Anda di halaman 1dari 43

Penyusunan Laporan Keuangan Gabungan Antara Pusat dan Cabang atau Konsolidasi Dan

Persekutuan

1. PENGERTIAN

Pada akhir periode akuntansi, Kantor Pusat dan Kantor Cabangnya harus menyusun laporan
keuangan yang menunjukkan posisi keuangan (neraca) dan hasil usaha (rugi-laba) dari operasinya
selama satu periode. Yang wajib membuat laporan keuangan gabungan adalah kantor pusat.

Kantor Pusat akan membuat Neraca dan Rugi-Laba secara individual, demikian pula kantor
Cabangnya. Meskipun laporan keuangan individual tersebut dapat menunjukkan informasi-informasi
yang penting, baik untuk Kantor Pusat maupun Kantor Cabang, tetapi laporan individual tersebut
tidak dapat menggambarkan posisi keuangan dan hasil usaha kantor dan kantor cabangnya sebagai
satu kesatuan ekonomis.

Dalam uraian di muka dijelaskan bahwa aktiva dan hutang yang ada di Kantor Cabang,
sebetulnya adalah sebagian dari modal kantor pusat yang ditanamkan di Cabang yang bersangkutan.
Demikian pula pendapatan dan biaya-biaya yang terjadi di Cabang juga merupakan sebagian dari
pendapatan dan biaya-biaya usaha dari Kantor Pusat.

Kantor cabang dianggap sebagai unit usaha yang berdiri sendiri hanya dipandang dari segi
adminitrasi, tetapi dari sudut pandang manajemen dan pertanggung jawabannya terhadap para
pemilik, Cabang adalah satu kesatuan kekayaan dengan kantor pusat. Oleh karena itulah
pertanggung jawaban manajemen kepada para pemilik harus meliputi aktiva dan hutang yang ada di
Kantor Pusat dan Cabangnya. Demikian pula hasil usaha yang di dapat serta biaya-biaya yang terjadi,
harus dilaporkan baik yang ada di kantor Pusat maupun Kantor Cabangnya.

Berdasarkan uraian di atas, maka laporan keuangan yang dibuat harus merupakan laporan
keuangan gabungan antara Kantor Pusat dan Cabang. Laporan keuangan gabungan ini dimaksudkan
untuk memberikan gambaran tentang posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan sebagai satu
kesatuan ekonomi (the unit unit entity) secara keseluruhan.

Laporan keuangan gabungan antara Kantor Pusat dan Cabang terdiri dari Neraca gabungan
dan Laporan Laba Rugi. Dalam menyusun Neraca gabungan dan laporan Laba-Rugi gabungan, semua
transaksi antara Pusat dan Cabang dibatalkan dan kekayaan secara hutang Cabang dan Pusat
dijadikan satu.

A. Langkah – langkah penyusunan neraca gabungan dilakukan sebagai berikut:

a. Menghapuskan (mengeliminasi) saldo rekening “R/K-Kantor Pusat” dengan “R/K-Kantor Cabang”


dan Saldo rekening “Hutang” dengan “Piutang” antara kantor pusat dan cabang yang ada pada
neraca individual kantor pusat dan cabangnya.
b. Menjumlahkan (menggabungkan) saldo rekening-rekening aktiva dan rekening-rekening hutang
yang ada dalam rencana individual kantor maupun kantor Cabang.

B. Langkah – langkah penyusunan laporan laba-rugi gabungan dilakukan sebagai berikut:

a. Menghapuskan (mengeliminasi) saldo rekening “Pengiriman barang dari pusat” dengan rekening-
rekening pendapatan dan biaya yang terjadi antara Pusat dan Cabang.

b. Menjumlahkan (menggabungkan) saldo rekening-rekening pendapatan dan laba di luar usaha,


rekening-rekening biaya dan rugi diluar usaha yang terdapat dalam laporan keuangan Rugi Laba
individual Kantor Pusat dan Cabang.

Untuk memberikan gambaran yang jelas dari penyusunan laporan keuangan gabungan antara Kantor
Pusat dan Kantor Cabang, diberikan contoh seperti dibawah ini. Berikut ini adalah neraca dan
laporan Laba-Rugi milik Kantor pusat dan Kantor Cabangnya pada akhir tahun 2000 :

PT. “ARINTA RAMA” Kantor Pusat “Neraca”

31 Desember 2000

Kas.......................Rp 2.500.000,00 Hutang Dagang Rp 2.600.000,00

Piutang ................ Rp 4.860.000,00 Hutang Lain” Rp 7.500.000,00

Persediaan ........... Rp 8.600.000,00 Modal Saham . Rp 50.000.000,00

R/K Cabang .........Rp 7.900.000,00 Laba yg Ditahan Rp 10.300.000,00

Aktiva Tetap .......Rp 40.000.000,00

Aktiva Lain-lain .Rp 6.540.000,00

Total Aktiva ........Rp 70.400.000,00 Total Hut. & Modal....Rp 70.400.000,00

Kantor Pusat

Laporan Laba – Rugi

31 Desember 2000
Penjualan Rp 19.600.000,00

Harga Pokok Penjualan :

Persediaan awal Rp 3.000.000,00

Pembelian Rp 6.750.000,00 +

Barang tersedia untuk dijual (Rp 750.000,00)

Persediaan akhir (Rp 3.000.000,00)

Harga pokok penjualan Rp 6.000.000,00

Laba kotor operasi Rp 13.600.000,00

Biaya-biaya operasi :

Biaya administrasi Rp 1.000.000,00

Biaya penjualan Rp 1.500.000,00

Biaya operasi lain-lain Rp 800.000,00 +

Total biaya operasi Rp 3.300.000,00

Sedangkan Neraca dan Laporan Laba-rugi untuk kantor Cabang adalah sebagai berikut:

Kantor Cabang

Neraca

31 Desember 2000

Kas............................... Rp 3.400.000,00 Hutang dagang .............Rp 460.000,00

Piutang........................ Rp 2.250.000,00 Hutang Gaji...................Rp 350.000,00

Persediaan................... Rp 1.500.000,00 R/K Pusat......................Rp 7.900.000,00


Aktiva tetap................. Rp 1.560.000,00

Total aktiva.................. Rp 8.710.000,00 Total pasiva ..................Rp 8.710.000,00

Kantor Cabang

Laporan Laba- Rugi

31 Desember 2000

Penjualan Rp 9.500.000,00

Harga Pokok Penjuaalan :

Persediaan awal Rp 0,00

Pengiriman barang dari Pusat Rp 750.000,00

Pembelian Rp 5.200.000,00 +

Barang tersedia untuk dijual Rp 5.950.000,00

Persediaan akhir (Rp 300.000,00)

Harga pokok penjualan Rp 5.650.000,00-

Laba kotor operasi Rp 3.850.000,00

Biaya-biaya operasi :

Biaya gaji Rp 150.000,00

Biaya administrasi Rp 110.000,00

Biaya penjualan Rp 190.000,00

Biaya penyusutan Rp 200.000,00 +

Total biaya operasi Rp 650.000,00-

Laba bersih operasi Rp 3.200.000,00


Setelah Neraca dan Laporan Laba-rugi individual milik Pusat dan Cabang diketahui, langkah
berikutnya adalah membuat “kertas kerja penyusunan Laporan Keuangan Gabungan “ yang
bentuknya terdiri dari kolom-kolom sebagai berikut :

Kertas Kerja Penyusunan Neraca Gabungan

Kantor Pusat dan Kantor Cabang

31 Desember 2000

(dalam rupiah)

Rekening Kantor Kantor Eliminasi Neraca Gabungan

Pusat Cabang

Debit Kredit Debit Kredit

Kas 2.500.000 3.400.000 5.900.000

Piutang 4.860.000 2.250.000 7.110.000

Persediaan 8.600.000 1.500.000 10.100.000

R/K Cabang 7.900.000 7.900.000

Aktiva Tetap 40.000.000 1.560.000 41.560.000

Aktiva Lain-lain 6.540.000 6.540.000

Jumlah aktiva 70.400.000 8.710.000

Hutang dagang 2.600.000 460.000 3.060.000

Hutang lain-lain 7.500.000 7.500.000

Hutang gaji 150.000 150.000

R/K Pusat 7.900.000 7.900.000

Modal Saham 50.000.000 50.000.000

Laba yang 10.300.000 10.300.000


ditahan

Jumlah 70.400.000 8.710.000 7.900.000 7.900.000 71.210.000 71.210.000


Jurnal eliminasi :

R/K Pusat Rp 7.900.000,00

R/K Cabang Rp 7.900.000,00

Gabungan Kantor Pusat dan Kantor Cabang

31 Desember 2000

Rekening Kantor Kantor Eliminasi Laporan Rugi


Laba Gabungan
Pusat Cabang Debit Kredit

Penjualan 19.600.000 9.500.000 29.100.000

Harga pokok
penjualan

Persediaan awal 3.000.000 0 3.000.000

Pembelian 6.750.000 5.200.000 11.950.000

Penerimaan barang - 750.000 750.000 -


dr pusat

Barang tersedia 9.750.000 5.950.000 14.950.000


dijual

Pengiriman barang ( 750.000) - 750.000 -


ke cabang

Persediaan akhir (3.000.000) ( 300.000) (3.300.000)

