Anda di halaman 1dari 12

Kata Pengantar

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga dapat menyelesaikan makalah ini sehingga tugas kelompok mata kuliah Kimia
Lingkungan. Tanpa izin-Nya tentu kami belum tentu mampu untuk menyelesaikan makalah
ini dengan baik. Penulis tentunya mengucapkan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang
telah bersedia membantu dalam penyusunan makalah ini.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya dikarenakan kurangnya
pengetahuan dan pengalaman penulis. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari
pembaca dan dosen untuk mengembangkan makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat
menjadi makalah yang lebih baik lagi. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan
yang terjadi. Penulis berharap makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Aamiin

Jakarta, 10 September 2019

Penulis

i
Daftar Isi

Kata Pengantar………………………………………………...................………………… i

Daftar Isi……………………………………………………………..…........................….. ii

BAB I PENDAHULUAN………………………………………...…………...................... 1

1.1 Latar Belakang……………………………………………................………..... 1

1.2 Rumusan Masalah……………………………………………..........………...... 1

1.3 Tujuan……………………………………………………………..............……. 2

BAB II PEMBAHASAN. …………………………………………………….................... 9

2.1 Persiapan Pengambilan Sampel Air dan Limbah Cair………………................. 9

2.2 Jenis Alat Pengambilan Sampel Air dan Limbah Cair ……....................//.......... 9

2.3 Penentuan Titik dan Prosedur Pengambilan Sampel Air dan Limbah Cair ......... 11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan………………………………………………………....................... 9
3.2 Saran…………………………………………………………………................ 9

Daftar Pustaka……………………………………………………………………................ 10

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam ilmu kimia, konsentrasi adalah ukuran yang menggambarkan banyaknya zat di
dalam suatu campuran dibagi dengan volume total campuran tersebut. Terdapat empat
macam deskripsi kuantitatif konsentrasi, yaitu konsentrasi massa, konsentrasi molar,
konsentrasi jumlah, dan konsentrasi volume. Istilah konsentrasi dapat diterapkan
untuk semua jenis campuran, tetapi paling sering digunakan untuk menggambarkan
jumlah zat terlarut di dalam larutan. Ada beberapa besaran yang dapat digunakan
untuk menyatakan konsentrasi zat terlarut dalam suatu larutan, antara lain: molaritas,
molalitas, normalitas dan fraksi mol.
Sistem konsentrasi analilisis titrimetri molaritas normalitas merupakan sistem
konsentrasi yang sering digunakan. Konsentrasi dalam analisis bermanfaaat dalam
situasi dimana terjadi pembentukan kompleks. Sisterm bobot persen juga lazim
digunakan untuk menyatakan konsentrasi dari reagensi laboratorium. Dalam
menyatakan konsentari larutan yang sangat encer biasanya dinyatakan dalam ppm
(part per milion) bagian tiap juta. atau bagian tiap miliar ppb (part per bilion).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan Molaritas, Normalitas, dan PPM ?
2. Apakah yang membedakan antara molaritas dan normalitas
3. Bagaimana rumus dalam Molaritas, Normalitas, dan
1.3 Tujuan
1. Untuk mengatahui bagaimana perhitungan Molaritas, Normalitas, Kadar Zat
2. Untuk mengetahui perbedaan molaritas dan normalitas
3. Untuk lebih memahami konsep konsentrasi larutan (titrimetri)

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Molaritas

Pengertian molaritas adalah satuan yang menyatakan banyaknya mol zat terlarut dalam 1 liter
(1000 ml) larutan. Jadi, seperti yang sudah saya beritahukan diatas, bahwa molalitas dalam
1000 gram pelarut, maka molaritas itu dalam 1000 ml larutan.

Simbol dari Molaritas adalah M atau dalam bentuk simbolnya yaitu mol/L. Dari simbol atau
satuan molaritas tersebut kalian bisa tahu bahwa Molaritas itu menyatakan jumlah mol zat
yang terdapat dalam suatu pelarut atau banyak pelarut.

