Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

EVALUASI GIZI

ACARA IV
MANAGEMEN HEWAN PERCOBAAN

Oleh:
Ilmu dan Teknologi Pangan 2013

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016
LAPORAN PRAKTIKUM
EVALUASI GIZI

ACARA IV
MANAGEMEN HEWAN PERCOBAAN

KELOMPOK 2

Oleh :
Yunika Purwanti A1M013003
Dina Putri Pratami A1M013004
Siva Febidamara A1M013020
Tety Heryanti A1M013021
Nabila Faradina Iskandar A1M013031
Wienanda Trisnani A1M013037
Qothrotul Himmah R. A1M013047
Fasya Fauziah S A1M013052
Laraswati A1M013056

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016
I . PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peranan hewan percobaan dalam kegiatan penelitian ilmiah dan evaluasi
kandungan gizi serta pegaruhnya pada tubuh telah berjalan sejak lama. Hal ini di
tjukan untuk mengetahui tentang kemampuan suatu produk pangan pada seluruh
aspeknya yang berhubungan dengan efek toksiknya maupun efek sampingnya
tentunya kita membutuhkan hewan uji atau hewan percobaan. Hewan coba adalah
hewan yang khusus diternakan untuk keperluan penelitian biologis.
Hewan laboratorium tersebut di gunakan sebagai uji praktek untuk penelitian
pengaruh bahan kimia atau obat pada manusia. Beberapa jenis hewan yang sering
dipakai dalam penelitian maupun praktek yaitu : Kelinci (Oryctolagus cuniculus)
Marmut (Cavia parcellus), Mencit (Mus musculus), Tikus (Rattus novergicus).
Penggunaan hewan coba dimanfaatkan sebagai sample atau permodelan
yang membantu dalam pengujian suatu kandungan bahan secara in vivo.
Penggunaan hewan coba memiliki keunggulan tersendiri jika dibandingkan dengan
pengujian langsung kepada manusia. Meskipun penggunaan eksperimen dilakukan
terhadap hewan, cara memperlakukan hewan dan cara pengambilan sampel dalam
pengamatan sangat perlu diperhatikan. Penggunaan hewan coba bukan hanya
sekedar eksploitasi namun tetap harus memperhatikan hak hewan.
Pada percobaan kali ini digunakan tikus putih sebagai media coba. Tikus
putih dipulih karena memiliki tingkat produktifitas yang tingg sehingga mudah
dikembang biakan. Selain itu tersedia dan mudah untuk didapatkan sebagai hewan
coba. Penggunaan tikus sebagai hewan coba sudah banyak digunakan delam
berbagai penelitian. Baik untuk penelitian minuman fungsioal maupun dibidang
farmasi dan kedokteran.

