Anda di halaman 1dari 5

Tugas Membuat Kliping Cerita Legenda

Nama: Kholifah Rahayu Fitri


Kelas/no. Absen: VII F/10
Cerita Jaka Tarub dan 7 Bidadari

Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang pemuda yang bernama Jaka Tarub. Jaka
Tarub tinggal sendirian di sebuah rumah di pinggir hutan. Sehari-hari, ia menghabiskan
waktunya dengan memancing.

Hasil pancingannya itu dijual untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan ibunya.

"Ah, lebih baik aku memancing di sungai dalam hutan. Pasti ikan di sana lebih banyak,
karena tak ada yang mau memancing di sana," ucap Jaka Tarub.

Jaka Tarub pun langsung menuju ke hutan. Benar raja, hutan sangat sepi. Hanya ada
binarang di sana.

Tanpa membuang waktu, Jaka Tarub langsung melempar kailnya. Tiba-tiba, Jaka Tarub
dikejutkan dengan tujuh warna yang melengkung di langit. Warna-warna itu mendarat di
ujung sungai tempatnya memancing. Karena penasaran, Jaka Tarub mengejar tujuh
warna itu.

"Warna apa itu? Sangat indah." decak Jaka Tarub, merasa kagum.

Olala, betapa terkejutnya Jaka Tarub. Di ujung tujuh warna itu, ada tujuh wanita cantik
yang sedang bermain air di sungai. Aroma mereka sangat wangi.

Ya! Mereka adalah tujuh bidadari dari kayangan. Jaka Tarub pun memperhatikan ketujuh
bidadari itu dari semak-semak, agar mereka tak melihatnya.

"Cantik sekali mereka. Andai aku bisa menikah dengan salah satu dari mereka," gumam
Jaka Tarub.

Aha! Jaka Tarub mempunyai ide. Dengan perlahan, Jaka Tarub mendekat ke sungai. Ia
mengambil salah satu selendang milik bidadari. Kemudian, ia menyimpan selendang itu
Di batik bajunya
Hari semakin sore. Tampaknya Para bidadari sudah lelah bermain air.

"Sudah sore, saudariku. Kita harus kembali ke kayangan," ucap bidadari tertua.

Mereka pun bersiap untuk kembali terbang ke kayangan. Namun,salah satu bidadari
tampak kebingungan. Ia mencari sesuatu.

"Selendangku hilang, saudariku. Aku tak mungkin bisa kembali ke kayangan tanpa
selendangku. Selendang itulah yang bisa membuat kita terbang," ujar bidadari yang
kehilangan selendangnya. Ia tampak panik.

"Kita tak mungkin menunggu di sini. Pasti Ayahanda mencari kita," sahut bidadari yang
lain.

Akhirnya, keenam bidadari meninggalkan bidadari yang selendangnya hilang seorang


diri.

Bidadari itu sekarang sendirian. Ia terlihat sangat sedih. Jaka Tarub pun mendekati
bidadari itu.

"Wahai, gadis. Siapakah namamu? Mengapa engkau bersedih?" tanya Jaka Tarub.
"Namaku Nawang Wulan. Aku bersedih, karena tak bisa kembali ke rumahku di
kayangan," jawab Nawang Wulan.

"Apakah kau seorang bidadari?" tanya Jaka Tarub lagi.

Nawang Wulan mengangguk. Jaka Tarub pun mengajak Nawang Wulan ke rumahnya.
Karena tak tahu lagi harus tinggal di mana, Nawang Wulan menerima ajakan Jaka
Tarub.

Jaka Tarub dan Nawang Wulan Menikah

Jaka Tarub dan Nawang Wulan akhirnya menikah. Mereka hidup dengan bahagia. Jaka
Tarub bekerja di sawah, sedangkan Nawang Wulan mengurus rumah.

Bertahun-tahun hidup berkeluarga, ada satu hal yang membuat Jaka Tarub merasa
heran. Padi di lumbung tak pernah habis. Padahal, setiap hari padi dimasak.

Suatu pagi, ketika Jaka Tarub hendak pergi bekerja, ia bertanya kepada Nawang Wulan.

"Istriku, aku heran. Mengapa padi di lurnbung kita selalu banyak? Padahal, setiap hari
kita memasaknya," tanya Jaka Tarub.

Nawang Wulan tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Tentu saja Jaka Tarub menjadi
semakin penasaran.

Pada suatu pagi yang cerah, Nawang Wulan hendak pergi ke sungai.

"Aku hendak mencuci baju. Jangan sekali kali membuka tudung masakanku," pesan
Nawang Wulan kepada Jaka Tarub.

Tapi, Jaka Tarub justru menjadi penasaran. Begitu Nawang Wulan pergi ke sungai,
diam-diam ia membuka tudung masakan istrinya, Jaka Tarub terkejut. Hanya ada
segenggam padi di dalamnya. Pantas saja padi di lumbung tak kunjung habis.

Jaka Tarub Melanggar Janji

Tak selang berapa lama, Nawang Wulan kembali. Ia bergegas melihat nasi yang
dimasaknya. Nawang Wulan tak kalah terkejut, karena segenggam padi yang
dimasaknya masih berwujud sama. Ia pun menanyakan hal itu kepada Jaka Tarub.

"Iya, aku melihatnya. Aku minta maaf, karena tidak mendengarkan perintahmu," ucap
Jaka Tarub.
Nawang Wulan tak bisa berbuat apa-apa. Sekarang, ia harus bekerja lebih giat karena
kekuatan bidadarinya telah lenyap. Berkat kekuatannya itulah, segenggam padi bisa
menjadi nasi yang banyak dan padi di lumbung tak kunjung habis.

Berbulan-bulan berlalu. Sekarang, padi di lumbung cepat sekali habis. Saat Nawang
Wulan mengambil padi untuk dimasak, ia menyentuh sesuatu di dasar lumbung.
Alangkah terkejutnya Nawang Wulan saat mendapati sesuatu yang ia ambil dari dasar
lumbung adalah sebuah selendang.

"Bukankah ini selendangku?" ucap Nawang Wulan sambil meraba selendang itu.

Benar, itu adalah selendangnya. Bersamaan dengan itu, Jaka Tarub datang. Melihat
Nawang Wulan telah menemukan selendangnya, Jaka Tarub meminta maaf kepada
Nawang Wulan.

Tapi, Nawang Wulan sudah tak percaya kepada Jaka Tarub.

Nawang Wulan memakai selendangnya, lalu kembali ke kayangan.

Sementara Jaka Tarub hanya bisa menyesal. Kini, Jaka Tarub kembali sendirian,