Anda di halaman 1dari 6

JPIS, Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Vol. 24, No.

2, Edisi Desember 2015 161

PENERAPAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM BUDAYA


MASYARAKAT KAMPUNG ADAT CIREUNDEU SEBAGAI SUMBER
PEMBELAJARAN IPS
Triani Widyanti, Prodi Pendidikan IPS, SPs, UPI

ABSTRAK
Pembelajaran IPS melalui penerapan nilai-nilai kearifan lokal merupakan suatu upaya untuk
menanamkan rasa kepedulian terhadap sesama, meluaskan pengetahuan tentang budaya
bangsa, serta merupakan bagian dari upaya untuk meminimalisir dampak negatif dari arus
globalisasi yang tidak lagi dapat dihindarkan dewasa ini. Berbagai permasalahan tersebut,
tentu saja memerlukan pemecahan, karena dampak globalisasi akan menjadi ancaman yang
serius bagi generasi muda bangsa apabila mereka tidak didasari oleh kesadaran akan
pentingnya nilai-nilai adat dan tradisi yang berlaku dalam lingkungannya. Fokus kajian dari
penelitian ini adalah dikhususkan pada proses ketahanan pangan yang menjadi ciri khas dari
masyarakat kampung adat Cireundeu. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode etnografi.
Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukan bahwa kearifan lokal dalam upaya
menjaga ketahanan pangan yang dilakukan oleh masyarakat kampung adat Cireundeu yang
menjadi salah satu nilai budayanya telah mampu hidup berkembang dalam masyarakat adat
tersebut selama ratusan tahun yakni terhitung sejak 1918 hingga saat ini. Kemampuan mereka
menjaga ketahanan pangan tersebut tidak lepas dari proses pewarisan budaya yang tetap
terjaga dari generasi ke generasi. Nilai budaya tersebut dinilai tidak hanya dapat berkembang
didalam budaya mereka saja, akan tetapi dapat berlaku pula pada seluruh umat manusia.
Dengan demikian, nilai-nilai budaya lokal tersebut dapat dijadikan sebagai sumber
pembelajaran IPS, dengan tujuan untuk menjadikan pembelajaran IPS menjadi lebih bermakna
bagi para peserta didik.
Kata kunci: kearifan lokal dalam menjaga ketahanan pangan sebagai sumber pembelajaran IPS.

PENDAHULUAN perkataan lain bahwa IPS membantu kita


Pendidikan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) untuk memahami bagaimana hidup bersama
merupakan salah satu pendidikan yang dengan yang lain, seperti bertetangga dan
memiliki peran penting di dalam upaya berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga
pembentukan karakter dan penerapan nilai- secara garis besar kita mampu memupuk rasa
nilai bagi terciptanya manusia Indonesia yang kepedulian dengan masalah-masalah sosial,
seutuhnya. Penerapan dan pembentukan baik dimulai dari keluarga maupun secara
karakter tersebut menjadi ciri budaya masya- lebih luas yaitu masalah sosial dalam
rakat Indonesia yang tentu saja merupakan masyarakat. Sesuai Kurikulum 1994 bahwa
sebuah akumulasi dari nilai-nilai lokal masing- IPS berfungsi untuk mengembangkan kemam-
masing suku bangsa yang ada di Indonesia. puan dan berpikir rasional tentang gejala-
Upaya tersebut merupakan bagian dari proses gejala sosial, mengembangkan negara dan
pembelajaran IPS. masyarakat Indonesia baik masa lalu dan masa
Dalam Depdikbud (1993) Ilmu Penge- kini. Adapun tujuan dari Ilmu Pengetahuan
tahuan Sosial hakikatnya adalah memberikan Sosial (IPS) menurut Effendi (2006 hlm 54)
kita pelajaran kepada kita semua tentang yang diajarkan di berbagai tingkat atau jenjang
bagaimana seharusnya hidup bersama. Dengan pendidikan adalah untuk mempersiapkan dan
Triani Widyanti, Penerapan Nilai-Nilai Kearifan Lokal… 162