B. Tujuan
1. Mahasiswa mengetahui dan memahami manajemen hewan coba
2. Mahasiswa memahami cara pengambilan sampel darah dari hewan coba
II . TINJAUAN PUSTAKA
Hewan percobaan adalah setiap hewan yang dipergunakan pada sebuah
penelitian biologis dan biomedis yang dipilih berdasarkan syarat atau standar dasar
yang diperlukan dalam penelitian tersebut (Smith, 1998). Dalam menggunakan
hewan percobaan untuk penelitian diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai
berbagai aspek tentang sarana biologis, dalam hal penggunaan hewan percobaan
laboratorium. Pengelolaan hewan percobaan diawali dengan pengadaan hewan,
meliputi pemilihan dan seleksi jenis hewan yang cocok terhadap materi penelitian.
Pengelolaan dilanjutkan dengan perawatan dan pemeliharaanhewan selama
penelitian berlangsung, pengumpulan data, sampai akhirnya dilakukan terminasi
hewan percobaan dalam penelitian (CIOMS, 1985).
Rustiawan (1990), menguraikan beberapa alasan mengapa hewan
percobaan tetap diperlukan dalam penelitian khususnya di bidang kesehatan,
pangan dan gizi antara lain: (1) keragaman dari subjek penelitian dapat
diminimalisasi, (2) variabel penelitian lebih mudah dikontrol, (3) daur hidup relatif
pendek sehingga dapat dilakukan penelitian yang bersifat multigenerasi, (4)
pemilihan jenis hewan dapat disesuaikan dengan kepekaan hewan terhadap materi
penelitian yang dilakukan, (5) biaya relatif murah, (6) dapat dilakukan pada
penelitian yang berisiko tinggi, (7) mendapatkan informasi lebih mendalam dari
penelitian yang dilakukan karena kita dapat membuat sediaan biologi dari organ
hewan yang digunakan, (8) memperoleh data maksimum untuk keperluan
penelitian simulasi, dan (9) dapat digunakan untuk uji keamanan, diagnostik dan
toksisitas.
Penelitian yang memanfaatkan hewan coba, harus menggunakan hewan
percobaan yang sehat dan berkualitas sesuai dengan materi penelitian. Hewan
tersebut dikembangbiakkan dan dipelihara secara khusus dalam lingkungan yang
diawasi dan dikontrol dengan ketat. Tujuannya adalah untuk mendapatkan defined
laboratory animal sehingga sifat genotipe, fenotipe (efek maternal), dan sifat
dramatipe (efek lingkungan terhadap fenotipe) menjadi konstan. Hal itu diperlukan
agar penelitian bersifat reproducible, yaitu memberikan hasil yang sama apabila
diulangi pada waktu lain bahkan oleh peneliti lain (Nomura, 1982). Penggunaan
hewan yang berkualitas dapat mencegah pemborosan waktu, kesempatan, dan biaya
(Festing, 2003).
Berbagai hewan kecil memiliki karakteristik tertentu yang relatif serupa
dengan manusia, sementara hewan lainnya mempunyai kesamaan dengan aspek
fisiologis metabolis manusia. Tikus putih sering digunakan dalam menilai mutu
protein, toksisitas, karsinogenik, dan kandungan pestisida dari suatu produk bahan
pangan hasil pertanian (Herlinda, 1986).
Saat ini, beberapa strain tikus digunakan dalam penelitian di laboratorium
hewan coba di Indonesia, antara lain: Wistar; (asalnya dikembangkan di Institut
Wistar), yang turunannya dapat diperoleh di Pusat Teknologi Dasar Kesehatan dan
Pusat Teknologi Terapan Kesehatan dan Epidemiologi Klinik Badan Litbangkes;
dan Sprague-Dawley; (tikus albino yang dihasilkan di tanah pertanian Sprague-
Dawley), yang dapat diperoleh di laboratorium Badan Pengawasan Obat dan
Makanan dan Pusat Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes (Marice, 2010).
III . METODE

A. Waktu dan Tempat


Waktu pelaksanaan praktikum tanggal 24 Desember 2015 di laboratorium
Teknologi Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

B. Alat dan Bahan


Alat yang dibutuhkan dalam penggunaan hewan coba adalah tikus, aquades,
kandang tikus, sarung tangan, masker, jarum suntik, pipet darah, kloroform, kapas,
gunting, pinset berkait, sonde oral, dan gelas beker.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Pengenalan cara menghandle tikus

Tikus diambil dari kandang dengan dipegang bagian ekornya

Tikus ditempatkan pada tempat yang tidak liciin.

Tengkung tikus dicapit dengan jari sambil ekornya tetap dipegang kemudian
dibalikan

Tikus ditempatkan pada timbangan dalam keadaan hidup


2. Pengenalan cara penimbangan berat badan tikus

Tikus diambil dari kandang dengan dipegang bagian ekornya

Tikus ditempatkan pada empat yang tidak liciin. tengkung tikus dicapit dengan
jari sambil dibalikan kemudian ditempatkan pada timbngan

3. Pengenalan cara menyonde

Suntikan sonde disiapkan dan diambil 1ml aquades yang siap diberikan kepada
tikus

