Anda di halaman 1dari 7

Koperasi Syariah Sebagai Solusi Keuangan Masyarakat:

Antara Religiusitas, Trend, Dan Kemudahan Layanan


Sofian
Magister Terapan Keuangan dan Perbankan Syariah, Politeknik Negeri Bandung, 40012
E-mail: sofian.kps17@polban.ac.id

ABSTRAK

Makalah ini bertujuan menggali pengetahuan tentang konsep model hubungan antara kepatuhan masyarakat terhadap
hukum Islam, perilaku masyarakat mengikuti perkembangan koperasi syariah atau trend dan kemudahan layanan
koperasi syariah serta tinjauan metodologi untuk pengujiannya. Metodologi penelitian pada makalah ini adalah
campuran dari beberapa jurnal Internasional dan pengalaman para pengelola koperasi syariah. Kebutuhan manusia
terhadap masalah finansial tidak akan pernah berhenti, selama siklus ekonomi belum terputus maka kebutuhan
finansial akan terus berjalan. Sebagai mahluk sosial, sudah fitrahnya manusia saling membutuhkan agar terjaga
kelangsungan hidupnya. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, meningkat pula kecerdasan intelektual manusia,
salah satunya adalah di bidang ilmu tentang bagaimana memenuhi kebutuhan dan cara mendapatkan sumber-
sumbernya. Sehingga lahirlah suatu ilmu tentang perkoperasian. Masyarakat sudah mengenal koperasi dan banyak
berhubungan dengan koperasi karena koperasi merupakan lembaga keuangan alternatif dengan proses pelayanan yang
cepat dan mudah. Bahkan di Indonesia, koperasi telah diatur dalam UU No. 25 Tahun 1992, yang isinya menyatakan
bahwa koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi, dengan
melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat, yang beradasarkan
atas azas kekeluargaan. Pada perkembangannya, koperasi di Indonesia bahkan telah terbagi menjadi dua, yaitu
koperasi dengan usaha berbasis konvensional dan koperasi berbasis syariah. Koperasi berbasis syariah diatur dengan
Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor:
35.2/PER/M.KUKM/X/2007 tentang Pedoman Standar Operasional Manajemen Koperasi Jasa Keuangan Syariah dan
Unit Jasa Keuangan Syariah.Hal ini muncul karena adanya kesadaran dari kaum muslimin di Indonesia agar bisa tetap
melaksanakan usaha di bidang koperasi yang sesuai dengan tuntunan agamanya.

