Anda di halaman 1dari 180

Prolog

120K 7.7K 747

oleh madani_

JIKA memang yakin Allah maha membolak balikan hati, lantas mengapa masih mengemis cinta
manusia? Hal itu yang membuat saya enggan membahas perkara jodoh dan pasangan hidup. Pikiran
saya terlalu sibuk memperbaiki diri, memperbaiki masa lalu yang sama sekali tidak bisa diperbaiki. 2

Sampai hati ini terlalu kaku untuk menyadari perasaan yang diberikan Al-Wadud, perasaan tabu
bernama 'cinta' dari Sang Maha Mencintai.

Qorun dibunuh karena kecintaan kepada harta benda. Begitupun Fir'aun yang ditenggelamkan oleh
cintanya terhadap kedudukan. Ketakutan menguasai diri, saya takut perasaan yang muncul adalah
perasaan yang melalaikan.

Hati ini enggan mengakui bahwa ia telah jatuh.

Tapi disisi lain Hamzah, Ja'far dan Hanzhalah mati karena cintanya kepada Allah dan Rasulnya. Lalu
kenapa setelah kecintaan kepada Allah dan Rasulnya, harus ada cinta yang lain? Seseorang yang
membuat saya merasa dispesialkan.

Ya, anak itu, dia mangusik pikiran saya, melangkah dihati saya dan akhirnya membuat saya terluka.

Dia menyukai teman kecilnya dan teman kecilnya itu menyukai kakaknya sendiri. Bukankah
kehadiran saya hanya akan menjadi beban? Lagipula dengan umur kami yang terpaut jauh membuat
saya tidak bisa memahami dunianya.
Saya tidak pandai mengungkapkan, saya juga sadar diri pada siapa saya jatuh cinta. Jika memang
Allah mentakdirkan hati saya jatuh pada perempuan yang tidak bisa bersama saya, maka akan saya
simpan perasaan ini dalam-dalam.

Hanya takut jika di ungkapkan pun seisi dunia yang menertawakan.

Nafisya Kaila Akbar, anak manja, jika kamu membaca ini, kamu harus tau bahwa mencintai kamu
adalah perjalanan yang panjang bagi saya. Satu hal salah yang telah kamu pahami, bahwasannya
menikah bukanlah jalan keluar menyelesaikan masalah, namun awal dimana masalah-masalah baru
akan muncul. 4

Jangan mengasihani saya karena sejak dulu bukan kamu yang memberi harap, tapi saya yang terlalu
berharap. Bukan kamu yang tidak peduli, tapi saya yang terlalu ingin dipedulikan. 3

Karena simpul halal telah menyatukan kita dengan cara-Nya yang begitu unik, ijinkan saya menjadi
satu-satunya pria yang berdiri didepan mu sambil mengucap takbir, menjadi satu-satunya pria yang
memimpin mu ketika kening bertemu bumi, ijinkan saya menjawab—

"Wa'alaikumsalam, pelengkap iman"

1. Perempuan Bermata Hazel

85.3K 6K 971

oleh madani_

Kelak hati ini akan bersaksi, mata ini akan berkata, bahwa dia telah berdosa karena memandangnya
terlalu lama. 9

🍁🍁🍁
KENYANG rasanya, menyuapi harapan dengan semangkuk angan-angan manis tentang perempuan
bernama Nafisya Kaila Akbar. Terlalu sering bergelut dengan ego membuat diri ini terkadang sedikit
merasa lelah.

Katanya level tertinggi jatuh cinta itu adalah mengikhlaskan. Tapi akan lebih tinggi lagi ujiannya
apabila Allah telah menyatukan tapi saling ingin memisahkan. Bukankah kemenangan iblis dan bala
tentaranya terletak pada perpisahan? Perceraian lebih tepatnya.

Seperti saya dan Nafisya sekarang, mungkin Allah memang mengabulkannya, membuat saya
bersanding dengannya. Namun jujur, diri ini terlalu takut membuatnya kecewa, atau terlalu takut
dikecewakan? Entahlah, kami hanya saling bertahan untuk tidak menyakiti satu sama lain, untuk tidak
membuat iblis menang dengan strateginya.

Bukankah suami itu nahkoda dalam sebuah kapal? Maka kemana kapal ini akan berlayar ketika
menghadapi badai kecil saja kadang saya tak sanggup.

"Sya... Udah hampir jam tujuh" teriak saya. Allahuakbar, apa yang dilakukannya dikamar mandi
selama berjam-jam? Menunggu Nafisya berkutik di kamar mandi sama lamanya dengan melakukan
operasi cangkok organ, harus penuh kesabaran. 2

Katanya dia ada kelas pagi ini. Melirik jam dinding yang tinggal lima belas menit lagi membuat saya
merasa cemas sendirian, pasalnya ada biopsi pagi ini.

"Iya..." balasnya berteriak.

Saya tidak sebaik apa yang Nafisya ceritakan, saya bukan suami idaman bukan pula imam rumah
tangga yang baik, saya meyakini satu hal bahwa tidak ada laki-laki yang sempurna sebagai suami setelah
wafatnya Rasulullah.
Jika kalian mencari yang sempurna, sampai kiamat pun kalian tidak akan pernah berhenti
membandingkan. 2

Saya pun pernah cemburu, pernah marah, selalu merasa benar, merasa diri pantas padahal belum
pantas sama sekali. Jika disuruh bertarung menggapai sakinah, saya akan memilih menggapai sakinah
dalam majelis ilmu dibanding dalam pelukan istri.

Sesekali perkataan Huda sering membayangi, bukan hanya Nafisya yang harus yakin dengan
pernikahan ini, tapi saya juga, sebab ketika perempuan telah menjatuhkan pilihannya maka dia telah
yakin akan kepemimpinan saya kelak.

Maka bukan hanya Nafisya yang harus terbiasa dengan kehadiran saya tapi saya pun harus terbiasa
dengan kehadiran anak satu itu.

Mulai dari kimono yang tergantung menjadi dua, sandal dikamar yang kini menjadi dua, semua hal
yang biasanya hanya satu kini berubah menjadi dua, berpasangan. Saya tidak suka Nafisya yang terlalu
banyak bertanya, terlalu banyak bicara.

Nafisya itu bagaikan sirine ambulan yang menghiasi pintu masuk unit gawat darurat, tak ada senyum
ketika menyambutnya, namun mendebarkan ketika menghadapinya.

Begitupun Nafisya, dia tidak suka ketika saya menaruh handuk basah diatas tempat tidur, katanya
sampai rambut saya kering pun saya akan lupa menaruh kembali handuk tersebut. Lucunya hal-hal
sepele seperti itu yang kadang membuat kapal yang sedang berlayar itu terguncang.

Memahami bukan hanya tentang menerima kelebihan, namun lebih kepada melengkapi
kekurangan, sebab kekurangan masing-masing akan terlihat ketika kata halal telah terucap. 1

"Dor!".
Saya menoleh dengan tatapan biasa, ini adalah tahun ke dua pernikahan kami, semuanya berjalan
dengan sempurna, sampai kadang, saya merasa ini terlalu sempurna. 1

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

Nafisya menpoutkan bibirnya karena usahanya membuat saya kaget gagal total, bagaimana saya
bisa kaget kalo itu menjadi kebiasaanya setiap kali saya sedang bercermin. Lagipula bayang-bayangnya
akan terlihat lebih dulu dicermin sebelum dia menjalankan aksinya. 1

"Yah Pak Alif gak asik, pura-pura kaget ke.." katanya. Dan panggilan itu, kapan panggilan itu akan
berakhir?.

"Oh iya Pak, hari ini kira-kira pulang jam berapa?" tanya nya basa-basi. Pergi saja belum, dia sudah
menanyakan kapan saya akan pulang. Rasanya dia akan lebih bahagia ketika saya tidak ada di rumah. 1

Bayangkan saja satu rumah dengan dosen, Nafisya bagai menjadi makhluk paling serba salah ketika
ada saya.

"Kenapa memangnya?" saya balik bertanya "Saya harus ke rumah sakit dulu ada biopsi pagi ini, ke
kampus, terus ke rumah sakit lagi soalnya saya bagian jaga di ER nanti malem, saya juga cuma ngajar
satu mata kuliah hari ini, itupun di FK" Saya mengatakan agenda kegiatan saya hari itu. +

Dari mimik wajahnya ada sesuatu yang ingin dia katakan, namun jelas dia terlihat ragu antara
mengatakannya pada saya atau tidak. Rasa bersalah itu semakin bertambah, saya seolah menjadi
pengekang disini.

Kali ini bukan tentang melupakan yang ingin saya ajarkan, namun perihal mengikhlaskan. Saya ingin
Nafisya mengikhlaskan perasaanya terhadap sahabat kecilnya itu, Allah membuat saya bersanding
dengannya, tapi apakah setelah dua tahun lamanya hatinya luluh untuk saya? Tidak sema sekali!.
Setiap kali memikirkan itu, saya seolah berkaca diri, saya harusnya mengajari diri sendiri
bahwasannya inilah mengikhlaskan, sosok di depan cermin itu seolah berkata 'Saya takkan bisa
memaksanya untuk bertahan terlalu lama'.

"Ada apa?" tanya saya.

"Bukan hal penting, berarti kemungkinan pulang malem ya?" jawabnya sambil memasukkan
beberapa buku kedalam tasnya.

"Minggu lalu kita sepakat untuk bersikap saling terbuka Sya" ucap saya, pekerjaanya seketika
terhenti, dia menghela nafas berat, wajah ragunya semakin terlihat.

Mungkin masih terlalu asing untuk mengatakan semuanya pada saya. Kadang Nafisya masih belum
terbiasa meminta ijin pada saya, dia malah meminta ijin pada ibunya.

"Itu... Boleh gak Fisya ikut acara donor darah di luar kampus?" Kalau hanya masalah itu kenapa sulit
sekali mengatakannya. Setiap kali Nafisya memiliki kegiatan, kewajibannya sebagai seorang istri seolah
menjadi penghalang.

Ya, dia bisa mengerjakan semuanya disamping tugas kuliahnya, saya tawari ART, dia menolak.
Katanya akan semakin membuatnya tidak berguna sebagai istri. Namun kadang saya merasa kasihan
melihatnya harus tidur sampai larut malam dan terbangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan.

"Kalau acaranya positif kenapa saya larang? Kapan acaranya? Hari ini?" tanya saya, Nafisya
mengangguk.

"Ya udah ikut aja, Sampai jam berapa? Biar pulangnya saya jemput nanti" kata saya sambil
membenarkan kerah.
"Acaranya dari jam dua siang. Masalahnya tempatnya lumayan jauh, estimasi panitia sih acaranya
selesai jam lima sore, tapi paling Fisya bisa nyampe rumah jam.. Eum.. delapan malem--mungkin"
ucapnya, masih ragu dengan angka yang dia sebutkan.

Saya terdiam sebentar, jadi yang dia permasalahkan adalah pulang malam. Saya pulang jam sepuluh
malam dari rumah sakit, kalau harus menjemputnya maka Nafisya menunggu lebih lama untuk pulang,
tapi kalau tidak dijemput, mana mungkin saya membiarkannya pulang sendirian.

"Kalo Pak Alif gak ngijinin Fisya gak akan ikut ko, lagian kemarin lusa Fisya udah ikut acara
penggalangan dananya.." katanya tiba-tiba ketika melihat saya tak kunjung merespon lagi. Kapan
membangun rumah tangga yang sakinah, kalau kami terus-terusan sibuk dengan kegiatan kami masing-
masing?.

"Kamu sama siapa dari sini? Temen-temen kamu ikut? Kalau sekiranya ada temen pulang, saya
ijinin".

"Anak remaja masjid kampus ikut semua kok Pak, ada anak BEM nya juga. Acaranya program untuk
korban gempa kemarin, jadi darahnya dikirim buat posko kesehatan yang ada disana, tapi yang bawa
mobilnya-" dia mengambil jeda sejenak "Jidan".

Ada segelintir rasa aneh setiap kali Nafisya menyebutkan nama Jidan, seperti rasa tidak suka ketika
nama itu harus terucap dari bibirnya, padahal Jidan sendiri sudah terikat dengan perempuan lain "Ya
udah kalo gitusaya bilang nanti sama temen-temen kamu buat nganter kamu pulang." +

"Beneran boleh Pak?" tanyanya meyakinkan dengan wajah sumeringah, saya mengangguk
mengiyakan.

"Yeeeeeee Asik! Makasih Pak.." katanya berjingkrak-jingkak seperti anak kecil mendapat es krim.
Ujung bibir saya kembali tertarik melihat tingkahnya.
Andai kamu tau Nafisya, saya lebih dulu bertemu dengan kamu sebelum kamu bertemu dengan
Jidan. Andai kamu ingat, sepasang mata hazel pertama yang saya lihat adalah bola mata kamu. Andai
kamu tau siapa yang membuat saya memilih menjadi seorang dokter. 1

Akan kah kamu jatuh lebih dulu untuk saya?.

Dan lagi Allah menampar saya dengan sangat keras bahwa semua kata 'andai' jika Dia tidak
menghendakinya, hanya akan menjadi luka.

Dulu sekali saya sudah pernah kecewa dengan kata 'andai', saya terduduk disebuah kursi tunggu
rumah sakit dengan pandangan kosong setelah salah seorang suster mengobati bekas goresan dikening
saya.

Bau amis itu masih menyeruak, bercampur dengan bau obat-obatan dan desinfektan khas rumah
sakit, noda darah membasahi hampir setengah kaos yang saya kenakan.

Teringat percakapan malam sebelumnya, percakapan ketika ayah saya mengatakan saya adalah satu-
satunya yang dia miliki didunia ini dan saya megatakan dengan gampangnya-

"Seorang ayah tidak akan kehilangan anak laki-lakinya, itupun jika si anak menganggapnya ayah"
Umur saya masih tiga belas tahun saat itu, dan di umur ke tiga belas saya telah berhasil membuat ayah
saya menangis.

Allah seolah menjatuhkan bumi beserta isinya diatas kepala saya sebagai hukuman. Harusnya malam
itu saya juga mengatakan bahwa dia juga satu-satunya yang saya miliki di dunia ini.

Wajah lelah itu menghampiri saya tanpa senyum sama sekali lalu dia duduk disamping saya. "Kamu
baik-baik aja? Ada yang masih sakit?" tanya pria itu mengamati.
Bajunya tak kalah banyak dengan noda darah. Teman-teman sekolah saya yang lain langsung
dipulangkan, liburan akhir semester hanya akan menjadi wacana, semuanya dibatalkan, hanya saya yang
masih berada dirumah sakit saat itu.

"Ayah?" satu kata itu mewakili seluruh kekhawatiran saya. Rasa takut itu seolah menyudutkan saya
sampai rasanya tidak ada oksigen untuk bernafas. Mata Pak Kevin langsung berkaca-kaca, dia
memegang kedua telapak tangan saya sambil berkata.

"Anak lelaki itu harus kuat".

Saya bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada ayah saya dari perkataan tersebut. Dia pergi, benar-
benar telah pergi.

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

Andai saya tidak merajuk untuk mengajaknya berlibur, andai saya tidak memintanya mengambil cuti
kerja hanya untuk menemani saya, andai saya tidak memaksanya untuk pergi.

Meskipun kadang saya sering kesal karena dia terlalu gila bekerja, mungkin saya masih bisa melihat
wajahnya lima belas menit setiap malam dimeja makan, mungkin dia tidak akan berbaring dengan tubuh
kaku diatas bangsal yang terasa dingin itu seperti sekarang.

Menyesal? sangat menyesal.

Seperti saya sendiri yang menggantikan malaikat izrail untuk mencabut nyawa ayah saya saat itu,
saya memang sama sekali tidak menangis, karena sejak saya tidak punya ibu saya berjanji pada ayah
untuk tidak pernah menangis, dan benar, anak lelaki itu harus kuat, sebab ada ribuan tanggung jawab
dipundaknya dimasa depan.
Lagi-lagi saya teringat bahwasannya manusia memiliki perjanjian dengan penciptanya, sebelum dia
ditiupkan ruh. Tentang kapan dia akan wafat, tentang bagaimana cara dia wafat.

Mungkin ayah telah setuju dengan semua ini, tentang takdir yang akan dijalaninya, tapi segala
kemungkinan tersebut membuat dada saya terasa sesak.

"Kamu anak yang hebat" Pak Kevin memeluk sambil mengelus punggung saya sebentar "Saya mau
tanya suster dulu apa kamu harus CT Scan atau engga? Takutnya kepala kamu kebentur, kamu tunggu
disini, jangan kemana-mana" ucapnya.

Saya ingat jelas, sepuluh menit setelah kepergian Pak Kevin, hari itu seorang dokter nampak terburu-
buru sambil menuntun anak kecil yang tingginya tak lebih dari lututnya. +

Matanya menangkap sosok saya yang duduk didepan kursi tunggu poli bedah, hal tersebut
membuat dokter itu menghampiri saya, dia terburu-buru menggendong anak kecil itu agar jalannya
lebih cepat.

"De, boleh saya minta tolong? Saya titip anak saya sebentar, saya ada jam operasi, nanti bakalan ada
suster yang jemput dia.." Pinta pria itu, saya masih ingat jelas dia menggunakan kemeja biru bergaris
dengan jas putih serta celana katun. Hari itu semua dokter sibuk menyelamatkan nyawa, ketika kabar
kecelakaan itu menyebar menjadi bahan pembicaraan seisi rumah sakit.

Saya mengangguk meng'iya'kan, lalu pria dengan name tag 'Husain Akbar' di jasnya itu mendudukan
anak kecil itu disamping saya.

Sebelum pergi dia berjongkok menyamakan ketinggian dengan putri kecilnya. Saya ingat apa yang
dikatakan sang ayah saat itu.

"Sya, Abi harus nolongin orang sakit dulu.. Tunggu disini sama kakaknya ya? Nanti Sya pulang
dijemput Ummi, Sya juga gak boleh nakal, oke?".
Anak perempuan yang saya tebak usianya menginjak empat tahun itu terhenti dari kegiatannya, dia
berhenti meneguk susu kotak rasa coklat yang ada ditangannya, lalu mengelap bibirnya dengan jilbab
kecil yang dia kenakan.

"Sakitnya palah ya Bi? Siap Pak Doktel!" katanya sambil hormat "Tapi Abi janji dulu, pulang kelja
nanti Abi halus bacain buku celita balu Sya?" katanya mengacungkan telunjuk. Saya tidak paham, karena
ayahnya juga menautkan jari telunjuk bukan kelingking "Janji..." jawab ayahnya.

"De, titip ya, makasih sebelumnya..." Belum sempat menjawab, pria itu sudah pergi berlari
meninggalkan kami.

Saya tak mengajak anak kecil itu bicara, dia pun asik dengan minumannya, mengayun-ayunkan kaki
memamerkan sepatu pink serta kaos kaki polkadot yang dia kenakan, sebelum akhirnya kotak yang dia
hisap itu habis, barulah dia mulai berbicara.

Dengan susah payah dia turun dari kursi tunggu lalu berjalan ke ujung ruangan, melihat tempat
sampah disana membuat saya mengerti apa yang hendak anak kecil itu lakukan. Sayangnya, tempat
sampah itu terlalu tinggi sampai berjinjit pun dia tidak bisa memasukan kotak susu itu.

"Sini?"pinta saya.

"Sya mau masukin sendili!" Bentaknya, ketika saya berniat membantunya. Akhirnya saya
menawarkan diri untuk menggendong anak itu agar dia bisa memasukan kotak susu itu ke tempat
sampah tapi dia menolak dan berkata.

"Abi bilang, gak ada laki-laki yang boleh gendong Sya kecuali Abi sama Paman Hasan!".

Saat itu saya berpikir keras, bagaimana agar anak yang menyebut dirinya 'Sya' itu bisa memasukan
sampah itu ketempatnya tanpa saya menggendongnya.
"Kalo gitu naik ke sepatu" pinta saya. Dia mengerti, dia menginjak sepatu saya, lalu berjinjit, padahal
saya menggunakan sepatu putih saat itu, tangannya berpegang pada dinding disampingnya, barulah dia
berhasil.

Kami kembali duduk dikursi tunggu, merasa bosan dia mulai banyak bicara "Kata Abi ini namanya
plestel" dia menekan luka dikening saya, dan rasanya langsung berdenyut.

Saya menepis sekaligus menjauhkan tangannya dan menatapnya sinis. "Thakit ya? Maaf.. Sya suka
plestel yang ada gambal dinosaulusnya" katanya, lalu kembali duduk.

"Sya juga suka lumah thakit, apalagi luang bayi. Banyak dede kecil sama stikel kaltun disana"
lanjutnya dengan suara yang sebenarnya ingin tertawa ketika mendengarnya. Saya benar-benar tidak
memiliki mood untuk berbicara saat itu, jadi saya tidak menanggapinya.

Wajah murung saya membuat dia berbicara lagi "Abi bilang ini lumah ajaib, banyak doktel disini, Sya
juga mau jadi doktel kaya Abi. Kalau ada yang thakit kakak bilang aja sama Sya, nanti Sya obatin bial
sembuh". 1

"Kakak kaya teddy bealnya Kak Sasa ya? gak bisa bicala?" Saya menoleh karena kesal, dia terlalu
banyak bicara "Semua boneka memang gak bisa bicara!". 1

"Boneka Sya bisa ko, bilang gini 'ayo belmain, peluk aku, semoga hali mu menyenangkan".

"Gimana mau sembuh kalo Allah mengambilnya?" tanya saya. Anak itu tertegun, bingung dengan
apa yang saya tanyakan, butuh waktu lama untuk dia mencerna perkataan saya. Sampai akhirnya dia
berkata.

"Kalo gitu, minta lagi aja sama Allah, Allah baik ko, Sya minta sepatu balu buat sekolah aja dikasih,
kakak mau minta apa bial Sya mintain nanti sama Allah?" Saat itu saya menoleh. Dia begitu yakin dengan
ucapannya, sementara saya hampir tidak ingin berharap lagi.
Mata hazel dengan bulatan putih yang masih sangat bening khas anak kecil itu menatap saya
dengan wajah bingung. Kelak hati ini akan bersaksi, mata ini akan berkata bahwa dia telah berdosa
karena memandangnya terlalu lama.

"Kalo Sya nangis, Sya suka bilang kalo mata Sya kelilipan" Saat itu dia naik dan berdiri lagi di atas
kursi sampai tingginya menjadi lebih tinggi dari saya, dia mengusap rambut saya sambil berkata "Kalo
Sya sedih Ummi suka ngebelai kepala Sya sambil bilang 'anak ummi kan jagoan'..". 1

"Pak?" Bayangan tentang anak kecil itu langsung menghilang.

"Ayo berangkat, katanya ada biopsi pagi? Jangan ngaca terus, nanti kacanya meleleh duluan" saya
tertawa kecil dan mengambil tas saya.

Ya, anak kecil itu, anak yang memanggil dirinya seperti huruf hijaiyah, anak yang tidak bisa
mengucapkan huruf R dengan jelas.

Dialah Nafisya Kaila Akbar, orang yang membuat saya yakin bahwa sekecil-kecilnya harapan pada
Allah itu masih memiliki sejuta peluang. Sekalipun saya kecewa, Allah sendiri yang akan mengobati rasa
sakitnya. Bahkan hingga sekarang saya masih mengingat detail demi detail pertemuan pertama kami.

Hal yang membuat saya salah paham dengan perasaan saya sendiri di masa depan. Ketika untuk
pertama kali Kahfa memperkenalkan koas baru menjelang pergantian shift.

✂..........

2. Untuk Sebuah Nama


48.3K 5.1K 1.3K

oleh madani_

Seharusnya cinta kepada makhluk tidak mengikis cinta pada Dzat yang memberi cinta itu sendiri. 2

🍁🍁🍁

SERENTETAN transplantasi ginjal berhasil membuat saya melewatkan makan siang. Keluar dari OK
dengan tulang punggung yang terasa bergeser dan kaki yang seperti terkena varises, membuat saya
berjalan lunglai menuju ruangan konsulen untuk istirahat, tepatnya untuk tidur.

Dokter selalu mengatakan untuk menjaga pola makan dan gaya hidup, padahal dokter sendiri
memiliki pola makan yang tidak teratur dan gaya hidup yang buruk. Kurang tidur? Itu sudah berlangsung
sejak kami masih berada di bangku kuliah.

Arah langkah saya berubah ketika ada salah seorang koas laki-laki yang menyapa saya di koridor
"Siang Prof.." ucapnya seraya tersenyum. Saya hanya menganggukan kepala tanpa menjawab sapaannya.

Siang?.

Saya spontan melirik jam tangan. Hampir jam dua. Astagfirullah, shalat dzuhur!.

Selesai shalat, sampai di ruangan, setumpuk rekam medis sudah menumpuk di meja meminta untuk
dibaca. Belum sampai lima menit memejamkan mata di atas tumpukan tersebut, seseorang masuk dan
menganggu tidur saya.

"Lif, koas baru, abis dari stase penyakit dalam. Minggu ini mulai masuk stase bedah ya, nanti
nambah lagi tiga yang dari obgyn" ucap Kahfa diikuti perempuan berparas mungil dibelakangnya.
Setelah itu Kahfa hanya lepas tangan dan keluar begitu saja. Saat itu Kahfa masih menjadi dokter residen
sub spesialis Anesthesi.

Koas, makhluk yang selalu mengikuti konsulen kemanapun pergi, dari mulai visit pasien sampai pergi
jalan-jalan. Mengiyakan segala perkataan konsulen tanpa tau teorinya benar atau salah.

Mereka berpindah dan kadang menetap dari satu stase ke stase lain—seperti parasit—termasuk di
stase bedah. Bagi saya kehadiran koas itu kadang membantu, kadang menyulitkan.

Saya mulai membaca RM (rekam medis) pasien yang baru, sampai saya tak sempat menoleh
sedikitpun pada koas tersebut. Saat itu saya belum punya niatan berkecimpung dalam dunia pendidikan,
jangankan menjadi dosen kimia di fakultas farmasi, menjadi dosen di FK saja belum pernah saya pikirkan.

"Nama?".

"Iya dok?".

Saya menghela nafas, Kahfa benar-benar datang diwaktu yang tidak tepat. Kenapa tidak besok pagi
saja dia mengenalkan koas barunya. Saya mengulang pertanyaan dengan nada malas "Nama kamu
siapa?".

"Nama saya Salsya, Salsya Sabila Akbar" jawabnya terdengar gugup.

Mendengar nama itu, pikiran saya langsung tersetting pada anak kecil tiga belas tahun silam. Saya
tidak tau namanya, yang saya ingat jelas, dia memanggil dirinya dengan panggilan 'Sya'. Dan 'Akbar'
adalah nama yang saya baca di name tag jas ayahnya.

Sontak saya mengangkat kepala, membuat perempuan dengan rok navy selutut itu salah tingkah.
Semua teori berkumpul di pikiran saya, ada luapan yang hampir mirip dengan rasa bahagia. Gadis itu
mulai keheranan mendapati pandangan saya yang menggeledah.
CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

Sebisa mungkin saya menormalkan mimik wajah, berhenti terlibat dalam adegan saling pandang. Ini
baru hipotesis saya saja, lagipula kalau benar orang yang mengaku bernama Salsya ini adalah anak kecil
yang saya temui waktu itu. Mana mungkin dia ingat kan? dia masih terlalu kecil saat itu.

"Duduklah..." Pinta saya.

Keningnya mengkerut, dia masih heran dengan sikap saya yang berubah tiba-tiba. Tapi pada
akhirnya dia menurut, meski harus menarik rok nya agar tidak terlalu pendek.

Pertanyaan yang saya lontarkan pertama biasanya perihal dari universitas mana dia berasal atau
sudah berapa stase yang dia pelajari. Entah kenapa, saat itu pertanyaan yang saya ajukan pertama
malah "Ayah kamu seorang dokter?".

Salsya semakin curiga, dia mengangguk pelan dengan pandangan tak kalah menyelidik. Ada rasa
senang ketika dia menggerakan kepala, kemungkinan besar perkiraan saya benar. Saat itu delapan puluh
lima persen saya beranggapan bahwa Salsya adalah anak kecil bersepatu pink itu.

Bukankah Sya kecil juga pernah mengatakan bahwa dia ingin menjadi dokter seperti ayahnya?.

"Darimana dokter tau profesi ayah saya?" tanyanya.

Saya berdehem, menyembunyikan rasa bahagia itu "Saya pernah bertemu dengan ayah kamu, dulu
sekali" jawab saya. Buku catatan berwarna merah muda yang dibawanya membuat saya semakin yakin
bahwa Salsya adalah anak kecil itu.
"Tadi dokter Kahfa bilang, kamu baru selesai dari stase penyakit dalam? Kalau gitu harusnya kamu
udah terbiasa follow up pagi, ambil sempel darah, suntik pasien, pasang infusan, ngisi form lab dan
lembar observasi pasien?" Salsya mengangguk dengan percaya diri.

"Oke bagus, di stase bedah juga gak bakalan jauh beda ko. Follow up pagi sebelum konsulen datang.
Tulis di RM dan baca juga tulisan konsulen yang menanganinya".

"Di stase bedah, seni menjahit yang harus kamu tunjukan. Ngomong-ngomong sudah ke berapa
stase, Sya? Ada Stase yang paling kamu minati?" Tanya saya sembari kembali membaca RM. Saya
mencoba menjadi makhluk paling ramah saat itu.

"Udah stase ke empat dok. Ada, Stase Anesthesi" jawabnya antusias. "Wah.. Kalau itu ranahnya
Kahfa. Stase yang paling aplikatif, harus hafal obat-obat anestesi lengkap dengan dosisnya. Belum lagi
cara kerja, onset, durasi sama efek samping".

"Iya dok.. Hari pertama dokter Kahfa langsung dilatih kesabaran karena koas baru kebalik-balik
antara nilai volume tidal, volume cadangan inspirasi, cadangan ekspirasi, yang kaya gitu" saya tertawa
kecil. 1

Percakapan kami memanjang, bahkan melewati jam pergantian shift. Bisikan setan yang menyuruh
saya berduaan dengan Salsya meski dengan pintu terbuka terjadi hari itu. Rasa kantuk saya menghilang
begitu saja, mendengar suaranya lagi setelah belasan tahun lebih dari menghilangkan rasa lelah.

Anak kecil itu telah tumbuh menjadi gadis dewasa, pemalu, cantik, cerdas dan tidak banyak bicara.
Sudah bisa mengucapkan huruf R dengan benar. Walau dalam hati saya bertanya-tanya, kenapa dia
tidak menutup auratnya sekarang?. 3

Lalu besok paginya gosip tentang 'Alif, si konsulen bedah yang memakan banyak korban' tergantikan
dengan gosip 'Alif, konsulen paling ramah di stase bedah' bahkan Albi konsulen paling most wanted yang
banyak di gandrungi kaum hawa— terutama koas—di stase bedah pun berhasil saya kalahkan.
Saat itu saya tidak sadar kalau saya tengah salah paham terhadap Salsya dan perasaan saya sendiri.

🍁🍁🍁

Perubahan sikap saya terlihat drastis, meski saya tidak ingin membeda-bedakan antara tiga koas
lain yang datang dari obgyn, tapi tetap saja perhatian dan perlakuan saya pada Salsya terlihat berbeda. 1

Tinggal berlama-lama di rumah sakit menjadi hobi baru selama hampir dua minggu Salsya berada di
stase bedah. Membahas segala hal yang kadang membuat saya terkagum-kagum dengan kemampuan
mengingatnya. Berkeliling menemui empat puluh pasien didampingi Salsya itu menjadi suatu
kebahagiaan tersendiri bagi saya. 1

Kini panggilan Salsya berubah, dari memanggil saya 'Dok' menjadi 'Prof'. Salsya kira saya masih
residen sama seperti Kahfa, residen itu dokter yang sedang menempuh program pendidikan spesialis.
Katanya saya terlalu muda untuk menjadi seorang konsulen.

Akhirnya saya menjelaskan bahwa saya kuliah di luar negeri dimana stuktur pendidikannya berbeda,
disana bisa lebih cepat apalagi jika mengambil akselerasi.

Berhari-hari rutunitas itu berulang-ulang saya lakukan tanpa sadar bahwa setan telah
menyelundupkan rencana-rencananya dalam pikiran saya. Gosip tentang saya dan Salsya pun mulai
bertebaran. 1

Sampai dalam sebuah operasi implan kulit, pasien anak yang terkena luka bakar. Saya diingatkan
oleh seorang bruder senior bernama Pak Idris. Orang yang tidak pernah terlewat untuk shalat berjamaah
di masjid.

"Seharusnya cinta kepada makhluk tidak mengikis cinta pada Dzat yang memberi cinta itu sendiri Lif.
Bagaimanapun Salsya itu perempuan, jangan sampai kamu membuat dia kehilangan harga dirinya"
Percakapan kami berlanjut ketika operasi tersebut selesai, kami keluar dari ruang steril dan melepas
baju scrub.
"Cinta itu fitrah, boleh kok, Allah gak ngelarang. Cuman bagaimana cara kamu menanggapinya yang
harus dipikirkan, apa sesuai dengan yang Nabi ajarkan atau malah sebaliknya. Karena cinta bisa jadi
fitnah, kalo cara kamu menanggapinya salah".

"Kamu pasti tau kalo perempuan adalah fitnah terbesar bagi laki-laki. Dan lagi, cinta akan tetal
indah meski dua raga saling menjaga" Saya sadar, cara saya menanggapi kehadiran Salsya itu salah.

Harusnya saya semakin menjaga jarak ketika saya tau ada maksud lain dalam hati saya. Harusnya
saya tidak merasa bahagia ketika harus berdua-duaan dengan Salsya. Dan akhirnya saya memutuskan
untuk bersikap sewajarnya, dan mulai bersikap netral kepada Salsya dan koas yang lain.

Pagi itu, untuk pertama kali saya menjauhi Salsya. Dia masuk setelah mengetuk pintu "Prof. Saya
udah selesai follow up pasien, pagi ini yang mau vis-".

"Dokter Albi yang visit, kamu dampingi Albi. Saya ada jadwal operasi pagi ini" ucap saya tanpa
menoleh sedikit pun padahal saya tidak punya jadwal apapun pagi itu. Salsya hanya mengangguk lalu
keluar, mungkin dia sedikit bingung dengan perubahan sikap saya yang tiba-tiba.

Berulang kali sikap menghindar itu saya lakukan. Tentu saja saya tidak melupakan kewajiban saya
untuk berbagi ilmu. Ketika Salsya bertanya tentang hal yang tidak dia mengerti, saya menjawabnya.
Yang berubah hanya frekuensinya, saya tidak terlalu sering berbicara dengannya.

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

Karena terlalu fokus pada kehadiran Salsya yang saya kira anak kecil itu. Saya sampai tidak
menyadari kalau sebenarnya Allah telah mengatur pertemuan saya dengan Nafisya, pertemuan kedua
lebih tepatnya. 2

Tepat di hari jum'at, saya datang terlalu pagi. Niat menghindari macetnya jalanan kota, malah jam
enam pagi saya sudah berada di lobi rumah sakit, alhasil saya harus menggunakan masker karena bersin
terus-terusan sepanjang jalan. Saya ingat hari itu ada visit besar dan hari terakhir Salsya persentasi
sebelum dipindah ke stase anak.

Rumah sakit memang tidak sepi, ada orang-orang yang berlalu lalang, yang mungkin bergantian
menjaga sanak saudara mereka. Saya lihat Instalasi Farmasi yang buka duapuluh empat jam juga penuh
dengan orang yang menebus resep.

Saya berjalan menuju lift lalu menekan tombol buka. Bersamaan dengan itu handphone saya
berdering, panggilan masuk dari Albi. Dia mengabari saya kalau dia akan mengambil cuti hari ini.

Pintu lift terbuka, memunculkan sosok perempuan berjilbab biru pastel dengan ransel coklat serta
sebuah kotak seperti kotak P3K di tangannya. Kulitnya seperti kulit bayi, putih dan sedikit kemerah-
merahan. Dia hendak keluar, namun batal ketika menyadari ini masih di lantai satu.

Saya menahan tombol lift agar pintu lift tidak langsung menutup. Albi bilang ada pertemuan dengan
bagian bedah urologi dari rumah sakit cabang yang harus saya wakilkan. Kalau sekiranya pertemuan itu
pagi, saya tidak perlu naik ke atas.

Perempuan di dalam lift itu nampak terburu-buru. Saya lihat dia menekan tombol lift dari dalam
beberapa kali. Dia hendak mengajak saya bicara tapi saya memberi aba-aba untuk menunggu karena
saya sedang bertelepon. Beberapa kali dia menatap jam tangan di lengan kirinya. 1

Sesuatu terjadi, gadis tidak sabaran itu keluar lalu menginjak kaki saya dengan sangat keras. Sontak
saya melepaskan tangan dari tombol lift dan pintu lift tertutup otomatis. Saya ingat apa yang dia
katakan sebelum pintu itu benar-benar tertutup.

"Periculum in mora. Maaf.." katanya.

Periculum in mora itu bahasa latin yang artinya berbahaya bila di tunda. Biasanya ditulis dokter
dalam resep agar bisa di dahulukan. Saya menyadari satu hal, kotak itu bukan kotak P3K melainkan
farmasi kit. Dan saya yakin, anak tidak punya sopan santun itu pasti apoteker magang.
Pertemuan kami selanjutnya sedikit menegangkan. Kami bertemu ketika terjadi kecelakaan
beruntun di pusat kota yang disebabkan tidak berfungsinya lampu lalu lintas. Saat itu dia mengetuk kaca
mobil saya bersama seorang pria dan anak kecil yang mengalami pendarahan hebat akibat luka sobekan
di bagian dekat ginjal.

Saya mengingatnya, dia melakukan protokol penangan syok hipovolemik pada anak itu tanpa ragu
sedikit pun. Menyuntik korban dengan dopamin pada dosis yang pas padahal belum pernah dia lakukan
sebelumnya.

Nyatanya saya salah besar, dia bukanlah apoteker magang, dia hanya seorang mahasiswa semester
satu yang memiliki mata hazel berwarna coklat pudar. Teruburu-buru ke rumah sakit untuk
mengantarkan flasdisk kakaknya yang tertinggal.

Pertemuan pertama saya anggap kebetulan, begitupun pertemuan kedua dan ketiga, bukankah
pertemuan selanjutnya adalah takdir? Tapi ternyata kami malah terjebak dalam sebuah ikatan
keterpaksaan. 3

Sekalipun dia jawab tidak, nyatanya mata itu mengatakan hal lain.

✂.........

OK : Operatie Kamer alias ruang operasi, dari bahasa belanda.

Koas : Dokter Muda, abis kuliah kedokteran akademik 4 tahun, lulus jadi koas, belum jadi dokter
beneran. KKN lah bahasa umum mahasiswanya.

Stase : Bagian-bagian pembelajaran yang harus dilewati selama jadi koas. Ada pembagiannya, stase
mayor sama minor. Info lebih lengkap : mbah google. Intinya kalo gak lulus di satu stase bakal diulang
terus sampe lulus.
Konsulen : Makhluk yang selalu benar dan tidak bisa disalahkan. Dokter beneran cuy.

Obgyn : Obstetri dan ginekologi disingkat jadi obgyn, spesialis kandungan. +

Anesthesi : seni membuat orang gak sadar alias bius.

