Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tubuh memerlukan energi untuk fungsi-fungsi organ tubuh,
pergerakan tubuh, mempertahankan suhu, fungsi enzim, pertumbuhan dan
pergantian sel yang rusak. Metabolisme merupakan semua proses biokimia
pada sel tubuh. Proses metabolisme dapat berupa anabolisme (membangun)
dan katabolisme (pemecah).
Masalah nutrisi erat kaitannya dengan intake makanan dan
metabolisme tubuh serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Secara umum
faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi adalah faktor fisiologis untuk
kebutuhan metabolisme basal, faktor patologis seperti adanya penyakit
tertentu yang menganggu pencernaan atau meningkatkan kebutuhan nutrisi,
faktor sosio-ekonomi seperti adanya kemampuan individu dalam memenuhi
kebutuhan nutrisi.
Nutrisi sangat penting bagi manusia karena nutrisi merupakan
kebutuhan utama bagi semua makhluk hidup, mengonsumsi nutrien (zat gizi)
yang buruk bagi tubuh tiga kali sehari selama puluhan tahun akan menjadi
racun yang menyebabkan penyakit pada kemudian harinya.
Dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi ada sistem yang berperan di
dalamnya, yaitu sistem pencernaan yang terdiri atas saluran pencernaan dan
organ asesoris. Saluran pencernaan dimulai dari mulut sampai usus halus
bagian distal sedangkan organ asesoris terdiri dari hati, kantong empedu, dan
pankreas.
Nutrisi sangat bermanfaat bagi tubuh. Apabila tubuh tidak
mengonsumsi nutrisi maka tidak ada gizi dalam tubuh sehingga dapat
menyebabkan penyakit atau gizi buruk.

1
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kebutuhan Dasar Manusia
(KDM).
2. Tujuan Khusus
 Untuk mengetahui definisi nutrisi
 Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi pencernaan
 Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemenuhan
nutrisi
 Untuk mengetahui masalah yang timbul dalam pemenuhan
kebutuhan nutrisi dan asuhan keperawatannya

C. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pengertian nutrisi?
2. Bagaimana anatomi dan fisiologi pencernaan?
3. Apa saja faktor yang mempengaruhi pemenuhan nutrisi?
4. Masalah apa saja yang dapat timbul dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi
dan bagaimana asuhan keperawatannya?

D. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah
sebagai berikut :
Bab I. Pendahuluan, berisi pendahuluan yang menjelaskan latar
belakang masalah, tujuan, , rumusan masalah, sistematika penulisan, dan
metode penulisan.
Bab II. Pembahasan, berisi pembahasan yang menjelaskan tentang
teori yang berkaitan dengan kebutuhan nutrisi.
Bab III. Studi Kasus, berisi hasil studi kasus terhadap asuhan
keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada pasien chronic kidney
disease (ckd) yang ditemui di bangsal Merak RSPAU Hardjolukito.

2
E. Metode Penulisan
Dalam penulisan laporan ini menggunakan metode studi kepustakaan
dari berbagai macam referensi buku yang berhubungan dengan materi
pemenuhan kebutuhan nutrisi serta wawancara langsung terhadap narasumber
dan keluarga.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Nutrisi
Nutrisi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan
fungsinya, yaitu energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur
proses-proses kehidupan (Soenarjo, 2000).
Menurut Rock CL (2004), nutrisi adalah proses di mana tubuh manusia
menggunakan makanan untuk membentuk energi, mempertahankan kesehatan,
pertumbuhan dan untuk berlangsungnya fungsi normal setiap organ, baik
antara asupan nutrisi dengan kebutuhan nutrisi.
Sedangkan menurut Supariasa (2001), nutrisi adalah suatu proses
organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui
proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan
pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan,
pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
Nutrien adalah zat kimia organik dan anorganik yang ditemukan dalam
makanan dan diperoleh untuk penggunaan fungsi tubuh. Nutrien terdiri dari
komponen, di antaranya adalah:
1. Karbohidrat
Karbohidrat adalah komposisi yang terdiri dari elemen karbon, hidrogen
dan oksigen. Karbohidrat dibagi atas :
 Karbohidrat sederhana (gula) ; bisa berupa monosakarida (molekul
tunggal yang terdiri dari glukosa, fruktosa, dan galaktosa). Juga bisa
berupa disakarida (molekul ganda), contoh sukrosa (glukosa+
fruktosa), maltosa (glukosa + glukosa), dan laktosa (glukosa +
galaktosa).
 Karbohidrat kompleks (amilum) adalah polisakarida karena disusun
banyak molekul glukosa.

4
 Serat adalah jenis karbohidrat yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan,
tidak dapat dicerna oleh tubuh dengan sedikit atau tidak menghasilkan
kalori tetapi dapat meningkatkan volume feses.
Karbohidrat memiliki berbagai fungsi dalam tubuh makhluk hidup,
terutama sebagai bahan bakar (misalnya glukosa), cadangan makanan
(misalnya pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan), dan materi
pembangun (misalnya selulosa pada tumbuhan, kitin pada hewan dan jamur).
Kebutuhan karbohidrat 60-75% dari kebutuhan energi total.
2. Protein
Protein sangat penting untuk pembentukan dan pemeliharaan jaringan
tubuh. Beberapa sumber protein berkualitas tinggi adalah ayam, ikan, daging,
babi, domba, kalkun, dan hati. Beberapa sumber protein nabati adalah
kelompok kacang polong (misalnya buncis, kapri, dan kedelai), kacang-
kacangan, dan biji-bijian.
Protein merupakan konstituen penting pada semua sel. Jenis nutrien ini
berupa struktur nutrien kompleks yang terdiri dari asam-asam amino. Protein
akan dihidrolisis oleh enzim-enzim proteolitik untuk melepaskan asam-asam
amino yang kemudian akan diserap oleh usus. Fungsi protein, antara lain :
 Protein menggantikan protein yang hilang selama proses metabolisme
yang normal dan proses pengausan yang normal
 Protein menghasilkan jaringan baru
 Protein diperlukan dalam pembuatan protein-protein yang baru dengan
fungsi khusus dalam tubuh yaitu enzim, hormon dan haemoglobin
 Protein sebagai sumber energi.
Kebutuhan protein 10-15% atau 0,8-1,0 g/kg BB dari kebutuhan
energi total.
3. Lemak
Lemak merupakan sumber energi yang dipadatkan. Lemak dan minyak
terdiri atas gabungan gliserol dengan asam-asam lemak. Kebutuhan
lemak adalah 10-25% dari kebutuhan energi total. Fungsi lemak, antara lain :

5
 Sebagai sumber energi ; merupakan sumber energi yang dipadatkan
dengan memberikan 9 kal/gr
 Ikut serta membangun jaringan tubuh
 Perlindungan
 Penyekatan/isolasi, lemak akan mencegah kehilangan panas dari tubuh
 Perasaan kenyang, lemak dapat menunda waktu pengosongan lambung
dan mencegah timbul rasa lapar kembali segera setelah makan
4. Vitamin
Vitamin adalah bahan organik yang tidak dapat dibentuk oleh tubuh
dan berfungsi sebagai katalisator proses metabolisme tubuh.
Vitamin dibagi dalam dua kelas besar, yaitu vitamin larut dalam air
(vitamin C, B1, B2, B6, B12) dan vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A,
D, E dan K). Berikut ini adalah rincian dari beberapa vitamin :
a) Vitamin A
Vitamin ini membantu perkembangan daya lihat bayi. Juga
berperan dalam proses kerja sel tulang. Anak-anak yang kekurangan
vitamin A akan menderita rabun senja serta gangguan pertumbuhan.
Mereka juga rentan terhadap infeksi. Sumber vitamin A antara lain telur,
keju, dan hati.
b) Vitamin B-kompleks
Semua vitamin B membantu produksi energi dan membantu
terbentuknya sel-sel otak bayi. Vitamin B1 dan niasin (salah satu anggota
B-kompleks) membantu sel tubuh menghasilkan energi. Vitamin B6
membantu tubuh melawan penyakit dan infeksi. Vitamin B12 digunakan
dalam pembentukan sel darah merah. Kecukupan vitamin B-kompleks
membantu mencegah kelambatan pertumbuhan, anemia, gangguan
penglihatan, kerusakan syaraf, dan gangguan jantung. Makanan seperti roti,
padi-padian, dan hati banyak mengandung vitamin B-kompleks. Setiap
anggota vitamin B-kompleks bersumber dari makanan tertentu misalnya B1
dari kacang buncis dan daging babi; B12 dari daging, ikan, telur, dan susu.