Harga pokok 6.000.000 5.650.000 11.650.000


penjualan

Laba kotor operasi 13.600.000 3.850.000 17.450.000

Biaya biaya operasi

Biaya adm 1.000.000 110.000 1.110.000

Biaya penjualan 1.500.000 190.000 1.690.000

Biaya penyusutan - 200.000 200.000


Biaya gaji - 150.000 150.000

Biaya operasi lain 800.000 - 800.000

Total biaya operasi 3.300.000 650.000 3.950.000

Laba bersih 10.300.000 3.200.000 750.000 750.000 13.500.000

Berdasarkan Kertas Kerja Penyusunan Laporan Keuangan Gabungan di atas, dapat dibuat Neraca
Gabungan dan Laporan Laba-Rugi Gabungan seperti dibawah ini:

Kantor Pusat dan Kantor Cabang

Neraca Gabungan

31 Desember 2000

Kas ............................ Rp 5.900.000 Hutang dagang................ Rp 3.060.000

Piutang ..................... Rp 7.110.000 Hutang lain-lain .............. Rp 7.500.000

Persediaan ............... Rp 10.110.000 Hutang gaji ..................... Rp 350.000

Aktiva tetap .............. Rp 41.560.000 Modal saham...................Rp 50.000.000

Aktiva lain-lain .......... Rp 6.540.000 Laba yg ditahan................Rp 10.300.000

Total aktiva ............... Rp 71.210.000 Total hut. & modal........... Rp 71.210.000

Kantor Pusat dan Kantor Cabang

Laporan Laba-Rugi Gabungan

31 Desember 2000

Penjualan Rp 29.100.000

Harga Pokok Penjualan :

Persediaan awal Rp 3.000.000


Pembelian Rp 11.950.000

Barang tersedia untuk dijual Rp 14.950.000

Persediaan akhir (Rp 3.300.000)

Harga pokok penjualan Rp 11.650.000

Laba kotor operasi Rp 17.450.000

Biaya-biaya operasi :

Biaya administrasi Rp 1.110.000

Biaya penjualan Rp 1.690.000

Biaya penyusutan Rp 200.000

Biaya gaji Rp 150.000

Biaya lain-lain Rp 800.000

Total biaya operasi Rp 3.950.000

Laba bersih operasi Rp 13.500.000

Dalam proses pembuatan Laporan Keuangan Gabungan diatas, ternyata fungsi dan kertas kerja
sangat membantu dalam proses penyusunannya. Kertas kerja tersebut memuat kolom-kolom saldo
rekening pembukuan milik kantor Cabang, kolom debet dan kredit untuk penyesuaianatau eliminasi,
dan kolom untuk neraca gabungan atau laporan laba rugi laporan gabungan. Didalam kolom-kolom
kertas kerja tersebut rekening-rekening harus terlebih dahulu digolong-golongkan sedemikian rupa
sehingga penjumlahan atau penggabungan saldo rekening-rekening pembukuan yang sama jenisnya
dapat dilakukan dengan mudah. Adapun jurnal eliminasi yang dibuat oleh kantor Pusat adalah
sebagai berikut:

a. R/K-Pusat...............................................................................................Rp 7.900.000,00

R/K-Cabang............................................................................................Rp 7.900.000,00

b. Pengiriman barang ke Cabang..............................................................Rp 750.000,00

Pengiriman barang dari Pusat...............................................................Rp 750.000,00


1.2 Penyusunan Laporan Keuangan Gabungan Apabila Barang Dagangan di Cabang di Catat di Atas
Harga Pokok

Apabila barang untuk Cabang oleh Kantor Pusat dicatat/dinota diatas harga pokoknya, maka pada
saat akan disusun laporan keuangan gabungan akan menimbulkan bebrapa masalah yang
diperhatikan yaitu:

· Persediaan akhir maupun persediaan awal barang-barang dicabang yang berasal dari pusat,
harus dinyatakan kembali dalam harga pokok yang sebenarnya sesuai dengan catatan Pusat.

· Kertas kerja penyusunan laporan keuangan gabungan,disusun berdasarkan neraca saldo (Trial
Balance) dari pusat dan cabang. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penyususnannya.

Untuk dapat memperoleh gambaran yang jelas, diberikan contoh sebagai berikut :

Contoh 9

PT “ARINTA RAMA” Bandung mempunyai sebuah cabang disemarang. Pengiriman barang dagangan
ke Cabang Semarang selalu dinota 125% dari harga pokoknya. Disamping dikirim dari Pusat, Cabang
Semarang diberi kebebasan untuk membeli barang dagangan dari pihak luar. Berikut ini adalah
neraca saldo antara Kantor Pusat dan Kntor Cabangnya pada tanggal 21 Desember 19C.

PT “ARINTA RAMA”

Neraca Saldo

31 Desember 2000

Keterangan Kantor Pusat Kantor Cabang


Bandung Semarang

Debit :

Kas Rp 5.784.000,00 Rp 5.378.000,00

Piutang Dagang Rp 4.560.000,00 Rp 2.380.000,00

Persediaan barang, 1 januari 19C Rp 800.000,00 Rp 360.000,00

Aktiva Tetap Rp 6.240.000,00 Rp 4.180.000,00

R/K- Kantor Cabang Semarang Rp 6.868.000,00 Rp -

Pembelian Rp 1.760.000,00 Rp 200.000,00

Penerimaan barang dari Pusat Rp - Rp 480.000,00

Macam-macam biaya usaha Rp 2.400.000,00 Rp 2.160.000,00

Pembagian debiden Rp 1.160.000,00 Rp -

Jumlah Rp 29.572.000,00 Rp 15.138.000,00

Kredit :

Hutang dagang Rp 3.560.000,00 Rp 1.160.000,00

Cad. Kenaikan harga barang cabang Rp 136.000,00 Rp -

Pengiriman barang ke cabang Rp 384.000,00 Rp -

Akumulasi penyusutan aktiva tetap Rp 920.000,00 Rp 890.000,00

Penjualan Rp 18.800.000,00 Rp 6.220.000,00

Modal saham Rp 4.600.000,00 Rp -

Laba ditahan 1 januari 19C Rp 1.172.000,00 Rp -

R/K Kantor Pusat Bandung Rp - Rp 6.868.000,00

Jumlah Rp 29.572.000,00 Rp 15.138.000,00

Diketahui pula bahwa pada tanggal 31 Desember 2000 persediaan barang yang masih ada pada
masing-masing pihak adalah sebagai berikut :

Kantor Pusat Kantor Cabang


Bandung Semarang

- Hg. Pkok barang (dibeli dr luar) Rp 640.000,00 Rp 80.000,00

- Hg. Nota barang (dikirim dari pusat) - Rp 160.000,00

Berdasarkan data tersebut diatas, kantor pusat dapat membuta kertas kerja penyusunan laporan
keuangan gabungan seperti yang tampak pada halaman berikut :

Penjelasan dan jurnal dari kertas kerja :

1. Penghapusan rekening neraca yang bersifat timbal balik ( reciprocal account)

R/K Kantor Pusat Rp 6.868.000,00

R/K Kantor Cabang Rp 6.868.000,00

2. Penghapusan rekening laba-rugi yang bersifat timbal balik serta penyesuaian rekening
“Cadangan Kenaikan Harga Barang Cabang “.

Pengiriman barang ke cabang Rp 384.000,00

Cadangan kenaikan harga barang cabang Rp 96.000,00*

Penerimaan barang dari pusat Rp 480.000,00

*besarnya rekening ini dihitung sebagai berikut :

(125%-100%) X Rp 384.000 = Rp 96.000,00

3. Saldo akhir rekening “Cadangan Kenaikan Harga Barang Cabang” dalam neraca saldo per 31
Desember 2000 adalah :

Sebesar Rp 136.000,00

Berasal dari pengiriman selama tahun 2000 Rp 96.000,00 -

Saldo awal, per 1 januari 2000 Rp 40.000,00


Saldo rekening “cadangan kenaikan harga barang cabang”sebesar Rp 40.000,00 ini melekat pada
harga pokok persediaan awal cabang sehingga perlu disesuaikan dengan jurnal .

