Anda di halaman 1dari 41

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan rahmat-
Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kerja Lapang IV. Laporan
ini berjudul “Pembenihan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) Secara Alami di
Balai Benih Ikan Laut, Pusat Budidaya dan Konservasi Laut Pulau Tidung”.
Laporan PKL IV disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat mengikuti
perkuliahan di Program Studi Budi Daya Ikan, Politeknik Kelautan dan Perikanan
Pangandaran.
Penyusunan laporan ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh
karena itu, melalui kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih
kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa.


2. DH. Guntur Prabowo, A.Pi.,MM, selaku Direktur Politeknik Kelautan dan
Perikanan Pangandaran.
3. Ega Aditya Prama, S.Pi.,M.Si, selaku Ketua Program Studi Budi Daya Ikan
4. Wahyu Puji Astiyani, S.Pi.,M.Sc, selaku Dosen Pembimbing I.
5. Indra Kristiana, S.Pi.,M.P, selaku Dosen Pembimbing II.
6. Arya, selaku Kepala Divisi Induk Balai Benih Ikan Laut Pulau Tidung.
7. Pekong, Irwan, Dedi serta beberapa pihak yang telah memberikan saran dan
informasi yang bermanfaat dalam penyusunan laporan ini.
8. Rekan satu kelompok di Balai Benih Ikan Laut Pulau Tidung, Ace Doni, Arif
Irvan, Dwi Amelia, Mega dan Reza Maulana yang telah bekerja sama dalam
mengikuti kegiatan PKL IV, sehingga dapat menyelesaikan tugas dengan
baik.

Pangandaran, 08 Januari 2020

Wastiti Nurhandayani
NIT. 17.3.08.024

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iv
DAFTAR GAMBAR v
DAFTAR LAMPIRAN vi
BAB I. PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 3
2.1 Biologi Kakap Putih 3
2.2 Habitat Dan Kebiasaan Hidup 4
2.3 Reproduksi 4
2.4 Pemeliharaan Induk Kakap Putih 5
2.5 Seleksi Induk 5
2.6 Pemijahan 6
2.7 Penetasan Telur 7
2.8 Pemeliharaan Larva 7
2.9 Tinjauan Umum Lokasi PKL 8
BAB III. METODOLOGI 10
3.1 Waktu dan Tempat 10
3.2 Alat dan Bahan 10
3.2.1 Alat 10
3.2.2 Bahan 11
3.3 Tahapan Kegiatan 11
3.4 Teknik Perolehan Data 12
3.5 Metode Analisis Data 12
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 13
4.1 Teknik Pembenihan ikan kakap putih (Lates calcarifer) 13
4.1.1 Persiapan Wadah 13
4.1.2 Pemeliharaan Induk 13
4.1.3 Pemijahan 15
4.1.4 Penetasan Telur 16
4.1.5 Pemeliharaan Larva 19

ii
4.1.5.1 Pemberian Pakan 21
4.1.5.2 Pengelolaan Air Pemeliharaan Larva 21
BAB V. PENUTUP 26
5.1 Kesimpulan 26
5.2 Saran 26
DAFTAR PUSTAKA 27
LAMPIRAN 30

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Alat dan bahan 8


Tabel 2. Jadwal pemberian pakan 12
Tabel 3. Hasil perhitungan telur 15
Tabel 4. Kepadatan larva kakap putih 17
Tabel 5. Hasil pengamatan kualitas air 19

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) 3


Gambar 2. Diagram alir pembenihan ikan kakap putih (Lates calcarifer) 9
Gambar 3. Bak pemeliharaan induk 11
Gambar 4. Pakan induk ikan kakap putih 12
Gambar 5. Vitamin E (kanan) dan Multivitamin (kiri) 13
Gambar 6. Telur ikan kakap yang baru menetas 13
Gambar 7. Bak pemeliharaan larva 17
Gambar 8. Grafik pengamatan tingkat kelangsungan hidup larva 20
Gambar 9. Filterbag 21
Gambar 10. Grafik pengamatan pH 22
Gambar 11. Grafik pengamatan DO 22
Gambar 12. Grafik pengamatan salinitas 23
Gambar 13. Grafik pengamatan suhu 23

v
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Jurnal kegiatan PKL IV 31


Lampiran 2. Data kualitas air induk ikan kakap putih 34
Lampiran 5. Struktur Organisasi BBIL Pulau Tidung 35
Lampiran 3. SNI 01-6145-1999
Lampiran 4. SNI 01-6146-1999

vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan kakap putih (Lates Calcarifer, Bloch) memiliki nilai ekonomis serta
nilai jual yang tinggi, harga ikan kakap putih ditingkat pembudidaya di Teluk
Lampung berkisar Rp 75.000 – Rp 80.000/kg (Yaqin et al., 2018). Menurut
Hikmayani et al., 2012), permintaan pasar maupun ekspor ikan kakap putih cukup
tinggi yaitu 98,86 ton/tahun. Permintaan impor pada tahun 2012 negara di Eropa
(Italia, Spanyol dan Prancis) mencapai 14.285 ton dan pada tahun 2014 meningkat
menjadi 18.572 ton (Hardianti et al., 2016). Ikan kakap putih memiliki
pertumbuhan relatif cepat, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan budidaya
serta memiliki toleransi yang tinggi terhadap salinitas yaitu berkisar 0-40 ppt
(World Wild For Life, 2015).
Ketersediaan benih hasil alam yang memiliki ketahanan tinggi tidak tersedia
dan ukurannya tidak seragam (Priyono et al., 2013). Menurut Purba et al., (2016),
kakap putih merupakan salah satu jenis ikan air laut yang memiliki kandungan
omega-3, kandungan protein sekitar 20% dan mempunyai kadar lemak sebesar
5%. Tahapan ini sangat menentukan keberhasilan proses budidaya selanjutnya,
yaitu pembesaran karena pada ikan ukuran pendederan masih bersifat kanibal dan
tingkat kematiannya tinggi (Prihaningrum et al., 2015).
Menurut Jaya et al., (2013), budidaya ikan kakap putih telah menjadi suatu
usaha yang bersifat komersial (dalam budidaya) untuk dikembangkan. Salah satu
faktor dalam usaha budidaya ikan kakap putih yang mendukung dalam
keberhasilan adalah ketersediaan benih ikan dalam jumlah yang cukup,
berkualitas, dan berkesinambungan. Untuk melakukan hal tersebut perlu
dilakukan usaha peningkatan produksi benih ikan kakap putih untuk menunjang
kebutuhan benihnya.
Pembenihan ikan kakap putih ini dilakukan untuk meningkatkan produksi
ikan kakap putih. Oleh karena itu perlu dilakukan praktik kerja lapang untuk
mengetahui teknik pembenihan ikan kakap putih. Balai Benih Ikan Laut Pulau
Tidung merupakan salah satu balai yang memproduksi benih ikan kakap putih.

1
Lokasi Balai Benih Ikan Laut Pulau Tidung strategis dan produksi benih yang
dihasilkan memiliki kualitas unggul. Sarana dan prasarana di Balai tersebut juga
memadai, oleh karena itu balai tersebut dipilih untuk melaksanakan Praktik Kerja
Lapang IV ini.