6
c) Vitamin C
Anak-anak dapat memperoleh vitamin C dari jeruk dan berbagai
sayuran. Mereka memerlukan vitamin C untuk membentuk beberapa zat
kimia dan menggerakkan zat kimia lain (misalnya salah satu anggota grup
vitamin B) agar dapat digunakan tubuh. Vitamin C juga membantu
penyerapan zat besi. Mereka yang kekurangan vitamin C bisa menderita
kelemahan tulang, anemia, dan gangguan kesehatan lainnya.
d) Vitamin D
Sinar matahari membantu tubuh membuat sendiri vitamin D,
bahkan pada sejumlah anak, kebutuhan vitamin ini sudah terpenuhi dengan
bantuan sinar matahari. Vitamin D sangat penting karena membantu
kalsium masuk ke dalam tulang. Inilah alasan mengapa vitamin D kadang
ditambahkan ke dalam susu sapi (disebut susu yang telah “diperkaya”).
Akan tetapi banyak produk susu olahan yang digemari anak-anak justru
tidak diperkaya dengan vitamin D. Keju dan yoghurt kaya kalsium tetapi
tidak mengandung vitamin D. Makanan yang diperkaya vitamin D lebih
baik daripada suplemen vitamin. Anak-anak yang mengkonsumsi diet
rendah vitamin D bisa menderita ricketsia, suatu penyakit yang
melemahkan tulang atau menjadikan tulang cacat.
5. Mineral dan Air
Mineral merupakan unsur esensial bagi fungsi normal sebagian enzim
dan sangat penting dalam pengendalian sistem cairan tubuh. Mineral
merupakan konstituen esensial pada jaringan lunak, cairan dan rangka. Rangka
mengandung sebagian besar mineral. Tubuh tidak dapat mensintesis mineral
sehingga harus dipenuhi melalui makanan. Tiga fungsi mineral, antara lain :
 Konstituen tulang dan gigi, contoh : kalsium, magnesium, fosfor
 Pembentukan garam-garam yang larut dan mengendalikan komposisi
cairan tubuh, contoh Na, Cl (ekstraseluler), K, Mg, P (intraseluler)
 Bahan dasar enzim dan protein
 Kira-kira 6% tubuh manusia dewasa terbuat dari mineral

7
Air merupakan zat yang paling mendasar yang dibutuhkan oleh tubuh
manusia. Tubuh manusia terdiri dari atas 50%-70% air. Pada orang dewasa
asupan air berkisar antara 1200-1500 cc per hari, namun dianjurkan sebanyak
1900 cc sebagai batas optimum.
Nutrien mempunyai 3 fungsi utama:
a. Menyediakan energi untuk proses dan pergerakan tubuh
b. Menyediakan ‘struktur material” untuk jaringan tubuh seperti tulang dan
otak
c. Mengatur proses tubuh
(sumber : Wahid Iqbal Mubarak, SKM & Ns. Nurul Chaygtin, S.Kep. 2007.
“Kebutuhan Manusia Teori dan Aplikasi dalam Praktek” Gresik)
 Status Nutrisi Optimal
Sering disebut energy balance, yaitu jumlah energi yang dikonsumsi
dikurangi energi yang dikeluarkan. Positif energy balance (input>Output,
negative energy balance, Input<Output).
 Energi Input
Yang dimaksud energi input mencangkup :
a) Sumber energy : karbohidrat, protein, lemak
b) Alat ukur : calori/joule
c) Calori, panas yang diperlukan untuk meningkatkan suhu 100C dari
1 gram air.
d) Kilo calori, jumlah energi panas yang diperlukan untuk
meningkatkan suhu 100C dari 1 kilogram air
 Energi Output
Energi output meliputi :
a) Energi output merupakan energi yang dikeluarkan oleh tubuh agar
jaringan dan organ berfungsi
b) Sumber energy : ikatan molekul-molekul phosphat ATP dari hasil
proses metabolisme tubuh yang mengandung tinggi energy

8
 Keperluan Energi
Keperluan energi ditentukan dua hal, sebagai berikut :
a. BMR (Basal Metabolisme Rate)
Merupakan reaksi kimia yang terjadi saat tubuh dalam keadaan
istirahat. BMR adalah jumlah kalori yang dihabiskan setiap jam oleh tubuh
dalam keadaan istirahat.
BMR = calori/meter/jam
- Pria = 1,0 Kcal/Kgbb/jam
- Wanita = 0,9 Kcal/Kgbb/jam
b. Jumlah energi lain yang dihabiskan dalam keadaan aktif
Fungsi energi adalah:
- Menyediakan energi untuk proses dalam tubuh dan latihan aktifitas
- Menyediakan struktur materi untuk jaringan tubuh misalnya tulang
dan otot tubuh
- Mengatur proses tubuh lainnya

B. Anatomi dan Fisiologi Sistem Gastrointestinal


Sistem yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi adalah sistem
pencernaan dan organ asesoris. Saluran pencernaan dimulai dari mulut sampai
anus, sedangkan organ asesoris terdiri dari hati, kantong empedu dan pankreas.
Ketiga organ ini membantu pencernaan makanan secara kimiawi.
Saluran pencernaan merupakan jalur tempat proses pencernaan. Ada enam
langkah proses pencernaan, yaitu:
a. Ingesti : proses masuknya makanan kedalam rongga mulut
b. Propulsion : proses pergerakan makanan dalam rongga mulut
c. Mechanical digestion: proses pemecahan makanan
d. Chemical digestion : proses katabolisme (pemecahan makanan menjadi
molekul)
e. Absorbsion : proses penyerapan nutrisi makanan
f. Defecation : proses eliminasi pembuangan sisa pencernaan dari tubuh

9
Saluran pencernaan terdiri dari mulut, faring, esofagus, lambung, usus
halus, usus besar, rectum dan anus.
a) Mulut
Mulut merupakan bagian awal dari saluran pencernaan yang terdiri
dari atas dua bagian luar yang sempit (vestibula), yaitu ruang di antara gusi,
gigi, bibir, pipi, dan bagian dalam, yaitu rongga mulut. Di dalam mulut
makanan mengalami proses mekanis melalui penguyahan yang akan membuat
makanan dapat hancur sampai merata, dibantu oleh enzim amilase yang akan
memecah amilium yang terkandung dalam makanan menjadi maltosa
Proses menguyah ini merupakan kegiatan terkoordinasi oleh lidah,
gigi, dan otot menguyah. Di dalam mulut, juga terdapat kelenjar saliva yang
menghasilkan saliva untuk proses pencernaan dengan cara mencerna hidrat
arang, khususnya amilase, melicinkan bolus sehingga mudah ditelan,
menetralkan, serta mengencerkan bolus.
Kelenjar tersebut terdiri atas kelenjar parotis, kelenjar
submandibularis, dan kelenjar sublingualis.
b) Faring
Faring merupakan merupakan bagian saluran pencernaan yang terletak
di belakang rongga hidung, mulut dan faring. Faring berbentuk kerucut dengan
bagian terlebar di bagian atas hingga vertebra cervikal ke enam. Faring
langsung berhubungan dengan esofagus, sebuah tabung yang memiliki otot
dengan panjang kurang lebih 20-25 cm dan terletak di belakang trakea, di
depan tulang punggung, kemudian masuk melalui toraks menembus
diafraghma yang berhubungan langsung dengan rongga abdomen serta
menyambung dengan lambung.
c) Esofagus
Esofagus merupakan bagian yang berfungsi mengantarkan makanan
dari faring menuju lambung. Esofagus berbentuk seperti silinder yang berongga
dengan panjang kurang lebih 2 cm dengan kedua ujungnya dilindungi oleh
sphinkter. Dalam keadaan normal sphinkter bagian atas selalu tertutup, kecuali
bila ada makanan masuk ke dalam lambung. Keadaan ini bertujuan untuk