Kata kunci
Koperasi, syariah, islam, finansial, usaha, keuangan

1. PENDAHULUAN
Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran terhadap Indonesia. Pada bulan Agustus tahun 1990, MUI
perintah agama bagi sebagian besar kaum muslimin di menyelenggarakan lokakarya tentang bunga bank dan
Indonesia, telah melahirkan berbagai macam perbankan yang dilaksanakan di Jawa Barat. Hasil
perusahaan dan lembaga keuangan yang lokakarya dibahas lebih mendalam pada Musyawarah
menggunakan prinsip syariah dalam pengelolaannya. Nasional ke-4 di Jakarta. Setelah beberapa kajian dan
Awalnya, pada tahun 1983, Bank Indonesia proses berlangsung, maka pada tanggal 1 Mei 1991
memberikan keleluasaan pada bank-bank di Indonesia didirikanlah bank syariah pertama di Indonesia, yaitu
untuk menetapkan suku bunga. Pada waktu itu Bank Muamalat Indonesia. Pada Undang-undang
pemerintah memiliki tujuan menciptakan kondisi nomor 7 tahun 1992, DPR mencantumkan landasan
perbankan lebih efisien dan kuat dalam menopang hukum operasi bank yang menggunakan sistem
perekonomian. Bahkan pemerintah sudah syariah, namun belum dibuat secara rinci landasan
merencanakan penerapan sistem bagi hasil dalam hukum syariah serta jenis-jenis usaha yang
usaha perkreditan yang merupakan konsep dari diperbolehkannya. Pada tahun 1998, DPR
perbankan syariah. menyempurnakan UU nomor 7 tahun 1992 menjadi
Undang-undang nomor 10 tahun 1998. Dalam undang-
Tahun 1990, Majelis Ulama Indonesia membentuk undang tersebut dijelaskan bahwa terdapat dua sistem
suatu kelompok kerja untuk mendirikan Bank Islam di
752
dalam perbankan di tanah air, yaitu sistem perbankan tantangan semua pihak yang berkepentingan dengan
konvensional dan sistem perbankan syariah. usaha koperasi baik departemen terkait ataupun para
pelaku usaha koperasi untuk melakukan pembuktian.
Koperasi syariah sendiri lahir sejak menjamurnya
pendirian beberapa Baitul Maal WatTamwiil (BMT) 2. KONSEP SYARIAH DALAM KOPERASI
yang pada pertama kali dirintis oleh BMT Bina Insan 2.1. Definisi Koperasi Syariah
Kamil pada tahun 1992. BMT berbasis kegiatan Menurut Kementrian Koperasi UKM RI tahun 2009
ekonomi kerakyatan dengan falsafah yang sama yaitu pasal 1, menyatakan bahwa Koperasi jasa keuangan
dari anggota oleh anggota untuk anggota maka syariah adalah koperasi yang kegiatan usahanya
berdasarkan Undang-undang nomor 25 tahun 1992 bergerak di bidang pembiayaan, investasi, dan
tersebut berhak menggunakan badan hukum koperasi, simpanan sesuai dengan pola bagi hasil (syariah).
dimana letak perbedaannya dengan Koperasi
Konvensional (nonsyariah) hanya terletak pada teknis Ahmad Ifham menyatakan bahwa usaha koperasi
operasionalnya saja, Koperasi Syariah mengharamkan syariah meliputi kegiatan usaha yang halal, baik dan
bunga dan mengusung etika moral dengan melihat bermanfaat (thayib) serta menguntungkan dengan