3. Kaca Yang Retak

14.5K 2K 91

oleh madani_

Berakhir dengan mu atau tidak, terimakasih telah menjadi topik paling menarik yang selalu saya
perbincangkan dengan Allah. 1

🍁🍁🍁

MALAM ini patner kerja saya adalah Albi. Biasanya kita tidak dalam satu shift yang sama. Tadi saya
lihat dia menyalakan musik dari handphonenya, tapi entah dia mendengarnya atau tidak karena
beberapa menit kemudian dia menaruh kepalanya diatas meja lalu terlelap.
Seseorang membuka pintu tanpa aba-aba membuat saya dan Albi menoleh bersamaan “Urgent dok,
kami butuh dokter bedah di ruang ICU medic” katanya bagaikan alarm siaga yang menganggu euphoria
kami. Kenapa sesuatu selalu terjadi dijam-jam menuju pergantian shift, padahal lima belas menit lagi
saya bisa pulang.

“Dokter Albi akan segera kesana..” ucap saya cepat. Albi yang juga tengah fokus terhadap
handphonennya menatap saya heran “Loh.. loh.. kok gue, gue kan—” kami sama-sama dalam keadaan
sedang tidak ingin menangani pasien. Belum sempat dia mendemo dia menatap suster itu lagi, sangat
tidak manusiawi jika kami berdebat menolak kebaikan.

“Oke saya kesana lima menit lagi. Tolong panggilkan residen bedah yang bisa jadi as-op nya” ucap
Albi. Akhirnya suster spesialis itu mengangguk lalu meninggalkan kami. “Pokoknya lo gak boleh pulang
sampai gue keluar dari OK, titik!” ancamnya tak ingin ditinggal pulang. 1

Keputusan saya mengirim Albi untuk menangani pasien ternyata tidak bertahan lama, beberapa
menit kemudian tak lama setelah kepergian Albi, lagi-lagi seorang suster memberitahu saya bahwa ada
beberapa pasien yang butuh penanganan medis cepat diluar ruang lingkup kerja saya.

Sebenarnya saya enggan menangani, mengingat kami memiliki tanggung jawab terhadap
departemen masing-masing. Kalau saya ikut turun tangan, artinya saya ikut campur dalam tanggung
jawab orang lain.

"Dokter Alif?" suster itu melambaikan tangan di depan saya. "Baik, saya kesana" ucap saya cepat.
Berakhirlah saya di bangsal dua kode Rahman kelas tiga. Ruangan ini nampak sibuk sekali, seperti semua
paramedis diinstruksikan untuk datang kesana. Saya tidak tau apa yang terjadi namun malam itu mereka
memang kekurangan dokter.

“Dok, Prof. Ishak ingin bertemu dengan anda, beliau menunggu diruangannya” ucap seseorang
yang saya yakin ditugaskan memanggil saya.

Tiba-tiba saya dipanggil lagi oleh seorang suster “Dok, kami perlu sedikit bantuan..” Katanya,
mereka datang bersamaan. Suster itu mengatakan ada pasien mengamuk saat akan diberikan
penanganan medis. Si pasien tidak koomperatif sejak sadar, maksudnya kondisi kesadaran
composmentis, dalam tingkat kesadaran penuh.

“Saya akan kesana, setelah memastikan efek anelgetiknya bekerja pada ibu ini. Oh ya, dan tolong
katakan saya akan menemui beliau setelah pekerjaan saya selesai disini” Kata saya kepada dua orang
tersebut . Yang satu mengangguk, lalu pergi. Yang satu mengatakan bahwa pasien tersebut berada di
bangsal tiga kode Malik.

Pantas saja pasien menolak pengobatan, suster itu tidak mengatakan bahwa pasiennya anak laki-laki
yang umurnya mungkin baru menginjak sepuluh tahun. Saya membaca profil pasien yang sepertinya
sedikit manja mengingat suster tadi sedikit menggerutu ketika menyampaikan kondisi pasien tersebut.
Saya menelusuri pengkajian triase yang telah dilakukan dokter triase dan berapa banyak luka luar yang
terlihat. 1

"Pergi!" bentak anak berambut sedikit pirang itu. Paratus sudah bergeletakan dilantai, bahkan
oksigen catheter dilepas dari hidungnya. Saya melihat Pak Idris diantara paramedis yang berusaha
menenangkan anak ini. Dia terus menjerit dan melemparkan sesuatu yang ada didekatnya, dia
membentak, tidak mau diobati sebelum bertemu ibunya.

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

Saya kira hanya Nafisya yang keras kepala. Biasanya hanya dengan bujukan anak-anak akan luluh,
namun yang ini juga sedikit keras kepala sampai bujukan saya pun tidak berhasil. "Dimana ibunya?"
tanya saya ketika berbagai upaya tetap tidak berhasil. 2

"Diruang OK satu, ibunya pasien yang lagi ditangani sama dokter Albi, dok" jelas salah seorang dari
mereka. "Kalo gitu biarin dia ketemu ibunya, suruh dia jalan sampe ruang OK! Biar dia pingsan sekalian"
tegas saya.

"Tapi dok, lukanya—" sangkal salah seorang suster. Entah saya terlihat kasar atau tidak, tapi saya
yakin cara ini akan berhasil. "Etika paramedis, dilarang memaksakan kehendak pada pasien kan? Kalau
pasien sendiri yang menolak dilakukan pengobatan, kita bisa apa?" tanya saya. Mereka semua diam,
tidak sependapat dengan saya, terlebih saya terlihat konyol bertindak tidak mau kalah terhadap anak-
anak.

"Sekarang kalian bubar, selamat beristirahat" ucap saya, mereka menurut, namun ketika kami akan
pergi anak itu menahan saya.

"Tu-tunggu sebentar.." saya tersenyum penuh kemenangan. Anak itu mau diobati dengan syarat
saya yang mengobatinya dan tidak ada jarum infus yang menusuk lengan kirinya. Saya sepakat,
mengingat hanya luka luar, tidak diinfus tidak akan terlalu bermasalah, setelah semua keributan yang
terjadi akhirnya saya menyuruh mereka keluar untuk menangani pasien lain, sementara saya menagani
pasien satu ini.

Sepanjang saya membersihkan lukanya serta menjahit luka terbuka dibagian betisnya dia hanya
diam. Dia tidak terlihat menangis ataupun meringis kesakitan. "Selesai. Anak lelaki itu harus kuat, gak
boleh nangis, gak boleh cengeng" ucap saya sambil mengusap rambutnya pelan. Saya menyuruh anak
itu beristirahat setelah berjanji dan mengatakan ibunya akan baik-baik saja besok pagi.

Selesai dari tempat tersebut, saya terburu-buru menuju ruangan Profesor Ishak, ketua Komite
rumah sakit. Lima belas menit sudah berlalu, bahkan hampir tigapuluh menit. Kenapa juga saya
dipanggil malam-malam begini?.

Sepanjang jalan saya mengecek handphone, Nafisya tidak mengirimkan pesan apapun padahal saya
cemas dia sudah sampai rumah atau belum.

Profesor Ishak sedang bersiap untuk pulang “Ah Alif, saya kira kamu gak akan datang, Kahfa baru aja
pulang, tadinya dia nungguin kamu” ucapnya ketika mendapati saya membuka pintu sambil mengucap
salam.

“Ada apa Prof?” Tanya saya tanpa sempat basa-basi. Saya terus menerus mengamati jam. Kalau
sampai Albi belum keluar dari ruang operasi saya akan tetap pulang lebih dulu, lagipula tadi saya tidak
menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ untuk menunggu tugasnya selesai.
"Tadi orang suruhan saya bilang, kamu lagi ada di divisi lain? Lagi hobi ngumpulin surat peringatan
kamu Lif? Kasus kamu belum genap sebulan.." halus namun menusuk, bagai tertangkap basah. Beberapa
dokter tidak menyukai saya karena sikap saya yang seolah cari muka katanya. Padahal wajah saya masih
pada tempatnya.

"Ada beberapa pasien yang butuh perawatan intensif dan baru dirujuk dari rumah sakit lain" saya tidak
meminta maaf karena saya tidak merasa melakukan kesalahan. +

“Begini, kemarin saya tunjuk Kahfa sebagai penanggung jawab acara Childhood Cancer Foundation
yang minggu depan itu, namun ternyata Kahfa berhalangan hadir, kamu tau istrinya sedang hamil kan?
Dia gak mungkin ninggalin istrinya dan dia juga gak mungkin bawa istrinya keluar kota".

"Saya pengen kamu yang gantiin tugasnya Kahfa, acara itu penting buat rumah sakit dan rutin tiap
tahun, sekaligus memegang kepercayaan masyarakat juga terhadap rumah sakit ini. Kamu bisa kan?”.

Belum sempat saya menjawab, nama saya dipanggil melalui audio paging sistem. “Ditunjukan
kepada Dokter Alif dari bagian departemen bedah harap menuju ruang operasi unit satu, sekali lagi
ditujukan kepada-”.

Rencana saya pulang seketika batal ketika mendengar kata ruang operasi, bahkan saya
meng’iya’kan permintaan Profesor Ishak tanpa sempat memikirkannya terlebih dahulu dan terburu-buru
pamit.

Dari kaca pintu steril saya melihat Albi dengan masker yang menutupi hidung serta bagian atas
tertutup surgical-hat. Empat lampu besar menyorot luka sayatan yang di buat Albi. Saya terburu-buru
menaruh handphone di loker antara, menggunakan baju scrub, hair cup, serta perlengkapan lain yang
saya butuhkan untuk masuk.

Ketika saya masuk, empat koas berdiri tak jauh dari pintu sambil memegang buku catatan.
Sungguh, ini bukan waktu yang tepat untuk mengajak mereka belajar.
"Pendarahan dalam di dekat jantung, arterinya terlalu kecil untuk dijahit" ucap Albi spontan. Saya
meminta Albi untuk tetap fokus pada lukanya, karena sebentar saja dia kehilangan fokusnya maka
dering EKG akan berubah.

Pikiran saya bercabang saat itu, pertama saya mengkhawatirkan Nafisya yang entah sudah pulang
atau belum, lalu saya khawatir tentang amanah untuk menjadi penanggung jawab acara karena saya
belum pernah menjadi penanggung jawab sebelumnya, ketiga saya khawatir akan ingkar janji kepada
anak tersebut kalau saja Allah berkehendak lain terhadap takdir ibunya malam ini.

Lalu kekhawatiran saya memuncak ketika melihat wajah yang terbaring didepan saya.

Perempuan ini

Hana?.

Sekitar dua jam lebih saya dan Albi bergelut dengan ketegangan. Sampai akhirnya pegal kami
terbayar sempurna dengan tidak adanya hal-hal yang tidak diinginkan.

"Semua stabil..." kata Albi, saya menghela nafas lega begitupun Albi. Seolah beban dipundak kami
ikut stabil. Pria itu menunjuk salah satu as-op untuk melanjutkan menjahit. Saya dan Albi keluar lebih
dulu dari ruangan operasi.

"Lo darimana aja sih Lif? Gue minta suster cariin lo gak ada di ruangan, jadinya gue minta bantuan
informasi buat nyariin" demo Albi ketika kami tengah mencuci tangan.

"Dari ruangannya Profesor Ishak" jawab saya, saya mendahului Albi melepas baju scrub.

"Ada apa? Mutasi? Atau SP turun? " lanjutnya.


"Bukan, gantiin tugasnya Kahfa".

"Oh, dia gak ngabarin tentang pembentukan tim bedah baru? Tadi pagi gue juga dipanggil ke
ruangannya. Beliau membahas hal itu, panjang dan lebar" Keluhnya.

Beberapa orang yang tidak mengenal Albi secara langsung akan beranggapan bahwa dia sombong,
sikapnya yang kaku terkadang menyulitkan kegiatannya, nyatanya ia tidak sombong tetapi hanya kurang
bisa bergaul. Beruntung dia mendapat dukungan dengan wajahnya yang tidak bisa dikatakan standar.

Saat keluar dari ruangan kami menemukan Salsya yang juga baru keluar dari ruangan operasi unit dua,
ruangan yang letaknya tepat bersebrangan ruangan saya. "Loh, Sal? Kenapa belum pulang?" tanya saya
spontan ketika mendapatinya masih berada dikawasan rumah sakit. +

Perempuan itu mengumbar senyum pertama, khas Salsya dengan segala keanggunannya, sekarang
dia sudah bukan koas lagi, tapi dokter residen spesialis anestesi "Saya tukeran shift sama Mas Kahfa,
Mas sendiri kenapa belum pulang?" tanyanya sembari menatap jam tangan mungil dilengannya.

"Saya shift dua, bareng Albi jaga ER, cuman anak manja ini gak mau ditinggal, makannya saya
terlambat pulang" Mendengar itu Albi menyikut saya pelan sambil menggerutu.

"Oh iya, Jidan udah pulang belum ya? Soalnya Nafisya juga belum pulang" tanya saya.

Salsya nampak tak mengerti dengan pertanyaan saya "Jidan.. sama Nafisya?" tanyanya dengan alis
bertaut. Petanyaan Salsya membuat saya ikut merasa heran, sontak saya bertanya balik "Kamu gak tau
kalau mereka ada acara bareng?" tanya saya. 1

Salsya berusaha menormalkan mimik wajahnya, walau mimik kagetnya tak bisa sepenuhnya dia
sembunyikan "O-oh.. Saya tahu, cuman saya gak tau kalau ternyata Nafisya juga ikut" katanya.
Menebak ketidak tahuan Salsya, harusnya saya peka saat itu, bahwa sebenarnya dari sini semuanya
dimulai. Bahkan dua masalah datang sekaligus.

🍁🍁🍁

"Assalamu'alaikum" ucap saya seraya membuka pintu depan. Ketika masuk hal pertama yang saya
lakukan adalah menyalakan lampu luar dan garasi karena rumah ini nampak tidak berpenghuni.

Tidak ada jawaban dari dalam, tapi pintu sudah dalam keadaan tidak terkunci menandakan Nafisya
sudah pulang. Tubuh saya telah mencapai titik lelah, rasanya saya ingin menjatuhkan diri saja di sofa
depan dan langsung tertidur tanpa mengganti pakaian.

Berbekal sisa-sisa tenaga terakhir, kaki saya menapaki setiap anak tangga menuju lantai atas. Saya
masuk ke kamar dan menaruh tas di sembarang tempat, hal kedua yang tidak disukai Nafisya, karena
besok pagi pasti saya akan kesulitan mencari tas tersebut. 1

Clek.

Pintu toilet terbuka, memunculkan sosok yang dililit handuk dari sana. Iris matanya melebar
mendapati saya sudah berbaring di tempat tidur. Dia salah tingkah "Pa-Pak Alif kapan pulang? Kok Fisya
gak tau sih!" dia terburu-buru mengambil handuk saya untuk dijadikan kerudung. Kemudian mengambil
beberapa baju dan kembali masuk kedalam toilet. 2

Dua tahun lamanya, Nafisya masih tidak berani muncul tanpa jilbab di depan saya. Jelas kan? Dia
masih memanggil saya dengan sebutan 'Calon Imam'. Assalamu'alaikum Calon Imam.

Lima menit kemudian dia kembali keluar dengan piama bergambar mickey mouse dan jilbab instan
yang senada. Dia melemparkan handuk ke arah saya, handuk yang kini wangi zaitun dari rambutnya
"Mandi dulu, nanti makin sakit badan kalo langsung tidur" ucapnya.
Saya bangkit "Kenapa kamu baru mandi jam segini, pulang telat?" tanya saya, ini hampir jam
sebelas malam. Nafisya mengangguk "Eum.. Jalannya macet mau week end" katanya. Lalu kenapa tidak
memberi saya kabar? Mau membuat saya mati khawatir? Tanya saya dalam hati. 3

"Karena udah kemaleman, jadinya Jidan yang nganterin pulang. Maaf Fisya gak kasih kabar.
Handphone sama powerbank Fisya lowbat" lanjutnya ketika saya membuka pintu toilet.

Saya terdiam. Diantar pulang? Berdua?. 1

"Syukurlah..." jawab saya pelan sambil masuk. Besok pagi saya harus berkonsultasi pada dokter
spesialis penyakit dalam dan melakukan tes albumin karena rasanya ada sesuatu yang salah dengan hati
saya saat itu.

Berakhir dengan mu atau tidak nanti, terimakasih telah menjadi topik paling menarik yang selalu saya
perbincangkan dengan Allah, Nafisya. 1

✂............
4. Pilar Masalalu

64.2K 5.9K 1.2K

oleh madani_

Jika kelak dikemudian hari bukan saya yang kamu cari, tolong berikan saya pemahaman bahwa sejatinya
manusia tidak pernah memiliki apapun. 26

🍁🍁🍁

PIKIRAN saya berseteru, impluls saraf yang dikirim dari hati menuju otak tengah berkelahi disana.
Ingin rasanya membuat semua pikiran itu larut dengan air shower tapi nyatanya hati saya tidak bisa
kembali berfungsi seperti sebelumnya.

Saya keluar dengan keadaan rambut basah. Nafisya sudah berkutik dengan laptopnya di atas
tempat tidur. Dua mug berisi teh hangat yang dicampur madu sudah tersedia di atas nakas "Gak
langsung tidur?" tanya saya sambil meneguk salah satunya.
"Ada tugas presentasi buat besok. Oh iya? Pak Alif udah makan? Fisya gak sempet belanja tadi, jadi
gak masak hari ini" ucapnya tanpa memutus pandangannya dari layar laptop.

Rasulullah pernah mengalami ini bukan, ketika istrinya memasak Beliau membatalkan puasanya,
ketika istrinya tidak memasak Beliau mengatakan bahwa Beliau sedang berpuasa. Tapi kenapa
mempraktekannya berat sekali?.

Saya baru pulang kerja dan saya benar-benar lapar. Tidak mungkin kalau saya katakan saya sedang
puasa mengingat ini sudah hampir tengah malam. Jadi saya lakukan hal yang sama seperti yang
Rasulullah contohkan .

Ya Allah, ampunilah dosa Nafisya, baik yang telah lalu maupun yang terjadi belakangan, dan baik
yang ia kerjakan secara sembunyi-sembunyi maupun yang ia lakukan secara terang-terangan,
mendo'akannya. 9

Harusnya saya tidak menolak ajakan Albi untuk mencoba menu baru di cafeteria tak jauh didepan
rumah sakit saat pulang tadi. "Ya udah, nanti saya cari makanan keluar, atau kamu bikinin mie instan
juga saya gak masalah".

Sebenarnya saya orang yang paling anti terhadap makanan instan. Apalagi yang mengandung MSG
tinggi, makanan-makanan tersebut bisa menambah resiko sakit jantung, darah tinggi, diabetes bahkan
stroke.

Mengerikan, tapi saya kecualikan untuk hari ini saja.

Saya mengeluarkan laptop dari dalam tas dan pergi ke ruang kerja. Dirumah pun kami lebih sering
sibuk dengan urusan masing-masing. Nafisya dengan tugasnya, dan saya dengan pekerjaan saya.

Kahfa mengirimkan email beserta file sebagai lampiran untuk saya baca terkait acara Childhood
Cancer Foundation yang akan di adakan akhir minggu ini. Tak sampai sepuluh menit saya duduk, Nafisya
mengatakan bahwa mie instannya sudah siap.
Lantas saya turun ke lantai bawah untuk makan. Hanya satu mangkok mie yang saya dapati di meja
makan, membuat saya berasumsi bahwa Nafisya sudah makan.

Lagi-lagi pikiran saya bermasalah, pertanyaan negatif menyusup begitu saja di kepala 'Apa dia makan
malam juga dengan Jidan?' Saya menggeleng-gelengkan kepala, berharap pertanyaan itu segera hilang.

"Kamu gak makan?" tanya saya.

"Mau kok" jawabnya mengambil dua garpu.

"Kenapa bikin mie nya cuma satu?".

"Fisya bikinnya dua, sengaja di taro satu mangkok. It's sunnah" katanya. Saya mendelik curiga,
mendadak ingin makan satu piring berdua dengan saya? Pasti ada yang salah dengannya.

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

"Bukan karena kamu gak sempet cuci piring, dan mangkoknya kotor semua kan?" tanya saya sambil
menarik kursi.

"Lecturer is always right" katanya sambil tertawa kecil. Kami duduk bersebrangan dan mulai
menyantap mie dengan toping daun bawang dan tomat itu. 3

"Gimana acara kamu tadi siang?" tanya saya kembali membuka pembicaraan. Banyak yang melarang
berbicara ketika makan padahal itu juga sunnah, tujuannya untuk membangun suasana. Yang tidak
boleh itu, berbicara sambil menelan. Jelas pasti tersedak.
Perempuan itu tersenyum "Seru banget Pak! Tapi bekas suntikannya jadi biru. Tadi kan ada yang
harus naik pohon buat masangin terpal karena mau hujan. Kebetulan acaranya memang diadain
dihalaman masjid, terus Jidan yang naik, gara-gara udah lama gak manjat pohon, dia hampir aja jat-" dia
terhenti tersadar ketika yang dibicarakannya hanya Jidan bukan acara donor darahnya.

"Kenapa berhenti?" tanya saya. Nafisya hanya diam, wajahnya ditekuk tanda menyesal.

"Saya gak apa-apa ko kalau kamu mau nyeritain Jidan. Kalau bisa kamu cerita semua tentang Jidan
dari awal kalian ketemu, biar saya tau apa yang bikin kamu suka sama Jidan" lanjut saya.

"Serius gak apa-apa? Masa Fisya ceritain laki-laki lain ke suami sendiri sih?" katanya penuh keraguan.
"Sekarang kan posisinya kamu istri saya dan Jidan itu sahabat kamu yang artinya sahabat saya juga. Jadi
kenapa engga?" tanya saya balik. Perempuan itu mulai bersemangat lagi, dia mulai menceritakan banyak
hal tentang Jidan.

"Sebenernya Jidan itu orangnya jail Pak, dia sering narikin jilbab Fisya waktu kecil, sampai Fisya
udah kaya marsya, poni nya keluar-keluar. Dia juga punya lesung pipi kalau lagi senyum, kata bundanya
karena waktu bayi pipi Jidan dipakein cabe".

"Besoknya Fisya sama Jidan bereksperimen, kita nyabut cabe yang ada di halaman belakang
rumahnya Jidan karena Fisya bilang Fisya juga pengen punya lesung pipi, biar keliatan manis. Bukannya
punya lesung pipi, pipi Fisya malah panas semaleman meskipun udah dikompres air dingin". 9

"Hahaha jangan-jangan itu yang bikin pipi kamu merah Sya. Ya iyalah namanya juga cabe, Fisya..
Fisya.." saya tertawa sambil menggeleng-geleng.

"Jangan ketawa ih, Pak Alif juga pasti pernah bertingkah konyol waktu kecil" demonya, kesal
mendengar saya tertawa.
Iya juga, saya jadi ingat ayah saya, waktu kecil saya ingin punya rambut mengkilat seperti ayah.
Setiap pagi dia sering mengoleskan sesuatu ke rambutnya. Karena ayah sering tidak ada di rumah, saya
mencari jel mengkilat itu keruangannnya.

Saya menemukan lem kertas cair, saya oleskan semua ke rambut. Alhasil rambut saya menyatu
semua seperti karakter kartun tintin, akhirnya ayah terpaksa memotong rambut saya menjadi botak. 1

"Jidan juga aneh, makannya Fisya panggil makhluk mars. Dia bukan makhluk bumi. Jidan itu lebih
suka mainan anak perempuan. Dia lebih sering main salon-salonan sama Kak Salsya. Entah karena Kak
Salsya juga suka main salon-salonan atau memang Fisya yang gak suka kalau mereka main berdua".

"Kamu selalu satu sekolah sama Jidan?" tanya saya.

"Iya, tapi ya gitu. Fisya baru masuk Jidan mau lulus. Pernah Fisya pulang sendirian, katanya Jidan
ada kerja kelompok tapi ternyata Jidan pulang berdua bareng Kak Salsya".

"Tapi Jidan orang baik, apalagi bunda nya, mungkin sikap Jidan genetik dari ibunya. Jidan juga gak
suka membeda-bedakan orang dan mudah berbaur, dia paling jago mencairkan suasana. Mungkin Jidan
satu-satunya laki-laki yang berdiri jadi tameng buat Fisya saat Abi pergi jauh dari Fisya. Dia kaya obat,
pait tapi menyembuhkan."

Saya mengatakan tidak apa-apa, tapi saya tidak mengatakan bahwa semuanya menyakitkan. Saya
terlihat bodoh dengan meminta Nafisya menceritakan semua tentang teman kecilnya, lalu hati saya
semakin tidak bisa memetabolisme perasaan sesak yang datang. +

Sepanjang kisah yang saya simak, Nafisya hanya terus menerus menunjukan kekagumannya
terhadap pria itu.

Cemburu itu tabiat wanita. Tapi pahamilah bahwa sebenarnya cemburu itu ada pada laki-laki. Sa'ad
Radiallahu'anhu pernah keluar dari shaf shalat ketika mendengar salah seorang sahabat yang bercerita
kepada Rasulullah bahwa dia mendapati istrinya dengan pria lain.
Lalu Sa'ad berkata "Demi Allah, jika itu terjadi pada saya, saya akan menghukum keduanya" begitu
kata Sa'ad dengan marahnya. Kemarahannya muncul karena rasa cemburu, lalu Rasulullah berkata
"Lihat kecemburuan Sa'ad? Saya lebih cemburu daripada Sa'ad dan Allah lebih cemburu daripada Saya
dan Sa'ad".

Jadi sebenarnya kecemburuan saya malam ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Sa'ad.
Saya hanya tidak ingin di anggap posesif dan pengekang.

Bukan tanpa alasan saya meminta Nafisya menceritakan semua hal menyangkut Jidan. Saya harus
banyak belajar dari pria itu, saya harus memahami hal apa saja yang membuat Jidan bisa membuat
Nafisya begitu bahagia sampai matanya berbinar-binar ketika menceritakannya. 1

Ternyata kesimpulannya adalah semua hanya soal waktu. Nafisya menyukai Jidan karena hampir
separuh waktu hidupnya diisi oleh pria itu.

Tapi kalau Jidan butuh lima belas tahun untuk membuat Nafisya bergantung padanya, itu artinya
lima belas tahun dari sekarang saya baru bisa membuatnya bergantung pada saya. Bukankah di umur
kepala empat saya baru berhasil?.

"Minggu depan, saya ada acara keluar kota selama dua hari ke salah satu rumah kanker yang ada
disana. Kamu mau ikut? Acara rutin dari rumah sakit" ajak saya.

"Eum.. Boleh deh" jawabnya.

"Oke" jawab saya.

Selesai makan, Nafisya berjalan mengikuti kemanapun saya berjalan. Dia sudah seperti anak ayam
yang baru menetas lalu melihat induknya. Dia merengek meminta saya membantunya mengerjakan
tugas farmakologi membuat ppt untuk persentasinya besok pagi mengenai tahap-tahap pengobatan
untuk pasien tuberculosis.
"Fisya yang bikin ppt nya. Pak Alif cuma harus jelasin tahapan yang benernya kaya gimana? Setelah
tahap intensif enam bulan minum obat, pasien TB harus diapain? Bantuin.. Ya?".

"Saya spesialis bedah, bukan spesialis paru" jawab saya.

"Ayolah... Pak Alif pasti tau kok. Fakultas lain ujian, Fisya masih belajar. Fakultas lain libur Fisya baru
ujian. Fakultas lain masih libur Fisya baru libur. Sampe Fakultas lain masih libur Fisya harus udah masuk
kuliah duluan...".

"Makannya jangan keseringan ngeliat fakultas lain, yang namanya mahasiswa dibidang medis memang
kaya gitu, jangan harap bisa LDRan sama tugas" ucap saya. Saya kira Nafisya akan diam tapi ternyata dia
terus saja berbicara seperti kereta api kehilangan rem nya. +

"Makanya Pak Alif bantuin Fisya.. Ya? Ya? Ya? Kan Pak Alif yang bilang kalau seorang istri
seharusnya gak bikin suaminya bermalas-malasan atau menganggur sementara istri ngerjain semuanya.
Nanti istri yang megang kepemimpinan rumah tangga loh".

"Iya, tapi saya kan lagi gak nganggur. Saya juga harus selesai baca dokumen yang dikirim Kahfa
sebelum besok".

"Pak Alif sepakatkan kalo semua pekerjaan rumah itu adalah tugas suami?" tanyanya lagi. Saya
mengangguk "Ya, saya sepakat" jawab saya. "Berarti masak, cuci piring, nyapu, ngepel juga tugas suami.
Intinya seorang suami itu wajib bantuin pekerjaan istrinya. Sepakat?" lanjutnya. 2

"Ya, saya sepakat".


"Berarti Pak Alif wajib bantuin tugas Fisya!" Saya tersenyum melihat dia hampir frustasi membujuk
saya. Rumah saya tidak akan bisa sehening dulu sebelum Nafisya datang ke rumah ini, padahal ini
tengah malam.

"Dan kamu sepakat kalau tugas istri itu cuma satu? Yaitu taat" lanjut saya. Nafisya mempoutkan
bibirnya membuat pipinya penuh dengan angin seperti tupai. "Jadi kalau saya minta tolong kamu buat
masak, cuci piring, nyapu, ngepel, kamu harus mau".

"Kalau saya minta tolong kamu buat ngerjain tugas sendiri, kamu juga harus mau, jadi silahkan
bergadang tuan putri, saya juga mau bergadang di ruang kerja" saya membawa barang-barang yang saya
butuhkan ke ruang kerja.

Sekitar satu jam saya masih berkutat dengan laptop. Tak lama Nafisya muncul lagi membuka pintu,
dia tidak pernah menyerah. "Apalagi?" tanya saya.

Dia tidak membawa laptopnya melainkan boneka berbulu tebal yang sering dipeluknya. Saya kira dia
akan menangis dan mendemo karena saya tidak membantunya. "Fisya gak bisa tidur. Suara penyemprot
ruangan nyala tiap lima belas menit sekali".

"Ya udah kamu matiin dulu pengharum ruangannya" ucap saya tanpa memindahkan fokus saya
dari layar laptop. "Pengharumnya di atas Fisya gak nyampe".

"Saya kesana nanti".

"Gak usah, Fisya tidur disini aja" dia menunjuk sofa tak jauh dari meja kerja saya. Nafisya
mendudukan bonekanya. Lalu dia ke kamar lagi untuk membawa bantal, guling dan selimutnya.

Semuanya dia bawa seperti anak TK yang akan menginap dirumah neneknya. Nafisya memang
seperti itu, takut tidur sendirian tapi tidak bisa tidur kalau ada saya. Akhirnya setiap tidak bisa tidur dia
akan mencari saya.
Jika kelak dikemudian hari bukan saya yang dia cari, tolong berikan saya pemahaman bahwa
sejatinya manusia tidak pernah memiliki apapun.

"Selamat membaca dokumen Pak.."

5. Kala Itu

79.5K 6.1K 2K

oleh madani_

Allah tidak pernah memandang seseorang itu dulu, tapi Allah memandang bagaimana ia sekarang.

🍁🍁🍁

ALBI dan gamenya yang tidak pernah selesai. Dia memanggil saya tapi tidak menoleh dari layar
menyala itu sedikit pun, untuk berkedip saja sepertinya berat sekali. Lehernya terpaku seolah dipasang
penyangga.

"Lif" Saya menoleh.

Bagi koas baru, untuk bisa lulus di mata konsulen tampan satu ini bukanlah koas yang bisa menjahit
dengan rapi atau serba tau tentang pasien, melainkan koas yang bisa menemaninya main game kapan
pun atau memberinya skin terbaru sebagai hadiah. 6

Menang dari Albi sama dengan lulus stase bedah. Jadi yang ingin cari muka di depan Albi tidak perlu
repot-repot belajar, cukup kuasai mobil lagends. 5
"Hotspot dong? Lagi mabar sama anak baru nih. Kayanya kuota gue kritis, loadingnya lambat, makin
lambat kalo pake wifi RS. Mumpung dia lagi AFK" Away From Keyboard, Si lawan tengah pergi sejenak,
entah untuk apa.

"Nyalain sendiri. Tuh hanphonenya di laci" ucap saya. Hitungan detik dia mempause gamenya dan
langsung membuka laci dibawah meja. Seketika Albi malah senyum-senyum tak jelas ketika menatap
handphone saya.

"Hukum cemburu dalam Islam". 3

"Tips mengilangkan cemburu dengan cepat".

"Dampak cemburu bagi kesehatan dan gangguan jiwa". 13

Saya tersadar.

Albi membacakan semua riwayat pencarian saya di internet semalam. Sontak saya langsung merebut
handphone tersebut "Ah elah, lo kalo mau cemburu, cemburu aja kali. Pake searching segala Hahaha"
ejeknya tertawa puas. 8

"Berisik!".

"Lo udah berapa tahun sih hidup di bumi? Sampe cemburu aja harus dipelajari. Cemburu itu
manusiawi kali. Kenapa memangnya? Nafisya lagi deket sama cowo lain?".

"Nih ya, gue cemburu Fatsa suka sama lo aja, gue gak sampe dirawat psikiater, jadi tenang aja"
katanya tertawa lagi. Fatsa adalah anak kedua komite rumah sakit, putri satu-satunya Profesor Ishak.
Rumor yang beredar perempuan itu menaruh hati pada saya.
"It's not your business, man!" ucap saya dengan sedikit penekanan.

"Of course not, baby.." Saya hampir muntah mendengar panggilannya. Albi masih sendiri karena tidak
pernah berhasil move on dari gadis yang menempuh pendidikan di Rusia itu, dan berita tentang LGBT
tengah marak-maraknya sekarang. Siapa yang tidak membidik ngeri mendengar panggilannya barusan?.

"Saya gak ada niatan buat masuk golongan kaumnya Nabi Luth, mending kamu banyak-banyakin istigfar
sama muhasabah diri. Gagal move on itu jangan di istiqomahin" ejek saya.

"Kali aja gue panggil baby, Nafisya cemburu sama gue kan?" katanya lagi-lagi membahas yang tadi
sambil tertawa. "Alim is not my passion. Gue masih belum bisa tiap denger adzan langsung nyari masjid,
lagipula dulu latar belakang keluarga gue biasa aja masalah agama" lanjutnya.

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

"Agama itu bukan gaya hidup Bi, tapi pegangan untuk menjalani kehidupan. Allah gak akan
memandang seseorang itu dulu, tapi Allah akan memandang bagaimana ia sekarang" jawab saya.

"Lagian di hisab kan sendiri-sendiri, gak sekeluarga" lanjut saya. Albi seperti berpikir ketika
mendengar jawaban dari saya. "Iya juga sih, tapi seberubah apapun gue. Fatsa gak akan pernah ngelirik
gue" komentarnya simpel.

"Dan semoga kelak Allah kirimkan perempuan yang bisa mencintai kamu tanpa tapi" Albi tersenyum
hambar sembari mengaamiinkan.

"Oh iya Lif, pasien yang kemarin lusa dioperasi, yang dapet jahitan di arteri. Gue dapet kabar
katanya dia udah sadar. Lo minta dikabarin kan kalo dia sadar?".

Lega rasanya tidak ingkar janji pada anak kecil itu "Syukurlah. Saya cabut, ada kelas" kata saya
seraya menepuk pundaknya sebelum mengucapkan salam. Baru beberapa langkah saya mendengar dia
berteriak.
"Lif! mobil lagends gue gimana?". 4

🍁🍁🍁

Mendengar Hana sudah sadar, saya menyempatkan diri untuk menjenguknya sebelum pergi ke
kampus. Ruang rawat inap kelas tiga berada di paviliun paling belakang dekat ruang spesialis anak.
Membuat saya harus berjalan memutar cukup jauh.

Sesuatu yang epik dan mengharukan saya lihat ketika menginjakan kaki masuk ke ruangan yang di
kelilingi gorden tersebut. Anak laki-laki pemarah itu sedang menyuapi ibunya yang berbaring dengan
tangan tertusuk jarum infus.

"Sayang, lihat siapa yang dateng?" ucap Hana kepada anaknya ketika mendapati saya berdiri sambil
menenteng tas laptop.

Dengan polosnya anak itu menjawab "Itu dokter galak yang Gallan ceritain" katanya sambil
mengembungkan pipi kesal. Setelah dosen galak, sekarang saya mendapat julukan dokter galak. 6

Luar biasa. 1

"Hey... Bunda gak pernah ngajarin Gallan buat benci sama orang lain. Ayo salam dulu sama paman
Alif" Suruh Hana sambil membelai lembut rambut anaknya, dengan berat hati anak itu turun dari kursi
dan berjalan dengan terpogoh-pogoh lalu mengulurkan tangannya ke arah saya. Saya lupa kalau
betisnya masih terluka.

"Gimana keadaan Mbak? Udah baikan?" saya duduk di ujung ranjang. "Kalo punya arteri koroner, lebih
baik jangan nyetir sendirian, bahaya kalo tiba-tiba kambuh pas lagi nyetir" lanjut saya. Dia mengalami
kecelakaan lalulintas, bamper depan mobilnya sempurna menghantam pembatas jalan. 1
"Udah jadi dokter makin jago nasehatin orang ya? Siap deh Pak Dokter. Oh iya Mbak denger dari
suster disini kamu udah ganti status nih? Jahat kamu ya gak ngundang Mbak..." katanya. Saya tersenyum
dan mengangguk kecil, lagi-lagi wajah Nafisya yang saya bayangkan, entah apa yang membuat saya
tersenyum saat itu.

Lelaki memang suka perempuan cantik, tapi lelaki lebih suka jatuh cinta pada perempuan yang
mempu membuatnya tersenyum apalagi dalam ketaatan. 1

"Perempuan mana yang berhasil membantah prinsip dokter yang katanya gak akan nikah ini? Anak
kecil yang gak bisa bilang hurup R itu?" Hana menebaknya dengan sangat tepat. 10

"Siapa lagi? Satu-satunya perempuan yang selalu bikin jantung saya palpitasi dari dulu sampai
sekarang" Sensasi jantung berdenyut kencang, berdebar, tidak teratur, atau melompat-lompat, namun
hampir tidak pernah ada tanda-tanda penyakit jantung.

"Serius? Anak kecil yang sering kamu ceritain waktu jaman kita masih kuliah itu? Umur berapa dia
sekarang?" tanyanya terheran-heran. Mendengarnya pasti seperti mendengar fairy tale yang jadi
kenyataan. 1

"Duapuluh satu, nanti bulan desember".

"Hey! She's too young. Kamu nikahin anak di bawah umur?". 5

"Dalam Islam menikah itu bagi yang mampu. Dalam undang-undang umur minimal perempuan
boleh menikah itu 16 tahun. Jadi siapa yang nikahin anak di bawah umur Mbak?".

"Tapi kan resiko keguguran bagi ibu muda itu lebih tinggi. Pasti cantik banget istri mu itu. Secara kan?
Alif dikasih Emma Watson aja bilangnya standar. Lain kali ajak kesini ya? Biar Gallan gak cuma punya
paman tapi punya tante juga". 4
"Oke".

"Oh iya Lif, ada yang mau Mbak bicarain". 1

🍁🍁🍁

Pintu masuk kelas terus menerus saya tatap berulang, berharap seseorang masuk dari sana dengan
wajah memerah karena berlari. Sayangnya sampai akhir kelas saya selesai Nafisya tidak memunculkan
wajahnya. Kemana lagi anak itu? Sudah saya tegaskan berulang kali untuk tidak datang terlambat.

"Untuk minggu depan, saya umumkan H-1 siapa yang akan mendapatkan giliran untuk
mempresentasikan hasil penelitiannya tentang senyawa sulfonamida. Silahkan pimpin berdo'a".

"Ah, sebelum itu ada yang mau ditanyakan tentang materi hari ini? Prosedur pratikum untuk nanti
sore? Atau pertanyaan diluar materi juga boleh?" Mengajar mahasiswa semester enam memang lebih
kondusif dibandingkan mahasiswa semester satu.

Salah satu mahasiswi yang duduk paling belakang mengacungkan tangan "Pak, persentase penilaian
bapak untuk ujian akhir gimana?" tanyanya.

