Anda di halaman 1dari 26

PENGENALAN PENYAKIT PENTING

TANAMAN KARET
DAN
CARA PENGENDALIANNYA

Oleh
Sujatno, Suwarto, Soleh Suryaman, Soekirman Pawirosoemardjo.
Balai Penelitian Sungei Putih. Pusat Penelitian Karet.

2004

Disampaikan pada
Pelatihan Pengenalan dan Pengendalian Penyakit-Penyakit Penting Tanaman Karet,
Sungei Putih, 9-11 Juli 2004

Disalin ulang Oleh


Erlan Ardiana R
PENGENALAN PENYAKIT PENTING TANAMAN KARET DAN
CARA PENGENDALIANNYA

PENDAHULUAN

Karet alam di Indonesia telah berusia satu abad lebih dan merupakan komoditas yang
mempunyai arti ekonomi dan sosial penting bagi kehidupan rakyat Indonesia umumnya
dan rakyat di daerah Sumatera serta Kalimantan pada khususnya. Di dunia, luas
pertanaman karet Indonesia menduduki tempat yang pertama, tetapi dalam hal produksi
hanya menduduki tempat kedua setelah Thailand. Hal tersebut terjadi karena salah satu
diantaranya produksi karet alam di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan
Thailand.
Dalam rangka meningkatkan pendapatan petani karet dan meningkatkan ekspor
non migas, mulai tahun 1980-an pemerintah telah mengembangkan pertanaman karet
dengan pola intensifikasi, rehabilitasi, perluasan areal dan penanaman ulang. Sebagai
konsekuensinya, berbagai masalah telah timbul dan salah satunya adalah penyakit.
Penyakit tanaman karet merupakan salah satu faktor pengganggu yang penting
daripada masalah gangguan lainnya dan bahkan seringkali dapat menggagalkan suatu
usaha pertanaman. Sebagai contoh adalah penyakit rapuh daun yang disebabkan oleh
Microcyclus ulei yang sementara ini dikenal sebagai penyakit yang sangat ganas di
Amerika Selatan.
Penyakit tanaman karet dapat dijumpai di pembibitan sampai ditanaman yang
telah tua, dari bagian akar sampai pada daun. Penyakit penyakit pada karet umumnya
disebabkan oleh cendawan dan sampai saat ini belum diketahui adanya penyakit yang
disebabkan oleh bakteri, virus atau patogen lainnya.

Diagnosa penyakit yang tepat dan cepat akan sangat menentukan keberhasilan
penanggulangan penyakit. Sampai saat ini, cara-cara penanggulangan penyakit karet yang
dianjurkan dapat berupa kombinasi dari aspek kultur teknis, manipulasi lingkungan dan
atau penggunaan pestisida, atau masing-masing aspek tersebut. khusus dalam
penggunaan pestisida, perlu diperhatikan akan dampak negatifnya terhadap manusia,
lingkungan, tanaman, dan organisme pengganggunya sendiri.
Dalam uraian berikut akan dikemukakan secara garis besar beberapa penyakit
penting pada tanaman karet yang meliputi aspek gejala, berbagai faktor yang
mempengaruhi perkembangan penyakit, arti ekonomi dan cara pengendaliannya.

PENYAKIT TANAMAN KARET

Beberapa penyakit penting pada tanaman karet dapat digolongkan menjadi


penyakit akar, penyakit bidang sadap, penyakit cabang atau batang dan penyakit daun.

A. PENYAKIT AKAR
a. Penyakit Jamur Akar Putih Rigidoporus lignosus
Gejala Penyakit
Serangan patogen menyebabkan akar menjadi busuk dan umumnya pada
permukaan akar ditumbuhi rizomorpha jamur. Gejala tersebut baru dapat terlihar apabila
daerah perakaran dibuka. Gejala yang nampak pada daun adalah daun-daun yang semula
tampak hijau segar berubah menjadi layu, berwarna kusam dan akhirnya kering. Pada
keadaan tersebut menunjukkan bahwa tanaman telah menderita serangan pada tahap
lanjut dan tidak mungkin untuk diselamatkan. Membusuknya akar diduga karena
rusaknya struktur kimia kulit dan kayu akibat enzim yang dihasilkan jamur.
Rizomorpha adalah paduan kompak benang-benang jamur yang menyerupai akar
tanaman. Rizomorpha R. lignosus yang muda berwarna putih dan bentuknya pipih,
semakin tua umur rizomorpha warna putih berubah menjadi kuning gading dan
bentuknya menyerupai akar rambut.
Selain dapat menyerang secara akut, R. lignosus dapat pula menyerang secara
kronis pada tanaman yang telah tua. Gejala serangan secara kronis tersebut tidak tampak
jelas dan baru terlihat apabila tanaman dibongkar sebagian akar-akarnya telah ditumbuhi
rizomorpha jamur.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit
Umumnya penyakit jamur akar putih R. lignosus berjangkit dan mengakibatkan
banyak kematian pada pertanaman karet muda yang berumur 2-4 tahun. Masalah tersebut
umumnya timbul setelah suatu kebun karet diremajakan atau suatu hutan dikonversikan
menjadi kebun karet.
Timbulnya penyakit akar R. lignosus erat hubungannya dengan kebersihan lahan.
Tunggul atau sisa tebangan pohon, perdu dan semak yang tertinggal dalam tanah
merupakan substrat R. lignosus. Potensi R. lignosus sangat ditentukan oleh banyaknya
tunggul di lahan yang bersangkutan. Lama bertahan R. lignosus dalam tanah disamping
ditentukan oleh hal tersebut juga ditentukan oleh ikut sertanya organisme renik yang
melapukkan tunggul.
Jamur akar putih berkembang dengan baik pada tanah posporus hingga di daerah
liparit yang terdapat luas di Sumatera Timur dan Jawa Timur bagian Selatan.
Penularan penyakit terjadi karena adanya kontak antara akar sakit dan sehat atau
adanya miselium yang tumbuh dari food base di sekitar perakaran tanaman sehat. Lama
penularan penyakit pada tanah berpasir dapat bervariasi antara 1-2 tahun.

Arti Ekonomi
Meluasnya penyakit jamur akar R. lignosus akan menghambat atau menggagalkan
usaha peremajaan dan perluasan tanaman karet. Dalam tahun 1964, dilaporkan bahwa
luas areal peremajaan yang terserang jamur akar R. lignosus adalah 11.000 ha dan 19,6
persen dari jumlah tanaman dalam areal tersebut mati akibat penyakit tersebut. dalam
tahun 1980 salah satu kebun di Jawa melaporkan bahwa selama tiga tahun setelah
penanaman dalam rangka peremajaan, 80% tanaman menderita gangguan penyakit jamur
R. lignosus. Pada tahun 1990, salah satu kebun inti di Sumatera pernah diketahui
tanamannya terserang R. lignosus sebanyak 40% selama 4-11 tahun.

