Anda di halaman 1dari 22

CeCRITICAL BOOK REVIEW

MMK.Pembelajaran PKN SD
PrProdi S1 PGSD Fak. Ilmu
Pendidkian

SSSkor Nilai :

JUDUL BUKU:
PENDIDIKAN KEWARGAAN
(A. Ubaedillah dan Abdul Rozak, 2008)

NAMA MAHASISWA : Yustika Febriana Hutajulu


NIM : 1173311152
DOSEN PENGAMPU : Apiek Gandamana, S.Pd., M.Pd.
MATA KULIAH : Pembelajaran PKN SD

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
SEPTEMBER 2019

1
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, dimana atas penyertaan-Nya
Critical Book Report yang berjudul “Pendidikan Kewargaan” ini dapat diselesaikan tepat
pada waktunya. Dengan kerendahan hati, penulis juga mengucapkan terimakasih kepada
bapak Apiek Gandamana, S.Pd., M.Pd selaku dosen pengampu pada mata kuliah
Pembelajaran PKN SD yang telah mengarahkan penulis dalam penyusunan Critical Book
Report.

Critical Book Report ini ditujukan dalam memenuhi salah satu tugas, diharapkan
bermanfaat bagi pembaca, menambah ilmu pengetahuan, dan dapat digunakan sebagai
salah satu pedoman dalam pembelajaran.

Adapun setiap susunan kata di dalam Critical Book Report ini belum sempurna,
bahkan mungkin jauh dari kata sempurna, dikarenakan penulis masih dikategorikan
sebagai pemula dalam penulisan Critical Book Report. Namun demikian, penulis berharap
mendapatkan kritik atau saran yang bersifat masukan untuk perbaikan dan
penyempurnaan dalam pembuatan Critical Book Report berikutnya.

Medan, 24 September 2019

Yustika Hutajulu

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2


DAFTAR ISI ........................................................................................................................... 3
BAB I .................................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN .................................................................................................................... 4
A. Rasionalisasi Pentingnya CBR ............................................................................................ 4
B. Tujuan Penulisan CBR........................................................................................................ 4
C. Manfaat CBR ..................................................................................................................... 4
D. Identitas Buku .................................................................................................................... 5
BAB II ................................................................................................................................... 6
RINGKASAN BUKU ............................................................................................................... 6
BAB III................................................................................................................................. 14
PEMBAHASAN .................................................................................................................... 14
A. Pembahasan Isi Buku ....................................................................................................... 14
B. Kelebihan dan Kekurangan Buku ....................................................................................... 15
BAB IV ................................................................................................................................ 17
PENUTUP ........................................................................................................................... 17
A. Kesimpulan...................................................................................................................... 17
B. Rekomendasi ................................................................................................................... 17
LAMPIRAN .......................................................................................................................... 18

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi Pentingnya CBR


Melakukan Critical Book Review pada suatu buku dengan
membandingkannya dengan buku lain sangat penting untuk dilakukan, dari
kegiatan inilah kita dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan suatu buku. Dari
mengkritik inilah kita jadi mendapatkan informasi yang kompeten dengan cara
menggabungkan informasi dari buku yang lain. Hal ini adalah salah satu upaya
KKNI untuk benar-benar menjadikan mahasiswa yang unggul dalam banyak hal,
salah satunya yaitu mengkritik buku.

B. Tujuan Penulisan CBR


1) Penyelesaian salah satu tugas wajib pada mata kuliah Pembelajaran PKN
SD.
2) Mengetahui apakah buku yang dikritisi cukup bermanfaat bagi
mahasiswa/siswa sebagai salah satu sumber belajar.
3) Mengetahui kesesuaian metode penulisan yang digunakan pengarang
dengan kondisi sekarang.
4) Menambah ilmu pengetahuan tentang Pembelajaran PKN SD.

C. Manfaat CBR
1) Mampu memahami perbedaan/persamaan materi dan konsep
pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan SD.
2) Mampu memahami keunggulan dan kelemahan buku sebagai bahan ajar
yang digunakan guru atau pendidik untuk menerapkan pembelajaran.
3) Mampu menjadi acuan kepada pendidik untuk memilih bahan ajar yang
baik digunakan dalam proses pembelajaran.