Cadangan kenaikan harga barang cabang Rp 40.000,00

Persediaan barang dagangan, 1 januari 2000 Rp 40.000,00

4. Persediaan akhir barang di cabangh yang berasal dari kiriman pusat adalah sebesar Rp
160.000,00. Harga ini mengandung kenaikan 25% di atas harga pokoknya. Harga pokok barang yang
ada di cabang yang sebenarnya adalah :

100/125 X Rp 160.000 = Rp 128.000,00. Akibatnya nilai persediaan akhir barang dagangan di cabang
harus disesuaikan sebesar Rp 160.000,00 – Rp 128.000,00 = Rp 32.000,00 dengan jurnal :

Persediaan barang daganagn 31 Desember 2000

(Rugi-Laba) Rp 32.000,00

Persediaan barang daganagan 31 Desember 2000

(Neraca) Rp 32.000,

Setelah membuat kertas kerja tersebut, kemudian dapat disusun Laporan Laba-Rugi Gabungan,
Laporan Laba yang ditahan gabungan dan Neraca Gabungan sebagai berikut :

PT. ARINTA RAMA

Laporan Laba-Rugi Gabungan

Kantor Pusat dan Kantor Cabang

31 Desember 2000

Penjualan Rp 25.020.000,00

Harga Pokok Penjualan :

Persediaan awal, 1 januari 2000 Rp 1.120.000,00

Pembelian Rp 1.960.000,00

Barang tersedia dijual Rp 3.080.000,00


Persediaan akhir, 1 januari 2000 Rp 848.000,00

Harga pokok penjualan Rp 2.232.000,00

Laba kotor penjualan Rp 22.788.000,00

Macam – macam biaya usaha Rp 4.560.000,00

Laba bersih Rp 18.228.000,00

PT. ARINTA RAMA

Laporan Laba Yang Ditahan Gabungan

Kantor Pusat dan Kantor Cabang

31 Desember 2000

Saldo laba yang ditahan, 1 Januari 2000 Rp 1.172.000,00

Laba bersih tahun 2000 Rp 18.228.000,00 +

Rp 19.400.000,00

Deviden yang dibagi Rp 1.160.000,00

Laba yang ditahan, 31 desember 2000 Rp 18.240.000,00

PT.ARINTA RAMA

Neraca Gabungan

Kantor Cabang dan Kantor Pusat

Per 31 Desember 2000

Kas...........................Rp 11.162.000,00 Hutang Dagang .......Rp 4.720.000,00

Piutang Dagang........Rp 6.940.000,00 Modal saham ..........Rp 4.600.000,00

Persediaan Barang ...Rp 848.000,00 Laba di tahan...........Rp 18.240.000,00


Aktiva Tetap.............Rp 10.420.000,00

Akumulasi Depr ......Rp (1.810.000,00)

Total Aktiva .............Rp 27.560.000,00 Total Hut & modal Rp 27.560.000,00

2. PERSEKTUAN

2.1 Pengertian Persekutuan

Persekutuan (Partnership) adalah suatu penggabungan diantara dua orang (badan) atau lebih untuk
memiliki bersama-sama dan menjalankan suatu perusahaan guna mendapatkan keuntungan atau
laba.

Didalam persekutuan pemisahan pemilik dan manajemen hampir tidak ada, namun demikian
penyelenggaraan akuntansi harus berpedoman pada ketentuan-ketentuan yang diatur oleh prinsip-
prinsip yang lazim. Dari segi akuntansinya, persekutuan sebagai suatu unit usaha harus dianggap
mempunyai kedudukan terpisah dengan para pemiliknya.

2.2 Unsur Pokok Persekutuan yaitu :

1. Gabungan atau asosiasi para sekutu.

Sebagai suatu asosiasi dari beberapa sekutu ( individu ) maka persekutuan tidak dapat dipisahkan
dengan kesepakatan atau perjanjian, yaitu perjanjian untuk mendirikan, memiliki, dan mengelola
persekutuan.

2. Pemilikan dan pengelolaan bersama.

Didalam Persekutuan harus selalu dituntut adanya kebersamaan, yaitu :

a. Persekutuan dimiliki bersama.

b. Persekutuan dikelola bersama.

c. Kalau ada risiko ditanggung bersama.

d. Kalau memperoleh laba dibagi bersama.

3. Tujuan untuk memperoleh laba.

Laba dibagi secara adil menurut rasio atau metode pembagian laba yang telah disepakati.

2.3 Berdasarkan luasnya tanggung jawab parasekutunya, persekutuan dapat digolongkan


menjadi dua, yaitu :

1. Persekutuan Firma (Fa)


Dalam persekutuan firma, semua sekutuikut aktif mengelola persekutuan danbertanggung jawab
penuh (tidak terbatas). Yang dimaksud dengan tanggung jawabpenuh disini adalah bahwa
tanggung jawabnya tidak terbatas sebesar modal yang ditanam di persekutuan saja, melainkan
dengan seluruh harta pribadinya.

1. Persekutuan Komoditer (CV = ComanditairVennotschap)

Dalam persekutuan komanditer, tidak semua sekutu ikut aktif mengelola perusahaan. Berdasarkan
luasnya tanggung jawab dan ikut tidaknya di dalampengelolaan perusahaan, maka para
sekutupersekutuan komanditer dapat digolongkan menjadi dua, yaitu sekutu aktif dan sekutupasif.

2.4 Karakteristik Utama Persekutuan

Karakteristik utama adalah merupakan sifat utama atau ciri khas persekutuan yang meliputi:

1. Mutual Agency

Masing-masing sekutu merupakan agen ( wakil, perantara, perpanjangan tangan ) dari persekutuan.

2. Limited Life

Umur persekutuan adalah terbatas. Hal-hal yang mebatasi umur persekutuan antara lain perjanjian
persekutuan, ketentuan hukum serta putusan pengadilan. Sewaktu-waiktu persekutuan dapat bubar
karena masuknya sekutu baru, pengunduran sekutu dan sebagainya.

3. Unlimited Liability

Tanggung jawab masing-masing sekutu ( kecuali sekutu pasif ) tidak terbatas pada modal yang telah
disetor saja.

4. Ownership of an Interset in a Partnership

Kekayaan yang telah disetor ke dalam persekutuan sudah bukan lagi milik sekutu penyetor,
melainkan milik semua sekutu.

5. Participation on Partnership Profit

Masing-masing sekutu mempunyai hak di dalam pembagian laba atau rugi persekutuan.

6. Right to Dispose of a Partnership Interest

Masing-masing sekutu mempunyai hak untuk menjual atau memindahkan haknya atas modal dan
hak atas laba kepada orang lain, baik kepada anggota sekutu maupun bukan.

7. Mutual Liabiliy
Semua sekutu bertanggung jawab terhadap utang persekutuan. Jadi utang persekutuan adalah juga
utang seluruh sekutu

2.5 Ketentuan di dalam Perjanjian Persekutuan

Perjanjian persekutuan akan berisi ketentuan-ketentuan yang disepakati oleh para sekutu mengenai
segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan persekutuan sampai pembubarannya.Isi
perjanjian antara lain :

1. Ketentuan mengenai persekutuan.

2. Ketentuan mengenai sekutu.

3. Ketentuan yang berhubungan dengan modal persekutuan.

4. Ketentuan mengenai pembagian laba.

5. Ketentuan yang berhubungan dengan pembubaran persekutuan.

6. Ketentuan mengenai pertanggungan ( asuransi ) terhadap masing-masing sekutu.

Isi perjanjian persekutuan akan dipakai sebagai :

1. Dasar pencatatan setoran modal.

2. Dasar perhitungan modal.

3. Dasar pembagian laba.

4. Dasar pencatatan transaksi-transaksi persekutuan yang menyangkut modal.

5. Dasar pembagian aktiva dalam likuidasi.

Dari uraian diatas terlihat bahwa perjanjian mempunyai peranan yang sangat penting dalam
persekutuan mulai dari pendirian hingga pembubarannya.

2.6 Penggolongan Persekutuan

Persekutuan dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu :


1. Persekutuan Firma ( Fa )

Suatu usaha kerjasama yang didirikan untuk menjalankan perusahaan dengan menggunakan nama
bersama dan semua sekutu dalam usaha tersebut bertanggung jawab penuh (dan biasanya ikut aktif)
mengelola perusahaan.

2. Persekutuan Komanditer ( cv )

Suatu bentuk perjanjian kerja sama untuk berusaha di mana salah satu atau lebih dari anggotanya
bertanggung jawab terbatas.

a. Sekutu Aktif

Sekutu yang ikut aktif mengelola perusahaan dan bertanggung jawab penuh dengan seluruh harta
pribadinya.

b. Sekutu Pasif (Silent Partner)

Sekutu yang hanya menyetor modal saja tanpa ikut mengelola perusahaan.

3. Joint Stock Company

Persekutuan yang struktur modalnya terbagi atas saham-saham yang dapat dipindah-tangankan.
Besarnya saham masing-masing sekutu didalam Joint Stock Company tidak menunjukkan besarnya
tanggung jawab sekutu yang bersangkutan melainkan hanya menunjukkan besarnya kepemilikan.

2.7 Alasan Pemilihan Persekutuan Atau Bentuk Badan Usaha Lainnya

Pertimbangan untuk memilih bentuk badan usaha berupa persekutuan atau bukan adalah
berdasarkan kelemahan dan kelebihan persekutuan dibandingkan bentuk badan usaha lainnya
seperti perseroan terbatas dan lain-lain. Oleh karena itu perlu dibahas mengenai kelebihan dan
kelemahan persekutuan.

Kelebihan Bentuk Usaha Persekutuan:

1. Bentuk persekutuan seperti firma lebih mudah dalam pendiriannya.

2. Bentuk persekutuan seperti firma juga lebih mudah dalam pembubarannya misalkan akan berubah
menjadi bentuk perseroan terbatas.

1. Bentuk persekutuan juga mempunyai kebebebasan dan keluwesan dalam menentukan bentuk
usahanya.

2. Kebebasan masing-masing sekutu dalam pengambilan keputusan.


3. Persekutuan hanya wajib melaporkan pajaknya tetapi bukan pembayar pajaknya karena yang
membayar pajak adalah para sekutu yang memperoleh laba persekutuan. Pajaknya berupa pajak
penghasilan.

