Anda di halaman 1dari 10

FimosisA.

PengertianFimosis adalah penyempitan pada preposium, kelainan yang menyebabkan


bayi atau anak sukar berkemih.B. PenyebabAdanya smegma pada ujung propusium yang
menyulitkan bayi berkemih

23 C. Tanda dan gejalaKulit prepusium menggelembung seperti balon dan bayi/anak menangis
keras sebelum urine keluar.D. PenangananUntuk menolongnya dapat dicoba dengan melebarkan
lobang preposium dengan cara mendorong ke belakang kulit prepesium tersebut dan biasanya akan
terjadi luka.Untuk mencegah infeksi dan agar luka tidak merapat lagi.pada luka tersebut dioleskan
salep antibiotik.

24 Tindakan ini mula-mula dilakukan oleh dokter selanjutnya dirumah orang tua sendiri diminta
melakukannya seperti dilakukan dobter (pada orang barat sunat dilakukan pada seorang laki-laki
ketika masih dirawat/ ketika baru lahir.Tindakan ini dimaksudkan untuk kebersihan/mencegah infeksi
karena adanya spegma bukan karena keagamaan. Setiap memandikan bayi hendaknya preposium
didorong kebelakang kemudian ujungnya dibersihkan dengan kapas.

FimosisPengertian fimosis adalah penyempitan pada preposium, kelainan yangmenyebabkan bayi


atau anak sukar berkemih.

Penyebab Adanya smegma pada ujung prepusium yang menyulitkan bayi berkemih

Tanda dan gejala : Kulit prepusium menggelembung seperti balon dan bayi / anakmenangis keras
sebelum urine keluar.

Penanganan :Untuk menolongnya dapat dicoba dengan melebarkan lobang

preposium dengan cara mendorong kebelakang kulit prepesium tersebut dan biasanya akan terjadi
luka. Untuk mencegah infeksi dan agar luka tidak merapatlagi pada luka tersebut dioleskan salep
antibiotik. Tindakan ini mula-muladilakukan oleh dokter selanjutnya dirumah orangtua sendiri
di mintamelakukannya seperti dilakukan oleh dokter ( pada orang barat sunat dilakukan pada
seorang laki-laki kerioka masih dirawat/ketika baru lahir. Tindakan inidimaksudkan untuk kebersihan
/mencegah infeksi karena adanya spegma bukankarena keagamaan. Setiap memandikan bayi
hendaknya preposium didorongkebelakang kemudian ujungnya dibersihkan dengan kapas yang
telah dijelangdengan air matang.

Hipospadia adalah kelainan kongenital pada genitalia eksterna pria, dimana meatus uretra
terletak di bawah/ventral penis dan lebih proksimal dibanding lokasi biasanya di ujung penis.
Hipospadia berasal dari bahasa Yunani yaitu “hypo”, yang berarti bawah, dan “spadon”yang
berarti celah. Hipospadia merupakan.[1,2]
Perkembangan penis terbagi dalam dua tahapan, yakni hormone-independent danhormone
dependent. Memasuki fase hormone dependent, androgen memiliki peran dalam pemanjangan
tuberkulum genital dan fusi lipatan uretra. Kurangnya stimulasi androgen selama periode
tersebut merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan hipospadia. Faktor-faktor yang
diduga terlibat patofisiologi hipospadia antara lain faktor genetik, hormonal dan lingkungan.
Epidemiologi di Indonesia, hipospadia termasuk dalam 16 jenis kelainan kongenital yang
menjadi prioritas surveilans [2,7,16]
Diagnosis hipospadia ditegakkan melalui pemeriksaan fisik bayi baru lahir. Melalui inspeksi dan
palpasi akan ditemukan tiga karakteristik hipospadia yaitu muara meatus eksterna terletak pada
ventral penis, kurvatura penis ventral (chordee/korde), dan preputial hoodpada preputium.
Pemeriksaan penunjang dilakukan pada hipospadia berat atau dicurigai terdapat kelainan
kongenital lainnya berupa evaluasi hormonal dan genetik, serta pencitraan.[5-7]
Penatalaksanaan hipospadia adalah tindakan pembedahan yang bertujuan untuk memperbaiki
fungsi miksi, penis dapat tumbuh dengan norma dan secara kosmetik dapat diterima, serta kelak
dapat memperbaiki fungsi seksual. Tahapan-tahapan rekonstruksi meliputi perbaikan uretra dan
letak meatus (uretroplasti), menghilangkan korde (ortoplasti), pembentukan glans, rekonstruksi
preputium dan skrotum.[5-8]