"Sembilan puluh persen saya ambil dari nilai ujian praktek. Sepuluh persen saya ambil dari ujian
tertulis".

"Loh Pak, biasanya nilai ujian tulis yang lebih besar atau minimal fifty fifty lah" Sambung yang lain.

"Ini universitas, dan status kalian adalah mahasiswa, bukan saatnya kalian belajar ilmu dasar lagi kalian
harus mulai belajar ilmu terapan".
"Saya gak suka kalian dapet nilai A cuma karena 'keterampilan kertas', bermodalkan seberapa banyak
kata yang bisa kalian hafal dari buku terus kalian tulis di kertas ujian, kalau dosen lain mungkin punya
sudut pandang lain, itu kebijakan masing-masing". 2

"Ada yang keberatan?" tanya saya. Semua diam, ada dua katagori diam. Pertama mereka sepakat,
kedua mereka tidak setuju hanya saja tidak berani berbicara dan hanya berani mengumpat di dalam hati.

Sebenarnya pintar teori saja tidak menghasilkan apapun, bukankah Allah memberikan pahala pada
orang-orang yang mengerjakan shalat, bukan pada orang yang hafal bacaan shalat?. 7

"Saya tau kalian tidak sepakat dengan keputusan ini, saya mengalami masa-masa dimana dosen
favorit adalah dosen yang jarang masuk, jarang ngasih tugas, dan ujian open book. Saya juga mengenal
istilah 'titip absen' tapi disini kalian adalah calon-calon tenaga medis". 1

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

"Obat itu definisinya adalah racun dalam kadar yang sedikit. Kalau dokter sudah mendiagnosis
dengan baik, para analis kesehatan dan radiologi sudah melakukan pengujian dengan baik. Lalu obat
yang kalian berikan ternyata salah".

"Misal folic acid, kalian kasih pasien folinic acid. Bukankah artinya kalian yang membunuh mereka
secara tidak langsung?".

Hening.

"Ah ya, karena kalian bertanya hal tersebut. Saya punya kabar baik sekaligus kabar buruk untuk
kalian mengenai absensi. Kabar baiknya detensi dihapuskan—" ucap saya. Mereka bersorak ricuh tak
perlu lagi bernegosiasi apabila datang terlambat atau tidak mengerjakan tugas.
"Dan kabar buruknya, saya akan menerapkan sistem zero absence. Kalau kalian terlambat kalian
boleh masuk kelas, tapi tidak diperkenankan untuk menandatangani absen. Saya anggap kalian tetap
tidak hadir. Hal itu membuat syarat lulus di SKS saya menjadi jumlah absensi 0%, artinya sekali kalian
terlambat atau tidak hadir silahkan ulang SKS saya tahun depan". 4

Mereka menghela nafas, lebih baik detensi mengerjakan tugas bertumpuk-tumpuk daripada
mengulang kelas. Konsekuensinya lebih berat "Mari belajar disiplin mulai sekarang. Peraturan tersebut
saya berlakukan mulai hari in—". 1

"A-Assalamualaikum" dengan malu-malu seseorang mendorong pintu, bukan hanya saya yang
menoleh ke pintu masuk, melainkan semua yang ada ditempat itu menoleh ke arah pintu masuk.

Nafisya berdiri dengan wajah pucat dan berulang kali berusaha mengambil nafas karena kelelahan.
Rekor terlambat yang menakjubkan. 1

Melihat Nafisya yang datang, tiba-tiba saja seseorang berbicara dengan suara keras "Sebelum
ngajarin kita disiplin, lebih baik bapak ajarain dulu istri bapak apa itu disiplin" katanya dengan suara
lantang sekali. 2

Seantero kampus hampir sudah tau kalau status Nafisya adalah istri saya. Terlebih setelah kami
memakai cincin yang sama. 6

Mereka semua tertawa, entah menertawakan apa karena saya tidak paham. Nafisya lalu menunduk
dalam, dia memang yang paling muda diantara yang lain mengingat dia tidak satu kelas lagi dengan
teman-temannya yang lain. 3

"Terimakasih masukannya, Nafisya kamu harus ikut kelas susulan, kelas saya selesai lima menit yang
lalu. Silahkan duduk dan ikut berdo'a" ucap saya, dengan ragu Nafisya mencari kursi kosong lalu duduk
disana.

Saya tidak bisa menemui Nafisya dikelasnya karena tidak semua mahasiswa keluar dari ruangan setelah
kelas saya usai. Tapi ternyata anak itu yang menemui saya di perpustakaan. 1
"Maaf.." ucapnya pelan sekali hampir tidak terdengar. Dia memainkan ujung jilbabnya sambil terus
menerus mengikuti langkah saya dilorong rak-rak buku. "Maaf untuk apa? Kamu kan udah resisten
dihukum gara-gara telat" jawab saya pelan.

"Bukan buat itu.." katanya.

"Terus buat apa?".

"Gara-gara Fisya terlambat, Pak Alif diketawain sama mahasiswa sekelas.." katanya. Apa saya tidak
sepeka itu sampai tidak menyadari kalau tadi saya yang ditertawakan?.

Saya berbalik arah membuatnya hampir menabrak saya. Matanya berkaca-kaca, dia hampir
menangis. Menyadari saya menangkap sorot tersebut dia menunduk lagi.

"Ingat apa yang saya bilang di rumah sakit waktu Abi kamu meninggal?" tanya saya. Saya pernah
mengatakan 'Menangislah, tapi jangan pernah menangis sendirian'.

"Mata Fisya kelilipan dua-duanya, bukan nangis" katanya beralasan. Saya tersenyum, Sya kecil juga
pernah mengatakan hal yang sama.

Saya menyadari bahwa terlalu jatuh untuk seseorang itu sama seperti bumi yang terus-terusan
dipengaruhi grafitasi. Seperti bumi yang tidak pernah banyak bicara, meski langit sering menurunkan
banyak hujan.

Kenapa saya mudah luluh? Kenapa saya tidak bisa marah? Kenapa saya mudah sekali melupakan
masalah hanya dengan melihat wajahnya?.

Karena saya telah jatuh. 1


"Saya gak marah ataupun malu ko. Mereka ada benernya, saya harus mendisiplinkan satu orang
sebelum satu kelas, saya lagi punya banyak waktu luang jadi kamu harus belajar sekarang. Anggap aja
kelas pengganti". 1

Hari itu kami habiskan di perpustakaan dengan tumpukan buku-buku kimia yang minimal tebalnya
sepuluh senti. Kebetulan kelas saya adalah kelas terakhir Nafisya hari itu.

Dua-tiga jam Nafisya masih bertahan membaca penggolongan senyawa barbital dan ciri-ciri
fisiologisnya "Pak, ganti kelasnya boleh di rumah aja gak? Jadi kita bisa langsung pulang sekarang. Fisya
ngantuk" katanya sambil menaruh kepala di atas meja menjadikan buku sebagai bantal.

"Boleh".

"Tapi karena waktu yang kamu pake di rumah adalah waktu saya sebagai suami. Jadi nanti malem
kamu harus bayar waktu kamu sebagai seorang istri". 37

✂.........

6. Hidup Tanpa Perih

56.9K 6.3K 2K
oleh madani_

Terkadang kita harus belajar hidup tanpa perih, tanpa mempedulikan pandangan orang lain, agar hati ini
tidak berlebihan dalam memetabolisme rasa sakit.

🍁🍁🍁

MATANYA membulat penuh, pundaknya menegang, tiba-tiba saja Nafisya mengangkat kepalanya
dari atas buku "K-ko gitu sih?" demonya dengan suara yang terdengar gugup. Volumenya berhasil
menjadikan kami pusat perhatian penghuni lain yang juga tengah berada di perpustakaan. 6

"Saya jadi dosen itu dibayar per jam, masa saya ngajarin kamu di rumah secara cuma-cuma tanpa
ada imbalan?" jawab saya. 3

"Sejak kapan Pak Alif jadi materialistis gitu? Minta imbalan segala, padahal udah Allah kasih pahala
jariyah kan dari ilmu yang bermanfaat itu" dia mendebat. 1

"Kamu tau berapa gaji muadzin di masjidil haram? Lima ribu dirham, taro satu dirhamnya dua ribu
lima ratus. Kalo di rupiahkan bisa dua belas juta lebih. Apa itu muadzinnya yang minta? Engga, dia
mengumandangkan adzan niat karena Allah. Tapi pemerintah Arab yang menghargai kerja kerasnya
makannya ngasih lima ribu dirham tiap bulan".

"Ya udah, Pak Alif jadi muadzin aja sana" balasnya. Kenapa dia jadi sensitif sekali? Apa ini efek saya
menyuruhnya ganti kelas?. 1

"Temen saya sama anaknya mengalami kecelakaan mobil kemarin, dia baru selesai dioperasi. Abis
isya kamu temenin saya jenguk ke rumah sakit. Sebegitu beratnya ya imbalan yang saya minta?"
pundaknya yang menegang ikut kendur ketika mendengar permintaan saya. 1

"Oh... Kirain" katanya terlihat lega sekali. 11


"Kirain apa?" tanya saya heran, pipinya sudah merona sejak tadi "Pipi kamu kenapa jadi merah gitu,
sindrom merah cabe kumat lagi?" tanya saya sambil tertawa kecil. Dia tidak berpikiran macam-macam
kan? Atau bahasa saya terlalu sulit untuk dipahami?. 13

"Huh? Eng-engga ko" katanya semakin malu-malu, dia menutupi setengah wajahnya dengan buku
yang dia pegang, membuat saya hanya bisa menatap matanya saja. Karena pandangan saya terlalu
menyelidik, sedetik kemudian dia malah melarikan diri. 4

"Fisya tunggu di parkiran".

Dasar.

🍁🍁🍁

Sebelum magrib semua jobdesk saya di rumah sakit sudah selesai—harusnya—tapi ternyata tiga orang
koas meminta waktu untuk bimbingan. Ini minggu-minggu terakhir mereka di stase bedah, mereka harus
presentasi besok pagi dan membuat laporan yang harus di kirimkan ke komite rumah sakit. Alhasil saya
tidak bisa menjemput Nafisya dan menyuruhnya datang sendirian. +

"Rekam medis itu milik rumah sakit, tapi isinya milik pasien. Identitas, diagnosis, riwayat penyakit,
riwayat pemeriksaan, riwayat pengobatan. Jangan cantumin itu semua di laporan atau di slide show"
ucap saya sambil melingkari bagian-bagian yang harus dihilangkan dari laporan yang mereka buat.

Nafisya pernah bilang, terlalu sadis mencoret tugas atau laporan dengan bolpoin merah. Akhirnya
saya ganti dengan pensil, biar tidak terlalu sadis. 18

"Hapus aja bagian ini, nanti kamu jelasin gak usah masuk ke slide nya, laporan hasil cetaknya liatin
juga ke saya. Oh iya resume yang kalian bikin buat pegangan, saya juga mau liat".
CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

"Oke dok, saya beresin sebelum adzan Isya. Nanti malem dokter masih ada di rumah sakit kan?"
tanya salah satu laki-laki diantara mereka. Tiga koas itu terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan.

"Ada, tapi saya ada janji sama istri saya. Besok pagi aja liatin ke saya. InsyaAllah saya dateng lebih
pagi, atau minta pendapat Albi next shift juga bisa" jawab saya.

"Istri?" tanya koas perempuan dengan kemeja biru langit dan rambut ikal yang di gerai sebahu itu.
Wajahnya seperti syok sekali ketika mendengar alasan saya. 11

"Kenapa?" saya balik bertanya.

"S-saya kaget aja dok, kayanya saya belum pernah liat dokter pake cincin dijari manapun deh"
katanya sambil tersenyum, saya merasa senyumnya terpaksa saat itu. Apa ini yang dibicarakan Albi
kemarin? Saya terlalu sering mematahkan banyak hati. Inilah alasan kenapa pernikahan itu harus di
umbar, agar orang-orang tidak salah paham.

Lagipula mematahkan banyak hati dengan mengakui pernikahan tujuannya bukan menyakiti, tapi
karena ada hati yang harus dijaga. 9

"Cincinnya sengaja saya lepas karena tadi baru selesai operasi, prosedur masuk OK segala aksesoris
dilarang dipakai kan?" jawab saya bersikap acuh dengan perubahannya yang kontras. Tiba-tiba pintu
ruangan terbuka memunculkan sosok yang tengah saya tunggu.

"Assalamu'alaikum P-" kami menjawab salam, namun perkataan Nafisya terhenti takala mendapati
orang lain di ruangan saya. Sekarang bukan hanya saya yang terpesona, dua koas laki-laki itu pun
menatap Nafisya dengan terkagum-kagum, masalahnya dia menggunakan khimar hitam yang membuat
wajahnya terlihat kontras sekali apalagi pipinya itu.
"Maaf" katanya hendak keluar dan menutup pintu sepelan mungkin. Saya menahannya "Saya lagi
bimbingan, sebentar lagi selesai, tunggu sebentar ya?".

Nafisya mengangguk "Iya Mas" jawabnya dengan kikuk. Mendengar panggilan itu membuat mereka
sadar siapa yang mereka lihat. 15

"Nunggunya di dalem, bisa?" suruh saya ketika lagi-lagi Nafisya hendak keluar. Anginnya sedang
tidak bersahabat dan sepertinya sebentar lagi juga akan hujan. Nafisya mengangguk lalu masuk kedalam,
saya memberi isyarat wajah untuk duduk di kursi putar di depan meja.

Tak butuh waktu lama, berkat kehadiran Nafisya para koas itu mengerti dan mengakhiri bimbingan
tersebut secepatnya. "Ngeliat bapak bimbingan Fisya pengen deh jadi kaya mereka. Keren gitu, kemana-
mana pake jas putih terus bawa buku notes" komentar Nafisya.

"Apalagi yang perempuan, MashaAllah cantik banget. Wajah dokter muda itu memang berkarisma
ya?" Mungkin di mata Nafisya antara berkarisma dan banyak pikiran beda tipis.

Saya tersenyum. Sepanjang saya menggunakan jas putih, membawa stetoskop kemana-mana dia
tidak pernah mengatakan kalau saya terlihat keren.

Saya mengambil hanphone saya dan memasukannya kedalam saku kemudian mengajaknya untuk
meninggalkan ruangan "Gimana kalo misalkan mereka malah pengen jadi kamu?" tanya saya balik. +

"Kenapa pengen jadi Fisya?" tanyanya dengan alis hampir beradu—soalnya koas itu suka sama saya.

"Kan saya bilang misal" jawab saya. Kami berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Langit sudah
menggelap dan rumah sakit sudah tidak terlalu ramai.

"Apa yang Fisya punya sampe mereka mau jadi Fisya?" dia tidak akan peka dengan pertanyaan saya.
5
"Sudahlah" jawab saya menutup pembicaraan daripada saya kesal sendiri nantinya. "Kamu udah
shalat Isya?" tanya saya.

"Kan Pak Alif bilang setelah isya, makanya Fisya shalat di rumah dulu sebelum kesini" jawabnya
meniru gaya saya bicara tadi.

"Ya udah lewat sini, saya shalat dulu" langkah kami berubah arah, belok ke kanan menuju masjid.
Salah satu yang saya suka dari rumah sakit ini adalah masjidnya yang berada ditengah-tengah, jadi ketika
adzan dikumandangkan seluruh pelosok rumah sakit akan terdengar. Dia menunggu saya di halaman
masjid sementara saya menunaikan shalat Isya.

Nafisya mengajukan pertanyaan lagi ketika saya menggunakan kaos kaki "Oh iya. Siapa nama temen
bapak itu?" Saya baru teringat kalau saya belum pernah menceritakan apapun tentang Hana pada
Nafisya.

"Hana" jawab saya singkat.

"Perempuan ternyata, Fisya kira laki-laki" jawabnya.

"Kenapa? Kaget saya punya temen perempuan?".

"Bukannya temen bapak lebih banyak perempuan ya? Yang komen di postingan bapak aja banyak
nya perempuan kan?". 10

"Kamu ngepoin sosial media saya?" tanya saya sambil berdiri, dia asik duduk dan mengayunkan
kakinya. 1
"Kepedean deh, mulai. Fisya gak sengaja liat di akunnya Mas Kahfa. Kalau iya memangnya kenapa?
Gak boleh?". 1

"Aneh aja" jawab saya. 2

Kami melanjutkan perjalanan kami menuju ruang rawat inap Hana "Kenapa Pak Alif jarang banget
posting foto pribadi? Foto pas lagi operasi misal, lagi wisuda, lagi di luar negeri, atau pas megang scalpel
wajah ketutup surgical-hat. Wah, pasti Bapak makin banyak followers" entah hanya perasaan saya saja
atau memang ada nada cemburu didalamnya. 5

"Iya, giliran saya lagi ngambil foto, tiba-tiba grafik EKG tinggal garis lurus, satu detik pas lagi operasi
itu berharga, nyawa orang taruhannya, media sosial itu bukan media untuk laporan".

"Lagian saya gak perlu followers banyak-banyak. Satu followers halal aja udah cukup. Kamu sendiri
kenapa gak posting foto?".

"Loh,Bapak jug—"

"Iya saya kepoin akun kamu juga, kenapa? Gak boleh?" kata saya berterus terang sambil meniru
gaya bicaranya lagi.

"Aaa... ciee kepo sama Fisya... " katanya sambil tersenyum menggoda dan menunjuk saya dengan jari-
jari lentiknya. +

"Kamu ini.." jawab saya sambil melangkah lebih dulu meninggalkannya yang kini harus sedikit
berlari mengejar langkah saya. 3

Saat sampai diruangannya Hana, Gallan sudah tidur dikursi dengan keadaan menyender pada
tembok. Hana duduk siaga takut sekali-kali anaknya terjatuh. Hening sekali, mungkin pasien-pasien lain
sudah beristirahat "Jangan dibangunin Mbak, kasian Gallan" ucap saya.
CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

Hana menyambut Nafisya ramah, mereka saling melempar senyum "Nafisya Kaila Akbar" kata
Nafisya memperkenalkan diri, Hana menyebutkan namanya sebelum akhirnya mereka berjabat tangan.

"Gak usah tegang gitu, profesinya bukan dosen kok" ejek saya ketika melihat Nafisya yang begitu
gugup sampai tangannya gemetar. Nafisya menatap saya seolah bertanya 'kalau bukan dosen, dia
siapa?'.

Iseng saya jawab "Khadijahnya saya" kata saya yang membuat Nafisya tertegun dan Hana yang
melemparkan tatapan heran pada saya. "Wanita asal Surabaya kaya raya, yang membantu keuangan
saya waktu saya masih kuliah diluar negeri dulu"—bagi saya dia sudah sepeti kakak kandung.

"Jangan ditanggapi Sya, Alif itu memang suka hiperbola, berlebihan" jawab Hana takut Nafisya salah
paham dengan jawaban saya. Anak kecil di kursi itu menggeliat karena mendengar suara orang
berbicara, sebelum akhirnya kedua kelopak matanya terbuka.

"Bunda..." katanya dengan suara parau khas bangun tidur.

"Iya sayang, kamu kebangun ya? Liat siapa yang dateng sama paman Alif. Gallan punya tante
sekarang" Anak itu acuh tak acuh dengan kehadiran kami. Terlebih separuh nyawanya belum
sepenuhnya terkumpul.

"Bunda... Gallan laper" katanya sambil menghampiri dan memeluk ibunya. Hana belum sepenuhnya
pulih, dia belum diperbolehkan pulang. Pasti sulit sekali membesarkan anak laki-laki seorang diri. 1

"Fisya bawain makanan buat Gallan" ucap Nafisya antusias sembari membuka tasnnya. "Fisya juga
bawain makanan buat Kak Hana, tapi... Maaf ya kalo rasanya agak aneh. Fisya belum pernah bikin sup
ikan sebelumnya" ucapnya ragu.
Gallan yang awalnya bersikap cuek apalagi pada saya, sekarang terlihat senang mendengar Nafisya
membawakan makanan untuknya. Terlebih saya tahu benar makanan rumah sakit seperti apa. "Makasih
Kak.." katanya sambil mengambil kotak makan yang di keluarkan Nafisya.

Ketika membuka kotak makan itu, wajah Gallan berubah murung "Bunda, liat deh. Gallan gak tega
makannya" katanya. Bagaimana tidak, makanan itu terlihat menggemaskan bukan menggiurkan.

Saya melirik ke arah Nafisya, itu terlihat seperti bekal anak TK. Dia hanya tersenyum kikuk sambil
berbisik "Fisya kira anaknya masih kecil". +

"Wah, kamu jago banget masaknya Sya. Lif, kamu dibekelin yang gini tiap hari?" Mbak Hana memuji
ketika mencicipi sup ikan yang entah seperti apa rasanya.

Saya makan mie instan Mbak. 48

Sampai jam sembilan kami berada diruangannya Hana. Perihal permintaan Hana, sepertinya
waktunya tidak tepat untuk mengatakannya sekarang. Akan saya katakan pada Nafisya jika sudah dekat
hari H.

Ketika jalan di koridor untuk pulang, handphone saya bergetar tanda ada pesan masuk. Rupanya
Hana yang mengirim pesan. Dia mengomel tentang pembicaraan tadi 'Kamu ngapain sih Lif, pake acara
manggil Mbak 'Khadijah' segala? Nafisya bisa salah paham'

Saya mengetik pesan balasan itu sambil tersenyum 'Just make her little jealous' balas saya. Tapi
pada kenyataanya Nafisya tidak cemburu sedikitpun. Tak ada pandangan tidak suka dimatanya.
Bukankah separuh hidupnya dia habiskan untuk cemburu pada Jidan?. 4

Ah, sudahlah.
Terkadang kita harus belajar hidup tanpa perih, tanpa mempedulikan pandangan orang lain, agar
hati ini tidak berlebihan memetabolisme rasa sakit.

........

7. Yang Mendewasakan

32.7K 4.1K 877

oleh madani_

Jika saja hidup itu sesederhana anak kecil. Saling bermusuhan, saling berkelahi, lalu keduanya menangis
dan saling minta maaf.

🍁🍁🍁

KORIDOR rumah sakit dia telusuri sambil menatap layar handphonenya, kali ini Albi tidak sedang
bermain games. Melainkan mengikuti intruksi Alif yang dikirim lewat pesan whatapps untuk sampai di
ruang rawat inap yang ditempati Hana.
Ada titipan roti tawar, beberapa makanan ringan dan sekotak susu full cream berukuran dua liter
yang dititipkan Alif, tapi karena pria itu ada kelas mengajar jadi sebelum pergi dia menitipkannya pada
Albi.

Bisa saja Albi mengutus salah satu koas atau meminta bantuan suster untuk mengantarkannya, tapi
prinsipnya kalau masih bisa dia lakukan sendiri akan dia lakukan. Jika tidak bisa menjadi sebaik-baiknya
manusia yang bermanfaat bagi orang lain setidaknya jangan jadi beban untuk orang lain.

"Bangsal empat, kode Rasyiid" katanya menatap anak panah berwarna hijau yang dibuat untuk
penunjuk arah.

Albi berapapasan dengan anak laki-laki berambut kemerah-merahan itu, mereka bertemu kemarin
lusa. Sebenarnya rambutnya hitam tapi jika terkena cahaya matahari terlihat ada warna sedikit merah.
"Halo dokter" kata anak itu bersemangat.

"Halo jagoan.." jawab Albi seraya tersenyum dan berhigh-five layaknya teman.

Albi mengenal anak itu ketika datang ke ruang parinatologi, ada bayi yang katanya akan
dipindahkan ke poli bedah dan anak itu tengah menatap malaikat-malaikat kecil di kotak kaca. Albi kira
dia anak kecil dari poli anak karena berkeliaran di rumah sakit, nyatanya dia hanya bermain.

"Permisi.." pria itu masuk ke ruangan persegi panjang yang terdiri dari enam bangsal itu. Lima
bangsal nampak terisi dan satu bangsal kosong. Dia melihat papan-papan yang digantung berharap
menemukan nama Hana.

"Hana ya?" tanya Albi ketika apa yang dicarinya dia temukan. Pandangan perempuan di depannya
beralih dari sebuah buku tentang hukum "Ya?" katanya sedikit terperanjat karena seorang dokter
menemuinya.
Untuk kali pertama Albi merubah persepsinya tentang hijab. Hampir semua perempuan yang
disukainya tidak berhijab tapi perempuan di depannya terlihat begitu cantik dengan jilbab berwana
peach meski dengan bibir pucat dan wajah tidak dipoles make up sedikitpun.

"Ini ada titipan dari Alif.." Pria itu menaruh bingkisan yang dibawanya di atas meja, di samping
tempat tidur.

"Oh iya, terimakasih".

Ketika Albi hendak pergi tiba-tiba anak yang tadi Albi temui di koridor masuk dan memeluk Hana
sambil berteriak "Bunda... Ada kodok di teras depan. Gak sengaja kepegang sama Gallan iiiiiii jijik...."
katanya sambil mengelapkan tangan ke baju ibunya.

"Gallan kemana aja sih? Kan Bunda udah bilang, mainnya jangan jauh-jauh!. Kalo ada apa-apa sama
kamu gimana? Bunda gak bisa kemana-kemana buat nyariin kamu" omel ibunya.

"Dokter.. Dokter.. Ayo main mobile lagends lagi" Gallan tiba-tiba lupa tentang insiden memegang
kulit katak itu ketika mendapati Albi berada di ruangan ibunya.

Hana menoleh ke arah orang yang diajak bicara anaknya "Gallan, kamu kenal dokternya?" tanyanya
terheran-heran. "Dia yang ngajarin Gallan main games waktu Gallan main ke ruang bayi sendirian" Anak
kecil tidak pernah berbohong kan? Memang Albi mengajaknya bermain games.

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

"Dokter, maaf sebelumnya. Saya sengaja gak mengenalkan Gallan pada handphone sejak kecil.
Bukan karena saya ingin Gallan buta teknologi tapi dokter tau sendiri dampak games bagi anak-anak itu
gak baik" tegas, terdengar halus, namun ada nada tidak suka.
Albi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Sa-saya gak bermaksud. Kemarin saya cuma kasian
ngeliat Gallan main sendirian jadi saya ajakin main, saya minta ma-".

"Bi!" orang yang tiba-tiba datang itu memutus perkataan Albi. "Alif itu.. Alif berantem di parkiran!"
katanya sambil mengambil nafas beberapa kali karena kelelahan. Mendengar itu, renspon otak Albi
menjadi lambat, dia hanya memandang bingung. 1

"Alif?" Albi memastikan bahwa nama yang di tangkap telinganya itu tidak salah. Seorang Alif paling
anti membuat masalah. Pria itu masih mengembalikan nafasnya agar stabil "Iya, Alif! Dia dipukulin sama
dokter dari bagian lain, gue gak kenal orangnya. Itu orang-orang udah rame banget diluar" katanya.

"Kenapa gak lo pisahin!" Albi dan orang tersebut pergi dan meninggalkan kekhawatiran pada Hana
yang ikut mendengarkan semuanya.

🍁🍁🍁

Satu hal yang masuk dalam pikiran saya ketika pertama kali Hilman melayangkan tinjunya; visum.
Otak saya memaksa saya untuk memutar kembali kejadian dimana dua tulang rusuk saya patah, retak di
bagian rahang dan lebam disekujur tubuh.

Saya masih sangat bersyukur karena tidak menjadi mayat yang harus di otopsi. Respon yang dikirim
ke otak begitu lambat sampai saya tidak bisa merasakan sakit sedikitpun, saya kira trauma dipukuli itu
sudah sejak lama menghilang.

"Lo punya masalah apa sih sama si Hilman Hilman itu?" saya mengambil kapas yang dibasahi
alkohol oleh Albi.

"Dia dokter yang terlibat di kasus saya bulan lalu. Dia dari departemen perdiatrik. Pasiennya saya
ambil alih tanpa persetujuan" jawab saya sembari menghembuskan nafas berat.
Jika saja hidup itu sesederhana anak kecil, saling bermusuhan, saling berkelahi lalu keduanya
menangis dan saling meminta maaf. Mungkin masalah ini akan selesai tanpa harus diketahui komite
rumah sakit.

"Kita punya tanggung jawab masing-masing kerja disini. Jelas dia marah karena lo ngambil
tanggung jawabnya, secara gak langsung lo mengambil pekerjaanya" perkataan Albi membuat saya
berpikir ribuan kali. Bagaimana akhirnya jika saja malam itu saya tidak keras kepala untuk mencampuri
urusan orang lain.

Ada sepasang suami istri, suaminya hanya operator di salah satu perusahaan swasta dan istrinya
hanya mengurus rumah tangga. Si istri memiliki riwayat beberapa kali keguguran karena inkompetensi
serviks, kandungannya lemah.

Setelah tujuh tahun lamanya, istrinya berhasil berjuang mengandung dan melahirkan seorang bayi
laki-laki. Tapi kemudian ada yang salah dengan bayinya, dia hanya lahir dengan satu ginjal dan fungsinya
pun tidak stabil.

Tentu saja solusi satu-satunya saat itu adalah cangkok organ. Siapa yang tidak tau seberapa besar
biaya untuk mendapat donor organ. Puluhan pasien mengantri, menjunggu hanya untuk itu. Tapi malam
itu Allah berbaik hati, ada pendonor yang ginjalnya cocok dengan bayi itu, lagi-lagi biaya yang menjadi
penghalang.

Sampai bayinya kritis tepat di jam dua pagi. Suami istri itu memutuskan menandatangani informed
consent dan akan meminjam biaya pada Bank untuk operasi anaknya. Malam itu harusnya Hilman
berada di rumah sakit, tapi hanya ada dokter residen sub spesialis yang berjaga disana. +

Dokter baru itu meminta bantuan pada saya, awalnya saya berpikiran seperti Albi. Itu bukan
tanggung jawab saya, bukan pasien saya, jadi yang saya lakukan malam itu adalah menghubungi Hilman
dan memintanya segera datang ke rumah sakit.

Tapi Hilman datang dengan kondisi tidak tepat, mulutnya bau alkohol dan pakaiannya bau asap
rokok. Dengan keadaan setengah mabuk dia akan mengoperasi bayi yang baru berusia lima bulan? Yakin
operasi itu akan berhasil?.
Saat itulah saya memutuskan untuk mengambil alih operasi dengan residen tadi sebagai as-opnya
tanpa meminta persetujuan pemindahan pasien baik dari Hilman maupun dari komite rumah sakit.

Jika saja laki-laki itu tidak mengatakannya pada Profesor Ishak, mungkin masalah ini tidak akan
membesar, tapi dia memutuskan membuka aibnya sendiri, menjuluki saya dengan 'si tukang cari muka'
Itulah yang membuatnya melemparkan bogem mentah ke arah saya tadi.

Dari sudut pandang saya, apa yang saya lakukan sudah benar, saya tidak pernah meminta maaf
atas tindakan yang saya ambil malam itu. Sekalipun komite rumah sakit berencana memberikan surat
peringatan karena saya tidak mengikuti SOP rumah sakit tentang perpindahan pasien.

Malam itu saya lupa, kalau orang lain pun memiliki sudut pandang masing-masing.

"Gak usah ke kampus, mending lo pulang aja. Kalo gak mau gue kasih rujukan buat opname" ucap
Albi. Saya mengangguk dan beranjak mengambil tas dan akhirnya meninggalkan ruangan itu.

🍁🍁🍁

Saya kira Nafisya tidak ada di rumah, melihat gerbang tidak dikunci saya langsung yakin anak itu
belum berangkat ke kampus. Kalau tahu dia masih ada di rumah, saya lebih memilih opsi kedua yang
Albi ajukan untuk opname.

"Assalamu'alaikum" kata saya ketika melintasi ruang tengah, saya menaruh tas saya di sofa, di
depan TV. Dia tengah beroperasi dengan alat-alat masaknya. Saya sengaja tidak melihat ke arah Nafisya
agar perempuan itu tidak melihatnya.

Luka di dalam hati masih bisa saya sembunyikan, tapi bagaimana mungkin saya bisa
menyembunyikan luka luar? Harusnya saya berpikiran ke arah sana. Nafisya yang selama ini sangat
menghindari kontak fisik tiba-tiba saja menghampiri saya dan memegang wajah saya.
"Wajah Pak Alif kenapa lebam-lebam gini?!" katanya penuh rasa cemas.

Saya tersenyum singkat "Saya jatoh tadi" jawab saya.

"Jangan bohong! ini bekas pukulan kan? Rachel sering dapet memar kaya gini kalo udah turnamen
taekwondo. Siapa yang bikin Pak Alif kaya gini?" tanyanya seolah akan menghakimi siapa saja pelakunya.

"Kita bahas nanti ya? Saya cape" mendengar itu mata elang yang menusuk itu kembali menjadi
bidadari bermata embun.

Nafasnya berhembus, seolah saya memaksanya untuk berhenti khawatir "Ya udah, Pak Alif naik ke
atas terus istirahat.. Fisya buatin makanan sama kompresan dulu" suruhnya, saya menurut. Menaiki satu
persatu anak tangga rasanya seperti berjalan diatas pecahan kaca, sakit sekali. Tadi Hilman sempat
menendang tulang kering saya.

Saya langsung melepas sepatu dan duduk menyender. Tak lama Nafisya membawa ice bag berisi
balok-balok es dan menempelkannya pada bagian wajah saya yang berwarna ungu.

"Pak Alif bisa pegang ini? Fisya mau ambil kotak P3K dulu" Katanya dan bergegas pergi ke luar.

"Jangan lari-lari di tangga..." teriak saya ketika mendengar suara langkah bergitu cepat. Nanti dia
bisa terkilir lagi, saya lagi yang tidak tidur dan menggantikannya mengerjakan tugas.

Nafisya kembali dengan kotak yang dimaksudnya dan segelas susu hangat. Dia hendak mengelurakan
kapas untuk membersihkan luka yang mengeluarkan darah "Udah diolesin alkohol sama Albi, ini cuma
memar ko" potong saya. +

"Kalo gitu coba buka kemejanya, pasti belum diolesin semua kan?" katanya penuh keraguan. Jelas
jika bukan kondisi yang memaksa, Nafisya tidak akan pernah memintanya. Setiap melihat saya keluar
dari kamar mandi saja dia lebih sering memilih balik kanan.
"Nanti aja, saya bisa sendiri" kata saya.

"Abisin susunya, terus baringan, Fisya bikinin bubur pas Pak Alif bangun nanti".

Saya hampir tahu banyak tentang Nafisya, tapi sepertinya dia tidak tau banyak tentang saya. Tak
apa, bukankah menikah itu ta'aruf seumur hidup? "Saya suka mual kalo minum susu. Saya gak bisa tidur
karena saya saya gak ngantuk sekarang. Gak usah bikin bubur, saya gak punya masalah sama
pencernaan".

"Terus apa yang bisa Fisya lakuin? Lebih baik Pak Alif jangan pernah pulang daripada pulang
dengan keadaan kaya gini!" katanya hampir menangis, ada sesuatu yang tertahan diujung matanya. Saya
seneng kamu khawatir, tapi saya takut khawatir kamu hanya sebatas kewajiban sebagai seorang istri.
Terkadang saya bingung, perhatian mu itu sebuah gurauan atau ungkapan perasaan?.

"Boleh, saya peluk kamu sebentar?" kata-kata itu terucap begitu saja tanpa bisa dikontrol, otak
saya hilang kendali. Tanpa mengiyakan Nafisya menautkan kedua lengannya untuk memeluk saya.
Sesuatu yang sepertinya akan membuat beban apapun akan terasa ringan. 15

"Hari ini pasti berat banget ya Pak? Fisya berdoa, semoga rasa sakitnya jadi pengugur dosa"
katanya terdengar begitu dekat.

"Manusia memang seperti itu Sya, menghancurkan masa kini sambil mengkhawtirkan masa depan.
Lalu menangis di masa depan sambil menyesali masalalunya"

Jantung saya palpitasi.

Untuk kesekian kalinya.


......

8. Berdamai Dengan Ego

32.4K 4K 1.1K

oleh madani_

Bukan tentang siapa yang benar, siapa yang salah, tapi tentang siapa yang lebih dulu mau mengalah.

🍁🍁🍁

AKAN ada fase dimana kamu terus bertanya-tanya tentang kesalahan apa yang kamu perbuat
sampai orang-orang membenci mu. Sampai akhirnya kamu merasa menjadi paling benar dan
beranggapan merekalah orang yang salah. Itulah yang terjadi pada saya sekarang, kami sudah seperti
siswa nakal yang dipanggil guru BK karena berkelahi, duduk berdampingan tanpa saling ingin menatap. 5

"Alif kan udah saya kasih sanksi, dia udah minta maaf, dia juga gak diperkenankan masuk OK selama
satu bulan kedepan. Apa itu gak cukup?" kata Profesor Ishak pada Hilman yang sedari tadi urat lehernya
menegang.
Ego saya untuk tidak pernah meminta maaf karena merasa tidak melakukan kesalah apapun,
akhirnya runtuh oleh penjelasan Nafisya yang menceritakan kisah Shafiyah Binti Huyay. 11

Kisah dimana Nabi meminta maaf selama berjam-jam atas terbunuhnya ayah, suami dan semua
keluarga Shafiyah yang meninggal dalam perang Khaibar. Berdamai dengan ego itu sama beratnya
dengan meminta maaf pada musuh.

Sungguh, orang hebat itu bukanlah orang yang bisa berbuat baik pada orang lain. Tapi orang yang
mampu berbuat baik pada orang yang bersikap tidak baik padanya. 9

"Jadi kamu mau saya minta maaf sama Hilman, berjam-jam sampai Hilman jatuh hati sama saya?
Sama kaya Shafiyah yang akhirnya luluh dan jatuh hati sama Nabi?". 2

"Ya gak sampai jatuh hati juga... Dokter Hilman kan laki-laki. Bapak mau ngumpulin followers cowok
juga?". 19

Setegang apapun suasana disini, potongan percakapan tersebut membuat saya kembali mengukir
senyum. Tiga hari istirahat di rumah, saya bisa jadi sejarawan ketika mendengar kisah-kisah yang Nafisya
tuturkan. Kadang Nafisya itu bisa bersikap lebih dewasa dari saya ketika menghadapi masalah seperti ini.
4

"Saya ingin bapak bersikap independen dan menetapkan hukum sesuai tempatnya! Beri Alif sangsi
tertulis, gak cuman dilarang masuk OK aja, nanti dia malah keenakan ngurangin kerjaan!" katanya masih
dengan suara stereo. 4

Nafas saya berhembus begitu saja, hukum sesuai tempatnya ? Bolehkah saya mengajukan laporan
penganiayayaan terencana dan pencemaran nama baik setelah insiden di parkiran kemarin?. 2

Jika kamu menyalahkan orang lain hanya karena mereka tidak sependapat dengan mu. Koreksilah,
mungkin bukan mereka yang salah, tapi hati mu yang bermasalah.
"Saya bukan Rasulullah Sya.. yang dengan sikap rendah hatinya bisa minta maaf sama Shafiyah atas
apa yang bukan dilakukannya. Saya gak bisa kaya Nabi yang bisa menyuapi pengemis yahudi buta yang
mencelanya". 7

"Ya jelas gak akan bisa, sama kaya Pak Alif yang minta Fisya jadi seperti Fatimah. Sampai kapanpun
Fisya gak akan pernah bisa se shalehah Fatimah, tapi seenggaknya bisa tetep satu jalan sama Fatimah,
meskipun jaraknya jauh. Kalau jalannya udah bener, sekalipun jalan kaki bakal tetep nyampe kan? Itulah
kenapa jalan ke surga itu susah Pak". 7

Ya Allah, shalehkanlah hati Hilman dan shalehkanlah hati saya, agar saya juga tidak ikut menjadi
pembenci. Pertemukan kami dalam keadaan damai bukan saling bermusuhan pada yaumul ba'ats nanti.
1

"Baiklah. Saya akan menempatkan hukum sesuai tempatnya, sesuai sama apa yang kamu mau. Saya
mau kamu mengajukan surat pengunduran diri? Kayanya kurang manusiawi kalau kamu dipecat karena
kelalaian tugas dan pelanggaran kode etik kedokteran" perkataan Profesor Ishak berhasil membuat
Hilman pucat pasi dan tentu saja menambah kebenciannya terhadap saya.