10
mencegah gerakan balik sisi ke organ bagian atas, yaitu esofagus. Proses
penghantaran makanan dilakukan dengan cara peristaltik, yaitu lingkaran
serabut otot di depan makanan mengendor dan yang di belakang makanan
berkontraksi.
d) Lambung
Lambung merupakan bagian saluran pencernaan yang terdiri dari
bagian atas (disebut fundus), bagian utama, dan bagian bawah dan berbentuk
horizontal (antrum pilorik). Lambung berhubungan langsung dengan esofagus
melalui orifisium pilorik. Lambung terletak di bagian diafraghma dan di depan
pankreas, sedangkan limpa menempel pada sebelah kiri fundus.
e) Usus Halus
Usus halus merupakan tabung berlipat-lipat dengan panjang kurang
lebih 2,5 meter dalam keadaan hidup. Usus halus terletak di daerah umbilikus
dan dikelilingi oleh usus besar yang memanjang dari lambung hingga katup
illeo secal. Usus halus terdiri atas tiga bagian, yaitu duodenum dengan panjang
kurang lebih 25 cm, jejenum dengan panjang kurang lebih 2 meter, illeum
dengan panjang kurang kurang lebih 1 meter. Lapisan dinding dalam usus halus
mengandung berjuta-juta vili, kira-kira sebanyak 4-5 juta, yang menyerupai
mukosa menyerupai berudu. Pada permukaan setiap vili terdapat tonjolan yang
menyerupai jari-jari yang disebut mikrovili.
f) Usus Besar
Usus besar atau disebut juga sebagai kolon merupakan sambungan dari
usus halus yang dimulai dari katup illeo secal. Usus besar memiliki panjang
kurang lebih 1,5 meter. Kolon terbagi atas asenden, transversum, desenden,
sigmoid. Fungsi utama usus besar adalah mengabsorbsi air (kurang lebih 90%),
elektolit, vitamin dan sedikit glukosa. Kapasitas absorbsi air kurang lebih 5000
cc/hari.
g) Rektum dan Anus
Rektum terletak dibawah colon sigmoid, di dalam rongga pelvis di
depan os. sakrum dan os. koksigis, panjagnya lebih kurang 12 cm. Anus
terletak di dasar pelvis dan dindingnya diperkuat tiga sfingter :

11
• sphinkter ani internal yang bekerja tidak menurut kehendak
• sphinkter levator ani yang bekerja tidak menurut kehendak
• sphinkter ani eksternal yang bekerja menurut kehendak
Organ Acessoris
Merupakan organ yang tidak dilewati oleh zat makanan tetapi ikut membantu
proses pencernaan dengan mensekresi enzim-enzim. Organ-organ acessoris
sistem pencernaan terdiri atas hepar (hati), kandung empedu, dan pankreas.
1. Hati
Hati merupakan kelenjar aksesori terbesar dalam tubuh, berwarna
merah kecoklatan dengan berat 1000-1800 gram. Terletak dalam rongga
abdomen sebelah kanan atas, di bawah diafragma. Hati terdiri dari empat
lobus : sinistra, dekstra, kaudatus & kuadratus. Fungsi hati adalah
menghasilkan cairan empedu, fagositosis bakteri dan benda asing lainnya,
memproduksi sel darah merah, dan menyimpan glikogen.
2. Kantong Empedu
Merupakan kantong yang berbentuk terong, terletak di bawah hati dan
memiliki panjang 8-12 cm dan volumenya 40-60 cm3. Fungsi kantong
empedu adalah menghasilkan dan menyimpan cairan empedu berwarna
kuning keemasan (kuning kehijauan) berjumlah ± 500-1000 ml sehari,
membantu pencernaan lemak, memproduksi sterkobilin yg memberikan
warna kuning pada feses dan urin.
3. Pankreas
Sekumpulan kelenjar yg strukturnya mirip kelenjar ludah, panjangnya
lebih kurang 15 cm dan lebar kurang lebih 5 cm. Pankreas teridiri atas tiga
bagian : caput, korpus dan caudal. Fungsi pancreas adalah :
o Fungsi eksokrin : produksi getah pankreas yang berisi enzim dan
elektrolit
o Fungsi endokrin : terdiri dari sekelompok sel epitelium yg disebut pulau
langerhans yg memproduksi insulin untuk transportasi glukosa ke sel
dan glukagon untuk metabolisme karbohidrat

12
C. Faktor yang Memengaruhi Kebutuhan Nutrisi
1. Pengetahuan
Pengetahuan yang kurang tentang manfaat makanan makanan bergizi
dapat memengaruhi pola konsumsi makan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh
kurangnya informasi sehinga dapat terjadi kesaalahan dalam memenuhi kebutuhan
gizi.
2. Prasangka
Prasangka buruk terhadap beberapa jenis bahan makanan bergizi tinggi
dapat memengaruhi status gizi seseorang. Misalnya di beberapa daerah, tempe
yang merupakan sumber protein yang paling murah, tidak dijadikan bahan
makanan yang layak untuk dimakan karena masyarakat menganggap bahwa
makanan tersebut dapat merendahkan derajat mereka.
3. Kebiasaan
Adanya kebiasaan yang merugikan atau pantangan terhadap makanan
tertentu juga dapat memengaruhi status gizi. Misalnya di beberapa daerah terdapat
larangan makan pisang dan pepaya bagi para gadis remaja. Padahal makanan
tersebut merupakan sumber vitamin yang baik.
4. Kesukaan
Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan dapat
mengakibatkan kurangnya variasi makanan sehingga tubuh tidak memperoleh zat-
zat yang dibutuhkan secara cukup. Kesukaan dapat mengakibatkan menurunnya
gizi pada remaja apabila nilai gizinya tidak sesuai dengan nilai yang diharapkan.
5. Status Ekonomi
Status ekonomi dapat memengaruhi perubahan status gizi karena
penyediaan makanan bergizi membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Oleh
karena itu, masyarakat dengan kondisi perokonomian yang tinggi biasanya
mampu mencukupi kebutuhan gizi keluarganya dibandingkan masyarakat dengan
kondisi perekonomian rendah.

13
6. Usia
a. Kebutuhan nutrisi pada bayi
Yang dimaksud bayi adalah usia 0-12 bulan. Kalori yang
dibutuhkan sekitar 110-120 kalori/kg/hari. Kebutuhan cairan sekitar 140-
160 ml/kg/hari. Bayi sebelum usia 6 bulan pemberian nutrisi yang pokok
adalah air susu ibu. ASI sangat cocok diberikan sampai umur minimal 4
bulan.
Adapun keuntungan pemberian ASI adalah :
a. ASI merrupakan nutrisi yang lengkap
b. Dalam ASI terdapat laktobasilus bilidus yang merupakan
mikroorganisme dalam ASI yang bermanfaat untuk menghambat
pertumbuhan mikroorganisme yang berbahaya dalam intestinal
c. Protein dalam ASI banyak
d. ASI mengandung lipose untuk membantu bayi yang imatur dalam
pencerrnaan lemak.
b. Masa anak tolder (1-3 th) dan pra sekolah (3-5 th)
Masa anak penting untuk mendidik pola makan yang benar. Kebiasaan
yang sebaiknya diajarkan pada usia ini antara lain:
a. Penyediaan makanan dalam berbagai variasi
b. Membatasi makanan manis
c. Konsumsi diet yang seimbang
Kebutuhan kalori pada anak usia 1 tahun = 100kcal/hari dan anak usia 3
tahun 300-500 kcal/hari.
c. Anak sekolah (6-12 th)
Pola makan pada usia ini perlu diperhatikan karena pada usia ini anak-anak
lebih senang makanan yang dijual di luar rumah.
d. Masa adolescents remaja (13-21 th)
Kebutuhan kalori, protein, mineral, dan vitamin sangat tinggi berkaitan
dengan proses pertumbuhan. Lemak tubuh yang berlebih akan
mengakibatkan obesitas sehingga akan menimbulkan stress terhadap body
image yang terdapat mengakibatkan masalah kesehatan.

14
e. Masa dewasa muda (23-30 th)
Kebutuhan nutrisi pada usia ini berfungsi untuk proses pertumbuhan, proses
pemeliharaan dan perbaikan tubuh, mempertahankan keadaan gizi.
f. Masa dewasa (31-45 th)
Masa dewasa merupakan masa produktif, kususnya terkait dengan aktifitas
fisik, karena pada umur ini merupakan puncak untuk aktifitas hidup terutma
dalam aktifitas bekerja. Kebutuhan nutrisi dibedakan antara tingkat
pekerjaan ringan, berat, sedang.
g. Dewasa tua (46 th ke atas)
Kebutuhan unsur-unsur gizi sudah jauh berkurang, pada usia lanjut maka
BMR akan berkurang 10-30%. Maka aktifitas mengalami degeneratif.
*) Wanita masa kehamilan menyusui
Wanita hamil dan ibu menyusui sangat memerlukan makanan yang
baik dan cukup. Sebagai bahan pertimbangan untuk dapat menghasilkan 1
liter ASI harus menyediakan kalori sebanyak 150 kal sedangkan ASI
mengandung 75 kal,12 gr protein, 45 gr lemak laktosa vitamin, dll.
7. Jenis kelamin
Kebutuhan metabolisme basal pada laki-laki lebih besar dibandingkan
dengan wanita. Pada laki-laki kebutuhan BMR 1,0 kkal/kg BB/jam dan pada
wanita 0,9 kkal/kgBB/jam.
8. Tinggi dan berat badan
Tinggi dan berat badan berpengaruh terhadap luas permukaan tubuh.
Semakin luas permukaan tubuh maka semakin besar pengeluaran panas sehingga
kebutuhan metabolisme basal tubuh juga menjadi lebih besar.
9. Status kesehatan
Nafsu makan yang baik adalah salah satu tanda tubuh yang sehat.
Anoreksia (kurang nafsu makan) biasanya gejala penyakit atau karena efek
samping obat.
10. Faktor psikologis seperti stress dan ketegangan
Motivasi individu untuk makan makanan yang seimbang dan persepsi
individu tentang diet merupakan pengaruh yang kuat. Makanan mempunyai nilai

