Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH PENDIDIKAN MULTIKULTURAL

“Merancang Pendidikan Multikultural dalam Kurikulum Biologi di Sekolah”


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah pendidikan multikultural kelas A

Disusun Oleh Kelompok 7 :


Ena Milada 1502101030
Uswatun Hasanah 150210103077

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................ iii

BAB 1. PENDAHULUAN .......................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................... 2

1.3 Tujuan ......................................................................................................................... 2

1.4 Manfaat ....................................................................................................................... 3

BAB 2.PEMBAHASAN .............................................................................................. 4

2.1 Pengertian dari ilmu biologi ....................................................................................... 4

2.2 Urgensi Pendidikan Multikultural ............................................................................... 4

2.3 Pendekatan Pendidikan Multikultural ......................................................................... 6

2.4 Mengintegrasikan Pendidikan Multikultural dengan Karakter Pembelajaran Biologi 7

2.5 Rancangan pendidikan multikultural dalam kurikulum Biologi ............................... 12

BAB 3. PENUTUP .................................................................................................... 16

3.1 Kesimpulan ............................................................................................................... 16

3.2 Saran.......................................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA. ............................................................................................... 18

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah Swt. yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Merancang Pendidikan Multikultural dalam Kurikulum Biologi di Sekolah”
dengan baik dan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Makalah ini adalah hasil
diskusi kelompok menggunakan metode telaah pustaka dalam melaksanakan tugas
mata kuliah Pendidikan Multikultural. Makalah ini disertai dengan pembahasan dan
kesimpulan serta hal yang lain sesuai dengan tugas. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi penulis maupun pembaca serta dengan adanya penyusunan makalah
seperti ini, observasi yang dilaksanakan dapat tercatat dengan rapi dan dapat
dipelajari kembali pada kesempatan yang lain untuk kepentingan proses belajar.
Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu hingga terselesaikannya tugas ini, terutama kepada Bapak Prof. Dr.
Suratno, M.Si., sebagai dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Multikultural yang
telah memberikan saran, petunjuk, dan dorongan dalam melaksanakan tugas ini, serta
teman-teman kelas A Pendidikan Multikultural yang telah memberi dukungan
terhadap pengerjaan tugas ini. Semoga segala yang telah dikerjakan merupakan
bimbingan yang lurus dari Yang Maha Kuasa.
Dalam penyusunan tugas ini tentu jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran sangat diharapkan demi perbaikan dan penyempurnaan tugas ini dan untuk
pelajaran dalam pembuatan tugas-tugas yang lain di masa mendatang. Semoga
dengan adanya tugas ini, dapat menjadi pembelajaran bersama demi kemajuan ilmu
pengetahuan.

Jember, April 2018

Penulis

iii
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masyarakat lndonesia adalaha masrakat yang heterogen yang memiliki
tingkat multikulturalisme tinggi. Namun, untuk hidup secara multikultural bangsa
lndonesia masih belum dapat sepenuhnya, hal itu dibuktikan dengan masih
adanya konflik antar suku, masyarakat yang kadang belum dapat hidup
berdampingan dengan kelompok yang berbeda, masih adanya stereotipe dan
prasangka yang mudah berkembang dan dimanfaatkan oleh orang-orang
berkepentingan tertentu untuk tujuan tertentu yang merugikan. Kondisi masyarakat
lndonesia yang demikian maka pendidikan multikulturalis adalah kebutuhan.
Konsep kearifan lokal, dalam kontek kehidupan berbudaya dan hubungan
sosial ditengah komunitas masyarakat yang heterogen memiliki kekuatan (power)
dalam menciptakan suasana sosial yang kondusif. memahami dan mengangkat
kearipan lokal dalam kontek kehidupan ditengah masyarakat yang heterogen
(pluralis), pada dasarnya dapat memberikan peran penting bagi tertatanya
hubungan sosial yang harmonis dengan semangat saling menghargai dan
menghormati. Multikulturalisme meliputi tiga hal, pertama multikulturalisme
berhubungan dengan budaya, kedua, berhubungan pada keragaman yang ada, dan
ketiga, berhubungan dengan tindakan khusus pada respon terhadap keragaman
tersebut. Salah satu cara pembentukan multikulturalisme yang baik adalah melalui
pendidikan. Pendidikan multikultural merupakan pendidikan tentang atau untuk
keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural
lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia. Pendidikan multikultural
merupakan konsep yang luas, yang mencakup formal, non-formal maupun
pendidikan informal. Pendidikan multikultural tidak terbatas pada pendidikan di
sekolah. Namun, salah satu pendidikan multikultural dapat melalui sekolah,
sehingga salah satu cara mengajarkan multikulturalisme. Oleh karena itu