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

"Alif gak pernah bilang apapun sama saya. Hasyim, dokter residen itu yang bilang kalo kamu dateng
dalam keadaan mabuk berat. Bahkan semua perawat ruang OK juga tau kondisi kamu malam itu. Kalau
kamu masih mau bekerja disini, sebaiknya jaga ucapan sama tingkah laku kamu Man!" Hilman tak
banyak bicara setelah itu.

Dia diberi waktu untuk memperbaiki kesalahannya dan saya pun tetap menjalankan sanksi atas
ketidak disiplinan yang saya lakukan. Walaupun sikap Hilman kacau, tidak dapat dipungkiri
kemampuannya sebagai seorang dokter bedah pediatrik harus diacungi jempol.

Dipintu keluar lagi-lagi saya menyampaikan permintaan maaf "Man, Sekali lagi saya minta maaf...
Saya bener-bener gak ada niatan untuk ikut campur waktu itu". 3
"Alah, gak usah so pahlawan. Puaskan sekarang?" katanya, berhasil membuat saya membatinkan
beribu istigfar. Punggungnya menjauh, bersama saya yang masih mematung menatap kepergiannya. 4

"Kalau saya udah minta maaf, terus dia gak maafin, gimana Sya? Percuma saya berdamai dengan
ego kalau akhirnya gak dihargai kan? Saya gak salah, saya yang minta maaf , terus saya juga yang gak di
maafin".

"Konsepnya itu, bukan tentang siapa yang benar, siapa yang salah, tapi tentang siapa yang lebih
dulu mau mengalah, Pak. Kalau udah minta maaf, terus gak dimaafin, ya itu urusan dia dengan Allah.
Bukan urusan bapak lagi. Ngapain bapak yang repot". 11

Ya, masalah dimaafkan atau tidak itu bukan urusan saya lagi. Itu urusan Hilman dengan Tuhannya,
entah kenapa jawaban Nafisya itu selalu menenangkan, dia menegaskan bahwa kewajiban saya
hanyalah meminta maaf. 6

Usai menghadap Ketua Komite sambil berjalan menuju ruangannya Kahfa, saya langsung
mengubungi Nafisya"Gimana rasanya udah minta maaf?" pertanyaan pertama yang dilontarkan gadis itu
ketika sambungan teleponnya tersambung. 2

"Rasanya pahit, lebih pahit dari obat" jawab saya singkat. Saya mendengar gadis itu tertawa lepas
dan dengan percaya dirinya dia berkata. 1

"Iyalah, yang manis kan cuma Fisya" katanya, kini giliran saya yang tertawa, tingkat percaya dirinya
itu tidak pernah berkurang. 7

"Semanis C12H22O11 ya?" balas saya. 18

"Ih, jangan pake rumus kimia. Fisya mana inget itu senyawa apa!" katanya terdengar jengkel ketika
saya menyebutkan rumus laktosa, lalu saya tertawa lagi. 6
"Sya, jadi kan siang ini kita nyari kemeja putih?" acara amal itu mengharuskan semua yang ikut
berpartisiasi untuk menggunakan baju putih, katanya agar terlihat lebih kompak.

"Kemeja Pak Alif kan hampir semuanya warna putih, Fisya minjem punya Pak Alif aja, kita harus
melakukan gerakan hemat ala mahasiswa" katanya. Termasuk makan mie instan juga? Apa itu gerakan
menghemat ala mahasiswa yang dimaksudnya. 17

"Itu kan kemeja laki-laki, lagian di kamu bisa jadi dress selutut kalo pake kemeja saya, belum lagi
bagian tangannya pasti kepanjangan" seketika langkah saya tertahan ketika akan berbelok. 2

Dua orang tengah beradu mulut disana. Dari ruang Komite, saya memang memilih lewat jalan
belakang dimana ada taman-taman kecil yang bersebrangan dengan paviliun rawat inap kelas satu,
karena ruangan Kahfa akan sangat jauh kalau lewat depan, harus memutar.

Salsya juga bagian dari divisi anesthesi sekarang, harusnya saya ingat kalau ruang lingkup kerjanya
berdekatan dengan Kahfa. +

"Kenapa kamu nikahin aku? Kenapa kamu nikahin aku kalau kamu sukanya bukan sama aku?!" Kata-
kata itu begitu jelas saya dengar dari mulut Salsya. Perempuan itu berbicara dengan mata berkaca-kaca.
9

"Udah Sal! Kamu ini berlebihan!" si lelaki membentak, membuat Salsya langsung terdiam dan detik
kemudian air yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. 3

"Halo?".

"Sya.. Saya tutup teleponnya ya, saya hubungi kamu lagi nanti" saat itu saya memutus sambungan
secara sepihak dan berjalan berbalik arah.

🍁🍁🍁
Terjauh dari hiruk pikuk kota adalah sebuah keinginan, melepas penat bekerja sambil bertadabbur
alam. Menikmati udara dingin dengan sedikit matahari yang mulai menghangat. Ini terlihat seperti
liburan untuk kami.

Gedung-gedung tinggi ciptaan manusia akan tetap kalah dengan pohon-pohon pinus ciptaan Tuhan
yang tingginya menyentuh langit. Seharusnya takwa ini bertambah seraya merenungi ciptaan-ciptaan-
Nya. Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi.

Sebelum pergi, perempuan di samping saya sudah mengeluarkan fatwa, bahwa dia selalu tertidur
jika naik kendaraan beroda empat. Jadi sepanjang perjalanan sang ratu hanya tertidur sambil
menyenderkan kepalanya pada kaca, sementara saya harus tetap fokus agar tidak ikut mengantuk. 5

Ingin memindahkannya ke bahu, tapi saya takut semakin tidak fokus. 2

"Aw!" dia terbangun sambil meringis kesakitan. "Innalillahi, kening Fisya sakit" katanya sembari
memegangi keningnya dan menatapnya di spion depan. Saya tertawa kecil, sudah saya peringatkan
sejak awal untuk tidak menyender pada kaca.

Rasa sakitnya hilang ketika mendapati pemandangan bunga matahari yang menyala-nyala sejauh
mata memandang. Tiba-tiba saja dia menurunkan kaca dan membiarkan tangannya di belai angin. Bunga
kedua setelah kaktus yang disukai Nafisya adalah sunflower. 5

"Hey.. Jangan dikeluarin tangannya, kalo ada motor lewat gimana?" larang saya. 1

"Kita kan di jalur kiri Pak, mana ada motor lewat. Lagian udaranya sejuk banget, enak" katanya.

"Motor jaman sekarang itu gak kenal kanan gak kenal kiri Sya, mau tangan kamu patah terus di
amputasi?". 2
"Iya.. Iya.. Cerewet" katanya sambil kembali menutup kaca mobil padahal saya hanya melarangnya
mengeluarkan tangan. Harusnya dia tau, saya mulai cerewet semenjak enam bulan tinggal bersamanya,
cerewet itu menular. 8

"Kak Salsya ikut acara ini gak ya? Fisya jadi kangen deh.. Udah lama juga kan Fisya gak ketemu Kak
Salsya" katanya tanpa menoleh dari jendela. Saya langsung teringat kejadian kamis lalu, kejadian dimana
saya melihat Salsya dan Jidan bertengkar hebat. 4

Tentu saja saya tidak akan pernah menceritakannya, biarlah urusan rumah tangga mereka menjadi
rahasia dibalik rumah. Lagipula punya hak apa saya sampai berani menceritakannya kepada orang lain. 1

Dari kejauhan, seseorang melambaikan kedua tangannya ke arah kami ketika mobil kami mendekat.
Gayanya yang wisata beransel membuat wibawanya sebagai seorang dokter hilang. Laki-laki itu
membawa sebuah backpacker hitam, sebuah tas gitar, menggunakan kaos putih serta bercelana pdl
pendek. Penampilan seperti ini yang akan membuat 'dede koas'histeris. 5

Kalau saya punya julukan dosen galak dan dokter galak. Albi punya julukan anak gunung, padahal
tidak pernah mendaki gunung dan anak katak, karena dia jago sekali berenang. 2

"Terlambat lima belas menit, duapuluh tiga detik" katanya sambil melihat jam tangannya ketika
saya menghampirinya "Woaaaa ini Nafisya ya?" katanya terkagum-kagum ketika mendapati seorang
perempuan dengan hoodie merah muda yang ikut turun dari mobil.

"MashaAllah, kalau kaya gini caranya gue harus lapor pemerintah Mesir nih" baru kali ini saya
mendengar Albi mengatakan MashaAllah. 1

"Kenapa memangnya?" tanya saya heran.

"Gue harus bilang sama pemerintah Mesir, kalo Ratu Cleopatra yang tersohor kecantikannya itu
ternyata ada disini" untuk pertama kalinya, Albi yang apatis, pada akhirnya bisa menggoda perempuan.
Tapi kenapa perempuan pertama itu harus Nafisya?. 11
Perkataan Albi berhasil membuat pipi perempuan itu bersemu merah senada dengan hoodie nya. 1

"Kaya kenal aja sama pemerintah Mesir" kata saya. 3

Tiba-tiba saja Albi tertawa. Membuat saya menyengritkan kening "Are u jealous, man? Sya, kamu
harus tau kalo Mas Alif mu ini pernah searching tentang cem—hmptttt.. ghfd". 20

Saya langsung membekap mulut Albi dengan tangan dan menariknya untuk berjalan masuk. "Jangan
didengerin Sya, mulutnya harus dijahit" kata saya, syukurlah Albi belum sempat melanjutkan kalimatnya,
perempuan itu hanya tertawa kecil melihat tingkah kami. 9

Belum sempat saya bersalaman dengan yang lain dan mengenalkan Nafisya, sebuah mobil yang saya
kenal milik Profesor Ishak terlihat baru datang. Tentu saja pemiliknya turun dari sana, Albi langsung mati
kaku ketika Profesor Ishak berjalan menghampiri kami.

"Assalamu'alaikum, gimana? Sejauh apa persiapannya Lif?" katanya bersalaman dengan saya dan
melewati Albi yang saat itu berdiri lebih dekat. Seseorang yang semakin merusak suasana ikut turun dan
menghampiri kami. 5

"Alif?"

Dia memeluk saya. 21

"Aku rindu.." 45

✂..........
9. Sandiwara Hati

19.4K 3.4K 1K

oleh madani_

Rasa kecewa adalah cara terbaik Allah menyelamatkan kamu dari orang dan keadaan yang salah.

🍁🍁🍁

DUA orang yang pertama kali namanya terlintas dipikirkan saya ketika Fatsa dengan gampangnya
memeluk saya saat itu, nama Albi dan Nafisya. Saya berharap Albi tidak akan salah faham atas perlakuan
Fatsa yang tiba-tiba, saya juga berharap kali ini Nafisya menunjukan sisi cemburunya. 3

Dan saya sangat berharap Allah berbaik hati menurunkan ampunannya. Lebih baik kepala ini ditusuk
oleh pasak besi, daripada menyentuh wanita yang bukan mahram saya. 3

Saya langsung melonggarkan pelukan Fatsa sambil mencoba menepis tangannya. Bersikap se sopan
mungkin agar tidak menyinggung perasaanya "Maaf Tsa, bukan mahram" ucap saya pelan.

Fatsa menurut, terlebih ketika sang ayah melemparkan tatapan tajam ke arahnya. Tentu saja, harga
diri seorang ayah ada pada anak perempuannya. Rusaknya seorang putri sama dengan hancurnya tahta
seorang raja. 3

Profesor Ishak berdehem, memutus semua pandangan yang menjadikan putrinya pusat perhatian
"Jadi gimana persiapannya?" ulang pria yang rambutnya mulai beruban itu.
"Sejauh ini persentasenya sembilan puluh delapan persen siap. InshaAllah kita gak akan ada kendala
apapun selama acara berlangsung" jawab saya penuh percaya diri. Saya sudah bertanya banyak hal
pada Kahfa sebelumnya, menyiapkan detail terkecil agar tidak ada celah kesalahan sedikitpun. 1

"Oh iya, kenalkan. Ini istri saya Nafisya Kaila Akbar" saya memperkenalkan Nafisya dengan cepat.
Berharap dengan kehadiran Nafisya, sikapnya Fatsa pada saya tidak seberlebihan tadi. 3

"Ah... ini ternyata istrinya Alif. Saya Ishak Iskandar, Ketua Komite di rumah sakitnya Alif" sapa
Profesor Ishak ramah, lain dengan Fatsa yang terlihat tidak bersahabat.

"Maaf ya, waktu itu saya gak bisa hadir di acara pernikahan kalian. Kalo gak salah saya lagi ke Rusia
waktu itu, Fatsa wisuda S2 nya. Oh iya, kamu dokter spesialis apa, Sya? Sama juga spesialis bedah kaya
Alif?" untuk kali pertama, saya merasa Nafisya kehilangan percaya dirinya. Senyumnya nampak kaku dan
dia salah tingkah dengan pertanyaan tersebut. 4

"Dia masih kuliah Prof, jurusan farmasi, masih ngejar S1" jawab saya mewakili.

"Ya ampun maaf-maaf, kenapa saya gak kepikiran ya. Nafisya keliatan masih muda, jelas belum jadi
sarjana. Kenapa gak kuliah di luar negeri aja? Biar bisa lebih cepet lulusnya kaya Fatsa" saya paham betul,
seorang ayah akan selalu membanggakan anaknya, tapi sikap membandingkan itu yang membuat
Nafisya sedikit tidak nyaman. 5

"Lif, kamu udah kasih tau bagian humas tentang dress kode acara ini kan?".

"Udah ko Prof, temanya hitam putih kan?".

"Harusnya kamu pertegas sama mereka. Sekalipun acaranya gak resmi. Tetep harus pake pakaian
resmi, jangan mentang-mentang acaranya di luar rumah sakit, pake baju kaya mau liburan. Kaya gak
pernah diajarin etika berpakayan aja" kata Profesor Ishak dengan nada sarkas.
Saat itu saya bisa melihat Albi menghembuskan nafas berat. Dia tak akan banyak bicara ketika
berhadapan dengan pria satu ini. Kritik pedas seperti ini sudah menjadi langganan untuknya.

Teringat Gallan, saya pun berpendapat "Justru saya pikir itu ide yang bagus, dokter selalu dianggap kaku
dengan jas dan kemeja yang serba putih. Apalagi disini banyak anak-anak, kayanya kalo pake baju santai
bisa merubah persepsi mereka tentang 'dokter galak'". 3

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

"Um... Ya, kamu ada benarnya juga. Ayo masuk, kita bicara di dalam soalnya saya gak bakalan lama
disini".

🍁🍁🍁

Saya mencari Albi, dia menghilang setelah kami mengadakan rapat sekilas di ruang depan. Albi
menjadi sangat pendiam sekali, menjawab pun seperlunya. Jelas suasana hatinya berubah drastis
setelah kedatangan Fatsa. Siapa yang tidak kesal reunian dengan mantan?. 2

Profesor Ishak tidak bisa menghadiri acara besok pagi dan mempercayakan semuanya kepada saya,
dia datang hanya untuk mengantarkan putrinya yang menjadi perwakilan dalam acara Chilhood Cancer
Fondation kali ini. Kami menyingkatnya menjadi CCF agar lebih mudah.

Saya melihat Albi meninggalkan rapat lebih dulu. Seberapa besar sumbangan idenya, sama sekali tak
berarti apapun di mata Profesor Ishak. 4

Rupanya dia baru saja keluar dari mobilnya mengeluarkan kotak yang isinya mainan, ketika melihat
saya, arah langkahnya langsung berubah percis seperti orang menghindar "Bi.. " panggil saya.

"Albi.. Kita perlu bicara! Jangan marah dulu sama saya" suara saya sedikit keras saat itu.
"Gue gak marah, gue udah pernah bilang kan? gue gak bakalan sampai dirawat psikiater" katanya
mencoba untuk terlihat santai, walau kenyataanya menoleh pada saya saja tidak dia lakukan.

"Terus kenapa menghindar? Gak mau saya ajak bicara?" tanya saya. 4

"Gue cuma butuh waktu Lif. Gue butuh waktu buat nerima kalo Fatsa itu sukanya sama lo bukan
sama gue. Lo yang diharapkan dia dan lo yang di harapkan bapaknya" katanya. 1

"Gue siapa? Lulusan luar negeri aja bukan, lulusan dengan predikat cumlaude? Apalagi, anak orang
kaya? Jauh. Gue cuma dokter dari universitas swasta yang berharap bisa nyaingin seorang Profesor Alif
si ahli bedah" katanya dengan nada tidak suka. 4

Saya menghela nafas, perlakuan Profesor Ishak memang sedikit berbeda pada Albi, terlebih ketika
tahu pria ini menaruh hati pada putrinya, sebelum ada saya, Fatsa adalah kekasihnya Albi. Mereka
dipertemukan karena jobdesk yang sama di divisi bedah.

"Hati bisa berubah dalam hitungan detik. Tapi untuk merubah hati, perlu ribuan detik Lif. Itulah
kenapa gue milih diem. Gue gak pernah benci sama lo, gue benci sama diri gue sendiri yang gak bisa
kaya lo!" lanjut Albi, rupanya dia sudah bosan dan memilih menyerah pada takdir. 1

Untuk apa bertahan jika sudah tidak dianggap bukan?. 4

"Rasa kecewa adalah cara terbaik Allah menyelamatkan kamu dari orang dan keadaan yang salah,
Bi". 2

"Setiap orang pasti menginginkan kebaikan. Seburuk apapun perilakunya, senakal apapaun dia,
dalam hatinya pasti ada keinginan untuk menjadi lebih baik lagi. Jalani hidup sesuai dengan apa yang
Allah kasih, gak perlu jadi orang lain".
"Kejadian tadi harusnya bikin kamu sadar dan bersyukur, Fatsa punya nilai minus untuk dijadikan
pendamping hidup sekalipun akademik dia bagus". 1

"Tapi ini masalah hati, gue udah terlanjur cinta sama dia" elak Albi. 5

"Hati bisa berubah, meski perlu ribuan detik, itu yang kamu bilang tadi kan? Asal niatnya kuat.
Membalikan hati itu semudah membalikan telapak tangan bagi Allah. Bahkan jaringan terkecil tubuh kita
aja Allah yang kendaliin, apalagi cuma hati manusia" Albi termenung, mencerna semua perkataan saya.
3

"Iya juga, gue kebanyakan khilafnya, egois banget ya gue? Maafin gue ya Bro. I think, i am jealous"
katanya tiba-tiba. 1

"—just a little jealous!" katanya mempertegas bahwa kecemburuannya hanyalah hal kecil.

"Iya.. saya paham kok" jawab saya sambil sedikit tertawa, suasana hatinya kembali membaik
sekarang. 1

Albi tiba-tiba tersenyum mengejek, sambil merangkul pundak saya "Apa gue perlu seaching kiat-kiat
menghilangkan cemburu ya?"katanya, dia mulai lagi. 8

"Sekali lagi bahas itu, saya musuhin kamu beneran!" Albi tertawa puas. Mengerjai saya sepertinya
menjadi hobi baru baginya. 4

"Lo sih kebanyakan fans, bikin fans club sana. Heran gue, bisa-bisanya Nafisya gak cemburu sama
sekali".

Saya lebih heran lagi. 3


Saya yang dipeluk, tapi Albi orang pertama yang harus saya beri penjelasan. Jadi sebenarnya siapa
istri saya? Albi atau Nafisya. 27

Saya jadi jengkel sendiri ketika melihat respon Nafisya yang biasa saja. Malah Albi yang yang
mengaku cemburu disini, bahkan tatapan kebencian yang sudah lama tidak saya lihat, sempat dia
tunjukan lagi. 2

Allah saja pencemburu, kenapa Nafisya tidak sama sekali? Saya paham mungkin dia tidak memiliki
rasa apapun terhadap saya, tapi bukankah harusnya respon manusiawinya bekerja saat suami sendiri
dipeluk perempuan lain. Kepekaanya seolah menghilang saat itu. 8

Menyebalkan. 1

"Sini saya yang bawa, kasian abis cemburu disuruh ngangkatin barang-barang. Biasanya kalo hati
yang sakit, organ yang lain suka ikut sakit". 7

"Yee! Emang gue lansia apa, segala kerasa sakit. Tuh samperin istri lo, pacaran yang puas sana!"
suruhnya ketika melihat Nafisya di halaman depan sendirian.

Albi masuk kedalam, sementara saya menghampiri Nafisya yang baru saja selesai menutup telepon
"Udah teleponan sama Salsyanya?" tanya saya. Dia bilang, dia ingin mendengar suara kakaknya dan
menanyakan kenapa tidak ikut dalam acara ini.

"Udah.." katanya.

"Terus kenapa muka kamu ditekuk kaya gitu?". 1

"Suara Kak Salsya kaya abis nangis. Pas Fisya tanya kenapa, dia bilang lagi flu dan abis nonton drama
korea bareng Jidan, makannya dia nangis" katanya cemas. 2
"Mungkin memang kakak kamu lagi gak enak badan, makanya gak ikut. Lagian ini kan bukan acara
wajib".

"Ya, mungkin. Tapi suaranya kedengeran beda Pak, ini kaya nangis beneran, cegukannya kaya anak
kecil yang abis dipaksa disuntik".

"Memangnya kamu bisa bedain suara orang nangis?".

"Bisa lah, yang nangis hiks.. hiks.. hiks.. Beda kan sama yang hi.. hi.. hi.. hi.." katanya. Saya tertawa
kecil, dia memperagakan tangisan anak kecil yang katanya dipaksa disuntik itu. Terdengar seperti makluk
yang sering menangis malam-malam. 7

"Aneh kamu ini.." kata saya. 1

"Kenapa?" tanyanya.

"Apanya?" saya balik bertanya.

"Kenapa Pak Alif ngeliatin Fisya kaya gitu? Pak Alif yang aneh, serem tau..." Iya juga, kenapa saya
malah diam disini mengikuti perkataan Albi, padahal masih banyak hal yang harus saya siapkan. 1

"Mas!" tegas saya. 1

"Iya.. Iya Mas Alif.." Saya menyuruhnya memanggil seperti itu hanya selama acara ini berlangsung,
tapi karena bukan habit sehari-hari dia terus-terusan memanggil saya Pak.
"Kalo udah selesai, masuk gih. Gabung sama yang lain, sebentar lagi makan siang. Saya mau
bantuin Albi angkutin barang" kata saya sambil berjalan meninggalkannya.

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

"Kebiasaan, pasti kalau ditanya gak dijawab" gumamnya dengan suara kecil tapi terdengar oleh saya.
Kaki saya yang sudah lima langkah menjauh kembali berbalik arah.

Saya memegang kedua pipinya dengan telapak tangan, membuat pipinya menghimpit hidung
sampai wajahnya terlihat seperti ikan kembung. Nafisya terperanjat, matanya membulat hebat karena
kaget. 10

"Ngeliatin wajah kamu itu sama kaya memandang Ka'bah, pahalanya setara shalat mutlak dua
rokaat. Jadi tadi saya lagi ibadah, paham?" mata itu meredam semua kekesalan yang tadi sempat saya
rasakan. Saat itu saya jadi berdebar, seolah ini kali pertama saya merasakannya. 31

Benar bahwasannya cinta itu betah berlama-lama, ada perekat di tanah yang membuat kaki saya
enggan berjalan menjauh.

"Kamu harus sering-sering latihan buat liat mata saya langsung kaya gini. Karena pernikahan itu
ta'aruf seumur hidup, Sya" perkataan itu terucap begitu saja. Namun Nafisya malah mengalihkan
matanya dari pandangan saya. 3

Saya kira Nafisya tidak akan berani membalasnya, satu hal diluar dugaan saya, dia malah mencubit
hidung saya cukup keras. Kemajuan kecil yang membuat perasaan bahagia ini semakin meluap-luap. 4

"Aw! Sakit Sya! Lepas gak? Kamu mau saya kena deviasi septum? Kalau tulang rawan hidung saya
geser gimana? hidung saya merah nanti" ucap saya. 2
"Lepasin dulu pipi Fisya!" balasnya tak mau kalah, saya tertawa kecil melihatnya kesulitan bicara,
akhirnya saya lepaskan tangan saya dari pipinya. Bisa sedekat ini saja sudah membuat saya bahagia,
apalagi kalau kamu ditakdirkan untuk mencintai saya juga Sya. 3

"Rahang ratu cleoparta yang cantik rusak nanti" katanya sembari memegangi kedua pipinya. Giliran
pujian Albi, dia ingat, giliran saya dipeluk orang lain, dia tidak ingat sama sekali. 1

"Nanti Saya musiumkan rahang kamu kalo rusak" kata saya sembari benar-benar beranjak dari
tempat tersebut. 2

🍁🍁🍁

Jika tadi pagi Alif yang mencari Albi. Menjelang makan siang, mereka bergantian. Kini Albi yang
mencari Alif, orang itu terlalu banyak yang mencari sampai sulit sekali ditemukan.

Maklum, orang sibuk.

Bukan bergabung dengan yang lain, Albi mendapati Nafisya mengeluarkan semua mainan dari dalam
box dan membungkus semua kado untuk dibagikan di akhir acara.

Jelas hal tersebut sebut imembuat Albi merasa heran, membungkus kado bukanlah pekerjaan
Nafisya. Ada bagian servis rumah sakit yang juga ikut acara ini "Sya, liat Alif? Ngapain kamu
ngebungkusin ginian?" tanya Albi

"Gak liat dok, mungkin Mas Alif ada di ruang depan. Fisya suka kado, makannya Fisya bungkusin"
jawabnya.

"Suka sih suka, tapi seribu kado kan gak buat dibungkusin sendiri" ucap Albi. Nafisya hanya
merespon dengan senyuman, mungkin prinsipnya sama. Dia tidak mau merepotkan orang lain. 1
Benar kata Alif, Nafisya itu aneh. 6

Sebelum pergi mencari Alif, Albi kembali menghampiri Nafisya "Coba deh kamu belajar cemburu Sya,
pasti Alif suka" ceplosnya begitu saja, membuat Nafisya bingung dengan perkataanya. 6

"Katanya dokter Albi gak tau apa-apa tentang Mas Alif".

"Iya, tapi buat yang satu ini saya yakin, pake banget" jawab Albi.

"Kok bisa se yakin itu dok?" Albi tersenyum, inilah saat yang tepat membalas pria pucat itu. Tidak
akan ada yang membekap mulutnya lagi kali ini. 5

"Dulu saya pernah pinjem handphone Alif buat hotspot data, kamu tau riwayat pencariaanya apa?"
Nafisya jadi sedikit tertarik dengan topik yang disampaikan Albi. 2

"Alif nyari 'hukum cemburu dalam islam, kiat-kiat menghilangkan cemburu dengan cepat' yang lebih
konyol dia sampe nyari 'bahaya cemburu bagi kesehatan dan gangguan jiwa', itu semua gara-gara kamu.
Siapa lagi yang bisa bikin alif kaya anak baru puber gitu kan?". 15

Nafisya tertawa kecil, sekaku itu kah Alif sampai tidak bisa menunjukan rasa cemburu "Itu seriusan
dok?" tanya Nafisya. +

"Lebih dari serius".

"Kayanya bakalan seru kalo kamu cemburu, mungkin nanti Alif bakal nyari kiat-kiat meluluhkan hati
istri di intenet" jawaban Albi berhasil menambah tawanya Nafisya. 5
"Padahal Fisya sering kok cemburu, cuma mungkin ditahan supaya gak keliatan" jawab Nafisya
spontan. 18

"Loh, kenapa gitu?".

"Ya abis Pak Alif itu sering banget bilang Fisya kaya anak kecil. Kamu itu kekanak-kanakan Sya.
Jangan kaya gitu, kaya anak-anak saya gak suka. Inget umur, kamu bukan anak-anak lagi. Jadi Fisya takut
kalo Fisya cemburu, nanti Pak Alif makin nganggep Fisya anak kecil". 103

✂.......

10. Terlambat Memahami

21.5K 3.6K 1.1K


oleh madani_

Yang paling saya takutkan, saya merasa paling benar, sampai tidak bisa melihat kebenaran yang orang
lain tunjukan.

🍁🍁🍁

JAM dua siang, sudah dekat akhir jaman anemometer pun tidak bisa mengukur seberapa cepat
waktu berjalan. Entah karena terlalu sering bermain game, sikap tanggap Albi begitu membantu. Dia
bilang ada yang keliru dengan persiapan kami.

Kami menyediakan makanan untuk anak-anak yang tinggal disini tapi lupa mungkin ada beberapa
makanan yang dilarang dimakan oleh anak-anak pengidap kanker disini. Kami mengadakan acara
bermain outdor tanpa ingat beberapa anak hanya bisa berbaring ditempat tidur.

Akhirnya siang itu, kami dipecah menjadi dua tim, acara diadakan outdor dan indor bersamaan.
Sebenarnya hal tersebut membuat kami menjadi kekurangan orang. Perawat dan dokter di rumah
kanker tak sebanyak di rumah sakit. Tapi acara ini harus tetap berjalan. 1

"Hey, jangan lari-lari ya mainnya" larang saya ketika dua anak yang saya tebak usianya dibawah tujuh
tahun itu saling kejar-kejaran.

"Wah.. Wah.. dokter ini udah cocok loh jadi ayah" ujar Hasyim, dokter residen yang saya kenal
setelah insiden dengan Hilman. Saya tersenyum kecil mendengar komentarnya. 1

"Sebenernya saya gak terlalu suka anak-anak. Organ mereka itu terlalu kecil dan rumit. Kamu yang
harusnya lebih suka mereka, mau jadi konsulen bedah pediatrik kan?" balas saya sambil sedikit tertawa.
Pediatrik adalah spesialisasi kedokteran yang berkaitan dengan bayi dan anak. Dokter bedah pediatrik,
artinya dokter bedah khusus anak. 1

Hasyim tertawa "Ya Allah, dok.. Bukan itu juga maksud saya" katanya. "Tapi saya heran deh, kenapa
dokter jadi dosen dan ngajarin pediatrik kalau gak suka?" tanyanya. 1
"Guru sekolah saya dulu, Pak Kevin. Dia dosen dan ngajar pediatrik di FK, tapi karena orangnya gigih
dan haus ilmu, dia lanjut S3 dapet beasiswa buat belajar ke luar negeri lagi. Dia minta tolong sama saya
buat gantiin posisinya ngajar. Berakhirlah saya jadi dosen" jelas saya. Hasyim hanya mengangguk
menyimak.

Melihat anak-anak berlarian tanpa beban membuat Hasyim tiba-tiba mengajukan pertanyaan
"Kenapa ya? Keluarga mereka lebih memilih menitipkan mereka dirumah kanker daripada merawatnya
di rumah sakit? Padahal dukungan keluarga itu obat paling mujarab" kata Hasyim sambil melihat anak-
anak itu. Secara tidak langsung mereka terlihat seperti dibuang disini. 1

"Menghadapi masalah bersama itu lebih ringan daripada sendirian Syim. Mereka gak akan merasa
sakit karena semua yang disini merasakan sakit yang sama, itulah kenapa Allah bikin yang namanya
ukhuwah" jawab saya. 2

"Dok.." panggil seorang perawat menghampiri saya.

"Dokter samperin istri dokter dulu deh. Tadi kayanya dia lagi muntah-muntah. Sekalian dokter
makan siang juga, belum makan siang juga kan? Biar saya bantu baca beberapa laporan triasenya"
ucapnya.

Nafisya muntah-muntah?. 1

"Oke deh, makasih ya..." ucap saya sambil beranjak dari kursi, meninggalkan Hasyim dan perawat
laki-laki itu.

Melewati ruang tengah, para wanita tengah asik bertukar pengalaman sambil mengasuh anak-anak
balita, tentu saja dengan handphone di tangan mereka untuk sesekali membuat snapgram. 1

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI


Nafisya tengah sibuk mengeluarkan semua isi perutnya di wastapel. Keadaanya yang
mengkhawatirkan membuat saya terburu-buru menghampirinya "Sya? Kamu gak apa-apa?" tanya saya.
Dia terbatuk-batuk sampai kesulitan bernafas.

"Hey, kamu kenapa?" tanya saya melihat keaadaanya yang tidak wajar. Wajahnya merah sekali.
Jangan bilang dia makan seafood atu sejeninya. 2

"Gak apa-apa ko, Fisya cuma mual-" dia muntah lagi, tapi yang keluar hanya air. Isi perutnya
memberontak keluar tapi tertahan di kerongkongan atau mungkin tidak ada apapun yang bisa dia
muntahkan. 2

Melihat Nafisya muntah-muntah Nina, dokter dari spesialis anak dan Ibu Almi, dokter kandungan
langsung menghampiri kami saat itu "Wah Lif, jangan-jangan istri kamu lagi isi tuh, ciee jadi ayah" kata
Nina. 1

"Bener, udah lama juga kan kalian nikah? Trisemester awal memang mual muntah berlebihan loh
gejalanya. Apalagi anak pertama itu biasanya suka beda bawaanya" dukung Bu Almi. Membuat Fatsa
yang saat itu akan melintas ke dapur menghela nafas tak suka. Gadis itu benar-benar tidak lagi mengajak
saya bicara setelah saya mengenalkan Nafisya. 3

"Kalau udah tau lagi hamil, ngapain ikut kesini? So soan jadi volunter, kalo akhirnya ngerepotin
orang lain juga" kata Fatsa benar-benar tak suka.

"Bisa gak kalian gak usah bahas masalah anak?! Daripada kalian cuma ngeliatin sambil bikin gosip,
ada baiknya kalian bantu saya bikinin teh hangat" saya angkat bicara akhirnya. 4

"Ups.. Maaf" Nina beranjak mengambil obat apapun yang ada di kotak P3K.

"I-Iya juga, bentar Lif" lanjut Bu Alma. 1


Fatsa? Dia melanjutkan tujuannya pergi ke dapur. Mual dan muntah itu sama seperti demam, hanya
satu gejala dari sekian banyak penyakit, bisa maag, bisa mabuk kendaraan, bisa muntaber atau
keracunan makanan bahkan sampai migran sekalipun. Semuanya gejalanya mual dan muntah. 1

Trisemester awal, itu benar-benar musatahil. 1

Saya membawa Nafisya ke kamar untuk istirahat, kulitnya yang pucat semakin pucat sekarang "Pak
Alif kenapa sih kasar banget tadi? Fisya gak suka.. Gimana kalo mereka tersinggung sama sikap bapak
tadi?".

Apa perempuan selalu seperti ini? Masih sempat-sempatnya memikirkan orang lain sekalipun dirinya
dalam kondisi kesehatan yang buruk "Saya tinggal minta maaf lagi kan?" kata saya. 1

"Tapi gak segampang itu.. Pak Alif yang bilang minta maaf itu pahit. Lagian maaf itu gak selalu bisa
mengembalikan semuanya kaya dulu, pasti ada yang berubah. Gimana kalo nanti makin banyak yang gak
suka sama Pak Alif?".

"Mereka juga harusnya berpikir, kamu hampir sekarat muntahin semua isi perut. Mereka malah
ngomogin masalah hamil bukannya bantuin, memangnya saya gak tersinggung? Meskipun laki-laki lebih
sering pake logika, bukan berarti mereka gak punya hati!". 1

"Tapi Fisya gak suka Pak Alif kaya tadi" tegasnya.

Saya menghela nafas, jangan berdebat Alif, dia sedang sakit "Oke, saya janji. Saya janji saya gak
akan kaya gitu lagi" kata saya akhirnya. Dia tidak akan menyerah sebelum saya iya kan.

"Kamu masuk angin, Sya. Perut kamu kosong dari pagi, makannya pas diisi makanan, asam lambung
kamu naik, jadilah tukak peptik. Itu yang bikin kamu mual. Kamu ngerjain apa sih sampe kecapean kaya
gini?" omel saya sambil memilah-milah obat maag yang dibawakan nina. 1
"Pake jaket kamu sebelum tidur, minum obat maag baru makan, terus udah itu kamu istirahat". 2

🍁🍁🍁

Acara api unggun yang diajukan Nafisya setelah berjamaah isya terlihat bergitu menarik, apalagi
suasana dingin yang seperti di puncak menambah rasa kekeluargaan yang belum pernah saya rasakan
sebelumnya.

Mereka berhamburan mencari tempat duduk yang paling dekat dengan api unggun, menggunakan
jaket berlapis-lapis, dan kaos kaki berwarna warni. Sayang, kami tidak punya makanan yang bisa dibakar
kecuali roti tawar.

Ditemani petikan gitar dari salah satu dokter kami yang salah masuk jurusan-Albi-membuat suasana
semakin ramai. Dia membawakan lagu andalannya, laskar pelangi. Atau mungkin hanya lagu itu yang dia
hafal chord gitarnya. 1

Bukan semangat anak-anak yang bertambah, malah histeris para koas dan perawat yang sedang
pkp yang meningkat. Sepertinya jika menjadi musisi Albi akan sukses besar, kalau bukan mobil lagends
yang dia posting, kemungkinan dia juga bisa jadi selebgram.

Saya tak menemukan Nafisya diantara kerumunan orang-orang itu. Dia tidak enak badan tapi mana
mungkin si pencetus ide meninggalkan idenya sendiri. Akhirnya saya bangkit untuk mencari Nafisya.

Saya mendapati Nafisya di ruangan kami, dia terburu-buru menggunakan hoodie merah mudanya
tanpa mau menunjukan wajahnya ke arah saya. Saya terheran-heran menatapnya, apa lagi yang salah
dengan Nafisya sekarang?. 1

"Fisya mau pulang!".


Deg.

Bagai tembakan, satu detakkan, jantung saya langsung berhenti. Tiga kata itu berhasil merusak
pikiran saya. Seketika semua laporan triase yang telah saya baca, urutan rundown acara, kebahagiaan
api unggun yang baru saya lihat, menghilang dari pikiran saya begitu saja.

Pulang?.

Otak saya lambat sekali untuk mencerna kata tersebut "Apa maksudnya?" tanya saya kaget. +

"Ini mau tengah malem Sya. Kamu mau pulang kemana? Acaranya baru mulai besok pagi, kamu
jangan bercanda kaya gini" ucap saya tak percaya. Nafisya selalu berubah pikiran, tanpa mau bercerita.
Berulang kali kami sepakat untuk bersikap terbuka, dia tidak pernah melakukannya. 1

"Pokoknya Fisya mau pulang! Terserah kalo Pak Alif mau disini. Fisya bisa pulang sendiri!"
ancamnya. Saya melihat wajahnya yang memerah, dia menahan diri untuk tidak menangis, saat itu dia
terlihat sangat kesal.

Saya paham dia tengah marah dan tidak betah dengan suasana disini, tapi keputusannya terlalu
terburu-buru tanpa ada pertimbangan.

Itu yang membuat saya tidak suka.

Dan sepertinya saat itu tubuh saya juga merasa lelah sampai akhirnya emosi saya terpancing "Oh,
kamu mau pulang sendiri?".