4
D. Identitas Buku
Judul Buku : Pendidikan Kewargaan
Edisi : Ketiga
Pengantar : Prof. Dr Komaruddin Hidayat & Prof. Dr. Azyumardi
Azra,MA
Penyunting : A. Ubaedillah dan Abdul Rozak
Penulis : A. Ubaedillah, Abdul Rozak, Ade Syukron Hanas, Agus
Darmadji, Ali Irfan, Budiman, Farida Hamid, Rusli Nur
Ali Aziz, Tien Rohmatien.
Penerbit : KENCANA
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2008
ISBN : 979-3465-03-4
Jumlah Halaman : 224 halaman

5
BAB II
RINGKASAN BUKU

Bab 1. Pendahuluan
Tujuan pendidikan kewarganegaraan pada dasarnya adalah menjadikan warga
negara yang cerdas dan baik serta mampu mendukung keberlangsungan bangsa dan
negara. Upaya mewarganegarakan individu atau orang-orang yang hidup dalam suatu
negara merupakan tugas pokok negara. Konsep warga negara yang cerdas dan baik
(smart and good citizenship) tentunya amat tergantung dari pandangan hidup dan sistem
politik negara yang bersangkutan.
Pendidikan kewargaan adalah pendidikan yang cakupannya lebih luas dari
pendidikan demokrasi dan pendidikan HAM karena mencakup kajian dan pembahasan
tentang banyak hal, seperti pemerintahan, konstitusi, lembaga-lembaga demokrasi, rule of
law, hak dan kewajiban warga negara, proses demokrasi, partisipasi aktif dan keterlibatan
warga negara dalam masyarakat madani, pengetahuan tentang lembaga-lembaga dan
sistem yang terdapat dalam pemerintahan, politik, administrasi publik dan sistem hukum,
pengetahuan tentang HAM, kewarganegaraan aktif, dan sebagainya.
Pendidikan Kewargaan bertujuan untuk membangun karakter (character building)
bangsa Indonesia yang antara lain: (a) membentuk kecakapan partisipatif warga negara
yang bermutu dan bertanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, (b)
menjadikan warga negara Indonesia yang cerdas, aktif, kritis, dan demokratis, namun
tetap memiliki komitmen menjaga persatuan dan integritas bangsa, (C) mengembangkan
kultur demokrasi yang berkeadaban, yaitu kebebasan, persamaan, toleransi, dan
tanggung jawab.
Paradigma demokratis dalam pendidikan menempatkan peserta didik sebagai
subjek aktif, pendidik sebagai mitra peserta didik dalam proses pembelajaran. Sejalan
dengan orientasi ini, materi pembelajaran pendidikan kewargaan ini disusun berdasarkan
pada kebutuhan dasar warga yang kritis, aktif, dan memiliki pengetahuan (well informed),
yakni fleksibel dan kontekstual.

6
Bab 2. Identitas Nasional dan Globalisasi
Identitas nasional pada hakikatnya merupakan manifestasi nilai-nilai budaya yang
tumbuh dan berkembang dalam aspek-aspek kehidupan suatu bangsa dengan ciri-ciri
khas, dan dengan ciri-ciri khas tersebut maka suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain
dalam kehidupannya. Namun demikian, proses pembentukan identitas nasional bukan
merupakan sesuatu yang sudah selesai, tetapi sesuatu yang terbuka dan terus
berkembang mengikuti perkembangan zaman. Dengan kata lain, identitas nasional adalah
sesuatu yang selalu berubah dan terbuka untuk diberi makna baru agar tetap sesuai
dengan tuntutan zaman.
Identitas nasional Indonesia yang berbasis pada masyarakat multikultur sangat
relevan bagi penugasan kembali identitas nasional bangsa Indonesia yang inklusif dan
toleran dengan tetap mengakar pada identitasnya yang majemuk sebagaimana terefleksi
dalam konsep dasar negara Pancasila. Konsep masyarakat multikultural dapat menjadi
wadah pengembangan demokrasi dan masyarakat madani serta bisa menjadi modal
sosial (social capital) bagi pengembangan model masyarakat multikultural Indonesia
dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa yang berisi keuletan
dan ketangguhan, yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional
dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, serta
gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam negeri, yang langsung maupun
tidak langsung membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan
negara serta perjuangan mengejar tujuan nasional.
Rejuvenasi Pancasila dapat dimulai dengan menjadikan Pancasila sebagai public
discourse (wacana publik). Dengan menjadi wacana publik sekaligus dapat dilakukan
reassessment, penilaian kembali atas pemaknaan Pancasila selama ini, untuk kemudian
menghasilkan pemikiran dan pemaknaan baru.
Salah satu isu penting yang mengiringi gelombang demokratisasi adalah
munculnya wacana multikulturalisme. Multikulturalisme pada intinya adalah kesediaan
menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan tanpa memedulikan perbedaan
budaya, etnik, gender, bahasa, ataupun agama.