1.2 Tujuan

Tujuan dari kegiatan Praktik Kerja Lapang IV ini antara lain :


1. Untuk mengetahui teknik pembenihan ikan kakap putih (Lates calcarifer).
2. Untuk mengetahui kualitas air pada pemeliharaan larva ikan kakap putih
(Lates calcarifer).

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biologi Kakap Putih

Klasifikasi menurut Razi (2013) adalah sebagai berikut :


 Kingdom : animalia
 Filum : chordata
 Kelas : pisces
 Sub kelas : teleostomi
 Ordo : percomorphi
 Famili : centropomidae
 Genus : lates
 Species : Lates calcarifer
Ikan kakap putih memiliki ciri-ciri morfologis sebagai berikut badan
memanjang, kepala lancip dengan bagian atas cekung, cembung di depan sirip
punggung dan batang sirip ekor lebar. Memiliki mulut lebar, gigi halus, dan
bagian bagian bawah preoperculum berdiri kuat. Operculum memiliki duri kecil,
cuping bergerigi di atas pangkal gurat sisi (linea lateralis). Pada sirip punggung
berjari-jari keras 7-9 dan 10-11 jari-jari lemah. Sirip dada pendek dan membulat,
serta pada sirip punggung dan sirip dubur terdapat lapisan bersisik. Sirip dubur
berbentuk bulat, berjari keras 3 dan berjari lemah 7-8. Sirip ekor berbentuk bulat,
serta bertipe sisir besar.
Pada ikan kakap putih dewasa bagian atas tubuh memiliki warna kehijauan
atau keabu-abuan dan pada bagian bawah berwarna keperakan. Pada tubuh ikan
kakap putih memiliki dua tingkatan warna yaitu kecoklatan dengan bagian sisik
dan perut berwarna keperakan untuk ikan yang habitatnya di laut, dan pada ikan
yang habitatnya di lingkungan tawar berwarna coklat keemasan (Mc. Grouther,
2012). Gambar ikan kakap putih (Lates calcarifer) seperti pada Gambar 1.

3
Gambar 1. Ikan kakap putih (Lates calcarifer)
Sumber : aquaculture-mai.org, 2018

2.2 Habitat Dan Kebiasaan Hidup


Ikan kakap putih ini termasuk kedalam golongan ikan demersal yang dapat
hidup di perairan laut tropis dan sub tropis. Di Indonesia, ikan ini dapat dijumpai
hampir di seluruh lautan. Melinawati dan Aryati (2012) menyatakan, ikan kakap
menyukai habitat yang terdapat terumbu karang dengan dasar perairan berpasir
dengan kedalaman 100 meter. Ikan kakap hidup soliter untuk memijah dengan
katadromus sehingga juvenilnya dapat ditemukan di air payau atau teluk dangkal.
Ataupah (2010) menyatakan, ikan ini termasuk golongan ikan karnivora
yang mencari makan pada malam hari (nocturnal) dengan menyukai makanan
utama seperti ikan kecil, golongan crustacean, berbagai plankton berbagai jenis
urichordata dan lain sebagainya. Gerakan ikan kakap yang berukuran dewasa yang
hidup di karang lebih lambat atau cenderung diam dan lebih menggunakan indra
perasa dan penciuman untuk merasakan adanya makanan disekitar mereka.

2.3 Reproduksi
Ridho (2016) mengatakan, ikan kakap putih termasuk dalam golongan ikan
katadromus dengan sifat reproduksi hermaprodit dimana gonad menghasilkan
spermatozoa dan ovum. Sistem reproduksi ikan kakap putih adalah hermaprodit
protandri yakni dari jantan berubah menjadi kelamin betina. Perubahan terjadi saat
bobot tubuh ikan 2-3 kg yang dipengaruhi oleh faktor kondisi lingkungan
perairan. Indukan betina ikan kakap putih memiliki berat tubuh >4 kg, sedangkan
untuk jantan 1-2 kg. Perubahan kelamin menjadi betina ini terjadi bisa dari awal
memiliki kelamin betina (Ridho, 2016).
Tingkat kematangan gonad ikan kakap putih betina dapat diamati melalui
bentuk , ukuran, warna, pengisian ovarium, dalam rongga tubuh serta ukuran,
kejelasan bentuk dan warna telur dalam ovarium. Sedangkan untuk ikan jantan

4
dapat diamati melalui bentuk, ukuran, warna dan pengisian testis dalam rongga
tubuh yang ditandai dengan keluar tidaknya cairan dari testis (keadaan segar)
(Ridho, 2016).

2.4 Pemeliharaan Induk Kakap Putih


Kegiatan pemeliharaan induk merupakan kegiatan awal dalam mata rantai
kegiatan pembenihan. Tujuan dalam pemeliharaan induk adalah mendapatkan
induk matang gonad yang siap dipijahkan untuk menghasilkan telur (Anindiastuti,
2002). Keberhasilan produksi telur sangat tergantung dari ketersediaan calon
induk, baik jumlah maupun kualitasnya.
SNI (2005) menerangkan bahwa wadah yang disarankan adalah yang
berbentuk bulat bervolume 50 m3 dengan kedalam 2,5 – 3,5 m. Menurut
Tiensongrusme dkk (1989) ukuran bak yang baik untuk pemeliharaan induk yang
di gunakan di Asia tenggara adalah bak berukuran 75-100 m3 dengan kepadatan
1kg/m3 air. Mayunar dan Abdul (2002) menyatakan bahwa pemeliharaan induk
menggunakan sistem air mengalir dengan pergantian air sebanyak 150-200%
perhari, pembersihan baik dilakukan setiap hari.
DEPTAN (2001) menyatakan bahwa pematangan gonad dapat dipacu
dengan pemberian pakan yang bermutu sebanyak 2-4% dari bobot biomassa per
hari dan perlakuan hormon dengan tetap harus mempertimbangkan mutu, jumlah
pakan serta diameter telur saat pengecekan dan jenis hormone yang digunakan
untuk perlakuan agar keberhasilan pemijahan terjamin. Pakan tersebut harus
mengandung protein, lesitin, dan asam lemak tak jenuh rantai panjang dalam
jumlah yang yang memadai.

2.5 Seleksi Induk


Calon-calon induk harus diseleksi terlebih dahulu. Induk yang dipilih
sebaiknya adalah induk yang tidak cacat, sisiknya utuh, tanpa luka pada badan dan
sirip. Induk terlebih dahulu ditangkap menggunakan serokan kemudian induk
dimasukkan satu persatu ke dalam wadah yang berkapasitas 100 l yang diisi air
laut dan diberi obat bius seperti polietilen glikol monofenil eter atau minyak

5
cengkeh sebanyak 1 sendok (10-15 ppm) atau ekstrak biji karet 1-10 ppm atau
pembius lainnya (Kordi, 2008). Kemudian jenis kelamin induk tersebut diperiksa.
Menurut Kunfankij et al., (1986) terdapat beberapa tanda yang dapat
digunakan untuk membedakan jenis kelamin kakap putih yaitu :
- Moncong ikan jantan sedikit bengkok, sedangkan pada betina lurus.
- Ikan jantan memiliki tubuh yang lebih langsing dari pada induk betina.
- Ikan betina lebih berat dari ikan jantan, walaupun ukurannya sama.
- Sisik-sisik dekat lubang pembuangan pada induk jantan lebih tebal dari pada
induk betina pada selama musim pemijahan.
Menurut Mayunar dan Abdul (2002), perbedaan jantan dan betina dapat
dilihat dengan cara kanulasi untuk induk betina dan stripping untuk induk jantan.
Kanulasi untuk induk betina dengan cara memasukkan selang yang berdiameter ±
1,2 mm sedalam 6-7 cm ke dalam saluran telur. Telur yang telah matang
umumnya berdiameter 0,45-0,65 mm, bentuk spherical dan terurai atau tidak
saling menempel satu sama lain. Untuk induk jantan, sperma yang dihasilkan
berwarna putih dan tidak encer (DEPTAN, 2005).