"Silahkan kalo gitu. Silahkan kamu pulang sendiri! Cari transportasi sendiri! dan beresin barang-
barang kamu sendiri!". 12
"Apalagi sekarang, Sya? Saya cape dengernya!" Saya sedikit tidak peduli dengan keinginannya untuk
pulang saat itu. Mungkin sikap manjanya tumbuh karena dia besar hanya dengan seoang ibu, tanpa
meraskan tegasnya seorang ayah. Tidak pahamkah dia? Betapa pentingnya acara ini bagi saya. Kenapa
harus meminta pulang tiba-tiba?. 3

"Pak Alif memang gak pernah dengerin Fisya sama sekali!" katanya sambil mengeluarkan tas dan
memasukan barang-barang miliknya.

"Kamu bilang gak pernah?! Oh, apa karena hal tadi siang itu kamu marah sekarang?! Saya gak
dengerin kamu, karena saya marah sama mereka, topik tentang anak itu sensitif buat kamu, saya tau itu.
Harusnya kamu paham kenapa saya marah sama mereka".

"Ya! Fisya gak paham! Fisya gak paham sama jalan pikiran Pak Alif. Kenapa Pak Alif gak nikah lagi
aja sama dokter, biar kalian bisa sama-sama paham!" katanya. Saya beristigfar mendengar jawabannya
itu. 13

Kaki saya terasa lemas, saya mengacak rambut saya asal dan duduk di ujung tempat tidur. Kenapa
dia bisa dengan gampangnya mengatakan hal seperti itu?.

"Kayanya saya memang gak pernah bisa ngertiin kamu Sya. Entah karena kamu terlalu egois atau
sikap kamu yang kekanak-kanakan. Kamu nangis kalau saya dibenci orang lain, kamu khawatir kalo saya
sakit. Tapi ketika saya dipeluk orang lain, kamu sama sekali gak marah ataupun nangis".

"Sekarang apa? Kamu mendadak pengen pulang, marah-marah sama saya dan nangis tanpa alesan
yang jelas, lalu tiba-tiba nyuruh saya menikah lagi".

"Segampang itu? Atau-" saya mengambil jeda "Setidak berharganya saya dimata kamu?". 1

"You're childish, Sya!". 6


Detik itu, saya ingkar janji untuk tidak pernah membuatnya menangis. Yang paling saya takutkan,
saya merasa paling benar, sampai tidak bisa melihat kebenaran yang orang lain tunjukan.

✂..........

11. Yang Terpatahkan

13.1K 2.9K 513

oleh madani_

Jika kamu mendapati saya marah, tolong maafkanlah saya, jika saya mendapati kamu marah, saya telah
memaafkan kamu lebih dulu. Bukankah begitu cara agar kita saling memahami?.

14

🍁🍁🍁

"COME on man! Nafisya itu istri lo, dia itu perempuan. Dan lo tega nyuruh dia pulang sendirian
tengah malem kaya gini? Ini di luar kota Lif! logika lo ditaro dimana sih? Lo udah gila ya?" Albi habis-
habisan mengumpat saya ketika tau Nafisya memilih pulang dan saya membiarkannya pulang sendirian.
8

"Acaranya baru mulai besok pagi Bi! Dia yang gak paham, harusnya dia tau saya punya tanggung
jawab besar sampai acara ini selesai" saya membela diri. Hampir lima belas menit Nafisya meninggalkan
tempat ini. 2

"Jadi besok pagi lo lebih milih nerima kabar dari polisi kalo ada apa-apa sama Nafisya? Gitu?"
tanyanya. "Percuma laki-laki penuh kesabaran, tapi gak paham fitrahnya perempuan kaya lo"
sambungnya semakin membuat saya mengusap wajah. 10

Saya tahu, keputusan saya salah, sangat salah. Saya kira dengan membiarkannya pulang sendirian,
gadis itu akan menyerah, dia tidak akan berani pulang sendirian dan memutuskan untuk tinggal
setidaknya sampai besok pagi. 3

Sekarang, dia nekat pergi sendirian dan saya tidak tau harus bagaimana. Ada amarah bercampur
khawatir yang berkecamuk di pikiran saya. "Apa yang harus saya lakuin?" akhirnya pertanyaan itu saya
tanyakan juga pada Albi, otak saya sudah tidak bisa bekerja dengan baik. 3

"Malem ini juga, cari Nafisya sampai ketemu, buat sementara gue handle semua disini. Anterin dulu
dia pulang, besok siang lo bisa balik lagi kesini tanpa Nafisya" kata Albi. 1

Saya langsung beranjak untuk mengambil kunci mobil dan handphone. "Thank ya bro" kata saya
menggunakan jaket sebelum akhirnya terburu-buru pergi. 1

Sepuluh menit berlalu, sepanjang mengemudi, mata saya meneliti setiap inci jalan yang saya lewati,
dia tidak mungkin berjalan jauh. Tapi bagaimana jika dia sudah memesan taxi? Saya memukul stir
beberapa kali karena kesal tidak bisa menemukannya.
Saya mencoba menghubunginya beberapa kali, tapi nomernya selalu sibuk. Entah dia menolak
panggilan saya, atau sengaja mematikan handphonenya. Dimana kamu Nafisya? Tolong angkat
panggilan saya. 1

Mata saya berhasil menangkap sosoknya yang duduk di kursi tunggu bus, tepat diperbatasan
menuju jalan raya. Saya langsung menepikan mobil lalu keluar dan berjalan ke arahnya. Teleponnya
sibuk karena dia tengah menghubungi seseorang.

Tepat ketika saya akan memanggilnya, sesuatu menahan langkah saya untuk tidak melanjutkannya,
sambil terus menangis Nafisya berbicara pada seseorang di telepon "Ji-jidan.. Fi-fisya takut.." katanya
terisak.

Wallahi, hati saya sakit, sangat sakit. 18

Sampai kapan pun Jidan akan tetap jadi prioritas utama dalam hidupnya. 2

Panggilannya sibuk, karena dia sedang menghubungi pria yang dicintainya belasan tahun itu. Udara
seolah menjauh dari saya sampai rasanya saya mengalami kesulitan bernafas. Saat itu saya ingin
mengeluarkan spuit dan menyuntikan analgetik (obat pereda rasa sakit) sebanyak-banyaknya agar rasa
sakit ini hilang dengan cepat. 3

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

"Kamu kenapa Sya?".

"Kak Salsya dimana?".

"Salsya? Dia-dia udah tidur, ada apa Sya? Kamu kenapa nangis? Kamu baik-baik aja kan?".
"Fisya cuma mau bicara sama Kak Salsya sekarang".

"Aku udah bilang dia baru tidur, dia baru minum obat. Kamu kenapa? Jangan bikin aku hawatir Sya".
1

"Fi-Fisya lagi di Di Yayasan Kanker. Kak Salsya pasti tau tempatnya, Fisya mau pulang sekarang,
tolongin Fisya Jidan. Fisya takut.. .".

"Kamu-Sebentar, kamu ngapain disana? Kamu gak sendirian kan? Kamu dimana sekarang? Ini
hampir tengah malem Sya. Dengerin aku, share lokasi kamu ke whatsapp aku sekarang. Aku jemput,
jangan matiin handphone! cari tempat yang ram—".

"Ayo pulang!" Saya langsung mengambil handphonenya saat itu, saya tidak tau apa yang Jidan
bicarakan. Tapi melihat Nafisya memohon seperti itu membuat hati saya semakin sakit. Nafisya
terperanjat kaget ketika saya mematikan sambungannya secara sepihak. 3

"Fisya gak mau pulang sama Pak Alif!" katanya membentak, masih dengan nada marah. Saya
menghela nafas, niat meminta maaf, suasana kami malah tetap seperti ini. Kenapa harus Jidan orang
pertama yang dia hubungi? Kenapa tidak menghubungi saya dan merengek seperti tadi. 9

"Siapa lagi yang mau kamu libatin dalam rumah tangga kita, Sya? Ayo pulang sekarang, sebelum
saya berubah pikiran" kata saya, sambil berjalan ke arah mobil.

Mendengar saya berbicara seperti itu, akhirnya dia bangkit dan mengikuti langkah saya. Pada saat
itu, untuk kali pertama kami berada dalam mobil dengan wajah yang saling membelakangi. Dia
menangis tanpa suara sambil menatap ke luar jendela. 3

🍁🍁🍁
Dua jam mengemudi di jalan tol berhasil membuat kantuk saya datang. Hampir jam dua dini hari,
saya harus meminum apapaun yang mengandung kafein untuk menahan kantuk ini. Mengemudi dalam
keadaan mengantuk sama bahayanya dengan mengemudi dalam keadaan mabuk.

Setengah perjalanan, saya memutuskan menepi di salah satu rest area. Nafisya tertidur karena
terlalu lelah menangis. Wajahnya berkeringat membuat saya menyentuh keningnya sebelum
meninggalkan mobil.

Astagfirullah, dia demam. 1

Spontan saya langsung mematikan AC mobil. Saya tak sengaja menyentuh jilbabnya yang terasa
basah. Seingat saya, tidak turun hujan sama sekali tadi. Hal itu memancing rasa penasaran saya,
akhirnya saya sedikit menaikan hoodie yang dia kenakan. Kemaja putih yang dia kenakan juga basah,
tapi ini basah karena minuman berasa? Kenapa bisa?. 6

Kenapa tidak bilang kalau pakaiannya basah? Angin akan mudah sekali menyerang sistem imunnya.
Saya langsung keluar mobil untuk mencari pakaian yang bisa dia gunakan. Ditempat penjual oleh-oleh,
saya menemukan yang menjual kaos, tapi hampir semuanya berlengan pendek.

Handphone saya berdering, ada panggilan masuk. Ketika saya merogoh saku, ternyata handphone
Nafisya yang berdering. Saya lupa, saya langsung memasukannya kedalam saku celana ketika
merebutnya tadi. Melihat nama 'Salma 5-A' membuat saya mengangkat panggilan tersebut. Saya ingat
Salma adalah salah satu nama teman sekelasnya.

"Halo Sya?".

"Halo".

"A-Eh maaf Pak saya ganggu malem-malem, Nafisya nya ada?".


"Dia lagi tidur. Ada apa? Kamu temen sekelasnya kan? Kenapa telepon malem-malem gini?".

"Maaf Pak, tadi Nafisya bilang dia gak akan tidur sampe subuh makannya saya berani telepon, sekali lagi
saya minta maaf. Kalo gitu saya tutu—". +

"Kamu belum jawab pertanyaan saya? Ada masalah penting apa sampai kamu telepon jam segini?".

"Itu, duh.. gimana ya.. Bapak tanya Nafisya langsung deh".

"Kan dia lagi tidur".

"Gini Pak itu.. harusnya kemarin Nafisya ikut bimbingan buat nentuin judul skripsi sama Pak Andre.
Kebetulan kita sekelompok dan ada tugas yang harus di buat juga. Tapi Pak Andre gak mau bimbingan
kalau kelompok kita gak lengkap". 2

"Jadi dengan terpaksa kemarin Fisya dikeluarin dari kelompok kita.. Saya mau ngabarin aja kalo dia
disuruh bikin tugas mandiri dan nyari dosen pembimbing lain".

"Oh, oke nanti saya bilang sama Fisya".

"Sama satu lagi Pak".

"Tugasnya harus dikumpulin bareng sama tugas sebelumnya yang fitofarmaka. Paling lambat dua
hari sebelum UTS, kalo engga Fisya gak boleh ikut UTS di SKS nya Pak Andre" Kenapa Nafisya
memutuskan ikut acara saya kalau dia banyak tugas?. 5

"Memangnya Nafisya belum ngumpulin juga?" tanya saya lagi.


"Udah sih, cuman kemarin di robek di depan kelas. Pak Andre bilang itu terlalu bagus dan itu buatan
bapak" Saya mengehela nafas mendengarnya. 1

"Adalagi?".

"Engga ada sih Pak, nilai saya jangan diapa-apapin ya Pak. Ehehehe, sekali lagi saya minta maaf yang
sebesar-besarnya udah ganggu. Malam Pak". Apa Nafisya tidak berani menolak ajakan saya? Kalau iya,
saya akan merasa sangat bersalah, dia telah mengorbankan waktunya, tapi malah saya marahi. 7

Allahuakbar, Alif!.

Setelah panggilan itu terputus, karena tidak ada pakaian yang cocok, akhirnya saya memilih sebuah
kaos berwarna hitam dengan gambar karakter one piece di depannya. Lalu saya membeli minuman di
minimarket terdekat dan memesan makanan. 1

Sambil menunggu pesanan mie cup disiapkan saya menghubungi Albi. Takut kalau siang nanti saya
tidak bisa kembali kesana, mengingat Nafisya demam tinggi.

"Gimana? Udah ketemu?" tanyanya dengan suara terkantuk-kantuk.

"Udah".

"Ah Syukurlah, lega gue dengernya".

"Saya langsung pulang, ini lagi di rest area, Nafisya demam. Kalo saya gak balik lagi kesana besok
gimana?" tanya saya. Albi tidak begitu menyimak dalam program itu. Dia hanya ingin ikut, tanpa ingin
andil menjadi panitia. Beruntungnya, saya tahu dari Kahfa kalau tahun lalu dia ketua acaranya.

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI


"Oke, santai aja" katanya. 1

"Lif, ada hal yang mau gue sampein" sambungnya tiba-tiba.

"Apa?" tanya saya, karena nada bicaranya terdengar serius. Saya kira dia akan menanyakan hal
terkait acara besok pagi.

"Ini menyangkut Nafisya sih, tadi sebelum dia muntah-muntah sebenernya gue liat dia bungkusin
kado sendirian. ya.. maksudnya aneh aja gitu. Masih ada stok opname antibiotik yang bisa dia lakuin"
kata Albi. Sesibuk itukah saya, sampai tidak tahu Nafisya mengerjakan apa saja. 1

"Gue lupa mau bilang maaf sama makasih juga.."

"Buat?" tanya saya.

"Maaf atas apa yang gue bilang tadi, gue ikut campur tanpa tau suluk beluk masalahnya. Sumpah,
gue cuma mau yang terbaik buat kalian. Dan makasih udah nyadarin gue kalo Fatsa itu memang pilihan
yang salah".

"Kayanya ini ada sangkut pautnya sama Fatsa. Tapi gue belum seratus persen yakin, kalo gue udah
yakin nanti gue cerita sama lo. Gue gak enak aja sebagai temen, terus Nafisya gimana sekarang?". 2

"Dia tidur sih. Baju sama jilbabnya basah, mungkin dia masuk angin".

"Bajunya basah kenapa?".

"Itu yang masih jadi pertanyaan".


"Gue boleh kasih saran gak?".

"Apa?".

"Lo jangan keseringan bilang Nafisya kaya anak kecil" katanya membuat saya bertanya-tanya
darimana Albi tau saya sering mengatakan Nafisya seperti anak kecil?. 2

"Kenapa memangnya?" tanya saya.

"Itu yang bikin dia gak cemburu sama lo. Dia bilang kalo dia cemburu nanti dia takut, lo makin nganggep
dia kaya anak kecil. Sebenernya kayanya hari ini, hari paling berat buat Nafisya. Dia mati-matian nahan
cemburu sama sikap Fatsa yang asal peluk itu, dia nanyain banyak hal tentang Fatsa sama gue". 8

Ujung bibir saya tertarik mendengarnya, Allah menciptakan penawar luka bahkan sebelum saya
terluka. 6

"Ya udah, gue bilang kalo lo gak ada hubungan apapun sama Fatsa, gue juga bilang kalo bukan
cuma dia yang cemburu atas insiden kemarin. Gue bilang Fatsa itu CITOnya gue". 2

"CITO?" tanya saya sedikit tidak paham. 1

"Cinta terhalang restu orang tua" jawabnya. 9

"Ya udah gue tutup ya, mau tidur buat persiapan besok, Bye.." Bersamaan dengan Albi menutup
telepon, mie cup pesanan saya selesai.
Saya kembali berjalan ke tempat saya memarkirkan mobil, ketika saya masuk ternyata Nafisya sudah
bangun. Dia menatap saya sekilas tanpa mau bertanya dari mana saya pergi. Saya menaruh mie itu di
atas dasboard mobil, sebelum akhirnya Nafisya berteriak.

"Ke-kenapa Pak Alif buka baju disini!" suaranya melengking sekali, hampir membuat gendang
telinga saya pecah. Dia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan sementara saya dengan
santainya melepas jaket dan membuka kemeja. 3

"Kenapa? Takut saya perk*sa?" tanya saya semakin membuat dia memperapat jari-jarinya. Saya
berganti pakaian dengan kaos pendek yang baru saya beli. 12

"Saya udah pake baju.." ucap saya membuat dia melonggarkan tangan dari wajahnya perlahan
"Ganti baju kamu pake kemeja saya, baju kamu basah. Pake juga jaket saya tuh saya taro dibelakang,
jilbabnya juga lepas, pake aja kupluknya, bisa migran kalo kamu pake kerudung basah. Saya tunggu
diluar.." kata saya sambil kembali keluar mobil. 8

Lima menit dia mengetuk kaca mobil, memberi aba-aba kalau dia sudah selesai. Saya kembali masuk
dan suasana kembali hening, tak ada yang mau memulai pembicaraan. Saya menggeser salah satu mie
cup ke kiri dasboard, menyuruhnya makan tanpa mengatakan apapun.

'Saya minta maaf Sya' ayo katakan Alif, ayo katakan. Mengingat dia menghubungi Jidan membuat
kata itu sulit sekali terucap. Kenapa saya tidak bisa berhusnudzan, mungkin saja Nafisya menghubungi
kakakanya tapi Jidan yang mengangkat panggilannya. 3

Jika kamu mendapati saya marah, tolong maafkanlah saya, jika saya mendapati kamu marah, saya
telah memaafkan kamu lebih dulu. Bukankah begitu cara agar kita saling memahami?. 1

Malam itu kami masih saling diam, menikmati mie cup masing-masing. Sepertinya apapun
suasananya, mie instan akan menjadi favorit kami. 12

✂..........
12. Aroma Vanila Latte

17.1K 3K 784

oleh madani_

Sesering apapapun menolak, yang datang akan tetap datang. Sekuat apapun menggenggam, yang pergi
harus tetap pergi. Begitulah cara takdir Allah bekerja.

16

🍁🍁🍁

JAM lima pagi tepat setelah adzan subuh dikumandangkan, akhirnya kami bisa sampai di rumah.
Nafisya keluar membawa ranselnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Entah suasana apa yang
sedang menyelimuti kami, ini semacam perang dingin. Tidak ada yang mau lebih dulu berbicara sebelum
ego kami masing-masing mencair.

Saya melirik jam tangan. Kalau saya berangkat lagi jam enam, itu artinya saya bisa sampai jam
sepuluh di yayasan, saya bisa ikut setengah acaranya. Tapi kantuk saya benar-benar tidak bisa diajak
kompromi saat itu. Sampai di rumah dengan keadaan selamat saja, sudah menjadi hal yang sangat saya
syukuri. 3

Memasuki ruang tamu, tubuh saya langsung terjatuh di sofa depan. Kaki saya terasa pegal karena
terlalu lama di tekuk dan tulang punggung saya memberontak meminta berbaring. Baru saya akan
memejamkan mata, beberapa menit kemudian Allah menyadarkan saya bahwa saya belum menunaikan
shalat subuh.

Getar handphone membuat saya terjaga lagi. Saya duduk sambil merogoh handphone disaku celana.
Handphone Nafisya sudah saya kembalikan, jadi saat itu memang handphone saya yang berdering.
Sebuah panggilan masuk dengan sebuah nama yang tak lazim, saya baca disana.

Kenapa harus menghubungi saya disaat hati saya dalam kondisi paling kritis, saya menghela nafas
untuk kesekian kalinya sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut "Halo, Assalamu'alaikum?"
katanya setelah saya menggeser panel dilayar. 2

Menyenangkan hati orang lain meski dengan hati penuh ketidak relaan adalah hal kecil yang
mungkin bisa menarik saya ke surga, jadi saat itu saya mati-matian berusaha bersikap sewajar mungkin
terhadap Jidan meski tidak ingin saya lakukan. 8

Saya menjawab salam, berbasa-basi menanyakan kabar sebelum akhirnya melemparkan


pertanyaan "MasyaAllah, ada apa telepon?" tanya saya, tidak jauh, Jidan pasti akan menanyakan
Nafisya mengingat semalam Nafisya menghubunginya dan saya mematikan panggilannya tiba-tiba. 1

"Nafisya baik-baik aja kan? Saya telepon ke nomernya beberapa kali gak diangkat" tebakan saya
tepat.

"Dia baik ko, Alhamdulillah. maaf ya udah bikin kamu khawatir. Saya juga mau bilang makasih,
waktu itu kamu nganterin dia pulang" jawab saya. Jangankan untuk melangkah menuju kamar, saya
sudah tidak punya tenaga untuk cemburu lagi. 16
"Alhamdulillah. Saya lega, saya khawatir soalnya Nafisya tiba-tiba telepon saya malam-malam. Oh
yang waktu itu, gak perlu bilang makasih, udah biasa ko. Saya bisa antar-jemput Nafisya kapapun dia
butuh. Eum.. Boleh saya denger suara Nafisya?" tanya Jidan. Masih tidak percaya kalau Nafisya baik-baik
saja.

Saya melirik kecil ke arah ruang tengah, suara dentingan gelas dari sana membuat saya tau Nafisya ada
di dapur. "Sebentar.." ucap saya. Dengan sisa-sisa tenaga terakhir, saya bangkit dan berjalan menuju
dapur. Dia tengah memanaskan air karena air dalam dispenser sudah habis. 6

Saya menaruh handphone saya di atas meja tanpa melirik ke arahnya "Teman kecil kamu telepon,
mau denger suara kamu katanya..." kata saya pelan sebelum akhirnya meninggalkan handphone itu dan
berjalan menaiki tangga. Mungkin saat itu saya mulai lelah. 6

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

Saya mulai lelah patah hati. 22

Seringkali yang dikejar menjauh, yang tak sengaja mendekat. Yang seakan sudah pasti menjadi ragu,
awalnya diragukan menjadi pasti. Yang diam-diam tak selamanya baik, yang diungkapkan pun tak
selamanya menyakitkan. 7

Sesering apapaun menolak, yang datang akan tetap datang, sekuat apapun mengenggam, yang pergi
harus tetap pegi. Begitulah takdir Allah bekerja. Semoga gadis itu tau, cemburu saya sudah melebihi
batas maksimal, saya tidak mau sampai cemburu buta karena jelas Islam melarangnya. 4

Mengenggam Nafisya, seperti menggenggam pasir bagi saya, kuat atau tidak, lambat laun saya
akan tetap kehilangan. 9

Pesimis? Ya, silahkan katakan apapun. Karena saya akan selalu pesimis pada apa yang tidak
ditakdirkan Allah untuk saya. Saya tidak akan pernah menang melawan kehendakNya. 4
🍁🍁🍁

Senin itu, saya bersiap lebih pagi. Selesai shalat subuh ketika turun, segelas vanila latte seduh dan
roti panggang sudah tersedia dimeja makan. Ini adalah hari kesekian kami tidak shalat subuh berjama'ah
dan tidak sarapan bersama. 3

Tidak ada yang berubah, kami masih tidak saling bicara. Berpapasan pun seperti orang asing, seolah
tidak peduli bagaimana hubungan ini akan berlangsung kedepannya.

Hari ini saya dan Albi akan disambut dengan pidato panjang lebar dari Profesor Ishak sebagai
sarapan pagi, terkait kepulangan saya yang mendadak hari minggu kemarin.

Teringat Hana, saya memutuskan untuk menjenguknya lagi dibangsal sebelum ke ruang komite jam
delapan pagi. Karena terlalu sibuk, saya jarang menemuinya dan lebih sering menitipkan makanan lewat
Albi yang pada akhirnya membuat mereka saling mengenal. 9

"Tumben bukan si dokter gadungan itu yang nganterin?" tanya Hana ketika melihat saya yang
datang. 1

"Dokter gadungan? Albi?" tanya saya memastikan.

"Siapa lagi? Dokter yang bisanya cuma main games seharian" kata Hana, dia tidak tau bagaimana
kerennya Albi ketika memegang pisau bedah atau saat berbicara pada pasien ketika visit pagi. 5

"Yah... Kirain masakannya Kak Fisya" kata Gallan mendengus kesal ketika saya membelikan nasi
ketring dari kantin rumah sakit untuk sarapan paginya "Gallan makan di kursi tunggu ya Bun" katanya
keluar membawa nasi tersebut. 1
"Kenapa kamu tiba-tiba nanya tentang hukum perdata?" tanya Hana ketika saya menanyakan
apakah ada undang-undang yang mengatur terkait suami yang memarahi istrinya, lewat pesan di
whatapps kemarin. 5

"Gak ada apa-apa Mbak, saya cuma penasaran aja. Kalo di undang-undang ada gak pembahasan
tentang itu. Dalam Islam jelas dilarang. Sebaik-baik kalian, adalah yang paling baik untuk istrinya.
Jangankan sama istri, sama Firaun aja disuruh berdakwah dengan lemah lembut kan" jawab saya beralibi.

"Kalo kekerasannya dalam bentuk fisik, psikis, perampasan kemerdekaan, itu ada undang-undang
khususnya, kategorinya KDRT. Tapi kalo masalah ngebentak, kayanya gak ada deh" jelasnya singkat.

"Mbak belum pernah sih ngambil kasus hukum perdata, apalagi kasus perceraian" lanjutnya.
Pengacara beranak satu itu memang lebih suka mengambil kasus-kasus hukum pidana, hukum yang
melibatkan kepentingan banyak orang, dibanding hukum perdata yang cangkupannya lebih sempit. 1

"Tapi perlu kamu tau Lif, dibentak suami itu rasanya lebih sakit dari kekerasan fisik" lanjut Hana. 3

"Perempuan akan selalu mengingat bentakan itu seumur hidup, luka fisik bisa sembuh dalam beberapa
bulan tapi luka akibat dibentak gak akan sembuh dalam waktu yang sebentar". 5

"Kamu bayangin aja, seorang istri rela meninggalkan keluarganya demi mengabdi sama suami.
Menjadikan suami satu-satunya orang yang bisa dia jadikan tempat bergantung, satu-satunya yang bisa
dia percaya, dan satu bentakan merusak semua kepercayaannya" jelas Hana membuat tamparan keras
bagi saya. 5

"Itu yang membuat Mbak menempuh jalur hukum dan memutuskan bercerai?" kata saya, Hana
akan bercerai dengan suaminya dalam waktu dekat, tepat ketika dia telah dinyatakan sehat dan boleh
keluar dari rumah sakit. 1

Bekas luka ditubuhnya menjadi pertanyaan besar bagi suster yang merawatnya, bahkan Albi pun
menyadari hal yang sama, luka itu tidak didapat akibat kecelakaan yang menimpanya "Kalau hanya
perceraian gak akan bikin dia jera Mbak, kenapa gak laporin semua kelakuannya sekalian, biar dia
dipenjara" saran saya berpikiran pendek. 1
"Sekalipun Mbak bisa, gak akan pernah Mbak lakuin. Mbak gak mau Gallan punya seorang ayah
narapidana. Mbak gak mau dimasa depan dia minder karena di bully sama temen-temennya" benar juga,
saya tidak berpikiran sejauh itu. 3

"Oh iya, kamu udah bilang permintaan Mbak sama Nafisya?" tanyanya mengingatkan saya bahwa
saya belum mengatakan apapun pada Nafisya.

"Bakalan sulit Mbak" kata saya. 2

"Kenapa? Kayanya Fisya suka anak kecil. Lagian gak akan lama kok, sampai sidang perceraiannya
selesai Mbak pasti jemput Gallan secepatnya. Hak asuh Gallan harus jatuh ke tangan Mbak, Mbak gak
mau dia bertemu Gallan sampai sidang perceraian ini selesai". 1

"Nafisya gak akan suka kalau saya membantu Mbak menjaga Gallan selama sidang, apalagi sidang
perceraian. Nafisya paling anti sama hal satu itu, kasarnya saya ikut memperlancar perceraian Mbak. Dia
punya trauma masa kecil, orang tuannya juga bercerai. Dia sangat benci perceraian". 1

"Mungkin kalau saya jelaskan alasannya dia bisa mengerti nanti, saya harus nyari waktu yang tepat
dulu buat bilang tentang Gallan. Lagian nanti saya bakalan sibuk bekerja, Nafisya sibuk kuliah, siapa yang
bisa jagain Gallan".

"Nafisya merubah segalanya ya? Alif yang tertutup pun bisa berubah" kata Hana seraya tersenyum. 3

🍁🍁🍁

Malam itu saya habiskan dengan bekerja lembur dengan Albi. Bahkan Kahfa yang tidak ikut acara
sosialisasi saja ikut lembur. Pekerjaan menumpuk dua kali lipat padahal hanya ditinggal selama dua hari.
Sekitar jam sembilan malam saya baru sampai ke rumah. Saya menekan bell rumah beberapa kali
karena kunci saya tertinggal di tas yang saya gunakan minggu lalu.

Knop pintu diputar disertai jawaban salam. Bukannya masuk, kaki saya malah terpaku saat itu. Saya
mematung mendapati sosok yang baru saja membukakan pintu. Jantung saya berdebar cepat sekali,
seperti disuntikan dua kali lipat dosis dopamin. 1

Siapa yang tidak syok? Nafisya melepas jilbabnya! dan—ada yang salah dengan pakaiannya. 5

Untuk beberapa saat kesadaran saya tidak bisa kembali. Entah, saya harus beristigfar atau bersyukur
melihat Nafisya saat itu. Sampai akhirnya Nafisya mengatakan sesuatu yang membuat saya sadar ini
bukanlah mimpi. 1

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

"Pak, ada yang mau Fisya omongin" katanya, dia membawakan tas saya, tersenyum tipis namun
terlihat ragu dan takut, dia sama sekali tidak mau menatap saya. "Bisa kita minum teh, sebelum Pak Alif
istirahat?" tanyanya. 2

"Ada apa?" kata saya sembari berjalan ke arah meja makan, saya berusaha tidak kaget dengan
perubahannya yang sangat tiba-tiba. Melihat saya berganti kemeja saja dia berteriak dimobil. Tapi
sekarang apa?Sebisa mungkin saya bersikap biasa saja, padahal saat itu even though, at that time, my
hormones worked. 13

Saya pria normal. 2

Kami duduk berhadapan, Nafisya menuangkan teh kedalam gelas. Dia nampak gelisah sekali, lalu
suasana kembali hening.
Saya menunggu dia berbicara, tapi sepertinya Nafisya bingung darimana dia memulai. Saya
meneguk teh hangat itu, saya sendiri juga bingung harus berkata apa.

Sejujurnya, saya ingin meminta maaf atas ketidak pahaman saya saat kejadian kemarin. Mengakhiri
pertengkaran dingin ini dengan cepat. Tapi kami masih bersaing dengan ego kami masing-masing. 1

Nafisya hanya memainkan ujung gelasnya dan sesekali menatap jam dinding, jelas sekali dia tidak
nyaman dengan penampilannya sekarang "Fi-Fisya mau minta maaf masalah kemarin lusa, Fisya tau
sikap Fisya terlalu kekanak kanakan waktu itu" katanya.

Saya meneguk teh dalam gelas lagi. Akhirnya Nafisya yang menang, dia yang lebih dulu meminta
maaf dan saya kalah dengan ego saya sendiri "Fisya tau, acara itu penting banget buat Pak Alif, tapi Fisya
malah minta pulang".

Pikiran saya berkelana, memikirkan alasan apa yang bisa membuat Nafisya memilih meminta maaf
lebih dulu. Satu gelas penuh saya habiskan, tapi hasilnya nihil, saya tidak menemukan alasan apapun.
Kami memiliki kesalahan masing-masing, Nafisya yang tidak bisa berkata terbuka kepada saya, dan saya
yang tidak bisa mengerti apa yang dialaminya. 2

"Dan masalah Jidan, malem itu Fisya telepon Kak Salsya karena Kak Salsya pasti tau tempat
yayasannya, tapi Jidan yang angkat" udara sedikit memanas sampai tubuh saya ikut terasa panas ketika
Nafisya membawa nama Jidan. 1

"Kenapa kamu gak bilang sama saya kalau kamu banyak tugas? Kenapa kamu gak bilang kalau tugas
kamu di robek Pak Andre? Kenapa kamu gak bilang kamu cemburu sama sikap Fatsa? Kenapa saya harus
tau semua itu dari orang lain?" Saya terlalu lelah, sampai berpikir sedikit saja membuat rasa panas itu
semakin menjadi-jadi. 3

Detik selanjutnya saya tersadar.

"Sya".
"Kamu—"

"Tambahin apa ke teh saya?". 2

Gadis itu terhenyak kaget ketika mendengar pertanyaan saya. Bukan wajah ragu yang saya lihat
sekarang melainkan wajah takut "Si-sildenafil citrate" jawabnya terbata-bata. 60

"Astagfirullahaladzim Nafisya!" saya mengacak rambut saya kasar. Beribu istigfar saya langitkan.
Bagaimana bisa dia berpikiran sejauh itu. 2

Hampir saja saya menggebrak meja dan menjatuhkan gelas ketika mendengarnya. Itu obat
kardiovaskular, obat bagi orang yang tekanan darahnya tinggi. Tapi efek samping obatnya yang
berbahaya. Pantas saja saya merasa panas. 23

"Ikut saya!" Perempuan itu semakin kaget. 2

"Saya bilang ikut!" suara saya masih meninggi saat itu. Dia bangkit dan dengan ragu mengikuti
langkah saya di tangga. Sebisa mungkin saya mengumpulkan semua kesadaran saya. Pantas saja dia
menggunakan baju seperti itu. Saya tidak habis pikir apa yang ada dipikirannya sampai melakukan
tingkah sekonyol ini. 8

"Masuk dan kunci dari dalam!" saya menyuruhnya masuk ke kamar.

"Saya akan kunci dari luar! Jangan penah buka pintu sampai besok pagi!" tegas saya, saya benar-
benar marah saat itu. Melihat saya mata Nafisya berkaca-kaca. 2

"Pak Fisya cuma—". 17


"Saya marah sama kamu! jangan ajak saya bicara sampai dua hari kedepan". 81

✂........

13. Tabiat Tulang Rusuk

12.7K 3.1K 538

oleh madani_

Setiap rumah tangga memiliki ujian masing-masing, bertahan atau tidak terletak dari sekuat apa suami
membangun pondasinya.

15

🍁🍁🍁

KANTUNG mata saya menghitam, melebihi kantung mata panda. Setiap orang yang berpapasan
dengan saya dilorong rumah sakit pasti bertanya apa yang salah dengan mata saya.

Jika saja saat itu matahari sedang tinggi-tingginya mungkin saya akan memilih menggunakan
kacamata hitam. Tapi ini masih terlalu pagi, setelah subuh saya lansung berangkat ke rumah sakit
dengan harapan di ruangan konsulen saya bisa tidur sampai jam tujuh pagi.

Saya benar-benar tidak bisa tidur semalaman, rasanya insomnia dengan migran menerpa kepala saya
bersamaan, panas, pening sekali.

Allah sedang tidak berpihak kepada saya, karena entah kenapa Albi dan Kahfa sudah lebih dulu
berada diruangan tersebut. Mungkin mereka memiliki pembahasan penting, jobdesk yang sama atau
sengaja bertemu lebih pagi sebelum brifing hari ini.
Aneh, pemandangan yang langka ketika si musisi gagal itu bertemu dengan si ayah impian. Lebih
aneh lagi, mereka membahas perkara Islam, dengan bolpoin dan sebuah buku di depan mereka masing-
masing.

Saya masuk mengucapkan salam, membuat mereka menoleh bersamaan. Saya menaruh tas
sembarang. Albi itu punya ruang kerja sendiri, tapi dia lebih betah berada di ruangan saya, katanya
karena ruangannya jauh dari ruang OK.

Begitupun Kahfa. Katanya tempat saya enak dijadikan basecamp, dekat ke toilet, dekat ke majid,
dekat ke kantin dan dekat ke tempat parkir.

Saya sempat mendengarkan percakapan mereka sebelum duduk menyender di kursi putar dan
menutup wajah dengan jas putih. Albi yang lebih banyak bicara saat itu "Pas Mushab bin Umair mikirin
gimana cara untuk hijrah Rasulullah-" kata Albi bergitu bersemangat.

"Pas Salahudin Al-Ayubi mikirin gimana cara membebaskan bumi palestina. Pas Muhammad Al-Fatih
mikirin gimana cara meruntuhkan konstantinovel" lanjutnya.

"Masa iya gue mikirin cara menaklukan hati wanita. Etdah, gak berkelas banget galau gue" kata Albi
membuat calon ayah itu sedikit tertawa.

"Mending antum mikirin formulasi obat AIDS itu lebih berfaedah, yang rada kerenan dikit lah. Atau
minimal antum pikirin tuh gimana caranya si bapak nyiram bunga sebanyak itu kaga pake selang" kata
Kahfa, saya teringat bapak-bapak yang saya temui diluar tadi. Orang itu tugasnya begitu mulia,
menciptakan udara segar untuk penghuni rumah sakit.

"Darimana antum kenal Mushab, Salahudin sama Al-Fatif, Bi? Tumben kenal orang-orang keren"
lanjut Kahfa dengan suara keheran. Albi tidak mungkin membuka google hanya untuk menbaca sejarah,
apalagi sejarah Islam.
Lucu melihat dua dokter beda spesialis itu berbincang bersama, yang satu gue dengan gaya gaulnya,
yang satu antum dengan gaya syar'i nya. 2

"Yang pasti gue gak mungkin kenalan langsung lah, gue gak hidup di jamannnya mereka".

"Gue baca buku kemaren, tuh minjem dari istrinya Dokter Galak" kata Albi menyindir saya yang saat
itu berusaha untuk terlelap. Terlalu lama berteman dengan Gallan panggilan itu akhirnya diketahui oleh
Albi. 1

"Lif, Nafisya nanyain bukunya gak?" kata Albi, dia tidak tau saja kalau buku yang dipinjamnya dari
Nafisya adalah buku yang saya pinjam dari perpustakaan kota. Buku tentang kisah-kisah pria hebat yang
berjuang dijalannya Allah pada jaman kenabian dulu.

Saya menurunkan jas itu dari wajah "Gak..." jawab saya singkat hanya mengeluarkan suara tanpa
melakukan pergerakan apapun. +

"Mata lo kenapa? Kaya kecanduan main PS gitu? Kurang tidur?" tanya Albi ketika mendapati
penampakan saya yang benar-benar kacau.

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

"Saya memang gak tidur". 2

"Perasaan gak ada kerjaan yang bikin antum lembur deh, laporan-laporan udah kita kebut dan
selesai kemarin kan?" tanya Kahfa yang kemudian di iya kan oleh Albi.

"Gimana bisa tidur kalo Nafisya ngasih saya sildenafil citrat" jawab saya terlalu spontan. Tidak sulit
untuk mereka mengetahui fungsi obat tersebut.
Seketika tawa Kahfa dan Albi pecah menggema memenuhi seisi ruangan. Mereka terpingkal-pingkal
sambil memegang perut, tertawa dengan suara sangat keras sampai dua orang terdengar seperti suara
satu studion suporter bola.

"Hahahahaha.. Antum dikira lemah syahwat kali" Kata Kahfa. 1

"Makanannya banyakin olahraga banyakin ngegym. Jangan kebanyakan baca RM sama ngecekin
tugas mahasiswa mulu" ucap Kahfa masih dengan tertawa.

"Hahahahaha... Lo lemburnya mantap Bos!" kata Albi sama-sama menertawakan saya. Ada dua
bolpoin yang saya dapati di meja saat itu. Saya melemparkan masing-masing ke arah mereka karena
kesal.

"Berisik kalian!" kata saya sembari menutup kembali wajah dengan jas dokter saya, tapi tidak
berhasil membuat mereka diam.