15
simbolik yang kuat bagi banyak orang (misal susu merupakan simbol kelemahan
dan daging merupakan simbol kekuatan).
11. Alkohol dan Obat
Penggunaan alkohol dan obat yang berlebihan memberi kontribusi pada
defisiensi nutrisi karena uang mungkin dibelanjakan untuk alkohol daripada
makanan. Alkohol yang berlebihan juga mempengaruhi organ gastrointestinal.
Obat-obatan yang menekan nafsu makan dapat menurunkan asupan zat gizi
esensial. Obat-obatan juga menghabiskan zat gizi yang tersimpan dan mengurangi
absorbsi zat gizi di dalam intestine.

D. Asuhan Keperawatan Nutrisi


1. Pengkajian
Pengkajian merupakan dasar utama proses keperawatan, pengkajian
data terhadap pasien harus sistematis dan akurat. Dengan pengkajian dapat
menentukan aktifitas untuk memecahkan masalah klien dan digunakan sebagai
sumber data dasar yaitu data fisiologis, psikologis, sosio-budaya,
perkembangan, dan spiritual.
Untuk mengkaji status nutrisi pasien dipaparkan pendekatan ABCD, yaitu:
a. Anthropolometric measurement
Tujuan pengukuran ini adalah mengevaluasi pertumbuhan dan
mengkaji status nutrisi serta ketersediaan energi tubuh.
Pengukuran anthopometrik terdiri atas:
1. Tinggi badan
Pengukuran tinggi badan pada individu dewasa dan alita dilakukan
dalamposisi berdiri tanpa alas kaki, sedangkan pada bayi pada posisi terbaring.
Satuan tinggi badan adalah cm atau inchi.
2. Berat badan
Alat ukur berat badan yang lazim digunakan adalah timbangan manual,
meskipun ada alat ukur yang mengunakan sistem digital elektrik. Berat badan
yang ideal : (TB-100) ± 10%. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam
mengukur berat badan :

16
 Alat ukur skala ukur yang digunakan tetap sama setiap kali menimbang
 Menimbang tanpa alas kaki
 Pakaian diusahakan tidak tebal dan relatif sama beratnya setiap kali
menimbang
 Waktu (jam) penimbangan relatif sama, misalnya sebelum dan sesudah
makan
(menurut Wanit Iqbal Mubarak, SKM dan Ns Nurul Chayati, S.Kep, 2007.
“Buku ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori dan Aplikasi dalam Praktik”)
3. Tebal lipatan kulit
Bertujuan untuk menentukan presentase lemak pada tubuh, mengkaji
kemungkinan malnutrisi, berat badan normal, atau obesitas. Area yang sering
digunakan untuk pengukuran ini adalah lipatan kulit trisep (trisep skinfold
/TSF) skapula, dan suprailiaka.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran, antara lain:
 Anjuran klien untuk membuka baju guna mencegah kesalahan pada hasil
pengukuran
 Perhatikan selalu privasi dan rasa nyaman klien
 Dalam pengukuran TSF, utamakan lengan klien yang tidak dominan
 Pengukuran TSF dilakukan pada titik tengah lengan atas, antara akronim
dan olekranon
 Klien dianjurkan untuk rileks saat pengukuran
 Alat ukur yang digunakan adalah kapiler
Nilai normal wanita : 16,5-18 cm
Pria : 12,5-16,5cm
4. Lingkar Tubuh
Umumnya area tubuh yang digunakan untuk pengukuran ini adalah kepala,
dada, dan otot bagian lengan atas.
b. Biochemical data
Pengkajian status nutrisi klien ditunjang dengan pemeriksaan
laboratorium. Klien diperiksa darah dan urinenya yang meliputi pemeriksaan

17
hemoglobin, hemaktokrit, albumin. Albumin berfungsi untuk memelihara
kesembangan cairan dan elektrolit serta untuk transportasi nutrisi dan hormon.
o Hemoglobin normal
Pria : 13-16 g/dl
Wanita : 12-14 g/dl
o Hematokrit normal
Pria : 40-48 vol %
Wanita : 37-43 vol %
o Albumin normal
Pria dan wanita: 4-5,2 g/dl
c. Clinical sign of nutrional status
Klien dengan masalah nutrisi akan memperlihatkan tanda-tanda
abnormal, tidak hanya pada organ-organ fisiknya tetapi juga fisiologisnya.
Tanda-tanda klinik untuk mengetahui status individu :
Organ/sistem tubuh Tanda normal Tanda abnormal
Rambut Licin, berkilau, Kusam, rontok,
baik kering atau tumbuh tidak
berminyak sempurna
Kulit Halus, sedikit Kering, pecah-
basah, tugor baik pecah, bersisik
Mata Bersih dan Tidak bercahaya,
bersinar, konjungtiva pucat
konjungtiva tidak
pucat
Cardiovaskuler HR, tensi, nadi, HR, tensi tidak
irama jantung normal, irama
teratur jantung tidak
teratur
Otot-otot Kuat dan Lembek dan
berkembang biak berkembang tidak

18
baik
Gastrointestinal Nafsu makan baik, Nafsu makan
BAB/BAK teratur kurang, diare, sulit
dan normal menelan,
konstipasi
Aktifitas Bersemangat, giat Energi kurang,
dan tidur normal lemah, susah tidur
Neurologi Refleks normal, Refleks kurang,
emosi dan iritable, perhatian
perhatian baik kurang, dan emosi
labil
Clinical sign gangguan nutrisi digolongkan sebagai berikut:
a) Protein calorie malnutrision (PCM/PEM)
Suatu kondisi status nutrisi buruk akibat kekurangan kualitas dan kuantitas
konsumsi nutrisi, dengan kategori sebagai berikut:
 PCM/PEM ringan
BB kurang dari 80% dari BB normal sesuai umur
 PCM/PEM sedang
60% dari BB normal sesuai umur s/d 80% dari BB normal
 PCM/PEM berat
BB kurang dari 60% dari BB normal sesuai umur
b) Kwarshiorkor
Malnutrisi yang terjadi akibat diet protein yang tidak adekuat pada bayi
ketika sudah tidak mendapatkan ASI. Defisiensi protein dapat berakibat
retardasi mental, kemunduran, apatis, edema, otot-otot tidak tumbuh, dll.
Tanda klinis kwarshiorkor :
 Edema
 Gangguan pertumbuhan
 Perubahan kejiwaan
 Otot tumbuh terlihat lemah

19
c) Marasmus
Merupakan sindrom akibat defisiensi kalori dan protein. Defisiensi kalori
dan protein berakibat kelaparan, hilangnya jaringan-jaringan tubuh, BB <
dari normal, diare PCM juga berakibat kurang baiknya penanganan klien
selama menjalani proses perawatan di berbagai fasilitas kesehatan.
d) Obesitas
Status obesitas dapat ditegakkan apabila berat badan lebih dari normal (20-
30% > normal).
e) Over weight
Suatu keadaan berat badan 10% melebihi berat badan ideal.
d. Dietery history
Masyarakat pada umumnya pernah melakukan diet. Akan tetapi cara
ini hanya merangsang pengeluaran cairan, bukan perubahan kebiasaan
makanan (Moore Courney, Mary, 1997). Pola makan dan kebiasaan makan
dipengaruhi oleh budaya, latar belakang, status sosial ekonomi, aspek
psikologi. Faktor yang perlu dikaji dalam riwayat konsumsi nutrisi/diet klien,
antara lain :
Pola diet/makan Vegetarian, tidak makan ikan laut, dll.
Pengetahuan Penentuan tingkat pengetahuan klien
tentang nutrisi mengenai kebutuhan nutrisi
Kebiasaan MI melihat bersama-sama, makan sambil
makanan mendengarkan musik, makan sambil
melihat televisi
Makanan Suka makan lalap, suka sambel, suka
kesukaan coklat, suka roti
Pemasukan cairan Jumlah cairan tiap hari yang diminum,
jenis minuman, jarang minum
Problem diet Sukar menelan, kesulitan mengunyah
Tingkat aktivitas Jenis pekerjaan, waktu bekerja
siang/malam, perlu makanan tambahan