kaidah halal dan haram dalam melakukan usahanya. sistem bagi hasil, dan tidak riba. Untuk menjalankan
fungsi perannya, koperasi syariah menjalankan usaha
Sebagaimana yang tercantum dalam UU nomor 25 sebagaimana tersebut dalam sertifikasi usaha koperasi.
tahun 1992, bahwa koperasi adalah badan usaha yang Usaha-usaha yang diselenggarakan koperasi syariah
beranggotakan orang seorang atau badan hukum harus dengan peraturan perundang-undangan yang
koperasi, dengan melandaskan kegiatannya berlaku[1].
berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai
gerakan ekonomi rakyat, yang beradasarkan atas azas Jika menelaah dari beberapa teori dan pendapat para
kekeluargaan. Maka pengelolaan koperasi berbeda ahli dibidang ekonomi / perbankan syariah, maka pada
dengan bank. Pemilik koperasi adalah anggotanya koperasi syariah titik krusialnya ada pada standard
sementara bank hanya para pemegang saham saja. operating procedure (SOP). Karena pada tataran
Sehingga pengelolaan koperasi sangat sederhana, normatif saat pembuatan akad dan melaksanakan akad
sehingga layanan pembiayaan pada anggotanya sudah ada petunjuk pelaksanaan dan redaksi yang bisa
biasanya mudah dan cepat. diambil dari beberapa literatur. Bahkan template akad
sudah bisa didapat dari Gabungan Koperasi Syariah
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan (Gakopsyah), yang sudah tentu isi dan formatnya hasil
bahwa jumlah koperasi di seluruh Indonesia pada dari ijtihad ekonomi para ahli. Sementara untuk proses
tahun 2015 sebanyak 150.223 unit. Harapannya, penetapan keuntungan dan bagi hasil harus sesuai
dengan angka tersebut koperasi mampu membantu prosedur yang telah disepakati dan disahkan secara
masyarakat kecil dalam memperoleh pinjaman syariat oleh dewan pengawas syariahnya.
sehingga dapat meringankan dalam pemenuhan
kebutuhan hidupnya. Namun, berdasarkan data dari 2.2. Tujuan Koperasi Syariah
Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2016 jumlah Menurut Dusuki dan Abdullah, tujuan koperasi
penduduk Indonesia yang berada dalam kategori syariah harus sesuai dengan Maqashid Syariah yang
miskin mencapai 28,01 juta orang atau sebesar 10, fungsinya untuk melakukan dua hal penting, yaitu
86%. Oleh karena itu, dibentuklah Koperasi Simpan tahsil, yakni mengamankan manfaat (manfaah) dan
Pinjam Syariah atau Koperasi Jasa Keuangan Syariah ibqa, yaitu mencegah kerusakan atau cedera
(KJKS) serta Unit Jasa Keuangan Syariah (UJKS) (madarrah) seperti yang diarahkan oleh Pemberi
dengan harapan dapat meningkatkan kesejahteraan Hukum. Maslahah di sisi lain adalah perangkat hukum
masyarakat Indonesia, khususnya pada kalangan yang digunakan dalam teori hukum Islam untuk
masyarakat menengah kebawah dan mewujudkan mempromosikan kepentingan publik dan mencegah
keadilan sesuai dengan konsep Islam. kejahatan sosial atau korupsi[2].