Kelemahan Bentuk Usaha Persekutuan:

1. Tanggung jawab pribadi sekutu akan hutang perusahaan.

2. Kelangsungan hidup perusahaan biasanya terbatas karena ikut ditetukan oleh perjanjian dalam
pendirian persekutuan.

3. Kesulitan dalam memindahtangankan kepentingan pemilik.

2.8 Akuntansi Dalam Persekutuan

Pada persekutuan laba atau rugi selalu dibagi di antara para sekutu sesuai dengan metode
pembagian laba yang telah disepakati. Pembagian laba adalah pemindahan saldo laba ( rugi )
persekutuan ke rekening modal masing-masing sekutu. Mengenai modal sekutu pada dasarnya
merupakan keseluruhan dari hak para sekutu terhadap persekutuan. Pada umumnya hubungan
ekonomis antara persekutuan dan para sekutu ditampung di dalam tiga rekening, yaitu :

1. Rekening “ Modal ”

Rekening modal menunjukkan besarnya hak modal sekutu yang bersangkutan. Modal masing masing
sekutu berasal dari setoran modal mula-mula. Selanjutnya akan bertambah dengan setoran
tambahan modal dan pembagian laba serta berkurang dengan pengambilan modal dam pembgian
rugi. Rekening modal akan didebit apabila berkurang dan dikredit apabila bertambah.

Aktiva – Kas XX

Aktiva - Non Kas XX

Modal Sekutu X XX

Modal Sekutu Y XX

Modal Sekutu Z XX
2. Rekening “ prive ”

Rekening prive juga diselenggarakan untuk tiap-tiap sekutu. Rekening akan didebit apabila terjadi
pengambilan harta persekutuan untuk sekutu. Sedangkan Rekening akan dikredit dengan bagian laba
( apabila tidak langsung ditutup ke rekening modal ).

Modal XX

Prive XX

Pada akhir periode saldo rekening “ prive ” ini akan dipindah ke rekening “ modal ” sekutu yang
bersangkutan yaitu :

• Ke sisi debit, apabila rekening prive bersaldo debit.

• Ke sisi kredit apabila rekening prive bersaldo kredit.

Jadi setelah tutup buku saldo rekening prive selalu nol.

1. Rekening “ Utang Kepada Sekutu ”

Rekening ini akan di debit apabila utang kepada sekutu berkurang dan di kredit apabila utang kepada
sekutu bertambah. Dalam hal persekutuan dilikuidasi maka saldo rekening ini ikut dipertimbangkan
di dalam menghitung bagian kas sekutu yang bersangkutan. Di dalam neraca saldo disajikan pada
kelompok pasiva, yaitu utang.

Kas XX

Utang Sekutu XX

2. Rekening ‘ Piutang Kepada Sekutu ”

Rekening ini didebit apabila piutang kepada sekutu bertambah dan dikredit apabila piutang kepada
sekutu berkurang. Dalam hal persekutuan dilikuidasi (dilebur) yaitu mengurangi hak sekutu yang
bersangkutan. Didalam neraca saldo rekening disajikan dalam kelompok aktiva, yaitu piutang.

Piutang XX

Kas XX

Piutang kepada pihak ketiga:


Piutang Dagang XX

Penjualan XX
Kantor Pusat dan Kantor Cabang Akuntansi Keuangan Lanjutan

Diposkan pada Oktober 31, 2016 oleh permatasariang17

Akuntansi Keuangan Lanjutan I

Perbedaan Agen dan Cabang


Agen adalah merupakan perwakilan perusahaan yang tidak mempunyai otonomi untuk
melaksanakan transaksi dengan pihak ketiga. Agen hanya berfungsi sebagai bagian perusahaan yang
menampung order pembelian dari para pembeli dan meneruskan order pembelian tersebut kepada
perusahaan (kantor pusatnya) untuk diselesaikan.
Sedangkan cabang mempunyai otonomi sendiri persis seperti perusahaan lain yang berdiri sendiri.
Beberapa perbedaan antara agen dan cabang adalah
1. Persediaan barang yang ada di agen tidak untuk dijual (sebagai sampel atau contoh saja), sedang
persediaan pada cabang untuk dijual (sebagai stok).
2. Transaksi-transaksi dengan pihak ketiga, agen tidak diberi wewenang untuk memutuskannya,
tetapi pada cabang boleh memutuskan sendiri tanpa seizin kantor pusat.
3. Agen hanya berfungsi sebagai penerima pesanan saja, sedang kantor cabang selain menerima
pesanan juga mengadakan transaksi penjualan.
4. Demikian pula dalam hal pemberian persetujuan penjualan dan syarat-syarat penjualan, agen
ditangani oleh pusat, sedang kantor cabang ditangani sendiri.
Pengumpulan piutang pada agen ditangani oleh kantor pusat, sedangkan cabang ditangani sendiri
1. Agen tidak membuat pencatatan dan laporan keuangan, tetapi cabang menyelenggarakan
pembukuan dan membuat laporan keuangan sendiri untuk dilaporkan kepada kantor pusat.
2. Hubungan antara kantor pusat dan agen, dapat dicatat dan dibukukan dengan menggunakan dua
metode pencatatan, yaitu:
3. Metode laba atau rugi dari penjualan melalui agen dicatat secara terpisah, dan
4. Metode laba atau rugi dari penjualan melalui agen dicatat secara tidak terpisah.
Hubungan antara kantor pusat dan cabang, dapat diikuti dengan menggunakan akun timbal-balik
(Reciprocal Accounts) yaitu pada buku kantor pusat dengan menggunakan “Kantor Pusat”, sedang
pada buku kantor cabang dengan menggunakan akun “Kantor Pusat”. Kedua akun tersebut harus
mempunyai saldo yang sama besarnya.
Operasi agen penjual
Agen penjual yang beroperasi semata-mata hanya sebagai organisasi penjual local dibawah
pengawasan langsung kantor pusat,pada umumnya tidak menyelenggarakan persediaan kecuali
contoh dari jenis produk yang ditawarkan untuk dijual.
Agen penjual biasa diberi dana kerja untuk membayar biaya yang dapat dibayar dengan lebih mudah
melalui agen penjual. Sistem imprest sering kali digunakan untuk mengendalikan agen kas untuk
penjual.
Kantor pusat dapat mengemban tanggung jawab utnuk memelihara piutang usaha yang timbul dari
penjualan,manufaktur pelanggan,untuk melakukan penagihan. Dengan operasi agen penjual lainnya
selain beban operasi yang di bayar oleh penjual dari dana kerjanya dipenuhi oleh kantor pusat.
Laporan Keuangan Gabungan Kantor Pusat Dan Kantor Cabang
Kantor pusat pada setiap akhir periode diwajibkan membuat laporan keuangan gabungan yang terdiri
dari neraca gabungan dan laporan laba-rugi gabungan. Laporan keuangan gabungan tersebut
mencakup harta, kewajiban, beban, dan hasil usaha baik yang ada di kantor pusat maupun yang ada
di kantor cabangnya.
Dalam penyusunan laporan keuangan gabungan, terlebih dahulu masing-masing kantor membuat
laporan keuangannya secara individual. Barulah setelah itu, kedua laporan individual digabungkan
setelah mengalami proses penyesuaian dan eliminasi terlebih dahulu.
Jurnal dilakukan apabila terjadi ketidakcocokan saldo akun timbal balik, yaitu akun “Kantor Cabang”
pada buku kantor pusat, dan akun “Kantor Pusat” pada buku kantor cabang. Ketidakcocokan saldo
akun tersebut dapat disebabkan karena adanya transaksi yang berhubungan antara pusat dan cabang
yang belum dicatat oleh diantara keduanya atau baru dicatat oleh salah satu pihak, sedangkan pihak
yang lain belum mencatatnya.
Jurnal eliminasi digunakan untuk menghapuskan atau menghilangkan akun-akun timbal balik antara
kantor pusat dan kantor cabangnya. Eliminasi ini hanya dilakukan apabila akan disusun laporan
keuangan gabungan. Sedang untuk laporan keuangan individual tidak mengenal eliminasi.
Untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan gabungan antara kantor pusat dan cabang,
dibuatlah “Kertas Kerja Penyusunan Laporan Keuangan Gabungan” yang berisi kolom-kolom:
1. Akun Kantor Pusat.
2. Akun Kantor Cabang.
3. Eliminasi Debet dan Kredit.
4. Kolom Neraca Gabungan atau Laporan Laba-Rugi Gabungan.
KANTOR PUSAT DAN CABANG
Pencapaian tujuan pemasaran Agen (Agency) atau Cabang (Branch)
Perbedaan Agen dan cabang :
Agen Cabang
• fungsi penerima pesanan
• persediaan berupa sample
• syarat-syarat penjualan ditentukan pusat
• modal kerja diberi pusat • wewenang transaksi
• mempunyai persediaan
• memberikan syarat-syarat penjualan
• transaksi pembayaran sendiri

Hubungan Agen dan Pusat :


Agen hanya menyelenggarakan buku kas untuk mencatat penerimaan dan pengeluaran kas.
Sedangkan pusat pembukuan atas transaksi-transaksi yang terjadi di agen dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu :
• ditentukan secara terpisah
• ditentukan secara tidak terpisah
Hubungan Cabang dan Pusat :
Bekerjanya suatu cabang diantaranya adalah :
• Cabang diberi modal kerja
• Cabang dapat membeli kebutuhan barang dagangan
• Cabang dapat melakukan aktivitas penjualan

Sistem Akuntansi Cabang :


• Sentralisasi. Pembukuan sepenuhnya dilakukan oleh kantor Pusat.
• Desentralisasi. Cabang menyelenggarakan pembukuan atas transaksi-transaksi yang terjadi pada
cabang.
• mengeliminasi saldo rek R/K Pusat dan R/K Cabang dan hutang pihutang pusat cabang.
• menjumlahkan saldo-saldo rekening aktiva dan hutang.