2.6 Pemijahan
Pemijahan ikan kakap putih dapat dilakukan dengan 2 metode, yaitu
pemijahan dengan rangsangan hormonal (induce spawning) dan dengan
manipulasi lingkungan.

1. Rangsangan hormonal
Pemijahan dengan rangsangan hormon dilakukan dengan menggunakan
hormone Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dan puberogen yang dilakukan
melalui penyuntikan. Penyuntikan dilakukan secara intramuscular di bawah sirip
punggung sebanyak 1-2 kali dengan menggunakan HCG dan puberogen dengan
dosis masing-masing 250-500 IU dan 50-75 IU/kg bobot induk. Biasanya 24 jam
setelah penyuntikan pertama induk tidak mau memijah. Selanjutnya dilakukan
penyuntikan kedua dengan menggunakan hormone yang sama dengan dosis dua
kali lipat. Biasanya, paada sore atau malam hari setelah penyuntikan, induk akan

6
memijah (Mustamin et al., 1999). Pemijahan berlangsung pada malam hari
(Kordi, 2008).

2. Manipulasi lingkungan
Pemijahan ini dilakukan dengan cara manipulasi lingkungan dalam bak
pemeliharaan induk, agar seolah-olah kondisinya mirip di alam. Perlakuan yang
dilakukan adalah dengan penurunan dan penaikan kedalaman air yang berakibat
pula pada perubahan suhu dan kadar garam. Pemijahan dilakukan dengan
mengikuti siklus peredaran bulan yang bisa terjadi dua kali dalam sebulan yaitu
pada bulan gelap dan bulan purnama. Perubahan ini akan merangsang terjadinya
pemijahan. Pemiijahan berlangsung pada malam hari antara pukul 19.00-20.00
WIB. Manipulasi lingkungan untuk merangsang pemijahan dilakukan dengan
cara :
- Menurunkan tinggi air dan menambahkan secara tiba-tiba untuk memberi
rangsangan pasang surut sesuai siklus bulan.
- Menurunkan suhu air tiba-tiba agar seolah-olah ikan mengalami migrasi.
- Mengubah salinitas air bak agar seolah-olah ikan mengalami migrasi.

2.7 Penetasan Telur


Telur ikan kakap putih hasil pemijahan diseleksi terlebih dahulu. Telur yang
dibuahi dan yang berkualitas baik akan mengapung di permukaan air,
permukaanya licin, transparan bagian dalam sedikit, berongga dengan diameter
0,69-0,80 mm. Telur akan menetas dalam waktu 17-18 jam (DEPTAN, 2001).

2.8 Pemeliharaan Larva


Pemeliharaan larva merupakan kegiatan utama pada usaha pembenihan
kakap putih dalam menghasilkan benih. Pengelolaan dalam pemeliharaan larva
meliputi persiapan bak, pemberian pakan hidup maupun pakan buatan, dan
pengelolaan kualitas air media pemeliharaan. SNI (2005) menyatakan bahwa
pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan kakap putih sangat dipengaruhi oleh
umur, ukuran, tempat pemeliharaan, lingkungan, pakan dan padat penebaran.

7
Bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva adalah bak beton atau bak
fiberglass yang sebelumnya dicuci dan direndam dengan kaporit 25-100 ppm.
Lama perendaman minimal 12 jam (Mayunar dan Abdul, 2002). Larva ditebar ke
dalam bak pemeliharaan dengan kepadatan tertentu tergantung dari umur larva.
Menurut Sutrisno et al., (1999) salinitas air optimal yang digunakan untuk
pemeliharaan larva adalah 29-33 ppt dengan temperature antara 27-31 oC.
Menurut Soetomo (1997) mengenai kisaran pH yang baik bagi pertumbuhan benih
ikan kakap putih adalah 7,8-8,5 untuk pH diatas 9,5 akan dapat mengganggu
pertumbuhan larva dan untuk pH dibawah 4 atau diatas 11 dapat menyebabkan
kematian bagi larva yang dipelihara.

2.9 Tinjauan Umum Lokasi PKL


Sejarah Balai Benih Ikan Laut (BBIL) yang berada di Pulau Tidung ini
tepatnya berada di Kepulauan Seribu memiliki kurang lebih 110 pulau yang terdiri
dari beberapa pulau berpenduduk dan fungsi lainnya seperti rekreasi, cagar alam,
konservasi dll. Pulau tidung merupakan salah satu pulau yang berpenduduk, pada
juli 2006 awal mula pembangunan. Balai Benih Ikan Laut (BBIL) Pulau Tidung
yang selesai pada bulan desember 2006 kemudian pada awal 2007 dimulai
kegiatan budidaya khususnya pasda kegiatan pembenihan. BBIL Pulau Tidung
berdiri atas dasar fungsi utamanya yaitu menyediakan benih ikan laut bagi para
petani keramba di wilayah Kepulauan Seribu khususnya budidaya ikan laut. Pada
awal berdirinya, BBIL ini ada dibawah satuan kerja UPT (Unit Pelaksanaan
Teknis) budidaya laut yang berlokasi di Ciganjur, Jakarta Selatan. Peta lokasi
dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Peta Lokasi Tempat Balai Benih Laut Pulau Tidung


(Sumber : Google Maps, 2019)

8
Beroperasinya Balai Benih Ikan Laut (BBIL) pertama kali terfokus pada
defisi pendederan saja. Sempat fakum beberapa tahun tanpa menghasilkan benih,
memasuki tahun 2013 BBIL ini dinaungi oleh Dinas Kelautan dan Pertanian
Provinsi DKI Jakarta, dan langsung memulai kegiatan pembenihan secara lengkap
dalam hal induk sampai dengan menjadi benih dan siap dipasarkan.
BBIL Pulau Tidung yang berdiri diatas lahan seluas 500 m² memiliki
sarana dan prasarana utama diantaranya bak tandon, bak induk, bak larva, bak
pakan alami, dan bak pendederan serta sarana penunjang meliputi kantor, mess
karyawan. Hingga saat ini, BBIL Pulau Tidung memiliki 14 karyawan yang terdiri
dari staf teknis pembenihan dan urusan rumah tangga. Struktur organisasi terdapat
pada Lampiran 3.