mengembangkan peserta didik menjadi bagian pembelajaran yang berlandaskan pada bahan
bangsa dan anggota masyarakat yang baik. ajar yang lebih menarik, IPS akan jauh lebih
Berkaitan dengan tujuan dari IPS tersebut menyenangkan dan lebih bermakna.
terdapat beberapa aspek yang medukungnya, Salah satu nilai-nilai kearifan lokal yang
yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, dapat dikembangkan sebagai bahan belajar IPS
dan aspek nilai dan sikap. tentunya dipilih berdasarkan keunikan dan
Menurut Hasan (2010, hlm 8) bahwa: nilai-nilai sosial yang diharapkan mampu
Pendidikan IPS selalu mendapatkan sorotan membantu peserta didik melihat dan mem-
tajam sebagai mata pelajaran yang dianggap pelajari makna atau arti kehidupan dan
membebani peserta didik. Melalui IPS, peserta mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka
didik dijejali dengan berbagai definisi, fakta, sehari-hari. Penelitian ini bermaksud untuk
nama ahli, dan berbagai pendapat dari para mengangkat kehidupan masyarakat adat
ahli, sehingga pendidikan IPS menjadi corong Cireundeu yang memiliki banyak keunikan
bagi mereka yang mungkin terpaksa atau tidak dan dapat digunakan sebagai sumber belajar
memiliki pilihan lain kecuali belajar IPS. IPS di tingkat persekolahan oleh para guru.
Berbagai keluhan tentang IPS terekam dalam Masyarakat adat yang masih memelihara
berbagai penelitian, keluhan seperti membo- adat dan nilai-nilai tradisi dikenal dengan
sankan, tidak menantang pikiran, menambah sebutan kearifan lokal (local wisdom) masih
beban belajar, tidak ada manfaatnya, hanya bertahan di tengah-tengah kemajuan zaman
untuk mereka yang kurang cerdas, hanya yang menghendaki mobilisasi yang serba cepat
untuk mereka yang kuat dalam menghafal, dan dan instan, tidak kemudian dianggap sebagai
materi pelajaran yang tidak dapat digunakan atau berarti kuno atau terbelakang, mengingat
atau tidak berkenaan dengan kehidupan sehari- apa yang tetap dipertahankan tersebut tetap
hari. Keseluruhan keluhan tersebut semakin memiliki alasan yang dianggap masuk akal.
menggambarkan bahwa proses pembelajaran Kearifan lokal yang tersirat dalam segala
IPS terkesan kering dan terlalu monoton. bentuk kehidupan adalah hasil dari proses
Pembelajaran IPS selama ini dinilai perjalanan panjang dalam upaya melestarikan
sebagai suatu kegiatan pembelajaran membo- adat istiadatnya. Kampung-kampung adat yang
sankan, selalu berkaitan dengan aktivitas mampu bertahan adalah suatu komunitas yang
menghapal fakta-fakta (bersifat hapalan), dsb. mampu tetap memegang adat istiadatnya, akan
Pembelajaran IPS dianggap tidak bermakna tetapi tidak berarti tertutup atau menutup diri
(meaningfull) bagi kehidupan sehari-hari dari pengaruh luar komunitas mereka, hanya
peserta didik. Pembelajaran IPS seyogyanya saja mereka tetap mempertahankan segala
harus mampu mengubah paradigma tersebut. sesuatu yang diyakininya lebih kuat penga-
Tugas besar tersebut tentu saja bukan ruhnya dari perubahan-perubahan yang ada di
memaksakan metode atau model pembel- luar lingkungan mereka. Salah satunya adalah
ajaran yang beragam saja, akan tetapi dapat Kampung Adat Cireundeu, dimana masyara-
dilakukan dengan menjadikan isu-isu sosial katnya masih memegang teguh tradisi yang
sebagai bahan belajar, terutama yang berkaitan oleh masyarakat luar dianggap sesuatu yang
dengan nilai-nilai kearifan lokal dalam berbeda dari keumuman cara hidup mayoritas
masyarakat dan dekat dengan kehidupan manusia. Kampung Adat Cireundeu secara
peserta didik, sehingga diharapkan melalui administratif terletak di Kelurahan Leuwi
JPIS, Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Vol. 24, No. 2, Edisi Desember 2015 161

