Anda di halaman 1dari 8

A.

Judul
Peningkatan Keterampilan Menulis Prosa Deskripsi melalui Model Deskripsi Obyek Riil
(DOR) pada Siswa Kelas V SD
B. Bidang kajian
Strategi Pembelajaran
C. Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD/MI dalam
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk
satuan pendidikan dasar dan menengah bahwa standar kompetensi bahasa Indonesia
merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan
penguasaan, pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan
sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk
memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional dan global
Tujuan mata pelajaran bahasa Indonesia adalah diharapkan membantu peserta didik
mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain. Dengan berbahasa dapat
mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat dan menemukan
serta mrenggunakan kemapuan analisis dan imajinatif. Adapun tujuan utama pembelajaran
bahasa Indonesia adalah Ruang lingkup dalam pembelajaran bahasa Indonesia mencakup
mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan menulis sebagai salah
satu dari empat keterampilan berbahasa mempunyai peranan yang sangat penting di dalam
kehidupan manusia
Berdasarkan temuan Depdiknas (2007), dari hasil penelitian tersebut menunjukkan
bahwa masih banyak permasalahan pelaksanaan standar isi mata pelajaran bahasa
indonesia. Guru dalam menerapkan pembelajaran lebih menekankan pada metode yang
mengaktifkan guru, pembelajaran yang dilakukan guru kurang kreatif, lebih banyak
menggunakan metode ceramah dan kurang mengoptimalkan media pembelajaran.
Sehingga siswa
Fenomena pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia tersebut diatas, merupakan
gambaran yang terjadi di SD Berdasarkan refleksi awal dengan tim kolaborasi yang
dilakukan pada dan observasi pada bahwa pembelajaran bahasa Indonesia pada aspek
keterampilan menulis prosa masih belum optimal, karena guru kurang menggunakan
model pembelajaran menulis yang bervariasi, sehingga siswa kurang aktif, cepat merasa
bosan dan penggunaan media pembelajaran masih kurang.
1. Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah tersebut dapat dirinci sebagai berikut :
a. Apakah model pembelajaran DOR dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam
keterampilan menulis prosa deskripsi siswa SD kelas ........?
b. Apakah model pembelajaran DOR dapat meningkatkan keterampilan menulis prosa
deskripsi siswa kelas...?
2. Tujuan Penilitian
Adapun tujuan umum penelitian ini adalah :
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa indonesia pada siswa kelas V SD
Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah :
1. Mendeskripsikan peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran menulis prosa
deskripsi dengan menggunakan model pembelajaran DOR.
2. Mendeskripsikan peningkatan keterampilan guru dalam pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran DOR
3. Meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis prosa deskripsi.
A. Penerapan Metode Diskusi Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar IPS Pada
Siswa SD Kelas V
B. Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah
Sistem pendidikan di Indonesia ternyata telah mengalami banyak perubahan.
Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan
dalam pendidikan. Akibat pengaruh itu pendidikan nasional semakin mengalami
kemajuan, pendidikan di sekolah-sekolah telah menunjukkan perkembangan yang
sangat pesat. Perkembangan itu terjadi karena terdorong adanya pembaharuan
tersebut, sehingga di dalam pengajaranpun guru selalu ingin menemukan metode dan
peralatan baru yang dapat memberikan semangat belajar bagi semua siswa. Bahkan
secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pembaharuan dalam sistem pendidikan
nasional yang mencakup seluruh komponen yang ada. Pembangunan di bidang
pendidikan nasional barulah ada artinya apabila dalam pendidikan dapat dimanfaatkan
sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa Indonesia yang sedang membangun.
Tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara
yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian melalui pendidikan
diharapkan dapat meningkatkan kualitas kehidupan pribadi maupun masyarakat, serta
mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan professional.