L/R :
• mengeliminasi Pengiriman brg Pusat dan Pengiriman brg Cabang dan rekening pendapatan dan
biaya-biaya pusat cabang
• menjumlahkan saldo pendapatan dan biaya.

Penyesuaian dari perkiraan silang


Saldo perkiraan cabang dalam buku kantor pusat dan saldo perkiraan kantor pusat dalam buku
cabang munkin tidak menunjukkan saldo yang bersilangan pada suatu saat,karena data-data tertentu
antar kantor yang telah dicatat oleh kantor yang satu belum tentu dicatat oleh kantor yang lain.
Data –data yang harus dipertimbangkan dalam mencocokan dua perkiraan silang antara lain:
1. debit pada perkiraan cabang tidak disertai dengan kredit yang sama pada perkiraan kantor pusat.
2. Kredit pada perkiraan cabang tidak disertai dengan debit yang sama pada perkiraan kantor pusat.
3. Debit pada perkiraan kantor pusat tidak disertai dengan kredit yang sama pada perkiraan kantor
cabang.
4. Kredit pada perkiraan kantor pusat tidak disertai dengan debit yang sama pada kantor cabang.
AKUNTANSI KANTOR PUSAT DAN KANTOR CABANG

Posted by milanovira ⋅ 28/03/2011 ⋅ 7 Komentar

7-1 PENGERTIAN AGEN DAN PERBEDAANNYA

Cara Peningkatan Volume Penjualan

1. Sales People Traveling-Home Office

2. Consign Ment

3. Sales Offices

Bentuk Kantor Penjualan (Sales Offices) di daerah – daerah

1. Agen (Agency)

2. Kantor Cabang (Branch Offices)

Pengertian

Agen Kantor Cabang

Suatu bentuk organisasi yang diberi fungsi Suatu bentuk organisasi yang menjual
untuk menerima pesanan barang-barang dan barasng-barang dari persediaan yang
bekerja di bawah pengawasan langsung dibentuknya (baik dikirim dari kantor pusat
kantor pusat (Home Office), dan transaksi atau yang dibeli sendiri) dan diberi
dengan pihak ketiga dilaksanakan secara wewenang untuk melaksanakan transaksi –
langsung oleh kantor pusat. transaksi dengan pihak ketiga, sehingga
berfungsi sebagai unit usaha yang berdiri
sendiri.

Perbedaan : Terletak kepada fungsi dan tingkat kebebasan dalaim kegiatan fungsi tersebut.

Agen

1. Tidak memiliki persediaan untuk barang – barang yang dijual.

2. Persetujuan syarat Penjualan sepenuhnya pada kantor pusat. Administrasi piutang


dagang, pengumpulan piutang diselenggarakan kantor pusat.

3. Modal kerja ( working fund ) untuk biaya operasi diberikan kantor pusat, tidak mengurus uang
tunai ( kas ) selain modal kerja yang diberikan.

Kantor Cabang

1. Memiliki persediaan untuk barang – barang yang dijual, sebagian besar di kirim dari kantor
pusat.
2. Memberikan persetujuan syarat penjualan. Administrasi piutang, pengumpulan piutar
diselenggarakan kantor cabang.

3. Mengurus uang tunai dari hasil penjualan dan pengumpulan piutang, berinisiatif
melaksanakan transaksi pembayaran sendiri.

7-2 HUBUNGAN KANTOR PUSAT DAN AGEN

Operasi (Usaha) Suatu Agen

A. Beroperasi sebagai organisasi penjualan lokal di bawah petunjuk kantor pusat

B. Biaya operasi diperoleh berupa modal kerja dari kantor pusat. Pengawasan modal kerja (kas
agen) digunakan Imprest Fund System.

C. Diserahkan pertanggung jawaban untuk operasi pengawasan piutang, pembuatan faktur


penjualan dan atau menagih piutang dagang.

Akuntansi Suatu Agen

Akuntansi di agen tidak diperlukan pembukuan lengkap, kegiatan meliputi pengikhtisaran modal
kerja yang diterima dan digunakan, serta mencatatnya penjualan kepada langganan. Akuntansi suatu
agen di selenggarakan pada buku – buku kantor pusat, dengan cara :

1. Laba atau rugi aktivitas penjualan melalui tiap agen tidak ditentukan secara terpisah. Cara ini
menunjukkan bahwa seluruh transaksi penjualan ( rekening penjualan ) dan biaya -biaya ( rekening
biaya ) yang terjadi di tiap agen, dicatat dalam rekening pembukuan seperti halnya dengan transaksi
– transaksi penjualan dan biaya reguler yang terjadi di kantor pusat. Pada penutupan buku, saldo
laba atau rugi menunjukan Catatan hasil operasi kombinasi yaitu hasil operasi di tiap agen dan hasil
operasi di kantor pusat.

2. Laba atau rugi aktivitas penjualan melalui tiap agen ditentukan secara terpisah. Cara ini
menunjukan bahwa diperlukan rekening rekening khusus pembukuan untuk agen, terutama
rekening penghasilan untuk mencatat semua transaksi penjualan dan rekening biaya untuk
mencatat semua biaya yang terjadi pada agen. Apabila kantor pusat mempunyai beberapa agen,
maka rekening penghasilan dan rekening biaya diselenggarakan sbg rekening kontrol ( buku besar),
sedangkan rekening penghasilan dan biaya untuk liap agen diselenggarakan sbg rekening rekening
pembantu (tambahan). Pada penutupan buku, saldo laba atau rugi menunjukan Catalan hasil operasi
tiap agen.

Contoh : Pada tanggal 1 maret, PT. Padjajaran yang berkantor pusat di Bandung membuka agen PT.
Soedirman di Purwokerto. Transaksi agen dalam bulan maret.

Buku – buku Kantor Pusat PT. P


Transaksi Agen
1. Laba / Rugi secara terpisah 2. Laba / Rugi tidak terpisah

1 Maret 1

a. Pengiriman modal kerja


agen PT. S Working fund PT. S Rp. 1.000 Working fund PT.S Rp. 1.000

b. Pengiriman contoh Cash (Persed Contoh) Rp. Cash Rp. 1.000


barang dagangan agen PT. S 1.000
Agency samples PT. S Rp. 2.000
(Alcost) Agency samples PT. S Rp.
2.000 Merchandise shipments PT.S
Rp. 2.000
Merchandise shipments PT.S

(Persed Big Dag Rp.


2.000

1-31 Maret

c. Daftar pesanan yang di Accounts Receivable Rp. Accounts Receivable Rp. 5.000
kirim agen disetujui kantor 5.000
Sales Rp.
pusat untuk di kirim
barangnya. Sales PT. S Rp. 5.000
5.000
Cash Rp. 3.000
d. Diterima kantor pusat,
hasil penjualan dilakukan Cash Rp.
3.000 Accounts Receivable Rp.
agen 3.000
e. Pengeluaran biaya oleh Accounts Reccivable Rp.
Sales & Commision Exp Rp. 250
kantor pusat untuk keperluan 3000
agen Rent Expence Rp. 200
Salaries & Commission –

Expense PT. S Rp. Advertising Supplies Rp. 450


250 Cas Rp.
Rent Expense PT S Rp. 900
200

Advertising Supplies PT S Rp.


450

Cash Rp. 900

31 Maret

f. Pengisian kembali modal Salaries & Commision- Salaries & Commision Exp Rp.
kerja oleh kantor pusat 350
berdasarkan bukti-bukti biaya Expence PT. S Rp. 350
Miscellancous Expense Rp.
( Vouchers ) yang di kirim Miscellancous Expense-
agen. 200
PT. S Rp. 200 Cash Rp.
Cash Rp. 550 550
Data Penyesuaian

g. Harga Pokok penjualan Cost of goods sold PT S Rp.


barang kepada agen 3500

h. Perlengkapan iklan yang Mercchanidise shipment


tersisa, di taksir 2/3 dari
PT S Rp. 3.500
jumlah yang diterima. ( Rp
450 – 2/3 * Rp 450 ) Advertising supplies – Expens

PT S Rp 150

Advertising supplies PT S Rp 150

Data Penutup Sales PT S Rp 5.000

Income PT S Rp
5.000

Income PT S Rp. 4.650

COGS PT S Rp. 3.500

Salaries &

Commision Exp

PT S Rp. 600

Rent Exp PT S Rp. 200

Advertising supplies

Expense PT S Rp.
150

Misc Exp PT S Rp. 200

Income PT S Rp.
350

Income Summary Rp.