20
atau tidak
Riwayat Adanya riwayat penyakit diabetus melitus,
kesehatan/ adanya alergi
komsumsi obat

2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang dapat terjadi pada masalah kebutuhan nutrisi,
antara lain :
2.1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Definisi: keadaan dimana intake nutrisi kurang dari keadaan metabolism
tubuh.
 Kemungkinan ditemukan data :
a. Meningkatkan kebutuhan kalori dan kesulitan mencerna secara
berkelanjutan akibat penyakit infeksi, luka bakar, ataupun kanker.
b. Disfagia akibat kelumpuhan serebral.
c. Penurunan absorpsi nutrisi akibat toleransi laktosa.
d. Penurunan nafsu makan.
e. Sekresi berlebihan, baik melalui latihan fisik, muntah, diare, ataupun
pengeluaran lainnya.
f. Ketidakcukupan absorpsi akibat efek samping obat atau lainnya.
g. Kesulitan mengunyah.
 Masalah klinik yang berhubungan dengan :
a. Anoreksia nervosa
b. AIDS
c. Pembedahan
d. Kehamilan
e. Kanker
f. Anemia
g. Marasmus

21
2.2. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan nutrisi
Definisi: klien dengan risiko atau aktual mengkonsumsi makanan melebihi
dari kebutuhan metabolisme tubuh
 Kemungkinan data yang ditemukan :
a. Perubahan pola kenyang akibat efek obat atau radiasi
b. Penurunan fungsi pengecap atau penciuman
c. Kurangnya pengetahuan tentang nutrisi
d. Penurunan kebutuhan metabolisme
e. Kelebihan asupan
f. Perubahan gaya hidup
 Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada :
a. Obesitas
b. Hipotiroidesme
c. Klien dengan pemakaian kortikosteroid
d. Imobilisasi

3. Perencanaan
Tujuan :
1. Meningkatkan nafsu makan apabila nutrisi kurang
2. Membantu memenuhi kebutuhan nutrisi
3. Mempertahankan nutrisi melalui oral atau parental
Rencana tindakan :
1. Monitor perubahan faktor yang menyebabkan terjadinya kekurangan
kebutuhan nutrisi atau kelebihannya dan status kebutuhan nutrisi
2. Kurangi faktor yang mempengaruhi perubahan nutrisi
3. Ajarkan untuk merencanakan makanan
4. Kaji tanda vital dan bising usus
5. Monitor glukosa, elektrolit, albumin, dan hemoglobin
6. Berikan pendidikan tentang cara diet, kebutuhan kalori, atau tindakan
lainnya

22
Tindakan pada gangguan kekurangan nutrisi secara umum dapat dilakukan
dengan cara:
 Mengurangi kondisi atau gejala penyakit yang menyebabkan penurunan
nafsu makan
 Memberikan makanan yang disukai sedikit demi sedikit tetapi sering
dengan memperhatikan jumlah kalori dan tanpa kontraindikasi
 Menata ruangan senyaman mungkin
 Menurunkan stress psikologis
 Menjaga kebersihan mulut
 Menyajikan makanan mudah dicerna
 Hindari makanan yang mengandung gas

Tindakan pada gangguan obstruksi mekanis secara umum dapat dilakukan


dengan cara :
 Lakukan kebersihan mulut segera dengan kumur-kumur menggunakan
minuman bikarbonat rendah kalori atau 1/2 atau 1/4 larutan hidrogen
peroksida dan air sebagai pembersih mulut
 Ajarkan teknik mempertahankan nafsu makan dengan mengubah variasi
dan kepadatan seperti jus atau sop kental
 Gunakan suplemen tinggi kalori atau protein

Tindakan pada gangguan kesulitan makan secara umum dapat dilakukan


dengan cara :
 Atur posisi seperti duduk tegak 60-90 derajat pada kursi atau di tepi
tempat tidur
 Pertahankan posisi selama 10-15 menit
 Fleksikan kepala ke depan pada garis tengah tubuh 45 derajat untuk
mempertahankan kepatenan esophagus
 Mulai dari jumlah yang kecil

23
 Anjurkan untuk membersihkan mulut, hindari makanan yang pedas atau
asam, makanan berserat (sayuran mentah), dan rendam makanan kering
agar lunak

Tindakan pada gangguan kelebihan nutrisi secara umum dapat dilakukan


dengan cara :
 Hindari makanan yang mengandung lemak
 Berikan motivasi untuk menurunkaan berat badan
 Lakukan program olah raga

4. Implementasi
4.1. Pemberian nutrisi melalui oral
Pemberian nutrisi melaui oral merupakan tindakan keperawatan yang
dilakukan pada klien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara
sendiri dengan cara membantu memberikan makan. Nutrisi melalui oral
(mulut) bertujuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dan
membangkitkan selera makan pada klien.
Alat dan bahan :
1. Piring
2. Sendok
3. Garpu
4. Gelas
5. Serbet
6. Mangkok cuci tangan
7. Pengalas
8. Jenis diet

Prosedur kerja:
1. Cuci tangan
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3. Atur posisi klien

24
4. Pasang pengalas
5. Anjurkan klien untuk berdoa sebelum makan
6. Bantu untuk melakukan makan dengan cara menyuapkan makanan sedikit
demi sedikit dan berikan minum sesudah makan
7. Setelah selesai, bersihkan mulut klien dan anjurkan untuk duduk sebentar
8. Cacat hasil atau respon pemenuhuan terhadap makan
9. Cuci tangan

4.2. Pemberian nutrisi melalui pipa penduga/lambung


Pemberian nutrisi melalui pipa penduga/lambung merupakan tindakan
keperawatan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu menelan dengan
cara memberi makan melalui pipa lambung atau pipa penduga. Tujuannya
untuk memenuhi kebutuhan nutrisi klien.
Alat dan Bahan:
1. Pipa penduga dalam tempatnya
2. Corong
3. Spuit 20 cc
4. Pengalas
5. Bengkok
6. Plester, gunting
7. Makanan dalam bentuk cair
8. Air matang
9. Obat
10. Stetoskop
11. Klem
12. Baskom berisi air (kalau tidak ada stetoskop)
13. Vaselin

Prosedur kerja:
1. Cuci tangan
2. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan

25
3. Atur posisi klien dengan posisi semi flower
4. Bersihkan daerah hidung dan pasangkan pengalas di daerah dada
5. Letakkan bengkok di dekat klien
6. Tentukan letak pipa penduga dengan cara mengukur panjang pipa dari
epigastrium sampai hidung kemudian dibengkokkan ke telinga dan beri
tanda batasnya
7. Berikan vaselin pada ujung pipa dan klem pangkal pipa tersebut lalu
masukkan melalui hidung secara perlahan-lahan sambil klien dianjurkan
untuk menelannya
8. Tentukan apakah pipa tersebut benar-benar sudah masuk ke lambung
dengan cara :
 Masukkan ujung selang yang diklem ke dalam baskom yang berisi air
(klem dibuka), perhatikan bila ada gelembung maka pipa masuk ke
paru, dan jika tidak ada gelembung maka pipa masuk ke lambung.
Setelah itu diklem atau dilipat kembali
 Masukkan udara dengan spuit ke dalam lambung melalui pipa tersebut
dan dengarkan dengan stetoskop. Bila di lambung terdengar bunyi,
berarti pipa tersebut sudah masuk, setelah itu keluarkan udara yang
ada di dalam sebanyak jumlah yang dimasukkan
9. Setelah selesai, maka lakukan tindakan pemberian makanan dengan cara
pasang corong atau spuit pada pangkal pipa
10. Masukkan air matang ± 15 cc pada awal dengan cara dituangkan lewat
pinggirnya
11. Berikan makanan dalam bentuk cair yang tersedia, setelah itu bila ada
masukkan obat dan beri minum lalu pipa penduga diklem
12. Catat hasil atau respons klien selama pemberian makanan
13. Cuci tangan

4.3. Pemberian nutrisi melalui parenteral


Pemberian nutrisi melalui parenteral merupakan pemberian nutrisi berupa
cairan infus yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui darah vena, baik secara