9
BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Pelaksanaan Praktik Kerja Lapang IV dilakukan mulai tanggal 13


November sampai dengan 13 Desember 2019. Tempat pelaksanaan PKL IV di
Balai Benih Ikan Laut, Pusat Budidaya dan Konservasi Laut Pulau Tidung dengan
fungsi utamanya menyediakan benih ikan laut bagi para petani keramba di
wilayah Kepulauan Seribu khususnya budidaya ikan laut jenis kerapu macan,
kerapu cantang, kerapu bebek, kakap putih dan bawal bintang.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Peralatan yang diperlukan dalam kegiatan pembenihan kakap putih (Lates
calcarifer) terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Alat yang diperlukan dalam kegiatan pebenihan ikan kakap putih (Lates
calcarifer)
Alat Fungsi
Aerasi Untuk menambah oksigen
Gayung Untuk menebar kaporit
Sikat Untuk menyikat kolam
Pipa Untuk mengalirkan air
Filter bag Untuk menyaring air
Ember Wadah untuk melarutkan kaporit
Jaring Untuk menangkap ikan
Egg collector Untuk menampung telur
Gunting Untuk memotong ikan rucah
Keranjang Untuk wadah pakan ikan

10
3.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembenihan ikan kakap putih (Lates
calcarifer) terdapat pada Tabel 2.
Tabel 2. Bahan yang diperlukan dalam kegiatan pembenihan ikan kakap putih
(Lates calcarifer)
Bahan Fungsi
Induk ikan kakap putih jantan Untuk dipijahkan
Induk ikan kakap putih betina Untuk dipijahkan
Kaporit Untuk membersihkan bak
Air laut Sebagai air media pemeliharaan
Ikan rucah Untuk pakan induk ikan
Cumi-cumi Untuk pakan induk ikan
Pakan alami (nannochloropsis sp. Rotifer) Untuk pakan larva
Vitamin E Untuk vitamin induk ikan
Vitamin C Untuk vitamin induk ikan
Multivitamin Untuk vitamin induk ikan

3.3 Tahapan Kegiatan


Kegiatan pembenihan meliputi beberapa tahapan seperti diagram alir di
bawah ini :

Persiapan
Wadah
Pemberian
Pakan dan
Pemeliharaan Vitamin
Induk
Pengelolaan
Kualitas Air

Pemijahan

Penetasan Telur
Pemberian
Pakan
Pemeliharaan
Larva
Pengelolaan
Kualitas Air

Gambar 2. Diagram alir pembenihan ikan kakap putih

11
Tahapan kegiatan pembenihan meliputi persiapan wadah, pemeliharaan
induk, pemberian pakan dan vitamin, pemijahan, pemeliharaan larva, penetasan
telur dan pengelolaan kualitas air.

3.4 Metode Perolehan Data


Teknik pengambilan data yang digunakan dalam pembuatan laporan Praktik
Kerja Lapang ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan
data yang diambil melalui kegiatan penulis seperti wawancara dan kegiatan yang
secara langsung penulis kerjakan di lapangan. Sedangkan data sekunder
merupakan data yang diperoleh dari buku, jurnal, makalah, data-data di Balai
Benih Ikan Laut Pulau Tidung dan data-data yang diperoleh penulis secara tidak
langsung.

3.5 Metode Analisis Data


Analisa data dibagi menjadi dua yaitu analisa deskriptif kuantitatif dan
analisa deskriptif kualitatif. Data yang sudah diperoleh terlebih dahulu diolah
dengan menggunakan analisa deskriptif kuantitatif, kemudian data disajikan
dalam bentuk tabel, grafik, dan gambar. Analisa deskriptif kuantitatif meliputi
perhitungan fekunditas, SR dan HR. Selanjutnya data dianalisis dengan
menggunakan deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran
yang benar mengenai suatu obyek dan menguji suatu kebenaran dari suatu
pendapat serta membandingkan keadaan yang ada di lapangan dengan teori yang
ada sesuai literatur ataupun pedoman yang digunakan.

12
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Teknik Pembenihan ikan kakap putih (Lates calcarifer)


4.1.1 Persiapan Wadah
Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan induk berupa bak beton
berbentuk bulat. Diameter bak yaitu 6 m dengan kedalaman 4 m dan kapasitas
mencapai 100 ton, dapat dilihat pada Gambar 4. Bak tersebut digunakan untuk
tempat memelihara induk ikan kakap putih sekaligus sebagai tempat untuk
memijah. Menurut Tiensongrusme et al., (1989) ukuran bak yang baik untuk
pemeliharaan induk yang digunakan di Asia Tenggara adalah bak berukuran 75-
100 m3.
Bak yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu. Untuk memudahkan
proses pembersihan lumut yang menempel pada dinding dan dasar bak, dilakukan
penebaran kaporit sebanyak 500 gram yang telah dilarutkan dengan 25 liter air.
Dinding dan dasar bak kemudian disikat untuk menghilangkan lumut dan kotoran
yang menempel. Setelah semua bagian bak disikat, bak dibilas menggunakan air
laut sampai bersih. Bak yang telah dibersihkan dikeringkan selama 1 hari untuk
membunuh bakteri yang tersisa di bak pemeliharaan. Pada hari berikutnya bak
diisi air hingga mencapai 83 ton.

Gambar 4. Bak pemeliharaan induk

4.1.2 Pemeliharaan Induk


4.1.2.1 Pemberian Pakan dan Vitamin
Induk kakap putih yang ada di BBIL Pulau Tidung berjumlah 21 ekor,
terdiri dari 10 induk jantan dan 11 induk betina. Setiap harinya, induk kakap putih

13
diberi pakan berupa cumi-cumi dan ikan rucah. Jenis ikan rucah yang diberikan
berupa ikan temban. Agar pakan tetap segar, pakan tersebut disimpan dalam
freezer. Menurut yasin et.al (2018) ikan kakap putih yang dibudidayakan dengan
pemberian pakan dengan kadar protein sebesar 40% memiliki nilai kelulushidupan
sebesar 16.36-28.89 %. Induk yang dipelihara dapat diberi pakan berupa pakan
ikan segar yang mempunyai kandungan protein tinggi. Pakan yang diberikan pada
induk ikan kakap seperti pada Gambar 5.

Gambar 5. Pakan induk ikan kakap putih

Pemberian pakan induk dilakukan satu kali sehari yaitu pada pagi hari
secara Ad libitum. Ad libitum adalah pemberian pakan sekenyang-kenyangnya.
Jadwal pemberian pakan induk ikan kakap putih di lapangan tercantum pada
Tabel 2.
Tabel 2. Jadwal pemberian pakan induk ikan kakap putih
Hari Jenis Pakan Jenis Vitamin
Senin Cumi-cumi Vitamin C
Selasa Ikan rucah Multivitamin
Rabu Cumi-cumi Vitamin E
Kamis Ikan rucah Vitamin C
Jumat Cumi-cumi Multivitamin
Sabtu Ikan rucah Vitamin E
Minggu - -
Sumber : Balai Benih Pulau Tidung, 2019

Selain pemberian pakan, induk ikan kakap putih juga rutin diberikan
vitamin C dan Vitamin E serta Multivitamin untuk memacu kematangan gonad
dan meningkatkan imunitas/ kekebalan tubuh induk. Masing-masing vitamin
diberikan sesuai jadwal. Pemberian vitamin dilakukan dengan cara memasukkan

14
kapsul ke dalam mulut atau perut ikan rucah. Berikut ini merupakan gambar
vitamin yang digunakan di BBIL Pulau Tidung :