Prognosis hipospadia tergantung tipe, derajat keparahan, dan hal-hal terkait prosedur
pembedahan yang dipilih. Komplikasi pada hipospadia distal lebih sedikit daripada hipospadia
proksimal. Edukasi dan promosi kesehatan hipospadia harus dijelaskan kepada orang tua
mengenai penyebab, penatalaksanaan, komplikasi dan harapan perbaikan pada penis anak.
Edukasi bertujuan meyakinkan orang tua sehingga tingkat kepuasan menjadi baik.[4,7]
Pengertian

Merupakan gangguan metabolisme ataupun endokrin yang terjadi pada bayi baru lahir.

2. Klafikasi dan penyebab


Gangguan metabolik yaitu :
• Hipertermia
• Hipotermia
• Edema, terdapat pada 150 imunisasi rhesus berat pada bayi dari ibu penderita DM.
• Tetani, biasanya ditemukan pada hipoparatiroidisme fisiologik sepintas yaitu karena berkurangnya
kesanggupan ginjal untuk mengsekresikan fosfat pada bayi yang mendapat susu buatan dan bayi dari ibu
penderita DM atau pra DM.

3. Gangguan endokrin yaitu


1. Hipoplasia adrenal congenital disebabkan oleh kekurangan ACTH sebagai akibat dari hipoplasia
kelenjar pituitary hipofungsi hipothalamus pada masa kritis embrio genesis
2. Perdarahan adrenal, disebabkan oleh trauma lahir, misalnya lahir dengan letak sungsang.
3. Hipoglikemia yaitu dimana kadar gula darah kurang dari 30 mg% pada bayi cukup bulan dan kurang
dari 20 mg % pada BBLR
4. Defesiensi tiroid, terjadi secara genetik yaitu sebagai kretinisme, tetapi juga terdapat pada bayi yang
ibunya mendapatkan pengobatan toiurasil atau derivatnya waktu hamil
5. Hipertirodisme sementara, dapat dilihat pada bayi dari ibu penderita hipertioidisme atau ibu yang
mendapat obat tiroid pada waktu hamil.
6. Gondok congenital disebabkan oleh kekurangan yodium dan terdapat didaerah gondok yang endemik
7. Hiperplasia adrenal disebabkan karena peninggian kadar kalium dan penurunan kadar natrium dalam
serum

4. Tanda dan gejala

• Untuk hipotermia akut yaitu lemah, gelisah,pernafasan dan bunyi jantung lambat dan kedua kaki
dingin.
• Untuk cold injury yaitu lemah, tidak mau minum, badan dingin, oliguria, suhu tubuh 29,5 oC – 35 oC.
gerakan sangat kurang ; muka,kaki,tangan, dan ujung hidung merah seolah-olah bayi dalam keadaan
sehat; pengerasan jaringan subkitis atau edema.
• Tetani, yaitu mudah terangsang, muscular twicthing ; tremor dan kejang.
• Hipoplasia adrenal congenital , yaitu, lemah, muntah, diare, malas minum, dehidrasi.
• Perdarahan adrenal yaitu / renjatan nadi lemah dan cepat , pucat, dingin.
• Defesiensi tiroid yaitu konstipasi ikterus yang lemah ekstremitas dingin dan pada kulit terdapat bercak
yang menetap.
• Hipertiroidisme sementara yaitu gelisah, mudah terserang, hiperaktif , eksoftalamus, takikardia dan
takipnu.
• Gondok kongenital yaitu pembebasan pembebasan kelenjar , tiroid yang dapat menimbulkan gejala
gangguan pernapasan dan dapat menyebabkan kematian hiporekstensi.

