Anda di halaman 1dari 12

TUGAS ORGANISASI DAN LINGKUNGAN

(Polemik Penyerapan Dana Perimbangan di Kabupaten Malaka Nusa Tenggara Timur)

Dosen Pengampu : Prof. Dr. Abdul Halim M.B.A., Ak., CA.

Nama : Ayuvera Rifani Ray

NIM : 447384

Kelas : MAK-40/A

MAGISTER AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

UNIVERSITAS GADJAH MADA

2019
PENDAHULUAN

Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam menjalankan pemerintahannya menerapkan

sistem desentralisasi yang diimplementasikan dalam bentuk otonomi daerah. Salah satu agenda

reformasi yang dicita-citakan untuk dicapai adalah pemberian otonomi daerah yang seluas-

luasnya. Untuk merealisasikan agenda tersebut pada tahun 1999 terbentuklah dua undang-undang

yang dikenal dengan undang-undang Otonomi Daerah, yaitu UU No. 22 tahun 1999 tentang

Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara

Pemerintah Pusat dan Daerah. Undang-undang ini mengatur wewenang otonomi yang diberikan

luas kepada pemerintah tingkat kabupaten dan kota. Dengan adanya peraturan tersebut, kedudukan

tertinggi di suatu wilayah kabupaten atau kota adalah kepala daerah di tingkat lokaltanpa

bergantung pada gubernur. Setiap bupati dan walikota memiliki kewenangan penuh untuk

mengelola daerah kekuasaannya. Keleluasaan atas kekuasaan yang diberikan kepada bupati atau

walikota dibarengi dengan mekanisme kontrol (checks and balances) yang memadai antara

eksekutif dan legislatif. Kebijakan di daerah juga dapat ditentukan sendiri di tingkat daerah atas

kesepakatan pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD). Undang-undang

juga mengatur bahwa setiap peraturan daerah dapat langsung dinyatakan berlaku setelah disepakati

sejauh tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang lebih tinggi tingkatannya.

Penyelenggaran desentralisasi ini tentu saja memerlukan sumber pendanaan yang besar.

Penyelenggaraan fungsi pemerintahan daerah akan terlaksana secara optimal apabila

penyelenggaraan urusan pemerintahan diikuti dengan pemberian sumber-sumber penerimaan yang

cukup kepada daerah. Sesuai pasal 5 UU No. 33 tahun 2004, sumber pendapatan daerah dalam

rangka pelaksanaan desentralisasi terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan,

dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah. Pendapatan Asli Daerah (PAD), yaitu pendapatan yang
diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-

undangan. PAD bertujuan memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mendanai

pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudan desentralisasi.

Sumber PAD sebagaimana disebutkan dalam pasal 6 UU No 33 Tahun 2004 berasal dari : Pajak

Daerah; Retribusi Daerah; hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan (Perusahaan

Daerah); dan lain-lain PAD yang Sah. Untuk pendapatan lain-lain PAD yang Sah meliputi hasil

penjualan kekayaan Daerah yang tidak dipisahkan; jasa giro; pendapatan bunga; keuntungan

selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing; dan komisi, potongan, ataupun bentuk lain

sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh Daerah. Kemudian,

Lain-lain pendapatan daerah yang sah merupakan seluruh pendapatan Daerah selain pendapatan

asli daerah dan dana perimbangan, yang meliputi hibah, dana darurat, dan lain-lain pendapatan

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya, Dana Perimbangan yaitu

dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai

kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana perimbangan adalah dana yang

bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan

daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, yang terdiri atas Dana Bagi Hasil (DBH), Dana

Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Dana Alokasi Umum (DAU), adalah

dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan

kemampuan keuangan antar-Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan

Desentralisasi. Dana Alokasi Khusus (DAK), adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN

yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan

khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. Dana Bagi Hasil

(DBH), adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah
berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan

Desentralisasi. Kebijakan perimbangan keuangan atau ditekankan pada empat tujuan utama, yaitu:

 memberikan sumber dana bagi daerah otonom untuk melaksanakan urusan yang

diserahkan yang menjadi tanggungjawabnya;

 mengurangi kesenjangan fiskal antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dan

antar pemerintah daerah,

 meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan publik dan mengurangi kesenjangan

kesejahteraan dan pelayanan publik antar daerah; serta

 meningkatkan efisiensi, efektifitas dan akuntabilitas pengelolaan sumber daya

daerah, khususnya sumber daya keuangan.

