Anda di halaman 1dari 2

Business Ethics – H17 MM UI

Immanuel Desmon Purba (1706088706)


Audy
Luki

KASUS WASKITA DAN KELEMAHAN IMPLEMENTASI GCG INDONESIA

Good Corporate Governance (GCG)

Menurut Syakhroza1 Corporate Governance didefinisikan sebagai suatu sistem yang dipakai untuk
mengarahkan dan mengendalikan serta mengawasi (directing, controlling, and supervising)
pengelolaan sumber daya organisasi secara efisien, efektif, ekonomis, dan produktif (E3P) dengan
prinsip-prinsip transparant, accountable, responsible, independent, dan fairness (TARIF) dalam rangka
mencapai tujuan organisasi. Dengan penerapan GCG, management diharapkan bisa memaksimalkan
value perusahaan, memastikan pengelolaan perusahaan dilakukan secara profesional dan transparan,
mewujudkan kemandirian dalam membuat keputusan sesuai dengan peran & tanggung jawab masing-
masing pimpinan dalam perusahaan dan memastikan setiap pegawai dalam perusahaan berperan
sesuai wewenang dan tanggung jawab yang telah ditetapkan.

Dalam penerapannya, GCG mempunyai prinsip-prinsip2 yang meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Transparansi (transparency), yakni keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan


keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materil dan relevan mengenai
perusahaan.
2. Akuntabilitas (accountability), yakni adanya kejelasan fungsi, pelaksanaan dan
pertanggungjawaban dari setiap individu perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan
dapat terlaksana secara efektif.
3. Pertanggungjawaban (responsibility), yakni kesesuaian dalam pengelolaan perusahaan
terhadap ketentuan yang berlaku.
4. Kemandirian (independency), yakni pengelolaan perusahaan dilakukan secara profesional
tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
5. Kewajaran (fairness), yakni keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stakeholder
yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Problem Identification (GCG di PT. Waskita Karya Tbk)

Dalam kasus Waskita, ditemukan adanya pencatatan keuangan yang tidak sesuai, di mana
ditemukannya kelebihan pencatatan Rp 400 miliar. Hal ini diduga berasal dari rekayasa keuangan yang
dilakukan direksi sebelumnya dalam periode 2004 – 2008. Beberapa masalah penerapan GCG yang
ditemukan di kasus ini adalah sebagai berikut :

1. Adanya penutupan jejak dari kasus rekayasa pencatatan keuangan. Meskipun assessment
mengenai implementasi GCG sudah dilakukan beberapa kali terhadap Waskita, namun kasus
ini tetap tidak terlacak.
2. Lemahnya fungsi kontrol di dalam internal perusahaan. Hal ini dibuktikan dengan tertutupnya
jejak penyelewangan terhadap pencatatan keuangan. Potensi adanya kerjasama antara
auditor eksternal dengan manajemen perusahaan juga sangat kuat untuk menutupi kasus ini.
3. Penerapan GCG belum menjadi budaya dalam perusahaan. Salah satu buktinya adalah
kebijakan whistleblower yang belum diterapkan di Waskita. Hal ini membuka peluang
terjadinya fraud dalam internal perusahaan.

1
Syakhroza, Akhmad. 2002. Best Practice Good Corporate Governance dalam Konteks Kondisi Lokal
Perbankan Indonesia. Manajemen Usahawan Indonesia., No.06/TH.XXXII, Juni.
2
Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)
Business Ethics – H17 MM UI
Immanuel Desmon Purba (1706088706)
Audy
Luki

Problem Analysis

Berdasarkan kasus di Waskita, bisa dilihat bahwa penerapan GCG tidak diimplementasikan secara
baik. Hal ini terbukti dengan tidak diterapkannya prinsip-prinsip GCG dalam perusahaan khususnya
Transparancy, Responsibility dan Independency.

1. Prinsip Transparancy tidak dilaksanakan secara baik dalam internal perusahaan. Hal ini
dibuktikan dengan tidak terdeteksinya kasus rekayasa keuangan dalam periode 2004-2008.
Manajemen dalam hal ini menutupi kasus penyelewangan pencatatan untuk kepentingan
personal. Tidak adanya kebijakan whistleblower juga membuat keraguan dari setiap individu
di dalam perusahaan untuk bisa membuka kasus ini ke luar, khususnya dalam ranah legal.
2. Prinsip Responsibility tidak dilaksanakan dalam internal Waskita terbukti dengan hasil
assessment GCG dari pihak konsultan yang tidak diimplementasikan oleh manajemen
Waskita. Hal ini membuktikan bahwa implementasi GCG di Waskita hanyalan formalitas
belaka dan tidak menjadi sebuah budaya yang menyeluruh sampai akar perusahaan.
3. Prinsip Independency tidak dilaksanakan dengan baik terbukti dengan adanya potensi
kerjasama antara manajemen Waskita dengan auditor eksternal untuk menutupi jejak kasus
ini. Hal ini membuktikan bahwa fungsi kontrol internal juga tidak berjalan dengan baik untuk
mendukung kemandirian secara profesional tanpa benturan kepentingan dan
pengaruh/tekanan dari pihak manapun.

Solution & Conclusion

Dari berbagai permasalahan yang sudah disebutkan di atas, beberapa solusi yang dilakukan oleh
pemerintah melalui Kementrian BUMN selaku shareholder adalah melakukan pembersihan terhadap
direksi dan individu yang ikut terlibat dalam kasus ini.

Selain itu, yang seharusnya dilakukan Kementrian BUMN juga adalah memperkuat sistem pengawasan
dan pengendalian di setiap perusahaan BUMN. Secara berkala, auditor yang independent harus
mengidentifikasi resiko-resiko yang ada di dalam perusahan dan menjaga integritas sebagai internal
control Kementrian BUMN dalam perusahaan. Selain itu proses evaluasi terhadap kebijakan
perusahaan juga harus dilakukan secara berkala, hal ini bertujuan untuk menghindari adanya potensi
fraud dan penyelewangan terhadap sumber daya perusahaan.

Masalah utama lainnya adalah penerapan GCG di perusahaan yang kurang menyeluruh dan tidak
menjadi budaya yang menguat hingga di akar perusahaan. Pengawasan & pengendalian penerapan
GCG harus diimplementasikan dalam internal perusahaan. Salah satu yang bisa diterapkan adalah
dibentuknya tim Komite Penerapan GCG yang independent. Tugas Komite ini adalah mengawasi dan
memastikan jalannya proses tindakan administrasi maupun tindakan hukum lainnya yang harus
dilaksanakan Perusahaan telah sejalan dengan peraturan perusahaan maupun ketentuan peraturan
perundangan yang berlaku. Seluruh manajemen dan pegawai perusahaan diwajibkan untuk
melaksanakan pedoman dan ketentuan yang telah disusun dalam rangka pelaksanaan GCG sejalan
dengan peran dan tanggung jawabnya.

GCG harusnya bukan lagi hanya menjadi sebuah sistem dan struktur saja dalam perusahaan, GCG
haruslah menjadi sebuah nilai dan budaya yang menyeluruh di perusahaan. Hal ini dimulai dari
kepemimpinan yang kompeten dan memiliki integritas tinggi. Lalu melalui manajemen, prinsip-prinsip
GCG (TARIF) bisa diimplementasikan secara menyeluruh kepada seluruh individu perusahaan dan
harus selalu dievaluasi supaya integritas dan jalannya proses GCG bisa diterapkan dengan baik.