Anda di halaman 1dari 2

Anestesi atau pembiusan adalah pengurangan atau penghilangan sensasi untuk sementara,

sehingga operasi atau prosedur lain yang menyakitkan dapat dilakukan. Padda praktikum ini
anestesi dilakukan dengan menggunakan kloroform secara inhalasi. Tahapan yang dilakukan pada
anestesi adalah dengan menyiapkan gelas beker berisi kapas, lalu ditambahkan kloroform pada
kapas didalam gelas beker dengan dosis secukupnya. Selanjutnya tikus dimasukkan kedalam gelas
beker yang berisi kloroform dan ditutup rapat agar tikus benar-benar menghirup kloroform. Tikus
yang menghirup kloroform kesadarannya terus menurun, semakin lama tikus akan semakin lemas.
Tikus akan kehilangan kesadaran setelah 3 menit menghirup kloroform. Selain menggunakan
kloroform, anestesi juga dapat dilakukan dengan menggunaka eter. Namun, penggunaan
klorofrom lebih kuat dampaknya untuk anestesi tikus, meskipun dengan konsentrasi ynag sama.
Senyawa. dietil eter.yang dalam perdagangan hanya disebut eter saja, merupakan senyawa terbaik.
untuk anestesi total/umum Keuntungan penggunaan eter adalah murah dan mudah didapat, tidak perlu
digunakan bersama dengan obat-obat lain karena telah memenuhi trias anestesi, cukup aman dengan
batas keamanan yang lebar, dan alat yang digunakan cukup sederhana. walaupun mempunyai
kekurangan seperti mudah terbakar, menimbulkan efek samping pusing dan mual dan reaksinya sangat
lambat.Dengan kondisi seperti tersebut, sekarang penggunaan eter telah dibatasi. ·Penggunaan eter
untuk anestesi waktu sekarang telah diting~galkan karena dapat meracuni tubu,h, seperti terjadinya
kerusakan ha ti dan menimbulkanrasa pusi'ng,dan mualpasien.

Proses kerja anestesi umum melewati beberapa stadium yaitu :

1. Staduim I (Stadium Analgesia/eksitasi bebas/stadium induksi) : Stadium I (Anelgesia) Stadium


anelgesia dimulai sejak pemberian anestetik sampai hilangnya kesadaran. Pada stadium ini pasien tidak
lagi merasakan nyeri (anelgesia), tetapi masih sadar (Gunawan, et al, 2011). Pernapasan masih
dipengaruhi kemauan dan keras, frekuensi nafas, dan pulsus meningkat, pupil melebar, terjadi urinasi,
dan defekasi (Sudisma et al., 2006)

2. Stadium II (Stadium eksitasi tidak bebas/stadium induksi) : Stadium ini dimulai sejak hilangnya
kesadaran sampai munculnya pernapasan yang teratur yang merupakan tanda dimulainnya stadium
pembedahan. Pada stadium ini, hewan tampak mengalami delirium (sensasi) dan eksitasi dengan
gerakan diluar kehendak (meronta-ronta). Pernapasan tidak teratur, kadang-kadang apnea dan
hiperpnea, tonus otot rangka meningkat, kadang sampai mengalami inkontinesia, dan muntah. Hal ini
terjadi karena hambatan pada pusat inhibisi. Pada stadium ini dapat terjadi kematian, maka pada
stadium ini harus diusahakan cepat dilalui

3. Stadium III (Stadium operasi), terjadi dari 3 tingkat/plae : plane (dengkal), pale 2 (medium), dan plane
3 (dalam) : Stadium III dimulai dengan tumbulnya kembali pernapasan yang teratur dan berlangsung
sampai pernapasan spontan hilang. Menurut Gunawan et al. (2011) pada stadium ini dibagi lagi menjadi
4 tingkat dan tiap tingkatan dibedakan dari perubahan pada gerakan bola mata, refleks bulu mata dan
konjungtiva, tonus otot dan lebar pupil yang menggambarkan semakin dalamnya pembiusan.

4. Stadium IV (Stadium over dosis) : Stadium IV ini, dimulai dengan melemahnya pernapasan perut
dibanding stadium III tingkat 4. Tekanan darah tidak dapat diukur karena pembuluh darah kolaps, dan
jantung berhenti berdenyut. Keadaan ini dapat segera disusul dengan kematian, kelumpuhan napas di
sini hanya dapat diatasi dengan alat bantu napas dan sirkulasi
Darah yang keluar dari pembuluh akan segera mengalami koagulasi (clotting). Oleh karena itu
diperlukan penambahan zat untuk mencegah koagulasi darah yang dikenal sebagai antikoagulan. Jenis
antikoagulan yang sering digunakan adalah ethylene diamine tetra acetic acid (EDTA) dan Heparin. EDTA
bekerja dengan cara mengikat kalsium yang dibutuhkan untuk proses koagulasi, sedangkan Heparin
bekerja dengan cara mengikat antitrombin dan menghambat aktivasi thrombin

selanjutnya dilakukan sentrifugasi untuk mendapatkan serum yang dimaksud.

Pengambilan darah langsung ke jantung Teknik ini umumnya dilakukan jika darah yang dibutuhkan
banyak dan tikus yang diambil darahnya ini akan sekalian dibedah untuk diambil organnya

Orbitalis aquades membersih Bersihkan dengan kapas steril sisa darah yang terdapat pada mata.
Mikrohematokrit. Nyeri lebih singkat. dilakukan menggunakan tabung mikrohematokrit berupa pipa
kapiler yang berlapis heparin.

Iv lanset pijat dari ujung, berulang berkala ujung ke pangkal

Pengambilan darah mencit dapat dilakukan dari sinus orbital (mata), ujung ekor, vena saphenous (paha),
dan jantung. Masing-masing cara memiliki tujuan sendiri-sendiri. Dari ujung ekor dan vena saphenous
paha, masing-masing darah yang dapat diperoleh hanya kira-kira 0,1 ml saja. Volume ini sudah cukup
untuk sampel darah yang dibutuhkan pada beberapa uji, misalnya pada pengukuran kadar gula darah
menggunakan alat AccuCheck. Untuk volume yang lebih besar (hingga 0,5 ml), darah dapat diperoleh
dari sinus orbital. Pada ketiga cara di atas, pengambilan darah dapat dilakukan secara berulang. Interval
pengambilan sebaiknya mempertimbangkan pemulihan mencit dari luka pengambilan darah
sebelumnya. Untuk kebutuhan darah dalam volume yang lebih besar (misalnya 1 ml), darah dapat
diambil langsung dari jantung. Pengambilan organ pada umumnya dilakukan setelah hewan uji
dikurbankan. Istilah “dikurbankan” digunakan, karena hewan uji yang kita gunakan dalam percobaan
memang menjadi kurban demi kepentingan kita memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu, setiap
peneliti dituntut untuk berempati menghargai pengorbanan hewan-hewan uji tersebut, antara lain
dengan memperlakukan hewan uji dengan lembut dan penuh kasih sayang (tidak kasar apalagi sadis),
mengurbankan (membunuh) hewan dalam keaddaana tidak merasakan sakit dengan cara dibius terlebih
dahulu. Untuk memastikan perlakuan yang baik pada hewan uji, suatu penelitian yang menggunakanan
hewan uji diwajibkan untuk mendapatkan surat persetujuan dari komisi etik penggunaaan hewan dalam
penelitian yang dibentuk khusus untuk tujuan tersebut di universitas atau lembaga penelitian.