Anda di halaman 1dari 2

Business Ethics – H17 MM UI

Immanuel Desmon 1706088706


Inessa Jasmine Imansari 1706997432
Imanuel Arifin Supriatna 1706997426

Pelanggaran Penerapan Good Corporate Governance


(Studi Kasus: PT Bank Lippo Tbk.)

Background

Berkaitan dengan laporan keuangan PT Bank Lippo Tbk. per 30 September 2002, BAPEPAM
menemukan bahwa terdapat 3 (tiga) versi laporan keuangan, yang semuanya dinyatakan audited oleh
management PT. Bank Lippo Tbk.1 , yaitu:

- Laporan Keuangan PT Bank Lippo Tbk. per 30 September 2002 yang diiklankan di Surat Kabar
Harian Investor Indonesia pada tanggal 28 November 2002. Di mana adanya pernyataan
Manajemen PT Bank Lippo Tbk. bahwa laporan keuangan tersebut disusun berdasarkan Laporan
Keuangan Konsolidasi yang telah diaudit oleh KAP Prasetio, Sarwoko & Sandjaja (penanggung
jawab Drs. Ruchjat Kosasih) dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.
- Laporan keuangan PT Bank Lippo Tbk. per 30 September 2002 yang disampaikan ke BEJ pada
tanggal 27 Desember 2002. Di mana pernyataan manajemen PT Bank Lippo Tbk. bahwa laporan
keuangan yang disampaikan adalah laporan keuangan audited yang tidak disertai dengan Laporan
Auditor Independen yang berisi opini Akuntan Publik.
- Laporan keuangan PT Bank Lippo Tbk. per 30 September 2002 yang disampaikan oleh Akuntan
Publik KAP Prasetio, Sarwoko & Sandjaja kepada Manajemen PT Bank Lippo Tbk. pada tanggal 6
Januari 2003. Laporan Auditor Independen yang berisi opini Akuntan Publik Drs. Ruchjat Kosasih
dari KAP Prasetio, Sarwoko & Sandjaja dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian. Laporan
auditor independen tersebut tertanggal 20 November 2002, kecuali untuk catatan 40a tertanggal
22 November 2002 dan catatan 40c tertanggal 16 Desember 2002.

Problem Identification

Berdasarkan ketiga laporan keuangan tersebut, hanya terdapat satu laporan keuangan saja yang telah
diaudit dengan Opini Wajar Tanpa Pengecualian. Di mana laporan tersebut merupakan laporan
auditor dari Akuntan Publik Drs. Ruchjat Kosasih dari pihak auditor Ernst & Young and Partner
(Presetio, Sarwoko & Sandjaja). Sedangkan dua laporan lainnya yaitu laporan keuangan yang
diiklankan di Surat Kabar Harian Investor Indonesia dan laporan yang disampaikan kepada BEJ
merupakan laporan keuangan yang belum diaudit.

Dalam hal ini pihak manajemen PT Bank Lippo Tbk. berkata lain dengan mengeluarkan pernyataan
bahwa laporan keuangan PT Bank Lippo Tbk. yang diiklankan di surat kabar Harian Investor Indonesia
disusun berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasi yang telah diaudit oleh KAP dengan pendapat
wajar tanpa pengecualian. Pada pernyataan laporan keuangan yang diserahkan kepada BEJ, pihak
manajemen menyatakan bahwa laporan keuangan yang disampaikan adalah laporan keuangan
“audited” yang tidak disertai dengan Laporan Auditor Independen yang berisi opini Akuntan Publik.

Pernyataan manajemen PT. Bank Lippo Tbk. yang telah lalai karena mencantumkan kata “audited” di
dalam laporan keuangan yang sebenarnya belum diaudit melanggar prinsip Good Governance
Corporate khususnya prinsip Transparancy (Transparansi) & Accountability (Akuntabilitas).