Pengendalian Penyakit
Pengendalian penyakit akar R. lignosus sebaiknya dilakukan melalui beberapa
pendekatan diantaranya adalah :
(1) Mencegah timbulnya JAP pada saat melakukan persiapan dengan menghilangkan
tunggul-tunggul atau organ-organ tanaman berkayu secara tuntas. Namun
penerapan cara ini akan mengakibatkan rusaknya struktur tanah serta erosi pada
areal yang miring
(2) Menanam penutup tanah jenis Leguminose yang tumbuh menjalar minimal satu
tahun lebih awal dari penanaman karet. Hal ini bertujuan disamping mencegah
erosi, juga untuk meningkatkan kegiatan mikroorganisme dalam mempercepat
pelapukan kayu. Untuk meningkatkan jasad renik ini dapat dipacu dengan cara
menaburkan belerang cirrus pada lubang tanam.
(3) Pengendalian secara preventif dilakukan sejak tanaman berumur 6 bulan di
lapangan yaitu dengan menaburkan biofungisida TRIKO SP plus di sekitar pangkal
plus
batang hingga radius 50 cm. Aplikasi TRIKO SP dilakukan setiap 6 bulan
sekali selama tanaman belum menghasilkan (TBM).
(4) Pengendalian secara kuratif dilakukan dengan mengaplikasikan bahan kimia
(Fungisida) pada tanaman yang telah menunjukkan gejala penyakit, aplikasi ini
dapat dilakukan dengan cara penyiraman menggunakan fungisida berbahan aktif
triadimefon, triadimenol, heksakonazol sedangkan untuk pelumasan digunakan
fungisida colar protectan dengan bahan aktif PCNB atau tridemorph.

Untuk meyakinkan adanya serangan R. lignosus pada suatu pertanaman deteksi dini dapat
dilakukan dengan cara menutup leher akar tanaman dengan serasah (mulsa). Setelah 3-4
minggu kemudian pada leher akar tanaman yang sakit akan tumbuh miselium R. lignosus.
Tabel: Beberapa fungisida dan Biofungisida untuk pengendalian penyakit akar putih, sifat
dan cara aplikasinya

no Nama dagang B.A formulasi sifat Cara aplikasi Dosis/phn/a Interval


plikasi (bulan)
1 belerang sulfur Tepung - Non sistemik Penaburan, 150 gram 6
- Protektif pembenaman
- persisten sekitar tanaman
Calixin SP Trimedorf Pasta - sistemik Pelumasan akar 160-350 6
- Protektif gram
- Kuratif
- persisten
Formac 2, Shell PCNB Pasta - Non sistemik Pelumasan akar 160-350 6
CP & Ingro Pasta - Protektif gram
- persisten
Bayleton 250 EC Triadimefon Cairan - sistemik Penyiraman akar 10-20 ml 6
- Protektif
- Kuratif
- Non persisten
Bayfidan 250 EC Triadimenol Cairan - sistemik Penyiraman akar 5-20 ml * 6
- Protektif
- Kuratif
- Non persisten
Anvil 50 SC Heksakonazol Cairan - sistemik Penyiraman akar 10-20 ml* 6
- Protektif
- Kuratif
- Non persisten
Triko SP plus Trichoderma Tepung - Non sistemik Penaburan sekitat 50-150 gram 6-12
sp - Protektif leher akar
- Kuratif
- Non persisten
* Dilarutkan dalam air, setiap 5-10 ml fungisida/1 liter air
** Untuk pembibitan diperlukan 25 gram
b. Penyakit Jamur Akar Merah Ganoderma pseudoferrum

Gejala Penyakit
Pada tahap awal, di permukaan akar karet yang terserang G. Pseudoferrum akan
terlihat adanya rizomorpha yang berwarna putih. Pada tahap serangan lanjut, rizomorpha
jamur berubah menjadi kerak tipis yang berwarna gelap kehitaman. Kerak tersebut
apabila dibasahi dengan air akan berwarna merah anggur. Perubahan warna ini
merupakan ciri khas dari penyakit jamur akar merah G. Pseudoferrum.
Gejala penyakit jamur akar metah yang terlihat pada daun sama dengan gejala
penyakit akar lainnya, yaitu daun yang semula berwarna hijau berubah menjadi kusam
dan akhirnya kering. Sama halnya dengan penya jamur akar putih, pada keadaan tersebut
tanaman yang sakit tidak dapat lagi diselamatkan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit


Berbeda dengan jamur akar putih, umumnya jamur akar merah diketahui
menyerang pohon-pohon yang telah disadap (tua). Hal ini disebabkan serangan jamur G.
Pseudoferrum sangat lambar, sehingga gejala baru akan terlihat beberapa tahun
kemudian walaupun pohon sebenarnya telah terinfeksi pada waktu masih muda. Kasus
penyakit jamur akar merah jarang terjadi pada tanaman muda. Tunggul karet, dadap, teh,
Albazzia spp dan lain sebagainya yang tidak diperuntukkan tanaman karet dapat menjadi
sumber penyakit jamur akar merah G. Pseudoferrum.
Tanah berat yaitu tanah yang kandungan fraksi liatnya tinggi (diatas 50%) dan
selalu lembab merupakan kondisi lingkungan yang sesuai bagi jamur akar merah G.
Pseudoferrum.

Arti Ekonomi
Dibandingkan dengan kerugian yang diakibatkan oleh penyakit jamur akar putih
Rigidoporus lignosus, kerugian yang diakibatkan oleh jamur akar merah G.
Pseudoferrum dapat dikatakan kurang berarti. Namun demikian hal tersebut tidaklah
berarti bahwa penyakit tersebut dapat diabaikan. Dalam proses penyerangannya G.
Pseudoferrum sangat lambat tetapi secara pasti mengakibatkan tanaman menjadi mati.
Hal tersebut dapat sangat merugikan apabila terjadi pada tanaman yang sedang
berproduksi tinggi.

Pengendalian Penyakit
Prinsip pengendalian penyakit jamur akar merah G. Pseudoferrum sama dengan
yang dilakukan pada penyakit jamur akar putih R. lignosus. Karena proses penyerangan
G. Psudoferrum sangat lambat, deteksi dini penyakit ini susah dilakukan dan sampai saat
ini belum ada cara yang dapat dianjurkan. Hal ini berbeda dengan jamur akar putih R.
lignosus.