26
sentral (untuk nutrisi parenteral total) ataupun vena perifer (untuk nutrisi
parental parsial). Pemberian nutrisi melalui parenteral dilakukan pada klien
yang tidak bisa makan melalui oral atau pipa nasograstik dengan tujuan untuk
menunjang nutrisi sentral yang hanya memenuhi sebagian kebutuhan harian.
a) Nutrisi parenteral parsial
Merupakan pemberian sebagian kebutuhan nutrisi melalui intravena.
Sebagian kebutuhan nutrisi harian pasien masih dapat dipenuhi melalui
enteral. Cairannya yang biasa digunakan dalam bentuk dekstrosa atau
cairan asam amino.
b) Nutrisi parenteral total
Merupakan pemberian nutrisi melalui intravena di mana kebutuhan nutrisi
sepenuhnya melalui cairan infus karena keadaan saluran pencernaan klien
tidak dapat digunakan. Cairan yang dapat digunakan adalah cairan yang
mengandung karbohidrat seperti Triofusin E 1000, cairan yang
mengandung asam amino seperti Pan Amin G, dan cairan yang
mengandung lemak seperti intralipid
c) Jalur pemberian nutrisi parenteral dapat melalui vena sentral untuk jangka
waktu lama dan melalui vena perifer.
(Hidayat,AAA & Uliyah, M, 2005)

5. Evaluasi
5.1. Meningkatnya nafsu makan ditunjukkan dengan adanya kemampuan
dalam makan serta adanya perubahan nafsu makan apabila terjadi kurang
dari kebutuhan.
5.2. Terpenuhinya kebutuhan nutrisi ditunjukkan dengan tidak adanya tanda
kekurangan atau kelebihan berat badan.
5.3. Mempertahankan nutrisi melalui oral atau parenteral ditunjukkan dengan
adanya proses pencernaan makanan yang adekuat.

27
BAB III
STUDI KASUS

A. Uraian Kasus
Tn. W 48 tahun masuk ke UGD RSPAU Hardjolukito pada tanggal 3
Juni 2014 dengan keluhan mual dan muntah, kemudian dari UGD pasien di
rawat inap di bangsal Merak kelas II RSPAU Hardjolukito. Dari diagnosa
medis, pasien menderita Diabetes Mellitus komplikasi hipertensi dan Chronic
Kidney Disease (CKD). Saat dilakukan anamnesa, pasien mengatakan telah
menderita Diabetes Mellitus sejak tahun 2004 dan kemudian komplikasi CKD
dan glukoma kurang lebih setahun yang lalu. Dari catatan kesehatan pasien,
terdapat data bahwa pasien terakhir kali menjalani rawat inap di RSPAU
Hardjolukito pada tanggal 25 Mei 2014 dan riwayat hemodialisis yang
terakhir pada tanggal 2 Juni 2014. Dari hasil pemeriksaan laboratorium
terhadap sampel darah pasien diperoleh hasil bahwa kadar natrium 134,36
mmol/L, kalium 3,85 mmol/L, Hb 8,9 g/dl, ureum 44 mg/dl, kreatinin 4,17
mg/dl, gula darah sewaktu 205 mg/dl, SGOT 20 U/L, dan SGPT 65 U/L.
Selain itu, pasien juga mengatakan bahwa beliau merasa mual dan ingin
muntah sehingga tidak nafsu makan, tubuh pasien juga tampak lemas, pucat,
kulit kering dan bersisik, tekanan darah 190/105 mmHg, suhu 38,80C, nadi 83
x/menit, dan frekuensi napas (RR) 20 x/menit.

B. Pengkajian
Hari, Tanggal Pengkajian : Rabu, 11 Juni 2014 pukul 14.00 WIB
Oleh : Rina Rahmawati, Henny Anggia, Sakai Yudistira
Metode : Anamnesa terbuka pada pasien dan keluarga, studi
dokumen, pemeriksaan fisik, dan observasi
Sumber data : pasien, keluarga pasien, buku status perkembangan
pasien, tim kesehatan lain

28
I. IDENTITAS
I. Pasien
Nama : Tn. W
Tempat, tanggal lahir : Sleman, 29 Mei 1966
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status Perkawinan : Kawin
Pendidikan : SLTP
Pekerjaan : TNI AU
Suku/Kebangsaan : Jawa/Indonesia
Alamat : Sleman
Diagnosa Medis : CKD, HT, DM
No. RM : xxxxx1
Tanggal masuk RS : (Selasa, 3 Juni 2014 pikul 15.00)
II. Keluarga/Penanggung Jawab
Nama : Ny. R.
Umur : 47 tahun
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Sleman
Hubungan dengan Pasien : Istri
II. RIWAYAT KESEHATAN
I. Riwayat Kesehatan Sekarang
Keluhan utama : mual, muntah, nyeri di bagian abdomen
Faktor pencetus : DM komplikasi HT dan CKD
Awal serangan : DM pada tahun 2004;CKD pada tahun 2013
Timbulnya keluhan : Kronis
Upaya pengobatan/perawatan yang dilakukan :
- Hemodialisis 2x/minggu, hari Senin dan Kamis
- Injeksi insulin 6 unit sebelum makan

29
II. Riwayat Kesehatan Lalu
Dari buku catatan perkembangan pasien didapatkan data bahwa pasien
terakhir kali di rawat inap di RSPAU Hardjolukito pada tanggal 25
Mei 2014 dan hemodialisis terakhir pada 2 Juni 2014. Pasien juga
mengatakan belum pernah menjalani pembedahan dan mempunyai
riwayat penyakit CKD dengan hemodialisis (HD) rutin 2x/minggu,
hari Senin dan Kamis.

III. Riwayat Kesehatan Keluarga


a. Genogram

Ny. S

Klien

Keterangan :
: laki-laki yang menderita DM

: perempuan yang menderita DM

: anak perempuan yang mempunyai riwayat penyakit


keturunan DM
: tinggal dalam satu keluarga

b. Riwayat kesehatan keluarga


Dari hasil anamnesa didapatkan data bahwa pasien mengatakan
mempunyai dua orang putri, yaitu Nn. R yang bekerja sebagai rekam

30
medis dan Nn. A merupakan pelajar siswi SMA kelas I. Pasien juga
mengatakan bahwa dalam keluarganya ada yang menderita DM, yaitu
kakaknya, almarhumah Ny. S, yang menderita DM sejak 2006 dan
meninggal pada tahun 2009.

III. POLA KEBIASAAN


I. Aspek Fisik-Biologis
1. Pola Nutrisi
a. Sebelum sakit
- Pasien mengatakan makan 3x sehari tetapi tidak teratur.
- Pasien mengatakan lebih suka makanan yang lembek (misal
nasi).
- Pasien mengatakan biasa menghabiskan satu porsi makanan.
- Pasien mengatakan sangat suka sayur, terutama sayur berkuah
dan buah-buahan.
- Pasien mengatakan sering jajan di warung karena bekerja di
luar kota.
- Pasien mengatakan suka semua makanan, kecuali yang dilarang
oleh agama (darah, bangkai, daging anjing, babi).
- Pasien mengatakan ketika makan dikunyah perlahan tetapi saat
terburu-buru hanya dikunyah kasar.
- Pasien mengatakan jarang mengonsumsi makanan tambahan,
seperti vitamin C.
- Pasien mengatakan sebelum makan jarang cuci tangan dan
berdoa.
- Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien sering merasa lapar
sehingga frekuensi makannya tidak teratur.
- Pasien mengatakan menyukai es teh, kopi, dan tidak menyukai
minuman keras.
- Pasien menyatakan sering merasa haus kurang lebih 10 gelas
tiap hari.

31
- Keluarga pasien mengatakan setelah bangun tidur pasien biasa
minum satu gelas air putih.
- Pasien mengatakan bahwa jika ada luka biasanya sembuhnya
lama.
b. Selama sakit
- Pasien mengatakan sering mual, muntah, dan tidak nafsu
makan.
- Pasien mengatakan ketika makan habis setengah porsi.
- Pasien mengatakan muntah kurang lebih 3x terutama ketika
selesai makan.
- Pasien mengatakan saat pagi hari sulit untuk menelan.
- Pasien mengatakan berat badan turun.
- Pasien mengatakan dalam sehari minum kurang lebih 1-3 gelas
ukuran sedang.
- Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien diminta untuk
mengurangi konsumsi air, buah, dan sayur.
- Pasien terpasang infus Ringer Laktat 500 cc.
2. Pola Eliminasi
a. Sebelum sakit
- Pasien mengatakan b.a.b. teratur 1x/hari, feses berwarna kuning
lonjong.
- Pasien mengatakan b.a.k. lancar.
- Pasien mengatakan tidak menggunakan obat pencahar agar bisa
b.a.b.
b. Selama sakit
- Pasien mengatakan b.a.b. menjadi tidak teratur.
- Pasien tidak menggunakan alat eliminasi kateter.
- Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien sering b.a.k.,
terutama saat malam hari.