Rumus Molaritas

Ada beberapa rumus dari Molaritas tergantung soal molaritas yang kalian jumpai, berikut
beberapa rumus molaritas yang ada yang dapat mempermudah kalian menjawab soal soal

2.1.1 Rumus Molaritas Pertama (Dasar)

n = g / Mr

Dimana g, adalah massa zat yang terlarut dalam satuan gram dan mr adalah massa molar zat
terlarut tersebut. Mr suatu zat dapat kalian hitung dengan menambahkan tiap massa molar
atom yang menyusunnya. Apabila dirampungkan persamaan diatas, maka rumus sederhana
molaritas adalah cara menghitung molaritas dengan mengetahui Mr senyawa tersebut dan
massa senyawa tersebut serta jumlah volume pelarut yang digunakan. Ingat rumus diatas
digunakan bila pelarutnya memiliki satuan dalam bentuk mL bukan Liter, bila sudah bentuk
liter kalian tinggal gunakan rumus molaritas dibawah ini

M= g/Mr x V

2.1.2 Rumus Molaritas Untuk Massa dalam PersenRumus lain yang kalian bisa
gunakan untuk mencari molaritas suatu larutan bila yang kalian tahu bukanlah massa zat
terlarut berbentuk larutan juga maka kalian bisa gunakan rumus molaritas dibawah ini.
Dengan adalah massa jenis larutan tersebut dalam satuan kg/L serta % massa bila soal

2
tersebut menyebukan larutan yang akan dilarutkan dalam bentuk persen. Mr adalah massa
jenis zat terlarut.

2.1.3 Rumus Molaritas untuk mencari molaritas campuran

MCampuran =

VAMA + VBMB

VA + VB

Dimana :

VA = Volume zat A

VB = Volume zat B

MA = Molaritas zat A

MB = Molaritas zat B

2.1.4 Rumus Molaritas Untuk pengenceran larutan

Jika dilakukan pengenceran larutan maka berlaku: mol zat terlarut sebelum pengenceran =
mol zat terlarut sesudah pengenceran.

mol1 = mol2 atau V1M1 = V2M2

Dimana:

V1 = Volume sebelum pengenceran M1 = molaritas sebelum pengenceran

V2 = volume sesudah pengenceran M2 = molaritas sesudah pengenceran

Dimana :
VA = Volume zat A
VB = Volume zat B
MA = Molaritas zat A
MB = Molaritas zat B

3
2.1.5. Rumus Molaritas Untuk pengenceran larutan

Jika dilakukan pengenceran larutan maka berlaku: mol zat terlarut sebelum pengenceran =
mol zat terlarut sesudah pengenceran.

Mol 1 = mol 2 atau V1 x M1 = V2 x M2

Dimana:

V1 = Volume sebelum pengenceran

M1 = molaritas sebelum pengenceran

V2 = volume sesudah pengenceran

M2 = molaritas sesudah pengenceran

2.2. Normalitas

Normalitas adalah satuan konsentrasi yang sudah memperhitungkan kation atau anion yang
dikandung sebuah larutan. Dan yang berbeda dari Normalitas ini, ialah adanya perhitungan
BE atau Berat Ekivalen. Oleh karena itu ada definisi tambahan untuk Normalitas yang dapat
didefinisikan sebagai banyaknya zat dalam gram ekivalen dalam satu liter larutan dengan
satuan N

2.2.1 Berikut ialah rumus Normalitas (N) :

𝐺𝑟𝑎𝑚 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 1000


𝑁= ×
𝐵𝐸 𝑚𝐿 𝐿𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛

BE ialah Mr yang telah di pengaruhi oleh reaksi berdasarkan lepas / diterimanya atom H.