1
harapannya melalui pembelajaran multikulturalisme peserta didik sebagai penerus
bangsa dapat memahami dan menyadari keberagaman yang ada, kemudian
mempunyai pemahaman bagaimana menghadapi keadaan yang multikultural yang
baik.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah adalah sebagai berikut:
a. Apa pengertian dari ilmu biologi?
b. Bagaimana urgensi pendidikan multikultural?
c. Bagaimanakah pendekatan pendidikan multikultural?
d. Bagaimanakah mengintegrasikan pendidikan multikultural dengan karakter
pembelajaran Biologi?
e. Bagaimanakah rancangan pendidikan multikultural dalam kurikulum
Biologi?

1.3 Tujuan
Tujuan dari rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui pengertian dari ilmu biologi.
b. Mengetahui urgensi pendidikan multikultural.
c. Mengetahui pendekatan pendidikan multikultural.
d. Mengetahui bagaimanakah mengintegrasikan pendidikan multikultural
dengan karakter pembelajaran Biologi.
e. Mengetahui bagaimanakah rancangan pendidikan multikultural dalam
kurikulum Biologi.

2
1.4 Manfaat
Penyusunan makalah ini memberikan manfaat pengetahuan dan wawasan
yang lebih mengenai rancangan pendidikan multikultural dalam kurikulum biologi
di sekolah.

3
BAB 2.PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dari ilmu biologi


Ilmu biologi pertama kali dirintis oleh Aristoteles yang merupakanseorang
ilmuwan berkebangsaan Yunani yang dikenal sebagai bapak perintis biologi.
Kata Biologi berasal dari bahasa yunani, yaitu bio yang artinya hidup dan logos yang
artinya ilmu pengetahuan. Sehingga kita dapat mengartikan bahwa biologi adalah
ilmu pengetahuan yang mempelajari serta mengkaji mengenai kehidupan. Objek
kajian biologi berupa benda-benda yang dapat ditangkap oleh alat indra manusia dan
oleh alat bantu (contohnya mikroskop). Pengertian biologi menurut para ahli adalah
sebagai berikut:
1. Orman Karmana,biologi merupakan suatu ilmu yang dapat menunjang ilmu-
ilmu lainnya dalam hal memecahkan masalah
2. Fiktor Ferdinand P. dan Moekito Ariwibow,yang menyatakan bahwa biologi
adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup serta
lingkungannya
3. Deswaty Furqonita dan M.Biomed yang menyatakan bahwa biologi adalah
ilmu yang mengkaji tentang segala sesuatu mengenai makhluk hidup
4. Bagod Sudjudi dan Siti Lalila,biologi adalah ilmu yang merupakan bagian
dari sains yang didalamnya mengkaji mengenai makhluk hidup dan
lingkungannya
5. Manjam dan Ami S.,ilmu biologi adalah ilmu yang mempunyai cakupan yang
sangat luas sehingga nantinya dapat mempermudah dalam mempelajarinya

2.2 Urgensi Pendidikan Multikultural


Indonesia merupakan negara yang penuh dengan keanekaragaman, baik suku
bangsa, agama, adat istiadat dan budaya. Kekayaan bangsa sebagai modal besar ini