Untuk tercapainya tujuan Pendidikan Nasional tersebut, telah ditempuh
berbagai upaya oleh pemerintah. Upaya-upaya tersebut hampir mencakup seluruh
komponen pendidikan seperti pengadaan buku-buku pelajaran, peningkatan kualitas
guru, proses pembelajaran, pembaharuan kurikulum, serta usaha lainnya yang
berkaitan dengan kualitas pendidikan.
Dewasa, ini telah terjadi pergeseran pola sistem mengajar yaitu dari guru yang
mendominasi kelas menjadi guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.
Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, guru harus menciptakan kondisi
belajar yang aktif dan kreatif. Kegiatan pembelajaran harus menantang, mendorong
eksplorasi member pengalaman sukses, dan mengembangkan kecakapan berfikir
siswa (Dimyati, 2006:116).
Penggunaan media dan metode pembelajaran yang dipilih guru merupakan salah
satu cara meningkatkan kualitas pembelajaran. Hamalik (2001:32) juga menyatakan
bahwa, “untuk lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa
dalam proses pendidikan dan pengajaran, di sekolah perlu digunakan metode dan
teknik pembelajaran yang tepat”.
Berdasarkan pendapat teersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas
pembelajaran akan meningkat jika guru mampu menciptakan kondisi belajar yang
aktif, kreatif, dan mengefektifkan komunikasi interaksi guru dan siswa menggunakan
metode diskusi dengan media pembelajaran yang tepat.
Namun, kenyataan menunjukkan bahwa penerapan metode diskuis dan
penggunaan media belum tampak diterapkan secara optimal. Hal ini ditunjukkan oleh
tindakan guru pada saat mengajar. Guru hanya menggunakan buku pegangan yang
ada dan hanya mengandalkan metode ceramah, tanpa menggunakan media yang
sesuai dengan materi. Akibatnya keaktifan, partisipasi, dan hasil belajar siswa menjadi
rendah.
Keaktifan dan hasil belajar siswa yang rendah, khususnya pada mata pelajaran
IPS merupakan permasalahan yang muncul dalam kegiatan pembelajaran.
Permasalahan dalam kegaiatan pembelajaran dapat ditinjau dari beberapa aspek.
Ditinjau dari aspek siswa, yang mempengaruhi hasil belajar muncul dari factor
internal dan eksternal. Menurut (Dimyati, 2006:200) “faktor internal siswa meliputi
sikap terhadap belajar, motivasi berprestasi, konsentrasi belajar, mengolah bahan
belajar, menyimpan perolehan hasil belajar, menggali hasil belajar yang tersimpan,
kemampuan berprestasi, kebiasaan belajar dan cita-cita siswa, sedangkan faktor
eksternal dapat berupa guru, sarana dan prasarana, kebijakan penilaian, lingkungan
social, dan kurikulum sekolah”.
Karena rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa kelas V SD khususnya
mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial , maka dilaksanakan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) denga judul: Penerapan Metode Diskusi Untuk Meningkatkan Keaktifan
dan Hasil Belajar IPS Pada Siswa SD Kelas V. Metode ini mampu meningkatkan
kemungkinan berpikir kritis, partisipasi, demokratis, mengembangkan sikap,
motivasi, dan kemampuan berbicara. Dengan menerapkan metode diskusi diharapkan
dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa SD kelas V khususnya mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka penelitian ini
difokuskan pada permasalahan pokok sebagai berikut.
a. Apakah penerapan metode diskusi dapat meningkatkan keaktifan belajar Ilmu
Pengetahuan Sosial pada siswa kelas V SD?
b. Apakah penerapan metode diskusi dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu
Pengetahuan Sosial pada siswa kelas V SD?
3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Untuk mengetahui peningkatan keaktifan belajar setelah penerapan metode
diskusi, dan penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial.
b. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar setelah penerapan metode diskusi,
dan penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
A. Pemanfaatan lingkungan alam sekitar sebagai sumber belajar dapat meningkatkan kualitas
belajar IPA bagi siswa kelas VI
B. Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang memperlukan usaha dan dana
yang cukup besar, hal ini diakui oleh semua orang atau suatu bangsa demi
kelangsungan masa depannya. Demikian halnya dengan Indonesia menaruh harapan
besar terhadap pendidik dalam perkembangan masa depan bangsa ini, karena dari
sanalah tunas muda harapan bangsa sebagai generasi penerus dibentuk.