350

Keterangan : *) so perkiraan merchandise shipment kepada agen, pada akhir periode akuntansi
dikurangkan dari jumlah cost of available for sale guna menentukan besarnya cost of goods sold.

o Contoh Akuntansi Suatu Agen

Soal :
Ø Pada Tnggal 1 Juli 19 X 9, PT. CC di Bandung membentuk suatu organisasi di purwokerto untuk
bertindak sebagai agen penjualan. Aktiva berikut, dikirim kantor pusat (PT.CC) kepada agen pada
tanggal 1 juli:

Modal kerja untuk operasi (Usaha) di agen dengan sistem

dana tetap Rp. 1.000

Contoh barang dagangan (Samples Rp. 5.000

Barang untuk periklanan (Advertising Materials)

dengan literatur Rp. 1.250

Rp. 7.250

Ø Selama bulan Juli agen mengirimkan daftar penjualan kredit yang disetujui kantor pusat sebesar
Rp. 17.600 ; Harga pokok barang dagangan yang dikirim untuk memenuhi pesanan tersebut sebesar
Rp. 10.500. dalam bulan juli tersebut, kantor pusat telah mengeluarkan biaya-biaya yang
diperuntukan kepada agen, seperti:

Meubel dan Perabot (Furniture and Fixtures) Rp. 2.400

Gaji dan Komisi (Salaries and Commisions) Rp. 1.750

Sewa (Rent) Rp. 800

Rp. 4.950

Ø Pada tanggal 31 Juli 19 X 9 modal kerja (Working Fund) untuk agen di penuhi kembali
(Replenished).

Voucher biaya yang telah dikeluarkan oleh agen terlampir, seperti :

Biaya iklan (Advertising Expense) Rp. 325

Biaya rupa-rupa (Miscellaneous Expense) Rp. 600

Rp. 925

Ø Pada tanggal 31 Juli 19 X 9, informasi berikut digunakan untuk penyesuaian rekening agen, seperti:

Contoh barang dagangan (Agency Samples) akan berguna sampai 31 Des 19 X 9; pada saat ini
mempunyai nilai sisa (Salvage Value) sebesar 40% dari harga pokok (at cost)

Diperkirakan 2/5 barang untuk periklanan dan literatur masih tersimpan

Meubel dan perabot disusutkan selama 5 tahun

Manajer agen menerima bonus sebesar 5 % dari penjualan di atas Rp. 10.000 perbulan, bonus
dibayar kantor pusat setiap triwulan.

Diminta : 1. Siapkan entri jurnal, penyesuaian dan penutup oleh kantor pusat
2. Siapkan perhitungan rugi-laba agen selama bulan juli 19 X 9

Solusi : 1. Entri jurnal, penyesuaian dan penutup

Transaksi Agen Buku-buku Kantor Pusat (PT.CC)

1 Juli 19 X 9

a. Pembentukan modal kerja Rp. 1.000 Working Fund – Agency Rp. 1.000

b. Pengirim contoh barang dagangan Rp. 5.000 Cash Rp. 1.000

c. Pengiriman barang iklan dan literal Rp. 1.250 Samples – Agency Rp. 5.000

1-31 Juli 19 X 9 Merchandise materials – Agency Rp. 5.000

d. Penjualan kredit Rp. 17.600 Advertising Materials – Agency Rp. 1.250

e. Penetapan harga pokok penjualan Rp. Advertising Materials Rp. 1.250


10.500
Accounts Reccivable Rp. 17.600
f. Meubel dan perabot Rp. 2.400
Sales – Agency Rp. 17.600
g. Gaji dan komisi Rp. 1.750
Cost of Goods Sold – Agency Rp. 10.500
h. Sewa Rp. 800
Merchandise Shipment – Agency Rp. 10.500
31 Juli 19 X 9
Furniture and Fixture – Agency Rp. 2.400
i. Penggantian Rp. 925
Salaries and Comission-Agency Rp. 1.750
31 Juli 19 X 9
Rent – Agency Rp. 800
j. Amortisasi contoh barang dagangan :
Cash Rp. 4.950
Harga pokok barang yang di hapus selama 6 bulan
Advertising Expense – Agency Rp. 325
Rp. 5.000 – Rp. 2.000 = Rp. 3.000

Amortisasi bulan juli = 1/6 * Rp. 3.000 = Rp. 500 Miscellancous Expense – Agency Rp. 600

Cash Rp. 925


k. Barang periklanan dan literatur yang dipakai

3/5 * Rp. 1.250 = Rp. 750 Sample Expense – Agency Rp. 500

Samples – Agency Rp. 500


l. Depres asi meubel dan perlengkapan

1 / 60*Rp. 2.400 = Rp 40 Advertising Materials Used-Agency Rp. 750

m.Bonus = 5%*Rp. 17.600 – Rp. 10.000 = Rp. 380 Advertising Materials – Agency Rp. 750

Depreciaton of Furniture &

Fixture – Agency Rp. 40


Accumulated Depr. Furniture

& Fixture – Agency Rp. 40

Salaries and Comission – Agency Rp. 380

Bonus Payment – Agency Manager Rp. 380

31 Juli 19 X 9 – Penutupan Sales – Agency Rp. 17.600

Menutup rekening penghasilan dan biaya agen. Income (Profit and Loss) – Agency Rp. 17.600

Income (Propit and Los) – Agency Rp. 15.645

Cost of Goods Sold – Agency Rp. 10.500

Salaries and Comission-Agency Rp. 2.130

Rent-Agency Rp. 800

Advertising Expense – Agency Rp. 325

Misellaneous Expense – Agency Rp. 600

Sample Expense – Agency Rp. 500

Adveryising meterials Used – Agency Rp. 750

Depreciation of Furniture & Fixture

Agency Rp. 40

Income ( Profit and Loss ) – Agency Rp. 1955

Income ( Profit and loss ) – Summary Rp. 1955

2. Perhitungan Rugi – Laba

PT CC

PURWOKERTO SALES AGENCY

Income Statement

For the month ended Juli 31, 19 X 9

Sales Rp. 17.600

Cost of Goods Sold Rp. 10.500


Gross Profit on Sales Rp. 7.100

Expense :

Salaries and Comission Rp. 2.130

Rent Rp. 800

Advertising Expense Rp. 325

Samples Expense Rp. 500

Advertising Material Used Rp. 750

Depreciation of Furniture & Fixture Rp. 40

Missellaneous Expense Rp. 600

Net income Rp. 5.145

Rp. 1.955

7 – 3 HUBUNGAN KANTOR PUSAT DAN CABANG

ü Operasi Suatu Cabang

a) Beroperasi sebagai unit usaha terpisah, dan di bawah pengendalian kantor pusat.

b) Modal kerja ( berupa uang tunai, barang-barang dagangan, aktiva lainnya ) diberi oleh kantor
pusat.

c) Barang dagangan dapat dibeli dari pihak ketiga, untuk jenis barang yang tersedia dari kantor
pusat.

d) Aktivitas penjualan yang dilaksanakan, dimulai untuk mendapatkan pembeli ; mengirimkan


barang / jasa ; membuat faktur penjualan ; menagih piutang ; menyimpan dalam rekening banknya
sendiri.

e) Pembatasan keleluasaan cabang operasi dapat dilakukan kantor pusat, seperti :

– Penerimaan kas dari hasil penjualan, pengumpulan piutang, setiap harinya harus disetorkan
atas nama rekening kantor pusat dalam jumlah yang utuh.

– Pembentukan dana kas kecil untuk pengeluaran kas di cabang.

ü Akuntansi Suatu Cabang

1. Pencatatan kegiatan kantor cabang dilakukan kantor pusat

Sifat kantor cabang memiliki sifat seperti agen, desentralisasi akuntansi ( = pelaksanaan jurnal, buku
besar atau seperangkat buku yang terpisah ) pada kantor pusat. Pencatatan data akuntansi kantor
cabang diperoleh kantor pusat melalui dokumen asli dan ringkasan memo transaksi yang dilengkapi
voucher, duplikat sebagai arsip cabang.
2. Pencatatan kegiatan kantor cabang dilakukan kantor pusat dan kantor cabang

Pencatatan data akuntansi kantor cabang diperoleh kantor pusat melalui duplikat jurnal, pencatatan
dokumen asli ke dalam jurnal dilakukan oleh kantor cabang. Pencatatan yang dilakukan kantor pusat
ke dalam rekening kantor cabang yang terpisah atau dimasukkan ke dalam buku besar umum kantor
pusat. Pada akhir periosde akuntansi, kantor pusat melakukan penyesuaian (adjusment) dan
menutup pembukuan (closing) rekening kantor cabang untuk menetapkan besarnya laba – rugi
cabang.

3. Pencatatan kegiatan kantor cabang dilakukan kantor cabang

Pencatatan data transaksi ke dalam jurnal dan pemindah pembukuan ke dalam buku besar umum.
Laporan keuangan disusun secara periodik untuk di kirim ke kantor pusat, dan laporan keuangan ini
diperiksa oleh internal auditor kantor pusat. Penyelesaian penutupan saldo buku-buku dilakukan
oleh kantor cabang, maka hubungan kantor cabang dan kantor pusat terlihat sebagai berikut :

a. Kantor Cabang

Digunakan rekening “ Kantor Pusat ( Home Office ) “ untuk penghubung dengan kantor pusat.
Rekening kantor pusat ( Home Office ) ini =

di Debet ( Dr ) : – Untuk pengiriman uang yang dilakukan oleh kantor cabang ke kantor pusat.

– Untuk kerugian operasi kantor cabang.

di Kredit ( Cr ) : – Untuk mencatat uang tunai, barang-barang dan aktiva lainnya yang diterima dari
kantor pusat.