B. PENYAKIT BIDANG SADAP

a. Penyakit Kanker Garis Phytophthora palmivora


Gejala Penyakit
Kulit bidang sadap yang mudah terinfeksi P. palmivora adalah kulit luka baru
(segar) akibat penyadapan tepatnya diatas alur sadap. Kulit bidang sadap yang telah
membentuk gabus yaitu pada daerah lebih dari 5 cm diatas alur sadap biasanya terbebas
dari serangan P. palmivora.
Pada tingkat awal, penyakit kanker garis ditandai dengan adanya garis-garis
vertikal yang halus, berwarna hitam, dan sudah diketahui bagi tenaga yang terlatih. Pada
tingkat lanjut, garis-garis vertikal yang berdekatan bergabung menjadi satu membentuk
jalur atau bercak yang berwarna hitam dan pada akhirnya berbentuk luka cekung yang
tidak beraturan. Pada keadaan tersebut kulit dan kambium telah busuk. Pada keadaan
yang lebih parah, seluruh jaringan kulit dan sebagian jaringan kayu yang berada
dibawahnya membusuk mengundang penggerek kayu dan sebagainya; akibatnya tanaman
menjadi mudah patah karena angin. Pembusukan kulit dan atau kayu kadang-kadang
dapat menjalar diatas atau di bawah bidang sadap. Pada kasus penyakit ini sering
dijumpai adanya lateks yang keluar dari kulit di luar bidang sadap.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit
Penyakit kanker garis timbul dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang
lembab, terutama selama musim hujan. Terdapat petunjuk bahwa penyadapan yang dalam
membantu timbulnya penyakit. Penularan penyakit dari satu pohon ke pohon yang lain
terjadi melalui pisau sadap. Pada klon yang rentan, penyakit tersebut mudah menular dan
berkembang dengan cepat. Klon karet yang rentan terhadap penyakit kanker garis antara
lain adalah PR 107, WR 101, RRIM 600, PR 255 dan PB 86. pada musim kemarau,
perkembangan penyakit terhambat. Pohon yang sakit yang ternyata tidak tersembuhkan
secara tuntas merupakan sumber penyakit yang bersifat laten.

Arti Ekonomi
Secara pasti kerugian yang diakibatkan oleh penyakit kanker garis sulit
ditetapkan. Namun demikian, mudahlah difahami apabila penyakit tersebut dapat
menimbulkan kerugian yang berarti. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa kulit pohon
yang telah rusak akan mempersulit atau bahkan tidak dapat disadap, sehingga lateks yang
diperoleh menjadi sangat berkurang atau sama sekali tidak diperoleh lateks dari pohon
tersebut.

Pengendalian Penyakit
Usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam rangka penanggulangan penyakit
kanker garis antara lain adalah:
(1) Tidak menanam klon yang rentan di daerah rawan penyakit bidang sadap
(2) Tidak menerapkan sistem sadap yang terlalu berat
(3) Melumaskan fungisida kurang lebih 5 cm diatas alur sadap dengan interval 5-7
hari selama periode dimana penyakit tersebut berjangkit.
(4) Untuk mencegah penularan penyakit kanker garis melalui pisau sadap, pisau
sadap tersebut dicelupkan ke dalam desifektan sebelum menyadap pohon
berikutnya.
Umumnya penyakit kanker garis berjangkit pada musim hujan. Pelumasan
fungisida dilakukan pada waktu yang tidak bertepatan dengan hari sadap. Jenis
fungisida yang efektif untuk mengendalikan penyakit kanker garis adalah Difolatan
4F (2,0 %) dan Actidione 4,2 % EC (0,30 %). Larutan desifektan yang dapat
digunakan antara lain adalah Formalin 4 %, suspensi fungisida Difolatan 4 F (2 %).

b. Penyakit Mouldy Rot Ceratocystis fimbriata


Gejala Penyakit
Seperti halnya pada kasus penyakit kanker garis, kulit bidang sadap yang mudah
terinfeksi C. fimbriata adalah kulit yang luka baru (segar) luka penyadapan. Tepatnya
diatas alur sadap. Kulit bidang sadap yang telah pulih (membentuk gabus) yaitu daerah
lebih dari 5 cm diatas alur sadap biasanya bebas dari serangan C. fimbriata.
Awal serangan C. fimbriata pada bidang sadap ditandaia dengan adanya jalinan
benang cendawan yang berwarna kelabu muda tepat diatas alur sadap. Gejala penyakit
pada tingkat yang lebih lanjut ditandai dengan adanya warna kelabu kehitaman, yang
terdiri dari cendawan patogen dan cendawan sekunder. Pada tahap tersebut umumnya
bagian kambium kulit telah busuk. Pada serangan yang berat akan mengakibatkan
timbulnya luka-luka yang dalam dan besar dan tidak beraturan seperti halnya penyakit
kanker garis. Kulit yang busuk dan lapuk akan terkelupas dan sebagai akibatnya kayu
akan tampak. Dengan demikian kulit bidang sadap telah rusak sama sekali.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit


Penyakit Mouldy Rot timbul dan berkembang dengan baik pada musim hujan atau
di daerah yang keadaannya selalu lembab sepanjang hari, misalnya daerah yang
dikelilingi persawahan. Di musim kemarau Mouldy Rot cenderung berkurang. Penularan
penyakit dari pohon ke pohon yang lain terjadi melalui pisau sadap. Disamping itu,
karena spora dibentuk di permukaan kulit, spora mudah tersebar oleh angin atau
serangga.

Arti Ekonomi
Sama halnya dengan penyakit kanker garis, kerugian yang ditimbulkan oleh
Mouldy Rot sulit ditetapkan. Semakin rusak kulit bidang sadap pada suatu pohon, berarti
semakin sulit pula diperoleh lateks dari pohon yang bersangkutan. Dengan demikian,
mudahlah difahami bahwa penyakit Mouldy Rot adalah merupakan penyakit yang
penting.

Pengendalian Penyakit
Penyakit Mouldy Rot di lapangan dengan mudah diketahui jika dibandingkan
dengan penyakit Kanker Garis. Hal tersebut mempermudah penanggulangan penyakit
secara dini. Usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam rangka penanggulangan penyakit
kanker garis, dapat pula diterapkan untuk penyakit Mouldy Rot. Adapun fungisida yang
efektif untuk penyakit Mouldy Rot adalah Actidione, Benlate, Bavistin, Derozal dan
Difolatan.

Tabel: Beberapa fungisida untuk pengendalian penyakit Bidang Sadap Mouldy Rot, sifat
dan cara aplikasinya

No Nama dagang B.A formulasi sifat Cara aplikasi Dosis/phn Interval


/aplikasi (bulan)
1 Benlate Benomil Tepung - sistemik Pengolesan bidang 0,2 - 0,5 % 1-2
- Protektif sadap dengan kuas
- Kuratif
- Non persisten

2 Bavistin, Derozal Karbendazim Tepung - sistemik Pengolesan bidang 0,3 - 0,5 % 1-2
- Protektif sadap dengan kuas
- Kuratif
- Non persisten

3 Actidione 4,2 % EC Sikloheksimin Pasta - sistemik Pengolesan bidang 0,3 - 0,5 % 1-2
- Protektif sadap dengan kuas
- Kuratif
- Non persisten