Tikus yang sudah ditimbang diangkat dan diberikan aloksan atau aquades
sebanyak 1 ml dengan sonde oral

sonde oral dimasukan perlaha-lahan melalui mulut dan esofagus sampai


menuju lambung kemudian disuntikan aquadesnya
4. Pengenalan cara pengambilan darah melalui ekor dan mata, dan jantung

a. Cara pengambilan darah melalui ekor

siapkan suntikan untuk pengmbilan darah

Tetesi aquades pada kapas lalu olesi kapas ke bagian ekor yaitu vena

Kemudian arahkan jarum suntik ke vena lalu diambil darahnya

b. Cara pengambilan darah melalui mata

siapkan pipet kaca untuk pengambilan darah

kepala dan ekor tikus dipegang

masukkan pipet kaca kedalam mata melalui belakang bola mata

setelah pipet berada di belakang bola mata lalu ditekan

kepala tikus dimiringkan agar darah dapat keluar

setelah mendapatkan darah yang dibutuhkan, tutup mata tikus dengan kapas
yang telah diberi aquades
c. Pengambilan darah melalui jantung

disipkan alat bedah untuk membedah tubuh tikus

tikus yang sudah dibius atau anestesi di kelurkan dari gelas beker dan ditaruh di
nampan pembedahan

pegang dan tarik bagian kulit perut tikus dengan menggunakan pingset

gunting bagin bawah perut tikus secara horizontal lalu gunting secara vertikal ke
bagian atas perut tikus, pengguntingan dimulai dari bagian tengah guntingan
pertama

kulit perut dibuka sampai bisa terlihat organ jantung tikus

pengambilan darah dilakukan secara langsung dengan memasukkan jarum suntik


ke bagian dalam jantung tikus

5. Pengenalan cara Anestesi tikus


disipkan gelas beker berisi kapas

ditambahkan kloroform pada kapas di dalam gelas beker

tikus yang akan dianestesi dimasukkan ke dalam gelas beker

tutup gelas beker dengan menggunakan bahan karet agar tikus benr-benar
menghirup kloroform

tunggu selama 3 menit sampai tikus kehilangan kesadaran

tikus yang sudah kehilangan kesadaran dapat dilanjutkan untuk proses


selanjutnya

B. Pembahasan (bahas sesuai yang dilakukan bagaimana keadaan tikus saat


dilakuakan 7 perlakuan diatas. BANDINGKAN DENGAN LITERATUR )