Rumus BE adalah :

𝑀𝑟
𝐵𝐸 =
𝐵𝑦𝑘 𝑎𝑡𝑜𝑚 𝐻 𝑑𝑖𝑙𝑒𝑝𝑎𝑠 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎

Normalitas yaitu besaran yang menyatakan jumlah mol ekivalen zat terlarut pada tiap satuan
volume larutan. Satuan normalitas ialah normal (N) yang sama dengan mol ekivalen/liter.
Rumus normalitas larutan adalah

N = ek/V
N = n x a /V
N=Mxa

4
𝐺𝑟𝑎𝑚 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
n=
𝑀𝑟

Keterangan:
N = normalitas ( mol ek/L)
V = volume larutan (liter)
n = mol suatu zat (mol)
a = ekivalen suatu zat

ek adalah mol ekivalen yaitu jumlah mol dikali jumlah ion H+ atau ion OH–
Jika n mol zat terlarut mengandung sebanyak a ion H+ atau OH–, maka rumus mol ekivalen
(ek) ialah :

Ek = n x a

Untuk asam, 1 mol ekivalen sebanding dengan 1 mol ion H+


Untuk basa, 1 mol ekivalen sebanding dengan 1 mol ion OH–

Contoh :

HCl Hanya memiliki 1 H maka Mr HCl = BE HCl

sedangkan, H2SO4 memiliki 2 H maka Mr H2SO4 = 2 BE H2SO4, dan seterusnya.

Selain itu, Normalitas masih memiliki perhitungan dalam cara pengenceran yang sama seperti
pengenceran untuk Molaritas . Yaitu dengan 𝑉 1 × 𝑁1 = 𝑉2 × 𝑁2

Contoh Soal :

1. Bagaimana cara membuat larutan HCl 1N dari 10 mL HCl 5N ?

Diketahui, 𝑉1= 10 mL ; 𝑁1 = 5𝑁 ; 𝑁2 = 1𝑁

Penyelesaian, 10 x 5 = V2 x 1 ,  maka V2 = 50 ml

2. Misalnya 0,5 liter larutan NaOH dibuat dengan cara melarutkan 5 gram NaOH (Mr = 40)
dalam air. Berapakah Normalitas larutan tersebut ?
𝐺𝑟𝑎𝑚 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 5 𝑔𝑟𝑎𝑚
Mol NaOH, n = = = 0,125 mol
𝑀𝑟 40

Jumlah ion OH–, a = 1

Mol ekivalen, ek = n x a = 0,125 x 1 = 0,125

Didapatkan, ek = 0,125 ; V = 0,5 Liter


𝑒𝑘 0,125 𝑚𝑜𝑙 𝑒𝑘
Penyelesaian, N= 𝑉
= 0,5 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟
= 0,25N

5
2.2.2 Perbedaan Normalitas dan Molaritas

Berdasarkan rumus atau persamaan dari normalitas kita dapat mengetahui perbedaan dari
satuan normalitas dengan satuan molaritas. Perbedaan pertama yaitu definisi dari normalitas
yang merupakan jumlah gram ekivalen dari suatu zat terlarut dalam satu liter larutan
sedangkan molaritas merupakan jumlah mol zat terlarut dalam satu liter larutan.

Selanjutnya, perhitungan normalitas dari massa ekivalen didasarkan pada total volume dari
larutan. Sedangkan pada molaritas, perhitungan mol didasarkan pada total volume larutan.
Perbedaan lainnya yaitu pada satuan yang digunakan dimana pada normalitas pada umumnya
digunakan satuan N ataupun ek/L. Sedangkan pada molaritas, digunakan satuan M ataupun
mol/L.

2.2.3 Penggunaan Normalitas

Dalam kimia, terdapat 3 peristiwa reaksi yang membutuhkan perhitungan menggunakan


normalitas larutan.

1. Dalam asam basa


Normalitas merupakan ekspresi konsentrasi yang sering digunakan dalam peristiwa yang
melibatkan reaksi asam basa. Hal itu karena pada dasarnya normalitas menunjukkan
keberadaan ion hidronium (H3O+) dan ion hidroksida (OH–) dalam suatu larutan. Dalam hal
ini, jumlah ekivalen menjadi suatu hal yang sangat penting. Setiap larutan dapat
menghasilkan satu atau lebih jumlah ekivalen dari spesies reaktif ketika terlarut dan
terionisasi dalam air.