7
Bab 3. Demokrasi: Teori dan Praktik
Demokrasi adalah sebuah sistem sosial politik yang paling baik dari sekian
banyak sistem yang ada dewasa ini. Pengertian umum demokrasi adalah suatu model
pemerintahan atau sistem sosial yang bertumpu pada kepentingan rakyat dari, oleh dan/
atau rakyat.
Prinsip-prinsip inilah merupakan tiga faktor yang menjadi tolak ukur umum dari
suatu pemerintahan yang demokratis, yaitu: (1) pemerintahan dari rakyat (government of
the people); (2) pemerintahan oleh rakyat (government by the people); dan (3)
pemerintahan untuk rakyat (government for the people).
Untuk mendukung terlaksananya demokrasi, perlu didukung oleh enam norma
atau unsur pokok yang dibutuhkan oleh tatanan masyarakat pluralisme, yaitu: Pertama,
kesadaran akan adanya pluralisme. Kedua, musyawarah. Ketiga, sejalan dengan tujuan.
Keempat, ada norma kejujuran dan mufakat. Kelima, kebebasan nurani, persamaan hak,
dan kewajiban; Keenam, adanya trial and error (percobaan yang salah). Sedangkan
unsur-unsur penting penopang tegaknya demokrasi antara lain: (1) negara hukum; (2)
masyarakat madani; (3) aliansi kelompok strategis.

Bab 4. Konstitusi dan Tata Perundang-undangan Indonesia


Konstitusi merupakan kumpulan prinsip-prinsip yang mengatur kekuasaan
pemerintahan, pihak yang diperintah (rakyat), dan hubungan di antara keduanya. Tujuan
konstitusi adalah membatasi tindakan sewenang-wenang pemerintah, menjamin hak-hak
rakyat yang diperintah, dan menetapkan pelaksanaan kekuasaan yang berdaulat.
Sedangkan, fungsi konstitusi adalah sebagai dokumen nasional dan alat untuk
membentuk sistem politik dan sistem hukum negaranya.
Konstitusi demokratis meliputi: (1) Anatomi kekuasaan (kekuasaan politik) tunduk
pada hukum; (2) Jaminan dan perlindungan hak-hak asasi manusia; (3) Peradilan yang
bebas dan mandiri; (4) Pertanggungjawaban kepada rakyat (akuntabilitas publik) sebagai
sendi utama dari asas kedaulatan rakyat.
Konstitusi merupakan media bagi terciptanya kehidupan yang demokratis bagi
seluruh warga negara. Dengan kata lain, negara yang memilih demokrasi sebagai
pilihannya, maka konstitusi demokratis merupakan aturan yang dapat menjamin
terwujudnya demokrasi di negara tersebut sehingga melahirkan kekuasaan atau

8
pemerintahan yang demokratis pula. Kekuasaan yang demokratis dalam menjalankan
prinsip-prinsip demokrasi perlu dikawal oleh masyarakat sebagai pemegang kedaulatan.
Agar nilai-nilai demokrasi yang diperjuangkan tidak diselewengkan, maka partisipasi
warga negara dalam menyuarakan aspirasi perlu ditetapkan di dalam konstitusi untuk ikut
berpartisipasi dan mengawal proses demokratisasi pada sebuah negara.
Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, sebelum perubahan UUD 1945 alat-alat
kelengkapan negara dalam UUD 1945 adalah Lembaga Kepresidenan, MPR, DPA, DPR,
BPK, dan Kekuasaan Kehakiman. Setelah amandemen secara keseluruhan terhadap
UUD 1945, alat kelengkapan negara yang disebut dengan lembaga tinggi negara menjadi
delapan lembaga, yakni MPR, DPR, DPD, Presiden, MA, MK, KY, dan BPK. Posisi
masing-masing lembaga setara, yaitu sebagai lembaga tinggi negara yang memiliki
korelasi satu sama lain dalam menjalankan fungsi check and balances antarlembaga
tinggi tersebut.
Dengan dibentuknya tata urutan perundang-undangan, maka segala peraturan
yang bertentangan dengan peraturan di atasnya batal demi hukum dan tidak bisa
dilaksanakan.