Dalam makalah ini, akan dibahas lebih rinci mengenai Dana Perimbangan khususnya Dana

Alokasi Khusus di bidang Pendidikan yang diberikan kepada Pemerintah Kabupaten Malaka, Nusa

Tenggara Timur.
PEMBAHASAN

Kabupaten Malaka adalah Daerah Otonomi Baru (DOB) hasil pemekaran dari Kabupaten

Belu. Secara yuridis Kabupaten Malaka terbentuk dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2013

tanggal 11 Januari 2013 tentang Pembentukan Kabupaten Malaka di Propinsi Nusa Tenggara

Timur. Wilayah Kabupaten Malaka terdiri dari 12 Kecamatan yaitu Kecamatan Malaka Barat,

Kecamatan Rinhat, Kecamatan Wewiku, Kecamatan Weliman, Kecamatan Malaka Tengah,

Kecamatan Sasitamean, Kecamatan Botin Leobele, Kecamatan Io Kufeu, Kecamatan Malaka

Timur, Kecamatan Laenmanen, Kecamatan Kobalima dan Kecamatan Kobalima Timur.

Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus memberikan perhatian

kepada pemerintah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur termasuk kepada Kabupaten

Malaka. Sebagai sebuah kabupaten baru di wilayah Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Malaka

mendapat perhatian lebih dari pemerintah khususnya pemerintah pusat dalam hal ini adalah dengan

pengalokasian anggaran pendidikan yang cukup besar. Kabupaten Malaka mendapat Dana Alokasi

Khusus (DAK) Pendidikan mencapai angka 25 Milliar di tahun 2019. Dana ini akan dimanfaatkan

untuk merenovasi sekolah dasar di Kabupaten Malaka. Renovasi yang dilakukan bisa berupa rehab

ringan atau rehab berat sesuai dengan kondisi fisik masing-masing sekolah.

Desentralisasi sebagai sebuah sistem pendelegasian wewenang dalam membuat keputusan

dan kebijakan kepada orang-orang pada level bawah dalam hal ini adalah kepada pemerintah

daerah diharapkan dapat menggali potensi setiap daerah yang pasti berbeda-beda. Misalnya saja

pada sistem pendidikan yang terbaru, tidak lagi menerapkan sistem pendidikan sentralisasi

melainkan sistem otonomi daerah atau otda yang memberikan wewenang kepada pemerintah

daerah untuk mengambil kebijakan yang tadinya diputuskan seluruhnya oleh pemerintah pusat.

Pendidikan termasuk bidang yang didesentralisasikan ke pemerintah kota atau kabupaten. Melalui
desentralisasi pendidikan diharapkan permasalahan pokok pendidikan yaitu masalah mutu,

pemerataan, relevansi, efisiensi dan manajemen, dapat terpecahkan. Dengan pemberian Dana

Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan mencapai angka 25 Milliar di tahun 2019 untuk Kabupaten

Malaka maka diharapkan pendidikan di Kabupaten ini dapat ditingkatkan dan mampu bersaing

dengan kabupaten-kabupaten sekitar. Alokasi anggaran tersebut untuk membiayai pendidikan

aparatur dan masyarakat Kabupaten Malaka yang dilakukan berdasarkan visi, misi dan program

prioritas daerah yang tertuang dalam Peraturan Daerah Kabupaten Malaka Nomor 16 Tahun 2016

tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Malaka Tahun

2016 - 2021. Perbaikkan infrastruktur dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi

fokus utama bagi Pemerintah Daerah Malaka. Untuk mengimplementasikan program prioritas

tersebut, Pemerintah Daerah dalam hal ini Bupati bersama jajarannya dan DPRD Kabupaten

Malaka telah mengalokasikan dana sebesar 9 Milliar. Terbukti dengan penyaluran dana tersebut

untuk membiayai para mahasiswa asal Malaka yang berkuliah dari jenjang D-3 hingga S2 di

berbagai kampus baik di Provinsi Nusa Tenggara Timur ataupun di Provinsi lain di Indonesia.

