Anda di halaman 1dari 3

KEKERASAN DALAM BERPACARAN, HANYA SOAL WAKTU

Sri Ayu Ratnasari IAIN Surakarta

Sering kita melihat belakangan ini pada berita-berita kriminal atau infotainment kasus-
kasus mengenai kekerasan dalam berpacaran yang merebak terjadi pada pasangan kekasih atau
mungkin di antara kita ada yang pernah melihat orang-orang terdekat, bahkan dirinya sendiri
mengalami kekerasan dalam berpacaran yang sekarang kerap disingkat menjadi KDP. Salah satu
kasus yang baru-baru ini terjadi adalah kasus yang menimpa seorang mahasiswi bernama LO
yang dituntut hukuman penjara selama 4 bulan. Padahal, tuduhan jaksa yang menyatakan dirinya
menyiram air panas kepada mantan pacarnya adalah semata-mata karena alasan pembelaan diri
atas perbuatan tidak senonoh pacarnya, ia telah berpacaran selama 2 tahun dan ia cukup sering
mendapatkan tindak kekerasan dari pacarnya, seperti ditampar, dijambak dan dicekik
(detiknews.com).

Kasus tersebut menunjukkan berapa lamanya mereka berpacaran dan 2 tahun tersebut
menunjukkan bahwa mereka sudah berpacaran lama. Dari fakta tersebut timbullah sebuah
pertanyaan di dalam kepala saya yaitu, “Apakah lama berpacaran dapat mempengaruhi tingkat
agresivitas seseorang terhadap pasangannya?”. Jika saya mengacu pada kasus tersebut, saya
dapat mengambil thesis statement bahwa semakin lama seseorang berpacaran, semakin
meningkat pula agresivitas orang tersebut dengan pasangannya.

Agresi yang muncul dalam hubungan berpacaran bisa muncul dalam berbagai bentuk.
Kuffel dan Katz (2002), agresi dalam hubungan berpacaran dapat dikategorikan menjadi physical
violence, psychological abuse dan sexual coercion. Mendorong, memukul, menampar dan
melempar benda-benda dapat dikategorikan dalam physical violence. Psychological abuse
sendiri dapat berupa teriakkan, penghinaan serta pemberian nama atau panggilan-panggilan
tertentu. Sedangkan sexual coercion adalah tindakan yang melibatkan pemaksaan terhadap
pasangan yang tidak menginginkan aktivitas seksual dengan menggunakan kekerasan verbal
maupun fisik (Katz, Carino & Hilton, 2002).

Tedapat banyak faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan agresi dalam
hubungan berpacaran. Sherer (2009), di dalam penelitiannya memasukkan cukup banyak
variabel yang kemungkinan dapat mempengaruhi tindak kekerasan dalam suatu hubungan
berpacaran, antara lain: karakteristik personal subjek (suku bangsa, gender, penggunaan alkohol,
self-esteem, tingkat pendidikan, religiuitas keluarga), pengaruh peer group, dan dating
relationships (lama dan/atau pentingnya hubungan tersebut). Variabel terakhir ini lah yang
menurut saya cukup menarik untuk dibahas karena masih cukup banyak diperdebatkan.

Jika kita jawab permasalahan ini menggunakan logika, pasangan yang baru menjalin suatu
hubungan akan memiliki kemungkinan yang cukup kecil untuk terjadinya kekerasan di dalam
hubungan tersebut. Pasangan baru tentu sedang menjalani suatu proses yaitu pengenalan. Pada
fenomena sehari-hari yang saya lihat dan saya alami, seseorang yang sedang dalam proses
pengenalan dengan pasangan barunya akan cenderung menampilkan sisi-sisi baiknya kepada
pasangannya. Hal ini ditujukan agar pasangan tertarik untuk menjalin hubungan lebih lanjut
dengannya dan agar pasangan tidak “lari” dari dirinya. Setelah pasangan sudah mengenal satu
sama lain, biasanya akan lebih mudah bagi seseorang untuk berbuat sesuatu yang ia inginkan
kepada pasangangannya tanpa merasa sungkan. Hal-hal tersebut termasuk pada tindakan-
tindakan yang kadang menyakitkan bagi pasangan, seperti membentak atau memukul.