Gambar 6. Vitamin E (kanan) dan Multivitamin (kiri)

4.1.2.2 Pengelolaan Air


Air pemeliharaan yang sangat kotor dan berlumut dapat mengurangi nafsu
makan ikan. Oleh karena itu, pembersihan bak harus rutin dilakukan. Di BBIL
Pulau Tidung, pembersihan bak induk dilakukan setiap 2 minggu sekali. Caranya
adalah dengan menyikat dinding bak dan mendorong kotoran di dasar bak ke
lubang pengeluaran yang terletak di tengah bak. Penyikatan bak induk dilakukan
pada pagi hari atau siang hari setelah induk ikan kakap putih dipindahkan ke bak
penampungan sementara
Air laut yang digunakan untuk pemeliharaan induk adalah air yang telah
ditampung dalam bak tandon. Air di dalam tandon telah diendapkan kemudian air
tersebut disalurkan ke bak-bak induk yang ada. Metode pengairan yang dilakukan
adalah dengan sistem sirkulasi atau air mengalir sebanyak 200%. Abdul (2002)
menyatakan bahwa pemeliharaan induk menggunakan sistim air mengalir dengan
pergantian air sebanyak 150 - 200% perhari.

4.1.3 Pemijahan
Pada kegiatan PKL yang telah dilaksanakan, sistim pemijahan dilakukan
dengan pemijahan alami. Pemijahan alami yaitu memijahkan induk tanpa
manipulasi lingkungan maupun injeksi hormonal. Pemijahan dilakukan tanpa
seleksi induk terlebih dahulu dan pemijahan terjadi secara massal. Dalam
praktiknya, pemijahan terjadi pada tanggal 28 November 2019 - 30 November

15
2019. Pemijahan berlangsung pada malam hari. Induk-induk yang akan dipijahkan
dipilih dengan kriteria aktif bergerak, sirip dan sisiknya lengkap, tubuh tidak
cacat, bebas dari penyakit, berat minimal 1,5 untuk jantan dan 3 kg untuk betina.
Untuk membedakan induk kakap jantan dan betina diantaranya :

 Ikan kakap putih jantan mempunyai moncong sedikit membengkok


sedangkan yang betina lurus.

 Pada ukuran tubuh yang sama, ikan kakap putih betina mempunyai timbangan
serta badan yang lebih berat.

 Ikan jantan mempunyai ukuran tubuh yang lebih langsing daripada betina.
Pembuahan terjadi ketika induk betina mengeluarkan telur dan induk jantan
mengeluarkan sperma. Telur-telur yang telah dibuahi akan melayang dan
mengapung di permukaan air. Telur tesebut akan terbawa oleh arus air yang
mengalir melalui pipa saluran outlet bak bagian atas yang berfungsi untuk
menghubungkan antara bak induk dan bak penampungan telur.
Di dalam bak penampungan telur telah di pasang waring kolektor telur. Bak
penampungan telur mempunyai saluran pembuangan yang terletak di dasar.
Saluran ini berfungsi sebagai pembuangan agar air pada kolektor telur tidak
meluap sehingga telur tetap tertampung di dalamnya

4.1.4 Penetasan Telur


Panen telur dilakukan dengan sistem air mengalir, telur yang dibawa oleh
air disaring dengan plankton net berukuran mata jaring 200 mikron yang dipasang
pada bak panen telur. Sebelum masuk dalam ruang inkubator, telur ikan diseleksi
terlebih dahulu. Telur yang terbuahi akan mengapung di permukaan sedangkan
yang tidak terbuahi akan tenggelam. Setelah didiamkan beberapa saat, telur yang
terbuahi kemudian dipindahkan ke dalam akuarium yang diberi aerasi. Kotoran
dan telur yang tidak dibuahi akan mengendap di dasar akuarium. Kemudian
kotoran tersebut dibersihkan dengan cara disipon.
Setelah dipindahkan ke dalam ruang inkubasi, telur diambil sampel untuk
dihitung fekunditasnya. Pengambilan sampel telur dilakukan untuk mengetahui
jumlah telur yang dihasilkan. Pertama-tama sampel telur diambil sebanyak 200 ml
menggunakan gelas baker. Kemudian menggunakan gelas baker yang lebih kecil

16
lagi, sampel diambil 10 ml. Setiap 10 ml sampel telur, dituangkan pada cawan
petri kemudian dihitung jumlahnya sampai 3 kali perhitungan. Berikut hasil
perhitungan telur yang telah dilakukan pada saat kegiatan PKL sebagai berikut :
Tabel 3. Hasil perhitungan telur
Tanggal Jumlah Telur (butir)
28-Nov-19 501.000
29-Nov-19 73.500
30-Nov-19 580.340
TOTAL 1.154.840

Rumus perhitungan menggunakan metoda volumetric menurut Nabhitabhata


(2002) :
 Tanggal 28-Nov-2019
Perhitungan 1 :
sampel 1 + sampel 2 + sampel 3
Jumlah telur = x vol. wadah
𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑡𝑒𝑙𝑢𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 (𝑚𝑙)
56 + 52 + 36
= x 70.000 ml
30 𝑚𝑙
= 4,8 x 70.000
= 336.000 telur
Perhitungan 2 :
sampel 1 + sampel 2 + sampel 3
Jumlah telur = x vol. wadah
𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑡𝑒𝑙𝑢𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 (𝑚𝑙)
29 + 18 + 24
= x 70.000 ml
30 𝑚𝑙
= 2,36 x 70.000
= 165.000 telur
Total = 336.000 + 165.000
= 501.000 ekor
Telur yang menetas akan menjadi larva. Telur akan menetas dalam waktu 17 -
18 jam. Larva ikan kakap yang baik memiliki ciri-ciri bergerak aktif, organ
tubuhnya lengkap/tidak cacat, dan berenang melawan arus. Setelah 20 jam larva
ikan kakap kemudian dipindahkan ke ruang pendederan untuk ditebar. Pada
Gambar 7 telur ikan kakap yang baru menetas, ketika dilihat dari mikroskop.

17
Gambar 7. Telur ikan kakap yang baru menetas

Telur yang dihasilkan pada bulan November sebanyak 1.154.840. Akan


tetapi setelah diinkubasi hanya tersisa 173.226 ekor yang menetas. Jadi hasil
perhitungan HR (Hatching Rate) dengan menggunakan rumus Effendie (2002) :
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑙𝑢𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑡𝑎𝑠 (𝑒𝑘𝑜𝑟)
HR = 𝑋 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑙𝑢𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑢𝑎ℎ𝑖
173.226
= 𝑋 100%
1.154.840