"Kasian udah tidur aja, nanti pas ditanya Alif kemana gak ikut briefing pagi? Biar ane yang jawab Abis
minum sildenafil Pak, gak bisa tidur" kata Kahfa. Mereka masih tidak berhenti tertawa.

"Atau mau gue kasih rujukan sekalian lo check up tuh sama Pak Bernard spesialis penyakit dalam.
Bener kata Kahfa, impoten kali lo" Perkataan Albi mengundang Kahfa untuk tertawa lagi.

"Astagfirullah, udah-udah, ana pengen kencing" ucap Kahfa yang kemudian berlari keluar ruangan
terburu-buru. Mereka tidak tau kalau selama enam bulan ini saya selalu tidur berpisah ruangan dengan
Nafisya.

Rahasia rumah tangga harus menjadi rahasia didalam rumah, konsepnya sama seperti reka medis,
hanya suster dan dokter yang boleh membaca. Begitupun masalah rumah tangga, hanya istri dan suami
yang boleh tau.
🍁🍁🍁

Niat menghindari Nafisya, hari ini saya malah punya jadwal mengawas pratikum titrasi setelah
dzuhur di fakultasnya. Bukan sembarang menghindar. Saya sengaja melakukannya karena takut
terpancing emosi seperti kemarin. Bagi saya, mendiamkan itu lebih baik daripada memarahi.

Jika saja bisa, saya akan menolak untuk mengawas hari ini. Sayangnya ini adalah pratikum ujian
akhir semester "Kamu bagi dulu per absen, siapa yang kebagian titrasi iodometri, siapa yang kebagian
permanganometri" kata saya pada pria berdarah campuran tionghoa ini. 1

"Mau pembagian sesuai absen ganjil genap juga gak masalah, saya ke lab jam dua pas. Seperti biasa,
yang alat prakteknya gak lengkap, gak boleh ikut pratikum" kata saya kepada si ketua kelas Alfa. 2

"Iya Prof" katanya tak banyak bertanya sambil berjalan keluar ruangan, Alfa membawa setumpuk
kertas polio yang sudah di cap dengan logo universitas untuk dijadikan jurnal. Semenjak kejadian
melamar Nafisya di depan kelas itu, Alfa jadi sedikit sungkan dengan saya.

Di ambang pintu keluar, Alfa mengatakan sesuatu yang membuat saya sedikit terkejut "Oh iya, saya
mengikuti jejak Profesor untuk mendapat beasiswa di luar negeri. Alhamdulillah, akhir semester ini saya
pindah ke Ankara University di Turky".

Bukan tentang beasiswa yang membuat saya kaget, Alfa punya potensi besar untuk pergi ke negara
manapun yang dia mau. Yang membuat saya kaget, bukankah barusan dia baru saja mengatakan segala
puji bagi Allah?.

"Kamu pindah agama?" tanya saya begitu saja. +

Dia mengangguk lalu tersenyum "Bukan karena Nafisya, tapi karena kakak saya" katanya
memberikan penjelasan. Kakaknya Sifa adalah seorang dokter spesialis saraf, salah satu teman lama
saya yang kini bekerja di rumah sakit pusat. Dia lebih dulu memeluk Islam.
"Dia bilang, bukan hanya di dunia ini dia ingin saya jadi adiknya. Tapi juga nanti di akhirat".

"MasyaAllah, nambah lagi saudara saya yang seiman. Syukurlah saya seneng dengernya, lanjut
farmasi disana?" tanya saya. Alfa menggeleng "Islamic Theologi" katanya penuh keyakinan. 1

"Doakan saya Prof" lanjutnya, benar bahwa masa-masa menjadi mahasiswa adalah masa pencarian
jati diri, disini masa depan kita dibentuk, teman, keluarga dan lingkungan mempengaruhi segalanya.

"Selalu, semoga segala urusan kamu disana dipermudah sama Allah" kata saya. Alfa mengaamiinkan
sebelum akhirnya pergi.

Tepat jam dua, saya melangkahkan kaki ke laboratorium kimia dilantai atas. Ketika saya masuk,
seketika suasana langsung hening. Mereka bersiap dimeja masing-masing, tidak ada yang berani
mengeluarkan suara sedikitpun, Nafisya menunduk ketika melihat saya "Sudah pimpin berdo'a?" tanya
saya.

"Sudah.." jawab mereka serempak.

Saya menggunakan jas lab dan hair cup yang sama seperti yang mereka pakai "Silahkan dimulai,
waktu kalian dua jam dari sekarang, jangan lupa mencantumkan nama dan kelas yang jelas di jurnal jika
tidak mau saya beri nama 'anak kucing'" ucap saya membuat mereka sedikit tertawa. 1

Setengah jam berlalu, saya tidak begitu memperhatikan Nafisya, tapi saya tau dia mendapat titrasi
permanganometri "Aw!" teriak seseorang tiba-tiba.

Prang.

Elemeyer panas jatuh dari meja dan membuat asam oksalat di dalamnya membasahi lantai, semua
kegiatan di dalam lab terhenti, mereka kompak menoleh ke arah sumber suara "Ada apa?" tanya saya.
"Elemeyer Nafisya jatuh Pak, lupa gak pake penjempit kayu waktu ngangkat dari hotpletnya" jelas
teman disampingnya, yang lain membantu membersihkan percahan kacanya. Nafisya semakin tidak
berani menatap saya.

"Antar dia cuci tangan, guyur pake air mengalir dari keran" suruh saya pada mahasiswa perempuan
disampingnya. Saya bersikap biasa saja saat itu membuat Nafisya akhirnya mengangkat kepalanya dan
menghujami saya dengan tatapan kecewa karena saya tidak mengkhawatirkannya sedikitpun.

Sikap saya salah besar, mendiamkan istri karena marah itu hanya boleh dilakukan di rumah. Diluar
rumah harusnya saya bersikap biasa. Entah kenapa, sulit sekali untuk tidak mencampur adukan urusan
pribadi dan sikap profesional saat bekerja.

"Lain kali kalian harus lebih hati-hati, saya yakin di semester satu kalian sudah diajarkan lab safety,
keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium dan cara penanganannya. Saya gak harus ngulang
simbol-simbol bahan kimia kan?".

"Selalu pake sarung tangan kalo pake cairan korosif, dan pake penjepit kayu atau tang krus untuk
menjempit elemeyer yang panas, paham?" tegas saya sekali lagi pada yang lain.

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

🍁🍁🍁

Saya tidak langsung pulang ketika pratikum selesai, saya ada janji dengan Kahfa untuk menghadiri
kajian di masjid tak jauh dari kampus "Ada tahsin quran ba'da ashar. Dilanjut kajian ba'da magrib sampai
Isya" jelas Kahfa.

"Antum mau ikut sampai Isya Fa?" tanya saya ketika kami selesai memarkirkan mobil. +
"Pengen sih, InsyaAllah, tapi kayanya sebelum magrib ane pulang. Kasian Nayla sendiri" Kahfa
seperti menunggu seseorang ketika kami berjalan di halaman masjid, dan sosok yang membuat saya
syok muncul menghampiri kami dengan baju koko hitam dan celana jeans.

"Albi?" tanya saya tidak percaya.

"Gak usah banyak tanya. Malu gue, masa iya gue pake stelan kaya gini ke masjid? Duh gue gak punya
celana katun lagi" katanya was-was. Diajak shalat jum'at saja dia sering menolak dan sekarang dengan
sukarela jauh-jauh dari apartemennya dia datang ke tempat ini.

"Alhamdulillah, dia mau hijrah Lif" kata Kahfa menjawab kebingungan saya. Saya tersenyum
mendengarnya, dikelilingi orang-orang shaleh adalah nikmat Allah yang kadang lupa saya syukuri.

"Yang penting tutup aurat, pusar sampe lutut. Gak ada aturan yang masuk masjid gak boleh pake
cekana jeans. Cabut" kata saya merangkul mereka berdua masuk.

Ketika bagian tahsin, Albi memilih duduk dibelakang karena takut di tes membaca Al-Quran katanya.
Selesai shalat magrib Kahfa berpamitan pulang dan tidak ikut kajian. Saya juga ingin memilih pulang jika
saja tidak ada konflik dengan Nafisya saat itu.

Tema kajian membuat saya semakin tertampar sebagai seorang suami. Judul kajiannya 'Ketika
mahligai rumah tangga di uji' sepanjang saya menyimak sang ustad mengatakan bahwa rumah tangga
akan di uji ketika ekonomi kelurga turun, ketika sudah lama menikah tapi tidak kunjung dikaruniai anak,
ketika ada kehadiran orang lain dalam keluarga, ketika istri hamil dan melahirkan dan masih banyak lagi.

Kata-kata yang paling menghantam kepala saya adalah pesan terakhir dari sang ustad untuk para
laki-laki yang saat itu menghadiri majelis ilmu tersebut 'Setiap rumah tangga akan memiliki ujian masing-
masing, bertahan atau tidak terletak dari sekuat apa suami membangun pondasinya'.

'Perempuan itu tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, kalo diluruskan, dia akan patah, kalau
diikuti kalian akan ikut bengkok dan kehilangan wibawa sebagai pemimpin dalam rumah tangga'.
'Jadilah seperti Umar Bin Khatab, yang menjadi singa ketika diluar rumah, namun jadilah seperti Abu
Bakar yang berhati lembut ketika didalam rumah'.

Bubar dari masjid, Albi sedikit mendengus kesal karena baru saja dia memutuskan untuk hijrah topik
yang dibahas langsung seputar rumah tangga dan pernikahan "Yang belum punya pasangan jadi ujian ya
datang ke kajian, sering dibully" katanya. 3

"Hukum Allah berlaku, yang suka ngebully, sekarang dibully disini" kata saya sambil tertawa kecil,
kami berjalan menuju tempat parkir, Albi mengajak saya makan sebelum memutuskan pulang, katanya
dia menahan lapar sejak ashar.

"Pernikahan itu hal yang tabu buat gue. Kalo yang baik akan dijodohkan sama yang baik? Orang
yang gak baik kaya gue gimana nasibnya? Lagian ngapain harus belajar tentang rumah tangga kalo
belum berumah tangga kan?" katanya.

"Penting untuk berilmu sebelum beramal Bi. Setidaknya antum bisa berjodoh sama orang yang bisa
nuntun antum jadi lebih baik. Seburuk-buruknya Firaun, istrinya sesalehah Asiyah ko" kata saya. 1

"Jangan samain gue sama Firaun dong, situ jadi pinter ngebully gue juga ya" kata Albi membuat
kami tertawa bersama.

Saya sengaja pulang lebih larut. Baru sekitar jam sebelas saya sampai ke rumah, saat itu saya
berharap Nafisya sudah tidur karena saya tidak tau harus bersikap bagaimana atau berkata apa nanti.

Dugaan saya benar, dia sudah tertidur. Tapi tertidur dimeja makan dengan makanan yang sudah
mendingin. Apa jangan-jangan dia sengaja menunggu saya pulang?. 1

Kalau tidak dibangunkan dia akan sakit punggung sementara besok masih ada jadwal ujian pratikum.
Kalau dibangunkan saya tidak tau harus berkata apa.
Kalau tidak dibangunkan dia akan sakit punggung sementara besok masih ada jadwal ujian pratikum.
Kalau dibangunkan saya tidak tau harus berkata apa. +

Dia terbangun dengan sendirinya ketika saya menaiki anak tangga, menggeliat sebentar sebelum
akhirnya menyadari kehadiran saya "Pak Alif udah makan? Fisya masakin makanan kesukaan Bapak"
katanya, dia langsung kaget ketika mendapati makanan yang disajikannya sudah dingin, sontak dia
melirik jam dinding "Fisya panasin lagi makanannya seben-".

"Saya udah makan" potong saya, dia tidak mendengarkan perkataan saya untuk tidak mengajak
saya berbicara selama dua hari.

"Kalau gitu mau Fisya panasin air buat mandi ya?" tawarnya.

"Saya udah bilang kan, jangan ajak saya bicara selama dua hari kedepan. Jangan nunggu saya pulang,
dan jangan tidur dimeja makan" kata saya datar sambil kembali melanjutkan langkah menaiki satu
persatu anak tangga. 3

Percuma rasanya mengikuti kajian tapi saya tidak bisa menerapkannya dalam kehidupan. Omong
kosong, bagai mendapat ilmu tapi tidak saya manfaatkan. Saya lebih buruk dari Firaun, menjadi pria
yang memaksa mematahkan tulang rusuk yang sudah jelas tabiatnya bengkok, bukan malah bersikap
lemah lembut seperti Abu Bakar.

Disepertiga malam itu, saya mendengar isak tangis dari kamar Nafisya. Dia tengah mengadukan
saya kepada Tuhan bahwa saya telah ingkar janji, memintanya untuk tidak pernah menangis sendirian,
tapi malah saya sendiri yang paling sering membuatnya menangis sendirian. 2

✂......
14. Dipenghujung Sujud [1]

12.2K 3.2K 573

oleh madani_
Kalau nanti kamu masuk surga dan gak nemu saya disana, tolong cari saya ya, tarik saya, minta sama
Allah supaya dosa-dosa saya di ampuni sampai gak bersisa.

17

🍁🍁🍁

BESOK paginya saya tidak menemukan Nafisya di kamar. Sepertinya dia memutuskan untuk pergi
lebih pagi. Seolah bergilir, kemarin saya yang menghindar darinya, sekarang giliran Nafisya yang
menghindar dari saya.

Hampir tiga kali saya mengecek setiap sudut ruang kerja dan kamar bergantian, tapi saya tidak
menemukan barang yang saya cari. Saya kesulitan mencari tas kerja dan charger laptop yang entah saya
taruh dimana semalam.

Saya bisa mengingat hal-hal yang sulit sekalipun rumus kimia paling rumit, tapi saya tidak bisa
mengingat hal sepele seperti menaruh tas atau menjemur kembali handuk basah.

Ketika saya hendak keluar ruangan, sebuah stikers note tertempel di depan pintu, Nafisya
menuliskan sesuatu untuk saya disana 'Tas kerja ada di bawah meja, charger laptop ada deket lemari TV
dibawah' tulisnya. Saya mencabut stikers note itu sambil bergegas turun ke bawah. 15

Saya baru teringat kalau hari ini adalah jadwal praktikum terakhirnya, dia sengaja berangkat lebih
pagi bukan untuk menghindar dari saya tapi karena hari ini ada pratikum resep. Benar saja tas saya ada
dibawah meja, saya menemukan stikers note lagi yang ditempel tepat di jinjingannya. 1

'Sekarang hari rabu, jangan lupa pake baju batik' tulisnya. 3

Saya mengusap wajah sembari beristigfar, kenapa saya bisa sampai lupa kalau hari ini hari rabu.
Rumah sakit membebaskan dokternya untuk berpakaian, asalkan sopan dan rapih. Kecuali dihari rabu,
semua paramedis diwajibkan memakai batik. 2
Membaca kertas itu, saya harus naik lagi ke lantai atas untuk berganti pakaian, padahal saya cuma
punya waktu lima belas menit lagi. 1

Ketika saya hendak mengambil segelas air sebelum berangkat, makanan hangat sudah tersedia di
meja makan. Dari jam berapa dia bangun sampai bisa menyiapkan sebanyak ini. Kejadian kemarin
membuat saya enggan melakukan kesalahan lagi.

Karena lapar akhirnya saya memutuskan untuk duduk, tapi ketika melihat jam dinding, saya sadar
saya tidak memiliki banyak waktu untuk sarapan. Saya hendak ke dapur, ada segelas vanila latte hangat
didalam termos kecil milik Nafisya.

Lagi-lagi sebuah stikers note saya temukan disana 'Kalo nyari kotak makan ada dilaci kedua ya :)' kali
ini ada emotikon senyum di akhir kalimat. Membuat saya membayangkan betapa cerewetnya dia setiap
pagi.

Entah kenapa saya tersenyum menbacanya. Ternyata Nafisya lebih tau banyak tentang saya,
tentang kekurangan saya lebih tepatnya. Dia tau saya akan mengacak-ngacak dapur hanya untuk
mencari kotak makan, dia tau saya paling sering lupa menggunakan batik. 4

Saya bergegas pergi setelah memindahkan makanan dipiring kedalam kotak makan. Akan saya
makan ketika macet nanti.

🍁🍁🍁

Siang itu saya berbicara dengan Dokter Syarif dari spesialis jantung. Kebetulan kami bertemu
selepas berjama'ah dzuhur. Dia adalah dokter yang menangani Hana sekarang. Tapi ketika saya
menanyakan keadaan Hana dia seperti membutuhkan waktu cukup lama untuk mengingat.

Maklum saja, dia tidak mungkin mengingat riwayat penyakit satu pasien. Spesialis jantung memiliki
puluhan sampai ratusan pasien setiap minggunya. Itu baru pasien rawat inap, belum lagi pasien rawat
jalan dan dari dinas ketentaraan.
"Oh iya, iya.. Saya ingat. Hana yang anaknya blasteran itu ya?" kata Pak Syarif, malah mengingat
Gallan.

"Kalo gak salah, dia udah bisa pulang besok lusa. Keadaannya jantungnya udah stabil, tapi ya.. Kamu
tau sendiri Lif, arteri koroner susah sembuhnya meskipun udah operasi. Belum lagi kalau kambuh
mendadak, akibat fatalnya bisa sampai serangan jantung" jelas Pak Syarif. Hana pun sudah tau dengan
resiko penyakitnya itu.

Kami berpisah dipertigaan jalan, Dokter Syarif mengajak saya ke kantin tapi saya tolak mengingat
bekal tadi pagi belum saya makan karena mendadak jalanan lancar dan tidak macet sama sekali. +

Langkah saya berbelok menuju ruang rawat inap Hana sampai saya mendapati Salsya keluar dari
sebuah ruangan "Sal? Kamu ngapain disini?" tanya saya heran mendapati Salsya berkeliaran di area
obgyn. 1

Saya hendak ke ruangannya Hana, memberikan kabar gembira bahwa besok lusa dia diperbolehkan
pulang. Tapi diperjalanan, saya malah berpapasan dengan Salsya "Saya.. Saya lagi main Mas" katanya
seperti berpikir keras mencari jawabannya.

"Main? Jauh banget mainnya dari anesthesi ke obgyn" kata saya. Kalau tidak di ruang UGD, di ruang
operasi biasnya dokter anesthesi berkeliaran. Salsya saja sudah bisa memanggil saya dengan sebutan
Mas, menghargai saya sebagai adik ipar walau usia saya jauh di atasnya. 1

Nafisya apa kabar?. 8

"Bosen aja ketemunya Mas Kahfa terus. Ya.. Sekalian liat bayi-bayi yang baru lahir juga Mas"
katanya yang membuat saya menganggukan kepala meski terdengar janggal.

"Mas sendiri mau kemana lewat sini?".


"Saya mau ke ruangan temen, kebetulan dia dirawat dibangsal kelas tiga paling belakang".

"Loh, kok jawabannya sama kaya dokter Albi. Setengah jam yang lalu saya juga ketemu sama dokter
Albi, dia bilang mau jenguk temennya juga" kata Salsya. 4

Albi? Apa dia menemui Hana juga? Tumben sekali, padahal hari ini saya tidak menitipkan apapun
untuk Hana. 1

Berpisah dengan Salsya, akhirnya saya sampai di ruangannya Hana "Minimal panggil saya Kak, atau
Mbak! Sama kaya Alif. Saya itu umurnya lebih tua dari kamu, kamu itu dokter tapi gak punya sopan
santun banget ya?" saya mendengar Hana berbicara kesal kepada seseorang, siapa lagi kalau bukan Albi.
5

"Suka-suka gue, kalau gue gak mau gimana? Lagian udah tua kok mau-maunya dipanggil tua" jawab
Albi.

"Ekhem..." mereka menoleh bersamaan.

Bukan saya yang berdehem tapi pria berstelan kantor yang berdiri di depan saya. Saya melihatnya
sejak berjalan dikoridor menuju kesini, dia berjalan di depan saya. Siapa yang tau kalau ternyata ruangan
yang ditujunya sama. Dari belakang sepertinya saya tau siapa pria ini.

"Ma-mas?" kata Hana kaget dengan kedatangan pria itu.

"Dimana Gallan? Saya kesini mau jemput Gallan" kata orang itu dengan suara yang akan membuat
siapapun merinding mendengarnya. Entah benar atau tidak, menurut saya bukankah pertanyaan
pertama yang harus dia tanyakan adalah keadaan Hana. Dia tidak pernah menjenguknya selama Hana
dirawat. Bahkan untuk menandatangani informed consent saja, saya yang menjadi walinya.
Seseorang menyadarkan saya dengan menggenggam bagian belakang jas dokter saya erat. Gallan
seperti bersembunyi dibelakang saya, dia ketakutan mendengar suara pria itu.

"Oh ini temen baik yang kamu bilang dokter itu. Karena kita akan bercerai dalam waktu dekat, jadi
sekarang kamu menggodanya?" Suami mana yang merendahkan istrinya sendiri di depan orang lain.
Benar-benar tidak manusiawi.

"Tolong jaga bicara anda, ini tempat umum!" kata Albi dengan penuh penekanan karena mereka
menjadi pusat perhatian pasien dan pengunjung yang lain. 2

Pria itu tertawa kecut mendengar pembelaan dari Albi "Well.. well.. Usaha kamu kayanya berhasil
Han, sepertinya dokter ini mulai tertarik sama kamu. Siapa namanya? Al-? Alif, ya bener Alif. Teman
kebanggaan yang selalu kamu sebut namanya itu, tapi maaf saya kesini bukan untuk merusak suasana
kalian. Saya kesini untuk menjemput anak saya Gallan".

Mendengar namanya disebut tiba-tiba saja Gallan berteriak "Gallan gak mau ikut sama ayah! Ayah
jahat! Ayah jahat! Ayah pukul bunda! Ayah jahat! Ayah tampar bunda didepan Gallan! Gallan gak mau
ikut ayah!" Gallan berteriak histeris sambil menangis, dia masih bersembunyi dibelakang saya.

Tidak pernah terpikir bahwa Gallan juga butuh konsultasi kepada psikiater, akan berdampak buruk
jika dia melihat perlakuan ayahnya terhadap Hana. Bisa saja hal tersebut yang membuat Gallan menjadi
sedikit pendiam dan selalu was-was terhadap siapapun. 2

"Gallan!" kata pria itu sedikit membentak karena Gallan tidak bisa berhenti berteriak. Saya
menghadangnya ketika dia hendak menghampiri Gallan "Jangan kasar sama anak kecil! Anda gak liat dia
seperti sekarang karena ulah anda sendiri?" kata saya, terlihat seperti pahlawan.

"Tolong jangan ikut campur, dokter" katanya.

"Dan tolong jaga sopan santun anda, ini rumah sakit, itupun jika anda pria yang terhormat" sela Albi.
Wajahnya merah padam ketika mendengar perkataan Albi, pria itu terlihat marah sekali.
"Mari bicara baik-baik" ajak Albi. Awalnya dia menolak, tapi apa yang dikatakan Albi selanjutnya
berhasil membuat pria itu mematung dengan pandangan kosong "Istri anda mengidap arteri koroner".

"Setelah melakukan kekerasan fisik, anda mau membuatnya mati terkena serangan jantung juga?"
kata Albi pelan agar tidak di dengar Gallan. Mungkin setelah ini sesuatu akan berubah ketika dia tau
keadaan Hana yang sebenarnya. 1

🍁🍁🍁

Jam delapan malam setelah shalat Isya saya langsung berkutik di depan laptop. Tumpukan polio
bergaris menumpuk untuk di cek. Nilai ujian praktek maupun ujian tulis harus saya laporkan ke rektor
besok siang. 5

Melihat tulisan tangan yang kecil apalagi seperti sandi morse membuat saya mengantuk perlahan.
Mereka membalas dendam kepada dokter sampai membuat tulisan tidak terbaca. 8

Beberapa jurnal tidak diberi nama padahal berulang kali saya peringatkan. Sekitar jam sepuluh
mendadak tenggorokan saya terasa kering, Nafisya yang biasanya menyiapkan teh yang dicampur madu
kini tidak dia lakukan malam ini.

Lampu kamarnya sudah gelap, menandakan dia sudah tidur. Tiba-tiba saja langkah saya tertahan
tepat di ujung tangga. Ketika saya pulang pun lampu kamarnya masih gelap, tidak biasanya dia tidur
sebelum isya. Sontak saya menyempatkan diri mengetuk pintu kamarnya, sekedar memastikan bahwa
dia baik-baik saja.

"Sya.." panggil saya.

Tak kunjung mendapat jawaban, saya putuskan untuk membuka pintu kamarnya. Ketika saya
menyalakan lampu, tempat tidurnya masih nampak rapi dan kamar mandi pun kosong. Saya turun
mengecek di lantai bawah, disana pun tidak ada siapa-siapa. +
Apa jangan-jangan dia belum pulang?.

Saya langsung menghubungi nomernya, dering handphonenya malah saya dengar dari kamar.
Handphone itu tergeletak di atas meja belajar, berdampingan dengan dompet dan sebuh Al-Quran saku
berwarna merah muda yang pernah saya berikan saat pertama kali kami menikah.

Hampir jam sebelas malam, kehawatiran saya tiba-tiba saja memuncak. Setidak peka itukah saya
sampai tidak sadar kalau sejak tadi Nafisya tidak ada di rumah. Handphone dan dompetnya pasti
tertinggal. Saya yakin dia belum pulang dari kampus.

Bergegas saya mengambil kunci mobil, disepanjang jalan saya menghubungi semua kontak teman-
temannya, terutama teman satu kelasnya. "Saya gak tau sih Pak, tadi sore abis hasil ujian resep di
umumin kita bubar aja di depan kampus" kata Alfa. 1

Saya menghubungi Rachel, takutnya ada rapat remaja masjid kampus. Tapi dia bilang akhir-akhir
menjelang UTS Nafisya jarang ikut berkumpul dengan mereka. Akhirnya saya menghubungi Salma yang
mungkin cukup dekat dengan Nafisya di kelas.

"Waduh saya kurang tau Pak, tadi sih emang bareng saya pas mau pulang, tapi katanya dia mau
shalat magrib dulu di masjid kampus sebelum pulang".

Mobil saya langsung melesat menuju kampus. Pikiran saya berkelana mencari tempat lain jika saja
Nafisya tidak ada disana. Apa dia ke rumah ibunya? Tidak mungkin, semarah apapun Nafisya, dia tidak
pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.

"Nafisya.." panggil saya ketika ujung mata saya menangkap sosoknya yang tengah duduk diteras
masjid sambil memeluk lutut. Dia mengigil kedinginan, wajah pucatnya tersenyum ketika melihat saya,
senyumnya melegakan sekali.
"Kamu ngapain diem disini? bukannya pulang!" omel saya ketika saya menghampirinya. Dia
menatap jam tangan putih dilengan kirinya "Ponsel Fisya ketinggalan di rumah. Dompetnya juga, jadi
Fisya gak bisa pulang" lanjutnya.

"Kamu bisa kan minjem hanphonenya Salma atau Alfa buat ngehubungin saya sebelum bubar tadi.
Kalau saya gak ngeh kamu gak ada dirumah gimana? Mau sampai kapan kamu nunggu disini? Sampai
pagi?".

"Kalau ada apa-apa sama kamu gimana Sya? Kamu itu hobi banget bikin saya khawatir. Saya sampe
neleponin semua nomer yang ada di kontak kamu malem-malem. Lain kali kalo handphone atau dompet
kamu ketinggalan, kamu-" saya berhenti ketika tersadar saya berbicara tanpa rem. Sepertinya cerewet
saya mulai menuju tingkat kronis. 3

Nafisya tertawa melihat tingkah saya "Udah ngomelnya?" katanya.

"Kan Pak Alif yang bilang jangan bicara sama saya selama dua hari, kalaupun Fisya bawa handphone,
Fisya baru boleh telepon jam dua belas lewat nanti kan?" lanjutnya. 8

"Allahuakbar Sya.. Sya.. Kalau keadaanya darurat kaya gini itu gak berlaku. Ayo pulang!". 14

✂.......
14. Dipenghujung Sujud [2]

15K 3.4K 778

oleh madani_

TIGA jam berkutik di lab pasti bukan main pegalnya. Itu baru praktikum, belum kerja lapangan.
Instalasi farmasi di rumah sakit bahkan lebih parah lagi. Mereka ditarget untuk menerapkan sistem satu
menit untuk satu resep, saking terlalu banyaknya pasien yang mengantri membutuhkan obat.

Syukurlah penggunaan obat racikan mulai berkurang sekarang, kecuali untuk obat anak-anak "Sini
saya bawain farmasi kitnya" kata saya sambil mengambil alih farmasi kit dari tangannya.
Tak sengaja tangan kami bersentuhan, dia seperti tak bernyawa, tangannya dingin sekali melebihi
mayat. Apa jadinya kalau sampai saya tidak sadar jika dia tidak ada di rumah, mungkin dia akan
membeku sampai besok pagi. 3

Empat jam menunggu bukan main rasanya, dinginnya pasti menusuk sampai ruas-ruas tulang
belakang, ditambah dia tidak memakai jaket. Tangannya memang selalu dingin dan berkeringat, kadang
gemetar. Katanya tremor biasa, sudah berlangsung sejak dia masih SMP, kalau kelelahan atau stres pasti
seperti itu. 16

"Jalan kamu lambat" kata saya sambil berjalan mendahuluinya.

"Bodo ah, Fisya udah lemes banget..." katanya tak bersemangat. Biasanya dia akan berlari mengejar
saya dan kami akan berlomba sampai tempat parkir. Ketika saya yang menang dia akan membahas kisah
Rasulullah dan Aisyah, dimana dalam sebuah perlombaan Rasulullah mengalah demi menyenangkan hati
Aisyah. Intinya dia yang harus menang.

Saya menyamakan lagi ritme jalan kami "Mau saya gendong lagi kaya waktu itu?" tawar saya. Kami
pernah menghadiri sebuah acara pernikahan, kakinya lecet karena menggunakan sepatu tinggi dan saya
menggendongnya selama perjalanan pulang. 1

"Gak jadi deh, kamu berat" lanjut saya dengan gampangnya. Nafisya tertawa kecil, sepertinya dia
tidak punya mood untuk berbicara.

Sebenarnya tugas suami itu sederhana, cukup jadikan perempuan lain diluaran sana iri pada
istrinya.

Kami sampai di tempat dimana saya memarkirkan mobil. Diperjalanan Nafisya hanya menatap keluar
jendela, memperhatikan gedung-gedung tinggi yang hanya terlihat dari lampu yang menyala. +

Sesekali dengan suara kecil shalawat terlantun dari bibirnya, kadang dia melafalkan ayat tengah
dari sebuah surat. Dia mengantuk tapi bertahan untuk terjaga, ini sudah lewat tengah malam.
"Hampir aja tadi Fisya mau telepon Jidan..." katanya. 1

Mendengar itu sontak saya langsung menginjak pedal rem dan menatap tak suka ke arahnya.

Nafisya menoleh karena mobil berhenti mendadak. Detik selanjutnya, dia malah tertawa melihat
ekspresi saya. Syukurlah jalanan sangat sepi waktu itu, kalau tidak mungkin bamper belakang mobil saya
sudah ditabrak orang lain. +

"Bener kata Dokter Albi, Pak Alif itu cemburuan ya? Handphone Fisya kan ketinggalan di rumah,
mana bisa telepon Jidan" katanya masih dengan tertawa.

Iya juga kenapa saya tidak terpikirkan itu, handphonenya ada di saya. Tapi tetap saja bercandanya
kali ini benar-benar tidak lucu.

"Kalau misalkan dompet atau handphone kamu ketinggalan lagi dan kamu gak bisa pulang. Jangan
pernah telepon Jidan! Handphone saya standby dua puluh empat jam. Awas aja kamu..." kata saya. 1

"Kenapa memangnya?" katanya masih bertanya, padahal jelas-jelas alasannya karena saya
cemburu berat pada pria satu itu "Pria manapun, asalkan jangan Jidan. Karena saya tau dia cinta
pertama kamu". 4

"So tau banget, siapa bilang cinta pertama Fisya Jidan? Bukan juga.." katanya. 8

"Siapa dong kalau bukan Jidan?" tanya saya. 5

"Rahasia.." katanya sambil kembali menatap ke arah jendela. Saya tidak mendesaknya untuk
menjawab setelah itu, karena saya tau pria yang menjadi cinta pertamanya pastilah ayahnya. 1
Sesuatu bermasalah.

Ketika saya mencoba menyalakan mobil kembali, tiba-tiba saja mobil itu tidak bisa menyala sama
sekali. Sempat menyala sebentar lalu kemudian mati total. "Sya.. Mobilnya mati loh" kata saya panik,
masalahnya kami berada tepat di tengah-tengah jalan waktu itu. 4

Karena bukan jalan utama memang jarang sekali ada mobil yang melintas, apalagi tengah malam,
tapi tetap saja bisa macet kalau semisal ada mobil yang akan melintas. Saya keluar dari mobil, diikuti
Nafisya yang juga ikut keluar.

Saya mencari bengkel terdekat menggunakan map. Meskipun ada yang dekat, tidak mungkin ada
bengkel yang buka di jam satu malam. Entahlah, mobil ini selalu rusak disaat yang tidak tepat.

"Kayanya ada ban yang kurang angin" kata saya. Saya berjongkok untuk mengecek setiap ban
mobil. Nafisya malah kegirangan.

"Yeeeee... Asik! Gendong Fisya sampe rumah!" katanya seenak jidat. Jarak kampus dan rumah
lebih dari dua kilometer, daripada menggendongnya sampai rumah, mending menunggu truk derek
sampai subuh. 1

Saya tersenyum ke arahnya.

"Engga deh, bannya aman" kata saya membuatnya berhenti tertawa. Suka sekali melihat ekspresinya
yang ceria lalu tiba-tiba kesal. Dia akan mengembungkan pipi seperti tupai sambil mengomel kecil. +

Padahal saat itu saya tidak tau bagimana membedakan ban mobil yang kurang angin dengan yang
tidak, ditekan pun tetap terasa keras. Lagipula kalau kurang angin, tidak akan ada pengaruh pada
mesinnya.
Saya bediri dan membuka bagian depan mobil. Ada banyak sekali kabel berwarna-warni, terlihat
seperti jaringan tubuh dan pembuluh darah manusia dimata saya, sulit sekali membedakannya.

"Kamu tunggu di dalem aja, diluar dingin" suruh saya mengingat ini pasti akan berlangsung lama.
Saya ingat saat mobil ini rusak waktu itu, dibengkel montirnya bilang ada masalah dengan akinya.

Saya mencoba mengotak-atik bagian akinya sedikit, kemudian saya coba stater lagi sampai
akhirnya mobil itu bisa menyala lagi "Ko bisa nyala? Diapain?" tanya Nafisya, tidak percaya kalau saya
bisa memperbaiki mobilnya.

"Saya cabutin semua kabel-kabelnya".

"Loh! Kalo remnya blong gimana?" katanya panik dan hendak turun dari mobil tapi terlanjur saya
kunci otomatis.

"Ada kabel yang longgar di aki nya. Makanya tadi gak bisa distater, udah bener sekarang, pake
seatbeltnya".

🍁🍁🍁

Sampai di rumah, karena tidak bisa tidur akhirnya saya menjalankan shalat sunnah witir sebelum
kembali berkutik dengan jurnal. Sudah melewati masa kantuk, sepertinya Nafisya juga tidak bisa tidur. Di
salam terakhir saya masih melihatnya duduk di atas tempat tidur dan memainkan bibir.

"Jangan dicabutin kulitnya, nanti bibir kamu berdarah, banyakin minum sana" kata saya.

Nafisya mulai berani muncul di depan saya tanpa hijab semenjak tragedi keluar dari kamar mandi
itu. Padahal saya tidak pernah memaksa, tapi dia bilang sudah terlanjur malu.
Sejak itu juga, dentuman dijantung saya menjadi-jadi. Kadang saya tidak bisa fokus jika dia sekilas
melewati ruang kerja saya. Mata ini seolah terseting untuk menatap satu objek saja.

"Tuh kan saya bilang apa, bibir kamu berdarah jadinya" kata saya. Setelah melipat sejadah saya
berjalan ke arah meja, mengambil dua helai tisu, kemudian menghampirinya di tempat tidur.

Nafisya jadi gugup tak karuan.

"Pa-Pak Alif mau ngapain?" tanya nya salah tingkah dengan bola mata yang hampir keluar dari
kelopaknya, karena saya baru saja menyudutkannya sampai punggungnya buntu pada senderan tempat
tidur.

Saya mengusap darah dibibirnya itu dengan tisu tanpa mengatakan sepatah kata pun "Bi-biar
Fisya aja, Fisya bisa sendiri ko..." katanya menolak ketika darahnya hampir mengering.

"Manusia mana yang bisa ngeliat bibirnya sendiri? Kecuali kepalanya bisa berputar seratus
delapan puluh derajat, atau bisa dilepas dulu".

"Tapi kan Fisya bisa li-".

"Allah gak suka orang-orang yang mendebat" kata saya berhasil membuatnya diam sebentar. Kata-
kata saya berhasil mengingatkannya pada kejadian saat kami bertemu pada sebuah insiden kecelakaan
beruntun, dimana dia begitu keras kepala mengobati goresan di tengkuk saya.

"Pak Alif berdoa apa tadi? Kok sujudnya lama banget" tanyanya. Saya masih mengobati luka
dibibirnya. Dia tau sujud terakhir adalah salah satu waktu mustajab doa. Jarak paling dekat antara
seorang hamba dengan penciptanya.

"Saya minta surga" jawab saya.


"Kalo kamu gak nemu saya disurga, tolong cari saya ya, tarik saya, minta sama Allah buat maafin
dosa-dosa saya sampai gak bersisa" Nafisya tersenyum sambil mengangguk. 1

"Tapi nanti di surga, Pak Alif gak boleh minta bidadari. Cukup Fisya aja yang jadi bidadarinya" kata
Nafisya bernegosiasi.

"Gimana ya? Saya pikir-pikir dulu deh" jawab saya membuat rona dipipinya yang bisa saya lihat
dengan jarak dekat, tiba-tiba menghilang.

"Ih... Ngeselin, ko harus pikir-pikir dulu sih" katanya kesal. +

Saya menaruh tisu kotor itu di atas nakas, sebelum meninggalkan ruangan itu saya mengusap
rambutnya pelan sambil berkata "Kamu biadadari dunia, dan akhirat saya".

"Cuma kamu Nafisya Kaila Akbar".

"Buat sekarang, gak tau kalo nanti". 1

"Pak Alif!" dia berteriak. 14

✂..........
15. Hati Penuh Kasih

12.4K 3.5K 687

oleh madani_

Aku masih belajar jatuh cinta pada Allah. Aku ingin jatuh sejatuh-jatuhnya. Agar kelak, tiba waktunya
aku mencintai mu, tak ada alasan lain kecuali karena Allah. 37

🍁🍁🍁

SECANGKIR kopi berhasil membuat saya bertahan sampai pukul empat pagi. Saya berhasil untuk
tidak tidur semalaman demi memeriksa semua jurnal, entah ini termasuk dzalim terhadap diri sendiri
atau tidak. Disisi lain, semuanya adalah kewajiban yang kelak tetap harus saya pertanggung jawabkan. 1

Sepuluh menit kemudian adzan subuh berkumandang, menggemparkan alam yang sedang sunyi-
sunyinya. Daripada mengambil wudhu, sebenarnya diri ini lebih ingin membaringkan tubuh diatas sofa.
Rasanya tidak ada yang ingin bergelut dengan air disaat suhu sedang dingin sekali.