Bab 5. Negara, Agama, dan Warga Negara


Negara diartikan sebagai organisasi tertinggi di antara kelompok masyarakat yang
mempunyai cita-cita untuk bersatu, hidup dalam satu kawasan, dan mempunyai
pemerintahan yang berdaulat.
Hubungan agama dan negara di Indonesia lebih menganut pada asas
keseimbangan yang dinamis, jalan tengah antara sekularisme dan teokrasi.
Keseimbangan dinamis adalah tidak ada pemisahan agama dan politik, namun masing-
masing dapat saling mengisi dengan segala peranannya. Agama tetap memiliki daya kritis
terhadap negara dan negara punya kewajiban-kewajiban terhadap agama. Dengan kata
lain, pola hubungan agama dan negara di Indonesia membantu apa yang sering disebut
oleh banyak kalangan sebagai hubungan simbiotik-mutualita.

9
Bab 6. Hak Asasi Manusia (HAM)
Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat
dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum,
pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat
manusia. Tuntutan hak dan pelaksanaan kewajiban harus berjalan secara seimbang dan
simultan. Hak diperoleh bila kewajiban terkait telah dilaksanakan.
Ada dua pendapat mengenai apakah HAM bersifat universal atau kontekstual.
Teori relativitas berpandangan bahwa ketika berbenturan dengan nilai-nilai lokal, maka
HAM harus dikontekstualisasikan, sedangkan teori radikal universalitas berpandangan
bahwa semua nilai termasuk nilai-nilai HAM adalah bersifat universal dan tidak bisa
dimodifikasi sesuai dengan perbedaan budaya dan sejarah tertentu.
Perkembangan HAM dalam sejarahnya tergantung dinamika model dan sistem
pemerintahan yang ada. Dalam model pemerintahan yang otoriter dan represif,
perkembangan HAM relatif mandek seiring ditutupnya atau dibatasinya keran kebebasan,
sedangkan model pemerintahan yang demokratis relatif mendukung upaya penegakan
HAM karena terbukanya ruang kebebasan dan partisipasi politik masyarakat.
Ketidakadilan gender menyebabkan perlakuan sosial seperti marginalisasi
perempuan, penempatan perempuan pada posisi tersubordinasi, citra negatif perempuan,
kekerasan terhadap perempuan, dan pemberian beban kerja yang tidak proporsional
terhadap perempuan.

Bab 7. Otonomi Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Desentralisasi sebagai transfer tanggung jawab dalam perencanaan, manajemen,
dan alokasi sumber-sumber dari pemerintah pusat dan agen-agennya kepada unit
kementerian pemerintah pusat, unit yang ada di bawah level pemerintah, otoritas atau
korporasi publik semi-otonomi, otoritas regional atau fungsional dalam wilayah yang luas,
atau lembaga privat nonpemerintah dan pemerintah dan organisasi nirlaba.
Otonomi daerah sebagai kerangka penyelenggaraan pemerintahan mempunyai
visi yang dapat dirumuskan dalam tiga ruang lingkup utama yang saling berhubungan satu
dengan yang lainnya: politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Di bidang politik dipahami
sebagai proses untuk membuka ruang bagi lahirnya kepala pemerintahan daerah yang

10
dipilih secara demokratis, memungkinkan berlangsungnya penyelenggaraan pemerintah
yang responsif terhadap kepentingan masyarakat luas, dan memellihara suatu mekanisme
pengambilan keputusan yang taat pada asas pertanggungjawaban publik. Selanjutnya, di
bidang ekonomi mengandung makna bahwa otonomi daerah menjamin lancarnya
pelaksanaan kebijakan ekonomi nasional di daerah, di pihak lain mendorong terbukanya
peluang bagi pemerintah daerah mengembangkan kebijakan lokal kedaerahan untuk
mengoptimalkan pendayagunaan potensi ekonomi di daerahnya. Sedangkan di bidang
sosial dan budaya memelihara dan mengembangkan nilai, tradisi, karya seni, karya cipta,
bahasa, dan karya sastra lokal yang dipandang kondusif dalam mendorong masyarakat
untuk merespons positif dinamika kehidupan di sekitarnya dan kehidupan global.
Otonomi daerah yang diterapkan di Indonesia bersifat luas, nyata, dan
bertanggung jawab. Disebut luas karena kewenangan sisa justru berada pada pemerintah
pusat; disebut nyata karena kewenangan yang diselenggarakan itu menyangkut yang
diperlukan, tumbuh dan hidup, dan berkembang di daerah; dan disebut bertanggung
jawab karena kewenangan yang diserahkan itu harus diselenggarakan demi pencapaian
tujuan otonomi daerah, yaitu peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang
semakin baik, pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan, dan pemerataan, serta
pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah dan antardaerah.
Otonomi daerah merupakan langkah strategis yang diharapkan akan
mempercepat pertumbuhan dan pembangunan daerah, di samping menciptakan
keseimbangan pembangunan antardaerah di Indonesia. Pembangunan daerah tak akan
datang dan terjadi begitu saja. Pembangunan di daerah baru akan berjalan kalau
prasyarat dapat dipenuhi antara lain:
a. Fasilitasi.
b. Pemerintah daerah harus kreatif.
c. Politik lokal yang stabil.
d. Pemerintah daerah harus menjamin kesinambungan berusaha.
e. Pemerintah daerah harus komunikatif dengan LSM/NGO, terutama dalam
bidang perburuhan dan lingkungan hidup.