Gajah Kecamatan Cimahi Selatan Kota menghadapi pengaruh kebudayaan asing pada
Cimahi. Kajian utama dalam penelitian ini, waktu kebudayaan itu berhubungan”.
adalah berkaitan dengan ketahanan pangan Adapun ciri-ciri kearifan lokal menurut
yang berhasil dilakukan masyarakatnya Ayat Rohaedi (1986 hlm 42) adalah, “mampu
melalui nilai-nilai religi yang dianut serta bertahan terhadap budaya luar, memiliki
diwariskan secara turun-temurun. Sebagian kemampuan mengakomodasi unsur-unsur
besar masyarakat Cireundeu menganut aliran budaya luar, mempunyai kemampuan mengin-
kepercayaan Madrais atau Sunda Wiwitan. tegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya
Namun dalam penelitian ini, peneliti tidak asli, mempunyai kemampuan mengendalikan,
bermaksud untuk mengkaji bagaimana aliran dan mampu memberi arah pada perkembangan
tersebut diwariskan dan dilestarikan, akan budaya”. Kearifan lokal merupakan pengeta-
tetapi lebih kepada mengkaji nilai-nilai religi huan yang secara eksplisit muncul dari periode
yang mereka anut untuk mengembangkan panjang berevolusi bersama-sama masyarakat
ketahanan pangan yang berkembang sehingga dan lingkungannya dalam sistem lokal yang
diharapkan dapat menjadi sumber informasi sudah dialami bersama-sama. Proses evolusi
pengetahuan yang bermanfaat bagi peserta yang begitu panjang dan melekat dalam
didik terutama dalam mewujudkan ketahanan masyarakat dapat dijadikan kearifan lokal
pangan yang menjadi bagian dari nilai-nilai sebagai sumber energi potensial dari sistem
kearifan lokal yang ada di Indonesia. pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup
Pembelajaran yang bersumber pada nilai- bersama secara dinamis dan damai. Pengertian
nilai kearifan lokal berwawasan pelestarian ini melihat kearifan lokal tidak sekedar sebagai
lingkungan dalam hal mewujudkan ketahanan acuan tingkah laku seseorang, tetapi lebih
pangan merupakan pedoman dalam berpe- jauh, yaitu mampu mendominasi kehidupan
rilaku peserta didik untuk dapat memotivasi masyarakat yang penuh keadaban.
mereka agar dapat mewujudkan kedaulatan Secara substansial, kearifan lokal adalah
pangan yang selama ini menjadi salah satu nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
masalah sosial. Nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan
menjadi acuan dalam bertingkah laku sehari-
HASIL DAN PEMBAHASAN hari masyarakat setempat. Karena itu, sangat
Kearifan lokal secara epistemologi terdiri beralasan jika dikatakan bahwa kearifan lokal
dari dua kata yaitu kearifan (wisdom) yang merupakan entitas yang sangat menentukan
berarti kebijaksanaan dan lokal (local) berarti harkat dan martabat manusia dalam komuni-
setempat. Local wisdom dipahami sebagai tasnya. Hal itu berarti kearifan lokal yang di
gagasan-gagasan, nilai-nilai, pandangan- dalamnya berisi unsur kecerdasan kreativitas
pandangan setempat yang bersifat bijaksana, dan pengetahuan lokal dari para elit dan
penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam masyarakatnya adalah yang menentukan dalam
dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. pembangunan peradaban masyarakatnya.
Menurut Rosidi (2011 hlm 29) Istilah kearifan Masyarakat adat sebagai pendukung
lokal adalah terjemahan dari “local genius” warisan budaya terutama generasi tua memang
yang pertama kali diperkenalkan Quaritch masih mempunyai keinginan atau kecende-
Wales tahun 1948-1949 yang mengandung arti rungan untuk mempertahankan kebudayaan
“kemampuan kebudayaan setempat dalam dimasa lampau sedangkan sebagian besar
Triani Widyanti, Penerapan Nilai-Nilai Kearifan Lokal… 162