Selesai berwudhu, saya berganti pakaian dengan baju koko dan sarung yang saya pakai shalat isya
semalam. Ketika sejadah sedang saya gelar, knop pintu dibuka oleh seseorang. Nafisya muncul dengan
mukena merah mudanya.
"Saya kira kamu belum bangun, saya baru mau bangunin sebentar lagi" kata saya.

"Siapa yang gak pengen hal yang lebih baik dari dunia dan seisinya? Fisya juga mau lah..." katanya
tersenyum seraya menggelar sejadahnya di belakang saya. Sebelum berjama'ah subuh kami menunaikan
shalat sunnah dua rakaat sebelumnya. 4

Ketika saya berdiri untuk memulai shalat subuh dan akan mengucap takbir Nafisya berbicara dengan
suara pelan "Baca surat pendeknya jangan panjang-panjang ya Pak? Ehehe..." katanya tertawa kecil. 6

Saya tersenyum mendengar permintaanya "Iya.. Iya.." jawab saya, kami memiliki kesepakatan jika
saya shalat berjama'ah dimasjid maka harus ada satu waktu shalat dimana saya berjama'ah di rumah.
Misal, jika saya shalat berjama'ah Isya di masjid, maka shalat subuh saya harus menjadi imam Nafisya di
rumah. 8

Akhirnya kami menunaikan shalat subuh berjama'ah. Menurut saya inilah yang di namakan sakinah,
mawaddah, wa rahmah. Doa yang sering diucapkan untuk sepasang pengantin, perasaan tentram,
penuh rasa kasih dan sayang.

Sakinah, mawaddah, wa rahmah bukan berarti rumah tangga yang tidak pernah dilanda masalah.
Bukan terletak kepada seberapa romantis pasangan itu, bukan terletak kepada seberapa harmonis
perjalanan rumah tangganya.

Tapi terletak pada seberapa besar perjuangan dua sejoli itu untuk saling membantu menuju jannah-
Nya. Saling membangunkan ketika akan shalat tahajud, saling mengingatkan untuk saum sunnah, saling
memaafkan ketika memiliki masalah. Bukankah dengan begitu rasa tentram penuh kasih sayang akan
muncul?.

Saya mengakhiri shalat dengan dua salam kemudian ditutup dengan do'a yang Nafisya aamiin-kan. Saya
merubah posisi duduk setelah itu, ada sesuatu yang ingin saya kalahkan, rasa egois yang belum bisa saya
akui hingga sekarang. +
"Sya?" panggil saya.

"Hm?" katanya.

Saya mengambil nafas dalam-dalam sebelum mengatakannya, terkadang bukan ego yang menjadi
halangan tapi tidak adanya keberanian untuk mengatakannya lebih dulu "Saya minta maaf atas semua
perkataan saya, saya minta maaf atas semua sikap dan pelakuan saya sama kamu selama ini". 2

"Saya tau sikap saya benar-benar tidak mencerminkan seorang suami. Saat saya punya masalah
sama Hilman, kamu suport saya, kamu kasih saya solusi, kamu bimbing saya memilih jalan yang
seharusnya saya pilih".

"Tapi waktu kamu punya masalah, saya malah bersikap sebaliknya, saya malah marah sama kamu,
saya malah gak ada buat kamu. Saya malah bersikap tegas padahal waktunya gak tepat".

"Maafin saya ya?" kata saya lirih, untuk pertama kalinya saya tidak berani menatap matanya.
Perasaan bersalah itu lebih dominan sekarang, kemana saja saya sampai tidak menyadari betapa
buruknya saya sebagai seorang suami. 1

Tiba-tiba saja air matanya jatuh mengalir di hidung mancungnya "Fisya Pak.. Fisya yang harusnya
minta maaf, tolong maafin Fisya ya?" katanya tersedu-sedu. Hidungnya langsung memerah ketika tangis
itu menjadi-jadi.

Saya jadi bingung sendiri melihat reaksinya. Se-menyentuh itukah perkataan saya sampai dia rela
menghambur-hamburkan air matanya ketika saya meminta maaf?. 7

"Ssstt.. Ssstt.. Udah.. Udah.. Maaf.. Saya salah bicara ya? Atau sikap saya terlalu bikin kamu sedih?
Maaf saya ingkar janji karena bikin kamu sering nangis sendirian" saya menenangkannya dengan
mengusap pundaknya.
Ingin langsung memeluknya saat itu, tapi saya rasa ini bukan waktu yang tepat, saya merasa tenang
dengan cara dipeluk tapi belum tentu Nafisya merasakan hal yang sama. 1

"Maafin Fisya.. Tolong jangan marah sama Fisya. Fisya takut Allah ikut marah sama Fisya" katanya
masih tidak bisa berhenti menangis, perkataanya membuat saya tidak paham dengan permintaan
maafnya. 1

Saya menunggu Nafisya meluapkan semua bebannya, membiarkan dia menangis sepuasnya. Tidak
menyelesaikan masalah memang, tapi setidaknya bisa membuat keadaan sedikit lebih baik.

Sampai tangisnya sedikit mereda barulah saya kembali mengajaknya bicara "Kamu mau cerita sama
saya apa yang terjadi malam itu?" tanya saya.

Nafisya tidak memberi respon sama sekali, sampai akhirnya saya membatalkan pertanyaan itu meski
saya sangat penasaran tentang semua yang terjadi malam itu "Kalau terlalu menyakitkan, kamu gak
perlu cerita ko" sambung saya.

Albi bilang Nafisya seperti tidak diterima dengan baik waktu itu, statusnya yang hanya seorang
mahasiswa membuat dia di sepelekan, kasarnya dia tidak dianggap. Terlebih Fatsa yang katanya
memerintah seenaknya karena merasa mewakili ayahnya yang menduduki posisi komite.

"Tapi Pak Alif janji bakal maafin Fisya dan gak akan marah kalo Fisya cerita" tawarnya.

Saya mengusap kedua kelopak matanya yang masih berair, sambil melempar senyum saya
mengatakan "Sebelum kamu minta maaf, saya udah maafin kamu duluan Sya.." kata saya. 4

"Ini ada sangkut pautnya sama Fatsa ya? Apa selama disana temen-temen saya bersikap gak baik
sama kamu?" tanya saya.
Nafisya menggeleng menyangkal, tapi dia masih belum mulai menceritakan kejadian yang
sebenarnya. Bukan saya tidak mempercayai Nafisya daripada Albi tapi saya tau perempuan itu pandai
menyembunyikan luka.

"Albi bilang Fatsa bersikap gak baik sama kamu. Apa iya Fatsa yang nyuruh kamu ngebungkusin kado
sedirian dan nyuruh kamu bikin jus buat semua yang ada disana?" introgasi saya. +

Kali ini dia tidak menyangkal atau pun membenarkan, Nafisya malah mengukir senyum "Sebesar
apapun Fisya dipermalukan dimata orang lain, gak akan pernah bikin Fisya jatuh Pak" katanya penuh
keberanian.

"Lalu?" tanya saya.

"Tapi sekali Fisya dipermalukan dimata Allah, Fisya jatuh sejatuh jatuhnya. Fisya gak tau harus
ngadu sama siapa, sama Ummi sekalipun Fisya gak bisa. Fisya malu dimata Allah, dimata Bapak, dan
dimata orang lain" katanya.

"Seorang istri harusnya bisa menjaga kehormatannya selama jauh dari suami, Fisya gagal
melakukannya. Fisya gak bisa menjalankan amanah itu" lanjutnya menggundang kembali air matanya
meski tidak menetes.

Akhirnya dia mulai bercerita "Malam itu Fisya mau gabung sama anak-anak yayasan, duduk di
depan api unggun sambil liat mereka nyanyi-nyanyi. Tapi Fisya dapet tugas buat ngisi dua ember besar
dengan air dan ngangkut ke halaman depan".

"Air buat apa?" sela saya.

"Buat matiin api unggunnya, di yayasan itu, di halaman depannya gak ada selang atau keran yang
bisa dipake nyiram api unggunnya, mau dimatiin pake apa? Karena acara api unggun itu idenya Fisya jadi
Fisya yang harus tanggung jawab kan?". 1
"Kenapa harus kamu? Masih ada yang lain yang bisa ngambilin air kan?".

"Kalau masih bisa Fisya kerjain kenapa engga? Sebaik-baiknya orang kan yang bermanfaat untuk
orang lain Pak". 1

"Ya, memang. Tapi bukan berarti asas memanfaatkan. Konsep dipikiran kamu itu yang salah, bukan
karena seseorang baik hati, lantas kita memanfaatkannya, menyuruhnya sesuka hati, meminta tolong
padahal masih bisa dilakukan sendiri. Ngangkatin ember berisi air itu harusnya tugas laki-laki bukan
tugas perempuan Sya, apalagi kondisi kamu lagi gak fit waktu itu". 2

"Iya. Harusnya tugas laki-laki, makannya dokter Hasyim ngajuin diri buat gantiin tugasnya Fisya
ngambil air dari kamar mandi terus dibawa keluar".

"Lantas?" tanya saya.

"Fisya inisiatif bikin satu nampan teh madu hangat untuk anak-anak yayasan. Malam waktu api
unggun itu dingin banget diluar, kalo mereka malah sakit gara-gara acara api unggun itu, Fisya akan
merasa paling bersalah karena ngajuin acara tersebut".

"Pas Fisya mau bawa satu nampan penuh itu ke depan, dokter Fatsa lewat dan gak sengaja nabrak
Fisya" jelasnya.

"Dan baju kamu basah gara-gara semua teh nya tumpah ke baju kamu?" tebak saya. Nafisya
mengangguk mengiyakan.

"Bukan hanya itu, hampir semua gelasnya pecah dan berserakan dilantai. Waktu kejadian itu Fisya
terlalu sibuk ngeberesin pecahan kacanya karena takut ke injek sama yang lain, lantai licin juga bisa bikin
orang yang lewat kepeleset. Apalagi dokter Hasyim lagi bolak-balik ambilin air".
"Dokter Fatsa bantuin Fisya ngeberesin percahan kaca itu, tapi dia bilang kenapa Pak Alif harus
nikah sama perempuan rendahan kaya Fisya yang bisanya cuma pamer aurat". 2

"Awalnya Fisya gak ngerti maksud ucapanya, dan gak mau berpikiran negatif tentang apapun yang
bisa bikin semangat Fisya ambruk. Sampai Dokter Hasyim nyamperin Fisya tanpa bilang apapun dan
nutupin badan Fisya pake jaket dokternya,"

"Pak Alif tau kan, gimana kalo baju putih basah? Pasti langsung transparan. Wallahi, Fisya gak ngeh
kesana sama sekali" katanya kembali mulai terisak sampai mata saya ikut berkaca-kaca mendengarnya.

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

"Fisya malu banget, ada banyak koas dan dokter lain di ruang tengah waktu itu, mungkin mereka
juga liat. Fisya rasa apa yang dibilang dokter Fatsa itu bener. Harusnya Pak Alif nikah sama perempuan
yang lebih pantes bersanding sama Pak Alif. Perempuan cerdas yang punya akhlak dan harga diri yang
baik, perempuan yang bisa Pak Alif banggain kemanapun Pak Alif pergi". 6

"Makannya malam itu Fisya langsung lari ke kamar dan pake jaket. Rasanya Fisya gak tau harus
ngadu sama siapa, gimana kalo Pak Alif nanti diminta pertanggung jawaban atas apa yang Fisya perbuat?
Gimana kalo nanti Pak Alif gak biasa masuk surga cuma gara-gara Fisya? Gimana kalo Allah marah sama
Fisya?".

Nafisya memang tidak mengenal ketegasan sosok seorang ayah. Tapi saya lupa, karena tumbuh
hanya dalam asuhan ibu, hatinya begitu lembut dan penuh dengan kasih sayang.

Diluaran sana perempuan dengan sengaja memakai baju yang transparan, bangga memamerkan
auratnya, tapi di hadapan saya Nafisya menangis tersedu-sedu hanya karena tak sengaja terlihat
auratnya. 7
Dunia tidak akan membuatnya mudah jatuh, tapi urusan akhirat akan membuatnya langsung jatuh
kebagian dasar. Sungguh saya adalah orang yang paling beruntung di Bumi karena Allah telah
menghadiahkan bidadari surga berhati malaikat dihidup saya. 12

"Saya yakin kamu gak sengaja melakukannya Sya, saya yakin kalau kamu sadar kamu pasti gak
akan melakukan itu.. Ridhonya Allah ada pada ridhonya suami. Allah pasti maafin kamu kalo saya udah
maaf kamu. Perasaan malu dan bersalah itu ciri kalo kamu punya akhlak dan harga diri yang gak bisa
dibayar siapapun".

"Jangan kaya gitu lagi ya? Jangan pernah nyuruh saya nikah sama orang lain. Itu menyakitkan buat
saya" lanjut saya. 7

"Tapi kan selagi gak ada suami, harusnya seorang istri bisa menjaga harga dirinya" katanya tetap
pada pendiriannya.

"Iya bener. Allah yang ngejaga kamu waktu itu, sampai dia mendatangkan Hasyim buat
menyadarakan kamu. Apa itu juga alasan yang bikin kamu kasih saya sildenafil?" mimik wajahnya
langsung berubah ketika saya membahas hal tersebut. 7

"Bu-bukan..." katanya malu.

"Terus kenapa?" tanya saya.

"Malaikat melaknat istri yang gak mau memenuhi keinginan suaminya kan?. Dokter Albi juga bilang,
supaya Fisya gak dipanggil anak-anak lagi Fisya harus bersikap layaknya perempuan dewasa. Tau kan apa
yang dilakukan perempuan dewasa? Gitu bilangnya...". 6

Albi!. 8

Sya.. Sya.. Kamu terlalu polos atau bagaimana?. 2


"Kamu udah pernah tanya masalah itu kan? Waktu kita pulang dari pesta di rumahnya keluar Azzam?
Kalau saya ikhlas saya yakin malaikat gak akan melaknat kamu. Jangan berpikiran jangka pendek.
Gimana kalau saya khilaf malam itu? Gimana kalau kamu sampai trauma akhirnya? Atau kalau sampai
kamu hamil, dan kamu malah benci sama anak yang kamu kandung?".

"Kamu yang bilang ke saya, kamu paling kasihan sama anak yang kekurangan kasih sayang. Jangan
kaya gitu lagi ya? Saya gak suka..." tegas saya, diikuti Nafisya yang mengangguk.

"Fisya masih belajar jatuh cinta sama Allah. Fisya pengen jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Biar nanti,
tiba waktunya Fisya jatuh cinta sama Pak Alif. Gak ada alasan lain kecuali karena Allah". 34

Berapa kali lagi kamu akan membuat saya kembali jatuh? Bahkan jatuh semakin dalam, bukan
hanya jatuh cinta tapi juga jatuh hati. 5

Ana uhibuki fillah ya zawjati.

"Cium keningnya harus nanti ya? Nunggu kamu jatuh cinta dulu sama saya?" goda saya berhasil
membuat pipi kecilnya merona-rona. +

"Em.. Boleh ko" katanya malu-malu.

Qodarullah, Allah tidak berpihak kepada saya karena ketika Nafisya memperbolehkan, suara bell
pintu depan ditekan beberapa kali, nyaring sekali sampai terdengar ke ruangan dimana saya dan Nafisya
berada "Ada tamu, Fisya buka pintu dulu ya..." katanya sambil terburu-buru membereskan alat
shalatnya. 7

Siapapun yang bertamu sepagi ini, saya yang akan melaknatnya!. 110
✂...........

16. Menyambut Luka [1]

11.3K 3K 417

oleh madani_

Kesempatan kedua ada, bukan untuk kesalahan yang sama. 21

🍁🍁🍁

DILUAR sudah gerimis, langit gelap sekali. Belum sempat terbit, fajar sudah tertutup gumpalan
awan-awan hitam. Hati ini terus membatinkan ladafz allahumma shoyyiban naafi’an, berharap hujan
yang turun mendatangkan manfaat bagi penghuni bumi dan seisinya. 3

Keluar dari ruang kerja, saya mengikuti Nafisya turun ke bawah, takut kalau orang yang bertamu
bukan mahramnya. Terbiasa melewati tangga dengan langkah cepat membuat dia tidak memiliki trauma
sama sekali dengan kaki terkilir.

Dia berkaca sebentar membenarkan jilbabnya lalu terburu-buru menggunakan kaos kaki. Pernah
sekali saya pulang kerja, saking terburu-burunya membuka pintu, dia menggunakan kaos kaki yang
bukan pasangannya. 2

"Wa'alikumsalam. Sebentar..." teriaknya, karena suara bell ditekan berulang kali. 2

Nafisya membukakan pintu. Berdiri di ruang tengah, saya bisa melihat penampilan tamu yang
datang dengan membawa tas cukup besar, dia menangis terisak saat itu. Dari jendela saya melihat
sebuah taxi biru yang menjauh "Kak Salsya?" kata Nafisya heran. 4
"Kak Salsya kenapa?" sorot khawatir langsung ditunjukan anak itu, ketika mendapati kakaknya yang
datang dengan keadaan basah kuyup. Detik selanjutnya, tangis perempuan itu memuncak, tiba-tiba dia
memeluk Nafisya dengan sangat erat. 4

"Kenapa Kak? Astagfirullah badan kakak dingin banget, ayo masuk dulu.." ajak Nafisya. Dia
mengajak Salsya untuk duduk di kursi depan sebelum akhirnya menutup pintu, udara subuh itu cukup
untuk membuat seisi rumah membeku.

Saya bergegas kedapur untuk membuatkan minuman yang bisa menghangatkan tubuhnya Salsya.
Jangankan melaknatnya, melihat keadaanya saja membuat saya tidak tega. Sepertinya perempuan
menangis adalah kelemahan semua laki-laki.

Kecuali laki-laki yang tidak punya hati. 10

Kedatangan Salsya membuat pirasat saya menjadi buruk. Entah karena saya melihatnya bertengkar
dengan Jidan waktu itu atau mungkin kali ini karena pertengkaran juga Salsya sampai datang kesini.

"Kak Salsya kenapa? Jangan bikin Fisya khawatir" kata Nafisya, tangisan Salsya membuat siapapun
yang mendengarnya ikut tersayat hatinya. Seolah luka yang di dapatnya tidak bisa sembuh hanya
dengan ucapan menenangkan. 1

Saya menaruh dua gelas susu coklat hangat beserta nampannya di atas meja, kemudian saya
bangkit lagi untuk mengambil handuk kering "Jangan ditanya dulu Sya, biar kakak kamu sedikit
tenang..." kata saya. Nafisya menurut dan membiarkan kakaknya menangis sambil memeluknya.

Saya tau kehadiran saya akan menjadi kecanggunggan tersendiri untuk Salsya, dia tidak akan merasa
nyaman bercerita terus terang bahkan untuk menangis sekalipun kalau ada saya. Akhirnya saya
meninggalkan ruangan itu, membiarkan mereka memiliki waktu untuk berbicara. 1

Di ruang kerja saya menghubungi Albi untuk memberi kabar bahwa saya mengambil cuti untuk tidak
masuk kerja hari itu. Saya mengantuk sekali, tidak akan fokus sekalipun saya datang bekerja. Lagipula
pekerjaan saya tidak terlalu banyak mengingat saya masih tidak diperkenankan untuk memasuki ruang
operasi.

Setengah jam dari itu, Nafisya masuk ke ruang kerja saya dengan wajah yang sulit untuk didefinisikan.
Ada mimik sedih, khawatir bercampur bingung di wajahnya "Pak.. Kak Salsya boleh tinggal disini dulu
gak beberapa hari buat sementara?" katanya meminta ijin. 1

"Salsya udah cerita masalahnya sama kamu?" saya malah balik bertanya. 1

Pasalnya sulit untuk saya menyesuaikan diri jika ada orang asing yang tinggal satu atap sekalipun
saya mengenal orangnya. Dan lagi saya harus menghubungi ketua rukun tetangga untuk mengurus
masalah 'satu kali dua puluh empat jam, tamu wajib lapor' tujuannya baik, untuk menghindarkan fitnah
nantinya. 2

"Gak semuanya sih. Kak Salsya cuma cerita dia berantem hebat sama Jidan tapi dia gak bilang
alasanya kenapa. Dia butuh waktu buat nenangin diri, kalau dia pulang ke rumah ummi, nanti ummi
malah banyak pikiran. Makannya Kak Salsya langsung kesini" jelas Nafisya. 2

"Saya ijinin, tapi Jidan harus tetep tau kalau istrinya ada disini" kata saya. Nafisya mengangguk
setuju, seberapa hebat pertengkaran mereka, Jidan harus tetap tau keberadaan istrinya. 1

"Nanti Fisya kasih kabar ke Jidan kalau Kak Salsya ada disini" katanya. Mendengar itu jelas saya
langsung menolaknya mentah-mentah. 1

"Nggak! Saya aja yang kasih kabar ke Jidan" kata saya. 32

Nafisya tersenyum simpul melihat ekspresi saya "Dasar..." katanya sambil tertawa kecil "Makasih ya
susu coklatnya" sambungnya lalu menutup pintu ruangan tersebut. 7
Percayalah, laki-laki paling suka dihargai usahanya, meskipun hanya usaha kecil. Ucapan-ucapan
sederhana seperti tolong dan terimakasih membuat mereka ingin melakukannya lagi.

Saya kembali menyambar handphone untuk menghubungi Jidan "Assalamu'alaikum?" kata saya
ketika sambungan itu terhubung memunculkan detik yang mulai berjalan.

Orang disana berdehem sebelum akhirnya menjawab salam saya "Saya mau kasih kabar kalo Salsya
ada di rumah saya sekarang" kata saya. Saya kira dia akan lebih cemas dari Nafisya mengingat istrinya
baru saja lari dari rumah.

"Syukurlah" dia hanya mengucapkan satu kata yang membuat saya bingung harus mengatakan apa
lagi.

Akhirnya sebelum saya putus sambungannya, saya mengatakan agar dia tidak khawatir, Salysa
akan baik-baik saja selama dia ada disini. Tak ada hak saya untuk tau lebih dalam masalah mereka, meski
dalam hati saya sangat penasaran.

🍁🍁🍁

Jumping shift, double shift atau middle shift, apapun itu namanya akhirnya berhasil membuat Albi
tumbang. Dia terkena flu hebat setelah enam bulan lamanya tidak pernah sakit. 6

Karena Alif mendapat sanksi tidak boleh masuk ke ruang OK dan melakukan operasi apapun selama
satu bulan, akhirnya dia yang keteteran. Seperti hari ini misalnya, baru jam empat subuh tadi dia sampai
ke apartementnya, tapi jam delapan pagi dia sudah harus kembali lagi ke rumah sakit. 1

Tidur jika ada waktu, dan makan jika sempat membuat pola tidur dan makannya semakin
berantakan.
"Dokter lagi pilek ya?" tanya salah satu suster ketika Albi sedang visit pagi. Hidungnya merah sekali
sampai-sampai matanya ikut memerah, antara kurang tidur atau efek dari flunya, atau malah keduanya.
+

"Biar saya minta dokter residen aja yang visit pagi ini.." kata suster tersebut. Albi dengan senang
hati menyerahkan tumpukan kertas yang ada ditangannya. Tak lama dia mendapat notif yang
mengejutkan, ada panggilan tak terjawab dari Profesor Ishak beberapa menit yang lalu, namun tidak
sepat dia jawab.

Albi memutuskan untuk meneleponnya balik, ada sedikit perubahan sikap dari ketua komite itu
setelah Albi mengambil alih acara sosial menggantikan Alif "Hallo? Ada apa ya Pak telepon saya?" tanya
Albi tanpa ada basa-basi terlebih dahulu.

"Saya tunggu kamu di ruangan, kalo bisa secepatnya. Kalo kamu lagi dibangsal, suruh residen atau
koas dulu yang ambil alih" balas orang disebrang telepon. Niat Albi untuk kembali ke ruang konsulen
pun batal, langkahnya berpindah menuju ruang komite. 2

Masih sama, terlihat seperti ruang kepala sekolah, meja besar dengan kursi putar, gambar garuda,
bendera merah putih, foto presiden dan tumpukan map dan buku dimana-mana "Duduklah.." Titah Pak
Ishak menandakan pembicaraanya akan berlangsung lama.

"Kamu inget saya pernah bahas tentang pembentukan tim bedah baru?" Albi mengangguk, hampir
sebulan yang lalu topik ini pernah disinggung.

"Tiap hari pasien yang memerlukan pembedahan makin membeludak. Untuk meningkatkan kinerja
rumah sakit, saya berencana membuat tim baru, dan kamu ketuanya. Jadi kamu sama Alif saya pecah"
Jelas Pak Ishak. 1

"Lalu patnernya?" tanya Albi.


Satu tim bedah setidaknya harus memiliki dua dokter spesialis yang sudah berpengalaman lama,
malah idealnya empat orang dokter. "Ada Pak Jafar buat patnernya Alif" nama yang disebutnya adalah
konsulen bedah yang tahun depan akan pensiun.

"Anak saya yang akan jadi patner kamu. Dia pindah dinas kesini minggu depan" Harunya mendengar
itu Albi senang, tapi kali ini ada penolakan dari dirinya. Bukan masalah perasaan, ada goresan iman yang
mulai tercipta di hatinya. 10

Fatsa memang memiliki lisensi sebagai seorang dokter, mudah saja menjadikannya patner. Tapi Albi
sudah tidak ingin bertemu lagi dengan perempuan itu. Kenapa ujian pertama hijrahnya harus mantan?
Pikirnya. 22

"Kenapa gak Alif aja sama Fatsa, saya bisa patneran sama dokter Jafar" Albi memberi usulan. 1

"Awalnya saya ingin kaya gitu, tapi dokter Jafar udah jarang melakukan operasi, dia juga
mengajukan non shift sampai masa pensiunnya. Saya rasa Alif sanggup jika harus sering bekerja sendiri"
jelas pria berdasi didepannya. 1

"Kalau saya menolak?" tanya Albi. 1

"Saya gak ngasih kamu pilihan harus menerima atau menolak" Albi menghela nafas mendengar
jawabannya, ini sama saja dengan pemaksaan. Mau tidak mau dia harus bekerja dengan Fatsa mulai
minggu depan. 3

Selepas perbincangan tim bedah baru, Albi baru bisa kembali ke ruang konsulen. Ada perempuan
yang nampak menunggu di depan pintu ruangan Alif. Anak laki-laki yang memegang tangannya
membuat Albi tau siapa perempuan tersebut.

"Alif kemana?" tanya Hana ketika kaki Albi tepat berdiri di depannya.
"Wa'alaikumsalam" singgung Albi, membuat perempuan itu sedikit malu dan mengulang kembali
salamnya. Albi baru ingat bahwa hari ini, Hana sudah tidak dirawat lagi dan diperbolehkan pulang. 1

Melihatnya tanpa seragam pasien membuat Hana tidak dalam umurnya. Siapa yang sangka
perempuan itu berumur tiga puluh enam tahun dan sudah beranak satu "Dia cuti" jawab Albi sambil
mengeluarkan kunci ruangan Alif dan membuka pintunya.

"Yah.. gimana dong Bunda? Berarti Gallan ikut Bunda aja ya?" kata anak kecil disampingnya merajuk.
Alif juga sama, dia lupa hari ini adalah hari terakhir Hana dirawat.

"Ada apa?" tanya Albi spontan.

"Boleh saya minta alamat rumahnya Alif?" Albi masuk kedalam sebentar sebelum akhirnya
mengulurkan sebuah kartu nama milik Alif yang di ambilnya dari meja, lengkap dengan nomer telepon
dan alamat rumahnya. +

Katika Hana menerima kartu itu dia baru tersadar bahwa Alif sudah tidak tinggal di rumah lamanya
semenjak menikah "Itu alamat lama. Alamat rumah yang barunya di Green Harmoni Indah Blok B No 11,
deket kampus tempat Alif ngajar" jelas Albi. 3

"Tau daerah sini kan?" tanya Albi karena Hana seperti bingung dengan penjelasannya tadi. Yang Albi
tau perempuan itu baru-baru pindah ke kota ini.

"Ya udah, gue yang anter.." katanya tiba-tiba menyambar kunci mobil di sakunya. Hana tidak
menolak, pertama dia tidak berduaan dengan Albi mengingat Gallan juga ikut. Kedua, mobilnya belum
dia ambil dari bengkel karena masih belum selesai diperbaiki. 2

Di mobil Gallan memilih duduk di depan, tepat disamping kursi kemudi, sementara Hana duduk di
kursi belakang. Setengah perjalanan hening menghantui mereka, tidak ada yang bersuara sedikit pun.
Sampai-sampai Gallan tertidur padahal baru jam sembilan.
"Gimana kabar suami lo itu? Katanya mau ngebatalin gugatan cerainya pas tau lo sakit?" Albi
bersuara, dari kaca spion dia bisa melihat Hana mengangguk. Masih ada tatapan tidak suka dari
perempuan itu karena Albi bisa dengan santainya berbicara pada Hana seperti teman sejawat. 1

"Terus?" tanya Albi, kalau mereka tidak bercerai harusnya suaminya yang menjemputnya.

"Saya yang menggugat dia bercerai sekarang" kata Hana.

"Kayanya profesi pengacara itu bebas menggugat orang lain ya?" kata Albi sedikit tertawa
mengatakannya. Hana tidak menjawab, dia hanya memalingkan wajah ke arah jendela, menghindari
pandangan pria yang masih menatapnya dari kaca depan.

"Alif hanya memiliki ayah tanpa pernah bertemu ibunya. Nafisya juga, orang tuanya berpisah
bahkan kata Alif ketika umur Nafisya masih lima tahun. Tapi mereka tumbuh menjadi orang-orang hebat,
jangan terlalu khawatir sama masa depan Gallan" kata Albi. 1

"Mudah mengatakannya, karena kamu gak tau seberapa banyak kesedihan yang mereka lalui
selama hidupnya" jawab Hana sedikit ketus. Dengan mengatakannya Hana kira Albi akan bungkam. 1

"Gue besar di panti asuhan. Tanpa tau siapa orang tua gue, tanpa tau apa gue anak haram atau
bukan. Selama gue hidup yang gue punya cuma temen, musuh, sama patner kerja" jawab Albi membuat
Hana menahan nafas, sedikit merasa bersalah dengan perkataan sebelumnya. 35

Tidak ada percakapan antara mereka setelah itu, mobil terus melaju menerjang hujan sampai
akhirnya sampai tepat di depan rumah Alif. 16

✂..........

16. Menyambut Luka [2]


9.3K 3.2K 1.6K

oleh madani_

MENDENGAR mobil di depan menekan klakson beberapa kali membuat saya kembali membatalkan
tidur. Ketika melihat itu mobilnya Albi, saya tersadar bahwa saya melupakan hal penting. Bukannya
turun dari mobil untuk menggeser gerbang, pria itu malah menyalakan klakson berulang-ulang. 5

Saya lupa, benar-benar lupa, masalah Hana yang akan menitipkan Gallan untuk beberapa hari
kedepan. Bahkan saya tidak ingat kalau hari ini Hana sudah diperbolehkan pulang. 1

Saya belum menceritakan apapun terkait hal tersebut pada Nafisya. Kami baru saja baikan,
bagaimana kalau hal ini membuat kami bertengkar lagi. Saya sangat bersyukur Nafisya sangat membenci
perceraian, tapi akan sulit untuk membuatnya paham dengan kondisi perceriannya Hana. 1

"Biar saya yang buka gerbangnya.." kata saya ketika melihat Nafisya hendak keluar.

Gadis itu mengulurkan payung di tangannya agar saya tidak kehujanan. Albi berhenti menekan
klakson ketika mendapati saya keluar dari rumah. Akhirnya mobil itu bisa terparkir di halaman karena
mobil saya masih ada di garasi.

"Kak Fisyaaaaa..." teriak Gallan ketika melihat Nafisya yang berdiri di teras depan, punya pesona
apa dia sampai anak kecil itu melambaikan tangan dan tersenyum senang ke arahnya. 8

Hana dan Albi ikut turun dari mobil, pria itu terlihat tidak karuan sekali wajahnya. Kantung matanya
menghitam, rambutnya berantakan, penampilan yang seadanya, postur tubuh yang tidak tegap seperti
biasanya. 6

"Halo Gallan... Ayo masuk Kak Han, Dok.." kata Nafisya antusias mengajak mereka masuk. 4
Menyambut tamu bagai menyambut raja bagi Nafisya, bahkan dia melarang saya bertanya
keperluan pada yang bertamu, sebelum tamu itu sendiri yang mengatakan keperluannya datang. Dia
juga melarang saya untuk meminta tamu pulang meskipun sudah bukan waktunya jam bertamu,
sebelum mereka sendiri yang akhirnya memutuskan pulang, adab katanya. 16

Pikiran saya sibuk merangkai kata untuk menjelaskan masalah Gallan pada Nafisya. Tanpa permisi,
ketika menemukan sofa Albi langsung merebahkan tubuhnya begitu saja, membuat Hana menatapnya
dengan tatapan tidak suka. Kata Hana, Albi itu kurang belajar akidah akhlak dan tatakrama. 6

"Udah biasa kaya gitu Mbak, karena Nafisya sering bilang anggap aja rumah sendiri. Jadi Albi berasa
rumah sendiri" kata saya. 4

Karena sofa dihabiskan oleh Albi, tiba-tiba saja Gallan naik ke sofa dan tidur di atas Albi membuat
dokter itu meringis kesakitan. "Lan! Ber-at.. Wo-woy! Paru-paru gue ke gencet, gue gak bisa nafas!"
katanya terbata-bata. Gallan malah tertawa melihat Albi seperti itu. 12

Saya mempersilahkan Hana untuk duduk di ruang tengah dimana ada sofa lain disana. Setelah itu
saya menyusul Nafisya ke dapur, semua isi kulkas akan dia keluarkan untuk membuat makanan apapun
yang bisa dia suguhkan, Salsya tengah beristirahat di kamar tamu.

"Sya.." panggil saya.

"Hm? Duh.. Madunya habis, supaya manis pake apa ya?" katanya sibuk sekali. 1

"Sya, ada yang harus saya omongin, ini penting" kata saya berusaha membuatnya berhenti sebentar
dari segala kegiatannya "Fisya baru inget ada sari kurma di kulkas. Botolnya harus di rendem dulu di air
hangat biar gak terlalu dingin. Sebentar ya Pak" katanya berlari ke arah kulkas. 4

Entah apa yang dilakukan Albi dan Gallan di ruang depan sampai suara tertawa mereka terdengar
hingga ke sini. Saya mengikutinya ke arah kulkas "Sya, dengerin saya dulu.." kata saya.
Dia berhenti sejenak lalu menatap saya "Mbak Hana kesini karena dia mau menitipkan Gallan untuk
beberapa hari kedepan" jelas saya akhirnya. +

"Oh ya? Wah, bagus dong. Asik.. rumah ini bakalan rame, tapi Fisya bingung harus masak apa nanti
selama Gallan disini. Fisya gak tau Gallan sukanya makan apa? harus Fisya tanyain sama Mbak Hana
nanti" katanya tersenyum penuh semangat. 4

"Mbak Hana menitipkan Gallan untuk mengurus perceraiannya" ulang saya. Botol berisi sari kurma
itu hampir terlepas dari tangannya jika saja saya tidak cepat-cepat memegangnya. 1

Matanya terlihat kosong sebentar, mimik wajahnya langsung berubah, yang tadi begitu
bersemangat sekejap menjadi pancaran tidak setuju "Kalo gitu Gallan gak boleh tinggal disini. Pak Alif
paling tau Fisya gak suka percerian" katanya dengan nada setengah hati. 1

"Iya saya tau.. Tapi kali ini beda Sya, suaminya Mbak Hana beda sama sikap Abi kamu. Dia kasar dan
mudah main tangan, banyak luka lebam di wajah Hana bukan karena kecelakaan itu, tapi karena terlalu
sering ditampar suaminya".

"Tapi Gallan? Apa mereka gak mikirin perasaan Gallan sama sekali? Umurnya baru sepuluh tahun,
dia pasti udah paham arti bercerai. Apa di umur itu dia siap kehilangan seorang ayah?" katanya masih
menolak.

"Perceraian ini hanya untuk memutus hubungan Hana dengan suaminya, bukan memutus
hubungan Gallan dengan ayahnya.. Sampai kapanpun lelaki itu akan tetap jadi ayahnya Gallan". 1

"Saya yakin kamu gak mau kalo liat Ummi kamu dipukuli sama Abi kamu kan? Itu yang terjadi sama
Gallan, dia jadi pendiam dan terlalu wasada pada setiap orang baru". 1

"Hana juga gak mau Gallan tumbuh sekasar ayahnya. Hana udah bersabar dengan mencoba
bertahan selama sepuluh tahun lamanya. Mau seberapa banyak lagi lebam yang harus dia dapat?" jelas
saya sehalus mungkin.
Nafisya hanya diam, tak memberikan respon apapun tapi saya tau dari sudut pandangnya dia mulai
menerima "Dalam kondisi kaya gini, terkadang perceraian itu perlu, untuk kebahagiaan dua belah pihak.
Itulah kenapa Allah tidak mengharamkan bercerai tapi membencinya. Boleh ya Gallan tinggal disini?"
tanya saya. 1

Meski dengan berat hati, akhirnya dia mengangguk "Udah dong cemberutnya.. Nanti cantiknya
ilang. Ayo saya bantuin, kamu mau bikin minuman apa?" kata saya terlalu spontan sampai menyelipkan
kata cantik.

"Pak Alif bilang apa barusan?" tanyanya langsung merubah topik pembicaraan. 5

"Gak bisa di ulang!" tegas saya sambil kembali ke tempat semula membawa sari kurma itu.
Mengatakannya langsung terang-terangan bahwa dia sangat cantik itu sulit sekali. Entah karena saya
tidak pernah memuji perempuan sebelumnya atau karena ritme jantung saya selalu menjadi lebih cepat
setelah mengatakannya. 4

Nafisya berdecak sambil berkata "Dasar suami galak" katanya. Lengkap sudah tiga gelar saya, dokter
galak, dosen galak, suami galak. Besok-besok gelar saya jadi harimau. 39

Wedang Jahe menjadi pilihannya mengingat cuaca sedang dingin sekali "Ini wedang jahe kan? tapi
gak kerasa pedes sama sekali. Padahal Gallan itu gak suka banget jahe loh Sya, tapi ini malah kecium
aromanya aja, rasanya manis" kata Hana menyanjung ketika mencicipi minuman tersebut. Kata Hana
tidak suka, tapi anak itu paling duluan menghabiskan minumannya.

"Gak suka tapi doyan, buktinya abis duluan" membuat Gallan menarik rambut Albi tiba-tiba.
Mereka terlihat seperti teman, Albi menjaili Gallan lalu anak itu akan mengejar Albi habis-habisan. 9

"Aw.. Aw! Sakit ih! Kamu sama dokter berani-beraninya ya? Laporin Bunda kamu loh" kata Albi
mencoba melepaskan genggaman tangan Gallan dari rambutnya. Kami tertawa bersama melihat mereka.
2
"Tunggu sebentar ya Kak? Kita makan bareng-bareng, Fisya mau masak cuminya dulu" kata Nafisya
berkata kepada Hana.

"Gak usah repot-repot, gue gak bisa lama-lama disini. Harus balik lagi ke rumah sakit. Ini aja gue
bolos kesini Sya" kata Albi.

"Yang ditawarin Hana, kenapa jadi kamu yang jawab" sela saya. 4

"Yang ditawarin itu Bunda sama Gallan, Wleeeee.." Gallan menjulurkan lidahnya ke arah Albi. 1

"Mewakilkan" jawabnya mengelak. Saya jadi curiga, jangan-jangan alasanya memutuskan berhijrah
karena perempuan ini. 15

"Mbak juga gak akan lama-lama, penerbangannya jam satu, kalo terlambat penerbangan
selanjutnya jam tiga sore, bakalan lama lagi nunggunya" akhirnya kami hanya berbincang selama lima
belas menit setelah itu.