Teknik menyonde:
Tikus dipegang bagian tengkuk dan leher kemudian dijepit dengan jari telunjuk dan
jari tengah, kemudian dimasukan alat menyonde kebagian lambung. Setelah itu
dimasukan bahan bahan kedalam tubuh tikus, selain itu dapat juga dimasukan
dengan cara menyuntikan ada bagian kerongkongan tikus.
Menurut (Permatasari 2012) teknik menyonde dibagi menjadi:
a). Perlakuan Oral
Spuit diisi dengan bahan perlakuan kemudian tikus dipegang pada bagian tengkuk
dan ekor dijepit dengan jari manis dan jari kelingking. Ujung kanul dimasukkan
sampai rongga tekak dan Bahan perlakuan disuntikkan perlahan atau bahan
perlakuan dapat juga disemprotkan antara gigi dan pipi bagian dalam, biarkan
mencit dan tikus menelan sendiri.
b). Prosedur Penyuntikan :
a. Sub-Cutaneus (S.C)
Mencit dan tikus dipegang dan dikondisikan senyaman mungkin. Terlebih dahulu
kulit tikus dicubit cubit untuk menanggulangi stres. Spuit diisi dengan bahan
perlakuan. Pada kulit target disemprot dengan Alkohol 70%. Kemudian pada
bagian punggung sedikit dicubit. Bahan perlakuan disuntikkan perlahan pada kulit
longgar diantara kulit dan musculus bagian punggung.
b. Intra-Muscular (I.M)
Mencit dan tikus dipegang dan dikondisikan senyaman mungkin. Spuit diisi dengan
bahan perlakuan. Sebelumnya semprot bagian yang akan disuntik dengan Alkohol
70%. Tusukkan jarum tegak lurus pada tengah–tengah paha. Bahan perlakuan
disuntikkan perlahan.
c. Intra-Peritonial (I.P)
Disamping garis tengah diantara dua puting susu paling belakang atau di
umbilikalis kanan/kiri Mencit dan tikus dipegang dan dicubit-cubit untuk
menanggulangi stres. Spuit diisi dengan bahan perlakuan. Sebelumnya disemprot
bagian yang akan disuntik dengan Alkohol 70%. Tusukkan jarum tegak lurus pada
umbilikalis kanan/kiri sampai masuk rongga peritonial Bahan perlakuan
disuntikkan perlahan.
Menimbang berat badan hewan
- Disiapkan timbangan analitik (posisi ON)
- Dimasukkan hewan uji kedalam pinggan timbangan (berbentuk baskom)
- Kemudian diletakkan hewan uji kedalam pinggan
- Dicatat hasil pengamatan pada layar timbangan
(Oemijati, 2010)
Oemijati, Setiabudy R Budijanto A. Pedoman etik penelitian kedokteran
indonesia. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010.
di dalam rongga perut yaitu hati, lambung, ginjal, pankreas, usus besar, usus
halus, serta rectum.
Pada umumnya pengambilan darah dilakukan sekitar 10% dari total volume
darah dalam tubuh dan dalam selang waktu 2-4 minggu. Atau sekitar 1% dengan
interval 24 jam. Total darah yang diambil sekitar 7,5% dari bobot badan.
Diperkirakan pemberian darah tambahan (exsanguination) sekitar setengah dari
total volume darah. Contohnya: Bobot 300g, total volume darah 22,5 ml,
maksimum pengambilan darah 2,25 ml, maka pemberian exsanguination 11,25 ml.
Pengambilan darah harus menggunakan alat seaseptik mungkin. Untuk
meningkatkan vasodilatasi, perlu diberi kehangatan pada hewan tersebut, misalnya
taruh dalam ruangan dengan suhu 40oC selama 10-15 menit, dengan mememasang
lampu pemanas dalam ruangan tersebut.
Pengambilan darah dapat dilakukan pada lokasi tertentu dari tubuh, yaitu:
- Melalui vena di ekor
Pengambilan darah melalui pembuluh darah yang terdapat di ekor memiliki tingkat
kesulitan yang tinggi. Metode ini sulit dilakukan karena pembuluh darah yag
terdapat pada ekor memiliki ukuran yang sangat kecil. Ukuran pembuluh darah ekor
ini masih lebih kecil jika dibandingkan dengan jarum yang digunakan untuk
pengambilan darah, sehingga sulit dilakukan.
- sinus orbitalis mata
Pengambilan darah dilakukan dengan menggunakan pipet darah. Pipet darah
dimasukkan ke jaringan di bawah mata. Pengambilan darah dilakukan di atas
tempat yang mudah dibersihkan karena akan banyak darah yang keluar dan
melebihi kapasitas pipet darah. Pengambilan darah melalui mata dapat dilakukan
secara berulang kali selama tikus masih dalam kondisi yang baik.
- langsung dari jantung
Pengambilan darah melalui jantung dilakukan untuk volume darah yang banyak.
Pada metode ini tikus harus dibunuh terlebih dahulu dengan cara anestesi. Setelah
tikus dibunuh selanjutnya dilakukan pembedahan dengan membuka bagian dalam
tikus dengan cara menggunting kulit bagian perut tikus. Jika organ jantung sudah
ditemukan, dilakukan pengambilan darah dengan menusukan jarum suntik ke
bagian jantung.
Pengenalan cara Anestesi tikus
Anestesi atau pembiusan adalah pengurangan atau penghilangan sensasi untuk
sementara, sehingga operasi atau prosedur lain yang menyakitkan dapat dilakukan.
Padda praktikum ini anestesi dilakukan dengan menggunakan kloroform. Tahapan
yang dilakukan pada anestesi adalah dengan menyiapkan gelas beker berisi kapas,
lalu ditambahkan kloroform pada kapas didalam gelas beker dengan dosis
secukupnya. Selanjutnya tikus dimasukkan kedalam gelas beker yang berisi
kloroform dan ditutup rapat agar tikus benar-benar menghirup kloroform. Tikus
yang menghirup kloroform kesadarannya terus menurun, semakin lama tikus akan
semakin lemas. Tikus akan kehilangan kesadaran setelah 3 menit menghirup
kloroform. Selain menggunakan kloroform, anestesi juga dapat dilakukan dengan
menggunaka eter. Namun, penggunaan klorofrom lebih kuat dampaknya untuk
anestesi tikus, meskipun dengan konsentrasi ynag sama.
Pengenalan cara pembedahan tikus