4
akan dapat terwujud masyarakat yang multikultural, apabila warganya dapat hidup
berdampingan, toleran dan saling menghargai. Nilai-nilai budaya serti itu jangan
hanya sebatas wacana, tetapi harus sebagai patokan penilaian dan pedoman etika dan
moral dalam bertindak yang benar dan pantas bagi orang Indonesia. Dalam
masyarakat majemuk seperti Indonesia, pengelolan terhadap keragaman sangat urgen
untuk dikaji dan diterapkan karena tanpa pengelolaan yang baik terhadap keragaman
ini maka keragaman yang sedianya sebagai modal besar dalam pembangunan akan
berubah menjadi racun yang siap memporak porandakan bangsa ini hancur
berkeping-keping. Urgensitas pendidikan multikultural di Indonesia dapat di urai
kepada tiga garis besar:
1. Sebagai sarana alternatif pemecahan masalah
Penyelenggaraan pendidikan multikultural di dunia pendidikan diyakini dapat
menjadi solusi nyata bagi konflik dan disharmonisasi yang terjadi di tengah-tengah
masyarakat, khususnya yang kerap terjadi di Indonesia. Dalam arti kata bahwa
pendidikan multikultural dapat menjadi sarana alternatif pemecahan konflik sosial
budaya. Pendidikan multikultural dipandang suatu yang urgen bagi bangsa
Indonesia karna umumnya masyarakat justru mengetahui dalam mengenai streotip
suatu bangsa dibandingkan mengenal apa yang sebenarnya dimiliki bangsa
tersebut. Padahal dalam pendidikan multikultural, memahami makna dibalik
realitas budaya suatu suku bangsa merupakan hal yang esensial. Perubahan yang
diharapkan dalam pembelajaran dalam konteks pendidikan multikultural bukan
terletak pada justifikasi angka yang berorientasi kognitif sebagaimana lazimnya
penilaian keberhasilan pendidikan. Namun terletak pada terciptanya kondisi yang
nyaman, damai dan toleran yang keragaman (Kamal,2013).
2. Supaya siswa tidak tercerabut dari akar budayanya
Era globalisai yang terjadi saat ini, selain memberikan banyak memberi banyak
kemudahan dalam kehidupan dengan hadir IPTEK namun dibalik itu pertemuan
antar budaya juga memberikan ancaman bagi generasi muda. Hal yang dilakukan

5
untuk menyikapi realitas global tersebut, sebaiknya siswa diberi penyadaran akan
pengetahuan yang beragam, sehingga mereka memiliki kompetensi yang luas akan
pengetahuan global, termasuk aspek kebudayaan. HAR Tilaar berpendapat bahwa
pendidikan multikultural menjadi suatu tuntutan untuk membangun Indonesia baru
dengan mengenali beragam budaya kepada siswa dan memperkokoh pemahaman
siswa terhadap budayanya sehingga tidak tercerabut dari akarnya sebagai dampak
dari era globalisasi.
3. Sebagai Landasan Pengembangan Kurikulum
Pendidikan multikultural sebagai landasan dari pengembangan kurikulum menjadi
sangat penting karena kurikulum sebagai titik tolak dalam proses pembelajaran.
Pengembangan kurikulum dengan pendekatan multikultural antara lain:
a. Filosofi kurikulum yang lebih sesuai dengan tujuan, visi dan misi serta fungsi
setiap jenjang pendidikan bukan berdasarkan keseragaman yang diatur dari
pusat.
b. Pembelajaran yang berbasis proses bukan berbasis materi.
c. Teori belajar yang digunakan memperhatikan aspek keragaman sosial dan
menempatkan siswa sebagai anggota aktif masyarakat, bangsa dan dunia.
d. Evaluasi yang digunakan meliputi keseluruhan aspek kemampuan dan
kepribadian peserta didik bukan hanya penguasaan materi semata

2.3 Pendekatan Pendidikan Multikultural


Pendekatan pendidikan multikultural telah berkembang sejak tahun 1960-an
dan dapat diidentifikasi dengan empat pendekatan yang akan mengintegrasikan
materi etnis serta multikultural ke dalam kurikulum:
1. Pendekatan Kontribusi ( the contribution approach)
Pendekatan yang mencerminkan sedikitnya jumlah keterlibatan dalam pendekatan
pendidikan multikultural. Pendekatan ini dapat dimasukkan dengan cara memilih
buku-buku dan kegiatan yang merayakan hari libur, pahlawan, dan acara khusus
dari berbagai budaya.