32
- Keluarga pasien mengatakan semenjak 3 Juni 2014 pasien
belum bisa b.a.b., bisa b.a.b. pada 10 Juni 2014 setelah
menggunakan Dulcolax, konsistensi feses padat.
- Keluarga pasien mengatakan dalam sehari semalam, pasien
b.a.k. kurang lebih 300 cc warna kuning.
- Pasien mengatakan nyeri pada perut.
3. Pola Aktivitas Istirahat-Tidur
a. Sebelum sakit
1) Keadaan aktivitas sehari-hari
- Pasien mengatakan jenis olahraga yang sering
dilakukan adalah jogging dalam 1 minggu 1x.
- Pasien mengatakan saat sakit diabetes mellitus aktivitas
sehari-hari masih seperti biasa, bekerja di TNI AU.
- Pasien mengatakan melakukan kegiatan sehari-hari
seperti mandi, makan, b.a.k./b.a.b., berpakaian sendiri.
2) Keadaan pernafasan
- Pasien mengatakan tidak pernah merokok.
- Pasien mengatakan tidak alergi debu.
3) Keadaan kardiovaskuler
- Pasien mengatakan cepat lelah.
4) Kebutuhan tidur
- Pasien mengatakan siklus tidur seperti biasa 6-8 jam.
- Pasien mengatakan lebih mengutamakan tidur malam.
- Pasien mengatakan sebelum tidur b.a.k. dulu, dan
minum air putih.
- Pasien mengatakan suasana ruang tidur/ kamar tenang
dan lampu dimatikan.
- Pasien mengatakan saat tidur sering terbangun untuk
b.a.k.
- Pasien mengatakan tidak menggunakan obat tidur untuk
bisa tertidur.

33
5) Keadaan istirahat
- Pasien mengatakan setiap istirahat kerja biasa diisi
dengan tidur siang selama 1 jam.
- Pasien mengatakan bias istirahat bila suasana tenang.
b. Selama sakit
1) Keadaan aktivitas
- Pasien mengatakan setelah sakit, yaitu glukoma pada
mata aktivitasnya terbatas hanya di tempat tidur saja.
2) Keadaan pernafasan
- Pola nafas pendek, RR : 21x/menit.
- Pasien terpasang O2 kanule binasal 3 liter per menit.
- Pasien mengatakan sesak napas, napas terasa berat.
- Pasien mengatakan posisi setengah duduk lebih
nyaman.
3) Keadaan kardiovaskuler
- Pasien mengatakan pusing dan terasa berat di dada.
4) Kebutuhan tidur
- Pasien mengatakan sering mengantuk dan sulit untuk
tidur.
5) Kebutuhan istirahat
- Pasien mengatakan bosan/jenuh karena hanya tiduran
setiap hari
4. Pola Kebersihan Diri
a. Kebersihan diri
1. Pasien mengatakan mandi hanya sehari sekali pada sore
hari.
2. Pasien mengatakan terjadi perubahan pada kulit, seperti :
kulit mengelupas dan kering.
b. Rambut
1. Rambut pasien tampak ubanan dan rontok.
2. Pasien mengatakan gatal pada kulit kepala.

34
3. Pasien mengatakan ketika di rumah sakit tidak mencuci
rambut.
4. Pasien mengatakan setiap mandi tidak menggunakan
shampo.
c. Telinga
1. Pasien mengatakan tidak mengalami ganguan pendengaran.
2. Pasien tidak mengunakan alat bantu pendengaran.
3. Pasien mengatakan ketika di rumah sakit jarang
membersihkan telinga.
d. Mata
1. Pasien mengatakan matanya sekarang mengalami ganguan,
melihat kabur atau sering tidak jelas.
2. Pasien tidak mengunakan alat bantu pengelihatan.
3. Pasien mengatakan ketika di rumah sakit membersihkan
mata bersamaan saat mandi.
e. Mulut
1. Pasien mengatakan gosok gigi hanya 1x pada pagi hari
menggunakan pasta gigi.
2. Pasien mengatakan tidak mengunakan cairan tertentu untuk
berkumur.
f. Kuku/kaki
1. Pasien mengatakan potong kuku setiap 1 minggu sekali
atau pada saat kukunya sudah mulai panjang.
2. Pasien mengatakan membutuhkan bantuan istrinya untuk
memotong kuku.
B) Aspek Mental-Intelektual-Sosial-Spiritual
a. Konsep diri
1. Pasien mengatakan sering mengeluh dengan keadaan dirinya
saat ini karena hanya bisa berdiam di rumah sakit. Pasien
mengatakan perannya sebagai kepala keluarga menjadi
terganggu.

35
b. Intelektual
1. Pasien mengatakan mengetahui tentang penyakit yang
dideritanya dan perawatan medis yang berhubungan dengan
penyakitnya.
c. Hubungan interpersonal
1. Sebelum sakit
- Pasien mengatakan sering berkunjung ke rumah kakak dan
ke rumah ayah dari istrinya.
- Pasien mengatakan hubungan dengan teman yang satu
profesi terjalin baik.
2. Selama sakit
- Pasien mengatakan selama sakit sudah tidak pernah
berkunjung ke rumah kakak dan ayah dari istrinya
- Saat ini hanya teman dan keluarga yang sering berkunjung.
d. Support system
- Orang-orang di sekeliling pasien selalu member dorongan
semangat, terutama istrinya yang selalu menemani pasien saat
di rumah sakit.
e. Aspek mental-emosional
1. Afek
- Ekspresi wajah tampak lesu.
2. Mood
- Pasien tampak lemah.
3. Kontak mata
- Kontak mata tampak baik : pasien berusaha menghadap
pada sumber suara.
- Pasien mengeluh penglihatan kabur.

36
f. Aspek Intelegensi
1. Persepsi
- Pasien mengatakan sering mengeluh tentang keadaan
dirinya saat ini.
2. Memori
- Pasien mengatakan ingatannya masih baik.
3. Kognisi
- Komunikasi dengan pasien berjalan dengan baik. Pasien
kooperatif.
- Orientasi : cara pasien mengklarifikasi masalah baik.
g. Hubungan sosial
1. Hubungan komunikasi
- Cara bicara pasien pelan.
- Kehidupan keluarga : mengikuti sesuai adat jawa.
2. Faktor ketergantungan
- Pasien bergantung sepenuhnya pada orang di sekelilingnya
karena gangguan penglihatan.
IV. PEMERIKSAAN FISIK
A) Keadaan Umum
1. Kesadaran : menurun, compos mentis
2. Status gizi : BB = 53 kg
TB = 164 cm
IMT = 19,948 kg/m2 (normal)
3. Tanda-tanda vital : pada tanggal 3 Juni 2014
TD =190/105 mmHg
N = 83 x/menit
S =38,80C
RR = 21 x/menit
B) Pemeriksaan Fisik
1. Kulit : kering, bersisik
2. Mata : gangguan penglihatan (glukoma), conjungtiva anemis

37
3. Kepala : simetris, rambut beruban, alopesia
4. Telinga : tidak ada gangguan penglihatan, sedikit kotor
5. Mulut : mukosa kering, nafas bau amoniak
6. Gigi : rapi, sedikit kotor
7. Hidung : tidak ada lendir
8. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, JVP 1 cm
9. Dada : sim
10. Abdomen : teraba ginjal tendemess/lembut, terdengar bising pada
arteri renalis
11. Ekstremitas atas dan bawah : tidak ada gangguan
12. Pernapasan : vesikuler
C) Pengobatan yang Didapat Saat Ini
1. Injeksi ranitidine 2x50 mg
UGD
2. Injeksi ketorolac 2x20 mg
3. Pantoprazole 2x1 gr
4. Ondancentron 3x8 mg
5. IVFD NaCl mikro 12 tpm
D) Pemeriksaan yang Pernah Dilakukan dan Hasilnya
Nama Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
ELEKTROLIT
Natrium 134,36 mmol/L 135,37-145
Kalium 3,85 mmol/L 3,48-5,5
Chlorida 101,18 mmo/L 96-106
HEMATOLOGI
Darah Lengkap
Hemoglobine 8,9 g/dl 12-16,8
Leukosit 7800 /mm3 4600-10000
Hematokrit 29,2 % 40-54
Eritrosit 3,1 jt/mm3 3,9-5,9
Trombosit 295000 /mm3 150000-400000
MCV 94 fL 82-95