2. Dalam reduksi oksidasi


Reaksi reduksi oksidasi merupakan reaksi yang melibatkan perpindahan elektron (dapat
dipelajari lebih lengkap pada reaksi redoks). Dalam reaksi ini, faktor ekivalen dapat
menunjukkan jumlah elektron yang terlibat dalam oksidasi ataupun reduksi dan digunakan
dalam menentukan elektron donor maupun elektron akseptor. Jumlah ekivalen dari suatu zat
terlarut setara dengan jumlah elektron yang terlibat dalam reaksi redoks.

3. Dalam reaksi pengendapan


Pada kimia, kita mengenal istilah pengendapan yang merupakan proses pembentukan zat
padat dalam suatu larutan karena tingkat kejenuhan larutan yang berlebih. Dengan
normalitas, faktor ekivalen dapat menentukan jumlah ion yang akan mengendap dalam
reaksinya. Hal ini sangat berguna dalam menentukan berat endapan yang seharusnya
terbentuk secara teoritis.

6
2.3 Kadar Zat

Kadar zat dalam campuran menyatakan banyaknya zat terlarut dalam campuran tersebut.
Kadar suatu zat dalam campuran dapat dinyatakan dalam persen massa (% massa) atau
persen volume (% volume) atau persejuta (bpj atau ppm = part per milion).
2.3.1. Persen Massa (% m/m)
Persen massa menyatakan jumlah gram suatu zat dalam 100 gram campuran. Misalnya: kadar
emas 75%, berarti dalam campuran tersebut mengandung 75 gram emas dalam setiap 100
gram campuran. Rumus persen massa adalah sebagai berikut.
% Massa zat
= × 100%
massa Massa campuran

2.3.2. Persen Volume (% V/V)


Persen volum menyatakan jumlah mL suatu zat dalam 100 ml campuran. Misalnya: volume
cuka dalam air 60%. Berarti dalam 100mL larutan terdapat 60 mL cuka. Rumus persen
volume adalah sebagai berikut.
% Volume zat
= × 100%
volume Volume larutan

3.3.3. Bagian per Sejuta (bpj)/ppm


Bagian persejuta (bpj) atau part per milion (ppm) menyatakan jumlah bagian suatu zat dalam
sejuta bagian campuran atau dapat diartikan perbandingan konsentrasi zat terlarut dan
pelarutnya. Misalnya: kadar polutan dalam sampel udara di jakarta 22 bpj, berarti dalam 1
juta liter udara di jakarta terdapat 22 liter gas polutan. Rumus bagian persejuta adalah sebagai
berikut.
Jumlah zat
Kadar zat = × 106 ppm
Jumlah campuran
1% = 10.000 ppm

Namun bila tertera dosis 1 mg/L maka akan setara dengan 1.001142303 ppm, sehingga
terkadang disebutkan 1 mg/L sama dengan 1 ppm.

Contoh:

PPM atau “Part per Million” jika dibahasa Indonesiakan akan menjadi “Bagian per Sejuta
Bagian” adalah satuan konsentrasi yang sering dipergunakan dalam di cabang Kimia Analisa.
Satuan ini sering digunakan untuk menunjukkan kandungan suatu senyawa dalam suatu
larutan misalnya kandungan garam dalam air laut, kandungan polutan dalam sungai, atau
biasanya kandungan yodium dalam garam juga dinyatakan dalam ppm. Seperti halnya
namanya yaitu ppm, maka konsentrasinya merupakan perbandingan antara berapa bagian
senyawa dalam satu juta bagian suatu sistem. Sama halnya denngan “prosentase” yang
menunjukan bagian per seratus. Jadi rumus ppm adalah sebagai berikut;
7
Atau lebih gampangnya ppm adalah satuan konsentrasi yang dinyatakan dalam satuan
mg/Kg, Kenapa? karena 1 Kg = 1.000.000 mg betul kan? Untuk satuan yang sering
dipergunakan dalam larutan adalah mg/L, dengan ketentuan pelarutnya adalah air sebab
dengan densitas air 1 g/mL maka 1 liter air memiliki masa 1 Kg betul kan? jadi satuannya
akan kembali ke mg/Kg.