6
2. Pendekatan Aditif (The Additive Approach)
Pendekatan ini memiliki konsep, tema, dan perspektif ditambahkan ke kurikulum
tanpa mengubah struktur dasar. Ini melibatkan menggabungkan literatur oleh dan
tentang orang-orang dari beragam budaya ke dalam kurikulum utama tanpa
mengubah kurikulum. Sebagai contoh, memeriksa perspektif asli Amerika
tentang Thanksgiving akan menambahkan keragaman budaya dengan pandangan
tradisional Thanksgiving
3. Pendekatan Transformasi (The Transformation Approach)
Pendekatan merupakan pendekatan yang benar-benar mengubah struktur
kurikulum dan mendorong siswa untuk melihat konsep, isu, tema, dan masalah
dari perspektif etnik dan beberapa sudut pandang. Sebagai contoh, sebuah unit
pada Thanksgiving akan menjadi seluruh unit mengeksplorasi konflik budaya
4. Pendekatan Sosial Aksi (The Social Action Approach )
Pendekatan ini menggabungkan pendekatan transformasi dengan kegiatan untuk
berjuang untuk perubahan sosial. Siswa tidak hanya diperintahkan untuk
memahami dan pertanyaan isu-isu sosial, tapi juga melakukan sesuatu yang
penting tentang hal itu (Cahyono&Iswati,2017).

2.4 Mengintegrasikan Pendidikan Multikultural dengan Karakter Pembelajaran


Biologi
Multikulturalisme adalah sikap dan paham yang menerima adanya
berbagai kelompok manusia yang memiliki struktur dan kultur yang berbeda.
Sedangkan pluralisme lebih merujuk pada kesediaan untuk menerima dan
terbuka pada etnis dan budaya lain, karena etnis dan budaya lain itu bisa bernilai
baik untuk warganya. Multikultural adalah sebuah realitas di mana masyarakat
yang majemuk atau beragam dalam kesukubangsaan atau etnisitas (ethnicity),
mereka saling menerima dan menghargai keanekaragaman yang sudah tentu
mengandung di dalamnya perbedaan. Misalnya, perbedaan dalam hal budaya,

7
nilai-nilai budaya, pendapat atau ide dan apa saja yang terkait dengan
keberagaman fisik, sebagai suatu realitas yang ada. Dengan konsep ini,
multikulturalisme selayaknya digunakan sebagai ideologi untuk menata
kehidupan.pendidikan multikultural biasa diartikan sebagai pendidikan
keragaman budaya dalam masyarakat, dan terkadang juga diartikan sebagai
pendidikan untuk membina sikap siswa agar menghargai keragaman masyarakat.
Azra, mendifinisikan pendidikan multikulturalisme adalah sebagai pendidikan
untuk atau keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografi dan
kultur lingkungan masyarakat tertentu atau dunia secara keseluruhan. Kritik
Freire semakin menguatkan asumsi tersebut karena dia mengatakan bahwa
pendidikan bukan merupakan “menara gading” yang menjauhi realitas sosial dan
budaya, pendidkan harus mampu menciptakan tatanan masyarakat yang bukan
hanya mengagungkan situasi sosial sebagai akibat kekayaan dan kemakmuran.
Ainurrofiq Dawam, melihat pendidikan multikultural adalah pendidikan yang
memperhatikan secara sungguh-sungguh latar belakang peserta didik baik dari
aspek keragaman etnis, agama (aliran kepercayaan) dan budaya. Banks dan
Banks yang dikutip Azra juga mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai
kajian dan disiplin yang muncul yang tujuan utamanya menciptakan kesempatan
pendidikan yang setara bagi siswa tentang ras,etnik,kelas sosial dan kelompok
budaya yang berbeda. Berdasarkan definisi-definisi di atas, semuanya nampak
mengarah pada tujuan yang sama yaitu bagaimana lewat pendidikan mampu
mewujudkan sebuah bangsa yang kuat, maju, adil dan makmur dan sejahtera
tanpa perbedaan etnik, ras, agama dan budaya. Semangatnya adalah bagaimana
membangun kekuatan di seluruh sektor sehingga tercapai kemakmuran bersama,
memiliki harga diri yang tinggi dan di hargai bangsa lain. Dengan demikian,
pendidikan multikultural dalam konteks ini dapat diartikan sebagai sebuah proses
pendidikan yang memberika peluang sama pada seluruh anak bangsa tanpa
memperbedakan perlakuan karena perbedaan etnik, agama, budaya dalam rangka