4 Difolatan 4F atau Kaptafol Cairan - sistemik Pengolesan bidang 2% 1-2


Difolatan 80 WP Tepung - Protektif sadap dengan kuas
- Kuratif 0,2 - 0,4 %
- Non persisten
C. PENYAKIT BATANG ATAU CABANG

a. Penyakit jamur Upas Corticium salmonicolor


Gejala Penyakit
Biasanya penyakit ditemukan pada percabangan atau pada bagian bawah
percabangan dan atau ranting. Serangan awal dari Corticium salmonicolor ditandai
dengan adanya benang-benang halus yang mirip dengan benang laba-laba pada bagian
cabang yang diserang. Pada tahap ini pengamat yang belum terlatih akan mengalami
kesulitan untuk menetapkan gejala penyakit tersebut. tahap selanjutnya, patogen
membentuk kumpulan-kumpulan hifa yang dilanjutkan dengan pembentukan kerak yang
berwarna merah jambu (salmon). Disamping ditandai oleh kerak tersebut, kadang-kadang
pada permukaan keluar lateks. Pada tahap tersebut kulit dan kayu yang ada di bawahnya
telah membusuk. Untuk mengimbangi adanya kerusakan tersebut, biasanya pada jaringan
yang masih sehat tumbuh tunas-tunas baru. Pembusukan kulit dan kayu yang meluas
sering mengakibatkan kematian sebagian dari pohon yang diserang. Pada pohon yang
terserang hebat dan tidak sempat diperlakukan dengan fungisida dapat mengakibatkan
kematian.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit


Penyakit jamur upas banyak dijumpai pada klon-klon yang bertajuk rindang dan
pada tanaman muda berumur 4-12 tahun yang ditanam pada areal yang selalu lembab. Di
daerah dekat persawahan atau rawa atau sungai merupakan daerah yang selalu lembab.
Penyakit jamur upas biasanya berjangkit pada musim hujan atau pada keadaan yang
sangat lembab atau berkabut. Disamping faktor-faktor tersebut kerentanan klon karet juga
sangat berpengaruh terhadap perkembangan penyakit. Klon-klon karet yang rentan
terhadap jamur upas antara lain GT 1, RRIM 600, RRIM 623, PR 255, PR 300, PR 226,
dan PR 228.

Arti Ekonomi
Serangan yang berat mengakibatkan tanaman mati sebagian atau seluruhnya.
Dengan demikian akan mempengaruhi populasi tanaman per hektar, sehingga hasil yang
diperoleh tidak optimal, kerugian secara tepat memang sulit untuk ditentukan, tetapi
penyakit ini tidak berarti tidak penting dan kadang-kadang sangat merugikan.

Pengendalian Penyakit
Cabang-cabang yang mati akibat gangguan jamur upas seyogyanya dipotong.
Untuk menghindarkan terhamburnya spora cendawan sewaktu cabang dipotong,
permukaan kayu/kulit yang berwarna salmon diulas terlebih dahulu dengan fungisida.
Cabang-cabang yang menderita gangguan jamur upas dan belum parah dapat
diselamatkan dengan mengulaskan fungisida pada permukaan kulit/kayu yang sakit dan
yang sehat disekitarnya. Fungisida yang efektif untuk memberantas jamur upas adalah
Calixin ready mixed. Untuk daerah-daerah yang rawan bagi penyakit jamur upas,
seyogyanya tidak menanam klon-klon yang rentan. Untuk menghindari berjangkitnya
penyakit jamur upas secara meluas, pengamatan secara dini terhadap penyakit ini perlu
dilakukan dengan menugaskan seorang pengamat khusus. Hal tersebut dikemukakan
mengingat dalam kondisi yang memungkinkan, perkembangan penyakit ini sangat cepat.

b. Penyakit Mati Pucuk Botrydiplodia theobromea


Gejala Penyakit
Penyakit B. theobromea mengakibatkan ranting, cabang atau batang menjadi
mengering dan gundul. Keadaan ini mudah dibedakan dengan kematian akibat penyakit
jamur upas. Jamur upas mengakibatkan kematian ranting atau cabang tetapi tidak
menyebabkan gundulnya ranting-ranting cabang tersebut.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit


B. theobromea merupakan patogen sekunder dan hanya menginfeksi tanaman
yang telah menderita gangguan penyakit gugur daun Colletotrichum. Dengan demikian
penyakit yang berjangkit pada tanaman yang keadaannya lemah. Umumnya penyakit
mati pucuk B. theobromea terjadi pada tanaman-tanaman yang belum menghasilkan,
menjelang akhir musim hujan.
Arti Ekonomi
Kasus mati pucuk B. theobromae jarang terjadi. Serangan yang berat
mengakibatkan tegakan karet mati, sehingga akan mengurangi jumlah tanaman per hektar
atau menambah biaya penyulaman. Pernah dilaporkan gangguan penyakit ini sampai 2 %.

Pengendalian Penyakit
Untuk menghindari terjangkitnya penyakit mati pucuk B. theobromae perlu
dilakukan penanggulangan penyakit gugur daun Colletotrichum secara tuntas. Ranting
atau cabang yang terserang B. theobromae disarankan untuk dipotong. Pemotongan
dilakukan pada bagian yang masih sehat, sekitar 20 cm di bawah bagian yang sakit.
Permukaan luka akibat pemotongan perlu dilumas dengan kolter bebas asam, TB 192
untuk mencegah infeksi cendawan lain.

D. PENYAKIT DAUN

a. Penyakit Gugur Daun Oidium (Oidium heveae)


Gejala Penyakit
Penyakit gugur daun Oidium juga dikenal sebagai penyakit embun tepung.
Oidium heveae dapat menyerang daun karet yang berumur 1-21 hari. Daun-daun yang
berumur 1-9 hari bila terserang O. heveae akan menjadi cacat yaitu mengeriput
permukaan daunnya, ujung daun mengering dan akhirnya gugur. Daun-daun yang
berumur 10-15 hari yang terserang O. heveae akan menjadi cacat, yaitu pada jaringan
daun tampak adanya bercak translucens dan daun tidak gugur. Cacat daun yang timbul
pada daun yang berumur lebih dari 15 hari bila terserang O. heveae tidak separah pada
daun-daun tersebut dimuka. Pada permukaan daun di bawah/atas tersebut tumbuh
konidiospora cendawan. Serangan yang berat pada daun-daun muda (berumur 1-9 hari)
menyebabkan tanaman menjadi gundul. Bunga dan bakal buah yang terserang oleh O.
heveae akan menjadi gugur.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit
Di Jawa dan Sumatera Selatan, penyakit gugur daun Oidium heveae pada bulan-
bulan Juni-Juli-Agustus bersamaan dengan waktu gugur daun alami dan tumbuhnya flush
baru pada beberapa klon karet. Klon-klon karet yang gugur daun alaminya lebih awal dari
waktu berjangkitnya penyakit gugur daun Oidium berarti klon tersebut dapat terhindar
dari gangguan penyakit tersebut (escape). Tetapi klon tersebut tidak berarti tahan
terhadap penyakit gugur daun Oidium. Tunas yang baru mekar, daun muda, bunga, dan
bakal buah merupakan organ tanaman yang rentan terhadap penyakit gugur daun Oidium.
Perkembangan penyakit ini sangat dibantu oleh sedikir hujan, tidak banyak sinar
matahari, dan suhu yang agak rendah. Cuaca kering tidak menghambat penyakit asal
tidak disertai oleh suhuh tinggi. Setelah hujan turun cukup banyak, biasanya penyakit
gugur daun Oidium mereda karena konidia di permukaan daun tercuci. Di kebun-kebun
yang letaknya lebih dari 300 meter dpl akan mengalami serangan O. heveae lebih berat
jika dibandingkan dengan kebun yang letaknya lebih rendah. Penyakit gugur daun
Oidium dapat terjangkit di peletakan biji, pembibitan, tanaman entres, tanaman yang
belum menghasilkan, tanaman yang telah menghasilkan, dan bahkan tanaman tua.