Sejumlah kampus yang menjadi tempat kuliah mahasiswa Malaka diantaranya seperti Undana

Kupang, Unika Kupang, Muhamadiyah Kupang, Universitas Tribuana Tungga Dewi Malang, ITN

Malang, Mercu Buana Malang, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Universitas Dr.

Soetomo, Politeknik Kesehatan (Poltekes) Kupang, Institut Ilmu Pemerintahan Cilandak, IPDN

Jatinangor, Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Udayana Denpasar dan STISIP Fajar

Timur.

Dengan adanya desentralisasi diharapkan setiap daerah mampu mengembangkan semua

potensi yang ada agar dapat lebih berkembang dengan pemberian wewenang kepada pejabat

daerah untuk dapat menjalankannya sebagaimana sesuai dengan aturan yang sudah dibuat
mengenai sistem tersebut. Akan tetapi, ditengah masa pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK)

Pendidikan yang mencapai angka 25 Milliar, muncul sebuah berita tidak mengenakkan bagi

masyarakat Malaka. Aliansi Rakyat Anti Korupsi (ARAKSI) akhirnya secara resmi melaporkan

dugaan korupsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Malaka oleh Bupati

dan Ketua DPRD ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dugaan Korupsi APBD Kabupaten

Malaka senilai Rp 25 Miliar yang di peruntukkan kepada Yayasan Pendidikan Milik Bupati dan

Ketua DPRD Kabupaten Malaka yaitu Yayasan STISIP Fajar Timur. ARAKSI menilai terdapat

indikasi korupsi, karena uang negara disalurkan kepada yayasan yang merupakan milik

perseorangan atau perusahaan pribadi. Saat ini, kasus dugaan korupsi APBD tersebut masih

diproses oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Adanya penerapan otonomi daerah bukannya tanpa dampak negatif. Dalam menjalankan

pemerintahan daerah, setiap pemerintah daerah diberikan wewenang untuk mengelola keuangan

daerahnya masing-masing. Hal ini memungkinkan pemerintah daerah melakukan kecurangan

karena kurangnya pengawasan dari pemerintah pusat. Pemerintah daerah juga dapat berpotensi

melakukan tindak Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Keberadaan ‘dinasti pemerintahan’

dalam beberapa pemerintah daerah di Indonesia yang beberapa waktu lalu ramai diberitakan juga

merupakan satu poin minus bagi sistem desentralisasi atau otonomi daerah. Dengan terjadinya

nepotisme memungkinkan para pemimpin daerah untuk melakukan ‘kongkalingkong’ dalam

melakukan anggaran keuangan pemerintahannya, sehingga dana perimbangan yang seharusnya

digunakan untuk membangun daerah malah hanya dinikmati oleh beberapa kalangan. Dalam kasus

Kabupaten Malaka, mencuat keberadaan politik “dinasti pemerintahan”. Hal ini disebabkan

dengan fakta bahwa beberapa jabatan strategis di wilayah Kabupaten Malaka dipegang oleh orang-

orang yang secara khusus memiliki hubungan dekat dengan Bupati Malaka saat ini. Hal ini terlihat
dari sejumlah keluarga kandung dan kerabat Bupati Malaka, Stef Bria Seran yang menduduki

jabatan strategis di pemerintahan Kabupaten Malaka, diantaranya:

 Ketua DPRD Kabupaten Malaka, Adrianus Bria Seran adalah adik kandung dari Bupati

Malaka.

 Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malaka, Petrus Bria Seran adalah adik kandung

Bupati Malaka.

 Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Kabupaten Malaka, Yanuarius

Bria Seran adalah adik kandung Bupati Malaka.

 Kepala Rumah Sakit Penyangga Perbatasan (RSPP) Betun, Kabupaten Malaka, dr. Oktelin

K. Kaswadie adalah isteri dari Kepala Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu,

Yanuarius Bria seran.

 Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Malaka, Veronika Flora Fahik

adalah sepupu Bupati Malaka.

 Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Malaka,

Aloysius Werang adalah suami dari Veronika Flora Fahik atau ipar Bupati Malaka.

 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka, Pascalia Frida Fahik adalah kakak kandung

dari Kepala BKD Kabupaten Malaka, Veronika Flora Fahik atau sepupu Bupati Malaka.

Fakta diatas menguatkan dugaan adanya “dinasti pemerintahan” yang terjadi di Daerah Otonom

Baru seperti Kabupaten Malaka. Perlu disadari bahwa keberadaan politik dinasti berdampak pada

tertutupnya peluang dan kesempatan masyarakat yang merupakan figur-figur berkualitas untuk

bisa bersaing secara adil untuk menduduki jabatan publik sehingga kekuasaan hanya berputar di

lingkungan elit yang berpotensi menimbulkan konspirasi kepentingan dalam menjalankan tugas

pemerintahan, Politik dinasti membuat cita-cita pemerintahan yang baik dan bersih (clean and
good governance) menjadi sulit diwujudkan sebab kontrol kekuasaan tidak berjalan secara efektif

sehingga sangat besar peluang terjadinya penyimpangan kekuasaan seperti korupsi, kolusi dan

nepotisme. Fakta-fakta yang ada makin diperkuat dengan terlibatnya beberapa kerabat dekat

Bupati yang terjerat kasus korupsi di wilayah Kabupaten Malaka. Kasus-kasus korupsi yang

beberapa diantaranya diduga melibatkan keluarga dan kerabat dekat Bupati Malaka yaitu:

 Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malaka, Petrus Bria Seran diperiksa penyidik Polres

Belu dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) SMA Wederok

senilai Rp 2,1 miliar lebih.

 Kepala Dinas Kesehatan, Paskalia Frida Fahik diperiksa penyidik Kejari Belu dalam kasus

dugaan korupsi pembangunan Rumah Tunggu Puskesmas Fahiluka senilai Rp 440 juta.

 Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Malaka, Yustinus Nahak diperiksa penyidik Kejari

Belu dalam kasus dugaan korupsi pengadaan bibit kacang hijau 22,5 ton senilai Rp 600

juta.

 Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Malaka, Yohanes Nahak diperiksa penyidik

Polres Belu dalam kasus dugaan korupsi perkuatan tebing Desa Naimana, Kecamatan

Malaka Tengah, Kabupaten Malaka senilai Rp 3.287.095.000 yang bersumber dari DAU

tahun anggaran 2016 dan Kasus dugaan korupsi pengadaan lampu sehen sebanyak 1529

unit Tahun Anggaran (TA) 2016 senilai 6.792.404.000 dan 268 unit TA 2017 senilai Rp

1.130.131.000.

Akan tetapi, kasus-kasus tersebut tidak kunjung selesai dan hanya stag pada tingkat Polres Belu

dan Kejari Belu walaupun sudah diproses selama setahun. Bupati sebagai kepala daerah Kabupaten