8
memperkuat persatuan dan kesatuan, identitas nasional dan citra bangsa di mata
dunia internasional. (Supriyanto, 2015).
Tujuan pendidikan dengan berbasis multikultural (1) memfungsikan
peranan sekolah dalam memandang keberadaan siswa yang beraneka ragam, (2)
membantu siswa dalam membangun perlakuan yang positif terhadap perbedaan
kultural, ras, etnik, kelompok keagamaan, (3) memberikan ketahanan siswa
dengan cara mengajar mereka yang mengambil keputusan dan keterampilan
sosialnya, (4) membangun peserta didik dalam lintas budaya dan memberi
gambaran positif kepada mereka mengenai perbedaan kelompok (Fatimah, 2014)
Pemberian materi pendidikan multikultural tidak semata-mata hanya
bisa diintegrasikan pada mata pelajaran sosial atau agama saja, tetapi juga bisa
diintegrasikan pada mata pelajaran eksakta seperti mata pelajaran IPA dan
Matematika, Hal ini dibuktikan berdasarkan temuan mata pelajaran IPA dan
Matematika memiliki faktor loading lebih tinggi dibandingkan mata pelajaran
IPS atau Agama. Pengintegrasian materi pendidikan multikultural di sekolah
pada dasarnya dapat dilakukan melalui kegiatan sehari-hari dan juga melalui
kegiatan yang sudah diprogramkan terlebih dahulu. Jika pengintegrasiannya
melalui kegiatan sehari-hari, dapat dilakukan dengan cara pemberian contoh
yang baik atau menunjukkan sikap teladan oleh guru, kepala sekolah, pengawas
ataupun oleh staf sekolah lainnya. Bisa juga melalui kegiatan spontan yang
berupa teguran atas prilaku siswa yang dianggap kurang baik, melalui kegiatan
rutin seperti kegiatan baris- berbaris dengan disiplin, selalu berdoa sebelum dan
sesudah melakukan kegiatan, memberikan salam ketika bertemu kawan, dan juga
bisa melalui pengkondisian lingkungan belajar yang mencerminkan nilai-nilai
multikultural seperti memberikan perlakuan yang sama siswa laki dan
perempuan, memberikan penilaian yang adil, menempelkan slogan-slogan yang
mengingatkan siswa akan kewajibannya dan lain-lain. Pengintegrasian materi
pendidikan multikultural jika dilaksanakan melalui kegiatan terprogram, maka

9
kegiatan tersebut sudah terencana dan tersusun dengan baik. Pengintegrasian
bisa melalui; kegiatan proses belajar mengajar seperti metode, media dan
penilaian, kegiatan upacara keagamaan/peringatan hari besar agama, kegiatan
perayaan hari besar lokal dan nasional, melalui kegiatan di kelas seperti
percobaan/eksperimen, diskusi dan tanya jawab, melalui kegiatan OSIS seperti
membudayakan kebersamaan, musyawarah dan mufakat, kegiatan olah raga,
kegiatan bakti sosial dan lain-lain. Melalui program pendidikan multikultural
yang dikonsepsi dengan baik dan dilaksanakan secara kontinu dapat tercipta
sebuah masyarakat yang paham terhadap keberagaman budaya (Wenni
Wahyuandari, 2014)
Konsep kearifan budaya lokal, dalam kontek kehidupan dan relasi
sosial ditengah komunitas yang majemuk memiliki kekuatan (power) dalam
menciptakan suasana sosial yang kondusif. Maka dengan memahami dan
mengangkat kearipan budaya lokal dalam kontek kehidupan ditengah masyarakat
yang pluralis, secara sejatinya dapat memberikan peran bagi tertatanya hubungan
sosial yang harmoni dengan semangat saling menghargai dan menghormati.
Kearifan lokal konteks kehidupan ditengah masyarakat yang pluralis
diintegrasikan dalam pembelajaran sains termasuk Biologi, yaitu bisa melalui:
enkulturasi, asimilasi dan akulturasi.
a. Enkulturasi
Merupakan proses mempelajari nilai dan norma kebudayaan yang
dialami individu selama hidupnya. Sementara itu Damen (1987) mendefinisikan
enkulturasi sebagai akuisisi budaya, dijelaskan lebih lanjut bahwa
Enkulturasi membangun rasa identitas budaya atau sosial, jaringan nilai-nilai
dan keyakinan, cara berpola hidup, serta menumbuhkan etnosentrisme, atau
keyakinan pada kekuatan dan kebenaran cara asli. Proses enkulturasi dapat
diadopsi untuk mengembangkan pembelajaran sains. Terkait dengan hal ini
Aikenhead (2006) memaparkan bahwa melalui enkulturasi siswa dapat