Meski diakui bahwa pendidikan adalah investasi besar jangka panjang yang
harus ditata, disiapkan dan diberikan sarana maupun prasarananya dalam arti modal
material yang cukup besar serta usaha yang tekun, tetapi sampai saat ini Indonesia
masih berkutat pada problemmatika ( permasalahan ) klasik dalam hal ini yaitu
kualitas pendidikan. Problematika ini setelah dicoba untuk dicari akar
permasalahannya adalah bagaikan sebuah mata rantai yang melingkar dan tidak tahu
darimana mesti harus diawali.

Sekolah adalah merupakan salah satu mata rantai tersebut yang memiliki
peranan dan tanggung jawab yang sangat penting dalam mempersiapkan warga negara
yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Upaya yang dapat dilakukan adalah menyelenggarakan program
pendidikan yang memberikan berbagai kemampuan sebagai seorang warga negara
melalui berbagai mata pelajaran termasuk salah satunya Ilmu Pengetahuan Alam (
IPA )

Kemampuan dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian hasil belajar yang
dicantumkan dalam Standar Nasional merupakan bahan minimal yang harus dikuasai
siswa. Oleh karena itu, di daerah, sekolah atau guru dapat mengembangkan,
menggabungkan, atau menyesuaikan bahan yang disajikan dengan situasi dan kondisi
setempat. Realitanya hasil belajar siswa dalam materi IPA belum menunjukkan hasil
yang diinginkan.

Salah satu Standar kompetensi yang masih rendah hasil capaiannya adalah
memahami cara perkembangbiakan mahkluk hidup. Dari empat standar kompetensi
yang ada pada standar kompetensi ini, kompetensi dasar yang perlu ditingkatkan
kualitas pembelajarannya adalah mengidentifikasikan cara perkembangbiakan
tumbuhan dan hewan. Kondisi itulah yang terlihat di dalam hasil belajar siswa kelas
VI.

Hal itu dapat diketahui dari rata-rata nilai harian siswa. Pada satu kali ulangan
harian dan satu kali nilai tugas yang diadakan guru dengan kompetensi dasar
mengidentifikasi cara perkembangbiakan tumbuhan dan hewan menunjukkan 60%
siswa mendapatkan nilai kurang dari 60.Hasil nilai tersebut dikatakan rendah karena
belum bisa mencapai KKM yang telah ditentukan yaitu 60.Nilai – nilai tersebut dapat
diartikan, bahwa pemahaman siswa terhadap kompetensi dasar tersebut relatif masih
rendah.

Sebelum penelitian ini dilakukan, guru memang belum mengoptimalkan


berbagai sumber belajar bermakna yang bisa meningkatkan kualitas hasil belajar
siswa pada kompetensi dasar tersebut. Guru sebatas menggunakan metode ceramah
serta penugasan kepada siswa. Dalam kegiatan belajar mengajar guru hanya
memberikan paparan materi dan contoh- contoh di papan tulis, kemudian memberikan
tugas untuk mengerjakan soal.

Dari uraian diatas, tanpa disadari siswa dan guru hanya melakukan rutinitas
yang sama setiap belajar IPA, karena guru belum mengoptimalkan sumber belajar
yang ada yang bisa memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada siswa,
sehingga kualitas pembelajaran IPA masih belum bisa memuaskan. Salah satu cara
yang bisa memberikan pengalaman belajar bermakna bagi siswa sehingga nantinya
diharapkan bisa meningkatkan kualitas pembelajaran IPA pada kompetensi dasar
mengidentifikasi cara perkembangbiakan tumbuhan dan hewan ini adalah dengan
mengoptimalkna pemanfaatan sumber belajar dari lingkungan alam sekitar. Sumber
belajar tersebut di pilih karena di lingkungan alam sekitar banyak tersedia tumbuhan
dan hewan yang bisa di jadikan sebagai sumber belajar dan juga bisa menjadi contoh
nyata untuk menanamkan konsep pada siswa tentang kompetensi dasar tersebut.

2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana tersebut di atas, maka
rumusan permasalahan yang diajukan dalam proposal ini adalah:
Apakah melalui Pemanfaatan lingkungan alam sekitar sebagai sumber belajar dapat
meningkatkan kualitas belajar IPA bagi siswa kelas VI?

3. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Memberikan masukan bagi guru dan siswa untuk meningkatkan kualitas belajar
IPA melalui pemanfaatan sumber belajar lingkungan alam sekitar
2. Tujuan Khusus
Untuk meningkatkan kualitas hasil belajar siswa dalam kompetensi dasar
mengidentifikasi cara perkembangbiakan tumbuhan dan hewan kelas VI
A. JUDUL PENELITIAN

PENGGUNAAN ALAT PERAGA ALAMIAH UNTUK MENINGKATKAN


PEMAHAMAN SISWA KELAS IV SDN KARANGASEM I TENTANG MATERI
BAGIAN-BAGIAN TUMBUHAN PADA PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM ( IPA )

B. BIDANG KAJIAN

Bidang Kajian dalam penelitian ini difokuskan pada permasalahan Penggunaan


Alat Peraga Alamiah pada Pembelajaran IPA

C. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Semua guru atau siswa pasti selalu mengharapkan agar setiap proses belajar
mengajar dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya. Guru mengharapkan
agar siswa dapat memahami setiap materi yang diajarkan , siswapun mengharapkan
agar guru dapat menyampaikan atau menjelaskan pelajaran dengan baik, sehingga
memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Akan tetapi harapan–harapan itu tidak
selalu dapat terwujud. Masih banyak siswa yang kurang memahami penjelasan
guru. Ada siswa yang nilainya selalu rendah, bahkan ada siswa yang tidak bisa
mengerjakan soal atau jika mengerjakan soalpun jawabannya asal–asalan. Semua
itu menunjukkan bahwa guru harus selalu mengadakan perbaikan secara terus
menerus dalam pembelajarannya, agar masalah–masalah kesulitan belajar siswa
dapat diatasi, sehingga hasil belajar siswa mencapai tujuan yang diharapkan.

Masalah – masalah yang dialami oleh siswa dalam pembelajaran tidak


muncul begitu saja, tetapi ada faktor–faktor penyebabnya. Apabila guru mampu
mengidentifikasi penyebab timbulnya masalah yang dialami oleh siswa , maka
guru tersebut akan dapat melakukan penanganan–penanganan yang tepat dalam
memecahkan masalah pembelajarannya. Contoh masalah yang sering muncul
dalam pembelajaran yaitu siswa kurang memahami penjelasan guru, siswa tidak
mengerti kata, kalimat, bentuk kalimat, yang diucapkan ataupun yang ditulis. Hal
Ini mungkin karena penjelasan guru tidak disertai alat peraga atau alat peraga
kurang atau bahkan tidak sesuai.

Sejujurnya penggunaan alat peraga untuk pembelajaran IPA di SD jarang


bahkan hampir tidak pernah digunakan oleh guru-guru SD, padahal alat peraga itu
ada. Akhirnya alat peraga itu hanya jadi pajangan kantor atau tersimpan rapi di
lemari. Alat peraga IPA tidak perlu mahal, kita bisa menemukannya di sekitar kita
seperti kebun sekolah, sawah, sungai, dan semua yang kita lihat di alam raya ini.
Oleh karena itu tugas PTK yang kami laksanakan ini mencoba mengambil tema “
Penggunaan Alat Peraga Alamiah Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa
Terhadap Materi Bagian–Bagian Tumbuhan dalam Pembelajaran IPA di SD
Karangasem I.” Tentu saja alat peraga yang baik harus ditunjang oleh metode yang
sesuai dengan materi pelajaran.
D. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH

Berdasarkan hasil analisis yang mengungkap berbagai penyebab munculnya


masalah kekurang-berhasilan pembelajaran IPA tersebut di atas, maka masalah yang
menjadi fokus pebaikan itu dapat dirumuskan sebagai berikut:

“Bagaimana cara mengaktifkan, memotivasi, memusatkan perhatian, memberi


pertanyaan, membimbing diskusi, agar mampu meningkatkan pemahaman dan hasil
belajar siswa kelas IV dalam pelajaran IPA”.

E. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan umum

Kegiatan penelitian ini secara umum bertujuan untuk mendeskripsikan dan


menemukan kebenaran penggunaan alat peraga alamiah pada pembelajaran IPA
dapat menjelaskan, memotivasi, memusatkan perhatian, serta membantu
meningkatan pengetahuan dan pemahaman siswa.