Saat ini, permasalahan utama koperasi syariah adalah Tujuan koperasi syariah menurut Nur S. Buchori, yaitu
loyalitas anggotanya. Pengaruh isu-isu yang muncul di mensejahterakan ekonomi anggotanya sesuai norma
media informasi masih dianggap berita yang bisa dan moral Islam, menciptakan persaudaraan dan
diakui kebenarannya. Tentunya hal ini menjadi keadilan sesama anggota, pendistribusian pendapatan

753
dan kekayaan yang merata sesama anggota penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan
berdasarkan kontribusinya, kebebasan pribadi dalam dengan itu.
kemaslahatan sosial yang didasarkan pada pengertian
bahwa manusia diciptakan hanya untuk tunduk pada Menurut Dr. Kasmir pengertian pembiayaan adalah
Allah, meningkatkan kesejahteraan anggota pada penyediaan uang atau tagihan yang dapat
khususnya dan masyarakat pada umumnya serta turut dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan
membangun tatanan perekonomian yang berkeadilan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang
sesuai dengan prinsip-prinsip Islam[3]. mewajibkan pihak yang dibiayai untuk
mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah
Dengan tujuan yang sudah diatur dalam hukum syariat jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi
Islam, maka koperasi syariah sudah seharusnya hasil[5].
memperhatikan bagaimana harta itu bisa dimanfaatkan
tidak hanya untuk kebutuhan individu, tapi juga bisa Pada koperasi konvensional hanya terdapat satu istilah
menjadi manfaat untuk masyarakat seluruhnya. saja yaitu pinjaman/kredit, dimana anggota
berkewajiban mengembalikan hutang pokok berikut
2.3. Landasan Koperasi Syariah jasa/bunga yang sudah ditetapkan diawal akad kredit.
(a) Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Hal ini tentu sangat berbeda dengan akad pembiayaan
Kecil Menengah Republik Indonesia Nomor yang dikelola oleh koperasi syariah, dimana
35.2/PER/M.KUM/X/2007 tentang Pedoman Standar kebutuhan pendanaan anggota akan disesuaikan
Operasional Manajemen Koperasi Jasa Keuangan dengan akad-akad pembiayaan sesuai produk dan
Syariah. (b) Koperasi syariah berlandaskan Pancasila penggunaan dananya. Walaupun saat ini produk/akad
dan Undang-undang Dasar tahun 1945. (c) Kopersi yang dominan masih pada produk murabahah atau
syariah berazaskan kekeluargaan. (d) Koperasi syariah akun piutang, namun tidak sedikit koperasi yang
berlandaskan syariah Islam yaitu al-Qur’an dan ash- memiliki portofolio besar pada akun pembiayaannya.
Shunah dengan saling tolong menolong (ta’awun) dan Dan sudah semestinya akun pembiayaan rasionya
saling menguatkan (takaful). harus lebih besar, karena prinsip syariah sangat
tergantung pada akun tersebut. Jangankan di koperasi
2.4. Simpanan / Tabungan syariah yang sebagian besar modalnya sangat
Menurut Dr. Kasmir, pengertian simpanan adalah bergantung pada anggota, bahkan pada bank-bank
dana yang dipercayakan oleh masyarakat pada bank syariah pun portofolio pembiayaan yang berbasis bagi
dalam bentuk giro, deposito berjangka, sertifikat hasil masih sangat kurang. Hal ini disebabkan karakter
deposito tabungan atau yang dapat dipersamakan masyarakat Indonesia masih kurang dipercaya untuk
dengan itu[4]. mengelola dana yang diamanahkan oleh bank syariah
maupun koperasi syariah.
Menurut Undang-undang Perbankan nomor 10 tahun
1998 tabungan adalah simpanan yang pada 3. RELIGIUSITAS
penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat 3.1. Definisi Religiusitas
tertentu yang telah disepakati, namun tidak dapat Hawari menyebutkan bahwa religiusitas merupakan
ditarik dengan cek, bilyet giro atau alat lainnya yang penghayatan keagamaan dan kedalaman kepercayaan
dipersamakan dengan itu. Dalam koperasi baik yang yang diekspresikan dengan melakukan ibadah sehari-
konvensional maupun syariah, simpanan terbagi hari, berdoa, dan membaca kitab suci[6]. Menurut
menjadi 4 kriteria, yaitu simpanan pokok, simpanan Fuad Nashori dan Rachmy Diana Mucharam, bagi
wajib, simpanan sukarela dan simpanan khusus. seorang Muslim, religiusitas dapat diketahui dari
Keempatnya mempunyai sifat dan kegunaan yang seberapa jauh pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan
disesuaikan dengan anggaran dasar dan anggaran dan penghayatan atas agama Islam[7].
rumah tangga koperasi.
3.2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi
2.5. Pembiayaan Religiusitas
Pembiayaan menurut UndangUndang Perbankan No. Orang yang mendapatkan pendidikan agama baik di
7 tahun 1992 kemudian direvisi menjadi Undang- rumah mapun di sekolah dan masyarakat, maka orang
undang Perbankan nomor 10 tahun 1998 adalah tersebut mempunyai kecenderungan hidup dalam