Selain itu, pasangan yang baru menjalani suatu hubungan biasanya belum memiliki
konflik di dalam hubungannya. Hal ini bisa jadi disebabkan karena perasaan cinta yang
ditunjukkan kepada pasangan pun masih cenderung intens dan menggebu-gebu. Biasanya, pada
pasangan yang sudah lama menjalin hubungan, akan timbul konflik-konflik yang dapat
memancing emosi dan kemarahan masing-masing pasangan. Ketika emosi tersebut memuncak,
maka tindakan agresif juga memiliki kemungkinan untuk muncul dan dilampiaskan kepada sang
pasangan. Komitmen yang terjalin pada pasangan baru juga belum sedalam dan seserius
pasangan yang sudah lama menjalin hubungan. Hal ini dikarenakan pasangan baru masih belum
banyak membicarakan hal-hal yang lebih dalam mengenai hubungan yang mereka jalani. Jika
sudah lebih sering membicarakan topik-topik yang berkaitan dengan hubungan, biasanya
pasangan akan lebih sensitif dengan kondisi hubungan mereka.

Tidak hanya fenomena dan pengalaman sehari-hari yang dapat menjawab permasalahan
ini. Terdapat beberapa jurnal yang menunjukkan hasil yang dapat mendukung thesis statement
saya sebelumnya. Dalam Hammock dan O’Hearn (2002) disebutkan bahwa dimensi keseriusan
dan lama berpacaran memiliki hubungan dengan tingkat agresivitas dalam berpacaran, walaupun
terdapat aspek-aspek lain yang juga mempengaruhinya. Tingkat keseriusan dan lama berpacaran
dapat mempengaruhi agresivitas dalam suatu hubungan karena berkaitan dengan waktu yang di
habiskan bersama pasangan. Hubungan yang sudah lama, di mana pasangan sudah
menghabiskan waktu cukup sering dengan yang lainnya, akan cenderung memunculkan
agresivitas dibandingkan dengan pasangan yang baru atau pasangan yang jarang bertemu
(Hammock & O’Hearn, 2002). Dengan kata lain, semakin sering seseorang berinteraksi dengan
pasangannya, maka akan meningkat pula posibilitas munculnya konflik dalam suatu hubungan
sehingga dapat juga memunculkan agresi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Shulman dan
Scharf (2000, dalam Rivera, 2008) juga menyebutkan bahwa lamanya berpacaran meningkatkan
komitmen dan kedekatan yang mungkin menyebabkan resiko munculnya agresi pada suatu
hubungan. Hal ini sebagian besar terjadi pada laki-laki di mana ketika suatu hubungan telah
memiliki komitmen, maka ia akan merasa dapat mengontrol pasangannya melalu kekerasan fisik
dengan tujuan untuk menunjukkan dominansinya (Sherer, 2009).

Namun ternyata, ada pula penelitian yang tidak menemukan adanya pengaruh dari lama
berpacaran dengan agresivitas terhadap pasangan. Penelitian Smith (2010) terhadap siswa-siswi
African-American pada dua sekolah menengah awal yang masing-masing memiliki 700 siswa
menunjukkan tidak adanya hubungan antara lamanya berpacaran dengan kekerasan dalam
hubungan berpacaran. Hasil yang sama juga ditemukan pada penelitian yang dilakukan oleh
Sherer (2009) pada remaja Arab, akan tetapi sampel yang digunakan untuk kedua penelitian ini
merupakan remaja pada usia sekolah menengah awal yang sebagian besar belum pernah
menjalani hubungan berpacaran yang lama. Hal ini tidak dapat dibandingkan dengan hasil
penelitian-penelitian sebelumnya yang lebih banyak menggunakan sampel dengan usia sekolah
menengah atas dan mahasiswa yang sebagian besar sudah lebih serius dalam menjalani suatu
hubungan berpacaran sehingga lamanya hubungan tersebut juga cenderung panjang.

Dari pemaparan di atas, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa benar, semakin lama
seseorang berpacaran, maka akan semakin meningkat pula tingkat agresivitas orang tersebut
kepada pasangannya. Tingkat agresivitas tersebut dapat dilihat dari perilaku agresif, baik secara
fisik, psikologis maupun kekerasan seksual yang ditujukan kepada pasangannya. Fenomena ini
pun sudah sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari bahkan telah dibuktikan kebenarannya
melalui beberapa penelitian mengenai kekerasan terhadap hubungan berpacaran.