Masukkan fluida ke dalam kontainer 1 liter & ukur masa fluida tsb dalam kg. Setelah itu
kalikan dgn faktor konversinya menjadi ppm.

Contoh: 1 liter air beratnya 1kg. Densitasnya: 1kg/liter atau = 999881 ppm.

Bila yang ditanyakan menyangkut numerical fraction, ppm kependekan dari part per million
yang lengkap dengan notasi, ppm-v atau ppm-w. Bila tanpa notasi, dianggap ppm-v (by
volume). Yang bisa tercampur pengertian weight dengan volume, seperti mg/L, dan hanya
anggapan umum, hanya untuk zat induk dengan berat-jenis satuan bulat. Seperti air murni,
yang berat-jenisnya 1kg/L
Contoh Soal 1:
Sebanyak 50 mL minyak tanah dicampur dengan 200 mL bensin, berapakah kadar minyak
tanah dalam larutan tersebut?
Jawab:
Volume minyak tanah = 50 mL
Volume bensin = 200 mL
Volume campuran = 200 + 50 = 250 mL
Volume minyak tanah
% volume minyak tanah = × 100%
Volume campuran
50 × 100% =
% volume minyak tanah =
250 20%
Jadi, kadar minyak tanah dalam larutan tersebut adalah 20%.

8
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Terdapat empat macam deskripsi kuantitatif konsentrasi, yaitu konsentrasi massa, konsentrasi
molar, konsentrasi jumlah, dan konsentrasi volume. Istilah konsentrasi dapat diterapkan
untuk semua jenis campuran, tetapi paling sering digunakan untuk menggambarkan jumlah
zat terlarut di dalam larutan. Perbedaan Normalitas dan Molaritas berdasarkan rumus atau
persamaan dari normalitas kita dapat mengetahui perbedaan dari satuan normalitas dengan
satuan molaritas. Perbedaan pertama yaitu definisi dari normalitas yang merupakan jumlah
gram ekivalen dari suatu zat terlarut dalam satu liter larutan sedangkan molaritas
merupakan jumlah mol zat terlarut dalam satu liter larutan.
Selanjutnya, perhitungan normalitas dari massa ekivalen didasarkan pada total volume dari
larutan. Sedangkan pada molaritas, perhitungan mol didasarkan pada total volume larutan.
Perbedaan lainnya yaitu pada satuan yang digunakan dimana pada normalitas pada umumnya
digunakan satuan N ataupun ek/L. Sedangkan pada molaritas, digunakan satuan M ataupun
mol/L.

3.2 Saran
Diharapkan para Mahasiswa/i Poltekkes Jakarta II jurusan Kesehatan Lingkungan mau
mempelajari dan mendalami bidang-bidang tertentu yang berkaitan dengan Kimia Analitik.
Selain itu, diharapkan agar tidak hanya ahli dalam teori, tetapi juga dari segi siap praktik
langsung dengan didampingi instruktur.

9
DAFTAR PUSTAKA

https://learniseasy.com/pengertian-rumus-molaritas-contoh-soal-molaritas/

https://id.wikipedia.org/wiki/Konsentrasi#Konsentrasi_volume

https://blogmipa-kimia.blogspot.com/2017/11/kadar-unsur-dalam-senyawa.html

https://juniorsciences.blogspot.com/2018/04/menghitung-kadar-zat-dalam-campuran.html

https://id.wikihow.com/Menghitung-Persen-Massa

http://www.belajarkimia.online/2018/12/konsentrasi-larutan-titrimetri.html

10

Anda mungkin juga menyukai