generasi muda cenderung untuk lebih terbuka Secara historis, para leluhur kampung adat
dan siap mengadakan pembaharuan kebuda- Cireundeu telah memulai merubah konsumsi
yaan dengan harapan dapat membentuk pangan mereka dari beras ke singkong
pencapaian tujuan hidup mereka. Pada per- terhitung sejak tahun 1918. Hal ini didasari
kembangan selanjutnya, generasi muda oleh pemikiran bahwa mereka tidak boleh
cenderung berkesempatan untuk menentang terpaku pada satu jenis makanan saja, yakni
semua hal yang telah berlaku dalam budaya beras, mengingat bahwa beraslah yang
masyarakat adat, meskipun sebenarnya tidak menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia
semua nilai-nilai dalam masyarakat adat secara umum. Adanya pemikiran tersebut
bersifat tertutup dan tidak sesuai dengan didasarkan pula pada kenyataan bahwa
perkembangan zaman. Nilai-nilai yang ter- ketersediaan bahan pangan di bumi ini begitu
dapat dalam kehidupan masyarakat adat juga beragam. Apabila manusia tetap mengkonsum-
terkadang universal dan dapat diberlakukan di si satu jenis makanan saja (beras) maka
zaman yang terus berkembang atau dengan dikhawatirkan akan terjadi kelaparan dan
kata lain, bahwa sebagian dari nilai-nilai kemiskinan. Mengingat jumlah makanan
kehidupan masyarakat adat tersebut dapat (beras) akan mengalami kemerosotan
terus hidup dalam era globalisasi dewasa ini. dibandingkan dengan jumlah manusia yang
Nilai-nilai budaya masyarakat adat dapat teus bertambah setiap waktunya.
diperkenalkan dikancah internasional sebagai Pemikiran masyarakat Cireundeu tersebut
warisan budaya bangsa atau khasanah budaya sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh
bangsa yang dapat mendorong kemajuan Thomas Malthus tentang deret ukur dan deret
budaya nasional. Karena itu, penting sekali hitung. Meskipun sebenarnya para leluhur
untuk generasi muda menggali nilai-nilai mereka memikirkannya secara sederhana.
positif dari masyarakat adat. Dalam hal ini, Berdasarkan hal itu, kemudian para leluhur
yang kemudian menjadi fokus kajian adalah mereka memutuskan untuk mengajak seluruh
tentang tradisi dan budaya masyarakat kampung beralih dari mengkonsumsi beras ke
kampung adat Cireundeu dalam membangun singkong, tentunya dengan berbagai upaya
dan menjaga ketahanan pangan melalui proses untuk merubah kebiasaan yang telah lama
pewarisan budaya hingga saat ini. berlangsung. Peralihan dari beras ke singkong
Secara umum Masyarakat Kampung Adat ini baru terwujud secara nyata dan menyeluruh
Cireundeu merupakan suatu komunitas pada tahun 1924. Masyarakat Cireundeu
masyarakat adat yang berada di tengah-tengah memegang teguh prinsip “teu boga sawah asal
masyarakat lainnya yang telah jauh lebih boga pare, teu boga pare asal boga beas, teu
modern. Berbagai keunikan yang terdapat dan boga beas asal bisa nyangu, teu nyangu asal
berkembang di masyarakat kampung adat ini, dahar, teu dahar asal kuat”. Prinsip itulah
menjadi heritage tersendiri bagi kota Cimahi, yang menjadi ciri khas bagi masyarakat
dan mampu mewakili kota ini untuk bersaing cireundeu untuk tetap bertahan mengkonsumsi
dengan kota-kota lain dalam keikutsertaannya singkong hingga saat ini.
di berbagai festival baik lokal maupun Potensi kegiatan pengolahan singkong
internasional, dengan mengusung keunikan yang dilakukan oleh masyarakat Cireundeu
mereka yakni dalam hal mengkonsumsi dapat memberikan banyak manfaat salah
panganan yang terbuat dari singkong. satunya adalah dapat meingkatkan taraf
JPIS, Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Vol. 24, No. 2, Edisi Desember 2015 161