= 15 %
Berdasarkan hasil perhitungan Hatching Rate atau Daya Tetas Telur,
diperoleh nilai 15%. Nilai ini tentunya sangat kecil sekali. Penyebab rendahnya
HR dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Dari hasil analisis, kecilnya nilai HR
disebabkan karena faktor kekurangan vitamin. Induk ikan kakap di BBIL Pulau
Tidung nafsu makannya kurang pada saat musim hujan. Metode pemberian pakan
yang dilakukan juga kurang efektif. Sehingga vitamin yang dimasukkan ke dalam
pakan tidak dikonsumsi oleh induk ikan kakap. Pendapat Halver (1985) bahwa
vitamin E dapat meningkatkan fungsi membran sel. Kemudian pendapat
Watanabe et al., (1995) menyatakan bahwa dosis yang rendah penggunaan
vitamin E pada ikan ayu (Plecoglossus altivelis) memberikan hasil sepertiga dari
jumlah induk betina tidak memijah sehingga dosis vitamin E dalam pakan perlu
ditingkatkan.
Meningkatnya kandungan vitamin C dalam pakan akan cenderung
meningkatkan daya tahan tubuh terhadap stress. Disamping itu, vitamin C dapat
berperan dalam pembentukan kolagen (Kosutarak et al., 1985). Terhambatnya
pembentukan kolagen akan menyebabkan jaringan pelekat akan melemah, hal ini
akan dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan tidak sempurna (Horning et

18
al.,). Menurut Miyasaki et al., (1985), vitamin C dapat mencegah terjadinya
metabolisme lemak yang abnormal, seperti berkurangnya kadar asam lemak dan
terganggunya penggunaan lemak tubuh selama tidak makan. Selanjutnya kadar
asam lemak yang dibutuhkan dalam proses reproduksi pada induk ikan kerapu
macan akan terganggu. Menurut Effendi (1979) dan Mayunar (1991), dalam
proses reproduksi sebagian besar hasil metabolisme digunakan untuk
perkembangan gonad. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa organ yang
berperan untuk proses pematangan gonad pada ikan juga dipengaruhi oleh
penambahan vitamin E, C, dan vitamin mix yang tersedia dalam pakan.
Karena vitamin yang dikonsumsi hanya sedikit, energi yang tersimpan tidak
dapat memenuhi kebutuhan tubuhnya untuk mengatur sistim reproduksi dengan
baik. Oleh sebab itu berpengaruh juga pada kualitas telur ikan kakap yang
dihasilkan. Menurut Elliot (1979), perkembangan gonad pada induk terjadi jika
terdapat kelebihan energi untuk pemeliharaan tubuh.

4.1.5 Pemeliharaan Larva


Pemeliharaan larva ikan kakap putih dimulai dengan penebaran larva ke
dalam bak pemeliharaan larva minimal 20 jam setelah pemijahan. Bak larva yang
digunakan terbuat dari beton dengan ukuran 4 x 2 x 1 m. Wadah pemeliharaan
larva dilengkapi dengan plastik untuk menutup bagian atas bak untuk
mempertahankan suhu pada bak pemeliharaan larva. Bak pemeliharaan larva
dapat dilihat pada Gambar 8 di bawah ini.

Gambar 8. Bak Pemeliharaan Induk


Larva ditebar pada 2 bak. Bak 1 ditebar benih sebanyak 90.000 ekor dan bak
2 sebanyak 70.000 ekor. Berikut data kepadatan larva ikan kakap putih pada bak 1
dan 2 dapat dilihat pada Tabel 4.

19
Tabel 4. Kepadatan larva kakap putih pada Bak 1 dan Bak 2
Kepadatan
Hari/Tanggal Lokasi Hari Ke
Larva
28 November 2019 Bak 1 D-1 90000
30 November 2019 Bak 1 D-3 60480
01 Desember 2019 Bak 1 D-4 58900
02 Desember 2019 Bak 1 D-5 58540
06 Desember 2019 Bak 1 D-9 52000
07 Desember 2019 Bak 1 D-10 47000
28 November 2019 Bak 2 D-1 72000
30 November 2019 Bak 2 D-3 57600
01 Desember 2019 Bak 2 D-4 57400
02 Desember 2019 Bak 2 D-5 57130
06 Desember 2019 Bak 2 D-9 48100
07 Desember 2019 Bak 2 D-10 48000

Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa semakin hari tingkat


keberlangsungan hidup larva ikan kakap putih semakin berkurang. Dari hasil
pengamatan, jumlah SR yang terus menurun dapat disebabkan karena kondisi air
yang kotor akibat endapan dari zat organik dan larva yang mati. Kondisi
kebersihan kolam yang terlalu kotor dapat menyebabkan larva ikan mengalami
kondisi stres dan mempengaruhi nafsu makannya.
Untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidupnya (Survival Rate) menurut
Zonneveld et al., (1991) dapat menggunakan rumus di bawah ini :
SR = Jumlah ikan hidup : Jumlah penebaran awal x 100%
Bak 1 = 47000 : 90000 x 100%
= 52%
Bak 1 = 48000 : 70000 x 100%
= 68%
Jadi SR larva ikan kakap putih pada Bak 1 yaitu 52 % sedangkan pada Bak
2 SR nya lebih tinggi yaitu 68%. Dapat dianalisis dalam grafik kelangsungan
hidup larva pada Gambar 9.

20
100000
90000
80000
70000
60000
50000
40000 bak 1
30000 bak 2
20000
10000
0

Gambar 9. Grafik tingkat kelangsungan hidup larva

Menurut grafik di atas, terjadi penurunan jumlah SR dari awal tebar sampai
dengan tanggal 02 Desember 2019. Terlihat dari hasil perhitungan dalam 5 kali
sampling, jumlah benih ikan kakap terus berkurang. Penurunan yang signifikan
terlihat dari tanggal 28 November – 30 November 2019. Hal ini disebabkan
karena terjadinya blooming fitplankton di dalam bak pemeliharaan larva jika air
tidak diganti tepat pada waktunya. Blooming fitoplankton dapat menyebabkan
kematian larva yang tinggi (Sutrisno et al., 1999).

4.1.5.1 Pemberian Pakan


Pada larva yang berumur 1 hari (larva D1), larva masih memiliki cadangan
makanan berupa yolksuck. Pakan diberikan mulai diberikan pada saat larva
berumur D2. Pakan awal yang diberikan berupa pakan alami rotifer. Pakan rotifer
diberikan setelah larva berumur 2 hari (D2) sampai berumur 7 hari. Selanjutnya
pakan artemia mulai diberikan saat larva berumur 8 – 9 hari sampai larva berumur
20 hari. Dalam praktiknya kegiatan pemeliharaan larva yang dilakukan dimulai
pada tanggal 29 November 2019 sampai dengan 12 Desember 2019.

4.1.5.2 Pengelolaan Air Pemeliharaan Larva


Pengelolaan air untuk pemeliharaan larva dilakukan dengan cara pergantian
air. Proses pergantian air pada bak larva mulai dilakukan setelah larva berumur

21
7 (D7) hari. Pergantian air yang dilakukan bertahap mulai dari 20% dari volume
air. Pergantian air tersebut dilakukan sampai larva berumur D15. Setelah
berumur 15 hari, bak larva mulai dilakukan penyiponan. sipon dilakukan 3-4
hari sekali.
Air yang digunakan sebagai media pemeliharaan berasal dari laut yang
terletak di depan BBIL Pulau Tidung. Air tersebut telah melewati proses sterilisasi
dan pengendapan di bak tandon. Sebelum air mengisi bak pemeliharaan, pada
inlet dipasang filter bag untuk menyaring air dari sisa-sisa kotoran. Filter bag yang
digunakan seperti Gambar 10.