5. Penanganan.
• Hipertermia yaitu/ dengan memperbaiki suhu lingkungan dan atau pengobatan terhadap infeksi
• Hipotermia yaitu/dengan segera memesukkan bayi kedalam incubator yang suhu nya telah diatur
menurut kebutuhan bayi dan dalam keadaan telanjang supaya dapat diawasi dengan teliti
• Hipotermia sekunder yaitu/dengan mengobati penyebabnya misalnya dengan pemberian
antibiotika,larutan glukosa,o2 dan sebagainya.
• Cold injury yaitu/dengan memenaskan bayi secara perlahan-lahan,antibiotika, larutan glukosa,o2 dan
sebagainya.
• Tetani yaitu/dengan memberikan larutan kalsium glukonat 10 % sebanyak 5:10ml IV dengan perlahan-
lahan dan dengan pengawasan yang baik terhadap denyut jantung.
• Hipertiroidisme sementara yaitu dengan memberikan larutan lugol sebanyak 1 tetes 3-6 kali/sehari
atau propiltiorasil atau metimasol, pemberian cairan secara IV, sedativum dan digitalis bila terdapat
tanda gagal jantung.
• Gondok congenital yaitu dengan pengangkatan sebagai kelenjar tiroid dengan disertai pemberian
hormone tiroid bila terdapat gejala penyumbatan jalan nafas yang berat.
• Hipoplasia adrenal kongenita yaitu dengan pemberian larutan garam NaCL,deksoksikortikosteron dan
asetat .
• Hiperplasia adrenal yaitu/dengan memberikan larutan garam NaCL 0,9% ta mbah larutan glukosa seta
pemberian kortikosteroid dosis tinggi.
• Perdarahan adrenal yaitu/ dengan memberikan transfuse darah dan hidrokortison
• Hipoglikemia yaitu / dengan menyuntikkan larutan glukosa 15-20 % sebanyak 4 ml/kg BB melalui ke
vena perifer.

NEONATUS RESIKO TINGGI DAN PENATALAKSANAANNYA

1. Bayi Baru Lahir Rendah ( BBLR )

a. Konsep Dasar

Bayi Berat Lahir Rendah ( BBLR ) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2.500
gram ( sampai dengan 2.499 gram ). Sejak tahun 1961 WHO telah mengganti istilah prematur dengan
Bayi Berat Lahir Rendah ( BBLR ). Hal ini dilakukan karena tidak semua bayi yang berat kurang dari 2.500
gram pada waktu lahir bayi prematur.

Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya. Bayi berat lahir rendah dibedakan dalam :

· Bayi Berat Lahir Rendah ( BBLR ) Berat lahir 1.500-2.500 gram

· Bayi Berat Lahir Sangat Rendah ( BBLSR ) Berat lahir < 1.500 gram

· Bayi Berat Lahir Ekstrem Rendah ( BBLER ) Berat lahir < 1.000 gram

b. Klasifikasi

Bayi Berat Lahir Rendah ( BBLR ) dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu :

1. Bayi prematur Sesuai Masa Kehamilan ( SMK )

Terdapat derajat prematuritas, menurut Usher di golongkan menjadi 3 kelompok Bayi sangat Prematur
( extremely premature ) : 24-30 minggu ; Bayi premature sedang ( moderately premature ) : 31-36
minggu ; Bonderline premature : 37-38 minggu.Bayi ini mempunyai sifat premature dan
mature.Beratnya seperti bayi matur akan tetapi sering timbul masalah seperti yang dialami
bayiprematur misalnya gangguan pernafasan hiperbilirubinemia dan daya isap yang lemah.

1. Bayi prematur kecil untuk Masa Kehamilan(KMK)

Banyak istilah yang dipergunakan untuk menunjukan bahwa bayi KMK ini dapat menderita gangguan
pertumbuhan di dalam uterus ( intrauterine growth retardation =IUGR ) seperti pseudopremature ,small
for dates ,fetal malnutrion syndrome, chronisfetal distress, IUGR dan small for gestational oge ( SGA ).
Setiap bayi baru lahir (premature, matur dan postmature ) mungkin saja mempunyai berat yang tidak
sesuai dengan masa gestasinya. Gambaran kliniknya tergantung dari pada lamanya, intensitas dan
timbulnya gangguan pertumbuhan yang mempengaruhi bayi tersebut.