– Untuk laba yang dihasilkan operasi kantor cabang.

Ø Rekening kantor pusat menunjukkan jumlah kewajiban kantor cabang.

b. Kantor Pusat

Digunakan “ Rekening Timbal Balik ( Reciprocal Account ) “ disebut dengan rekening :

– Kantor Cabang ( Branch Office ), atau

– Investasi pada kantor cabang ( Invesment in Branch )

Rekening kantor cabang ini :

di Debet ( Dr ) : – Untuk pengiriman uang, barang-barang dan aktiva lainnya yang diserahkan ke
kantor cabang.

– Untuk laba yang dihasilkan operasi kantor cabang.

di Kredit ( Cr ) : – Untuk pengiriman uang tunai dari kantor cabang.

– Untuk kerugian kantor cabang.

Ø Rekening kantor cabang menunjukkan jumlah investasi kantor pusat.


ü Contoh Akuntansi Suatu Cabang

Pada tanggal 01 Oktober PT SS di Bandung membuka kantor cabang I di Jakarta, dan penambahan
cabang-cabang lain sedang direncanakan. Buku-buku diselenggarakan secara terpisah dipakai
cabang, dan laporan keuangan dikirim ke kantor pusat setiap akhir bulan. Barang dagangan di faktur
dengan harga pokok. Meubeul dan perabot kantor cabang terlihat pada buku-buku kantor pusat.
Kantor cabang dibebani bunga sebesar 6 % untuk investasi kantor pusat pada kantor cabang untuk
setiap awal bulan. Transaksi pada kantor cabang I dicatat pada buku kantor cabang & kantor pusat,
seperti berikut :

Transaksi Cabang Buku Kantor Pusat Buku Kantor Cabang

1 Oktober
Branch ≠ 1 Rp. 6.000 Cash Rp. 6.000
1. Penerimaan kas dari kantor
pusat. Cash Rp. 6.000 Home Office Rp. 6.000

2. Penerimaan barang Branch ≠1 Rp. 12.000 Shipment From Home-


dagangan dari kantor pusat, di
Shipment to Branch ≠1 Rp. Office Rp. 12.000
faktur dengan harga pokok
12.000
Home Office Rp. 12.000
3. Pemebalian meubel dan
Furniture & Fixture,
perabotan oleh kantor cabang Home Office Rp. 3.000
dengan kas, aktiva terlihat pada Branch ≠1 Rp. 3.000
buku kantor pusat Cash Rp. 3.000
Branch ≠1 Rp. 3.000

2-31 Oktober

4. Penjualan kredit – Acc. Reccivable Rp. 6.500

5. Penerimaan piutang – Sales Rp. 6.500

6. Pembayaran untuk biaya- – Cash Rp. 3.500


biaya
Cash Rp. 2.000 Acc. Receivable Rp. 3.500
7. pengiriman uang ke kantor
pusat Branch ≠1 Rp. 2.000 Salaries & Comission-

Branch ≠1 Rp. 500 Expense Rp. 400


8. Pemberitahuan
pembebanan kantor cabang oleh Prepaid Insurance Rp. 35 Rent Expense Rp. 150
pusat:
Dep. Furniture& Miscellaneous Exp. Rp. 200
a. Asuransi aktiva kantor
cabang Rp 35 Fixture, Branch ≠1 Rp. 50 Cash Rp. 750

b. Depresiasi meubel & Taxes Payeble Rp. 25 Home Office Rp. 2.000
perabot Rp 50
Interest Income, Branch Cash Rp. 2.000

≠1 Rp. 90 Interest Expense Rp. 35

Adevertising Expense Rp. 300 Depreciation Expense-


c. Pajak untuk aktiva kantor
cabang Rp 25 Furniture & Fixture Rp. 50

d. Biaya 6% untuk 1 bulan Taxes Expense Rp. 25


untuk investasi pada kantor
cabang pada tanggal 1 Oktober Advertising Expense Rp. 300
Rp 18.000 adalah Rp 90
Interest Exp. Home

Office Rp. 90

Home Office Rp. 500

31 Oktober

9. Entri penyesuaian dan Branch ≠1 Rp. 1.650 Merchandise Summary Rp. 8.400
penutupan
Branch ≠1 income Rp. Income Summary Rp. 8.400
10. Data penyesuaian kantor 1.650
cabang: Persediaan barang Sales Rp. 6.500
Branch ≠1 Income Rp. 1.650
dagangan Rp 8400 Income Summary Rp. 6.500
Income Summary Rp.
1.650 Income Summary Rp. 13.250

Shipment from Home-

Office Rp. 12.000

Salaries & Comission

Exp Rp. 400

Rent Expense Rp. 200

Miscellaneous Exp. Rp. 150

Insurance Expense Rp. 35

Depreciation Expense

Furniture & Fixturs Rp. 50

Taxes Expense Rp. 25

Advertising Expense Rp. 300


Interest Exp. Home

Office Rp. 90

Income Summary Rp. 1.650

Home Office Rp. 1.650

ü Penyusunan Laporan Keuangan kantor Pusat dan kantor Cabang

Laporan Keuangan Kantor Pusat

Penyusunan dilakukan setiap akhir periode fiskal untuk memperlihatkan hasil operasi (perhitungan
rugi laba) dan kondisi keuangan (neraca).

Rekening investasi pada kantor cabang (Invesment in Branch) terlihat sebagai aktiva (Assets) pada
neraca kantor pusat.

Penghasilan masing-masing kantor cabang dapat diperlihatkan pada laporan pendapatan


(perhitungan rugi laba) kantor pusat, seperti :

Net Income From Own Opertion Rp 6.140

Add-Income of Branches:

Net Income-Branch Rp 1.650

Total Income Rp 7.790

Laporan Keuangan Kantor Cabang

Penyusunan dilakukan setiap akhir periode fiskal

Neraca saldo cabang dapat dilampirkan sebagai daftar pendukung saldo investasi pada kantor
cabang.

Perhitungan rugi laba kantor cabang dapat dilampirkan pada laporan pendapatan (perhitungan rugi
laba) kantor pusat

ü Contoh Penyusunan laporan keuangan kantor Cabang

PT. WSL di Jakarta telah membuka usaha (operasi) kantor cabang di purwokerto Neraca Kantor
Cabang 31 Desember 19 X 8 dinyatakan dalam saldo sbb :

BRANCH OFFICE – PURWOKERTO

BALANCE SHEET

Desember

Transaksi-transaksi kantor cabang selama diikhtisarkan sebagai berikut :


a) Penjualan kredit Rp 40.000

b) Pembelian kredit Rp 10.500

c) Barang barang yang diterima dari kantor pusat, difakturkan berdasarkan harga perolehan (at
cost) Rp 20.000

d) Penerimaan dari piutang Rp 38.000

e) Pembayaran untuk utang Rp 10.100

f) Penghapusan piutang Rp 600

g) Pengiriman uang ke kantor pusat Rp 15.000

h) Biaya-biaya yang dibayarkan Rp 12.400

i) Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh kantor pusat dan dibebankan ke kantor cabang Rp
800

j) Dana untuk entry penyesuaian untuk akhir tahun :

Barang dagangan yang tersimpan (saldo) Rp 19.400

Biaya dibayar dimuka, 31 Desember Rp 450

Biaya yang masih harus dibayar (Accrued Exspenses) 31 Desember Rp 200

Piutang yang diperkirakan akan tertagih, 31 Desember Rp 800

Depresiasi selama 19×9 Rp 600

Diminta :

1) Siapkan jurnal untuk mencatat transaksi-transaksi di kator cabang, dan entry penyesuaian
(Adjusment) serta entry penutupan pada akhir tahun buku

2) Siapkan neraca dan perhitungan rugi laba, laporan perubahan rekening kantor pusat untuk
kantor cabang pada dan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 19×9

3) Siapkan jurnal yang diperlukan untuk kantor pusat yang mempengaruhi perkiraan kantor
cabang dalam tahun 19×9

Solusi :

Transaksi Buku-buku kantor cabang Debet Credit

A Accounts Recceivable Rp. 40.000

B Sales Rp. 10.500 Rp. 40.000

C Purchases Rp. 20.000 Rp. 10.500


D Accounts Payable Rp. 38.000 Rp. 20.000

E Merchandise shipment from Home Office Rp. 10.100 Rp. 38.000

F. Home Office Rp. 600 Rp. 10.100

G. Cash Rp. 15.000 Rp. 600

H. Accounts Receivable Rp. 12.400 Rp. 15.000

I. Accounts Payable Rp. 800 Rp. 12.400

J. Cash Rp. 2.900 Rp. 800

Allowance for Doubtful Accounts Rp. 100 Rp. 2.900

Accounts Receivable Rp. 200 Rp. 100

Home Office Rp. 800 Rp. 200

Cash Rp. 600 Rp. 800

Expenses Rp. 600

Cash

Expenses

Home Office

Merchandise Inventory

Proit and Loss Summary

Prepaid Expense

Expenses

Accrued Expense

Expenses

Expense

Allowance for Doubtful Accounts

Expenses

Accumulated Depreciation

Sales Rp. 40. 000

Profit and Los Sumarry Rp. 44.500 Rp. 40.000


Profit and Loss Rp. 1.650 Rp. 10.500

Purchases Rp. 20.000

Merchandise Shipment from Home Office Rp. 14.050

Expenses Rp. 1.650

Home Office

Profit and Loss

· Di komputasi

Balance of Home Office Account, Dec 31, 19 x 9

Rp. 34.400

ü Penyusunan Laporan Keuangan Gabungan Kantor Pusat dan Kantor Cabang

Tujuan Penyusunan Penggabungan Laporan Keuangan

Penggabungan laporan keuangan ( Neraca dan Perhitungan Rugi Laba ) kantor pusat dan kantor
cabang dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara menyaluruh dari suatu unit usaha, yang
diperlukan para pemegang saham, kreditur dan kantor-kantor pajak.