perekonomian warganya. Secara signifikan rakat Cireundeu meningkat secara signifikan,


dibandingkan dengan hanya menjual singkong setelah mereka berhasil memperkenalkan
secara utuh dalam kondisi sebagai bahan produk mereka ke masyarakat luar dan
mentah. Para wanita baik ibu-ibu maupun diapresiasi luar biasa oleh para konsumen.
remaja telah mampu mengolah singkong Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh
menjadi berbagai macam varian makanan yang masyarakat kampung adat Cireundeu terutama
menarik dan tidak membosankan. Singkong dalam membangun dan menjaga ketahanan
berubah menjadi nasi (rasi), berbagai jenis pangan dengan beralih dari beras ke singkong
kue, dan cemilan sehat, hingga mampu merupakan bagian dari nilai budaya atau nilai
menghasilkan jenis bubur untuk makanan bayi kearifan lokal yang dapat bersifat secara
yang pada awalnya dipikirkan akan sulit untuk universal. Artinya kondisi ini dapat juga
diolah, mengingat sebenarnya jenis singkong diterapkan pada masyarakat lain di semua
yang tunbuh dan dikonsumsi oleh masyarakat wilayah Indonesia. Keputusan untuk tidak
Cireundeu adalah singkong racun dengan rasa bergantung pada satu jenis pangan merupakan
yang sangat pahit. Akan tetapi, karena pengambilan keputusan yang tepat. Melalui
kreatifitas masyarakatnya kemudian singkong upaya tersebut, masyarakat Indonesia pada
menjadi layak konsumsi dan tidak menyebab- umumnya dapat terhindar dari krisis pangan,
kan keracunan. Hingga saat ini para ibu dan dan mendapatkan gizi yang seimbang dari
remaja putri di kampung Cireundeu telah berbagai variasi makanan yang dikonsumsi.
mampu menghadirkan serbagai jenis makanan Kearifan lokal masyarakat adat Cireundeu
berbahan dasar singkong yang menjadi daya dapat dikembangkan menjadi sumber pembel-
tarik masyarakat lain untuk mengkonsumsi. ajaran IPS bagi para peserta didik. Merumus-
Pangsa pasar untuk menjual produk kan sumber belajar dari kondisi yang lebih
mereka menjadi sangat luas, setiap harinya dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta
para wanita ini bekerja mulai dari jam 09.00 didik, diharapkan pembelajaran IPS akan lebih
pagi hingga pukul 21.00 untuk memproduksi bermakna.
makanan jenis-jenis panganan ringan yang Penerapan nilai-nilai kearifan lokal dalam
dipesan oleh konsumen yang sengaja datang pembelajaran IPS dapat dialakukan dengan
ke Cireundeu. Masyarakat Cireundeu yang banyak cara, misalnya dengan mengajak
menganut aliran Madrais, menyadari bahwa peserta didik untuk belajar langsung di
pemesan olahan singkong mereka adalah lapangan, melihat bagaimana masyarakat adat
orang-orang muslim, maka untuk meyakinkan mengimplementasikan nilai-nilai budayanya,
ke-halalan produk, mereka meminta MUI mendiskusikannya dalam kelas, dan mencoba
untuk mengeluarkan sertifikat halal yang akan untuk menggali potensi-potensi lain yang ada
menjamin kenyamanan dan kepercayaan dilingkungan sekitarnya agar dapat memiliki
konsumen muslim tentang produk mereka. nilai tambah bagi mereka dan lingkungannya.
Kemampuan masyarakat kampung adat Belajar secara langsung dengan melibatkan
Cireundeu dalam menjaga ketahanan pangan- mereka dalam kehidupan masyarakat adat
nya, tidak hanya menjadi ciri khas atau Cireundeu diharapkan akan mampu memicu
keunikan saja bagi image mereka akan tetapi tingkat kreatifitas para peserta didik dalam
labih jauh upaya mereka juga membuahkan melihat peluang maupun potensi yang dapat
hasil yang manis. Kondisi ekonomi masya- mereka kembangkan dilingkungannya.
Triani Widyanti, Penerapan Nilai-Nilai Kearifan Lokal… 162