Arti Ekonomi
O. heveae menyebabkan gugur daun-daun muda. Serangan yang berat
mengakibatkan gugur daun berulang kali, tanaman menjadi gundul dan sebagai akibatnya
produksi lateks menurun. Akibat serangan O. heveae dapat menurunkan produksi sampai
30 %.

Pengendalian Penyakit
Dalam rangka pengendalian gugur daun Oidium pada tanaman karet sebaiknya
diusahakan melalui beberapa pendekatan, antara lain:
(1) Memelihara tanaman dengan baik. Tanaman akan memperlihatkan kondisi baik
apabila pemeliharaannya dilaksanakan dengan wajar. Tanaman dipupuk secara
teratur menurut dosis dan komposisi hara yang dtetapkan berdasarkan
perkembangan (Monitoring) hasil analisis tanah dan daun dari lokasi tanaman
yang bersangkutan selama kurun waktu tertentu. Daya pulih tajuk setelah gugur
daun alami pada pohon yang kondisinya baik akan lebih cepat daripada yang
kondisinya buruk. Pertumbuhan daun-daun muda yang cepat akan lebih kuat
menahan serangan penyakit daun karena pada waktu terjadi serangan daun yang
bersangkutan telah berada dalam stadium yang lewat kritis. Kalaupun daun
tersebut terserang, daun tidak akan gugur. Disamping pemupukan, pada tanaman
yang telah menghasilkan beban penyadapan juga perlu diperhatikan. Setiap klon
memiliki batas kemampuan tertentu terhadap sistem sadap. Kecuali itu umur dan
kondisi pohon pada waktu disadap juga menentukan batas kemampuan tersebut.
bahkan penyadapan yang melebihi kemampuan pohon akan mengakibatkan
buruknya kondisi pohon yang bersangkutan. Tanaman yang kondisinya buruk
juga mudah terserang O. heveae.
(2) Melindungi tanaman dengan fungisida dari serangan patogen. Fungisida yang
efektif untuk melindungi tanaman dari serangan O. heveae adalah belerang
Cirrus. Belerang cirrus yang dianjurkan adalah belerang cirrua yang memenuhi
persyaratan teknis sebagai berikut:
a. Serbuk halus, lebih dari 90 % lolos dari saringan 300 mesh
b. Kadar air kurang dari 3 %
c. Kandungan belerang lebih dari 90 %

Penanggulangan penyakit daun akan efektif apabila perlakuan fungisida telah


dimulai pada saat flush baru akan mekar. Penghembusan belerang cirrus untuk
menanggulangi O. heveae baik di pembibitan maupun di lapangan dapat diberikan
dengan dosis 5-7 kg/ha, interval 3-7 hari dan 6 kali aplikasi dan penghembusan dilakukan
pada jam 02.00-05.00. Di pembibitan, alat penghembus yang digunakan dapat berupa
hand duster dan di areal tanaman yang telah menghasilkan perlu digunakan alat
penghembus yang mempunyai kekuatan 6 tenaga kuda. Di daerah yang datar, selain
belerang, penyakit gugur daun Oidium dapat pula diberantas dengan fungisida
triadimefon 25 EC (Bayleton 25 EC) dalam suspensi minyak. Fungisida tersebut
diaplikasikan dengan cara pengkabutan dan alat yang digunakan adalah fullsfog K 20.
saat dimulai aplikasi dan waktu aplikasi sama dengan fungisida belerang. Dosis fungisida
yang diperlukan untuk setiap hektar adalah 0,25 liter fungisida + 1,75 liter shell Fogging
Oil. Interval aplikasi fungisida yang dianjurkan adalah 7 hari dan jumlah aplikasi 3 kali.
Untuk penanggulangan penyakit gugur daun di peletakan biji, pembibitan dan tanaman
entress; disamping belerang dapat pula digunakan fungisida Bayleton 25 EC (0,2 %)
dalam suspensi air yang disemprotkan dengan alat semprot punggung. Dosis yang
dianjurkan adalah 600 liter per hektar.

b. Penyakit Gugur Daun Colletotrichum (Colletotrichum gloesporioides)


Gejala Penyakit
Serangan C. gloesporioides pada daun muda menimbulkan bercak-bercak
berwarna coklat kehitaman pada bagian tengahnya yang berturut-turut diikuti oleh
mengeriputnya lembaran daun, timbulnya busuk kebasahan pada bagian yang terinfeksi
dengan akibat lebih jauh gugurnya daun. Pada daun tua (umur daun lebih dari 10 hari)
serangan C. gloesporioides menyebabkan bercak-bercak daun berwarna coklat dengan
warna kuning dan permukaan daun menjadi kasar. Serangan lebih lanjut menyebabkan
bercak-bercak tersebut menjadi berlubang. Apabila bercak tersebut berbatasan dengan
tepi daun maka serangan lebih lanjut menyebabkan daun menjadi sobek. Disamping
menyerang daun C. gloesporioides dapat pula menyerang ranting-ranting muda yang
masih berwarna hijau dengan menimbulkan gejala ranting menjadi busuk, kering, dan
akibatnya mati pucuk. Apabila serangan tersebut terjadi pada stump mata tidur, stump
mini atau stump tinggi, biasanya pada bagian bawah ranting yang busuk tersebut tumbuh
tunas-tunas liar, apabila tunas tersebut tidak dibuang dapat mengakibatkan bentuk
tegakan tanaman menjadi tidak beraturan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit


Kelembaban nisbi udara dan curah hujan yang tinggi serta hari hujan yang besar
membantu timbul dan berkembangnya penyakit gugur daun C. gloesporioides. Dengan
demikian penyakit tersebut timbul dan berkembang terutama pada musim hujan. Hal
tersebut berbeda dengan penyakit gugur daun Oidium yang berjangkit pada akhir musim
kemarau. Di pembibitan atau di tanaman entress, penyakit gugur daun Colletotrichum
dapat diketahui sepanjang tahun sebab di tempat-tempat tersebut keadaannya selalu
lembab.
Di lapangan, yaitu pada tanaman yang belum menghasilkan atau pada tanaman
yang telah menghasilkan, serangan C. gloesporioides terjadi pada musim hujan pada
tunas-tunas atau danun-daun muda yang baru tumbuh. Hal tersebut dapat terjadi apabila
penanggulangan penyakit gugur daun Oidium yang melanda sebelumnya kurang
sempurna. Apabila hal tersebut terjadi, maka tanaman akan gundul sepanjang tahun.
Kasus tersebut (epidemi gugur daun Coletotrichum) pernah terjadi pada tahun 1974/1975
dan 1989. epidemi penyakit timbul antara lain karena : (a) Terjadinya penyimpangan pola
iklim dari yang normal, yaitu kemarau panjang yang diikuti dengan musim hujan
sepanjang tahun, (b) tanaman karet yang lemah karena kurang perawatan, dan (c)
ditanamnya klon-klon yang rentan, yaitu LCB 479, PR 228, PR 225, PR 300, PR 303, PR
305, dan GT 1.