10
menyelaraskan konten sains dari sekolah dengan cara pandang yang dimilikinya.
Pembelajaran sains dirancang untuk membantu siswa dalam menggabungkan
konten sains kedalam cara berpikir dan cara pandangnya. Dengan demikian
keterampilan berpikir saintifik dapat mewarnai cara berpikirnya sehari-hari.
Contoh enkulturasi pada pendidikan sains adalah dengan melakukan inventaris
konten sains yang mana yang selaras dengan potensi lokal (bentuk kearifan
lokal atau local genius) yang dimiliki siswa atau yang berlaku masyarakat.
b. Asimilasi
Istilah asimilasi berasal dari kata Latin, assimilare yang berarti
“menjadi sama”.Kata tersebut dalam bahasa Inggris adalah assimilation
(sedangkan dalam bahasa Indonesia menjadi asimilasi). Dalam bahasa
Indonesia, sinonim kata asimilasi adalah pembauran. Asimilasi merupakan
proses sosial yang terjadi pada tingkat lanjut.Proses tersebut ditandai
dengan adanya upaya-upaya untuk mengurangi perbedaan-perbedaan yang
terdapat diantara perorangan atau kelompok-kelompok manusia. Bila
individu-individu melakukan asimilasi dalam suatu kelompok, berarti budaya
individu-individu kelompok itu melebur. Biasanydalam proses peleburan ini
terjadi pertukaran unsur-unsur budaya. Pertukarantersebut dapat terjadi bila
suatu kelompok tertentu menyerap kebudayaan kelompok lainnya . Proses
asimilasi dapat kita adopsi dalam mengintegrasikan potensi lokal dengan
pendidikan sains. Menurut Aikenhead (2006), melalui proses asimilasi siswa
mempelajari konten sains yang tidak bersesuaian dalam beberapa hal
dengan cara pandang yang dimiliki. Selanjutnya menggantikan cara
pandangnya tersebut dengan cara pandang saintifik. Melalui proses asimilasi
maka cara berpikir saintifik akan mendominasi cara pandang mereka dalam
kehidupannya sehari-hari. Sebagai contoh beberapa budaya lokal memiliki cara
berpikir non realistis dalam kehidupan sehari-harinya. Melalui pendidikan
sains maka siswa dan masyarakat akan belajar konten kanonikal sains

11
sehingga cara pandang yang tidak rasional dapat mulai terkikis oleh cara
pandang yang lebih ilmiah. Di sisi lain potensi lokal (local genius) dapat
digunakan dalam penjelasan konten kanonikal sains menggantikan
penjelasan ilmiah yang sulit dimengerti siswa. Dengan demikian proses
pembelajaran sains akan lebih bermakna dan lebih mudah dimengerti oleh
siswa karena sesuai dengan kehidupannya.
c. Akulturasi
Akulturasi (acculturation) dapat didefinisikan sebagai proses sosial
yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu
dihadapkan dengan unsurunsur dari suatu kebudayaan asing dengan
sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun
diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan
hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Akulturasi adalah akuisisi
budaya tambahan. Dalam hal ini proses akulturasi antara konten sains
dengan potensi lokal dapat dilakukan dengan menginfentaris konten sains yang
memiliki nilai kemanfaatan sesuai dengan kebutuhan siswa dan masyarakat
saat itu. Kemudian menggunakannya untuk menggantikan ide-ide lama yang
sudah tidak sesuai dengan kebutuhan atau menambahkannya dalam ide-ide
berdasarkan potensi lokalnya. Proses akulturasi terjadi pada unsur potensi lokal
yang mudah berubah atau beradaptasi khususnya yang dapat meningkatkan
kualitas hidup atau memudahkan kerja manusia misalnya alat, tata cara, gaya
hidup dan lain-lain (Pieter, 2016)

2.5 Rancangan pendidikan multikultural dalam kurikulum Biologi.


Pembelajaran IPA seperti biologi yang sudah identik dengan keseriusan
membuat guru jarang untuk menerapkan strategi permainan dalam pembelajaran.
Meskipun tak dapat dipungkiri, pendidikan karakter sudah mulai diterapkan oleh
pemerintah, namun masih menggunakan nilai-nilai yang berbasis nasional