754
aturan-aturan agama, terbiasa menjalankan ibadah, harapan para pembelian seorang konsumen dipenuhi
dan takut melanggar larangan-larangan agama[8]. atau bahkan dilebihi oleh sebuah produk. Jika harapan
konsumen tersebut dipenuhi maka ia akan merasa
Thoules menyebutkan beberapa faktor yang puas, dan jika melebihi harapan konsumen,maka
mempengaruhi religiusitas, yaitu: (a) Pengaruh konsumen akan merasa senang[14].
pendidikan atau pengajaran dan berbagai tekanan
sosial (faktor sosial) yang mencakup semua pengaruh 4.3. Perilaku Konsumen
sosial dalam perkembangan sikap keagamaan, Menurut Ristiyanti, perilaku konsumen adalah proses
termasuk pendidikan orang tua, tradisi-tradisi sosial yang dilalui oleh seseorang dalam mencari, membeli,
untuk menyesuaikan dengan berbagai pendapatan menggunakan, mengevaluasi,dan bertindak pasca
sikap yang disepakati oleh lingkungan. (b) Berbagai konsumsi produk, jasa maupun ide yang diharapkan
pengalaman yang dialami oleh individu dalam bisa memenuhi kebutuhannya[15]. Jadi dapat
membentuk sikap keagamaan terutama pengalaman dikatakan bahwa perilaku konsumen merupakan studi
mengenai, (1) Keindahan, keselarasan dan kebaikan tentang bagaimana pembuat keputusan, baik individu,
didunia lain (faktor alamiah), (2) Adanya konflik kelompok, ataupun organisasi, membuat keputusan-
moral (faktor moral), (3) Pengalaman emosional keputusan beli ataumelakukan transaksi pembelian
keagamaan (faktor afektif). (c) Faktor-faktor yang suatu produk dan mengkonsumsinya.
seluruhnya atau sebagian yang timbul dari kebutuhan-
kebutuhan yang tidak terpenuhi, terutama kebutuhan 5. PELAYANAN ANGGOTA KOPERASI
terhadap keamanan, cinta kasih, harga diri, dan 5.1. Pelayanan
ancaman kematian[9]. Menurut KBBI pelayanan merupakan suatu usaha
untuk membantu menyiapkan atau mengurus apa yang
4. PERILAKU KONSUMEN CALON ANGGO- diperlukan orang lain. Menurut Groonros, pelayanan
TA KOPERASI SYARIAH adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang
4.1. Perilaku bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang
Definisi perilaku menurut Kamus Besar Bahasa terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara
Indonesia adalah tanggapan atau reaksi individu yang konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang di
terwujud di gerakan (sikap); tidak saja badan atau sediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang
ucapan. Menurut Soekidjo Notoatmodjo, perilaku dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan
adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan konsumen atau pelanggan[16].
oleh makhluk hidup[10].
5.2. Anggota Koperasi
Menurut Kottler perilaku konsumen adalah studi Menurut Undang-undang nomor 25 tahun 1992,
tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi anggota koperasi adalah pemilik sekaligus pengguna
memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana jasa koperasi.
barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan
kebutuhan dan keinginan mereka[11]. Perilaku 6. HIPOTESIS PENELITIAN
konsumen menurut Mowen adalah studi unit – unit Hipotesis adalah dugaan sementara atau suatu
dan proses pembuatan keputusan yang terlibat dalam kesimpulan atas masalah yang akan diteliti yang
menerima, menggunakan dan penentuan barang, jasa, bersifat sementara. Berdasarkan bahasan atas
dan ide [12]. penelitian ini, maka dapat dirumuskan tiga buah
hipotesis sebagai berikut: (1) H0: Tingkat
Blackwell dan Miniard perilaku konsumen adalah pertumbuhan anggota dipengaruhi oleh tingkat
tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, religiusitas masyarakat, Ha: Perkembangan aset
mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, dipengaruhi oleh tingkat religiusitas masyarakat. (2)
termasuk proses yang mendahului dan menyusul dari H0: Trend mempengaruhi pertumbuhan anggota, Ha:
tindakan ini[13]. Trend mempengaruhi perkembangan aset. (3) H0:
Pertumbuhan anggota dipengaruhi oleh kemudahan
4.2. Konsumen layanan, Ha: Perkembangan aset dipengaruhi oleh
Menurut Dewi, konsumen adalah seseorang yang kemudahan layanan.
menggunakan produk dan atau jasa yang dipasarkan.
Sedangkan kepuasan konsumen adalah sejauh mana