Gambar 10. Filter bag

Pengecekan kualitas air larva dilakukan satu hari sekali pada pagi hari.
Diperoleh hasil rata-rata parameter kualitas air selama PKL pada Tabel 5.
Tabel 5. Hasil rata-rata parameter kualitas air
Parameter Satuan Hasil pengamatan SNI 1645.1 2014
o
Suhu C 30,6 28-32
DO Ppm 5,7 Minimal 4
salinitas Ppt 33,5 28-33
pH - 8 7,5-8,5

Berdasarkan data pengukuran kualitas air dapat diketahui bahwa hasil


pengukuran kualitas air tergolong baik. Nilai pengukuran pH pada nilai 8 masih
berada pada batas normal pemeliharaan larva.

22
pH
8.3
8.2
8.1
8
7.9
7.8
7.7

Gambar 11. Grafik pengamatan pH

pH terendah terjadi pada tanggal 2 Desember 2019 dengan nilai 7,9. Akan
tetapi menurut Hardianti et al. pH atau derajat keasaman yang baik untuk produksi
adalah pH air laut antara 7-9. Jadi pH dengan nilai 7,9 masih dalam batas wajar.
Nilai pH tertinggi 8,2 terjadi pada tanggal 1, 4, dan 11 Desember 2019.

DO
8
7
6
5
4
3
2
1
0

Gambar 12. Grafik pengamatan DO

Nilai pengukuran DO dengan rata-rata 5,7 mg/l yang menunjukkan bahwa


kandungan oksigen terlarut pada pemeliharaan larva tersebut telah melebihi batas
minimal yaitu 4 mg/l. Pada grafik di atas nilai DO menunjukkan naik turun yang
stabil. Sesuai dengan SNI bahwa kriteria parameter DO pada pemeliharaan larva
ikan kakap putih DO minimal 4.

23
Salinitas
34.2
34
33.8
33.6
33.4
33.2
33
32.8
32.6
32.4

Gambar 13. Grafik pengamatan salinitas

Salinitas berada pada kisaran 33,5 yang masih memenuhi kriteria


pemeliharaan larva kakap putih. Berdasarkan grafik, nilai kenaikan dan penurunan
pada salinitas terlihat stabil.

Suhu
31.5

31

30.5

30

29.5

29

Gambar 14. Grafik pengamatan suhu

24
Suhu pada kisaran 30,6oC. SNI 6145.3 (2014) menyebutkan bahwa kriteria
kualitas pemeliharaan larva ikan kakap putih yang sesuai yaitu dengan nilai suhu
28- 32oC.

25
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari pelaksanaan kegiatan PKL yang telah dilaksanakan di
Balai Benih Ikan Laut Pulau Tidung adalah
 Pemijahan dilakukan secara alami tanpa rangsangan hormon.
 Pemijahan terjadi pada malam hari secara massal.
 Kualitas air untuk larva juga penting untuk menunjang kelangsungan hidup
ikan kakap putih. Hasil pengamatan kualitas air pada induk antara lain pH,
suhu, DO, salinitas sedangkan pada larva pH 8, suhu 30,6 oC, DO 5,7 ppm,
dan salinitas 33,5 ppt.
 Telur yang dihasilkan selama kegiatan PKL sebanyak 1.154.840 ekor. Daya
tetas telur (HR) dengan nilai 15%. Tingkat SR yang berbeda pada Bak 1 yaitu
52% dan Bak 2 68%.

5.2 Saran
Saran dari hasil kegiatan Praktik Kerja Lapang IV ini yaitu tingkatkan
penerapan kegiatan budidaya yang sesuai SOP untuk meningkatkan kualitas dan
kuantitas hasil produksi agar dapat memenuhi target produksi.

26
DAFTAR PUSTAKA

Ali, M., 2010. Peran Proses Desinfeksi dalam Upaya Peningkatan Kualitas Produk
Air Bersih. Universitas Pembangunan Veteran Nasional, Surabaya.
Anindiastuti., K.A. Wahyuni, dan Supriya. 2002. Budidaya Massal Zooplankton
dalam Budidaya Fitoplankton dan Zooplankton. Balai Budidaya Laut
Lampung. Dirjen Perikanan Budidaya DKP. Lampung.
Ataupah, E. A. 2010, Penangkapan Ikan Kakap (Lutjanus sp.) di Kabupaten
Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Skripsi Departemen
Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas perikanan dan ilmu
kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Cita, Dian Wahyu dan Adriyani, Retno., 2013. Kualitas Air dan Keluhan
Kesehatan Pengguna Kolam Renang di Sidoarjo. Journal Kesling Vol.7
No.1 Juli 2013.
Effendie, M. I. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.
163 hlm.
Hikmayani, Y., Rismutia, H.D., Zahri N. 2013. Evaluasi Kebijakan Peningkatan
Produksi Perikanan Budidaya. Jurnal Evaluasi dan Strategi Peningkatan
Keberhasilan Program, 3(1), 47-65.
Jaya, B, Agustriani, F dan Isnaini. 2013. Laju Pertumbuhan dan Tingkat
Kelangsungan Hidup Benih Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch)
Dengan Pemberian Pakan yang Berbeda. Maspai Journal: 5(1): 56-63.
Kordi K. 2008. Budidaya Perairan (buku ke satu). PT. Citra Aditya Bakti.
Bandung.
Kunvankij, P.B.J Pudadera, L.B.Tiro, and I.G Potetar. 1986. Biology and Culture
of Sea Bass (Lates calcarifer). Training Manual NACA. Bangkok.
MAI. 2018. Masyarakat Akuakultur Indonesia. Aquaculture-mai.org. Diakses
tanggal 10 Januari 2020.
Mayunar dan Abdul, S. 2002. Budidaya Ikan Kakap Putih. Grasindo. Jakarta.
McGrouther, Mark. 2012. Barramundi, Lates calcarifer (Bloch, 1790).
http://australianmuseum.net.au/search?keyword=Lates+calcarifer.
Diakses pada tanggal 17 Oktober 2019.

27
Melianawati, R., dan R. W. Aryati. 2012. Budidaya Ikan Kakap Merah
( Lutjanus sebae). Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 4 (1): Hal
81-83.
Mustahal. 1995. Teknologi Pakan Bagi Usaha Perikanan Zooplankton Skala
Laboratorium. Balai Budidaya Laut Lampung. Direktorat Jendral
Perikanan Budidaya
Mustamin.,H., Santoso, Hermawan, A. 1999. Produksi Telur. Dalam :
Pembenihan Kakap Putih (Lates calcarifer). Departemen Pertanian.
Ditjenkan BBL Lampung. Lampung.
Prihaningrum, A., Aditya, T. W., Saputra, Y. 2015. Petunjuk Teknis Budidaya
Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) Di Keramba Jaring Apung.
Balai Besar Perikanan Budidaya Laut, Lampung. 66 hlm .
Priyono, A., Setiadharma, T., Priyono, B. dan Basuki, P.H., 2013. Model
Penerapan IPTEK Budidaya Bandeng dengan Benih Unggul Hasil
Seleksi di Kabupaten Gresik, JawaTimur. Kementrian Kelautan dan
Perikanan.
Razi, F. 2013. Penanganan Hama dan Penyakit Pada Ikan Kakap Putih. Booklet
Perikanan No.26/MPP.Booklet/2013. Badan Pengembangan Sumberdaya
Manusia Kelautan dan Perikanan. Pusat Penyluhan Kelautan dan
Perikanan
Ridho, M. R., dan E. Patriono. 2016. Aspek Reproduksi Ikan Kakap Putih ( Lates
calcarifer Block) di Perairan Terusan Dalam Kawasan Taman Nasional
Sembilang Pesisir Kabupaten Banyuasin. Jurnal Penelitian Sains. 18 (1) :
hal 1810-1, 4, dan 5. SNI No. 6145.4-2014. Ikan Kakap Putih ( Lates
calcarifer, Bloch 1790). Badan Standar Nasional (BSN). Bagian 3.
Produksi Induk. Jakarta.
Soetomo, H.A.Moch. 1997. Teknik Buiddaya Ikan Kakap Putih di Air Laut, Air
Payau, Air Tawar. Trigeda Karya. Bandung. 282 hlm.
Standar Nasional Indonesia. 2005. Perbenihan perikanan Ikan Kakap Putih.
Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Sutrisno, E., H., Santoso,. dan S.,Antoro . 1999. Perbenihan kakap putih (Lates
calcarifer, Bloch). Deptan, Ditjenkan.BBL Lampung