Tikus dibius menggunakan kloroform dengan cara kapas yang telah di beri
kloroform dimasukan ke adalam toples kaca, setelah itu tikus dimasukan ke
dalam toples dan ditutup menggunakan penutup karet

Tunggu sampai beberapa menit sampai tikus mati secara perlahan-lahan

Setelah tikus mati, kemudian dikeluarkan

Dilakukan pembedahan

Pembedahan dimulai dari gunting bagian bawang ujung perut tikus sampai
bagian atas perut tikus

Setelah itu, bagian yang tergunting di bagia menjadi dua bagian (dibelah
tengah)

Setelah bagaian kulit perut terbuka diamati bagian dalam organ tikus

Cara pembedahan tikus pada praktikum kali ini telah sesui dengan literature
(wati,2009) Teknik anastesi yang digunakan adalah teknik anestesi dengan
menggunakan ether, awalnya mencit yang dikorbankan dimasukan ke dalam stoples
kemudian ditutup rapat, selanjutnya 10-20 ml ether dituang kedalam kapas dan
dimasukkan stoples yang telah dihuni mencit tersebut (hewan yang akan
dikorbankan).
Dua sampai 5 menit kemudian dilakukan pengamatan terhadap napas dan
denyut jantung, apabila mencit sudah tidak bernapas, tutup toples dibuka, sebelum
dilakukan pembedahan tikus
1. dibunuh dengan dislokasi pada tulang leher untuk memastikan hewan telah
benar-benar mati.
2.Posisikan tikus pada papan bedah menggunakan pins
3. Bedah mulai dari bagian perut ataupun uterus menggunakan gunting bengkok.
Pengenalan Organ tikus
Berdasarkan pengamatan didapatkan data-data sebagai berikut, posisi ginjal
kanan lebih tinggi dari ginjal kiri ini, menurut Pack (2003) hal ini diakibatkan
karena ginjal kiri terdesak oleh lambung yang berada diatasnya. Organ selanjutnya
yaitu hati. Selai hati juga ditemukan 2 lobus paru-paru yang dilindungi oleh
diafragma, paru-paru tikus berada dalam rongga torak, serta menutupi jantung/
Organ selanjutnya yang ditemukan yaitu jantung yang berada didalam rongga
dada(torak) serta usus halus usus halus dari tikus percobaan pun memiliki 3 bagian
yang memilki susunan seperti susunan usus halus pada manusia yaitu duodenum
atau usus dua belas jari (Pagarra, 2009), duodenum ini terletak dibawah lambung
atau juga merupakan organ yang menyambungkan lambung dengan usus kosong
(jejunum), bagian usus halus yang ke dua yaitu jejunum, jejunum ini merupakan
bagian kelanjutan dari duodenum (usus 12 jari), bagian yang usus halus yang ketiga
yaitu ileum, ileum ini merupakan kelanjutan dari duodenum hingga menyatu
dengan usus besar, organ selanjutnya yang ditemukan yaitu usus besar, usus besar
pada tikus percobaan memilki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan usus
halus serta tidak memiliki lipatan-lipatan, sama halnya seperti usus besar pada
manusia (Pearce, 2009). Hasil pengamatan dari pembedahan tikus pada percobaan
kali ini pun hanya didapatkan organ-organ yang berada di rongga dada yaitu jantung
dan paru-paru, serta organ yang berada
PENUTUP