Arti Ekonomi
Bibit yang terserang berat Colletotrichum mengakibatkan pertumbuhan terhambat
dan sulit diokulasi karena kulit lengket dan di kebun entres mengakibatkan merosotnya
kualitas kayu entres. Pada tanaman yang belum menghasilkan, serangan C.
gloesporioides menyebabkan tanaman menjadi gundul, tumbuh terhambat, dan mati.
Sebagai akibatnya tumbuh tunas-tunas ketiak sehingga bentuk tegakan menjadi tidak
beraturan. Serangan C. gloesporioides pada tanaman yang telah menghasilkan
mengakibatkan tanaman menjadi gundul, mati pucuk dan menurunkan produksi lateks.
Kerugian produksi lateks akibat penyakit gugur daun Colletotrichum yang berat, sebesar
7-45 %, tergantung dari intensitas serangan patogen yang terjadi.

Pengendalian Penyakit
Sama halnya dengan pengendalian penyakit gugur daun Oidium, pengendalian
penyakit gugur daun Colletotrichum dapat diusahakan melalui pemeliharaan tanaman dan
penggunaan fungisida. Fungisida yang efektif untuk penyakit ini adal Mancozeb (Dithane
M-45 80 WP). Untuk melindungi tanaman di peletakan biji, pembibitan dan kebun entres
dari serangan C. gloesporioides dapat disemprotkan fungisida tersebut dengan
konsentrasi 0,25% formulasi dalam air, dosis 400-600 liter/ha dan interval 5-7 hari.
Pengendalian penyakit daun Colletotrichum pada tanaman yang belum menghasilkan (4-
5 tahun) dan tanaman yang telah menghasilkan dapat dilakukan dengan menghembusan
fungisida tersebut diatas dengan dosis 2 kg/ha dan interval 5-7 hari. Sebagai carrier
biasanya digunakan belerang sebanyak 3-5 kg/ha. Disamping dengan metode seperti
disebutkan dimuka, dapat pula digunakan metode fogging dengan formulasi khusus (tabel
3).
Awal aplikasi fungisida yang tepat adalah pada waktu tunas/daun muda baru
tumbuh. Disamping hal-hal tersebut diatas disarankan tidak menanam klon-klon yang
rentan terhadap C. gloesporioides pada daerah-daerah yang rawan penyakit tersebut. jika
penanggulangan penyakit Oidium di lapangan (tanaman menghasilkan) berhasil, seluruh
daun tumbuh baik dan berwarna hijau tua. Daun karet yang berwarna hijau tua kalaupun
akan terserang C. gloesporioides tidak akan gugur serta tidak akan menderita kerusakan
yang berarti. Dengan kata lain jika penanggulangan penyakit gugur daun Oidium di
lapangan berhasil, akan memberikan dampak yang positif yaitu penanggulangan penyakit
daun Colletotrichum dapat diabaikan. Prinsip tersebut tidak dapat diterapkan pada
tanaman di persemaian dan pembibitan, karena tanaman karet di tempat tersebut
pertumbuahan sangat aktif, selalu ada flush sehingga selalu dalam keadaan rawan
terhadap serangan patogen gugur daun.

c. Penyakit Gugur Daun Corynespora cassiicola)


Gejala Penyakit
Berbeda dengan kedua penyakit gugur daun yang telah diuraikan dimuka,
penyebab penyakit ini dapat menyerang daun muda maupun daun tua. Daun muda (flush)
yang helaian daunnya baru membuka, berwarna merah tembaga atau hijau muda, apabila
terserang Corynespora akan berubah menjadi kuning, menggulung dan layu. Daun-daun
akan terlepas dari tangkainya dan akibatnya tangkai itu sendiri gugur. Pada daun muda,
serangan Corynespora tidak menimbulkan bercak yang nyata, tetapi tampak kuning
merata di seluruh permukaan daun. Sedangkan pada daun tua, serangan Corynespora
ditandai dengan adanya bercak-bercak tidak beraturan berwarna coklat tua atau hitam,
tampak menyirip seperti tulang ikan. Bagian sekitar bercak akan berubah menjadi jingga
sampai ungu dan akhirnya daun gugur. Gambaran tersebut sebenarnya merupakan tulang-
tulang daun yang telah rusak. Serangan pada tangkai dan tulang daun utama berupa
bercak coklat kehitaman dan akhirnya mengakibatkan daun gugur. Ranting muda yang
terserang akan pecah, kering dan akhirnya mati.
Pada klon yang sangat rentan, serangan terjadi terus-menerus sehingga
mengakibatkan kematian tanaman, sedangkan pada klon yang resisten, serangan
Corynespora pada daun menimbulkan bercak kehitaman tetapi tidak berkembang.
Demikian juga warna daun di sekitar bercak tersebut tidak berubah dan daun tidak gugur.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit


Serangan Corynespora yang berat biasanya timbul dalam cuaca yang lembab atau
berawan dengan curah hujan yang relatif tidak terlalu tinggi dan merata sepanjang hari
serta suhu udara sekitar 26 – 29 0C. keadaan hujan merupakan faktor yang penting dalam
mempengaruhi timbulnya serangan patogen. Di daerah-daerah yang mempunyai curah
hujan yang merata sepanjang tahun atau di daerah dengan batas musim hujan dan musim
kemarau tidak begitu jelas, Corynespora menimbulkan kerusakan yang berat dan
tanaman akan meranggas terus-menerus.
Kebun-kebun yang terletak pada ketinggian kurang dari 300 m dpl, biasanya akan
menderita serangan Corynespora lebih berat daripada kebun-kebun yang terletak lebih
dari 300 m dpl. Kebun yang lahannya kurang subur atau tanaman tidak dipupuk
umumnya mudah terserang Corynespora.
Disamping berbagai faktor tersebut diatas, kerentanan klon sangat berpengaruh
terhadap timbul dan berkembangnya penyakit gugur daun Corynespora. Klon-klon yang
diketahui sangat rentan sampai moderat adalah RRIC 103, KRS 21, RRIM 725, PPN
2058, PPN 2444, RRIM 600, TM 5, PR 303 dan GT 1.

