Anda di halaman 1dari 4

PASTI ADA JALAN KELUAR

Andi Faizal

STKIP NAHDLATUL ULAMA INDRAMAYU

Bagi sebagian orang kuliah hanya pantas untuk orang kaya. Tetapi bagi
Andi yang hidup penuh dengan kesederhanaan kuliah bukan soal kaya ataupun
miskin. Karena tidak sedikit orang yang status sosialnya sejajar atau bahkan lebih
parah darinya dapat mengeyam pendidikan di perguruan tinggi.

Andi Faizal. Dia adalah salah satu mahasiswa penerima bidikmisi


angkatan 2017. Ucapan syukur tidak henti-hentinya ia ucapkan kepada Tuhan saat
diterima pada salah satu perguruan tinggi dan diterima menjadi mahasiswa
penerima bidikmisi. Haru. Bahagia. Emosional. Dan merasa tidak percaya
melebur dalam perasaannya.

Menduduki bangku perkuliahan memang impian Andi semenjak kecil.


Namun, ia tidak pernah membayangkan impiannya itu dapat terwujud. Karena
begitu banyak persoalan yang bisa saja menghambatnya untuk melajutkan
pendidikan, terutama sekali persoalan ekonomi. Terlebih ia adalah satu-satunya
anak lelaki dalam keluarganya. Dia mempunyai empat saudara, satu di antaranya
adalah adik. Itu menjadikan dirinya begitu semangat sekaligus dilematis. Di satu
sisi ada secercah harapan keluarga dan orang-orang sekelilingnya. Harapan yang
membuatnya semakin semangat menuntut benih-benih ilmu pengetahuan.
Meskipun merasa terbebani, baginya beban itu dijadikan sebagai motivasi agar ia
semakin bersemangat menimba ilmu. Selain itu, ia juga sangat mencintai ilmu
pengetahuan. Dan karena alasan tersebut ia sangat bahagia dapat melanjutkan
pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Semenjak SMP Andi sudah sangat mencintai ilmu pengetahuan. Selain


pendidikan formal ia juga menimba ilmu di pesantren yang ada di tetangga
desanya. Sore hari menjelang magrib adalah waktu dia berangkat ke pesantren dan
mengikuti semua kegiatan di sana. Ia tidak pulang. Ia baru akan pulang pagi
harinya pukul enam untuk kemudian berangkat ke sekolah. Begitu rutinitasnya
dari SMP hingga SMA. Ia berangkat ke pesantren dengan mengayuh sepeda
bututnya atau tidak jarang dengan berjalan kaki. Tetangga-tetangganya sering
bertanya kepadanya, “kamu tidak capai apa tiap hari bolak-balik pesantren-
rumah-sekolah?” ia hanya menjawab, “saya senang, Bu, Pak.” Ibunya juga
sering mengatakan kalau ia sedang sakit, “Nak, kalau lagi tidak enak badan ke
pesantrennya libur dulu saja.” Tetapi ia masih tetap semangat belajar meski
sedang sakit, lelah ataupun hujan. Padahal pada pesantren yang dibilang baru
tersebut belum seketat pesantren-pesantren pada umumnya. Namun karena
kecintaan dan kesemangatannya terhadap belajar ia relakan waktu istirahatnya
untuk menimba ilmu. Saat ini pun ia masih memperdalam ilmu di pesantren
tersebut meski tidak sepadat dulu dan ia juga diberikan mandat oleh gurunya
untuk mengajar di sana. Sejalan dengan fakultas yang ia tekuni, ia gunakan
kesempatan itu sebagai ajang pembelajaran menjadi pengajar yang baik.

Sedangkan di sisi yang lainnya, dia adalah sosok yang dipastikan sebagai
kepala rumah tangga sepeninggal ayahnya waktu ia berusia lima tahun. Ibunya,
sudah tujuh tahun terakhir ini menderita penyakit. Dan empat tahun terakhir
penyakitnya semakin memburuk. Banyak dokter yang memvonis ibunya
mengidap penyakit saraf kejepit, struk ringan, hingga komplikasi. Bukan hanya
dokter, di antara orang pintar yang pernah dikunjunginya juga ikut memvonis
bahwa penyakit ibunya adalah penyakit kiriman. Dia tidak terlalu menggubris
hasil tes dokter atau dugaan-dugaan seorang dukun. Karena sudah puluhan kali
ibunya berobat ke sana kemari, dan hasilnya pun bisa ditebak. Dia hanya punya
satu kesimpulan bahwa ibunya sudah tidak bisa lagi bekerja seperti waktu ia kecil.
Bagaimana ibunya bisa bekerja, untuk melakukan sesuatu yang bersifat pribadi
seperti makan, mandi, memakai baju, hingga bangun dari duduk pun perlu
bantuan orang lain. Dari penelusurannya, ibunya mengidap penyakit Parkinson,
yang sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan sepenuhnya,
yang ada hanyalah obat untuk meredakan gejala dan meningkatkan kualitas hidup
penderita. Dan karena alasan itu seharusnya ia bekerja agar dapat membiayai
kehidupan keluarga dan biaya sekolah adiknya. Saat itu, adiknya menduduki kelas
tiga SMP dan hendak melanjutkan ke SMA. Tentunya perlu biaya yang tidak
sedikit. Dua kakaknya sudah menikah dan masing-masing dikaruniai satu orang
anak. Dan yang membiayai sekolahnya sejak SMP, membiayai sekolah adiknya
sejak SD, dan biaya kehidupan sehari-hari termasuk biaya perobatan ibunya
adalah kakak nomor ke tiga. Dalam rantai keluarganya, seharusnya selepas lulus
SMA dialah yang harus melanjutkan perjuangan kakak-kakaknya dalam
menghidupi keluarga. Namun, rantai itu terputus saat tanggungjawab beralih
kepadanya. Dia lebih memilih berkuliah.