755
sukarela dan simpanan berjangka. Selain itu, tingkat
partisipasi anggota koperasi syariah terhadap layanan
lainnya seperti pembiayaan, pembelian produk dan
pemanfaatan jasa sangat berpengaruh terhadap
peningkatan laba.

6.3. Trend Mempengaruhi Tingkat Pertumbuhan


Anggota
Maraknya pemberitaan baik melalui media cetak,
media elektronik dan media sosial di Indonesia sangat
mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku
6.1. Religiusitas Mempengaruhi Tingkat
masyaraktnya. Bahkan tidak sedikit yang menganggap
Pertumbuh-an Anggota
bahwa isu merupakan suatu berita yang bisa diakui
Sebagai negara dengan jumlah populasi muslim
kebenarannya. Hal ini sangat membantu para produsen
terbesar di dunia, dan menurut data terakhir sekitar
untuk memanfaatkan ini sebagai peluang yang sangat
85% dari total penduduk di Indonesia, maka sangat
menguntungkan. Salah satu institusi yang terkena
memungkinkan masyarakatnya merasa berkewajiban
manfaatnya adalah koperasi syariah. Isu-isu
memahami ilmu-ilmu syariah. Tahun 2016, ada
sensitifitas masyarakat yang dikaitkan dengan
beberapa momen yang mendorong masyarakat
keagamaan, khususnya Islam sangat berpengaruh
berupaya mendalami ilmu di bidang muamalah.
terhadap mayoritas masyarakat di negeri ini.
Sehingga momentum ini dimanfaatkan oleh
Beberapa kajian yang dilakukan oleh Delener (1990b)
sekelompok kaum muslimin untuk membentuk
dan Esso and Dibb (2004) tentang perilaku konsumen,
Koperasi Syariah 212, walaupun masih didasarkan
mereka berpendapat bahwa perilaku konsumen dan
karena tingkat solidaritas sedang naik. Koperasi-
pada gilirannya keputusan pembelian mereka sangat
koperasi syariah di tempat lain juga mulai diminati
besar dipengaruhi oleh nilai-nilai agama. Untuk
oleh sebagian besar anggota masyarakat muslim. Dan
mengembangkan konsep religiusitas, dua komponen
tentu saja hal ini memaksa mereka untuk menghadiri
umum religiusitas diidentifikasi: afiliasi agama dan
kajian-kajian ilmu syariah baik secara langsung atau
komitmen keagamaan[18].
melalui media elektronik.
6.4. Trend Mempengaruhi Tingkat Pertumbuhan
Religiusitas adalah suatu hal yang dilakukan oleh
Aset
seseorang karena berkorelasi dengan gaya hidup
Pertumbuhan anggota koperasi yang diakibatkan oleh
seperti pendapat kepemimpinan, penghindaran risiko,
perilaku masyarakat karena pengaruh trend berimbas
pembelian kredit dan kepuasan hidup[17].
pada peningkatan aset. Kecenderungan meningkatnya
Formula ideal untuk mengukur tingkat loyalitas
aset ini dikarenakan keinginan sebagian besar
anggota koperasi sebagai akibat dari tingkat
masyarakat untuk memindahkan sebagian
pemahaman yang bagus adalah:
tabungannya ke koperasi syariah, bahkan ada yang
melakukan seluruh tabungan yang ada pada bank
AP
konvensional. Selain pada produk pendanaan, produk
PA = -----
pembiayaan pun sangat signifikan peningkatannya.
∑A
Terutama pada pembiayaan murabahah yang
karakteristiknya hampir mirip dengan produk kredit
A = Anggota
yang ada di koperasi konvensional.
PA = Rasio Pertumbuhan Anggota
AP = Anggota yang paham prinsip syariah
6.5. Kemudahan Layanan Mempengaruhi
Dimana PA >= 95%
Tingkat Pertumbuhan Anggota
Sederhananya birokrasi atau prosedur layanan di
6.2. Religiusitas Mempengaruhi Peningkatan
koperasi syariah, baik untuk masalah pendanaan
Aset
maupun pembiayaan sangat menarik minat
Seiring dengan tingkat pertumbuhan anggota yang
masyarakat. Koperasi syariah yang memiliki ijin dari
cenderung naik, tentunya aset koperasi syariah juga
Dinas Koperasi dan UKM sangat dianjurkan oleh
terjadi peningkatan. Hal ini bisa dilihat pada
dinas terkait untuk memberikan kemudahan layanan
meningkatnya simpanan anggota, terutama simpanan
756
dengan kualitas perbankan. Tentunya hal ini menjembatani dan menjadi solusi bagi permasalahan-
memberikan peluang yang sangat baik untuk menarik permasalahan yang dialami oleh para anggotanya.
minat masyarakat menjadi anggota koperasi terutama Padahal jika peran mereka bisa optimal untuk
koperasi syariah. Sebagian besar masyarakat menjadi melayani para anggotanya, maka pertumbuhan dan
anggota koperasi dikarenakan masalah kenyamanan kepercayaan masyarakat terhadap koperasi syariah
layanan, dimana pada saat melakukan transaksi baik akan semakin meningkat.
pendanaan ataupun pembiayaan tidak merasa sedang
diaudit atau bahkan diinterogasi. 8. METODOLOGI PENELITIAN
8.1. Jenis Penelitian
6.6. Kemudahan Layanan Mempengaruhi Penelitian ini menggunakan jenis penelitian
Tingkat Pertumbuhan Aset kuantitatif, yang merupakan pendekatan ilmiah
Dengan kemudahan layanan dan kesederhanaan terhadap pengambilan keputusan manajerial dan
prosedur di koperasi, khususnya koperasi syariah, ekonomi. Dalam penelitian ini menekankan pada
sangat membantu peningkatan aset. Jika prosedur di pengujian teori-teori melalui pengukuran variabel-
koperasi disamakan dengan bank, maka sudah barang variabel penelitian dengan angka dan melakukan
tentu anggota akan memilih layanan bank dengan analisis data dengan prosedur statistik.
berbagai fasilitas teknologi untukk memudahkan
layanannya. Walaupun ada beberapa kasus yang 8.2. Waktu dan Tempat Penelitian
terjadi dilakukan oleh beberapa oknum pengurus dan Penelitian ini dilaksanakan dari Bulan Januari sampai
pengelola koperasi terhadap korupsi dana anggota, Juni 2018 berlokasi di Kantor Gabungan Koperasi
ternyata tidak signifikan pengaruhnya terhadap Syariah Jawab Barat Jalan Soekarno Hatta, Sekejati,
simpanan anggota koperasi. Buahbatu, Kota Bandung, Jawa Barat 40286.