Arti Ekonomi
Serangan Corynespora cassiicola mengakibatkan daun gugur. Serangan yang
khusus pada klon yang rentan/sangat rentan mengakibatkan pengguguran daun terus-
menerus, sehingga tanaman gundul sepanjang tahun. Sebagai akibatnya, tanaman
terlambat matang sadap atau sama sekali gagal untuk matang sadap. Bibit, tanaman
entres, tanaman belum menghasilkan, pertumbuhannya terhambat apabila terserang
Corynespora. Pada tanaman yang telah menghasilkan serangan Corynespora dapat
menurunkan produksi seperti halnya penyakit gugur daun lainnya yaitu sekitar 30 %.

Pengendalian Penyakit
Untuk menangguangi penyakit ini dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
(1) Menanam klon yang resisten dengan anjuran Pusat Penelitian Karet. Klon yang
diketahui resisten antara lain PR 228, PR 225, PR 300, AVROS 2037, BPM 1,
BPM 24, dan RRIC 100.
(2) Memelihara tanaman seoptimal mungkin agar tanaman tetap tumbuh normal,
perlakuan kultur teknis yang meliputi perbaikan sistem drainase, pemupukan,
intensitas cahaya dan sistem penyadapan akan sangat mempengaruhi terhadap
serangan Corynespora. Tanaman yang kurang perawatannya akan mudah
terserang Corynespora.
(3) Pemberantasan dengan fungisida. Pemberantasan dengan fungisida pada kebun
yang mengalami serangan dapat dianjurkan apabila masih memberikanhasil yang
menguntungkan. Fungisida yang dianjurkan adalah Dithane M-45, Bavistin dan
Benlate 50 WP.

d. Penyakit Gugur Daun helminthosporium (Dreschera heveae)


Gejala Penyakit
Penyakit bercak daun Helminthosporium dikenal pula sebagai penyakit bercak
daun mata burung. Penyakit tersebut merupakan penyakit persemaian atau penyakit
pembibitan. Jarang sekali penyakit tersebut ditemukan pada tanaman yang belum
menghasilkan atau tanaman yang telah menghasilkan. Pada daun muda, penyakit
menyebabkan mengeriputnya lembaran daun dan disertai timbulnya bercak-bercak
berwarna coklat dengan bentuk tidak beraturan. Pada serangan yang lebih lanjut, pusat
bercak berwarna putih dan kadang-kadang pada bagian tersebut terdapat bintik-bintik
yang berwarna hitam yang berarti cendawan patogen. Pada tahap yang lebih lanjut, daun
akan berlubang-lubang. Permukaan daun tidak kasar seperti gejala penyakit
Colletotrichum. Daun-daun yang terserang berat akan gugur. Pada umumnya penyakit ini
tidak mematikan tanaman.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit
Penyakit bercak daun Helminthosporium berjangkit pada keadaan suhu yang
relatif tinggi (25-29 oC) dan hujan gerimis. Penyakit bercak daun Helminthosporium
umumnya merupakan komplikasi penyakit persemaian lainnya yaitu penyakit-penyakit
gugur daun Colletotrichum.

Arti Ekonomi
Serangan D. heveae yang berat mengakibatkan gugur daun dan sebagai akibatnya
tanaman tumbuh terhambat. Keadaan tersebut dapat menggagalkan okulasi mata tidur
dan persentase kegagalan dapat mencapai 20-25 %.

Pengendalian Penyakit
Penyakit bercak daun mata burung dapat diatasi dengan menyemprotkan
fungisida mankozeb (Dithane M -45) 0,2 % formulasi dalam air atau fungisida tembaga
(KOC) 0,5 persen formulasi dalam air dengan dosis 400-600 liter/ha dan interval 7 hari.
Daun-daun yang perlu dilindungi dari serangan D. heveae adalah daun-daun yang masih
muda (berwarna ungu – hijau muda).

e. Penyakit Rapuh Daun Microcylus 1


Gejala Penyakit
Pada daun muda, penyakit menyebabkan timbulnya bercak-bercak hijau pirang
kehitaman pada permukaan bawah daun. Bercak membentuk konidia sangat banyak
sehingga memberikan berkas warna hitam pada jari yang menyinggungnya. Daun muda
yang terserang berat akan gugur. Daun yang terserang ringan dapat berkembang terus.
Bercak yang semula berwarna hijau pirang kehitaman akhirnya berlubang dengan tepi
berbintik-bintik hitam akan tampak jelas pada permukaan daun bagian atas. Bintik-bintik
tersebut adalah piknidia dan peritesia cendawan dan di dalamnya berturut-turut terbentuk
piknospora dan askospora. Piknidia dan Peritesia tersebut keadaannya keras sehingga
daun terasa kasar bila diraba. Gejala tersebut merupakan tanda yang khas pada penyakit

1
Penyakit ini belum ditemukan di negara-negara penghasil karet alam kecuali di Amerika Selatan
rapuh daun. Penyakit dapat pula berjangkit pada ranting-ranting muda dan buah-buah
muda. Tidak seperti penyakit gugur daun Oidium yang hanya berjangkit selama beberapa
minggu (bulan), penyakit rapuh daun ini dapat dikatakan berkembang sepanjang tahun,
dengan demikian daun-daun muda selalu gugur sehingga tanaman menjadi merana.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit


Konidia M. ulei dapat bertahan lebih baik pada keadaan kering, tetapi
memerlukan kelembaban yang tinggi bagi pembentukan perkecambahannya. Serangan M.
ulei yang berat terjadi apabila terdapat 12 hari atau lebih dalam sebulan dengan
kelembaban relatif lebih dari 95 % sekurang-kurangnya selama 10 jam berturut-turut.
Hujan gerimis yang terputus-putus sangat membantu berkembangnya penyakit daripada
hujan lebat yang terus-menerus. Kelembaban yang tinggi disertai hujan gerimis yang
terputus-putus akan membantu perkembangan dan penyebaran penyakit. Angin
mempunyai peranan yang penting dalam penyebaran penyakit. Penyakit rapuh daun akan
berjangkit apabila temperatur harian kurang dari 22 0C selama lebih dari 13 jam,
kelembaban relatif lebih dari 92 % selama lebih dari 10 jam, dan curah hujan lebih dari 1
mm per hari selama 7 hari sebelumnya.

Arti Ekonomi
Penyakit ini diketahui sangat menghambat perkembangan usaha perkaretan di
negara-negara Amerika Selatan terutama Brasilia. Akibat adanya penyakit ini, matang
sadap karet baru dicapai setelah umur 7-9 tahun, produksi per ha per tahun sangat
bervariasi dan sangat rendah yaitu sekitar 200-400 kg/ha/tahun.