1
Badan Pengawas Pasar Modal, 2003, Siaran Pers Hasil Pemeriksaan Kasus Laporan Keuangan
Business Ethics – H17 MM UI
Immanuel Desmon 1706088706
Inessa Jasmine Imansari 1706997432
Imanuel Arifin Supriatna 1706997426

Problem Analysis

Pada kasus PT Bank Lippo Tbk diatas, dapat dianalisa mengenai prinsip-prinsip Good Corporate
Governence yang dilanggar sebagai berikut:

1. Transparansi

Prinsip transparansi yaitu menjaga objektivitas suatu organisasi atau perusahaan dalam
menjalankan suatu bisnis dengan memberikan informasi-informasi yang jelas dan akurat.
Informasi tersebut juga harus mudah diakses dan dipahami serta dapat dipertanggung jawabkan
oleh semua pihak-pihak yang berkepentingan dalam perusahaan tersebut. Pada kasus PT Bank
Lippo Tbk, Pelanggaran terhadap Prinsip Transparansi ditunjukkan dengan pernyataan
Manajemen PT Bank Lippo Tbk. yang mencantumkan pernyataan “audited” di dalam laporan
keuangan yang sebenarnya belum diaudit. Dalam hal ini, PT Bank Lippo Tbk. telah melanggar hak
dasar pemegang saham, yaitu hak untuk menerima informasi jelas dan akurat. Dari prinsip
transparansi tersebut dapat dilihat bahwa kewajiban untuk menginformasikan laporan keuangan
hendaknya dilakukan secara tepat dan dilakukan secara profesional dengan menunjuk auditor
yang independent & professional.

2. Akuntabilitas

Prinsip ini menjelaskan bahwa kinerja perusahaan haruslah dapat dikelola dengan tepat dan
terukur untuk melihat seberapa jauh kesinambungan proses bisnis dimulai dari perencanaan
sampai evaluasi yang dilakukan harus sesuai tujuan perusahaan itu sendiri. Pada kasus PT Bank
Lippo Tbk, pelanggaran terhadap Prinsip Akuntabilitas dapat dilihat dari ketidakadaan fungsi
pengawasan terhadap Manajemen PT Bank Lippo Tbk. dan tidak adanya checks and
balances yang baik antara BoC, BoD dengan operational unit PT Bank Lippo Tbk. yang
menyampaikan kedua laporan keuangan yang belum diaudit.

Oleh kelalaian ini, hukuman dengan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 104 Undang-Undang No. 8
Tahun 1995 tentang Pasar Modal Bank Lippo seharusnya diancam dengan pidana penjara paling lama
10 tahun dan denda paling banyak lima belas miliar rupiah. Namun pada kasus ini PT Bank Lippo Tbk
hanya diharuskan menyetor uang ke kas negara sejumlah dua miliar lima ratus juta rupiah dan
terhadap Akuntan Publik untuk menyetor uang ke kas negara sebesar tiga miliar lima ratus juta rupiah.
Dalam hal ini, hukuman atas pelanggaran prinsip GCG masih sekedar sangsi administrasi saja.
Penerapan sangsi pidana belum dilaksanakan sepenuhnya atas kasus ini.

Summary & Conclusion

Dalam kasus ini, sebelum laporan keuangan PT Bank Lippo Tbk. disampaikan kepada publik, laporan
tersebut hendaknya sudah diteliti dengan baik oleh manajemen PT Bank Lippo Tbk.

Perlu adanya evaluasi lebih lanjut akan fungsi komite audit dalam proses pelaporan keuangan
perusahaan. Tanggung jawab komite audit di bidang laporan keuangan adalah untuk memastikan
bahwa laporan yang dibuat manajemen telah memberikan gambaran yang sebenarnya tentang
kondisi keuangan, hasil usaha, rencana dan komitmen perusahaan jangka panjang. Mekanisme check
and balance harus terwujud dalam perusahaan untuk mengatasi masalah yang sama di masa depan