🍁🍁🍁

Menjelang sore Nafisya duduk di depan meja saya seperti pasien yang akan berkonsultasi "Gallan
gak mungkin mau tidur satu kamar sama Kak Salsya. Dia pasti ngerasa asing, mereka kan gak saling kenal,
lagian Kak Salsya gak terlalu suka sama anak-anak" tuturnya.

"Di ruang kerja Pak Alif kan ada kasur lipat kecil. Kalau Kak Salsya tidur di kamar tamu. Gallan bisa
tidur di ruang kerja?" katanya padahal saat itu saya benar-benar ingin tidur.

"Terus saya tidur dimana?" tanya saya. 3


"Oh iya ya.." katanya menggaruk tengkuk yang tidak gatal.

"Ya udah gini, kamu sama Salsya tidur di kamar kita, Gallan sama saya tidur di kamar tamu. Gimana?"
tanya saya. +

"Fisya gak yakin Gallan mau akur sama Pak Alif. Lagian nanti Kak Salsya malah banyak tanya kenapa
Fisya harus tidur sama dia" komentarnya. 2

"Ya udah, ide kamu aja. Gallan disini, Salsya di kamar tamu. Saya bisa tidur di sofa bawah ruang TV"
kata saya.

"Jangan, nanti Kak Salsya makin heran kalo Pak Alif tidur di ruang tengah. Terus kalo Kak Salsya lapar
malem-malem dia gak akan berani pergi ke dapur kalo ada Pak Alif" katanya memperumit hal kecil. 2

"Ya udah Salsya di kamar tamu, Gallan di ruang kerja, saya tidur di kamar kamu?". 2

"Terus Fisya tidur dimana?" tanyanya. 10

"Kamu tidur di balkon" goda saya sambil tertawa. Dia terlihat jengkel ketika saya menyuruhnya tidur
di luar. Mana mungkin saya tega membiarkan dia tidur di balkon sementara saya tidur di kamar. 14

"Ya udah deh Pak Alif tidur sama Fisya aja.." katanya membuat saya langsung berhenti tertawa. 14

"Yakin?" tanya saya. 1

"Ya engga lah. Pake di tanya" jawabnya "Mau gimana lagi? Gak apa-apa deh sementara. Gak akan
lama kan? Lagian nanti Kak Salsya malah curiga kalo kita tidurnya pisah". 3
Malamnya, dia salah tingkah percis seperti kali pertama saya menginap di rumahnya. Jam sembilan
malam, berulang kali dia mondar mandir ke ruang kerja memastikan bahwa Gallan sudah tidur dengan
keadaan nyaman. 2

"Kamu minum apa sih? Ko saya liat sering banget minum obat itu" kata saya ketika melihat benda
seperti tabung berwarna putih. 24

Saya pernah menanyakannya, dia bilang itu hanya vitamin "Vitamin memang boleh, tapi jangan
keseringan Sya. Mending kamu makan buah atau sayur yang mengandung vitaminnya langsung. Sesuatu
yang berlebihan itu gak baik loh" ceramah saya. 7

"Pak, Fisya mau deh ngelakuin sunnahnya Nabi" saya tercengang dengan pengalihan topiknya yang
terlalu tiba-tiba. Jangan bilang dia minum tablet sildenafil lagi. 38

"Su-sunnah... Yang mana?" tanya saya. 24

"Sunnah menyisir rambut suami". 25

"Oh.. Kirain" akhirnya saya tau kenapa pipi Nafisya merona saat di perpustakaan waktu itu.
Kalimatnya sederhana, tafsirnya saja yang rumit. Salah tafsir itu ternyata sangat membahayakan. 30

✂........
17. Perempuan Dalam Al-Quran

12.4K 3.1K 972

oleh madani_

Syok dong waktu liat pagi-pagi udah 1k komentar aja, kalian ketik pakai apa? Pada bergadang
berjama'ah?. 95

............ 1

Untuk saat ini aku tidak bisa lebih dekat dengan mu. Karena ada yang lebih dekat, sedekat urat nadi.
Tidak ada yang lebih indah dari dua raga yang saling menjaga tapi saling memantaskan. 19
🍁🍁🍁

"KAMU apain rambut saya sih Sya?" kami masih duduk di atas tempat tidur saat itu, padahal sudah
jam sepuluh malam. Nafisya bilangnya akan menyisir rambut saya, padahal saya mau tidur bukan mau
pergi kemana-kemana. 6

Saya jadi curiga karena dia terus tersenyum aneh dan melarang saya menoleh ke arah cermin "Ih!
Diem dulu, jangan dulu liat, belum selesai tau" katanya menahan pipi saya ketika saya hendak mencuri-
curi pandang ke arah cermin. 6

"Nah selesai, sekarang boleh liat ke cermin" katanya, sontak saya langsung menoleh dengan cepat ke
arah cermin.

"Innalillahi.." kata saya yang langsung membulatkan mata, mulut saya terbuka lebar ketika melihat
sosok di cermin itu. Dia mengepang rambut saya ke atas lalu mengikatnya dengan ikat rambut yang ada
pita besar didepannya. Lengkap dengan poni yang dia sisir kedepan.

Nafisya tertawa, puas sekali "Baru kali ini Fisya liat Pak Alif gemesin.." katanya masih sambil tertawa. 9

Saya tidak langsung melepas ikat rambutnya ketika melihat responnya, senang saja melihatnya
tertawa lepas meski harus bertingkah konyol seperti ini. Bersyukur hanya Nafisya yang bisa melihat saya
seperti ini. 20

Coba bayangkan kalau Albi yang melihatnya, dia akan terus mengejek saya setahun penuh tanpa
bisa berhenti tertawa "Udah ketawanya? Sini rambut kamu saya iketin biar samaan" kata saya. 10

"Gak mau ah.. Pak Alif pasti mau balas dendam" katanya cerdas lalu menghindari saya. 2

"Siapa bilang? Jangan berburuk sangka terus sama suami. Cepet ke sini... Ini perintah tuan putri!
Saya bisa iket rambut kamu kaya frozen, beneran deh. Mana sini iket rambutnya..." bujuk saya. 9
"Awas ya kalo Pak Alif macem-macem!" ancamnya sambil mengulurkan kotak kecil berisi ikat
rambut warna-warni. Rambutnya lembut sekali, peraduan wangi zaitun dan sampo bayi. Saya tidak
berbohong, saya mengikat rambutnya dengan benar dan rapi.

"Selesai" kata saya sambil mengikat ujung rambutnya dengan ikat rambut yang sama. Saya
menaruh aksen pita-pita kecil diantara rambutnya. Saya tidak tahu kalau Nafisa memiliki ikat rambut
sebanyak itu, ini bisa dijadikan referensi untuk memberinya hadiah lain kali selain kaktus dan bunga
matahari. 1

"Coba liat ke kaca" suruh saya.

"Wah, Pak Alif belajar dimana? Ini rapih banget" katanya terkagum-kagum ketika melihat hasil karya
saya. 11

"Siapa dulu, Alif..." kata saya berbangga hati , padahal saya mempelajarinya ketika melihat salah
seorang suster dari spesialis anak mengikat rambut pasiennya. 8

Entah dia keceplosan atau tidak, detik selanjutnya Nafisya mengatakan "Kalau kita punya anak.
Fisya gak perlu repot ikat rambutnya. Kita bisa gantian Pak, atau Pak Alif aja Yang bertugas ikat
rambutnya nanti". 33

Mungkin dia tidak sadar mengatakannya, tapi hati saya berhasil meletup-letup bahagia. Itu bukan
sebuah harapan, bukan juga sebuah doa, apalagi sebuah rencana. Saya hanya berharap saat itu
perkataannya sama seperti perkataan Khaulah Binti Tsa'labah yang langsung menembus ke langit dan
didengar oleh sang pencipta. 13

Setelah itu hening menghantui kami beberapa saat, Nafisya membenarkan kembali rambut saya
meski sekarang arahnya menjadi tidak karuan "Kamu mikirin apa?" tanya saya ketika dia malah
melamun.
"Fisya nganterin makan malem buat Kak Salsya karena dia gak mau turun tadi, katanya gak laper.
Kak Salsya kayanya lagi teleponan sama Jidan. Mereka bertengkar sampai Kak Salsya nangis, Fisya gak
jadi nganterin makanannya, akhirnya Fisya taro di meja deket pintu kamar". 1

"Fisya penasaran aja apa yang terjadi sama mereka. Fisya penasaran apa yang bikin mereka
berantem, sampai Kak Salsya memilih lari dari rumah, padahal Fisya tau Ka Salsya orang yang ber
pemikiran dewasa. Dia menjadi orang yang paling kuat ketika Abi memutuskan bercerai dulu".

Saat itu saya bingung, apakah saya harus menceritakan apa yang saya lihat dan dengar ketika di rumah
sakit. Apakah saya harus bersikap egois dengan tidak melibatkan nya dalam masalah ini meski saya tahu
bahwa Nafisya sangat berperan dalam masalah hubungan rumah tangga Jidan dan Salsya. +

Tidak, dia tidak boleh tahu masalah ini. Membuatnya tahu hanya akan menjadikan Nafisya merasa
bersalah terhadap kakaknya.

"Saya yakin mereka udah dewasa Sya, mereka pasti bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Kamu jangan terlalu khawatir ya? Kamu hanya harus support terus Salsya tanpa ikut campur urusan
mereka".

Saya mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain "Saya bacain cerita lagi, mau? Inget
waktu pertama kamu pindah ke rumah saya dulu? Kamu juga gak bisa tidur waktu itu, akhirnya saya
bacain cerita sampai kamu tidur".

"Fisya bukan tidur gara-gara dibacain cerita sama Pak Alif. Sebenarnya Fisya gak tidur waktu itu,
cuman Fisya mejamin mata, eh malah ketiduran beneran. Dibacain cerita sama Pak Alif nggak seru
soalnya flat nggak ada feel-nya sama sekali" katanya terlalu jujur. 16

"Saya bilang apa kan? Kamu gak bisa tidur kalo ada saya? Kamu sih nggak percayaan sama orang"
kata saya membalikan. 1

"Tapi kan biasanya Fisya tidur bareng sama Pak Alif di ruang kerja" katanya mengelak.
"Itu karena saya tidur di kursi, kamu tidut di sofa" jawab saya. 1

"Udah kamu tidur duluan gih, saya tidur di sofa ruang tamu aja. Salsya gak akan tau kok kalo ada
saya disana, dia pasti udah tidur" kata saya sambil membawa salah satu bantal. 1

"Ya udah Fisya juga tidur di sofa" katanya, ikut mengangkut guling dan bantal miliknya. 3

"Loh, kok gitu?".

"Nanti jadi pertanyaan buat Kak Salsya kalo kita tidurnya pisah, udah mending tidur disini aja, Fisya
pasti bisa tidur kok, seriusan" katanya meyakinkan.

"Saya yang gak bisa tidur. Kalau kayak gini caranya saya bisa nggak tidur 2 hari 2 malam. Lagian
kalau saya tidur berbaring, saya suka mimpi buruk" kata saya beralibi. 2

"Oh ya? Kok Fisya gak tahu?" tanyanya malah terlihat khawatir. Sebenarnya saya sudah berhenti
bermimpi buruk setelah menikah dengannya. Entah karena kehadiran Nafisya atau saya terlalu lelah
bekerja di siang hari, sampai ketika tidur saya tidak bisa mengingat apapun. Mimpi itu kadang datang
tapi tidak terlalu sering. 1

"Kamu inget kan ayah saya meninggal dalam kecelakaan bus. Setiap kali saya tidur berbaring,
wajahnya selalu muncul di mimpi. Itulah kenapa saya sering tidur di kursi kerja atau di sofa" jelas saya.

Tiba-tiba saja dia menyuruh saya untuk tidur dipangkuannya percis seperti ketika pertama kali saya
menyuruhnya melakukan hal yang sama "Sini deh, gantian Fisya yang bacain cerita?" katanya sambil
memindahkan bantal ke pangkuannya. 8
Saya menurut saja, kapan lagi Nafisya tidak canggung pada saya "Tentang em.. Apa ya sejarah yang
belum pernah Fisya ceritain. Kisah tentang perempuan yang mengadu sama Rasulullah". 4

"Pak Alif belum tau kan ceritanya?" tanyanya. Padahal saya sudah tahu ceritanya, tapi saya
memutuskan untuk menggelengkan kepala saat itu. 1

Saya kira rasanya akan biasa saja mengingat sudah cukup lama saya tinggal dengannya. Tapi ketika
melihatnya dari jarak dekat apalagi ketika dia menunduk dan menatap saya selalu tersenyum, jantung
saya bekerja ribuan kali lebih cepat. 11

Nafisya mulai bercerita bahwa perempuan yang mengadu kepada Rasulullah itu bernama Khaulah
Binti Tsa'labah "Doanya didenger sampai langit ketujuh, bahkan Allah mencatat namanya di Quran surat
Al-Mujadilah" katanya.. 4

"Pak Alif tahu apa yang diadukan Khaulah pada Rasul sampai Allah mengabadikan namany?" Saya
menggeleng lagi.

"Saat itu Khaulah adalah perempuan yang sudah tua renta, begitupun suaminya Aus Bin Ash Shamit.
Perangainya berubah menjadi kasar seiring bertambahnya usia". 1

"Ketika marah suaminya mengatakan 'punggungmu seperti Ibuku' Khaulah mengadu kepada
Rasulullah tentang ucapan suaminya tersebut dan Rasul mengatakan bahwa ucapan suaminya tersebut
sama dengan ucapan talak seumur hidup. Yang artinya tidak boleh rujuk kembali sebagaimana seorang
anak tidak boleh menikah dengan ibunya". 1

Saya pura-pura memejamkan mata saat itu membuat dia mengira bahwa saya mulai mengantuk
"Karena sedih dan masih sangat mencintai suaminya akhirnya Khaulah berdoa kepada Allah agar dia bisa
kembali dengan suaminya. Akhirnya Allah mendengar doa nya dan turunlah surat al-mujadilah ayat
pertama".
"Rasulullah memerintahkan kepada suami Khaulah untuk membebaskan seorang budak. Tapi saat
itu mereka tidak memiliki seorang budak pun untuk dibebaskan".

"Kalau begitu Aus Bin Ash Shamit harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut tanpa terputus.
Tapi dia seorang laki-laki tua yang sudah tidak sanggup untuk berpuasa".

CERITANYA BERLANJUT DI BAWAH INI

"Jika Aus masih tidak sanggup. Rasulullah memerintahkan untuk memberi makan 60 orang miskin
dengan 1 wasaq kurma. Khaulah menjawab demi Allah Ya Rasulullah dia tidak memiliki kurma sebanyak
itu".

"Akhirnya Rasulullah membantu Khaulah dengan sekeranjang kurma lalu Aisyah menyela
pembicaraan mereka aku Ya Rasulullah aku akan ikut berkurban dengan sekeranjang kurma hal tersebut
akhirnya membuat Khaulah sangat bahagia.

Saya masih setia mendengarkannya hingga suaranya mulai memelan "Fisya pengen kayak gitu, tua
bersama meski nanti banyak yang berubah. Andai doa Fisya bisa sampai menembus langit. Percayalah
kalau apa yang Fisya pinta itu demi kebaikan kita". 12

"Apa doanya?" tanya saya sambil kembali membuka mata dan menoleh ke arahnya, tapi dia sudah
ter kantuk-kantuk dan hampir tertidur. 1

Perlahan saya bangun untuk menopang kepalanya. Dia yang membacakan cerita, tapi dia sendiri
yang tertidur. Bertepatan dengan itu seseorang mengetuk pintu kamar kami sambil menangis sangat
keras. Dari suaranya saya tahu itu adalah suaranya Gallan.

Sontak nafisya langsung terjaga, padahal matanya baru saja terpejam. Saya bergegas membukakan
pintu.
Nafisya membawa Gallan masuk dan mencoba membuatnya sedikit lebih tenang. Dia menangis
hebat seperti mengalami hal yang buruk, padahal tadi siang dia berkata bahwa dia berani tidur
sendirian.

Apa seperti ini rasanya nanti jika kami memiliki anak? Saya seperti diduakan, dia begitu fokus pada
Gallan. Mana mungkin kan kalau saya cemburu hanya pada anak-anak?. 23

Gallan bercerita kalau dia bermimpi buruk dia melihat ibunya dipukuli habis-habisan oleh seseorang
yang membuat dia langsung terbangun dan menangis. Mungkin apa yang dia lihat selama ini terlalu
menyeramkan sampai terbawa mimpi, sama seperti apa yang saya alami dulu. 2

Saat itu Nafisya memutuskan agar Gallan tidur bersama kami jadinya kami tidur bertiga "Gallan
harus sering-sering doain bunda, biar bunda selalu sehat. Besok pagi kita belajar taekwondo biar Gallan
bisa lindungin bunda. Mau kan ?" kata Nafisya. 2

"Siapa yang ngajarin nya Kak ?" tanya Gallan.

"Dokter Alif" katanya seenak jidat. Dalam hati saya bertanya kenapa harus saya yang yang
mengajarinya, padahal dia sendiri bisa mengajarkannya. 15

"Memangnya dia mau ngajarin Gallan".

"Pasti mau lah, iya kan dok?" tanya Nafisya kepada saya.

"Eum..." 7

✂...........
18. Pengakuan Terlarang

8.1K 2.6K 510

oleh madani_

Kak, kenapa bisa bikin cerita se baper ini? 1

Karena aku ngetiknya pake tangan, kalian bacanya pake hati 🍁 67

......

Beristirahatlah kamu, wahai mata-mata sedih diantara wajah-wajah bahagia. Allah tengah menguji mu
dengan air mata. 6

🍁🍁🍁
"AAAAAAAAAAAA!" Subuh itu bukan suara adzan yang membangunkan, tapi malah teriakan saya
dan Gallan bersamaan membuat seisi rumah gempar. Nafisya yang sepertinya sedang shalat tahajud di
ruang kerja saya langsung berlari ke kamar. 1

"Ada apa?" tanyanya khawatir sambil memandang kami berdua, diikuti Salsya yang juga
menanyakan hal yang sama. Saya dan Gallan saling pandang. Entah bagaimana kami bisa terbangun
dalam keadaan saling berpelukan, padahal semalam saya dan Gallan tidur saling membelakangi. 25

Kini giliran Nafisya dan Salsya yang saling pandang, tak lama mereka tertawa melihat tingkah kami
berdua. Rupanya adzan subuh belum di kumandangkan, masih ada waktu sepuluh menit lagi. Saya
terlambat untuk shalat tahajud karena baru bisa terlelap sekitar jam satu.

"Jangan peluk-peluk lagi!" ancamnya, siapa juga yang mau memeluknya lagi kesal saya dalam hati.
Saya pun langsung bangkit mengambil wudhu, berencana untuk shalat berjama'ah subuh dimasjid. 1

Pagi itu kami sarapan bersama. Salsya, Nafisya, Gallan dan saya, suasana rumah menjadi ramai
meski tetap hanya Nafisya saja yang banyak bicara. Salsya kadang melamun dan sesekali mengikuti
pembicaraan.

Gallan lebih bayak aksi daripada reaksi, dia banyak tingkah sedikit bicara, tapi sifat nakalnya itu
MashaAllah sekali. 8

Kalau Nafisya seimbang, banyak bicara juga banyak tingkah, entah hitungan keberapa dia mondar-
mandir ke dapur hanya untuk mengambil yang kurang. 3

"Gimana rasa sup nya?" tanya Nafisya ketika kami bertiga mencicipi sup kimlo yang katanya baru
pertama kali dia buat. "Enak banget.." jawab saya langsung. Salsya terdiam sebentar, lidahnya baru saja
mencerna rasanya. 4

"Ya enak" jawab Salsya.


Saya lupa kalau Gallan tetaplah anak kecil yang terlalu jujur dan belum paham arti sebuah sunnah
"Ko punya Gallan hambar ya?" katanya sambil mencobanya berulang-ulang. 20

Merasa penasaran dengan rasanya, Nafisya mencicipinya sendiri padahal dia tidak suka jamur
kuping. Dia langsung berjalan ke arah dapur sambil menatap saya dan Salsya kesal "Mas Alif sama Kak
Salsya jahat ih. Kalau hambar bilang aja hambar, gak usah bohong bilang enak.." katanya dengan nada
kecewa. 3

Saya hanya melempar senyum, semoga dia tau saya mencoba menghargai kerja kerasnya yang telah
bersusah payah membuatkan kami sarapan. Harusnya saya tidak kesal dengan kehadiran Salsya waktu
itu, karena Nafisya mulai memanggil saya dengan panggilan mas di rumah ketika ada kakaknya. 10

Setelah sarapan, saya sepakat untuk mengajari Gallan berlatih taekwondo, saya mengambil cuti
satu hari lagi. Salsya shift siang katanya, jam kuliah Nafisya pun setelah dzuhur.

Gallan mengenakan seragam taekwondo milik Nafisya yang nampak kebesaran di tubuh kecilnya.
Kami bertiga termasuk Nafisya berlatih di samping kolam renang, mulai melakukan pemanasan.
Sementara Salsya menyimak di kursi yang ada di teras. 3

Saya mengajarkan dasar-dasar taekwondo terlebih dahulu kepada Gallan, saat itu posisinya saya
berdiri tepat di samping kolam renang. 2

"Tae itu artinya kaki, kwon itu pukulan, do itu seni. Jadi kaki kamu harus lebih kuat, kamu baru
pemanasan aja udah cape, gimana mau belajar taekwondo" kata saya.

Meski Nafisya sudah berulang kali memperingatkan untuk tidak terlalu keras kepada Gallan, tetap saja
saya sedikit jengkel ketika anak itu tidak fokus dan banyak tertawa. 4

"Coba kaki kamu bisa splits gak?" tanya saya. Dia malah unjuk gigi, entah apa yang dia tertawakan.
Splits memang biasa dilakukan oleh penari balet agar kakinya lentur. Tapi taekwondo pun perlu
kelenturan kaki, seperti ketika melakukan tendangan ke arah kepala.
Tawanya semakin aneh, sontak saya curiga dan menatap ke arah dimana Gallan terus menoleh.

Byur. 2

Nafisya mendorong saya dengan cukup keras sampai-sampai saya masuk ke dalam kolam renang.
Saya tidak menyadari keberadaanya karena setelah pemanasan dia bilang akan mengambil minum
untuk kami. 4

Mungkin sikap jahilnya tertular dari Jidan dan memuncak ketika dia ada teman. Gallan tertawa
terbahak-bahak melihat baju saya yang langsung basah total. 6

Tak mau kalah, saya naik dari kolam renang lalu berlari mengejar Nafisya. Karena tubuhnya yang
kecil, ditambah lantai yang basah, saya kesulitan untuk menangkapnya.

Sebenarnya saya khawatir kalau dia terjatuh karena lantai yang licin, tapi di sisi lain, kali ini saya
harus menunjukkan bahwa saya ya bisa menang, mengingat saya selalu mengalah ketika lomba lari
menuju tempat parkir. 3

Nafisya tertangkap, saya menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke sisi kolam, dia
berteriak histeris memohon agar tidak diceburkan. 17

"Ampun.. Mas, tolong jangan ceburin Fisya ke kolam renang, airnya dingin banget, nanti Fisya bisa
menggigil" katanya membujuk, terdengar Salsya tertawa melihat tingkah kami, terlebih melihat tingkah
adiknya. 5

"Memangnya saya nggak menggigil?" kata saya dengan suara gemetar.


"Ampun.. Maaf.. Maaf.. Tadi gak sengaja ko, beneran.. Jangan ceburin ya Mas? Fisya nggak bisa
berenang, seriusan. Apalagi kolam renangnya dalem. Mas Alif tau kan tangan Fisya suka dingin? Kalo
nanti makin dingin, terus kena hipotermia gimana? jangan cemurin Fisya ya.. ya.. ya?". 6

Ketika saya longgarkan pegangannya, pelukannya dileher saya semakin erat. Saya tersenyum jahil,
kaki saya tepat berada di ujug kolam, perlahan dengan sengaja saya melepas tangan saya satu persatu.
Namun sesuatu yang tidak dikira-kira terjadi. 5

Saya lupa kalau komplotannya yang paling jahil masih ada disini. Saya dan Nafisya tercebur ke
dalam kolam karena Gallan mendorong kami. Tenaganya memang kecil hanya saja saat itu posisinya
saya benar-benar berada tepat di pinggir kolam. 9

Gallan malah dengan sengaja melepas seragamnya, menyisakan celana dan lompat ke dalam kolam
untuk berenang. Dia handal sekali padahal kolamnya dalam. Katanya tidak bisa berenang, tapi Nafisya
bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Bukan balajar taewkondo, kami malah belajar berenang pagi itu. Saya naik dan menghampiri Salsya
untuk mengambil minum karena Nafisya menaruhnya di meja tak jauh dari tempat Salsya duduk.
Mendadak tenggorokan saya terasa aneh, mungkin karena saya tak sengaja menelan air kolam. 1

Gallan dan Nafisya terlihat begitu antusias bermain perang air, sesekali Gallan naik dan mengambil
selang lalu menyembur Nafisya dengan air dari selang penyiram tanaman, membuat Salsya ikut tertawa.

"Udah kasih kabar sama suami kamu?" tanya saya basa-basi, pura-pura tidak tahu apapun tentang
meraka yang tengah bertengkar. Senyum Salsya langsung menghilang tanda dia tidak memberi tahu
apapun kepada Jidan. +

"Jangan memendam masalah sendirian Sal, Allah menciptakan teman, saudara, ukhuwah itu untuk
membuat kita merasa ringan menghadapi masalah" kata saya. 1
Salsya terlihat menghela nafas berat, saya seolah membuatnya kembali mengingat
pertengkarannya dengan Jidan "Cuma masalah sederhana kok Mas" katanya. 1

"Jidan mencintai perempuan" katanya. 2

"Tapi perempuan itu itu bukan saya" lanjutnya dengan tatapan berat. Pandangannya lurus kedepan,
memperhatikan perempuan dengan jilbab basah yang tidak lagi peduli dengan rasa dingin. Hati saya
seolah ikut hancur mendengarnya, apa yang paling saya takutkan pada akhirnya terjadi.

"Perempuan itu Nafisya" sambung saya. Iris matanya melebar hebat ketika mendengar jawaban
saya. Perkara mudah menebak pandangan penuh luka dari Salsya setiap kali dia menatap Nafisya
dengan pandangan yang berbeda. Perkara mudah untuk menebak tatapan penuh rasa dari Jidan setiap
kali pria itu menatap Nafisya.

Saya tidak takut kalau Nafisya masih menaruh rasa pada Jidan. Saya takut kalau ternyata mereka
saling mencintai, artinya saya hanya penghalang diantara cinta mereka. 11

"Dari mana Mas tau?" tanyanya kaget dengan suara sepelan mungkin.

"Jauh sebelum saya menikah dengan Nafisya, saya udah tau itu. Ini akan menyakitkan buat kamu
tapi kamu harus tau..." saya mengambil jeda sejenak. 3

"Nafisya juga mencintai Jidan dan hari dimana kamu dilamar oleh Jidan adalah hari paling hancur
baginya" matanya berkaca-kaca mendengar penjelasan saya, sekuat tenaga dia menahan air matanya
mati-matian agar tidak jatuh di depan saya. 4

"Kenapa Mas masih menikahi Nafisya kalau udah tau dia mencintai orang lain?" tanyanya. "Hal itu
yang selalu saya tanyain sama Jidan, kenapa dia menikahi saya kalau nyatanya dia mencintai adik saya?"
lanjutnya seperti telah kehilangan segalanya. 2
"Kondisinya lain waktu itu. Abi kamu menghadapi sakaratul maut, dia ingin menyelesaikan
tugasnya sebagai seorang ayah, dia ingin menjadi wali nikahnya Nafisya".

Munafik Alif! Kamu terlalu mencintainya dan dengan senang hati menikahinya. Mengambil
kesempatan dalam kesedihannya, yang kemudian malah membuat kamu terlalu takut kehilangannya.
Seseorang seolah membisikan hal tersebut dengan sangat jelas di telinga saya. 14

Ketakutan itu memperkuat sifat egois saya "Saya punya satu permintaan" kata saya.

"Tolong jangan pernah katakan hal ini pada Nafisya. Tolong jangan pernah katakan alasan kamu
bertengkar dengan Jidan. Dia sangat sayang sama kamu, kalau sampai dia tau dia penyebab kalian
bertengkar, dia pasti akan sangat sedih" kata saya. 1

Padahal hati terdalam saya mengatakan "Saya takut Nafisya meninggalkan saya jika dia tau Jidan
juga mencintainya, jika dia tau cintanya tidak pernah bertepuk sebelah tangan". 17

Nafisya dan Gallan menghampiri kami, membuat kami mengakhiri pembicaraan dan kembali
menormalkan suasana "Ngobrolin apa sih serius banget?" tanya Nafisya yang membuat kami tiba-tiba
tidak bisa bicara.

Salsya mengusap kedua pipinya dengan cepat "Kakak tukeran shift sama temen, jadi masuk jam
sepuluh" kata Salsya lalu meninggalkan kami. Nafisya memandang saya, meminta penjelasan atas sikap
kakaknya. +

"Kak Salsya kenapa lagi?" tanyanya. 1

"Dia—" saya kehabisan kata untuk menjawab pertanyaanya. "Gallan, kamu ikut saya ke rumah sakit
kan? Mandi dari sekarang, ayo.." kata saya menghindar dari pertanyaanya.

🍁🍁🍁
Ruangan itu menjadi hening, hanya ada helaan nafas saya dan Albi bergantian. Pria itu tidak
memegang gadgetnya, tidak juga memegang buku sejarah yang dibacanya kemarin. Dia hanya manatap
langit-langit sambil melamun. Sepertinya kami punya masalah tapi sama-sama tidak ingin menceritakan.

Gallan ikut dengan saya, karena tidak mungkin dia ikut dengan Nafisya ke kampus. Rasanya ada
sesuatu yang mengganjal ketika tau kalau Jidan juga mecintai Nafisya. Entah apakah keputusan saya
memberitahu Salsya benar atau tidak? Tidak ada yang membuat saya merasa lega.

Mirisnya hanya karena hal sepele seperti ini saya merasa tidak karuan dan langsung kehilangan
fokus. Apa salahnya Nafisya tau Jidan menyukainya juga? Kenapa saya begitu takut kehilangan dia,
kenapa saya begitu takut jika pada akhirnya Nafisya meninggalkan saya. 16

Kalaupun Allah berkata lain tentang hubungan saya dan Nafisya ke depannya bukankah saya cukup
mengatakan cukuplah bagi ku Allah.

"Biasanya gue dengerin lagu atau main game aja bisa lupa sama masalah. Ada yang bisa dilakuin gak
sih buat mengatasi galau dalam Islam?" tanya Albi tiba-tiba duduk, awalnya dia berbaring tadi. 1

"Dzikir" kata saya. 2

Mudah mengatakannya pada orang lain, tapi saya sendiri tidak melakukannya sejak tadi. Saya
mengeluarkan handphone setelah itu, bukan untuk menghubungi siapapun melainkan untuk
menghubungi Allah. Membuka aplikasi Al-Quran dan mencari surat Al-Mulk.

Setelah membaca Al-Mulk, saya menyempatkan membaca At-Taubah ayat empat puluh, saya bukan
tidak ingin ditenangkan oleh orang lain. Saya ingin Allah mengatakan La tahzan Innallah ma’ana. 5

✂...........
19. Diantara Duka

2.9K 2.1K 399

oleh madani_

Part ini pendek banget, jangan ngomel ya, saya gak suka, cukup Fisya aja yang banyak ngomel—Alif. 27

Hey, kalo aku bikin alur dan konflik di WPI beda sama di ACI gimana? 138

........

Cobalah belajar untuk sedikit peduli, karena saya sudah mulai bosan menjadi orang yang terlalu peduli.

🍁🍁🍁

SALSYA menatap langit-langit, akhirnya dia merasakan bagaimana pegalnya menjadi pasien yang
harus menunggu berjam-jam lamanya sampai namanya dipanggil. Sebuah pelakat yang terbuat dari
plastik berwarna hijau bertuliskan dr. Fara Indriya, Sp.OG terpampang jelas di depan matanya. 2

Pandangannya memutar, mengamati kursi tunggu bagian lain. Ternyata sama saja, kursi tunggu di
depan ruang spesialis mata dan spesialis paru-paru pun tak kalah penuh dengan pasien. Merasa paling
tersakiti, tapi ternyata bukan hanya dia saja yang Allah uji dengan rasa sakit.
Menatap pasangan suami istri yang duduk disampingnya membuat Salsya tersenyum miris, jika
saja dia tidak sedang bertengkar dengan Jidan, apakah dia akan merasakan kebahagiaan yang sama?.

"Maaf jika pengakuan ku menyakiti mu, tapi aku harus jujur, aku sadar bahwa selama ini kamu
bukanlah orang yang ku tunggu, aku mencintai Nafisya..." potongan kata-kata Jidan mengudara, seolah
Salsya bisa menyaksikannya secara langsung bagaiman Jidan mengatakannya. 18

"Nafisya juga mencintai Jidan, dan hari dimana kamu dilamar oleh Jidan adalah hari paling hancur
baginya" penjelasan Alif membuatnya semakin tidak bisa bernafas.

Apa karena terlalu sibuk mengejar gelar dokter dia sampai terlambat menyadari semua ini? Salsya
mengalami sakit hati yang tidak bisa dia jelaskan, ketika dia merasa diistimewakan kemarin dan merasa
tak diinginkan sekarang. 5

Jidan memberikan secarik harapan yang membuat dia ingin bertahan. Tapi sekarang Jidan seperti
tidak menganggapnya siapapun. Salsya tau konsekuensi terbesar jika dia menceritakan masalahnya pada
ibunya. Maka tidak ada tempat yang bisa dia tuju selain rumahnya Nafisya. 1

"Ny. Salsya Sabila Akbar" kata sang suster lantang, membuat Salsya mengembalikan pikirannya
sebelum berdiri untuk masuk kedalam ruang pemeriksaan.

Sambutan berupa senyuman hangat di terimanya tak kala dia mendapati dokter bertubuh sedikit
gemuk dengan jilbab berwarna biru "Dokter Salsya ya? Silahkan duduk, ada keluhan apa?" tanya
perempuan bernama Fara yang terihat lebih tua darinya.

"Saya dapet kabar dari temen yang dibagian radiologi kemarin. Katanya ada dokter anesthesi yang
ngebet banget pengen ketemu saya, laporan hasil USG nya dibawa?" lanjut dokter itu.

Salsya mengangguk "Iya dok, waktu itu saya sengaja ke ruang obgyn, dokternya lagi cuti. Akhir-
akhir ini saya sering keram perut bagian bawah, tapi rasa sakitnya gak wajar" jelas Salsya sambil
memberikan amplop coklat bertuliskan namanya. 1
"Usia kehamilannya baru dua minggu ya? Alhamdulillah, hasilnya normal sih gak kelihatan ada flek
atau masalah lain dari hasil USG nya. Ada pendarahan gak selama ini? Coba ayo berbaring disana, biar
saya periksa dulu" ujarnya.

Sekitar sepuluh menit perempuan itu memeriksa keadaan Salsya "Buat sementara saya kasih vitamin,
tablet tambah darah buat anemianya, sama obat pereda nyeri. Tapi obat pereda nyerinya cuma boleh
diminum kalo sekiranya rasa sakitnya udah gak bisa ditahan lagi ya. Kalo udah usia dua atau tiga bulan,
kita coba USG lagi" kata dokter itu seraya menuliskan resep disecarik kertas. +

Dua kali Salsya harus menunggu, resepnya sedang dibuat. Anemianya parah sekali padahal
sebelumnya Salsya tidak pernah mengidap anemia, pandangannya mengabur, kebutuhan zat besi
meningkat menjadi dua kali lipat ketika ada makluk kecil yang ikut bernafas dalam tubuhnya.

Sepertinya dia tidak akan sanggup jika harus langsung bekerja setelah ini, Salsya memutuskan untuk
pulang, mengambil cuti untuk istirahat, setidaknya sampai pening di kepalanya mereda.

Sampai di rumah, ketika tangannya sempurna menutup pintu, suara lantunan ayat-ayat Allah
menggema diikuti tangis menyayat hati, sampai Salsya ingin ikut menangis mendengar suaranya. 1

Jika saja dia seperti Nafisya yang bisa menumpahkannya hanya dengan sujud, mungkin bebannya
bisa meringan dengan mudah, mungkin dia tidak akan sepening ini. 1

Suara itu terputus-putus melanjutkan kembali bacaan Al-Quran lalu kembali menangis. Dia tidak
akan mencari sumber suara jika saja dia tidak mengenali suara tersebut.

"Sya... Ada apa?" katanya sembari mengetuk pintu kamar adiknya, mendadak perasaan haru itu
berubah khawatir. Bukankah Nafisya bilang akan pergi ke kampus? Kenapa dia malah menangis se
histeris itu?. 21

🍁🍁🍁
Albi memanggil saya dengan suara paling lemah yang pernah saya dengar, dia seperti habis
menangis selepas shalat jum'at tadi. Air mata bisa menjadi kebohongan bagi perempuan, mereka
menyembunyikan segala hal dalam tangisnya. 1

Tapi air mata adalah kejujuran bagi setiap laki-laki, mereka akan menangis ketika tak lagi bisa
menyembunyikan lukanya. Mengambil nafas sejenak, Albi baru mengatakan sesuatu "Gue butuh
konsultasi.." katanya dengan wajah penuh beban.

"Ada apa? Apa yang bikin kamu sehancur ini, Bi? " tanya saya. Albi diam cukup lama, padahal kami
sudah berada di tempat paling strategis. Tidak ada orang lain kecuali saya dan Albi saat itu. Dia tak mau
bicara untuk beberapa saat. Albi bukan pria lemah, cinta tak akan membuat dia sehancur ini. +

"Ini tentang Profesor Ishak..." lanjutnya. Saya sudah mendengar tentang pembentukan tim bedah
baru itu, saya juga tau dia akan berpatner dengan Fatsa nanti, yang saya tidak paham adalah apa yang
membuat dia menjadi sesedih ini. Jika dia tidak ingin bekerja dengan Fatsa, lantas tolak saja
permintaanya. 1

"Tentang tim bedah?" tanya saya, tapi Albi langsung menggeleng pelan. Membuat saya mengira-
ngira apa yang membuatnya bersedih.

"Profesor Ishak bilang.." Albi menjeda.

"Dia ayah gue". 31

Hati saya ikut mencelos mendengarnya, tidak tau harus mengatakan apa untuk merespon
pernyataan yang baru saja Albi katakan. Saya tidak tau bagaimana rasanya, setelah puluhan tahun hidup
tanpa orang tua, lalu muncul orang yang mengaku sebagai orang tua kita. Entah harus merasa sedih atau
senang?.
"Dia bilang gue anaknya, dia bilang Fatsa adik gue, itulah kenapa dia gak pernah suka kalo gue deket
sama Fatsa.." katanya dengan suara gemetar. 3

"Gue.. Gue gak tau Lif! Gua gak tau harus gimana? Sekian lama gue nyari orang tua, dan
beranggapan gue yatim piatu. Tiba-tiba ada cowok yang meluk gue sambil nangis dan bilang gue
anaknya. Gue gak percaya, gue marah, gue kesel!" katanya, pasti perasaanya sangat berkecamuk
sekarang. 28

✂...........