Pengendalian Penyakit
Di Brasilia, berbagai usaha telah dilakukan untuk menanggulangi penyakit
tersebut, namun sampai saat ini penyakit tersebut masih tetap menjadi masalah yang
serius dan bahkan sangat ditakuti oleh negara penghasil karet alam di luar Amerika
Selatan termasuk Asia Tenggara. Usaha-usaha tersebut berupa seleksi klon yang resisten,
okulasi tajuk yang resisten, pengaturan jarak tanam, penggunaan fungisida, pengguguran
daun buatan, dan karantina. Di Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya yang
penting adalah mengusahakan agar penyakit tersebut tidak masuk ke Indonesia/Asia
Tenggara atau negara penghasil karet lainnya. Usaha tersebut dapat dilakukan dengan
cara karantina yang ketat, pengenalan gejala penyakit melalui siaran-siaran kilat,
monitoring, melaporkan kepada instansi yang berwenang, mencari klon-klon yang tahan,
dan eradikasi total apabila terdapat gejala penyakit yang dicurigai karena serangan M.
ulei.
Tabel: Beberapa fungisida untuk pengendalian Penyakit Gugur Daun, sifat dan cara
aplikasinya

No Nama dagang B.A formulasi sifat Cara aplikasi Dosis/phn Interval


/aplikasi (bulan)

Oidium di Pembibitan, Kebun Entres dan Lapangan

1 Belerang sulfur Tepung - Non sistemik dusting 6-7 kg/ha 3– 7


- Protektif
- Persisten

2 Bayleton 250 EC Triadimefon Cairan - sistemik Fogging * 0,25 % l/ha 7-10


- Protektif
- Kuratif
- Non persisten

Colletotrichum di Pembibitan, Kebun Entres dan Lapangan

1 Dithane M-45 – 80 Mancozeb Tepung - Non sistemik Semprot 0,25 7- 10


WP - Protektif
- Kuratif
- Non persisten

2 Daconil 75 WP Klororalonil Tepung - sistemik Semprot atau 0,2 % 7 – 10


- Protektif fogging
- Non persisten 0,75 kg/ha

3 Delsene 250 EC Mancozeb Tepung - Semi sistemik Semprot atau 0,1 % 7- 10


karbendazim - Protektif fogging 0,75 kg/ha
- Non persisten

Corynespora di Pembibitan, Kebun Entres dan Lapangan

1 Dithane M-45 – 80 Mancozeb Tepung - Non sistemik Semprot 0,2 % 7- 10


WP - Protektif
- Kuratif
- Non persisten

2 Bavistin 50 WP atau Karbendazim Tepung - sistemik Semprot 0,2 % 7 – 10


Benlate atau Benomil - Protektif
- Non persisten
* Ditambah Shell Fogging Oil sebanyak 1,75 l/ha
** Ditambah 180 ml emulgator 4,020 ml fogging oil atau minyak diesel dan 1800 ml
air/ha

LAIN-LAIN
Mengingat masalah penyakit tanaman karet merupakan masalah yang penting,
seyogyanya untuk menangani masalah tersebut perlu adanya kelompok petugas khusus.
Kelompok petugas khusus yang dimaksud meliputi:
(1) Petugas pengamatan bertugas mengamati timbul dan berkembangnya penyakit di
kebun
(2) Petugas pelaksana perlakuan, bertugas melakukan aplikasi fungisida dan
perlakuan lainnya yang dianggap perlu
(3) Petugas evaluasi, bertugas mengevaluasi hasil pelaksanaan butir (2)
(4) Petugas pelayanan, bertugas melayani sarana yang diperlukan oleh petugas butir
(1), (2) dan (3)

DAFTAR PUSTAKA

1. Basuki, 1981. Penyakit Rapuh Daun Karet. Kongres Nasional Perhimpunan


Fitopatologi Indonesia VI, Bukit Tinggi, Sumatera Barat, 11-13 Mei 1981.
2. Pawirosoemardjo, S; S. Hadi; D.M. Tantera; dan S, Wardojo. 1982. Kepekaan
Klon Karet terhadap Colletotrichum gloesporioides Penz. dalam Kondisi
Rumah Kaca dan di Kebun Percobaan Ciomas. Menara Perkebunan 50: 81-37.
3. Pawirosoemardjo, S. 1982. Penyakit Penting Tanaman Karet di PTP X dan
Cara Pengendaliannya. Laporan Intern BPP Bogor. Tidak Diterbitkan
4. Pawirosoemardjo, S; S.D. Djudawi. 1991. Pedoman Pengenalan Pengamatan
dan Pengendalian Beberapa Penyakit Penting pada Tanaman Karet.
Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Perkebunan. Direktorat Jenderal
Perkebunan. Departemen Pertanian.
5. Situmorang, A. 1985. Epidemi dan Penanggulangan Penyakit Gugur Daun
Corynespora pada Tanaman Karet. Diskusi Sehari tentang Penanggulangan
Penyakit Gugur Daun pada Karet Corynespora cassiicola. BPP Bogor, 13
Agustus 1985.
6. Soehardjan, M.G. Varghese & S.D. Djudawi. 1990. Gugur Daun
Colletotrichum pada Tanaman Karet. Seminar Nasional dan Diskusi Panel
Perlindungan Tumbuhan Wilayah Barat. Medan, 18-20 Oktober 1990.
7. Soepadmo, B. 1975. Colletotrichum gloesporioides Sebagai Penyebab Penyakit
Gugur Daun Karet. Menara Perkebunan. 43: 299-302
8. Soepadmo, B. 1980. Suatu Pemikiran Tentang Pengendalian Penyakit Daun
pada Tanaman Karet. Menara Perkebunan. 48: 147-154.
9. Soepadmo, B. 1984. Penyakit Pada Tanaman Karet. Balai Penelitian
Perkebunan Bogor. Naskah I, 1984. Belum Diterbitkan.
10. Soepena, H. 1993. Pemberantasan Jamur Akar Putih dengan Trichoderma.
Warta Perkebunan 12 (1): 17-22.
11. Soepena, H. 1983. Gugur Daun Corynespora pada Tanaman Karet di
Sumatera Utara. Kongres Nasional Perhimpunan Fitopatologi Indonesia ke-7,
Medan, 21-23 September 1993.
12. Soemangun, H. 1971. Penyakit-Penyakit Tanaman Pertanian di Indonesia.
Yayasan Pembinaan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
13. Soemangun, H. 1984. Penyakit Hawar Daun Amerika Selatan (Microcylus
ulei) pada Karet di Brazilia. Lembaga Pendidikan Perkebunan. Yogyakarta.
14. Varghese, G & M. Soehardjan, 1990. Report on Visit to PTP IV Rubber
Planting, Rubber Disease Problems in Riau Province. National Estate Crop
Protection Project ADB Loan 682-INO. Directorate of Estate Crop
Protection. Directorate General of Estate Crops, Jakarta.

Sumber tulisan:
Pengenalan Penyakit Penting dan Cara Pengendaliannya Tanaman Karet. Oleh Sujatno,
Suwarto, Soleh Suryaman, Soekirman Pawirosoemardjo. Balai Penelitian Sungei Putih.
Pusat Penelitian Karet. 2004. 17 halaman (Disampaikan pada Pelatihan Pengenalan dan
Pengendalian Penyakit-Penyakit Penting Tanaman Karet, Sungei Putih, 9-11 Juli 2004).

[selesai]