Ada dua bentuk IUGR menurut Renfield, ( 1975 ), yaitu:

a) Proportinate IUGR : janin menderita distress yang lama, gangguan pertumbuhan terjadi
berminggu-minggu sampai berbulan-bulan sebelum bayi lahir. Sehingga berat, panjang dan lingkaran
kepala dalam proporsi yang seimbang, akan tetapi keseluruhannya masih di bawah masa gestasi yang
sebenarnya.

b) Disproportinate IUGR : terjadi akibat distress sub akut . Gangguan terjadi beberapa minggu ,
beberapa hari sebelum janin lahir. Masa keadaan ini panjang dan lingkaran kepala normal, akan tetapi
berat tidak sesuai dengan masa gestasi. Tanda-tanda sedikitnya jaringan lemak dibawah kulit, kulit
kering, keriput dan mudah dingkat, bayi kelihatan kurus dan lebih panjang.

C. Etiologi
1. Faktor ibu

Faktor ibu merupakan hal yang dominan dalam mempengaruhi kejadian prematur:

· Toksemia gravidarum ( pre-eklampsia dan eklampsia )

· Riwayat kelahiran prematur sebelumnya, pendarahan antepartum dan malnutrisi, anemia sel
sabit

· kelainan bentuk uterus (misal : uterus bikurnis, inkompeten serviks )

· Tumor (missal: mioma uteri ,eistoma); ibu yang menderita penyakit antara lain (1) Akut dengan
gejala panas tinggi (misal: tifus abdominalis dan malaria), kronis(misal : TBC, penyakit jantung,
hipertensi, penyakit ginjal ( glomerulonefritis akut )

· trauma pada masa kehamilan antara lain jatuh

· kebiasan ibu (ketergantungan obat narkotik,rokok dan alcohol);

· usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun;

· bekerja yang terlalu berat;

· jarak hamil dan bersalin terlalu dekat;

· perdarahaan antepartum.

1. Factor janin

Beberapa factor janin yang mempengaruhi kejadian premature antara lain: kehamilan ganda,
hidramnion, ketuban pecah dini, cacat bawaan, kelainan kromosom, infeksi(misal :
rubella,sifilis,toksoplamosis),insufensi plasenta,inkomplatibilitas darah ibu dari janin(factor
resus,golongan darah A,B dan O),insfeksi dalam rahim

2. Factor lain

Selain factor ibu dan janin factor lain:factor plasenta:plasenta previa,solusio plasenta factor
lingkungan:radiasi atau zat-zat beracun;keadaan social ekonomi yang rendah ;kebiasaan: pekerjaan yang
melelahkan dari merokok.

1. Tanda dan Gejala

Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu, Berat badan sama dengan atau kurang dari
2.500 gram Panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm, lingkar kepala sama dengan atau
kurang dari 33 cm, lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm, rambut lunugo masih banyak,
jaringan lemak subkutan tipis atau kurang; tulang rawan daun telinga belum sempurna
pertumbuhannya; tumit mengkilap, telapak kaki halus; genetalia belum sempurna labia minora belum
tertutup oleh labia mayora, klitoris menonjol ( pada bayi perempuan ). Testis belum turun ke dalam
skorutom, pigmentasi dan rugue pada skorutom kurang ( pada bayi laki-laki ) tonus otot lemah sehingga
bayi kurang aktif dan penggerakannya lemah, fungsi syaraf yang belum atau tidak efektif dan tangisnya
lemah, jaringan kelenjar mammae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih
kurang, verniks kaseosa tidak ada atau sedikit bila ada.

2. Penatalaksanaan

Perawatan pada Bayi Berat Lahir Rendah ( BBLR ) :

1. Mempertahankan suhu tubuh dengan ketat. BBLR mudah mengalami hipotermi, oleh sebab itu
suhu tubuhnya harus dipertahankan dengan ketat.

2. Mencegah infeksi dengan ketat. BBLR sangat rentan dengan infeksi, perhatikan prinsip-prinsip
pencegahan infeksi termasuk mencuci tangan sebelum memegang bayi.

3. Pengawasan nutrisi/ASI refleks menelan BBLR belum sempurna, oleh sebab itu pemberian nutrisi
harus dilakukan dengan cermat.4

4. Penimbaangan ketat. Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi/nutrisi bayi dan berat
kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh sebab itu penimbangan berat badan harus dilakukan dengan
ketat.5

5. Kain yang basah secepatnya diganti dengan kain yang kering dan bersih, pertahankan suhu tetap
hangat.6

6. Kepala bayi ditutup topi, beri oksigen bila perlu7

7. Tali pusat dalam keadaan bersih8

8. Beri minum dengan sonde/tetes dengan pemberian ASI

Asfiksia Neonatorium

a. Konsep Dasar

Asfiksia Neonatorium adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan
teratur setelah lahir.

Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas spontan dan teratur, sehingga
dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan
lebih lanjut.

b. Etiologi

Beberapa factor yang dapat menimbulkan gawat janin ( Asfiksia )


1 Gangguan sirkulasi menuju janin, menyebabkan adanya gangguan aliran pada tali pusat seperti :
lilitan tali pusat, simpul tali pusat, tekanan pada tali pusat, ketuban telah pecah, kehamilan lewat waktu,
pengaruh obat, karena naarkoba saat.

2 Factor ibu, misalnya gangguan his : tetania uteri hipertoni, turunnya tekanan darah dapat
mendadak : perdarahan pada plasenta previa dan solusio plasenta

persalinan.Vaso kontriksi arterial : hipertensi pada kehamilan dan gestosis preeclampsia-eklampsia ;


gangguan pertukaran nutrisi/O2 : solusio plasenta.

3. Diagnosis

Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia/hipoksia janin. Diagnosis
aniksia/hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin.
Tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu 1. Denyut jantung janin : frekuensi normal ialah antara
120 dan 160 denyutan semenit. Apabila frekuensi denyutan turun sampai dibawah 100 permenit di luar
his dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal ini merupakan tanda bahaya

2.Mekonium dalam air ketuban : adanya mekonium pada presentasi kepala mungkin menunjukkan
gangguan oksigenasi dan gawat janin, karena terjadi rangsangan nervus X, sehingga peristaltic usus
meningkat dan sfingter ani terbuka. Adanya kekonium dalam air ketuban pada presentasi kepala dapat
merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat dilakukan dengan mudah.

3.Pemeriksaan PH darah janin : adanya asidosis menyebabkan turunnya PH. Apabila PH itu turun sampai
dibawah 7,2 hal itu di anggap sebagai tanda bahaya.

4. Penatalaksanaan

1. Tindakan umum

Bersihkan jalan nafas : kepala bayi diletakkan lebih rendah agar lendir mudah mengalir, bila perlu
digunakan larinyoskop untuk membantu penghisapan lendir dari saluran nafas yang lebih dalam.

Rangsangan reflek pernafasan : dilakukan setelah 20 detik bayi tidak memperlihatkan bernafas dengan
cara memukul kedua telapak kaki menekan tanda achiles, mempertahankan suhu tubuh.

2. Tindakan khusus/ asuhan yang diberikan oleh bidan

Pada kasus Asfiksia berat : berikan O2 dengan tekanan positif dan intermiten melalui pipa endotrakeal.
Dapat dilakukan dengan tiupan udara yang telah diperkaya dengan O2. Tekanan O2 yang diberikan tidak
30 cm H 20. Bila pernafasan spontan tidak timbul lakukan massage jantung dengan ibu jari yang
menekan pertengahan sternum 80-100 x/menit.

Asfiksia sedang/ringan : pasang relkiek pernafasan ( hisap lendir, rangsang nyeri ) selama 30-60 detik.
Bila gagal lakukan pernafasan kodok ( frog breathing ) 1-2 menit yaitu : kepala bayi ektensi maksimal
beri O2 1-2 1/mnt melalui kateter dalam hidung, buka tutup mulut dan hidung serta gerakkan dagu ke
atas-bawah secara teratur 20x/mnt.

3. Pemeriksaan Diagnostik

Untuk menentukan diagnosis bayi yang mengalami asfiksia antara lain : pemeriksaan darah kadar As :
laktat. Kadar bilirubin, kadar PaO2, PH. Pemeriksaan fungsi paru,pemeriksaan fungsi
kardiovasculer,gambaran patologi.

3. Sindrom Gangguan Pernapasan

a. Konsep Dasar

Respiratory Distress Syndrome didapatkan sekitar 5-10% kurang bulan, 50% pada bayi dengan berat
501-1500 gram. Angka kejadian berhubungan dengan umur gestasi dan berat badan.

Surfaktan adalah suatu senyawa bahan kimia yang mempunyai sifat permukaan aktif. Surfaktan dapat
diberikan sebagai profilaksis dan terapi. Sebagai profilaksis diberikan pada bayi premature kurang dari
30 minggu dengan berat badan kurang dari 1250 gram yang diberikan segera setelah lahir.Sebagai terapi
diberikan untuk bayi dengan Respiratory Distress Syndrome (Respirasi Dystress syndroma).