Otonomi daerah merupakan wadah pendidikan politik yang tercermin dalam


pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung. Hal ini sangat bermanfaat untuk kelanjutan

11
karier politik di tingkat nasional. Selain itu, pilkada langsung merupakan mekanisme
demokratis dalam rangka rekrutmen pemimpin di daerah, di mana rakyat secara
menyeluruh memiliki hak dan kebebasan untuk memilih calon-calon yang didukungnya,
dan calon-calon bersaing dalam suatu medan permainan dengan aturan main yang sama.
Sekalipun pilkada langsung memiliki kelemahan ia memiliki banyak unsur- unsur positif
bagi masa depan demokrasi.

Bab 8. Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan Bersih (Good & Clean Governance)
Good governance adalah pelaksanaan politik, ekonomi, dan administrasi dalam
mengelola masalah-masalah bangsa. Pelaksanaan kewenangan tersebut dapat dikatakan
baik (good atau sound) jika dilakukan dengan efektif dan efisien, responsif terhadap
kebutuhan rakyat, dalam suasana demokratis, akuntabel, serta transparan. Prinsip-prinsip
tersebut tidak hanya terbatas dilakukan di kalangan birokrasi pemerintahan, tetapi juga di
sektor swasta dan lembaga-lembaga nonpemerintah.
Untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa sesuai dengan cita
good governance, seluruh mekanisme pengelolaan negara harus dilakukan secara
terbuka. Mekanisme pengelolaan negara yang harus dilakukan secara transparan, yaitu:
a. penetapan posisi, jabatan atau kedudukan,
b. kekayaan pejabat publik,
c. pemberian penghargaan,
d. penetapan kebijakan yang terkait dengan pencerahan kehidupan,
e. kesehatan,
f. moralitas para pejabat dan aparatur pelayanan publik,
g. keamanan dan ketertiban,
h. kebijakan srategis untuk pencerahan kehidupan masyarakat.

Kontrol masyarakat akan berdampak pada tata pemerintahan yang baik dan
efektif (good government) dan bersih (clean government), bebas dari KKN. Untuk
mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih berdasarkan prinsip-prinsip pokok good
and clean governance, setidaknya dapat dilakukan melalui pelaksanaan prioritas program,
yakni:
a. penguatan fungsi dan peran lembaga perwakilan,

12
b. kemandirian lembaga peradilan,
c. profesionalitas dan integritas aparatur pemerintah,
d. penguatan partisipasi masyarakat madani (civil society),
e. peningkatan kesejahteraan rakyat dalam kerangka otonomi daerah.

Bab 9. Masyarakat Madani


Masyarakat madani merupakan sistem sosial yang subur berdasarkan prinsip
moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan
masyarakat. Inisiatif dari individu dan masyarakat akan berupa pemikiran, seni,
pelaksanaan pemerintah yang berdasarkan undang-undang dan bukan nafsu atau
keinginan individu.
Perwujudan masyarakat madani ditandai dengan karakteristik masyarakat
madani, di antaranya wilayah publik yang bebas (free public sphere), demokrasi, toleransi,
kemajemukan (pluralism), dan keadilan sosial.
Strategi membangun masyarakat madani di Indonesia dapat dilakukan dengan
integrasi nasional dan politik, reformasi sistem politik demokrasi pendidikan, dan
penyadaran politik.
Masyarakat sipil (civil society) mengejawantah dalam berbagai wadah sosial-
politik di masyarakat, seperti organisasi keagamaan, organisasi profesi, organisasi
komunitas, media, dan lembaga pendidikan. Domain mereka terpisah dari negara maupun
sektor bisnis. Salah satu pengejawantahan masyarakat sipil yang kerap terangkat menjadi
titik fokus perhatian adalah Non-Govern-mental Organization (NGO).