A. Simpulan

1. Evaluasi suatu produk pangan dapat dilakukan pada hewan coba. Salah satunya
adalah tikus.
2. Tikus putih memiliki susunan morflogi yang menyerupai manusia dam mudah
dikembang biakan sehingga dapat digunakan sebagai hewan coba.
3. Penelitian terhadap pengaruh suatu produk pangan terhadap tikus coba dapat
dilakukan dengan pemberian pangan secara langsung. Salah satunya dengan
metode sonde oral.
4. Evaluasi pada tikus dapat dilakukan dengan pengambilan sampel darah, organ,
dan jaringan.

B. Saran

Penggunaan tikus sebagai hewan coba perlu sangat diperhatikan tingkat


pemeliharaan, perlakuan, dan penangaan saat praktikum. Sehingga tikus masih
tetap hidup untuk beberapa kali pengambilan sampel darah. Pada proses
pembedahan sebaiknya organ tetap utuh.
DAFTAR PUSTAKA
Council for International Organization of Medical Sciences (CIOMS). 1985.
International guiding principles for biomedical research involving animals
council for International Organization of Medical Sciences (CIOMS).
Festing, M. F. W. 2003. Principles: the need for better experimental design. Trends
Pharmacol Sci. 24 : 341-5.
Herlinda, Y. 1986. Hewan percobaan tikus albino strain wistar di unit penelitian
gizi Diponegoro. Majalah Kedokteran Indonesia. 36 (11).
Komisi Nasional Etik Penelitian Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2006.
Pedoman nasional etik penelitian kesehatan suplemen II etik penggunaan
hewan percobaan. Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta.
Malole, M.M.B, Pramono. 2009.Penggunaan Hewan-hewan Percobaan
Laboratorium. Bogor : IPB. Ditjen Pendidikan Tinggi Pusat Antar
Universitas Bioteknologi
Marice S, Raflizar. Status gizi dan fungsi hati mencit galur CBS (Swiss) dan tikus
putih galur wistar di laboratorium hewan percobaan puslitbang biomedis
dan farmasi. Media Litbang Kesehatan. 20 (1).
Nomura, T., Tajima Y. 1982. Defined laboratory animals, advances in
pharmacology and therapeutics II. Oxford Pergamon Press.
Pack, Phillip E. 2003. Anatomi Dan Fisiologi. Bandung: Pakar Raya.
Pagarra, Halifah. 2009. Struktur Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA
UNM.
Pearce, Evelyn C. 2009. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta:
Gramedia
Rustiawan, A dan Vanda J. 1990. Pengujian mutu pangan secara biologis. Pusat
Antar Universitas Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor : Bogor
Smith J. B., Mangkoewidjojo S. 1998. Pemeliharaan, pembiakan, dan penggunaan
hewan percobaan di daerah tropis. Penerbit Universitas Indonesia : Jakarta.
Wati, DK. 2009.Sistem Organ Tikus Rattus Norvegicus Dan Pengamatan
SelSecara Mikroskopis .Stikes Patria Husada, Blitar
Permatasari, N. 2012. Intruksi Kerja Pengambilan Darah, Perlakuan dan Injeksi
Pada Hewan Coba. Laboratorium Biosains. Universitas Brawijaya
LAMPIRAN

No Perakuan gambar

1. Penanganan tikus

2. penimbangan berat
badan tikus

3. Menyonde

4. Pengambilan darah
melalui ekor
5. Pengambilan darah
melalui mata

6. Pengambilan darah
melalui jantung

7. Anestesi tikus

8. Pembedahan tikus
9. Pengenalan organ
organ tikus