7. KESIMPULAN 8.3. Populasi dan Sampel Penelitian


Dari hasil penelitian atas data yang diperoleh maka Populasi
dapat disimpulkan bahwa tingkat pemahaman Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
masyarkat terhadap hukum syariat Islam hanya sekitar objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan
8% saja. Sedangkan karena adanya pengaruh Trend karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
dan kemudahan layanan masih sangat besar serta untuk dipelajari yang kemudian ditarik
kesederhanaan prosedur transaksi simpanan maupun kesimpulannya. Dalam penelitian ini populasinya
transaksi pembiayaan. adalah seluruh jumlah anggota koperasi yang
Perlu upaya keras bagi pengurus dan pengelola tergabung dalam Gakopsyah.
koperasi syariah untuk memberikan pemahaman
kepada masyarakat mengenai ilmu-ilmu syariah dalam 9. MODEL PENELITIAN
perkoperasian. Karena masalah Trend bersifat Diskusi tentang konsep pilihan masyarakat pada
sementara tergantung iklim usaha dan kebijakan- koperasi syariah menunjukkan bahwa adanya
kebijakan pemerintah. Dan hal yang harus menjadi hubungan sebab akibat. Masyarakat masih sangat
prioritas dalam meningkatkan performa koperasi dipengaruhi oleh pengetahuan, informasi dan kualitas
syariah adalah upaya peningkatan kepuasan layanan.
anggotanya. Hal ini harus diutamakan karena masalah
kepuasan pelanggan sangat mempengaruhi loyalitas, DAFTAR PUSTAKA
dan berefek langsung terhadap perkembangan 1. Sholihin, A.I., Buku Pintar Ekonomi Syariah.
koperasi syariah. 2010: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sebagai lembaga keuangan dengan segmen menengah 2. Dusuki, A.W. and N.I. Abdullah, Maqasid al-
kebawah atau usaha kecil dan menengah, koperasi Shariah, Maslahah, and corporate social
syariah seharusnya menjadi pilihan utama masyarakat responsibility. American Journal of Islamic
yang telah memiliki kesadaran terhadap kewajibannya Social Sciences, 2007. 24(1): p. 25.
untuk menerapkan ilmu-ilmu syariah, baik dalam 3. Buchori, N.S., Koperasi dalam Perspektif
perekonomian maupun dalam kehidupan sehari-hari. Ekonomi Syari’ah. MASLAHAH (Jurnal Hukum
Saat ini, peran perhimpunan ataupun asosiasi yang Islam dan Perbankan Syariah), 2010. 1(1): p. 93-
dibuat oleh komunitas pelaku usaha koperasi, 115.
khususnya koperasi syariah, belum mampu

757
4. Kasmir, Bank & lembaga keuangan lainnya. 13. D. Suhartanto, Perilaku konsumen Indonesia.
2001: Divisi Buku Perguruan Tinggi, Bandung: Guardaya Intimatra, 2008.
RajaGrafindo Persada. 14. Dewi, M.K. and M.D. Rahadhini, Efek Moderasi
5. Kasmir, B. and L.K. Lainnya, Edisi Revisi. PT Kepuasan Konsumen pada Pengaruh Harga dan
RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2014. Kualitas terhadap Keputusan Pembelian Sepeda
6. Hawari, D., Dimensi religi dalam praktek Motor Honda. Ekonomi dan Kewirausahaan,
psikiatri dan psikologi. 2002: Fakultas 2013. 13(1).
Kedokteran, Universitas Indonesia. 15. Ristiyanti, P. and J. Ihalauw, Perilaku
7. Nashori, F., Psikologi Islami: agenda menuju Konsumen. Yogyakarta: Penerbit Andi, 2005.
aksi. 1997: Pustaka Pelajar. 16. Grönroos, C., Service management and
8. Wahaningsih, M., Hubungan Antara marketing: Managing the moments of truth in
Religiusitas, Konsep Diri, dan Dukungan Sosial service competition. 1990: Jossey-Bass.
Keluarga dengan Prestasi Belajar Pada Siswa 17. Essoo, N. and S. Dibb, Religious influences on
SMP Muhammadiyah 3 Depok Yogyakarta. shopping behaviour: An exploratory study.
Jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan, 2013. Journal of marketing management, 2004. 20(7-
1(1). 8): p. 683-712.
9. Thouless, R.H., An introduction to the 18. Worthington Jr, E.L., et al., The Religious
psychology of religion. 1971: CUP Archive. Commitment Inventory--10: Development,
10. Notoatmodjo, S., Metodologi penelitian refinement, and validation of a brief scale for
kesehatan. 2010, Jakarta: rineka cipta. research and counseling. Journal of Counseling
11. Kotler, P. and D. Gertner, Country as brand, Psychology, 2003. 50(1): p. 84.
product, and beyond: A place marketing and
brand management perspective. Journal of brand
management, 2002. 9(4): p. 249-261.
12. D. Suhartanto and A. Nuralia, "Citra
supermarket: Pengaruhnya terhadap perilaku
konsumen," Jurnal Kajian Bisnis, vol. 23, pp.
27-36, 2001.

758