12
(Akhlis, 2016). Nilai karakter dalam Kurikulum 2013 dapat dilihat dalam
kompetensi inti. Melalui kompetensi ini, integrasi vertikal berbagai kompetensi
dasar pada kelas yang berbeda dapat dijaga. Kompetensi Inti dirancang dalam
empat kelompok yang saling terkait yaitu berkenaan dengan sikap
keagamaan/spiritual (KI 1), sikap sosial (KI 2), pengetahuan (KI 3), dan penerapan
pengetahuan (KI 4). Keempat kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi Dasar
dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif.
Kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan
secara tidak langsung (indirect teaching) yaitu pada waktu peserta didik belajar
tentang pengetahuan dan penerapan pengetahuan. KI-1 dan KI-2 dalam
Kurikulum 2013 menegaskan bahwa kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik
haruslah diwarnai dan ditopang oleh spiritualitas yang bersumber dari nilai-nilai
agama. Artinya peserta didik belajar bukan hanya untuk kepentingan mata
pelajaran yang ditekuninya tetapi menjadi sarana membentuk karakter kepribadian
yang religius dan berwawasan ke-Indonesia-an (Supriyanto, 2015).
Pengembangan pendidikan multikultural dalam kurikulum biologi dapat
melalui tahapan berikut:
a) Menentukan Tujuan Pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai budaya
(Content integration) dan aplikasinya (The Knowledge Construction
Process) Berdasarkan hasil analisis siswa dan lingkungan maka kebutuhan
akan desain pendidikan multikultural sudah semakin mendesak, untuk itu
pembelajaran didesain untuk mencapai keempat kopetensi inti secara
maksimal. Termasuk di dalamnya memberikan kesempatan pada siswa untuk
mengembangkan KI 1 dan KI 2 melalui serangkaian kegiatan yang sengaja
dihadirkan dalam pembelajaran untuk mengakomodir nilai budaya yang telah
dimiliki oleh masing-masing siswa.
b) Menentukan Metode Pelaksanaan dan Penilaian sesuai dengan cara belajar
siswa (An Equity Paedagogy). Metode yang akan digunakan dalam

13
pembelajaran ialah penemuan, kooperatif Learning dan permainan. Metode
penemuan dipilih sebagai wujud dari kebebasan belajar untuk mengakomodir
nilai kerja keras, kreatifitas dan tanggungjawab. Kooperatif learning dipilih
untuk mengakomodir nilai toleransi, musyawarah dan demokrasi. Adapun
metode permainan digunakan untuk mengakomodir suasana pembelajaran
yang menyenangkan. Ketiga metode ini akan menciptakan situasi active
learning sehingga nilai toleransi dan disiplin juga akan terakomodir dengan
sendirinya.
c) Memilih Media berdasarkan metode yang digunaka, misalkan media yang
digunakan ialah website pembelajaran sebagai sarana tutorial bagi siswa
untuk melaksanakan pembelajaran.
d) Membuat Draf RPP Materi yang dipilih untuk simulasi sesuai strategi yang
digunakan.
e) Draf Instrumen penilaian dan Angket. Untuk menilai KI 1 dan 2 maka
penilaian yang dilakukan tidak hanya berupa tes, namun juga dibuat lembar
observasi siswa untuk menilai sikap yang mencerminkan nilai-nilai budaya
bangsa. Nilai budaya yang bisa dibuat yaitu nilai religi yang tercermin
melalui doa pembuka dan penutup pada pembelajaran. Nilai kedisiplinan
yang nampak ketika siswa mampu menempatkan posisi antara permainan
dan serius. Selain itu, kedisiplinan juga ditunjukan dengan mengerjakan tugas
tepat waktu. Hal ini dikarenakan prinsip multikultural yang diterapkan
membuat siswa yakin akan kemampuan yang dimiliki tiap individu dan
adanya kebebasan dalam berpikir bagi setiap individu. Nilai kejujuran
tercermin dari originalitas tugas yang dihasilkan baik melalui tugas rumah
maupun tugas di kelas. Nilai kerjasama meningkat dikarenakan prinsip socio
humanis yang diterapkan membuat siswa percaya bahwa kerja sama dan
penggunaan perkembangan pengetahuan dapat memberikan kesejahteraan
bersama. Nilai toleransi berkembang seiring usaha guru dalam mendesain

14
pembelajaran yang menggunakan metode diskusi dan pendekatan scientifik
membuat siswa dilatih untuk menghargai pendapat orang lain dalam elompok
maupun secara klasikal.