Malaka seharusnya bisa mendesak Polres Belu maupun Kejari Belu untuk segera mempercepat

penuntasan kasus-kasus korupsi yang sedang ditangani. Demi terciptanya pemerintahan yang baik
dan bersih (clean and good governance), maka Bupati Malaka dan Ketua DPRD Malaka

semestinya bisa menjadi figur paling terdepan untuk mencegah terjadinya kasus korupsi di dalam

tubuh Pemerintah Kabupaten Malaka. Walaupun belum ada fakta-fakta signifikan yang

membuktikan bahwa munculnya kasus-kasus korupsi di Kabupaten Malaka adalah sebagai akibat

dari politik dinasti, namun masyarakat Malaka mempunyai wewenang dan hak untuk selalu

mengawasi jalannya pemerintahan di Malaka. Oleh karena itu, penerapan desentralisasi di setiap

daerah sudah seharusnya dijalankan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku agar dapat mencapai

cita-cita dari bangsa Indonesia sendiri agar mampu menjadi sebuah Negara yang bebas dari KKN

dan dapat mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemajuan sebuah daerah berada pada ujung tombak

dari para kepala daerah yang mampu membawa perubahan kearah yang lebih baik sehingga

penerapan desentralisasi bisa berjalan dengan efektif dan efisien sesuai dengan yang diharapkan

oleh berbagai pihak termasuk Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan juga masyarakat itu

sendiri.
PENUTUP

Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam menjalankan pemerintahannya menerapkan

sistem desentralisasi yang diimplementasikan dalam bentuk otonomi daerah. Kabupaten Malaka

sebagai sebuah kabupaten baru di wilayah Nusa Tenggara Timur, mendapat perhatian lebih dari

pemerintah khususnya pemerintah pusat dalam hal ini adalah dengan pengalokasian anggaran

pendidikan yang cukup besar. Kabupaten Malaka mendapat Dana Alokasi Khusus (DAK)

Pendidikan mencapai angka 25 Milliar di tahun 2019. Akan tetapi, ditengah masa pemanfaatan

Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan yang mencapai angka 25 Milliar, muncul sebuah berita

tidak mengenakkan bagi masyarakat Malaka yaitu kasus dugaan korupsi oleh Bupati dan Ketua

DPRD Malaka. Hal ini diperkuat oleh sejumlah fakta terkait sejumlah posisi penting yang diisi

oleh saudara dan kerabat dekat dari Bupati Malaka memunculkan isu politik “dinasti

pemerintahan” yang sangat dikhawatirkan oleh masyarakat Malaka pada umumnya. Oleh karena

itu, sudah seharusnya pemberian dan pelaksanaan desentralisasi atau otonomi daerah harus

didasarkan pada aturan-aturan yang berlaku sehingga dapat mencapai tujuan desentralisasi yang

diharapkan agar penerapan desentralisasi bisa berjalan dengan efektif dan efisien sesuai dengan

yang diharapkan oleh berbagai pihak termasuk Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan juga

masyarakat itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri. 2013. Dana

Perimbangan, sumber Pendapatan Daerah Terbesar. Sumber elektronik diakses dari

http://keuda.kemendagri.go.id/artikel/detail/24-dana-perimbangan--sumber-pendapatan-

daerah-terbesar . Diakses pada 1 November 2019 Pukul 13:22

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. Apa saja sumber-sumber pendapatan daerah.

Sumber elektronik diakses dari http://www.djpk.kemenkeu.go.id/?ufaq=apa-saja-sumber-

sumber-pendapatan-daerah . Diakses pada 1 November 2019 Pukul 13:25

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. Apa saja jenis-jenis dana perimbangan.

Sumber elektronik diakses dari http://www.djpk.kemenkeu.go.id/?ufaq=apa-saja-jenis-

jenis-dana-perimbangan . Diakses pada 1 November 2019 Pukul 13:25

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33. 2004. Tentang Perimbangan Keuangan

Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Sumber elektronik diakses dari

https://luk.staff.ugm.ac.id/atur/UU33-2004PerimbanganKeuanganLengkap.pdf . Diakses

pada 1 November 2019 Pukul 14:04

Website Resmi Pemerintah Kabupaten Malaka. Sejarah Singkat Kabupaten Malaka.

Sumber elektronik diakses dari http://portal.malakakab.go.id/?page_id=51 . Diakses pada 2

November 2019 Pukul 00:20