum atau kurikulum
tersembunyi nya.

11
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Abdullah. 2011. Pendidikan Islam Multikultural Di Pesantren. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

Ali, Maksum. 2011. Pluralisme dan Multikulturalisme. Malang: Aditya Media


Publishing.

Hamalik, Oemar. 2007. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Hidayat, Rakhmat. 2011. Pengantar Sosiologi Kurikulum. Jakarta: Raja Grafindo


Persada.

Nasution, S. 2012. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Nurdin, Syafruddin. 2010. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah,


Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Ciputat: Ciputat Press Group.

Rohinah, M. Noor. 2012. The Hidden Curriculum. Yogyakarta: Insan Madani.

Suparlan. 2008. Modul Kurikulum dan Pengembangan Materi Pembelajaran. Jakarta:


Universitas Tama Jagakarsa

12