Persiapan Penggabungan Laporan Keuangan

Persiapan penggabungan laporan keuangan harus memperhatikan rekening-rekening ( account ) yang


bersifat timbal balik ( reciprocal ). Rekening-rekening reciprocal harus dihapuskan ( Elimination ) pada
neraca dan perhitungan rugi laba, yaitu :

a. Eliminasi untuk rekening-rekening reciprocal pada neraca

1. Rekening kantor pusat di dalam neraca kantor cabang & rekening kantor cabang di dalam
neraca kantor pusat.

2. Rekening hutang dan piutang kantor pusat dan kantor cabang.

b. Eliminasi untuk rekening-rekening reciprocal pada perhitungan rugi laba

1. Rekening pengiriman barang dagangan ke kantor cabang di dalam perhitungan rugi laba kantor
pusat dan rekening pengiriman barang dagangan dari kantor pusat di dalam perhitungan rugi laba
kantor cabang.
2. Rekening pendapatan dan biaya lainnya yang terjadi akibat transaksi di antara kantor pusat dan
kantor cabang.

Ilustrasi

PT SS

COMBINED BALANCE SHEET FOR HOME OFFICE AND BRANCH

Oktober 31, 19 x 6

Assets Liabilities and Stockholder Equity

Cash Rp. 10.000 Liabilities

Accounts Receivable Rp. 21.000 Accounts Payable Rp. 23.300

Merchandise Inventory Rp. Taxes Payable Rp. 200


38.400 Total Liabilities Rp. 23.500
Prepaid Insurance Rp. 150 Stockholder Equity

Furniture & Fixture Rp. 17.000 Capital Stock Rp. 25.000


Less : Accum Depr Rp. 9.150 Rp. 7.850 Rtained Earning Rp. 28.800 Rp.. 53.900
Total Assets Rp. 77.400 Total Liabilities & Stockholders Equity Rp. 77.400

PT SS

WORK SHEET FOR COMBINED INCOME STATEMENT

For Month Ended Oktober 31, 19 x 6

Elimination Combined
Home Office Branch ¹ 1 Income
Dr Cr Statement

Sales 24.000 6.500 30.500

Cost Of Goods Sold : 38.000 12.000 12.000 12.000 38.000

Merchandise Inventory, Oktober 1 16.000 12.000 90 90 16.000


54.000
Purchases – 8.100 12.090 12.090

Shipment from Home Office 54.000 3.600
54.000
Less : Shipment to Branch ¹ 1 12.000 2.900
38.100
Merchandise Available for Sale 42.000 400
Less : Merchandise Inventory, Oktober 31 30.000 200 15.600

Cost of Goods Sold 12.000 300 14.900

Gross Profit 12.000 50 2.300

Expense : 1.900 35 1.200

Salaries & Commision Expense 1.000 25 1.100

Rent Expense 800 150 450

Advertising Expense 400 1.160 285

Depreciation Expense – Furniture & Fixture 250 1.740 175

Insurance Expense 150 90 1.600

Taxes Expense 1.450 1.650 7.110

Miscelaneous Expense 5.950 7.790

Total Expense 6.050 –

Operating Income 90 –
6.140
Addition : Interest Income, Branch ¹ 1 7.790

Deduct : Interest Expense, home Office

Net Income

PT SS

COMBINED INCOME STATEMENT FOR HOME OFFICE AND BRANCH

For Month Ended Dec 31, 19 x 9

Sales Rp. 30.500

Cost Of Goods Sold Rp. 38.000 Rp. 2.300 Rp. 15.600

Merchandise Inventory October 1 Rp. 16.000 Rp. 1.200 Rp. 14.900

Purchases Rp. 54.000 Rp. 1.100 Rp. 1.700

Merchandise Available For Sale Rp. 38.400 Rp. 450 Rp. 7.790

Less : Merchandise Inventory, October 31 Rp. 285

Gross Profit Rp. 175

Expense : Rp. 1.600


Salaries & Comission Expense

Rent Expense

Advertising Expense

Depreciation Expense – Furniture & Fixture

Insurance Expense

Taxes Expense

Miscelanious expense

Net Income

BAB VIII HUBUNGAN KANTOR PUSAT DAN KANTOR CABANG – PROSEDUR KHUSUS ( HOME OFFICE
AND BRANCH RELATIONSHIP – SPECIAL PROBLEM )

1. PERSOALAN KHUSUS AKUNTANSI

2. PENGIRIMAN UANG TUNAI ANTAR CABANG

3. PENGIRIMAN BARANG DAGANG ANTAR CABANG

PENGIRIMAN BARANG KE KANTOR CABANG, DIFAKTURKAN DI ATAS HARGA POKOK

PENGIRIMAN BARANG KE KANTOR CABANG, DIFAKTURKAN DENGAN HARGA JUAL ECERAN

LAPORAN KEUANGAN GABUNGAN ( COMBINED STATEMENT )

CH 8 HUBUNGAN KANTOR PUSAT DAN KANTOR CABANG – PROSEDUR KHUSUS ( HOME OFFICE &
BRANCH RELATIONSHIP – SPECIAL PROBLEM )

Ø Persoalan Khusus Akuntansi

Pengiriman uang tunai antar cabang ( Interbranch Transfer of Cash )

Pengiriman barang dagangan antar cabang ( Interbranch Transfer of Merchandise )

Pengiriman barang dagangan ke kantor cabang dengan faktur :

a. Harga melebihi harga pokok ( cost )

b. Harga penjualan eceran

Merchandise Shipment to Branches Involving Billing at arbitrary rates above cost or at Retail Sales
Prices

Ø Pengiriman Uang Tunai Antar Cabang

Hubungan Umum : Kantor cabang mempunyai hubungan dengan kantor pusat dan pihak
luar untuk transaksi kas.
Hubungan khusus : Kantor pusat dapat meminta dan menyetujui kepada satu kantor cabang
mengirim uang tunai ke kantor cabang lainnya.
BRANCH OFFICE ¹ 1

BRANCH OFFICE ¹2

Transfer of cash

Ilustrasi :

♦ Permintaan kantor pusat kepada kantor cabang ¹ 1 untuk mengirimkan uang tunai Rp 1.000 kepada kantor
cabang ¹ 2.

♦ Pencatatan pengiriman uang tunai pada buku-buku kantor pusat dan cabang.

Home Office Branch ¹ 1 Branch ¹ 2

Branch ¹ 2 Rp. 1.000 Home Office Rp. 1.000 Cash Rp. 1.000

Branch ¹ 1 Rp. 1.000 Cash Rp. 1.000 Home Office Rp. 1.000

♦ Apabila prosedur ini diikuti, maka penyesuaian antara masing-masing kantor cabang tidak diperlukan.
Seluruh tanggung jawab kantor cabang sebagai unit usaha yang berafiliasi nantinya diikhtisarkan ke dalam
masing-masing perkiraan / rekening pada buku kantor pusat.

Ø Pengiriman Barang Dagang Antar Cabang

♦ Hubungan Umum : Kantor pusat menyediakan barang dagangan untuk masing-masing kantor cabang.

♦ Hubungan Khusus : Kantor pusat dapat meminta dan menyetujui pengiriman barang dagangan dari satu
kantor cabang ke kantor cabang lainnya.

♦ Masalah Khusus : “ Biaya Angkut ( Freight Charges ) “

Yang dibebankan kepada dan dibayar oleh kantor cabang yang Mengirim ; kepada kantor cabang yang
menerima, serta perhitungan pembebanan biaya angkut di kantor pusat, diantaranya :

a) Kantor cabang yang mengirim barang dagangan membayar biaya angkut dan memperhitungkan sebagai
beban kantor pusat.

b) Kantor cabang yang menerima barang dagangan dibebankan biaya angkut yang normal, seperti halnya
menerima barang dagangan dari kantor pusat.

c) Kantor pusat memperhitungkan biaya angkut untuk pengiriman barang antar cabang ke dalam rekening :

“ Kelebihan biaya angkut untuk pengiriman barang dagang antar kantor cabang “ – Excess Freight on
Interbranch Transfer of Merchandise.

Yaitu : Kelebihan biaya angkut dari biaya angkut yang normal !.

Dalam penyusunan perhitungan rugi-laba kantor pusat, rekening “kelebihan biaya angkut untuk pengiriman
barang dagangan antar kantor cabang”
dilaporkan sebagai subtraksi dari
ikhtisar pendapatan kantor
cabang (Summary of Branch
Earnings) dibagian bawah dari
perhitungan rugi-laba.

Home Office → excess Freight

Anda mungkin juga menyukai