13
BAB III
PEMBAHASAN

A. Pembahasan Isi Buku


a. Pembahasan Bab 1 tentang Pendahuluan. Pada Bab ini, penulis
menjelaskan mengenai pengertian Pendidikan Kewargaan (Civic
Education), Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan, Konsep Dasar
Pendidikan Kewarganegaraan, Ruang Lingkup Materi Pendidikan
Kewargaan, Paradigma Pendidikan Kewargaan, serta Urgensi Pendidikan
Kewargaan bagi Pembangunan Budaya Demokrasi di Indonesia.
b. Pembahasan Bab 2 tentang Identitas Nasional dan Globalisasi. Pada Bab
ini, penulis menjelaskan mengenai Hakikat dan Dimensi Identitas
Nasional, Unsur-unsur Pembentuk Identitas Nasional, Pancasila sebagai
Nilai Bersama dalam kehidupan Kebangsaan dan Kenegaraan,
Revitalisasi Pancasila, Globalisasi dan Ketahanan Nasional, serta
Multikulturalisme.
c. Pembahasan Bab 3 tentang Demokrasi. Pada Bab ini, penulis
menjelaskan Hakikat Demokrasi, Demokrasi sebagai Norma-norma Hidup
Bersama, Sekilas Sejarah Demokrasi, Demokrasi di Indonesia,Unsur-
unsur Pendukung Tegaknya Demokrasi, Parameter Tatanan Kehidupan
Demokratis, serta Pemilu dan Partai Politik dalam Sistem Demokrasi.
d. Pembahasan Bab 4 tentang Konstitusi dan Tata Perundang-undangan
Indonesia. Pada Bab ini, penulis menjelaskan mengenai Pengertian
Konstitusi, Tujuan dan Fungsi Konstitusi, Sejarah Perkembangan
Konstitusi, Sejarah Lahir dan Perkembangan Konstitusi di Indonesia,
Perubahan Konstitusi di Indonesia, Konstitusi seagai peranti kehidupan
kenegaraan yang Demokratis, Lembaga Kenegaraan Setelah
Amandemen UUD 1945, serta Tata Urutan Perundang-undangan
Indonesia.
e. Pembahasan Bab 5 tentang Negara, Agama, dan Warga Negara. Pada
Bab ini, penulis menjelaskan mengenai Konsep Dasar tentang Negara,
Teori tentang Terbentuknya Negara, Bentuk-bentuk Negara, Warga

14
Negara Indonesia (WNI), Hubungan Negara dan Warga Negara, serta
Hubungan Agama dan Negara.
f. Pembahasan Bab 6 tentang Hak Asasi Manusia (HAM). Pada Bab ini.
penulis menjelaskan mengenai Pengertian HAM, Perkembangan HAM di
Eropa, Hak Asasi Manusia: Antara Universalitas dan Relativitas, serta
Pelanggaran dan Pengadilan HAM.
g. Pembahasan Bab 7 tentang Otonomi Daerah dalam Kerangka Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada Bab ini, penulis menjelaskan
mengenai Hakikat Otonomi Daerah, Visi Otonomi Daerah, Sejarah
Otonomi Daerah di Indonesia, Prinsip-prinsip Pelaksanaan Otonomi
Daerah, Pembagian Kekuasaan dalam Kerangka Otonomi Daerah,
Pemilihan, Penetapan, dan Kewenangan Kepala Daerah,
Kesalahpahaman Terhadap Otonomi Daerah, Otonomi Daerah dan
Pembangunan Daerah, serta Otonomi Daerah dan Pilkada Langsung.
h. Pembahasan Bab 8 tentang Tata Kelola Pemerintahan yang Baik dan
Bersih (Good & Clean Governance). Pada Bab ini, penulis menjelaskan
mengenai Pengertian Good Governance, Prinsip-prinsip Pokok Good &
Clean Governance, Good and Clean Governance dan Kontrol Sosial,
Good and Clean Governance dan Gerakan Antikorupsi, Tata Kelola
Kepemerintahan yang Baik dan Kinerja Birokrasi Pelayanan Publik, serta
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Birokrasi.
i. Pembahasan Bab 9 yaitu tentang Masyarakat Madani. Pada Bab ini,
penulis menjelaskan mengenai Pengertian Masyarakat Madani, Sejarah
Pemikiran Masyarakat Madani (Civil Society), Karateristik Masyarakat
Madani, Masyarakat Madani di Indonesia, Gerakan Sosial untuk
Memperkuat Masyarakat Madani (Civil Society), serta Organisasi
Nonpemerintah dalam Ranah Mayarakat Madani (Civil Society).