Makan saja sudah susah, sok-sokan kuliahin anak.

Tidak perlu waktu lama menunggu cemoohan tetangga. Baru menginjak


semester pertama salah satu tetangga Andi mencemooh keluarganya. Kakaknya
yang memberitahu.

“Dek, tahu belum ibu dikatain sama tetangga kita?” tanya kakaknya
dengan mata berkaca-kaca. Ia hanya menggelengkan kepala dengan raut wajah
penuh tanda tanya. “Tetangga kita bilang sama ibu, ‘makan saja sudah susah, sok-
sokan kuliahin anak’. Dan kamu tahu, setelah mendengar perkataan itu ibu
langsung masuk ke rumah dan menangis sejadi-jadinya. Sedih tahu, Dek,” lanjut
kakaknya, mulai sesenggukan.

Mendengar penjelasan kakaknya Andi terdiam. Bingung. Kacau. Sedih.


Merasa menjadi anak yang tidak tahu diri tentang kondisi keluarga. Terlebih
kakak ke tiganya itu sering mengeluh, merasa kecapaian menghidupi keluarganya
dan ingin segera menikah. Ibunya juga sering mengeluhkan masalah ekonomi
kepadanya. Kondisi tersebut yang membuatnya selalu dirundung kegelisahan.
Lalu ia berkata, “kalau seperti ini lebih baik aku berhenti kuliah saja, Kak. Aku
juga tidak mau menjadi beban kakak terus. Aku mau kerja saja agar bisa
membantu kakak membiayai adik dan perobatan ibu.”

“Kamu yakin, Dek? Bukankah ada banyak mimpi yang harus kaugapai?
Jika kamu berhenti kuliah, kakak akan merasa bersalah sekali, Dek. Kakak tidak
mau menjadi kakak yang gagal menguliahkan adik-adiknya. Cukup kakak saja
yang gagal berkuliah. Kamu dan adikmu, Yuli, harus kuliah sampai wisuda.
Kakak akan sangat bangga jika kamu dan Yuli kelak mengenakan toga,” kakaknya
menyeka air matanya.

Hening seketika.
“Sebenarnya aku juga tidak ingin hidup hanya memangku kesibukan
sebagai kuli kemudian meninggal dunia, Kak! Aku punya cita-cita tinggi! Aku
juga ingin ibu dan kakak bangga! Tetapi ….” Ia berhenti berbicara kemudian
menunduk. Ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Dia sangat ingin
melanjutkan kuliah.

Mereka berdua bergeming, tidak saling pandang wajah. Satu di antara


mereka sudah dibanjiri air mata.

“Dengarkan kakak! Kamu harus tetap kuliah. Jangan memikirkan biaya


adik dan ibu! Biar kakak yang menanggungnya. Kamu harus fokus pada
kuliahmu. Buktikan pada mereka bahwa pendidikan itu bukan hanya milik orang
kaya!” kakaknya mengusap air matanya yang sedari tadi mengalir deras.

“Terima kasih, Kak. Nanti aku cari kerja sampingan saja.” Kakaknya
memeluknya erat. Air matanya tumpah ruah yang semenjak tadi menggenang di
pelupuk. Sebagai lelaki dia gengsi menangis. Tetapi dia tidak akan menyia-
nyiakan momen itu.

Setelah mendengar nasehat kakaknya Andi kemudian mencoba melamar


pekerjaan di beberapa tempat. Kemudian ia diterima bekerja pada salah satu
tempat cuci motor dan mobil yang berjarak tidak jauh dari rumahnya. Meskipun
hasil yang didapat tidak terlalu besar karena ia hanya berkerja saat tidak ada jam
kuliah. Tetapi itu merupakan angin segar baginya untuk dapat mencukupi uang
jajan adiknya, uang dapur juga peralaatan mandi keluarganya. Untuk sampingan
lainnya ia menjualkan kerupuk milik guru ngajinya ke warung-warung. Saat uang
bidikmisi turun pun ia tidak pernah lupa membagi uangnya untuk ibu dan
adiknya. Paling tidak beban mental yang selalu berputar sejak SMA pada pikiran
sedikit berkurang, begitu pikirnya.

Akhirnya setelah beberapa masalah dan persoalan yang ia lalui, ia hanya


ingin mengambil hikmahnya. Dia masih berkuliah, menjaga harapan dan
kepercayaan pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia. Dia juga bekerja agar dapat
membantu keluarga. Dia masih melakukan hal-hal positif seperti yang diharapkan
orang-orang sekelilingnya. Dan dia bahagia.