28
Tiensongrusme,.B., S. Chantasani, S. Budileksono, S.K. Yowono, dan Santoso H.
1989. Propagation of Sea Bass (Lates calcarifer) in Capacity.
Seafarming Development Project. Ditjenkan BBL Lampung.
World Wild For Life. 2015. Better Management Practices Seri Panduan Perikanan
Skala Kecil Budidaya Ikan kakap Putih (Lates calcarifer). WWF
Indonesia, Jakarta.
Yaqin, M. A., Santoso, L., & Saputra, S. 2018. Pengaruh Pemberian Pakan
dengan Kadar Protein Berbeda terhadap Performa Pertumbuhan Ikan
Kakap Putih (Lates calcarifer) di Keramba Jaring Apung. Jurnal Sains
Teknologi Akuakultur, 2(1), 12-19.
Zonneveld, N., Huisman E. A, dan Boon, J. H. 1991. Prinsip-Prinsip Budidaya
Ikan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 318 hlm.

29
LAMPIRAN

30
Lampiran 1. Jurnal Kegiatan PKL IV
No. Hari/Tanggal Kegiatan
1 Selasa, 13-11-2019 Pengenalan Balai
Observasi tempat PKL
Pemberian pakan di KJA
2 Rabu, 14-11- 2019 Apel pagi
Menyaingi ikan rucah untuk pakan induk kakap
putih
Pemberian pakan
Pengambilan induk kerapu macan ke Pulau Tike
3 Kamis, 14-11- 2019 Apel pagi
Menyaingi ikan rucah untuk pakan induk kakap
putih
Pemberian pakan
Membersihkan bak fiber
Menyiangi ikan untuk dibawa ke keramba
4 Jum'at, 15-11- 2019 Apel pagi
Menyaingi ikan rucah untuk pakan induk kakap
putih
Pemberian pakan
Pencucian bak induk
Menyaingi ikan rucah untuk pakan induk kakap
5 Sabtu, 16-11- 2019 putih
Pemberian pakan induk
6 Minggu, 17-11- 2019 LIBUR
7 Senin, 18-11- 2019 Apel pagi
Menyaingi ikan rucah untuk pakan induk kakap
putih
Pemberian pakan
8 Selasa, 19-11- 2019 Apel pagi
Menyaingi ikan rucah untuk pakan induk kakap
putih
Pemberian pakan
9 Rabu, 20-11- 2019 Apel pagi
Menyaingi ikan rucah untuk pakan induk kakap

31
putih
10 Kamis, 21-11- 2019 Apel pagi
Menyaingi ikan rucah untuk pakan induk kakap
putih
Jum'at. 22-11- 2019 Apel pagi
Pemanenan rotifer
Pemberian pakan larva
Senin, 25-11- 2019 Penyiponan
Pemanenan rotifer
Selasa, 26- 11- 2019 Apel pagi
Pemanenan rotifer
Rabu, 27-11- 2019 Apel pagi
Pemanenan larva
Kamis, 28-11- 2019 Apel pagi
Greeding
Penyiponan
Jum'at, 29-11- 2019 Apel pagi
Perendaman ikan kerapu macan
Greeding kerapu bebek
Senin, 2-11- 2019 Apel pagi
Pemberian pakan
Penyiponan
Selasa, 3-11- 2019 Apel pagi
Menyiangi ikan untuk pakan induk
Penyiponan
Pembersihan bak fiber
Penyiponan
Rabu, 4-11- 2019 Apel pagi
Persiapan plastik packing
Menyiangi ikan untuk pakan induk
Penyiponan
Kamis, 5-11- 2019 Apel pagi
Perendaman

32
Packing benih ikan kerapu bebek dan cantang
Jum'at, 6-11- 2019 Apel pagi
Packing ikan kerapu cantang
Sabtu, 7-11- 2019 Packing ikan kerapu cantang
Senin, 9-11- 2019 Apel pagi
Pembersihan bak fiber
Penebaran ikan
Selasa, 10-11- 2019 Apel pagi
Packing ikan kerapu cantang
Rabu, 11-11- 2019 Apel pagi
Membersihkan bak fiber
Ptel
Kamis, 12-11- 2019 Apel pagi,
Membersihkan bak viber

33
Lampiran 2. Data monitoring kualitas air larva ikan kakap putih

Tanggal Suhu Do Salinitas Ph

29-11-2019 31,2 5,4 34 8,1

30-11-2019 30,6 6,3 33 8

01-12-2019 29,9 5,3 33 8,2

02-12-2019 30,4 6,1 34 7,9

03-12-2019 30,8 5,4 33 8,1

04-12-2019 30,1 6,7 34 8,2

05-12-2019 30,8 6,4 34 8

06-12-2019 31,2 5,4 34 8

07-12-2019 30,7 6,3 34 8,1

08-12-2019 30,6 5,1 33 8

09-12-2019 30,9 5,5 33 7,9

10-12-2019 30,3 5,4 34 8,1

11-12-2019 30,5 5,4 33 8

12-12-2019 30,5 5,5 34 8,2

Rata-rata 30,6 5,7 33,3 8,0

34
STRUKTUR ORGANISAI BALAI BENIH IKAN LAUT PULAU TIDUNG 2020
PUSAT BUDIDAYA DAN KONSERVASI LAUT PULAU TIDUNG

KEPALA PUSAT BUDIDAYA DAN KONSERVASI LAUT


Ir. Sartono, M. Si

KEPALA SUBBAG TATA USAHA


Rita Sri Lestari

KEPALA SATUAN PELAKSANA BUDIDAYA LAUT


Nirwanto, SP

Divisi Induk Di. Larva dan Pakan Alami Div. Larva Rearing Div. Pendederan Div. Lab dan Kesling Div. Juru Mudi
Aryo Ganesha P Lilis Desmawati Rahmayani Dedi Alamsyah Hamelia Priliska Kapal
Aryo Ganesha P Dedi
Aryo Ganesha P
Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota
1. Irwanto 1. M. Rois 1. Ading Nurdin 1. Herudin 1. Ira Sartika
2. Safudin 2. Syaiful Anwar 2. Misnawati 2. Saefudin 2. Risma
3. Rivai

35