B. Kelebihan dan Kekurangan Buku


1. Dilihat dari aspek tampilan buku (face value), buku yang direview adalah
buku yang cukup menarik. Pada sampul buku terdapat perpaduan warna
pada rangkaian judul dan tulisan-tulisan tertentu sehingga memunculkan

15
rasa ketertarikan pada pembaca. Namun gambar yang digunakan pada
cover buku ini menurut saya kurang cocok, karna gambar globe ataupun
bendera bisa saja berkesinambungan dengan bidang IPS. Menurut saya
gambar pada cover harus disesuaikan kepada hal yang lebih spesifik
misalnya berkaitan dengan salah satu judul bab atau materi pada buku.
2. Dari aspek layout dan tata letak, serta tata tulis, termasuk penggunaan
font adalah: Tata letak judul Bab (judul besar) pada umumnya terletak
ditengah, tetapi pada buku ini diletakkan disebelah pinggir kanan
sehingga kurang memenuhi atau kurang sesuai. Sistem tata tulis sudah
baik, misalnya saja pada ketentuan cetak miring terhadap istilah-istilah
asing (penting). Sedangkan dari segi font menurut saya sudah baik, jenis
dan ukurannya netral, sehingga mudah untuk dibaca.
3. Dari Aspek Isi Buku: Menurut saya yang menjadi kelebihannya yaitu
struktur nya yang sudah lumayan lengkap yaitu dimulai dengan prakata
edisi ketiga (menandakan bahwa buku ini adalah karya atau hasil
menyunting dari buku yang telah terbit sebelumnya), Kata Sambutan,
Daftar Isi, Bab 1 Pendahuluan dan seterursnya, Glosarium, Indeks, dan
Profil Peyunting. Selain itu di setiap akhir Bab terdapat rangkuman,
sumber bacaan, dan juga Lembar kerja yang sangat membantu pembaca
dalam memahami materi yang disampaikan pada setiap bab nya. Pada
satu Bab, terdapat banyak sumber bacaan sehingga materi yang
disampaikan sangat lengkap, banyak pendapat ahli ataupun teori-teori
yang pada akhirnya didapatkan suatu kesimpulan. Glosarium yang
dilampirkan cukup membantu pembaca dalam memahami teks bacaan
(materi).
4. Dari aspek tata bahasa, buku tersebut adalah buku yang cukup baik.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang baku sehingga akan mudah
dimengerti. Namun, yang menjadi kekurangannya ialah kurangnya
kesinambungan antar paragraf pada beberapa materi.

16
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah membaca buku tersebut, menurut saya buku tersebut layak
dipakai dan baik digunakan dalam penyampaian materi pembelajaran. Hanya saja
masih ada kekurangan-kekurangan kecil, untuk meniadakan kata sempurna untuk
buku tersebut. Setiap buku tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-
masing. Dari buku tersebut yang berjudul Pendidikan Kewargaan (Civic
Education) banyak materi yang dapat kita pelajari, sumber bacaan yang banyak
sehingga materi yang ada berhasil untuk dikupas melalui teori-teori atau pendapat
ahli.

B. Rekomendasi

Buku Pendidikan Kewargaan (Civic Education) ini sangat saya


rekomendasikan untuk khususnya kepada guru dan calon pendidik. Terdapat
banyak istilah-istilah penting yang wajib harus diketahui dalam pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan, dan glosarium yang dilampirkan benar-benar dapat
menyeimbangkan materi yang luas terhadap pegetahuan dasar kita sehingga
dapat membantu untuk memahami topik bahasan. Namun perlu ada perbaikan
perbaikan kecil pada segi cover buku dan tata letak penulisan judul bab.

17
LAMPIRAN

18
19
20
21
22