Respiratory Distress Syndrome disebut juga Hyaline Membrane Disease (HMD),merupakan gawat napas
yang disebabkan defisiensi surfaktan terutama pada bayi yang lahir dengan masa gestasi kurang.

Manifestasi dari Respirasi Dystress Syndroma disebabkan adanya atelektasis alveoli ,edema,dan
kerusakan sel dan selanjutnya menyebabkan bocornya serum protein ke dalam alveoli sehingga
menghambat fungsi surfaktan.

b. Patofisiologi

Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya Respirasi Dystress Syndroma pada bayi premature
disebabkan oleh alveoli masih kecil sehingga sulit berkembang,pengembangan kurang sempurna karena
dinding throax masih lemah,produksi surfaktan kurang sempurna.

Kekurangan surfaktan mengakibatkan kolaps pada alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku.Hal
tersebut menyebabkan perubahan fisiologi paru sehingga daya pengembangan paru (compliance)
menurun 25% dari normal,pernapasan menjadi berat,shunting intrapulmonal meningkat dan terjadi
hipoksemia berat,hipoventilasi yang menyebabkan asidosis respiratorik.

Gambaran radiologi tampak adanya retikulogranular karena atelektasis,dan air bronchogram.


Gejala klinis yang progresif dari Respirasi Dystress Syndroma adalah: Takipnea diatas 60x/menit,grunting
ekspiratoar,Subcostal dan interkostal retraksi,cyanosis,Nasal flaring.

c. Komplikasi

Komplikasi jangka pendek (akut) dapat terjadi :Ruptur alveoli : Bila dicurigai terjadi kebocoran udara
(pneumothorak,pneumomediastinum,pneumopericardium,emfisema intersisiel),Pada bayi dengan
Respirasi Dystress Syndroma yang tiba-tiba memburuk dengan gejala klinis hipotensi,apnea,atau
bradikardi atau adanya asidosis yang menetap.

Perdarahan intracranial dan leukomalacia periventrikular:perdarahan intraventikuler terjadi pada 20-


40% bayi prematur dengan frekuensi terbanyak pada bayi Respirasi Dystress Syndroma dengan Ventilasi
mekanik.

Komplikasi jangka panjang yang sering terjadi :


Bronchopulmonary Dysplasia (BPD): merupakan penyakitb paru kronik yang disebabkan pemakaian
oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36 minggu. BPD berhubungan dengan volume dan tekanan yang
digunakan pada waktu menggunakan ventilasi mekanik,adanya infekis,inflamsi dan defisiensi vitamin.

d. Dosis dan cara pemberian surfaktan

Dosis yang digunakan bervariasi antara 100mg/kg sampai 200mg/kg.Dengan dosis 100mg/kg sudah
dapat memberikan oksigenasi dan ventilasi yang baik,dan menurun angka kematian neonates di
bandingkan dosis kecil,tapi dosis yang lebih besar dari 100mg/kg tidak memberikan keuntungan
tambahan.Saat ini dosis optimum surfaktan yang digunakan adalah 100mg/kg.

Menurut henry ,dkk 1996 pemberian surfaktan secara nebulasi mempunyai beberapa efek samping
pada jantung dan pernapasan tetapi kurang dari 15% dosis ini akan sampai ke paru-paru.Berggren,dkk
2000 mengatakan bahwa pemberian secara nebulasi pada neonates kurang bermanfaat.

Cosmi,dkk 1997 mengusulkan pemberian secara intra amnion akan tetapitehnik tersebut sulit sulit
karena harus memasukan catheter pada nares anterior fetus dengan bantuan USG dan penggunaan
aminophilline pada ibu hamil tidak dianjurkan.

Zola, dkk 1993 menyatakan bahwa pemberian survanta 2 ml/kg sebanyak dua kali menyebabkan reflux
up endotracheal tube dibandingkan pemberian 1ml/kg sebanyak empat kali tapi pemberiannya
membutuhkan waktu yang lebih lama.
Menurut valls-i-soler dkk,1997 pemberian surfaktan via lubang samping endotrachel tube tidak
menurunkan kejadian bradikardi dan atau hipoksia,tapi menurut valls-i-Soller dkk,1998