38
MCH 28,9 pg 27-31
MCHC 30,6 g/dl 32-36
LED 60 mm/jam <10
Hitung jenis
Leukosit
- Basofil 0 % 0-1
- Eosinofil 6 % 2-4
- Batang 0 % 3-5
- Segmen 66 % 50-70
- Limposit 20 % 25-40
- Monosit 8 % 2-6
KIMIA DARAH
SGOT 20 U/L L<37
SGPT 65 (D) U/L L<41
Ureum 44 mg/dl 15-45
Creatinin 4,17 (D) mg/dl L : 0,6-1,2
Gula Darah 205 (D) mg/dl <200
Sewaktu

C. Analisa Data
Masalah
No. Data Etilogi
Keperawatan
1. DS : Mual, muntah, Ketidakseimbangan
- Pasien mengatakan mual, anoreksia nutrisi kurang dari
muntah, tidak nafsu makan kebutuhan
- Pasien mengatakan sering
mual dan muntah, terutama
setelah makan
- Pasien mengatakan saat pagi
hari sulit untuk menelan

39
- Pasien mengatakan berat
badan turun
- Keluarga pasien mengatakan
bahwa pasien diminta untuk
mengurangi konsumsi buah
dan sayur
DO :
- BB = 53 kg, TB = 164 cm,
IMT = 19,948 kg/m2 (normal)
- Pasien tampak menghabiskan
setengah porsi makanan dari
rumah sakit
- Pasien tampak mual dan
muntah kurang lebih 3x
2. DS : Pola asuh yang Kurang
- Pasien mengatakan sebelum salah pengetahuan
sakit frekuensi makan 3 x/hari tentang diet
tetapi waktunya tidak teratur makanan seimbang
- Pasien mengatakan sebelum
sakit sering jajan di warung
karena bekerja di luar kota
- Pasien mengatakan suka
semua makanan kecuali
makanan yang dilarang
agama (bangkai, darah,
daging anjing, babi)
- Pasien mengatakan kalau
terburu-buru makanan hanya
dikunyah sampai kasar
- Pasien mengatakan sebelum
makan tidak cuci tangan dan

40
berdoa
- Keluarga pasien mengatakan
bahwa pasien sering merasa
lapar sehingga frekuensi
makan tidak teratur
DO : -

D. Diagnosa Keperawatan
(1) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
mual, muntah, dan anoreksia yang ditandai dengan pasien mengatakan
mual, muntah, tidak nafsu makan, pasien mengatakan sering mual dan
muntah, terutama setelah makan, pasien mengatakan saat pagi hari sulit
untuk menelan, pasien mengatakan berat badan turun, keluarga pasien
mengatakan bahwa pasien diminta untuk mengurangi konsumsi buah dan
sayur, BB = 53 kg, TB = 164 cm, IMT = 19,948 kg/m2 (normal), pasien
tampak menghabiskan setengah porsi makanan dari rumah sakit, dan pasien
tampak mual dan muntah kurang lebih 3x.
(2) Kurang pengetahuan tentang diet makanan seimbang berhubungan dengan
pola asuh yang salah ditandai dengan pasien mengatakan sebelum sakit
frekuensi makan 3 x/hari tetapi waktunya tidak teratur, pasien mengatakan
sebelum sakit sering jajan di warung karena bekerja di luar kota, pasien
mengatakan suka semua makanan kecuali makanan yang dilarang agama
(bangkai, darah, daging anjing, babi), pasien mengatakan kalau terburu-
buru makanan hanya dikunyah sampai kasar, pasien mengatakan sebelum
makan tidak cuci tangan dan berdoa, dan keluarga pasien mengatakan
bahwa pasien sering merasa lapar sehingga frekuensi makan tidak teratur.

41
E. Rencana Keperawatan
Nama pasien : Tn. W
Usia : 48 tahun
Diagnosa : CKD, HT, DM
Diagnosa Tujuan/
No. Intervensi Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil
1. Rabu, 11 Juni 2014 Rabu, 11 Juni Rabu, 11
20.30 WIB 2014; 20.35 Juni 2014;
WIB 20.40 WIB
Ketidakseimbangan Setelah - Beri - Meminimalka
nutrisi kurang dari diasuh selama makanan n refluks
kebutuhan 3x24 jam sedikit demi makanan dari
berhubungan dengan pasien dapat sedikit lambung
mual, muntah, dan memenuhi - Beri minum - Merelaksasi
anoreksia yang kebutuhan hangat otot
ditandai dengan nutrisinya sebelum esophagus
pasien mengatakan dengan makan dan dan mencegah
mual, muntah, tidak kriteria hasil : setelah refluks
nafsu makan, pasien - Pasien bangun makanan dari
mengatakan sering mengatakan tidur lambung
mual dan muntah, tidak mual - Dorong - Mengalihkan
terutama setelah - Pasien keluarga perhatian
makan, pasien menghabisk dan orang pasien dari
mengatakan saat pagi an satu terdekat rasa mual dan
hari sulit untuk porsi untuk meingkatkan
menelan, pasien makanan menemani aspek sosial
mengatakan berat yang pasien saat
badan turun, keluarga disajikan sedang
pasien mengatakan - Pasien makan
bahwa pasien diminta tidak - Ajarkan - Menurunkan
untuk mengurangi muntah pasien rasa

42
konsumsi buah dan untuk ketidaknyama
sayur, BB = 53 kg, melakukan nan mulut
TB = 164 cm, IMT = perawatan akibat mual
19,948 kg/m2 mulut dan muntah
(normal), pasien sesering
tampak mungkin
menghabiskan - Observasi - Mengidentifi
setengah porsi jumlah kasi
makanan dari rumah konsumsi pemasukan
sakit, dan pasien makanan, nutrisi dan
tampak mual dan perhatikan gejala yang
muntah kurang lebih adanya dapat
3x. mual dan menurunkan
muntah pemasukan
nutrisi
- Kelola - Mengurangi
pemberian rasa mual dan
terapi obat muntah
anti mual
(Ondancent
ron 3x8mg)
- Kolaborasi - Makanan
dengan ahli lunak lebih
gizi mudah
mengenai dicerna dalam
diet yang lambung
sesuai
(makanan
lunak) : diet
rendah
garam,

43
rendah
protein,
cukup
kalori

2. Rabu, 11 Juni 2014; Rabu, 11 Juni Rabu, 11


20.45 WIB 2014; 20.50 Juni 2014;
WIB 21.00 WIB
Kurang pengetahuan Setelah - Beri edukasi - Edukasi
tentang diet makanan diasuh selama kepada memberi
seimbang 3x24 jam pasien dan pengetahuan
berhubungan dengan pasien dapat keluarga tambahan dan
pola asuh yang salah meningkatkan mengenai kemandirian
ditandai dengan pengetahuann makanan bagi pasien
pasien mengatakan ya mengenai yang sehat dan keluarga
sebelum sakit diet makanan dan bergizi dalam
frekuensi makan 3 yang seimbang memenuhi
x/hari tetapi waktunya seimbang kebutuhan
tidak teratur, pasien dengan nutrisinya
mengatakan sebelum kriteria hasil : - Kaji - Pengkajian
sakit sering jajan di - Frekuensi frekuensi merupakan
warung karena makan makan dan langkah
bekerja di luar kota, pasien 3x porsi makan mengumpulk
pasien mengatakan sehari pasien tiap an data dasar
suka semua makanan dengan kali makan berkelanjutan
kecuali makanan yang waktu yang untuk
dilarang agama teratur memantau
(bangkai, darah, - Pasien perubahan
daging anjing, babi), mengataka dan
pasien mengatakan n telah mengevaluasi

44
kalau terburu-buru memahami intervensi
makanan hanya makanan Rabu, 11 Juni
dikunyah sampai yang sehat 2014; 21.05
kasar, pasien dan bergizi WIB
mengatakan sebelum seimbang - Beri - Pengunyahan
makan tidak cuci - Pasien pengetahuan sampai halus
tangan dan berdoa, mengunyah epada pasien meringankan
dan keluarga pasien makanan untuk kerja
mengatakan bahwa kurang mengunyah lambung
pasien sering merasa lebih 30 x makanan dalam
lapar sehingga atau sampai kurang lebih mencerna zat
frekuensi makan tidak halus 30 kali atau makanan
teratur. - Sebelum sampai halus
makan - Ajarkan - Cuci tangan
pasien cuci kepada merupakan
tangan pasien untuk salah satu
terlebih mencuci langkah
dahulu tangan pencegahan
bersih kuman yang
sebelum dan dapat masuk
sesudah ke tubuh
makan melalui
tangan

45