15
BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
 Biologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari serta mengkaji mengenai
kehidupan. Objek kajian biologi berupa benda-benda yang dapat ditangkap oleh
alat indra manusia dan oleh alat bantu (contohnya mikroskop).
 Urgensitas pendidikan multikultural di Indonesia dapat di urai kepada tiga garis
besar yaitu Sebagai sarana alternatif pemecahan masalah, Supaya siswa tidak
tercerabut dari akar budayanya dan Sebagai Landasan Pengembangan Kurikulum.
2. Pendekatan pendidikan multikultural telah berkembang sejak tahun 1960-an
dan dapat diidentifikasi dengan empat pendekatan yang akan mengintegrasikan
materi etnis serta multikultural ke dalam kurikulum yaitu pendekatan Kontribusi (
the contribution approach), pendekatan Aditif (The Additive Approach),
pendekatan Transformasi (The Transformation Approach) dan pendekatan Sosial
Aksi (The Social Action Approach ).
 Materi pendidikan multikultural bisa diintegrasikan pada mata pelajaran eksakta
seperti mata pelajaran IPA dan Matematika. Pengintegrasian materi pendidikan
multikultural di sekolah pada dasarnya dapat dilakukan melalui kegiatan sehari-
hari dan juga melalui kegiatan yang sudah diprogramkan terlebih dahulu. Jika
pengintegrasiannya melalui kegiatan sehari-hari, dapat dilakukan dengan cara
pemberian contoh yang baik atau menunjukkan sikap teladan oleh guru, kepala
sekolah, pengawas ataupun oleh staf sekolah lainnya. Bisa juga melalui kegiatan
spontan yang berupa teguran atas prilaku siswa yang dianggap kurang baik,
melalui kegiatan rutin seperti kegiatan baris- berbaris dengan disiplin, selalu
berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, memberikan salam ketika
bertemu kawan, dan juga bisa melalui pengkondisian lingkungan belajar yang
mencerminkan nilai-nilai multikultural seperti memberikan perlakuan yang sama

16
siswa laki dan perempuan, memberikan penilaian yang adil, menempelkan
slogan-slogan yang mengingatkan siswa akan kewajibannya dan lain-lain.
 Pengembangan pendidikan multikultural dalam kurikulum biologi dapat melalui
tahapan yaitu menentukan Tujuan Pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai
budaya (Content integration) dan aplikasinya (The Knowledge Construction
Process), menentukan Metode Pelaksanaan dan Penilaian sesuai dengan cara
belajar siswa (An Equity Paedagogy), memilih Media berdasarkan metode yang
digunakan, membuat Draf RPP Materi yang dipilih untuk simulasi sesuai strategi
yang digunakan, membuat draf Instrumen penilaian dan Angket.

3.2 Saran
Apabila didalam makalah ini masih terdapat kekurangan dalam penyajian
materi, alangkah baiknya untuk lebih disempurnakan kembali.

17
DAFTAR PUSTAKA

Akhlis, N. R. (2016). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Ipa Berbasis


Pendidikan Multikultural Menggunakan Permainan Untuk Mengembangkan
Karakter Siswa . Unnes Science Education Journal , 1098-1118.

Cahyono,H. , Iswati.2016. Urgensi Pendidikan Multikultural Sebagai Upaya


Meningkatkan Apresiasi Siswa Terhadap Kearifan Budaya Lokal. Jurnal
Elementary. Vol.3:15-29

Fatimah, M. K. (2014). Integrasi Nilai-Nilai Pendidikan Multikultural Dalam Proses


Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn) Di Smp Negeri 6
Banjarmasin. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan , 565-572.

Kamal,M. 2013. Pendidikan Multikultural Bagi Masyarakat Indonesia Yang


Majemuk. Jurnal Al-Ta’lim. 1(6):451-458

Pieter, J. (2016). Pembelajaran Ipa Berbasis Kearifan Lokal Sebagai Solusi


Pengajaran Ipa Di Daerah Pedalaman Provinsi Papua. Research Gate , 1-12.

Supriyanto. (2015). Pengembangan Nilai Multikultural Dalam Kurikulum 2013.


Jurnal Pemikiran Islam , 120-138.

Wenni Wahyuandari, D. R. (2014). Pendidikan Multikultural (Studi Kasus Di


Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (Sltp) Di Tulungagung). Jurnal Universitas
Tulungagung Bonorowo , 1-20.

18