PENUTUP akan pentingnya membangun kesadaran untuk


Pewarisan nilai-nilai budaya masyarakat memanfaatkan potensi alam sehingga terbebas
dari generasi ke generasi merupakan hal yang dari ketergantungan impor bahan pangan.
sangat penting untuk tetap menghadirkan nilai-
nilai budaya yang positif dan untuk mencegah DAFTAR PUSTAKA
hal-hal negatif yang disebabkan oleh arus Achdiani, Yani. (2004). Sosialisasi dan
globalisasi dewasa ini. Implementasi atau Enkulturasi Tradisi Penganut Madraisme
penerapan nilai-nilai kearifan lokal suatu dalam Keluarga di Kampung Adat
Cireundeu, Kota Cimahi. Bandung:
masyarakat dalam pembelajaran IPS menjadi Unpad
bagian yang dapat merubah paradigma belajar Aditya, Yupenalis. 2013. Tesis : Nilai-Nilai
IPS yang dinilai membosankan, monoton, Kearifan Lokal Masyarakat Cigugur
menjadi pembelajaran menyenangkan dan Kuningan Dalam Pelestarian Lingkungan
bermakna. Selain itu, pembelajaran IPS yang Hidup Sebagai Sumber Belajar Geografi.
Bandung: UPI Bandung
bersumber pada nilai-nilai kearifan lokal Al Muchtar, Suwarma. (2004). Pengembangan
diharapkan mampu memberikan wawasan dan Berpikir dan Nilai Dalam Pendidikan IPS.
pencerahan bagi peserta didik untuk memacu Bandung: Gelar Pustaka Mandiri
kreatifitas mereka dalam menghadapi masa Alwasilah, Chaedar. (2009). Pokoknya
depan yang akan menuntut mereka untuk dapat Kualitatif: Dasar-dasar Merancang dan
Melakukan Penelitian Kualitatif. Jakarta :
berkompetisi atau bersaing dengan masya- PT Dunia Pustaka Jaya
rakat lain dalam era globalisasi. Dyk, Van. (1962). Pengantar Hukum Adat
Nilai-nilai budaya masyarakat adat Indonesia. Bandung : Sumur Bandung
Cireundeu cukup relevan dengan kondisi Mulyana,Agus. (2004). Mengartikulasikan
masyarakat Indonesia khusunya masyarakat Pendidikan Nilai. Bandung: ______
Rosidi, Ajip.2011. Kearifan Lokal Dalam
sunda saat ini, sehingga apabila nilai-nilai perspektif Budaya Sunda. Bandung:
tersebut digunakan sebagai sumber belajar IPS Kiblat Buku Utama
akan sangat menarik dan memudahkan guru Sapriya. (2009). Pendidikan IPS: Konsep dan
maupun peserta didik untuk memahami Pembelajaran. Bandung : Alfabeta
bagaimana seharusnya menghadapi berbagai Somantri, Numan dkk. (2012). Inovasi
Pembajaran IPS. Bandung : Rizki Press
masalah pangan yang sering melanda bangsa Sumaatmadja, Nursid. (2010). Manusia dalam
ini. Malalui ketahanan pangan tersebut, Konteks Sosial, Budaya dan Lingkungan
diharapkan pembelajaran IPS mampu mem- Hidup. Bandung : Alfabeta
berikan pemahaman kepada generasi muda